
Ceklek.
Sofi?
Membatin seraya tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
“Hai, Vi” menyapa dengan senyuman, “boleh aku masuk?”
Mengangguk samar dengan memberikan jalan sebagai jawaban boleh. Sofi segera mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu tanpa menunggu disuruh.
“Maaf ya kalau kedatanganku membuatmu agak terkejut,” berujar dengan wajah menyiratkan penyesalan, “Aku sengaja mampir kesini karena aku ingin berpamitan.”
“Berpamitan?” ulang Via dengan sedikit mengernyit.
Mengangguk dengan menyerongkan posisi duduknya sehingga lebih dekat dengan Via. “Besok atau lusa aku dan Kak Ram akan pulang ke Jakarta. Aku merasa sebelum benar-benar pergi aku harus menemuimu –“ terdiam sebentar, diraihnya tangan Via seketika, “aku banyak berbuat salah padamu. Tolong maafkan aku."
Via bergeming bagai terhipnotis. Kenapa Sofi perlu melakukan ini padanya? Bukankah dia sudah pernah meminta maaf?
“Vi,” meremas jemari Via dengn pandangan mengiba. “Aku mohon, maafkan aku. Maafkan aku yang sudah berniat menghancurkan pernikahanmu, maafkan aku yang pernah punya keinginan merebut Mirza darimu, dan maafkan aku karena membuat Bu Een semakin membencimu.”
Deg deg!
Jantung Via bergetar kala nama ibu mertuanya disebut-sebut. Sebenarnya tanpa ada Sofi masuk dalam kehidupan rumah tangganya pun ibu mertuanya itu sudah sangat tak menyukainya, dan Sofi memang datang di waktu dan kesempatan yang sangat tepat kala itu.
“Vi –“
“Aku sudah memaafkanmu, Sof” sahut Via membalas tatapan kedua netra bulat Sofia yang terus memohon padanya, “kamu justru membuatku yakin akan cinta Mas Mirza padaku,” kembali ada rasa nyeri ketika ia menyebut nama suaminya.
“Oya, Mirza mana? Kau juga harus menemuinya karena ingin meminta maaf.”
“Mas Mirza –masih kerja,” menyahut agak ragu, tak ingin kondisi keluarganya diketahui oleh Sofia.
“Hem, baiklah. Mungkin nanti sebelum pulang aku bisa menemuinya. Kamu tau, meminta maaf hanya satu kali saja tak cukup untuk menghapus semua kesalahnku yang begitu banyak pada kalian.” Tertunduk.
“Sudahlah Sof, Itu masa lalu, kita lupakan dan cukup kita jadikan pelajaran.” Mengusap pundak Sofi sehingga kedua mata indah bola pingpong Sofia kembali tertuju pada wajah Via yang kini nampak sendu.
“Vi, apa aku boleh memelukmu?” bertanya agak ragu pada wanita yang nyaris ia hancurkan pernikahannya itu.
Tanpa menjawab, Via merentangkan tangannya dan Sofi segera berhambur memluk Via erat. “Semoga kamu selalu bahagia dengan Mirza ya,” ucapnya tulus seraya melerai pelukan. “Aku belajar dari kalian tentang cinta dan kesetiaan, aku ingin rumah tanggaku dan Kak Ram selalu harmonis dan bahagia meskipun tak mendapat restu dari mertua.
Tes.
Butiran bening tiba-tiba menetes tapa permisi, sedari tadi Via memang sudah menahan segenap perasaannya. Dan dia sudah tak mampu membendung lagi ketika Sofi malah berharap ingin bahagia seperti rumah tangganya bersama Mirza. Nyeri sekali Via mendengarnya.
“Vi, maaf. Aku nggak bermaksud –“
Menggeleng, cepat mengusap pipinya yang basah. “Kamu nggak perlu minta maaf, bukan salah kamu kalau melihat rumah tanggaku dan Mas Mirza tampak baik-baik saja dari luar. Semua orang berhak menilai, semua orang berhak berpendapat, namun mereka belum tentu mengetahui yang sebenarnya.”
Termenung mencerna kalimat-kalimat yang diluncurkan Via, “apa kamu … dan Mirza sedang tidak baik-baik saja?” bertanya penuh kehati-hatiaan.
“Tampak baik bukan berarti tak ada masalah kan?” mengulas senyum tipis.
“Kamu dan Mirza saling mencintai. Cinta kalian sangat besar, aku rasa itu lebih dari cukup untuk membuat kalian bertahan dalam kebahagiaan.”
Tersenyum getir. “Cinta saja nyatanya tak cukup jika tanpa restu orang tua.”
Pikiran Sofi langsung tertuju pada Bu Een yang lucknutnya memang tiada duanya, namun ia buru-buru meralat pikirannya sendiri ketika ingat dengan ayah mertunaya sendiri. Ya, Tuan Alatas si tua Bangka bau tanah itu kayaknya 11 12 aja sama Bu Een. Begitu pikir Sofi. Namun Sofi masih boleh sedikit merasa lega karena Ramzi tak terlalu besar dosanya jika menentang ayahnya karena posisi seorang ayah setelah seorang ibu yang harus dihormati. Ibumu, ibumu, ibumu baru setelah itu ayahmu. Sofi mengingat-ingat perkataan seorang alim yang pernah didengarnya.
__ADS_1
“Sofia,” panggilan halus menyadarkan keduanya.
“Kak Ram?” menoleh pada sang suami yang menggendong baby Arfan, “kenapa baby Arfan Kak?apa dia rewel?” bangkit menghampiri.
“Nggak, aku hanya khawatir kenapa kamu lama banget?”
Melihat seorang bayi laki-laki tampan yang sekarang sudah berpindah dalam gendongan Sofi, Via langsung merekahkan senyumannya.
“Anakmu tampan sekali, Sof. Boleh aku menggendongnya? Dia sangat menggemaskan,”
Mengangguk seraya menyerahkan baby Arfan yang langsung tersenyum begitu berada dalam dekapan Via.
“Sepertinya dia sangat menyukaimu, Vi” ucap Sofi.
“Dia lucu sekali,” Via mengusap pipi baby Arfan lembut dengan binar kebahagiaan menyelimuti wajahnya.
“Sebentar lagi kamu juga akan punya baby, dan kamu pasti akan lebih bahagia karena kamu akan menimang bayimu sendiri setiap hari.”
Via mencium kening baby Arfan membuat bayi mungil itu menggeliat dan sekali lagi tersenyum. seorang bayi saja mampu merasakan ketulusan hati Via, kenapa seorang manusia yang sudah berumur tak mampu menilainya?
“Dia benar-benar anak yang manis, sama sekali tidak rewel dan merepotkan ya?”
“Kalau siang memang tidak. Tapi kalau sudah masuk senja, di akan mulai merengek. Dia bisa beberapa kali minta menyusu dan ganti popok, setelah itu ia akan terjaga semalaman dan baru tidur ketika menjelang subuh.” Terang Sofi.
“Kamu memang luar biasa Sof, kamu bisa melakukannya sendiri. Ternyata kamu ibu yang sangat hebat.” Puji Via tulus penuh kekaguman.
“Hem, jangan berlebuhan Via. Dia tak mungkin melakukannya sendiri, memasang popok saja dia tak bisa membedakan mana depan mana belakang, padahal sudah jelas-jelas ada tulisannya.” Gerutu Ramzi melirik istrinya yang kontan saja jadi salah tingkah.
“Ish, Kak Ram. Kenapa kamu buka rahasiaku di depan Via?” merengut sebal.
“Ya nggak lah,” sahut Ramzi cepat. “Ada suster yang mengurus baby Arfan. Aku nggak mau baby Arfan mendapatakan perawatan yang kurang maksimal.”
“Jadi Kak Ram meragukanku?” menatap tajam karena tersinggug.
“Emh, bukan begitu Sofia. Aku hanya … tak mau membuatmu kelelahan karena harus menjaga anak kita sendirian.” Ramzi mendadak jadi ciut nyali juga melihat istrinya tak terima begitu. Takut nggak dikasih jatah nanti malam ya Ram?heheheee...
“Barusan itu Kak Ram bilang apa?” masih setia dalam mode menatap tajam meminta penjelasan.
“Yang mana? Aku nggak bilang apa-apa kok.” Memasang raut innocent.
“Yang sebelumnya itu, coba ulangi sekali lagi!”
“Sofia, sudahlah. Masa kita malah ribut sih? Nggak enak sama Via.” Ramzi coba meredakan kejengkelan istrinya. “Aku minta maaf ya, jsngan marah lagi dong.”
Keributan kecil antara Sofia dan Ramzi malah membuat Via tersenyum, sungguh pasangan yang manis. Via tiba-tiba teringat pada suaminya. Dirinya dan Mirza juga kerap terlibat keributan dan perdebatan-perdepatan kecil yang kadang tak penting, namun itu menjadikan hubungan mereka semakin mesra dan harmonis.
Ahh, seandainya waktu bisa terulang kembali Mas. Aku ingin kembali ke masa-masa manis itu, sebentar saja. Hati Via pedih menyadari kenyataan yang kini tak berpihak padanya, raut sendu kembali membayang di wajah cantiknya dan Sofi dapat membacanya.
Beberapa saat setelah dirasa cukup berbincang, Sofi dan Ramzi akhirnya pamit pulang. Dalam perjalanan menuju rumah lama Mirza, pikiran Sofi terus teringat pada sikap Via yang seperti menyembunyikan sesuatu. Sofi yakin pasti ada yang ditutupi Via soal rumah tangganya. Meski pun sebenarnya tadi bisa saja Sofi bertanya lebih detail agar tak merasa penasaran seperti sekarang, namun atas nama kepantasan ia tak melakukannya. Sofi memang tak ingin masuk kembali dalam kehidupan rumah tangga Via dan Mirza, namun jika harus melihat Via menangung derita dalam rumah tangganya, Sofi merasa tak tega. Ia pernah sangat jahat menyakiti Via, betapa kejamnya dia dulu pada Via yang ternyata memang hatinya terlampau baik sebagai seorang istri dan menantu. Dia ingin menebus semua kesalahannya.
“Kak, kita mampir satu kali lagi ya.” Ucap Sofi kemudian.
“Mau kemana lagi Sofia? Ini sudah hampir sore?”
“Ke rumah Bu Een.”
Menoleh kaget, “kamu mau pamitan juga sama Bu Een?”
__ADS_1
“Nggak, cuman mau ngucapin salam perpisahan.”
“Apa bedanya?” berdecak kesal namun menuruti juga keinginan Sofi.
Mobil Ramzi kini sudah berhenti di halaman depan rumah Bu Een. Sofi segera turun setelah sekali lagi berpesan bahwa dirinya tak akan lama di dalam.
Mengetuk pintu bebeapa kali namun belum juga ada yang membukanya.
“Jum …! Kamu lagi ngapain sih? Di depan ada tamu tuh, cepat buka pintunya!” beteriak nyaring karena si Jumilah nampak asyik saja di dapur sedang masak.
“Sabar ngapa Bu? ini kalo aku tinggal masakannya nanti gosong!”
“Matiin aja kompornya! Begitu aja pake diajarin, dasar be**!”
KLOMPRANG!
Melempar tutup panci ke lantai, suaranya membuat gaduh dan jantung Bu Een hampir copot karenanya.
“Jumilah, kamu itu apa-apaan sih? Bikin kaget saja, sengaja ya pingin bikin saya mati jantungan?” Omel Bu Een yang walau berada di ruang tengah tapi masih bisa melihat Jumilah.
“Abis ini aku taroh sianida ke dalam makanan Anda wahai nenek tua, biar langsung pulang ke alam baka.” Gerutu Jumilah sambil berjalan melewati Bu Een untuk membuka pintu.
Respon Bu Een ketika mendengarnya tak usah ditanya lagi, dia lampiaskan dengan membejek-bejek remote TV, bahkan biji remote sampe pada berceceran saking jengkelnya Bu Een pada Jumilah yang tingkat keberaniannya jauh di atas Ice dan Romlah.
“Bu Een ada?” Tanya Sofi begitu Jumilah membuka pintu depan.
Merasa tak mengenali wanita cantik yang berdiri di depannya, Jumilah bertanya agak ragu. “Siapa ya? dan ada perlu apa sama Bu Een?”
“Saya Sofia, bisa saya ketemu Bu Een sekarang?”
Melihat dari gelagat Sofi, Jumilah yakin antara sang tamu dan majikannya sudah saling mengenal dengan baik, maka ia tak ragu untuk mengijinkan Sofi langsung masuk ke ruang tengah untuk menemui Bu Een.
Duduk di atas kursi roda menghadap TV, dengan tubuh terlihat kurus dan rambut tanpa hijab yang sepenuhnya hampir bewarna putih, Bu Een belum menyadari kehadiran Sofi berdiri di belakangnya.
“Apa kabar, Bu?” Sapaan suara Sofi mampu membuat Bu Een merotasi lehernya seketika.
Reaksi Bu Een ????
Kita sambung besok ya,
Maafkan up nya belum bisa banyak karena masih kejar-kejaran sama misua berebut laptop. Hehe… othor nggak kuat ngetik langsung di hengpong, puyeng nih mata. Maklum lah faktor usia, hahaa …
1571 words sampai ketawa jeleknya othor di atas tadi, wkwkwk…
Terima kasih sudah membaca. Mohon maaf kalau banyak typo.
Selalu like ya
Komen juga selalu othor tunggu lho…
Alhamdulillah votenya nambah, hehe… makasih ya readers
Yang nunggu novel ini end dataglah lagi 2 atau 3 tahun kemudian, mungkin novel ini baru end. MUNGKIN lho itu juga, wkkwkwk …
Peluk cium buat kalian semua readers tersayang dan akak othor tercinta yang selelau setia support karya othor awut-awutan ini,
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1