
Hari bergulir senja, Via sampai di rumah agak telat karena harus mampir ke apotik dan mengantri demi sate ayam madura kesukaannya. Namun selepas mandi Via justru tenggelam dalam selimut karena demam tiba-tiba datang menderanya. Selimutnya ia tarik sebatas leher, Via mengigil kedinginan.
Bip
Sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Via yang masih berada dalam tas kerjanya terabaikan. Sang pengirim pesan yag tak lain adalah Mirza mengernyit heran karena istrinya tak kunjung membalas pesannya. Ia pun coba menelpon, namun tak ada jawaban, bahkan nomornya tiba-tiba tak bisa dihubungi.
“Nelpon siapa, Mas?” Tanya Udin yang melihat raut khawatir wajah Mirza.
“Via. Tapi nggak bisa dihubungi, padahal barusan aktif.”
“Oh, mungkin mati kali hpnya Mas, low bat.”
“Mungkin.”
Mirza lantas melihat pada ibunya yang masih terbaring lelah dengan mata terpejam karena baru saja tertidur sesudah dokter menyuntikkan obat. “Din, aku pulang dulu ya mau jemput Via.” Mirza menoleh pada Udin.
“Iya Mas.”
Mirza pun ke luar ruang perawatan dan menyusuri lorong klinik menuju area parkir. Dalam perjalanan pulang Mirza tak lupa mampir membeli makanan untuk sang istri. Ia berpikir pastilah istrinya itu tak sempat membeli makanan pulang kerja sore tadi.
SREET
Mirza sampai di depan rumah dan kaget mendapati rumahnya dalam keadaan gela gulita.
“Apa Via belum pulang ya?” Gumam Mirza membuka pintu pagar namun matanya tertumbuk pada motor Via yang terparkir di halaman samping. “Motornya ada, tapi kok rumah gelap begini?”
Ting tung
Mirza memencet bel pintu dan menunggu beberapa saat.
Ceklek
Mirza mencoba membuka pintu yang ternyata memang tak terkuci karena tak kunjung keluar juga istrinya.
“Sayang …” Panggil Mirza meraih saklar lampu ruang tamu kemudian terus masuk ke dalam. “Sayang kamu …” Kalimat Mirza terhenti ketika melongok ke dalam kamar yang pintunya setengah terbuka dan melihat tubuh istrinya berbalut selimut rapat hingga ke leher. “Astagfirullah, Sayang kamu demam!” Pekik Mirza setelah mengecek suhu tubuh istrinya.
“M-Mas?” Ucap Via terbata dengan mata mengerjap menatap sang suami.
“Bangun Sayang, kita ke dokter. Badan kamu panas.” Mirza membantu Via untuk duduk.
Via menggeleng. “Aku udah beli obat sore tadi, tapi lupa minum Mas.” Via menunjuk tas kerjanya.
Mirza lekas mengambilnya, ia pun melihat ponsel Via ada di dalam sana dalam keadaan mati. Pantas saja tak bisa menerima panggilanku, batin Mirza. Ia lantas segera mengambilkan segelas air dan hampir saja meminta istrinya untuk segera minum obatnya ketika teringat sesuatu.
“Eh, tapi kamu udah makan belum Sayang?”
Via menggeleng lemah.
“Makan dulu ya? Mas udah bawain makanan.”
“Aku juga udah beli sate, tapi mulutku pait nggka mau makan.” Tolak Via.
Mirza meletakkan gelas di atas nakas dan langsung melesat keluar untuk mengambilkan makanan. “Makan dulu Sayang, Mas suapin.” Mirza menyurukkan sendok ke dekat mulut istrinya.
Via hanya menatap isi makanannya. Mirza tersenyum seraya memberi kode pada istrinya untuk segera membuka mulutnya.
“Nggak mau Mas, aku maunya makan sate pake lontong.”
“Lontongnya nggak ada, besok Mas beliin ya? Sekarang makan satenya pake nasi dulu.” Rayu Mirza.
Via kembali menggeleng. “Tapi aku maunya sekarang, Mas.”
Mirza menghela nafas mencoba bersabar. “Sayang kamu harus makan biar bisa minum obat. Sedikit aja ya, nanti setelah ini Mas cariin lontong keluar.” Bujuk Mirza lagi.
“Kalo gitu aku mau makanan yang berkuah aja, Mas.” Cicit Via. “Kayaknya enak seger gitu.”
“Oke, Mas tadi bawa sup iga.” Mirza kembali melesat ke dapur dan kembali dengan semangkuk sup iga. “Buka mulutnya, Mas supin ya?”
Via pun akhirnya nurut, meski tak makan banyak tapi itu cukup untuk mengganjal perut.
“SSSssh, aduh!” Via mengaduh tertahan.
“Kenapa Sayang? Perut kamu sakit?” Mirza panik.
“Pengen pipis, Mas.”
Mirza mendengus seraya membantu istrinya bangun. Kirain sakit perut atau apa, taunya pengen pipis! Gerutu Mirza dalam hati.
Setelah Via beres minum obat, Mirza segera mandi dan makan malam. Ia sempat berpikir apa malam ini minta bantuan Om Jaka lagi ya buat nemenin Udin jagain ibunya? Karena ia tak mungkin membiarkan Via sendirian dalam keadaan sakit begini. Mirza pun meraih gawainya untuk menghubungi Om Jaka.
“Halo. Ada apa, Za?” Sapa Om Jaka dari seberang.
“Om, aku bisa minta tolong nggak?” Tanya Mirza agak ragu.
“Apaan?”
“Om Jaka bisa kan malam ini temenin Udin di klinik jagain ibu? Soalnya aku nggak bisa ke sana nih Via lagi demam, kasian kalo ditinggal sendiri.”
__ADS_1
“Nggak bisa, Maap ye gue besok musti bangun pagi-pagi mau keluar kota soalnya.” Tolak Om Jaka telak.
“Yaah, kok gitu sih Om? Kasian Udin kan kalo jaga sendirian?” Mirza setengan memohon.
“Ya biarin aja, lagian si Udin juga udah gede kan? Kagak bakalan apa-apa dia jagain emak elu disono sendirian!”
“Siapa Beb?” Terdengar suara Denaya bertanya.
“Mirza.” Sahut Om Jaka menoleh pada istrinya yang baru masuk kamar.
“Eh, Denaya ya Om? Sini aku mau ngomong sama dia!” Pinta Mirza yang tiba-tiba mendapat ide.
“Mau ngomong apaan lu sama bini gue?” Ketus Om Jaka. “Mau nyuruh dia bujukin gue?”
Glek!
Mirza tak bisa jawab kerana Om Jaka sudah lebih dulu membaca isi pikirannya.
“Yaah, Om … masa Om tega sih…?”
“Ini bukan masalah tega nggak tega, tapi gue beneran nggak bisa.” Tegas Om Jaka. “Lagian gue males juga liat tampang emak elu itu, kecut kayak belimbing wuluh!” Pada akhirnya Om Jaka terus terang juga.
“Maapin ibu deh Om, namanya juga orang lagi sakit.”
“Eh masalahnya emak itu sakit nggak sakit tampangnya emang selalu begitu kalo liat gue!” Om Jaka nyolot.
“Nah itu Om tau? Berarti udah bawaan dari lahir Om. Udah ya jangan dibesar-besarkan, ibu emang begitu kok. Om Jaka mau ya jagain ibu malem ini aja.” Mirza pantang menyerah memohon pada Omnya.
“Ogah!”
“Demi aku deh ponakan Om yang ganteng dan baik hati ini ya?” Mirza mengeluarkan jurus narsisnya.
“Kok elu maksa sih? Gue bilang ogah ya ogah!” Om Jaka sewot. “Elu mau emak elu tensi darahnya naik lagi karena gue jagain dia? Kemarin aja dia liatin gue horor begitu tatapannya, bukannya makasih dijengukin malah ngeliatin gue kayak kuntilanak malem jumat kliwon!” Cerocos Om Jaka kesal karena kemarin malam emang dia sempat dijutekin sama Mbakyunya itu.
“Ya udah deh kalo nggak mau….” Mirza pun akhirnya nyerah. Mirza melangkah gontai masuk kamar. Ia duduk di tepi ranjang memandang wajah sang istri yang kembali pulas dalam tidurnya. Mirza pun memutuskan untuk mengirim pesan pada Udin.
❤️❤️❤️❤️❤️
Kesibukan di klinik dokter Burhan mulai terlihat ketika pagi hari tiba. Seorang suster masuk ruangan membawakan sarapan untuk Bu Een.
“Selamat pagi, Bu. Ini sarapannya.” Ucap sang suster ramah.
Udin dengan sigap menerima nampan yang di bawa sang suster.
“Sus, saya kapan boleh pulang ya? Saya udah nggak betah.” Tanya Bu Een.
“Makan sekarang Bu?” Tanya Udin.
“Nanti aja. Mirza mana, Din?” Bu Een teringat putranya yang sedari tadi tak terlihat.
“Oh, semalam pamit pulang mau jemput Mbak Via tapi terus wa saya bilang Mbak Via sakit katanya, jadi nggal bisa ke sini Bu.” Papar Udin.
“Perempuan itu benar-benar keterlaluan ….” Gumam Bu Een dengan raut kesal.
“Perempuan siapa Bu maksudnya?” Tanya Udin tak mengerti.
“Ya istrinya Mirza itu! Pasti dia alasan saja sakit biar Mirza ngggak kesini lagi. Awas aja, liat nanti!”
“Astaghfirullah Bu…., istighfar. Ingat Ibu harus banyak bersabar, nggak boleh emosian biar tekanan darahnya nggak naik lagi.” Udin menasehati yang langsung di balas tatapan tajam Bu Een.
Udin memilih keuar saja meninggalkan majikannya sendirian.
Sementara itu di kamar Via, ia baru saja bangun dan menggeliat perlahan. Ditolehnya jendela yang terbuka, dari luar sudah nampak terang benderang.
“Sayang, kamu udah bangun?” Mirza datang membawa sarapan roti dengan selai coklat untuk istrinya.
Via mendongak menatap jam dinding di dekat meja riasnya. “Ya ampun, aku kesiangan Mas.” Via berusaha turun dari ranjangnya namun kemudian memegangi pelipisnya berdesis menahan sakit.
“Nggak usah bangun.” Sergah Mirza menghampiri.
“Tapi aku mau kerja Mas.”
“Kamu masih sakit kan? Hari ini ijin dulu.” Mirza melatakkan piring sarapan di atas nakas dan menempelkan telapak tangannya pada dahi Via.
“Udah nggak demam kok Mas.” Sungut Via.
“Jangan ngeyel ya, biar pun udah reda tapi kamu perlu istirahat Sayang.” Mirza mengingatkan. “Lagian kepala kamu masih pusing kan?”
Via tak berani membantah, ia mengangguk samar. “Tapi aku nggak enak mau ijin, waktu hari Jumat kan aku udah ijin kerja setengah hari Mas karena membantu acara Denaya. Masa hari ini mau ijin lagi?” Ujar Via pelan.
“Tapi kan keadaannya kamu lagi sakit?” Mirza kemudian merwih ponsel Via yang sedang di charge. “Biar Mas yang ijinin kamu.”
“Mas mau ngapain?” Tanya Via yang melihat suaminya udah megangin ponselnya.
“Mau nelpon Danar, mita ijin kamu nggak masuk kerja karena sakit.”
“Nggak us …”
__ADS_1
“Halo, Danar. Ini Mirza.” Belum sempat Via melanjutkan kaliatnya, suaminya itu sudah berbicara pada bosnya di telepon. “Aku mau bilang Via nggak bisa masuk kerja hari ini karena sakit.”
“(………………..)”
“Iya, semalam badannya demam. Sekarang udah baikan sih, tapi masih pusing kepalanya.”
“(………………….)”
“Udah minum obat kok, mungkin agak siangan nanti baru aku bawa ke dokter kalo pusingnya belum berkurang.”
“(……………………..)”
“Iya, nanti aku sampein. Makasih ya.”
KLIK!
Mirza mengakhiri panggilan dan Via menatapnya tak sabaran.
“Danar titip salam buat kamu. Katanya istirahat aja biar cepet sehat.” Ucap Mirza yang tau tatapan istrinya penuh tanya.
Via hanya mengangguk dan kembali beringsut ke bibir Rajang.
“Eh, mau kemana? Mas bilang kan nggak usah turun?” Mirza segera menghampiri. “Sarapan dulu.”
“Tapi aku mau pipis dulu, Mas.” Via menatap suaminya kesal, masa orang mau pipis nggak boleh?
“Perasaan rajin banget pipis?” Gumam Mirza.
“Mas mau aku ngompol di kasur?” Via gemas juga pada suaminya yang sedang memapahnya ke kamar mandi itu.
“Nggak Sayang. Kamu boleh pipis kok, terserah kapan aja kamu mau biar cepat sehat ya.” Mirza tersenyum menatap raut masam sang istri. “Kalo udah sembuh kan gantian Mas yang pipisin kamu …”
Via langsung melirik tajam, seketika Mirza menutup mulutnya dan mebiarkan sang istri masuk ke kamar mandi.
❤️❤️❤️❤️❤️
“Apa kabar, Ram?” Tuan Alatas menyapa sang putra tunggalnya yang tengah bersantai di tepi kolam renang. “Kangen pengen renang ya?” Tebak Tuan Alatas.
Ramzi hanya melihat ayahnya sekilas kemudian pandangannya lurus lagi ke depan.
“Jane akan datang sebentar lagi, dia bisa melatihmu pelan-pelan. Papa pergi dulu ya.” Pamitnya pada Ramzi.
“Pa, tunggu.”
“Ada apa, Ram?” Tuan Alatas menoleh.
“Kembalikan ponselku.”
Tuan Alatas senyum smirk. “Kau mau menghubungi istri jala**mu?”
“Aku harus mengecek keadaan bisnisku.” Bantah Ramzi.
“Tak perlu repot-repot, Papa sudah membereskan semuanya.” Tuan Alatas ngeloyor cuek meninggalkan kedongkolan di hati Ramzi.
Setelah keluar dari rumah sakit, Ramzi memang tak diijinkan memegang ponselnya. Tuan Alatas khawatir jika Ramzi menghubungi Sofi. Ia tak mau recananya sia –sia. Dia juga memerintahkan semua pelayan agar tak mengaktifkan sambungan telepon rumah untuk mengantisipasi jika Ramzi menggunakannya tanpa sepengetahuanya. Tak dipungkiri, meski sangat marah dan kecewa pada Sofi, namun Ramzi juga merindukannya juga, atau lebih tepatnya merindukan calon anaknya yang berada di dalam Rahim Sofi.
“Selamat pagi, Tuan.” Sapa Jane yang baru datang ketika Tuan Alatas akan berangkat ke kantornya.
“Pagi Jane. Cepatlah, Ram sudah menunggumu.” Sambut Tuan Alatas.
“Maaf, aku agak terlambat.” Ucap Jane yang kemudian langsung menuju lantai 4.
Tuan Alatas tersenyum menatap kepergian Jane. “Awasi mereka, jangan sampai kedekata mereka terganggu oleh kehadiran wanita Jala** yang mungkin datang lagi secara tiba-tiba.” Pesan Tuan Alatas pada Gerald sang kepala pelayan yang membawakan tas kerjanya.
“Tenang saja Tuan, Nyonya Sofia tak akan berani lagi datang ke sini.” Sahut Gerald yakin.
“Sebentar lagi sebutan Nyonya itu akan kau sematkan pada Jane.” Sinis Tuan Alatas. “Siang nanti segera temui wanita jala** itu di rumahnya, paksa dia untuk segera menandatangani surat perceraiannya dengan Ram.”
“Tapi dia sekarang tidak di ruamhnya, Tuan.”
Tuan Alatas mengernyit. “Oya? Lalu di mana?”
“Dari GPS yang saya dapat dari mobilnya, Nyonya Sofia berada di hotel. Agaknya ia tak pulang ke rumah sejak dari sini, Tuan.”
Tuan Alatas tersenyum miring. “Kalau begitu tunggu sampai dia pulang ke rumah. Aku mau buat kejutan untuk keluarganya.”
“Maaf Tuan, tapi sepertinya dia tak akan kembali ke rumah. Dia pasti tak mau keluarganya mengetahui keadaan rumah tangganya yang sedang bermasalah dengan Tuan Ram.”
“Gerald, soal itu serahkan padaku. Aku akan memblokir semua akses keuangannya.” Senyum Tuan Alatas mengembang sempurna lantas meraih tas kerjanya dan masuk mobil yang sudah sedari tadi sopir membukakan pintu menunggunya di depan.
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏🙏🙏🙏
Jangan lupa like, vote dan juga komen ya Kak🤩🤩🤩
Maafkan kalau ada typo. 🙏🙏
__ADS_1
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘