TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
299 #MENUJU AKHIR


__ADS_3

Hari bergulir senja, Via masih duduk di kursi teras dengan wajahnya yang basah. Ibu mana yang tak sedih menyadari buah hatinya tak tau dimana keberadaannya, sedangkan sang mertua orang terakhir yang bersamanya sama sekali tak bisa ditanyai. Bu Een malah keliatan kayak orang bingung, ia mengambil duduk agak jauh dari Via, sesekali seperti menggumam sendiri melihat sekeliling. Via tak dapat lagi menunggu, ia bangkit hendak menyusul Ice, namun Ice keburu muncul dengan keringat mengucur dari kedua pelipisnya.


“Mbak –“


“Gimana, Ce? Nala dimana?” Via tak sabaran. “Ada yang liat Nala kan? Ketemu kan Nalanya?” mengguncang kedua bahu Ice dengan air mata kembali menderas.


Ice menghirup oksigen sejenak, dadanya terasa sempit. “Tadi sore ada yang liat Bu Een jalan ke arah perbatasan desa sambil dorong stoller, tapi –tapi, terus –“


“Terus kenapa, Ce?” kejar Via.


“Tapi, terus pulangnya cuman sendirian. Waktu ditanya Bu Een diem aja,” Ice malah ikutan nangis. “Aku udah telpon Kang Udin, Mbak. Dia lagi nyari kesana, MBak Via tenang dulu ya. moga aja ada orang baik yang jagain Nala.”


“Gimana bisa tenang! Kalo Nala gak ketemu gimana, Ce? sebentar lagi maghrib,” pikiran Via hampir buntu.


Ice juga bingung harus ngapain. Baru saja ia hendak merogoh ponselnya, terdengar motor Udin memasuki halaman. Udin datang berboncengan dengan seorang pria paruh baya membawa stoller Nala.


“Nala!” Via berlari mendekat namun wajahnya kembali pias mendapati buah hatinya tak bersama mereka. “Nala mana, Din? Nalanya mana? Kenapa dia nggak ada?” Berondong Via dengan penasaran membuncah.


“Mbak, sabar Mbak.” Ice berusaha menenangkan sementara Udin membantu menurunkan stoller.


“Bapak ini yang nemuin stollernya, Mbak. Tapi Nala udah nggak ada,” suara Udin pelan tak tega mengungkapkannya pada Via.


Via menatap pria paruh baya itu meminta penjelasan.


“Saya baru pulang dari sawah, tau-tau kereta bayi ini geletak aja Mbak,” si Bapak bercerita. “Saya pikir punya orang ketinggaan atau gimana, jadi saya bawa pulang sambil bilang ke orang-orang kalo ada yang nyari ada di rumah saya, Eh nggak taunya punya Mas Udin –“


“Itu punya anak saya, Pak,” sergah Via cepat. “Dia pergi sore tadi sama ibu mertua saya,” melihat pada Bu Een yang tampak tak menghiraukan apapun. “Kira-kira mereka pergi sekitar–“ berganti melihat pada Ice.


“Sekitar tiga jam yang lalu, Pak. Sebelum ashar,” sambung Ice cepat.


“Wah, saya nemunya belum terlalu lama tadi ini pulang dari sawah. Tapi udah kosong, nggak ada bayinya.”


“Kalo gitu Nala kemana …” Via terisak merana memikirkan nasib sang buah hatinya, Ice meraih pundak Via untuk menenangkan.


“Mas, Mas Udin lapor Pak RT belum?” tanya si Bapak.


Udin menggeleng.


“Kalo gitu cepet lapor Mas, kayaknya ini penculikan.”


“Ha? Penculikan?” Ice spontan kaget membuat Via hampir kena serangan jantung. “Maksud Bapak, Nala diculik begitu?”


Belum sempat si Bapak menjawab, tubuh Via sudah lemas. Beruntung Ice sigap menangkapnya.


“Aduh, Kang! Mbak Via kayaknya mau pingsan ini,” Ice paanik.


“Nala, sayang … dimana kamu, Nak? Nala …” Via terisak memanggil-manggil Nala.


Udin segera membantu Ice memapah Via, “kita bawa ke dalem aja.”


“Iya, Kang.”


“Pak, sebentar ya Pak,” pamit Udin sama si Bapak.


“Saya pulang sendiri aja Mas Udin, sekalian mau kasih tau orang-orang kalo ada anak hilang!” sahut si Bapak.


“Oh, ya. maksih kalo gitu, maaf ya Pak ngerepotin!”


Ice dan Udin membawa Via ke ruang tengah, tubuh lemas Via dibaringkan di sofa, bibirnya tak henti memanggil sang putri kesayangan.


“Mbak, sabar ya Mbak. InsyaAllah Nala ketemu,” Ice coba menenangkan. “Kang, cepetan lapor Pak RT sana!”


“Oh, iya!”


“Eh, kabari Mas Mirza juga,” imbuh Ice. “Suruh dia cepet pulang, tapi jangan bilang Nala ilang, nanti malah kaget.”


“Jadi ke rumah Pak RT dulu apa nelpon Mas Mirza dulu ini?” tanya Udin bingung.


“Telpon Mas Mirza sambil jalan ke rumah Pak RT! Udah sana, buruan!”


Udin pun bergegas pergi, Ice ke dapur untuk membuatkan segelas teh hangat. Tapi ia melihat Via terpejam ketika kembali ke ruang tengah, mungkin Via ketiduran karena kelelahan. Ice memilih tak mengganggunya, meletakkan teh hangat di atas meja lantas keluar rumah dan melihat Bu Een yang masih terpaku di tempatnya.


“Bu, sebenernya ibu kemanain Nala?” Ice gemes banget dari tadi pingin introgasi Bu Een.


“Nala?” ulang Bu Een.


“Iya, Nala cucu ibu, anaknya Mbak Via dan Mas Mirza!”


Berpikir keras membuat Ice semakin geregetan, “ibu sengaja ya ninggalin Nala? Atau emang ibu pura-pura lupa?”


“Saya nggak ninggalin Nala,” sahut Bu Een.


“Terus ibu kemanaiiiiinnn....?” Ice sampe pengen bejek-bejek muka innocent Bu Een.


Diam lagi, sepertinya masih coba mengingat.


“Nggak mungkin kan anak bayi bisa lompat dari stoller terus jalan sendiri?” Ice mulai hilang kesabaran. “Ibu pasti sengaja ninggalin Nala di tempat sepi terus pulang dan pura-pura lupa, iya kan? Ngaku! Ayo, ngaku!” Ice menaikkan intonasinya, membuat Bu Een terpojok.


“Ce? Kamu apa-apan sih, kok bentak-bentak ibu begitu?” Udin tau-tau udah nongol di belakang.


“Abisnya kesel banget, si nenek peot ini dari tadi cuman bengang bengong aja ditanyain!”


“Ya wajarlah ibu kayak gitu, kan amnesia. Gimana sih kamu?” Udin malah belain Bu Een.


“Akang yakin? Dia kayaknya sengaja ngelakuin itu, dia kan benci banget sama Mbak Via. Dari dulu emang gak pernah suka sama Mbak Via!”


Bu Een menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Ice.


“Kan aku udah bilang Bu, jangan jauh-jauh bawa Nalanya, tapi ibu bilang cuman muter-muter sini aja. Aku yakin ini pasti udah ibu rencanain sebelumnya biar bisa balas dendam sama Mbak Via, iya kan?" Ice terus menyudutkan Bu Een.


“Ce, kamu gak boleh ngomong gitu, kok sempet-sempetnya mikir kesana,” Udin memperingatkan. “Lagian ibu gak bisa disalahin sepenuhnya. Kan kamu yang harusnya jagain Nala?"


Sontak saja kedua biji mata Ice melotot mendengar suaminya terus membela Bu Een. “Jadi Akang nyalahin aku?”


“Bu –kan, gitu. Mak –maksud Akang –“ Udin gelagapan melihat tampang galak Ice yang seolah sudah mulai bertaring dan mengeluarkan tanduk.


“Terus aja belain nenek lampir itu! dari dulu Akang emang gak pernah berpihak sama aku, selalu merasa hutang budi sama dia! Aku capek denger semua pembelaan Akang, mulai sekarang aku gak mau denger lagi!” Ice melengos tapi Udin segera menarik tangannya.


“Bukan gitu maksud Akang, Ce.”


“Lepasin!” menyentakkan kasar. “Heh, nenek lampir, denger ya. gara-gara kamu saya sama suami jadi berantem. Kamu itu emang biang kerok! Biang masalah rumah tangga, nggak buat saya nggak buat Mbak Via, sama aja!” Ice nunjuk-nunjuk muka Bu Een dengan emosi sudah sampai pada ubun-ubun.


Tak ada perlawaan dari Bu Een, ia hanya mendengarkan semua tuduhan yang dialamatkan Ice padanya, Ice yang semakin geram memilih masuk daripada semakin bertambah emosi.


“Apa benar saya seperti itu …?” lirih Bu Een seolah bertanya pada dirinya sendiri. “Nggak, saya nggak seperti itu,” menggeleng coba menepis perasaannya sendiri.


Udin yang menyadari keanehan pada Bu Een segera menegurnya, “Ibu nggak papa kan? Maafin ice ya, Bu? dia nggak bermaksud –“


“Apa saya orang jahat?” tanya Bu Een membuat Udin sedikit tersentak. “Saya dulu orang jahat? Bener begitu?”


“Bu, jangan pikirin omongan Ice. Dia cuman –“


“Jawab, saya!” memaksa Udin.


“Ibu orang baik. Ibu banyak bantu saya,” sahut Udin tak ingin menjadi runyam. “Sekarang saya anter ibu ke dalem ya. ibu istirahat, sebentar lagi maghrib, nanti–“


“Mirza mana?” kesekian kalinya Bu Een memotong kalimat Udin. “Dia belum pulang kerja?”


Udin menggeleng, “belum.”


“Saya harus tanya dia. Dia pasti tau, saya nggak percaya kamu. Kamu pasti bohong!” Bu Een melangkah cepat masuk meninggalkan Udin.


Udin termenung, dia belum bisa menghubungi Mirza maupun Om Jaka. Ponsel keduanya berada di luar jaringan. Entah gimana nasib Nala, terlebih lagi Via, pasti penderitaannya sepanjang malam.


Flashback


SREET


NGIIK …!


Bu Harni mengerem laju motornya seketika setelah melewati seseorang yang sedang berjalan. Sepertinya ia mengenal orang itu. menunggu sebentar dan menoleh perlahan takut salah orang.


DOENG!


Kedua biji matanya melotot sejadi-jadinya, ternyata benar dia tak salah lihat. Gegas ia turun dari motor untuk menghampiri.


“Heh, Endang! kebetulan ketemu disini,” ucap Bu Harni dengan nada judes. “Rupanya Tuhan emang sengaja ketemuin kita, padahal saya ogah banget liat tampang situ makanya gak mau dateng ke acara kemarin malem!”


Yang diajak ngomong diam tak menyahut bikin Bu Harni sebel.


“Itu cucu saya mau dibawa kemana?” melihat kereta dorong dimana ada Nala yang tengah anteng di dalamnya. “Situ sengaja ajak dia jalan jauh ya mau pisahin dari orang tuanya? Pasti situ punya modus jahat! Siniin, cucu saya!” berusaha mengambil stoller.


Menepis cepat. “Maaf, ibu ini siapa ya? kok ngaku-ngaku ini cucunya? Ini kan cucu saya.” Menatap curiga.


Bu Harni setengah tak percaya, tapi lantas dia ingat kalo Via pernah bilang Bu Endang alias Bu Een itu menderita amnesia.


“Situ nggak tau siapa saya?” Bu Harni ngetes.

__ADS_1


Menggeleng dengan wajah bingung, “memangnya kita pernah kenal?”


“Wah, si nenek lampir beneran hilang ingatan ini,” batin Bu Harni. “Situ bener-bener nggak ingat saya?” meyakinkan sekali lagi.


Menggeleng tegas, “saya nggak ingat.”


“Saya besannya situ.


“Besan?” mengulang masih dengan ekspresi bingung.


“Iya, besan! Besan yang sering dihina dina sama situ!” ketus Bu Harni.


“Maksudnya kita berdua ini besanan?” masih tak yakin.


“Iya, kenapa nggak percaya banget sih?!” kesal Bu Harni.


Tersenyum seraya mearaih kedua tangan Bu Harni, “Maaf ya Bu, saya nggak tau –“


“Nggak usah pegang-pegang!” Bu Harni menghindar. “Jangan sok akrab ya! dan jangan mentang-mentang lagi lupa ingatan, terus saya bakal baik-baikin situ? Heh, nggak akan!” mencibir dengan nada kebencian membuat Bu Een terdiam.


Bu Harni memperhatikan raut tua hampir sebaya dengannya itu, wajah tirus di depannya nampak berpikir tentang sesuatu.


“Nggak usah diinget-inget, emang lebih bagus situ amnesia terus selamanya! Biar aman dunia ini, terutama rumah tangga Via dan Mirza.”


“Apa saya sebelumnya pernah berbuat jahat pada Via dan Mirza?” bertanya dengan raut datar.


“Sering, bukan pernah lagi!” sahut Bu Harni cepat. “Apalagi sama Via anak saya, situ selalu merendahkannya dan gak pernah anggep dia memantu padahal Via selalu berbuat baik sama situ!”


“Saya sejahat itu?” menatap tak percaya.


“Lebih dari itu! situ selalu berusaha misahin Via sama Mirza. Situ juga sengaja bawa perempuan lain ke dalam rumah tangga mereka biar mereka bercerai. Situ ambil semua harta Mirza karena takut direbut sama Via. Situ bener-bener serakah, bin rakus, bin tamak!”


Menggeleng-gelengkan kepalanya seolah menolak semua perkataan Bu Harni.


“Ngapai geleng-geleng kayak kuda lumping?” Bu Harni berkacak pingggang. “Kalo gak percaya betapa jahatnya situ selama hidup di dunia ini sama anak saya Via, tanya aja sama orang satu kampung! Mereka tau semua!”


Wajah Bu Een mulai berkeringat dingin, orang di depannya itu memaksa ingatannya untuk kembali namun apalah daya tak mampu.


“Dan yang lebih parah lagi, waktu situ harus operasi gara-gara kecelakaan, situ minta syarat Via dan Mirza bercerai baru situ mau operasi!”


Bu Een tak bisa lagi meneymbunyikan keterkejutannya, semua kalimat demi kalimat dari sang besan membuatnya terpukul tapi juga seolah tak mau menerima begitu saja, pikirannya berusaha tetap menyangkal.


“Itu yang membuat Mirza pergi meninggalkan Via begitu saja, karena tak tahan dengan sikap situ yang jahatnya kelewatan. Sebagai ibu, situ udah kayak monster yang gak punya perasaan. Semua orang selalu salah dimata situ, apalagi Via dan saya. Mentang-mentang saya nggak kaya raya, situ selalu ngeremehin saya. Dan sekarang jangan harap saya lupain semuanya begitu saja karena maaf aja gak cukup buat menghapus semua penghinaan situ, meskipun Tuhan sudah membalas kejahatan situ dengan membakar semua harta benda situ sampe ludes, plus situ masuk rumah sakit jiwa plus sekarang amnesia!” papar Bu Harni membuat raut wajah Bu Een pucat dengan tubuhnya gemetaran.


Tak sepatah katapun yang terucap dari mulutnya. Perlahan ia memutar tumitnya, melangkah dengan wajah bingung. Bu Een melupakan Nala dan stollernya begitu saja. Untuk sesaat Bu Harni memeperhatikan besannya yang berjalan mejauh, memang tak ada penolakan histeris atau pun kalimat makian yang biasa terlontar dari lisan Bu Een, namun itu cukup membuat Harni puas untuk saat ini.


“Ibu, cepetan balikin Nala! Mbak Via sama Mas Mirza pasti bingung dan sedih ngira Nala hilang!” kesekian kalinya Riri nyuruh ibunya bawa Nala pulang.


“Tunggu bentar lagi, Ri. Ibu pengen biar si lampir itu dimarahin sama semua orang gegara ninggalin Nala gitu aja,” sahut Bu Harni acuh masih sambil mengajak Nala main.


“Ibu kelewatan! Itu sama aja nyiksa Mbak Via, Bu.” Riri geregetan.


“Ibu cuman pingin ngasih si lampir itu pelajaran.”


“Ibu itu bukan guru bukan juga dosen, ngapain mau ngasih pelajaran segala?”


Bu Harni masih cuek, Riri semakin kesal.


“Oke, aku telpon Mas Mirza nih, dan bilang kalo ibu sengaja umpetin Nala!”


“Riri, kamu apa-apaan sih?” menoleh khawatir.


“Ibu yang apa-apan? Udah dibilangin, gak usah mau ngebales semua perlakuan Bu Endang, karena itu menunjukkan ibu sama aja jahatnya kayak dia!” Tegas Riri.


“Jadi maksud kamu ibu harus maafin semua perlakuan kejamnya selama ini gitu aja?” menatap sang putri bungsunya. “Gak bisa, enak bener! Dia kudu ngerasain apa yang pernah ibu rasain, Ri.”


“Astaghfirullah …” Riri sampai bersitighfar, ibunya ngeyel banget. “Bu, Tuhan aja Maha pemaaf, masa ibu yang cuma mausia biasa nggak?”


“Memangnya kamu selama ini gak sakit hati liat kakak kamu direndahkan dan keluarga kita dihina terus sama si Lampir itu?" Bu Harni masih kekeh.


"Ini kesempatan kita buat ngebales, mumpung si Lampir itu masih hilang ingatan."


“Ya sakit hati, tapi buat apa juga dipertahanin lama-lama? Udah, aku nggak mau debat lagi. Kalo ibu gak mau anterin Nala, biar aku sendiri –“


“Ya udah, iya iya!” gegas merih sang cucu. “Daripada kamu yang anterin, ntar ngoceh macem-macem lagi disana.”


“Kita berangkat sekarang, keburu maghrib!” berjalan mendahlui keluar rumah.


Terdengar suara gaduh dari lantai atas. Bu Een membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga dengan tergesa. Mengendar pandang dengan tatapan nanar lantas kedua netranya bertumbuk pada tubuh Via di atas sofa.


“Vi, Via! Bangun, Via! Via …” Bu Een mengguncang lengan Via dengan kuat.


Via yang kaget tubhnya diguncang sedemikian rupa dengan susah payah membuka matanya.


“Via, cepat bangun! Ayo, bangun!” Bu Een masih bersuaha membangunkan Via, suaranya yang berisik mebuat Ice dan Udin yang berada di ruang tamu sedang menunggu Mirza seketika berjalan cepat menghampiri.


“Ada apaan sih Bu berisik banget?” kesal Ice. “Jangan gangguin Mbak Via, kasian lagi istirahat.”


“Uce, saya udah tau siapa saya ini,” ucap Bu Een menatap Ice penuh keyakinan.


“Hem, jangan bilang kalo ibu wonder woman ya!” cibir Ice.


“Hush!” Udin menyikut lengan istrinya. “Maksudnya ibu, ibu udah ingat siapa ibu yang sebenarnya?” tanya Udin hati-hati.


“Iya,” mengangguk cepat.


“Jadi, ingatan ibu udah mulai pulih?” timpal Via yang berusaha bangkit perlahan, segera Ice membantunya duduk.


“Iya, sedikit.” Bu Een duduk di samping Via. “Ibu tau, kamu menantu ibu –“


“Hedeh, kalo itu sih ayam tetangga juga tau,” gerutu Ice sebal.


“Ice! Dengrein dulu,” Udin melotot gemas.


“Apa yang ibu inget? Apa ibu udah inget dimana Nala?” suara Via kembali bergetar ketika mengucapkan nama sang putri kesayangan.


“Kamu menantu ibu yang selalu ibu jahatin. Ibu udah berusaha misahin kamu sama Mirza. Ibu yang –“ mengalir semua perkataan dari lisan Bu Een persis seperti yang dituturkan Bu Harni sore lalu padanya. “Apa itu semua benar?” pungkas Bu Een dengan wajah memerah, kedua netra tuanya mengembun. Via terdiam beberapa saat, Udin dan Ice hanya saling pandang.


“Jawab ibu, Vi.” Lirih Bu Een. “Apa itu semua benar? Apa ibu sejahat itu selama ini sama kamu?”


Dada Via terasa sesak, sang ibu mertua butuh jawaban dan pengakuan akan semua kebenaran perlakuannya selama ini.


“Apa ibu benar-benar mengingatnya atau ada orang lain yang menceritakannya pada ibu?” netra teduh Via membalas tatapan lurus Bu Een. Ia tak serta merta yakin kalau ingatan itu begitu detail kembali pada kotak memori sang ibu mertua yang mungkin sudah usang termakan usia.


“Jawab saja, benar atau tidak,” Bu Een memaksa.


Meraih tangan yang mulai keriput itu perlahan, “ibu tidak butuh jawaban benar atau tidak. Itu semua tidak akan mengubah kenyataan, Bu. Ibu tetaplah ibu mertuaku, ibu kandung Mas Mirza, dan sekarang kita sudah kembali kumpul bersama-sama.”


Tubuh renta Bu Een sontak melorot ke atas lantai begitu mendengar penuturan sang menantu. Ia gapai kedua lutut Via dengan posisi duduk bersimpuh dengan lelehan air mata yang menderas membuat Via kaget mendapati respon ibu mertuanya yang tiba-tiba itu.


“Maafin ibu, Via …”


“Bu, bangun Bu. jangan kayak gini,” berusaha mengangkat kedua lengan Bu Een.


“Tolong maafkan ibu, ibu banyak salah sama kamu.”


Berusaha melepaskan diri, tak seharusnya sang ibu mertua berlaku seperti ini padanya. “Ibu bangun dulu, tolong jangn kayak gini.”


“Nggak, ibu nggak akan bangun sebelum kamu maafin semua kesalahan ibu, semua kajahatan ibu,” tangis Bu Een malah semakin menjadi, dress Via sampai basah karena Bu Een membenamkan wajahnya di pangkuan Via. “Dari jawaban kamu tadi, ibu yakin kamu menantu yang snagat baik. Kamu tidak mau menyalahkan ibu, kamu berhati mulia. Ibu berdosa karena menyia-nyyiakan kamu, maafin ibu, Vi … tolong maafin ibu …” masih terus meracau dalam isaknya.


Via bingung harus gimana, ia tak bisa melepaskan diri.


“Apa yang harus ibu lakukan buat nebus semua kesalahan ibu, Vi? Apa?”


“Ibu nggak harus ngelakuin apa-apa, karena aku sudah memaafkan ibu dari dulu sebelum ibu meminta maaf –“ suara Via tercekat.


Ice dan Udin yang dari tadi hanya mematung menyaksikan adegan langka itu langsung tersadar ketika mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Keduanya kompakan saling tatap dan gegas ke depan.


“Mas Mirza, Om Jaka!” Ice dan Udin hampir berbarengan.


Mirza dan Om Jaka turun dari mobil dengan wajah lelah.


“Din, ada apa kok ada missed call banyak banget dari kamu? “ Tanya Mirza. “hpku mati, terus ketiduran juga pulangnya jadi baru aja sempet ngecas tadi sebentar di mobil.”


“Oh, itu –“


“Mas Mirza masuk aja dulu ya,” potong Ice sebelum Udin menjawab.


“Mirza doang nih yang disuruh masuk? Gue kagak?” celetuk Om Jaka.


“Eh ya Om Jaka juga dong,” imbuh Ice.


“Kalo gitu sekalian bikinin kopi item ya, mata gue sepet banget nih biar melek.”


“Siap, Om.”


“Kayaknya ada yang penting ya?” Mirza masih rada penasaran.

__ADS_1


“Nanti kita ceritanya di dalem aja ya Mas,” sambung Udin.


Mirza ngerasa kayak ada yang aneh, tapi dia nurut aja karena capek banget habis perjalanan jauh. Namun belum sempat ia melangkah, motor Riri memasuki halaman rumah. Udin dan Ice langsung kaget antara senang dan lega ketika melihat Riri membonceng Bu Harni yang menggendong Nala.


“Nala …!!” Udin da Ice berlari menghampiri.


“Syukurlah, Nala nggak kenapa-napa. Ya Allah, Bu … untung Nala ketemu,” Ice mengucap syukur seraya mengambil tubuh mungil Nala dan mendekapnya erat.


Mirza semakin diliputi keanehan. Riri yang melihat wajah letih Mirza mengira Mirza juga baru sampai sama Om Jaka habis nyariin Nala.


“Mas, maaf ya udah bikin Mas Mirza sama Mbak Via khawatir. Aku sama ibu gak langsung anterin Nala pulang.” ucap Riri.


“Maksudnya?” Mirza benar-benar tak paham.


“Jadi, tadi sore tuh kami semua ngirain Nala hilang Mas abis dibawa ibu jalan-jalan.” Tutur Udin.


“Ha? Hilang?” Mirza kaget.


“Ish! Dibilang ceritanya nanti dulu!” Ice melotot kesal.


“Lho, Mas Mirza emang nggak abis nyariin Nala sama Om Jaka?” Riri malah bingung.


“Udah, udah. Kita lanjut di dalem aja ya, Mbak Via harus cepet tau kalo Nala udah ketemu,” Ice gegas membawa Nala masuk diikuti yang lainnya.


Kesemuanya mencapai ruang tengah, pemandangan yang tersaji sungguh mengagetkan, kecuali bagi Ice dan Udin tentu saja. Adegannya masih sama dengan posisi Bu Een hampir mirip orang lagi sungkeman.


“Mas –“ Melihat pada suami dengan matanya yang basah, kemudian beralih pada Ice, “Nala, sayang!” seketika bangkit membuat Bu Een juga menyudahi ‘sungkemannya’


“Iya, Nala udah ketemu dibawa Bu Harni sama Riri, Mbak.” Ice segera memberikan Nala pada Via, diciuminya bocah kecil itu berkali-kali seolah rindunya hendak ia tumpahhkan walau baru beberapa jam terpisah.


“Mirza, ini semua salah ibu –“ menghambur ke pelukan Mirza dan melanjutkan tangisnya disana.


“Tenang ya, Bu. ibu tenang dulu,”


Menggeleng kuat, “ibu nggak akan bisa hidup tenang sebelum mendapatkan maaf dari kalian semua. Tolong maafin ibu, Za. Maafin ibu … ibu udah jahat banget mau pisahin kamu sama Via.”


Perlahan menghela pelukan, Mirza melihat Via seolah meminta penjelasan.


Via menyeka air matanya, “barusan ibu bilang katanya udah mulai inget, terus ibu nangis minta maaf sama aku. Tapi aku juga nggak tau ibu bisa ingat semuanya dari mana, ini kayak terlalu tiba-tiba dan terlalu cepat Mas.”


Bu Harni yang ngerasa jadi pemicu utamanya mengalihkan pandangan, namun Bu Een malah ganti menubruknya.


“Besan, maafkan saya. Saya memang sudah berbuat keterlaluan, tolong maafkan saya. Saya harusnya bersyukur punya besan yang baik karena telah memberikan saya memantu yang baik pula seperti Via. Tolong maafkan semua kesalahan saya,” Bu Een terus mengulang-ulang permintaan maafnya masih dengan air mata yang membanjiri kedua pipi keriputnya.


Riri menyenggol pelan lengan ibunya karena Bu Harni masih terdiam.


“Emh, I –ya, saya sudah maafkan –“ Bu Harni agak berat hati mengcapkannya.


“Terima kasih, Besan. Terima kasih,” serta merta memeluk Bu Harni.


Tiada yang mengira bahwa momen langka ini akan terjadi. Pasti ada hikmah dibalik semua peristiwa. Kejadian itu membuat semuanya mengcap syukur, kuasa Tuhan memang di atas segalanya. Hanya DIA-lah yang mampu membolak balikkan hati setiap hambaNYA.


“Alhamdulillah, ternyata ingatan Mbakyu udah benar-benar pulih ya,” Om Jaka yang sedari tadi hanya menyaksikan pun ikut merasa senang dan lega.


Bu Een melepaskan pelukannya dari Bu Harni, berganti melihat pada Om Jaka sang adik semata wayangnya.


“Mbakyu kagak usah minta maaf sama gue,” lanjut Om Jaka karena melihat pandangan kedua netra Mbakyunya redup dan adem ayem gak kayak biasanya yang selalu galak menatapnya. “Gue juga udah maafin semua kesalahan Mbakyu selama ini.”


Bu Een mendekat pada Om Jaka, “maaf, kamu memangnya siapa ya?”


DOENG!!


Rasanya Om Jaka pingin langsung pingsan sambil gulung-gulung mendengarnya. Kenapa sama semua orang ingat, tapi sama dia Mbakyunya nggak ingat?


💕💕💕💕💕


Pintu kamar diketuk perlahan, suara Gerald terdengar setelahnya.


“Permisi, Tuan Ram.”


Ramzi yang tengah bermain dengan Arfan segera melangkah ke arah pintu. “Ya, Gerald?”


“Tuan Besar menunggu untuk makan malam.”


“Sebentar lagi aku turun.”


“Emh, Tuan muda dan Nyonya Sofia juga.”


Mengernyitkan dahinya, “maksudmu Arfan?”


Mengagguk, “iya, Tuan.”


“Jadi aku bukan Tuan muda lagi disini?”


Sedikit menundukkan wajahnya, “saya hanya menjalankan perintah Tuan Besar.”


Tersenyum lebar seraya menepuk dada Gerald, “kenapa serius banget sih? Aku justru senang mendengarnya.”


Mengulas senyum tipis, “kalau begitu saya permisi.”


Ramzi segera masuk meyusul Sofi yang masih berlama-lama di depan cermin, “papa menunggu kita makan malam di bawah.”


“Kenapa kita? Biasanya cuman kamu?” menyahut acuh.


“Kamu nggak denger tadi Gerald bilang apa, hm?” membelsi rambut panjang Sofi.


Mengangkat bahu, “aku gak mau denger karena aku gak mau tau.”


“Ayolah, istriku …”


“Nggak usah sok ngerayu ya.”


“Ini kesempatan baik, kau sudah dengan besar hati mau menurutiku sebagai suamimu untuk kembali tinggal di rumah ini. Masa cuman makan malam aja nggak mau?”


“Tapi Arfan nggak makan jam segini.”


“Ya nggak papa, Tuan Muda Arfan Alatas bisa main di bawah. Aku akan minta suster ntuk menemaninya.”


“Sejak kapan anakku punya sebutan nama kayak gitu?” sinis Sofi.


“Sejak malam ini,” tersenyum simpul. “Jangan protes dan jangan banyak tanya lagi ya. Sekarang cepet ganti piyamamu, aku tunggu di luar.” Ramzi meninggalkan Sofi yang baru saja hendak membuka mulutnya, namun tak punya pilihan selain menurut.


Tak berapa lama ketiganya menuruni tangga, Gerald sudah menyiapkan kursi khusus untuk Arfan tepat di samping Tuan Alatas. Ia segera menyambut dan mempersilakan ketiganya untuk duduk.


“Aku udah bilang kan, Arfan nggak makan jam segini,” bisik Sofi sedikit geram pada suaminya.


“Gerald, bawakan mainannya kemari,” titah Tuan Alatas seolah bisa mendengar kalimat Sofi.


“Eum, mungkin Arfan lebih baik main dengan suster, Pa.” Ucap Ramzi.


“Dia tetap disini,” melihat pada Arfan kemudian menggenggam jemari mungilnya. Si Tuan Muda kecil itu sepertinya menyukai tingkah sang kakek, tebukti dia mengulas senyum seraya menatap wajah kakeknya yang tak ingin jauh-jauh darinya itu.


Pelayan sudah selesai menghidangkan makanan, wajah Sofi terlihat menahan kesal, Ramzi meraih piring Sofi. “Kamu harus makan yang banyak, Sayang.” Mengambilkan makanan untuk sang istri.


“Kak, aku diet,” agak melotot pada Ramzi.


“Tenang aja, kalaupun kamu gemuk aku tetep setia,” tersenyum lebar membuat Sofi semakin kesal.


“Kamu menyebalkan,” sinis Sofi tertahan.


Ramzi cuek, ia mulai menyendokkan makanan ke dalam mulutnya. “Ayo makan, istiku. Jangan malu-malu,” Ramzi benar-benar membuat Sofi tak punya pilihan, ia pun mulai makan dengan kedua netra melihat tajam pada sang suami.


“Ehm, Sofia aku ingin minta maaf padamu.” Kalimat singkat Tuan Alatas yang tiba-tiba itu sontak membuat Sofi terkejut, untung saja sendoknya gak ikut ketelen saking kagetnya. Ia hanya terbatuk dan Ramzi segera meraih segelas air untuknya.


“Makasih,” lirih sekali ucapan Sofi pada Ramzi, ia berusaha menyadarkan dirinya bahwa sedang tak bermimpi. Ini kali pertama sang mertua menyebut namanya setelah pertikaian panjang diantara keduanya.


“Aku pikir kita semua bisa hidup selayaknya keluarga,” sambung Tuan Alatas menatap ketiganya bergantian. Lagi-lagi sang tuan muda kecil tersenyum ketika sang kakek melihat padanya, dan itu membuat Tuan Alatas semakin yakin pada keputusannya.


“Tentu, Pa. Aku selama ini merasa sudah seperti itu,” sahut Ramzi. “Iya kan, Sayang?” melirik Sofi di sampingnya.


Mengangguk canggung.


“Sofia, tolong lupakan masa lalu. Aku ingin Arfan menjadi penerus Alatas.”


Hanya terdiam, sampai Ramzi harus menyenggol kakinya dari bawah.


“O –oh, yah,” sedikit terbata antara kaget dan tak percaya, kemudian mengalihkan pandangannya ke atas piring karena sang mertua lurus menatapnya seolah menuntut jawaban konkret.


“Baiklah,” putus Tuan Alatas setelah yakin menantunya itu tak akan mengatakan apa-apa lagi. “Kita lanjutkan makan malamnya,” Tuan Alatas meraih sendok dan garpunya.


💕💕💕💕💕


Hi, readers kesayangan..... 🥰🥰


Maaf ya baru up 🙏🙏 menuju akhir nih 😊


makasih ya selalu setia support karya othor awut-awutan ini 😘😘

__ADS_1


I love you all 🤗🤗🤗😍😍😍


__ADS_2