
Pagi sekali, Bu Een sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk putra kesayangannya. Bu Een yang jarang masak itu rela repot-repot di dapur sampe telat buka toko demi Mirza.
Beberapa kali Bu Een coba menempelkan telinganya pada daun pintu kamar Mirza berharap mendengar sesuatu, tapi hingga hari beranjak siang sepertinya tak ada tanda-tanda kehidupan disana.
“Din!” Panggil Bu Een pada Udin yang sedang menata barang di rak toko. “Semalam Mirza beneran nggak bilang apa-apa sama kamu?”
“Nggak, Bu.”
Setelah berpikir sebentar, Bu Een mengambil motor maticnya dan pergi, Udin melongo kebingungan.
Di rumah Via sedang membersihkan halaman depan ketika Riri keluar menemuinya.
“Udah bangun kamu?” Via menoleh ke arah Riri yang barusan menguap lebar dan duduk di teras sambil mengucek-ngucek mata
“Sarapan apa, Mbak?” Riri bertopang dagu dengan tampang malas.
“Nggak tau, Ri. Mbak aja belum sempet sarapan dari pagi. Kamu aja yang masak sana!”
“Yaah …, lagi males aku Mbak.” Sungut Riri.
Via hanya diam tak menanggapi, diraihnya selang untuk menyiram tanaman sementara Riri masih duduk manyun sambil menatap kosong ke depan.
SROOT!
Via iseng menyemprotkan air ke arah Riri hingga Riri kaget.
“Aduh …”
Via terkekeh melihat ekspresi kaget adiknya.
“Bengong aja! Anak gadis jangan banyak bengong, nanti jodohnya jauh!” Goda Via. “Mandi sana! Abis itu masakin buat Mbak yang enak!”
Riri bangkit masih dengan malas menuju dalam, namun langkahnya terhenti ketika mengetahui sebuah motor matic memasuki halaman dan Bu Een turun menghampiri Via.
Waduh, ibu mertuanya Mbak Via tuh! Mau ngapain dia kesini? Riri urung masuk ke dalam.
“Jam segini kok baru nyiram tanaman.” Ucap Bu Een tanpa basa-basi dengan gayanya yang nyinyir seperti biasanya.
“Eh, iya Bu. Baru sempat soalnya, tadi habis bersih-bersih.” Sahut Via lantas segera meletakkan selang dan mengelap tangannya dengan ujung bajunya untuk menyalami ibu mertuanya itu.
“Ibu mau jemput Mbak Via ya?” Timpal Riri yang kembali ke teras karena takut kakaknya dicomelin lagi sama Bu Een.
“Kamu ada disini?” Bu Een sedikit kaget melihat kehadiran Riri.
“Iya, nemenin Mbak Via.”
Nemenin Via? Berarti Via nggak tau kalo Mirza udah pulang? Hemm, ada yang nggak beres nih kayaknya diantara mereka.
“Ibu dari mana?” Tanya Via membuyarkan pikiran Bu Een.
“Nggak dari mana-mana. Ya udah kalo gitu.” Bu Een hendak pergi.
“Nggak minum dulu, Bu? Saya buatkan teh ya?” Tawar Riri sok baik padahal niatnya cuman iseng aja.
“Nggak usah, saya nggak doyan teh.”
“Kopi kalo gitu? Sirup atau susu? Atau jamu paitan biar sehat, Bu?”
Bu Een mendelik ke arah Riri, Riri pasang muka polos tak berdosa.
Bu Een melongos. “Itu rumputnya dicabutin biar bersih!” Ujarnya pada Via menunjuk pada bawah pohon palm sambil lalu.
“Itu tanaman krokot namanya, Bu. Bukan rumput!” Sahut Riri.
Bu Een cuek naik ke atas motornya dan berlalu meninggalkan halaman.
“Dasar orang nggak jelas! Masa nggak bisa bedain mana rumput mana tanaman krokot!” Gerutu Riri sebal sambil menatap kepergian Bu Een.
“Kamu nggak boleh ngomong gitu sama orang tua, nanti kualat lho!” Via mengingatkan.
__ADS_1
Riri hanya memajukan bibirnya beberapa centi. Via meraih selangnya kembali melanjutkan aktivitasnya menyiram tanaman. Tak lama berselang, motor bebek memasuki halaman.
“Mas Arya?” Sapa Riri yang melihat Arya datang membawa bungkusan plastik di tangannya.
“Nih, dari Mbak kamu!” Arya memberikan plastik itu pada Riri.
Via mendekat. “Apa itu, Mas?” Tanya Via.
“Ayam bakar. Tadi pagi ada yang pesen ayam bakar, terus Mbakmu sengaja bikinin juga buat kalian.” Terang Arya.
“Wah, Mbak Tia emang baik. Tau aja kalo kita belum pada makan disini.” Riri mengendus-endus bungkusan plasti itu persis kayak kucing kelaparan, Riri pun lantas membukanya. “Hemmm, wangi banget baunya. Kok, ada tiga, Mas?”
“Kan emang orangnya ada tiga?”
“Mas MIrza belum pulang. Berarti satunya ini bagianku!” Riri bersorak girang sendiri lantas masuk membawa ayam bakarnya masuk ke dalam.
“Mirza belum pulang?” Tanya Arya pada Via, wajahnya sdikit ragu.
“Belum, Mas. Masih di Jakarta.”
Arya diam.
Semalam jelas-jelas aku lihat Arya di stasiun. Kanapa Via malah bilang Mirza belum pulang? Berarti Mirza nggak pulang kesini? Kayaknya lagi ada masalah nih, Mirza juga kelihatan kusut dan bingung banget semalam.
Ya, ternyata sepasang mata yang memperhatikan Mirza semalam di dekat stasiun adalah Arya. Dia kebetulan kemari malam lagi ngantar penumpang juga.
“Mas?” Panggil Via.
“Eh, apa?” Arya sedikit kaget.
“Si Ica nggak marah waktu Riri telpon Mbak Tia kemarin?” Via mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Arya.
“Nggak kok.”
“Syukur deh kalo gitu.”
“Ya udah, kalo gitu aku pulang dulu ya.” Pamit Arya.
Arya pergi membawa tanda tanya dibenaknya. Memang bukan urusannya sih kehidupan rumah tangga Via dan Mirza, tapi kepulangan Mirza yang nggak ke rumahnya sendiri benar-benar membuat Arya merasa aneh.
“Mbak …!” Teriakan Riri dari dalam tiab-tiba membuat Via kaget, setengah beralari Via masuk menuju dapur.
“Ada apa, Ri? Kamu kenapa?” Via bertanya agak panik.
“Nasinya mana? Mau makan kok nasinya nggak ada?” Riri pasang wajah cemberut kesal.
Via mendengus kasar. “Kirain ada apa? Kan tadi Mbak bilang belum masak!”
“Laper, Mbak … laper …” Riri megslangin perutnya.
“Nggak usah manja deh!” ketus Via sebel. “Tinggal masak aja pake rice cooker! Lagian udah segede gitu manjanya ngalah-galahin Ica!” Via ngeloror menuju tangga.
“Mbak .. mau kemana?”
“BAB!” Sahut Via asal. Ngapa, mau ikut?”
Riri makin kesal. Mau tak mau diambilnya juga beras dan mulai masak.
“Ada-ada aja tuh anak! Heran, udah usia segitu masih kayak anak kecil kelakuannya. Ambil kursus tata boga, tapi urusan masak nasi aja heboh. Dasar Riri!” Via ngomel sendiri masuk kamarnya di lantai dua lalu menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya sampai mantul-mantul beberapa kali.
“Mas Mirza lagi apa ya?” Via mencari ponselnya, lalu langsung mengetik pesan setelah menemukannya.
Pagi, Mas. Lagi ngapain? Kapan pulang? Nggak kangen sama aku nih?
Via senyum-senyum sendiri setelah mengirim pesan itu pada Mirza. Diraihnya remot TV di atas nakas lantas mencari siaran yang menurutnya menarik.
dlolet dlolet
bunyi pesan masuk di ponsel via membuat via langsung meraihnya dengan perasaan bahagia. Namun ketika tau pesan itu dari Yana, mukanya langsung berubah biasa saja.
__ADS_1
Vi, nanti sore temani aku ke salon yuk. Kamu bisa kan? Ijin dulu deh sama si popeye, nanti aku jemput ya.
Via tak langsung membalas pesan Yana. Via diam seperti sedang berpikir, tak lama panggilan masuk di ponselnya dari Yana.
"Halo, Vi. Gimana, bisa kan?" Yana langsung menodong Via begitu panggilan telponnya diterima.
"Gimana, ya ...?" Via ragu, sebenarnya dia agak malas. "Mas Mirza tuh lagi nggak di rumah, jadi ... "
"Good! Berarti kamu bebas kan? yess! Aku jemput jam 4 ya."
"Eeh, bentar ... ! Aku lagi sama Riri nih di rumah, nggak enak lah masa dia ditinggalin?" Via masih coba cari alesan.
"Oh ya diajak aja sekalian. Ok ya, deal jam 4. Daaag ...." Yana langsung mematikan sambungannya seenak udelnya sendiri tanpa mau mendengarkan dulu penjelasan Via.
Via manyun, sebenarnya dia nggak terlalu suka ke salon. Itu membuang-buang waktu menurutnya, bahkan dia lupa kapan terakhir kali dia ke salon dan untuk apa, lalu tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan si Yana sore ini mau ngajakin Dia ke salon.
Huft, bakalan lama nih nungguin Yana nyalon! Pasti bete banget di sana nanti, mana sama Riri lagi.
"Mbak!" Kepala Riri tahu-tahu menyembul dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka. "Makan yuk, laper nih. Nasinya udah matang tuh!"
"Udah mateng? Kok cepet banget?"
"Iya soalnya aku masaknya pakai air panas yang dari termos, jadi cepet deh matengnya, heheee.... cerdas kan aku, Mbak?" Riri memuji dirinya sendiri dengan memasang senyum lebarnya.
Via cuman bisa geleng-geleng kepala, dasar si Riri maunya emang cepat dan praktis!
"Ya udah deh ayo cepetan turun, nanti aku habis loh ayam bakarnya kalau nggak cepet-cepet!" Riri rantas berjalan menuruni tangga mendahului kakaknya.
"Ri, nanti sore diajakin ke salon sama Yana." Tutur Via di meja makan.
"Wah, mau mau mau ... " Sahut Riri bersemangat sekali.
Kalau udah gitu tentu aja Via nggak punya alasan buat nolak Yana lagi.
______
Kamar Mirza di rumah Bu Een,
Mirza baru saja membuka matanya ketika terdengar suara orang sedang berbicara di telepon dari luar kamarnya.
Meski dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Mirza kau itu suara ibunya. Tapi dia sedang menelpon siapa? nadanya seperti sedang introgasi seseorang.
"Kamu jangan bohong ya? jawab yang jujur nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa!" Suara bu Een dari luar kamar Mirza. Nampaknya Bu Een sedang berbicara dari ruang tengah yang terletak di depan kamar Mirza sehingga Mirza bisa mendengar dengan jelas suara ibunya itu ketik
"Apa waktu di Jakarta dia baik-baik aja? Kamu jangan coba-coba nutupin ya. Dari semalam wajahnya murung dan sampai sekarang dia belum keluar juga dari kamar. Dan lebih anehnya lagi dia pulang ke sini bukan ke rumahnya untuk menemui istrinya. Kalau ada apa-apa ini pasti ada hubungannya sama kamu Jaka!"
"Astaga!" Mirza seketika terlonjak kaget mendengar nama Om Jaka disebut-sebut.
Mirza langsung turun dari tempat tidur dan keluar kamar, hal itu cukup membuat Bu Een terkejut.
" Udah bangun, Za?" Tanya Bu Een.
"Ibu lagi teleponan sama Om Jaka?"
Bu Een memandang Mirza Yang sepertinya memancarkan roman kekhawatiran dari wajahnya.
"Iya, kok kamu bisa tahu?"
Mirza mendekat dan langsung meraih ponsel dari tangan Bu Een, lalu menekan tanda merah di layar.
"Kok dimatiin? Emangnya kenapa?" Bu Een merasa sangat heran dengan kelakuan Mirza barusan.
Mirza tak menjawab, dia ngeloyor mau balik lagi ke kamarnya namun cepat dicegat oleh Bu Een.
"Tunggu, Za. Sebenarnya ada apa sama kamu? Coba cerita sama Ibu, apa yang terjadi selama kamu di Jakarta?"
Deg!
________ berrrsambung ☺️
__ADS_1
Terima kasih sudah setia membaca ceritaku ya 🙏🌹 Jangan bosan untuk like, komen, rate dan vote, biar aku makin semangat nulisnya. 😘