
Hujan bukanlah halangan bagi Mirza untuk menemui Via yang masih berstatus sebagai istri sahnya. Beruntung lepas isya hujan mulai reda hanya menyisakan rintik gerimis yang masih membasahi kota. Via beranjak dari duduknya ketika mendengar suara bel.
“Ya ampun, Mbak Tia udah dibilangin nggak usah pulang kesini juga kenapa nekad sih?” mengira Tia yang datang.
Ceklek
Pintu depan terbuka, Via yang sejatinya udah siap mau ngomelin kakaknya karena malam-malam nekad pulang ke rumahnya langsung terpaku, tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“M-mas?”
“Assalamualaikum, Sayang” langsung mendaratkan kecupan di kening sang istri dan membawa tubuh Via yang masih mematung ke dalam pelukannya.
Perasaan hangat segera menjalari hati Via, ia sungguh tak menyangka suaminya akan pulang , atau lebih tepatnya ingat pulang. Ya, meski mulut telah berucap untuk saling berjauhan untuk sementara namun hati tak dapat berdusta.
“Kamu nggak ngajak Mas masuk, Sayang?” melerai pelukan dan menangkup wajah Via dengan telapak tangannya yang besar.
“Dingin, Mas kehujanan ya?” merasakan telapak tangan Mirza yang dingin.
“Pake jas hujan kok, Sayang” melihat pada jas hujan yang sudah disimpan di bangku teras.
“Ayok masuk Mas, aku buatin teh hangat ya” tersenyum, sedihnya sirna sudah. Ia teramat bahagia walau pertemuan terakhir mereka sangat tidak mengenakan.
“Mas mau mandi dulu sayang,” ucap Mirza sesampainya di kamar.
Mengangguk, lantas menyimpan tas kerja suaminya. “Oya, Mas udah makan? Aku masakin ya?”
“Jangan repot-repot Sayang, nanti aja kita masak berdua” kembali meraih Via ke dalam pelukannya. “Aku kangen banget sama kamu, Sayang” netra menatap sendu penuh kerinduan yang tak tertahan.
“Aku juga Mas,” lirih Via, kedua matanya tiba-tiba mengembun.
Mengelus perut Via, melepaskan pelukan dan sedikit membungkuk mendekat pada perut istrinya. “Anak ayah, apa kabar? Maafkan ayah ya sering ninggalin kamu. Ayah janji, nggak akan lama lagi kita akan selalu bersama.” Mencium lembut perut Via.
Meleleh sudah butiran bening hangat membasahi kedua pipi, senang dan haru yang Via rasakan. Ia memang sudah terbiasa ditinggalkan Mirza ketika masih sering berlayar, sampai 7 purnama pun ia sanggup menjalaninya. Namun kali ini terasa sangat berat dan menyiksa.
“Sayang, jangan menangis” mengusap kedua pipi Via yang basah. “Mas tau kata maaf tak akan cukup untuk semua yang sudah suamimu ini lakukan padamu,” merengkuh sekali lagi istri tercitanya seraya mengujani ciuman pada pucuk kepalanya.
Bahagia yang Via rasakan seperti hanya mengapung di permukaan hati, ada perasaan mengganjal yang tiba-tiba menyeruak. Perasaan itu tentu tak beralasan, dibalik sikap lembut dan penuh kasih suaminya tentu ada seorang ibu yang tak rela dengan keharmonisan mereka. Hati Via mendadak sesak mengingatnya. Perlahan ia lerai pelukan.
“Ya udah, Mas mandi dulu ya. aku bikin teh dan siapin bahan makanan yang mau kita masak.”
“Iya, Sayang” mengecup singkat bibir Via sebelum masuk ke kamar mandi.
Via tak ingin menampakkan kegundahan hatinya, ia tak mau merusak momen ini. suaminya sudah meluangkan waktu untuk pulang, dia harus bersikap seolah semuanya berjalan normal, mengabaikan pedih hatinya.
Dua cangkir teh melati telah siap di atas meja makan, asapnya mengepul mengeluarkan aroma wangi melati yang khas. Via berdiri di depan kulkas untuk membersihkan raknya dengan kain bersih. Ia akan menata belanjaannya di sana setelah selesai membersihkannya. Sementara itu ponsel Mirza yang dalam mode silent di dalam tas Mirza berkali-kali bergetar tanda ada panggilan masuk. Kesal karena tak kunjung mendapat jawaban, si penelpon akhirnya megngirim chat berupa rentetan petanyaan bernada penuh kecurigaan. Dan seolah belum puas, satu pesan berisi sebuah foto pun ia kirimkan.
Mirza keluar dari dalam kamar mandi lekas berpakaian karena tak ingin melewatkan momen kebersamaannya dengan Via. Ketika langkahnya nyaris mencapai pintu, ia teringat belum memberi ibunya kabar. Ia akan mengirimi pesan kalau dia pulang ke rumahnya. Tak masalah, meskipun ibunya belum bisa berjalan normal tapi ia sudah bisa berpindah sendiri dari kursi roda ke atas kasur meski agak tertatih. Mirza pikir bagus juga untuk membuat ibunya berlatih mandiri jangan terlalu bergantung padanya.
Deg!
Jantung Mirza berdegup kencang ketika membaca pesan yang masuk di ponselnya. Itu dari ibunya yang menanyainya macam-macam dan tentu saja rentetan kalimat provokasi, keterkejutannya tak sampai disitu, netranya membelalak sempurna ketika melihat foto Via sedang makan bersama Danar di food court siang tadi.
Suami mana yang tak marah melihat istrinya pergi ke luar bersama laki-laki lain tanpa sepengetahuannya. Dalam foto itu terlihat Via sedang saling tatap dengan Danar. Sungguh pas banget momennya, dan itu membuat hati Mirza memanas seketika. Ia ingin marah dan menanyakannya langsung pada Via apa maksud dari semua itu? kenapa ia pergi berdua dengan Danar tanpa ijin dulu padanya? Apa dia sudah benar-benar tak lagi menganggapnya sebagai suami? Padahal jelas-jelas dia tau dirinya menyimpan kecemburuan pada Danar?
Mendengus kasar lantas berusaha menguasai emosinya, Mirza coba mengatur napas dan menyabarkan diri. Segera akal sehatanya bekerja, ia tak ingin sembarangan menuduh istrinya, mungkin saja itu hanya suatu kebetulan, Via dan Danar kebetulan bertemu di sana.
Setelah dirasa cukup dapat menetralkan persaannya, ia keluar kamar untuk menemuai Via. Namun hatinya kembali bergejolak kala melihat belanjaan istrinya yang masih berserak di dekat kulkas. Berarti benar Via siang tadi pergi, batin Mirza.
“Kamu habis belanja Sayang?” bertanya seraya mendaratkan pantatnya di ruang makan.
“Iya Mas, belanja bulanan sepert biasanya” menyahut tanpa menoleh, tanganya mulai menyusun belanjaan ke dalam kulkas.
__ADS_1
“Banyak banget belanjaan kamu?”
“Lumayan, Mas.”
“Kok kamu nggak minta tolong Mas sih buat anterin belanja?” sekuat apapaun berusaha netral, tetap saja perasaan Mirza ingin menuju ke arah sana, ia sungguh penasaran kenapa Via bisa bersama Danar.
“Aku nggak mau ngerepotin Mas.”
“Bukannya karena sudah ada orang lain yang bisa menemanimu belanja?”
Deg!
Spontan Via menghentikan kegiatannya, menoleh pada sang suami yang juga sedang menatapnya lurus.
“Maksud Mas apa?” berdiri tegak dengan wajah meminta penjelasan.
“Kamu belanja segitu banyaknya yakin cuman sendirian?”
Menyadari dirinya dicurigai, Via mendekat “Kalo aku bilang iya apa Mas percaya?” bertanya dengan raut sulit terbaca.
Meraih cangkir tehnya dan menyesapnya seolah ingin menghindar dari sang istri karena tak ingin mendengar kebenarannya.
“Aku kecewa sama kamu, setidaknya kamu minta ijin padaku sebelum pergi,” ucap Mirza kemudian.
Mengambil duduk di kursi sebelah sang suami, “Kalau aku sudah ijin apa lantas kau bia menemaniku? Kau bahakan lupa jadwal kontrol kandunganku.” Ungkap Via getir.
Mirza mengurungkan niatnya yang akan menyesap kembali tehnya, diletakkan cangkr itu sambil matanya tak lepas dari wajah istrinya yang menampakkan raut dingin. Ucapan Via membuatnya tertohok.
“aku minta maaf”
“Aku selalu memaafkanmu, dan itulah kelemahanku,”
“Aku tahu aku salah karena mengabaikanmu, harusnya meski aku –“
“Kenapa kamu berkata seperti itu, bukannya kamu sendiri yang menyuruhku berbakti pada ibu? Menjaga ibu? Merawat ibu?” nada sura Mirza sedikit meninggi.
“Iya, benar.”
“Lantas?”
“Nggak papa.”
Hening, suasana kaku menyelimuti seisi ruangan. Kedua insan yang baru saja saling berpeluk melepas kerinduan itu kini harus kembali terlibat perdebatan yang tak kunjung usai.
“Aku tau kamu pergi sama Danar tadi siang,” ucapan Mirza sontak membuat Via terkejut. “kaget?” tanyanya datar menatap Via kian tajam.
“Iya, tapi baguslah kalau kamu tahu” berusaha menutupi persaan keterkejutannya, “setidaknya aku tak perlu repot-repot menjelaskannya padamu.”
“Kamu berubah, Via. Kamu banyak berubah setelah kita jarang bersama.” Menatap dengan tatapan tak habis pikir.
“Kamu yang membuatku jadi begini,”
“Aku coba menuruti keinginanmu untuk tinggal terpisah, tapi kenyataannya kamu malah memberi tempat untuk laki-laki lain di hatimu” Mirza menahan himpitan rasa yang menyesakkan dadanya. “Kamu yang menyuruhku untuk mengurus ibu, kamu yang bilang bahwa kamu rela jauh dariku dan jangan sampai aku mendurhakai ibuku, tapi nyatanya apa? Apa? Kamu menempatkan aku pada posisi yang serba salah!” meluap sudah emosi yang sempat tertahan.
“Karena aku sadar Mas, meski aku bersuha menggenggap hatimu tapi kita tetap tidak akan bahagia selama ibumu masih hidup.”
“Jadi kamu ingin ibuku mati?” berdiri dari duduknya sampai kursi terdorong ke belakang.
“Kalau aku menginginkan ibumu mati kenapa aku minta kita berpisah agar ibumu bisa menjalani operasi?” ikut berdiri terbawa emosi.
“Mungkin kamu hanya drama!”
__ADS_1
“Cukup Mas! Tak pantas kamu menuduhku seperti itu setelah sekian tahun aku diam rela diinjak-injak oleh ibumu!” tak terima dengan tuduhan sang suami yang sangat tak berdasar.
“Jadi sekarang kamu bisa bilang begitu?” tersenyum sinis dengan guratan emosi masih mengusai. “Kenapa sekarang baru bilang, kenapa kemarin-kemain diam saja? Apa karena sekarang kamu sudah mendapatkan laki-laki lain sehingga kamu berani seperti itu? iya?” mengguncang bahu Via hingga wanita hamil itu tak bisa lagi menahan air mata kepedihannya. “Ternyata kecurigaanku memang benar kan? Danar menaruh perasaan padamu dan begitu juga sebaliknya! Akui saja semuanya, kamu jangan naif Via! Jangan lagi pura-pura polos seolah tak mengerti dengan semua perhatian Danar selama ini padamu! akui kalau kamu memang punya perasaan pada Danar! Akui kalau selama ini kalian saling memendam rasa! Akui semua itu!”
“Iya, kami memang saling suka!” Jawab Via dengan segenap keberaniannya, “lantas kau mau apa? Aku memang suka dengan semua perhatian yang Danar tujukan, dan memang seharusnya begitulah laki-laki. Dia selalu ada kala wanitanya membuatuhkan!”
Cengkaraman tangan Mirza pada bahu Via melemah, ia sungguh tak percaya dengan semua kalimat pengakuan yang meluncur dari bibir istrinya. Perlahan tubuh Mirza merosot ke bawah, “tega sekali kau, Via. Tega kau melakukan itu padaku,” mata yang memerah kini tampak menggenang dan perlahan air itu luruh bersama perasaannya yang hancur lebur.
“Jadi sekarang kamu sudah tau Mas, kiranya itu cukup untuk meyakinkanmu agar melepaskanku,” ungkap Via dengan wajah tegar yang dibuta-buat, ia seka pipi basahnya dengan cepat “sekarang tinggal tunggu waktunya, setelah anak ini lahir kita akan resmi berpisah.”
Mengangkat wajahnya dengan tubuh yang kembali tegap berdiri, “aku nggak percaya kamu melakukannya,” menantang dengan kedua mata menghunus tajam.
“ini kenyataannya, sekarang pulanglah. Katakan pada ibumu, sebaiknya segera melakukan operasi karena duri penghalang kebahagiaan dari hidupnya sudah pergi” ucap Via getir.
Tak ada yang lebih menyakitkan selain perpisahan ketika dua hati masih saling mencinta. Namun tameng kepura-puraan harus terus terpasang agar salah satu bisa melepaskan. Jika pun Via tetep kekeh ingin terus membina rumah tangga bersama Mirza, ia yakin tak akan bahagia selama Bu Een masih ada. Dan memang kenyataannya begitu. Mungkin ia yang terlalu egois di masa lalu, tetap memaksakan keadaan walau tak mendapat restu. Pada akhirnya perpisahan tak dapat terelakkan.
Mirza pergi dengan motornya disela hujan yang kembali mengguyur lebat meninggalkan Via dalam kesendiriannya yang bercucuran air mata kepedihan. Ia lelah dengan hidupnya. lelah dengan cintanya yang tak bisa bertahan dan lelah dengan semua tuduhan suaminya. ia berusaha tegar namun hatinya tetap rapuh. Cintanya baru saja pergi, dan kali ini mungkin untuk selamanya. Via harus merelakannya karena yakin ini jalan terbaik. Ia harus memastikan semuanya tak sia-sia, suaminya terlanjur berprasangka buruk terhadapnya dan juga Danar, ia mengambil celah memanfaatkan itu untuk mewujudkan keinginan sang ibu mertuanya. Sungguh tragis.
🎵🎶
Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar
Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku 🎵🎶
(Pamit by Tulus)
❤️❤️❤️❤️❤️
Terimalah kenyataan wahai readers tersayang, VIA AKAN TERPAKSA SELINGKUH DENGAN DANAR
Like selalu ya....
komen dong, pliiis komen .... ayooo omelin othor lagi. othor suka bacanya nano nano 😂😂😂
vote .... 252 episode yang vote itu itu aja, yang lain boleh dong kakak ....
mohon maaf kalau banyak typo ya...
__ADS_1
I love you all 🤗🤗😘🤗😘🤗