
“Jaka.....!” Teriakan Bu Een menggema manakala ia melihat Om Jaka sedang asyik video call di dalam garasi seperti sedang sembunyi-sembunyi.
Om Jaka yang mendengar teriakan itu langsung mengakhiri video callnya.
“Maaf ya, nanti kita sambung lagi. Assalamuailaikum.” Pamit Om Jaka pada seseorang dalam sambungan video callnya.
Om Jaka lantas keluar dan mendapati kakaknya sudah berdiri di pintu garasi.
“Ngapain sih, Yu? Udah sore kok teriak-teriak?”
“Kamu yang ngapain? Telponan sama siapa kamu pake ngumpet di dalem garasi segala?” Selidik Bu Een dengan jiwa keponya.
“Mau tau aja urusan orang.” Cibir Om Jaka sambil lalu.
“Eh, tunggu dulu!” Bu Een menahan langkah Om Jaka. “Anterin saya ke rumah Mirza sekarang.”
“Mau ngapain lagi sih, Yu? Besok aja. Ini udah hampir maghrib, ntar digondol wewe gombel lho jam segini masih keluyuran.” Sahut Om Jaka.
“Jak, ini penting. Saya harus bilang ke Mirza kalau dia nekad memberikan semua hartanya atas nama saya, maka hubungan ibu dan anak cukup berakhir sampai di sini, karena dengan kata lain dia itu lebih memilih istrinya daripada saya yang ibu kandungnya.” Bu Een bersungguh-sungguh.
Om Jaka melihat Mbakyunya dengan tatapan aneh. “Masa kayak orang pacaran aja Yu, hubungan ibu sama anak bisa berakhir. Putus gitu, maksud sampean?”
“Iya.” Sahut Bu Een tegas.
“Males banget ah, kesana nganterin orang mau berantem.” Om Jaka ngeloyor cuek.
“Jaka!” Teriak Bu Een lagi. “Kamu itu Om nya, kamu wakil dari ayahnya Mirza. Kamu harus dukung saya. Bilang sama Mirza kalo perbuatannya itu salah karena bakal bikin dia nyesel seumur hidup.” Bu Een gigih pada pendiriannya.
Om Jaka tak terlalu serius menanggapi perkataankakaknya itu, dia malah terlihat malas.
“Gue yakin banget Yu, kalo Kang Muhib masih hidup beliau pasti akan malu sama sikap sampean yang udah kelewatan ini. Karena suami sampean itu orangnya nggak pernah maksa.” Ucap Om Jaka yang langsung masuk kamar.
“Jaka ....!” Teriak Bu Een lagi.
KREEB!
Om Jaka menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.
Bu Een yang merasa dicuekin terlihat sangat geram.
__________
Keesokan harinya Om Jaka sudah sangat rapi dan wangi. Dia keluar kamar dengan wajah klimis dan senyum yang cemerlang mirip senyum iklan odol di TV – TV.
“Jak, udah siap? Tunggu ya, saya ganti baju dulu.” Ucap Bu Een yang muncul dari dapur.
“Eh, mau kemana emang, Yu?” Om Jaka heran.
“Mau ganter saya ke rumah Mirza kan?”
“Dih, ge er! Sampean pergi sendiri aja ya, gue udah ada janji soalnya.”
Bu Een auto melotot galak mendengar jawaban Om Jaka.
“Kemarin sore kamu bilang pagi ini. Terus sekarang kamu malah nyuruh saya pergi sendiri. Bener-bener nggak bisa diandelin kamu ya jadi orang!” Bu Een murka sambil berkancak pinggang.
Om Jaka malah pasang tampang selow.
“Nafas dulu Yu, jangan emosi pagi-pagi, nggak baik. Sabar, sabar ....” Om Jaka menenangkan kakaknya. “Tarik napas, iya .... hembuskan perlahan ....” Om Jaka malah memberi komando Bu een untuk mengatur nafasnya dan anehnya Bu Een malah nurut aja lagi.
“Nah, begitu... bagus ...” Puji Om Jaka. “Ulangi sekali lagi. Tarik nafas, tahan sebentar ....” Om Jaka mengambil ancang-ancang. “Daag…, gue cabut dulu Yuk!” Om Jaka langsung ngibrit menuju mobilnya yang sudah dipersiapkan di halaman depan.
Bu Een yang baru sadar dikerjain langsung mengejar Om Jaka dengan emosi yang udah naik sampe ke ubun-ubun.
“Jaka....! kurang ajar kamu ....!”
Sia-sia teriakan Bu Een, karena Om Jaka sudah berlalu dengan mobilnya. Udin yang melihat adegan itu hanya bisa melongo heran.
“Din! Cepetan anterin saya!” Bu Een berseru mengagetkan Udin.
“Eh, Oh .. I iya, Bu ...” Sahut Udin tergagap. “Tapi, tapi ... tokonya baru saja buka Bu.”
“Tutup! Cepetan, tutup lagi. Ini lebih penting!” Perintah Bu Een.
Udin pun menurut. Akhirnya Bu Een pergi ke rumah Mirza dengan diantar Udin. Dan ternyata sampai rumah Mirza...
WAKWAW....
Rumahnya sepi, sodara-sodara. Bel pintu udah dipencet sampe mendelep, pintu rumah udah digedor sampe tangan Udin pada merah jingga kuning biru, tapi tetap nggah ada jawaban dari dalam.
“Kayaknya Mas Mirza sama Mbak Via nggak ada di dalem, Bu.” Ucap Udin.
Bu Een semakin kesal.
“Kemana sih mereka pagi-pagi gini? Jangan-jangan mereka tau saya dateng, jadi sengaja nggak mau bukain pintu. Keterlaluan!” Geram Bu Een.
“Cari Mas Mirza ya, Bu?” Terdengar suara Pak RT bertanya dari luar pagar.
Bu Een menoleh, “iya, Pak RT tau Mirza kemana?”
“Tadi belum lama pergi naik mobil sama Mbak Via, Bu.” Sahut Pak RT seraya mendekat.
“Kemana dia. Pak?”
“Wah, saya nggak tanya, Bu. Soalnya tadi cuman papasan di jalan.”
Bu Een mengangguk meski hatinya kecewa bukan main. Bu Een pun mengajak Udin segera pergi setelah pamit dengan Pak RT.
__ADS_1
“Lurus terus, Din.” Perintah Bu Een pada Udin ketika mereka melewati pertigaan.
“Lho, kita mau kemana, Bu?” Udin heran, karena majikannya itu tak memintanya untuk lurus bukan mengambil jalan belok kiri yang mengarah ke kampungnya.
“Nggak usah banyak tanya!” Ketus Bu Een.
Ternyata Bu Een mau lewat depan rumah Tia. Dia menduga Mirza ada disana. Namun ketika mereka meliwati rumah kontrakan Tia, tak ada mobil Mirza terparkir di sana. Bu Een kini meminta Udin melewati jalan depan rumah besannya.
“Ini kita mau kemana lagi, Bu?” Udin tak bisa menahan penasarannya.
“Dibilang nggak usah banyak tanya!” Ketus Bu Een lagi. “Depan itu belok kanan!” Tujuk Bu Een dengan dagunya.
Udin pun menurut, namun di halaman rumah Bu Harni pun sepi tak ada mobi Mirza terparkir di sana.
“Kemana sih mereka?” Guman Bu Een dengan wajah kesal.
Udin yang nggak berani lagi bertanya terus melajukan mobilnya mengikuti jalan sementara Bu Een sibuk menerka-nerka kemana perginya Mirza. Bu Een baru tersadar ketika dari tadi mobilnya hanya muter-muter di kampung Jati Asri saja.
“Din, kamu ngapain masih mutar muter di sini? Ngabis-ngabisin bensin aja! Kayak nggak ada kerjaan lain! cepetan pulang balik lagi ke rumah!” Omel Bu Een sewot.
Udin hanya bisa garuk-garuk kepala. Nanya salah, nggak nanya juga salah. Wis, angel … angel … 🤭🤭
__________
Di rumah baru keluarga Husein
“Beginilah keadaan kita sekarang.” Ucap Azad seraya melihat sekeliling.
Mereka berada di ruang tamu yang tak terlalu besar seperti rumah yang lama. Rumah itu hanya ada satu lantai dan dua kamar tidur dengan halaman yang tak terlalu luas juga, dan sudah tentu tak ada satu orang pelayan pun yang siap melayani mereka seperti biasanya.
“Pa, maafkan aku.” Ucap Sofi lirih merasa sangat bersalah.
“Ini sudah jauh lebih baik, daripada kau menghabiskan uangmu untuk biaya kami menginap di hotel.” Sahut Tuan Husein mencoba berbesar hati dengan kenyataan yang ada.
Setelah terpaksa harus pergi dari rumahnya yang besar dan megah, Tuan Husein menginap di hotel semalam bersama istrinya dan Azad. Hari ini mereka pindah ke rumah kontrakan yang tak terlalu besar karena memang hanya ini yang mereka temukan.
“Aku janji, ini hanya sementara. Secepatnya papa dan mama akan pindah ke rumah yang lebih bagus dari ini.” Ucap Sofi.
“Sudahlah, lebih baik bantu adikmu membereskan semuanya.” Tukas Nyonya Husein.
Azad menyeret koper besar di belakangnya, Sofi menyusul mengambil beberap kardus dari dalam mobil.
“Kak, biar aku saja. Kakak kan sedang hamil, jangan mengangkat barang yang berat-berat.” Ucap Azad penuh perhatian.
Sofi termenung dengan ketulusan adiknya. Ia sungguh sangat beruntung memiliki adik seperti Azad.
“Kak, kenapa diam?” Tegur Azad.
“Nggak papa.” Sofi menggeleng samar.
Sofi mengangguk dan mengikuti arahan Azad. Sementara Tuan dan Nyonya Husein sedang melepas lelah di ruang tamu yang sofanya sudah mulai pudar warnanya.
“Pa, papa sehat kan?” Nyonya Husein menyentuh pundak suaminya dengan mata sendu.
“Papa baik-baik saja.”
Kedua orang tua yang sudah memasuki usia senja itu berusaha sabar dan saling menguatkan meski sebenarnya hati mereka hancur. Mereka sungguh tak ingin menampakkan ketidakberdayaan mereka di depan anak-anaknya.
Menjelang siang, Azad dan Sofi baru selesai beres-beres. Azad memesan makanan lewat aplikasi online. Selesai makan Sofi pamit pulang dan berjanji akan mengunjungi orang tuanya sesering mungkin.
____________
Mirza dan Via ternyata sedang mengunjungi rumah yang akan mereka kontrak. Firman dan istrinya membantu mereka beberes. Untungnya rumah itu tak terlalu kotor karena belum lama ditinggal pemiliknya merantau ke luar pulau.
“Makasih banget ya Man, udah bantuin bersih-bersih.” Ucap Mirza menepuk bahu Firman.
“Santai aja, Za. Aku seneng kok bisa bantuin kamu.” Bals Firman. “Oya, mampir ke rumah yuk!” Ajak Firman.
“Kamu emang nggak kerja?”
Firman melihat arlojinya. “Sift siang, jam 2 nanti baru masuk.”
Mirza menggut-manggut.
“Eh, kira-kira di RSUD masih butuh tenaga medis nggak ya?” Tanya Mirza kemudian.
“Kenapa? Jangan bilang kamu mau balik lagi kerja bareng sama aku ya?” Firman curiga. “Udah bener kamu kerja di kapal pesiar, gajinya kan puluhan kali lipat, bro!” Firman tergelak.
Obrolan mereka terus bergulir sementara Via dan istrinya Firman di halaman depan sedang ngobrol juga. Mereka melihat taman depan yang terbengkalai itu.
“Rumput-rumput ini nanti disemprot pake obat rumput aja, Mbak.” Saran Yanti istri Firman.
“Nggak papa, kalo cuman sedikit bisa dicabutin aja, Mbak. Sekalian buat olah raga.” Via tersenyum. “Ini pot-pot bunganya boleh dipakai kan, Mbak?” Via melihat beberapa pot bunga yang bergelimpangan tak terurus.
“Pasti boleh lah. Mbak Via suka berkebun ya?” Tanya Yanti antusias.
“Cuma buat mengisi waktu luang aja kok, Mbak.”
Yanti manggut-manggut.
“Oya, nanti jangan sungkan kalo udah jadi tetangga main ke rumah saya ya. Rumah saya cuman dua blok dari sini.” Tukas Yanti karena memang rumah saudaranya Firman itu masih satu komplek perumahan dengan Firman.
“Iya, nanti saya pasti main ke sana. Asal Mbak Yanti jangan bosen aja ya?” Seloroh Via.
Yanti tertawa, mereka terlihat sangat akrab meski baru pertama kali ketemu karena Yanti setelah nikah tinggal di Bogor berjauhan dengan Firman, jadi meski Firman dan Mirza sudah bersahabat lama tapi Via baru pertama kali bertemu dengan istri Firman itu.
“Eh, biar lebih akrab jangan panggil Mbak lah. Panggil Yanti aja, usia kita juga nggak beda jauh kayaknya.” Ucap Yanti.
__ADS_1
“Oke, kalo gitu panggil aku juga Via aja ya.”
Dua perempuan muda itu kini tertawa lagi, Firman dan Mirza menghampiri mereka.
“Hemm, ceria banget nih ibu-ibu.” Ucap Mirza. “Kayak baru dapet arisan aja.”
“Eh, Mas abis ini kita main ke rumah Yanti yuk!” Ajak Via.
“Tadinya sih gitu sayang, tapi ini barusan Yana ngabarin katanya semua sertifikatnya udah beres.” Mirza memperlihatkan ponselnya yang memang baru saja ada pesan masuk dari Yana.
“Ya elah, kamu kan bisa ke kantor Yana abis dari rumah aku, Za.” Ucap Firman.
“Lain kali aja deh, bro. ini penting banget soalnya.” Mirza menepuk bahu Firman.
“Eh, bentar Mas. Tadi kayaknya aku buka pintu sama jendela belakang, lupa belum dikunci lagi.” Ucap Via yang teringat tadi sama Yanti melihat-lihat dapur.
“oke, Mas tunggu di mobil ya.”
Via mengangguk, Mirza menuju mobil bersama Firman dan Yanti.
SREET
NGIIK
Seorang pengemudi sepeda motor menghentikan motornya tak jauh dari mobil Mirza.
“Mirza!” Panggil orang itu seraya turun dari motornya.
Mirza menoleh.
“Eh, Danar!”
Ternyata si pengemudi motor itu Danar.
“Kalian lagi ngapain? Kok ngumpul-ngumpul disini? Ini bukannya rumah sepupu kamu ya, Man?” Danar keheranan demi melihat mereka bertiga ada di rumah kosong itu.
“Iya. Jadi Mirza ini sebentar lagi bakal tetanggan sama kita, Nar. Dia sama istrinya mau ngontrak di sini.” Tutur Firman menjelaskan.
“Lho, kamu juga tinggal di perumahan ini?” Tanya Mirza antusias pada Danar.
“Iya, nggak jauh kok dari rumah Firman.” Sahut Danar. “Masa lupa, kamu kan dulu hampir nabrak aku di tikungan dekat rumah Firman?” Sambung Danar mengingatkan.
“Oh, iya , iya…” Mirza tertawa. “Waduh, kacau banget ya waktu itu? Untung kita nggak sempet baku hantam? Haha…, sori ya aku lagi meleng waktu itu.” Mirza tertawa ingat kekonyolannya sendiri hampir menabrak motor Danar di pertemuan pertama mereka ketika Mirza mau ke rumah Firman dan pikirannya lagi acak-acakkan gara-gara si Sofi.
Firman dan Yanti ikut tertawa mendengar pengakuan Mirza. Namun diam-diam hati Danar merasa sangat bahagia. Betapa tidak, dia sekarang akan bertetangga dengan Via. Itu berarti dia akan lebih sering bertemu dengan Via. Eh, ya mapun! Danar terkejut dengan isi kepalanya sendiri, Via itu kan istrinya Mirza. Haduh!
“Eh, kalo gitu aku dulaun ya?” Pamit Danar. “Mau ke kedai nih, dari pagi belum ke sana soalnya. Nanti mapir ya, Za.” Ucap Danar.
“Kapan-kapan ya, soalnya ini masih mau ke kantor Yana dulu.”
“Oke.” Danar mengacunkan jemponya dan segera berlalu hampir bersamaan dengan Via yang keluar rumah dan mengunci pintu depan.
“Man, ini kuncinya.” Via memberikan kunci rumah pada Firman, ternyata dia tak melihat Danar tadi.
“Simpan aja, Vi. Kan rumah ini udah resmi mau kalian tinggalin.” Ucap Firman.
“Lho, emang udah dibayar Mas?” Via bertanya heran pada suaminya.
“Udah, lunas.” MIrza nyengir.
BLOKOTOK BLEKOTOK UWOK UWOK ….
Ponsel Mirza berbunyi tanda ada panggilan masuk. Teryata itu telpon dari Yana.
“Halo, Yan.” Sapa Mirza.
“Popaye….! Lama banget sih kamu? Buruan…! Notarisnya nanti mau keluar, kalo kamu nggak dateng sekarang, aku nggak mau bantuin lagi!” Omel Yana kesal karena udah nunggin Mirza dari tadi.
“Iya, iya. Sebetar lagi. Sabar, ini udah di kota kok.” Mirza khawatir juga.
“Oke, sepuluh menit!”
“Ya elah, buru-buru banget. Emang mau pergi kemana sih notaisnya?”
“Ke luar angkasa! Udah, buruan jangan nanya mulu!”
NUT NUT NUT …
Yana mengakhiri sambungan telpon sepihak.
Mirza hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya Via itu.
___________
Halo akak.... masih setia kan ngikutin Via❤️Mirza 😍😍
Makasih akak readers tercinta dan akak author tersayang yang sellau support author 🙏🙏🙏❤️❤️❤️
Like dan komen suka-suka aja ya Kak… 😊😊yang penting jangan ngegas, takut nanti kejengkang , Wkwkwkkk 🤣🤣🤭🤭🤭
Vote juga seiklasnya aja😂😂
Tapi rate 5 jangan kurang ya kak,🤩🤩🤩nanti kalo turun ratenya syedih author😢😢😢
Berkah, bahagia buat akak semua.😇😇😇
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1