TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
87 #JUS SIRSAK


__ADS_3

Hari ini pembukaan ruko baru Bu Elin yang akan dikelola Riri. Bu Elin menamai toko kue itu Riri cake and Bakery. Tentu saja Riri merasa tersanjung meski agak keberatan awalnya, tapi Bu Elin meyakinkkan itu nama yang bagus dan sangat cocok. Apa mau dikata, Riri pasrah saja.


“Ri, semuanya sudah siap kan?” Tanya Bu Elin.


“Udah, Bu.” Sahut Riri mantap.


“Bagus, kalo gitu minta Pak Ustadznya mulai aja acaranya.” Perintah Bu Elin.


Riri segera mengangguk lantas menuju ke ruko, sedangkan Bu Elin duduk di tenda yang sudah dipasang di depan ruko. Alih-alih menggelar acara besar, Bu Elin memilih mengundang anak-anak yatim untuk berdoa bersama agar toko kue barunya berkah.


Selesai acara inti, semua undangan kebagian bingkisan yang sudah dipersiapkan. Tak lupa Bu Elin pun memberikan bingkisan pada para tetangga tokonya.


Pak Ustadz yang memimpin doa dan anak-anak yatim sudah meninggalkan ruko, mobil Mirza berhenti di parkiran dan semua penumpangnya langsung turun.


“Lho, kok udah sepi? Udah selesai apa belum mulai ya acaranya?” Ucap Bu Harni heran.


“Kata Riri acaranya jam 10 kan?” Timpal Tia yang turun sambil menggendong Ica.


Mereka kemudian menuju ruko yang hanya ada Riri, Bu Elin dan Danar.


“Ibu?” Sambut Riri ketika melihat Bu Harni datang bersama keluarganya yang lain. “Kok baru dateng sih?”


“Lah, emang udah selesai, Ri?” Bu Harni masih heran.


“Udah, barusan aja.” Riri agak manyun. “Kenapa baru pada dateng?”


“Itu tuh gara-gara nungguin si Arya tadi lagi narik nggak dateng-dateng.” Bu Harni melirik sebal pada Tia. “Udah ditungguin malah dia nggak jadi ikut. Nah, jadi telat kan kita?” Bu Harni kesal.


“Ri, diajak masuk dong keluargamu.” Bu Elin mengahmpiri.


“Oh, iya. Ibu, kenalin ini Bu Elin. Bu Elin, ini ibu saya.” Riri memperkenalkan ibunya pada Bu Elin.


“Halo, Bu. Saya Herlina.” Bu Elin menjabat tangan Bu Harni hangat. “Akhirnya kita ketemu juga ya, Bu. Udah lama lho, saya mau ketemu dan silaturahmi sama ibu.” Ucap Bu Elin ramah.


“Mau silaturahmi ke rumah saya?” Bu Harni keheranan, ia merasa takjub mendapat sambutan yang segitu baiknya dari Bu Elin.


“Iya, Bu. Iya kan, Danar? Ibu waktu itu penah mau ngajakin kamu main ke rumah Riri.” Ucap Bu Elin sambil melihat pada Danar yang masih di ruko.


Danar mendekat, dan terpaksa tersenyum mengiyakan lalu menyalami Bu Harni.


Bu harni nggak nyangka sama sekali, orang kaya seperti Bu Elin punya niatan berkujung ke rumahnya? Hati Bu Harni berbunga-bunga bukan main, ia punya harapan tinggi pada Danar kini. Pikirnya, pasti Danar itu bener-bener suka pada Riri. Beruntung banget kalo itu benar, ia bakalan punya mantu tajir lagi.


Bu Harni juga tak henti-hentinya mengagumi Bu Elin dalam hatinya yang meski berpenampilan simple, tapi memang terkesan berkelas sekali.


Luar biasa calon besan saya ini. Udah kaya raya, cantik, baik hati lagi. Nggak kayak si Endang itu! Udah tua, keriput, galak, pelit, sombong lagi! Ih, amit-amait! Liat kamu ya Endang, nanti kamu pasti langsung kena serangan jantung kalo tau saya punya besan yang lebih kaya dari kamu. Huh!


“Oya Bu, ini kakak pertama saya, Tia. Dan ini Ica putrinya. Ini kakak saya yang nomor dua Via dan Mas Mirza suaminya.” Riri memperkenalkan satu-satu anggota keluraganya pada Bu Elin membuat Bu Harni tersadar dari kehaluannya di siang bolong.


Bu Elin juga menyambut mereka semua dengan hangat.


“Ya udah, ayok silakan duduk. Kita ngobrol-ngobrol sambil menikmati kuenya.” Ajak Bu Elin.


Lalu mengalirlah cerita-cerita keseruan antara dua keluarga itu, namun Via dan Mirza lebih banyak diam. Mereka hanya menanggapi sesekali saja, selebihnya hanya menyimak.


Ditengah obrolan yang semakin kesana kemari itu Danar diam-diam mencuri pandang pada Via yang duduk di seberang menyandarkan punggungnya di tembok. Sementara Mirza sedang sibuk berbalas chat dengan Firman.


“Sayang, kayaknya Mas mau nemuin Firman dulu deh.” Bisik Mirza pada telinga Via. “Mas mau naya soal rumah kontrakan untuk kita tinggal nanti.”


“Heem.” Via hanya mengagguk.


“Kamu mau ikut apa nunggu disini aja, sayang?”


“Terserah Mas aja deh.”


“Kok terserah Mas sih? Sayang maunya gimana? Kalo ikut capek nggak nanti?” Mirza sedikit khawatir.


“Ya udah, kalo gitu aku tunggu disini aja.”


“E ekhm.” Bu Harni Berdehem agak mengejutkan Via dan Mirza.


“Bu, Maaf ya. Saya mau pergi sebentar dulu, mau ketemu teman. Nanti balik lagi ke sini.” Pamit Mirza.


“Mau kemana, Za?” Tanya Tia.


“Mau nemuin Firman, Mbak.”


“Oh, ya udah kalo kamu lama juga nggak papa kok. Nanti kita pulangnya minta anter Nak Danar, bisa kan, Nak?” Bu Harni tanpa canggung minta diantar Danar.


Danar agak tergagap ditodong seperti itu.


“Bisa kok, tenang aja Bu. Nanti pasti Danar anterin.” Sahut Bu Elin yang melihat Danar seolah berat banget mau bilang iya.


Bu Harni tersenyum senang, Mirza pun segera pergi.


“Bukannya apa-apa, Bu. Soalnya Via ini kan lagi hamil muda. Jadi saya takut kalo kita kelamaan nungguin Mirza nanti Via kecapekan.” Bu Harni menjelaskan alasannya.

__ADS_1


“Oh, jadi Via sedang hamil?” BU Elin menatap Via dengan raut kebahagiaan. “Wah, selamat ya, Vi. Jaga bener-bener ya kandungan kamu, semoga sehat sampai persalinan nanti.” Ucap Bu Elin tulus seolah sudah mengenal Via sangat lama.


“Amin, makasih, Bu.” Sahut Via dengan senyuman.


“Bunda, aku mau kue yang di deket Om ganteng itu.” Ucap Ica dengan suara imutnya sambil menunjuk piring kue di dekat Danar.


“Ah sayang, udah dong. Dari tadi kamu makan terus.” Tia melarang Ica yang emang dari sejak baru sampai tadi sudah makan bayak sekali kue.


“Eh, Ica mau kue ini ya?” Danar menyodorkan piring kue ke dekat Ica. “Ini, ambil.”


Ica melihat pada bundanya seolah minta persetujuan karena tadi Tia melarangnya.


“Boleh kok, sayang. Ambil aja.” Bu Elin menengahi. “Nanti Ica pulangnya bawa yang banyak ya?”


“Iya!” Ica langsung mengangguk dengan semangat membuat semuanya tersenyum, dasar Ica!


“Oya, Bu. Ayok kita lihat-lihat ke dalem. Di atas juga ada satu kamar tidur dan ruangan lain.” Ajak Bu Elin pada Bu Harni.


“Oya? Wah, berarti luas juga ya, Bu?”


Lantas mereka berdua pun masuk untuk melihat ruangan ruko lainnya.


“Bunda, Ica mau ikut nenek.” Rengek Ica.


“Di sini aja, Ca. Nenek mau ke atas tuh, nanti capek naiknya.”


“Ica mau ikut ke atas.” Ica semakin merengek.


“Sama tante aja, Yuk.” Tawar Riri.


“Ayok!” Ica langsung berpindah mendekati Riri. “Tapi sama bunda juga.” Sungut Ica.


“Ya ampun, ni anak! kumat deh, manjanya!” Omel Riri. “Sini, Tante gendong.” Riri menggendong Ica lantas mulai berjalan.


“Bunda, bunda … ayok sini…!” Ica masih merengek hingga membuat Tia mau tak mau bengkit juga mengikuti Riri dan Ica.


Tinggallah Via berdua dengan Danar.


Via menyelonjorkan kakinya dan desahan halus lolos begitu saja dari mulutnya.


“Capek, ya?” Tanya Danar.


Eh, Via sampe kaget. Saking nikmatnya meluruskan kaki yang sedari tadi duduk lesehan nekuk kaki sampe lupa kalo ada Danar di situ.


“Iya itu namanya capek.” Gerutu Danar.


Via cuek, ia merogoh ponselnya dari dalam tas slempangnya.


“Mau minum jus nggak?” Tawar Danar sebelum Via asyik dengan gawainya.


Via diam sebentar. Pikirnya seger juga siang-siang panas begini minum jus.


“Emang ada jus?” Via balik nanya.


“Ada, di sebelah sini ada yang jualan jus.”


Via menggut-manggut. Lantas kembali melihat layar ponselnya.


“Jadi mau jus nggak?” Tanya Danar lagi.


“Ng, nggak deh nanti malah ngerepotin.” Sahut Via ragu.


“Kalo mau bilang aja mau. Nggak usah malu gitu.” Danar agak meledek.


“Ya udah deh kalo kamu maksa. Aku minta jus sirsak ya.” Ucap Via akhirnya.


“As you wish, Madam.” Sahut Danar seraya bangkit.


Via nyengir melihat Danar.


Ah, kenapa dari sejak pertama ketemu, Danar itu sok perhatian banget sih? Dulu pertemuan pertama, dia langsung ngasih roti bakar sama matcha late ice, terus pernah juga ditraktir makan bakso. Belum lagi kebaikan-kebaikan Danar yang lain. Tapi meski baik, Danar itu kadang sok cool jadi orang. Cuek dan judes untuk ukuran cowok.


Eeh, kok malah jadi ngomongin dia sih? Gawat! Nggak boleh, nanti jangan-jangan Mas Mirza bisa salah paham lagi kayak waktu dia ngasih es krim itu.


Via buru-buru mnelpon Riri.


“Halo, ada apaan sih Mbak?” Sahut Riri sedikit ketus. “Orang cuman disini pake nelpon segala, tinggal naik aja.”


“Eh, kamu mau jus nggak Ri?”


“Apa? Jus? Jus apaan?”


“Udah, sini cepetan turun. Mbak pingin jus sirsak nih.”


“Ada-ada aja deh. Mbak ngidam ya?”

__ADS_1


“Iya, buruan! Nanti anak Mbak bisa ngiler lho kalo nggak keturutan.” Via setengah mengancam.


“Ya udah iya, iya.”


Via segera menutup teleponnya dengan lega. Riri pun turun menuruti kemauan kakaknya.


“Cepetan sana susulin Danar, dia lagi beliin Mbak jus sirsak di sebelah katanya.” Pinta Via.


“Ha?” Riri kaget campur heran. “Udah dibeliin Mas Danar, kenapa masih nyuruh aku?”


“Udah, sana cepet susulin!” Via mendorong Riri hingga Riri akhirnya pergi juga.


Tak lama ternyata memang Mirza datang.


“Hai, sayang.” Sapa Mirza.


“Mas, kok udah pulang? Cepet banget.”


“Iya, udah langsung dapet kok rumahnya.” Ucap Mirza pelan. “Rumah sodaranya Firman.”


“Jadi kita bakal segera pindah rumah ke kota, Mas?” Via agak tak ppercaya.


“Iya, sayang. Secepatnya setelah semua sertifikat baru atas nama ibu beres, kita harus pergi dari rumah kita yang sebentar lagi akan jadi milik ibu.”


Via mengangguk. Terlihat jelas pancaran kesedhan di raut wajah Via. Betapa tidak, rumah yang sudah mereka tempati kurang lebih lima tahun ini akan mereka tinggalkan. Semua kenangan manis dan indah yang terjadi di rumah itu hanya akan menjadi cerita.


“Kamu nggak papa kan, sayang?” Mirza menangkap raut sendu pada mata istrinaya, lantas merangkul lengan Via utuk memberinya kekuatan, kepala Via rebah di pundak Mirza.


“Nggak papa, Mas. Aku yakin, rejeki kita pasti lebih banyak di depan.” Via tersenyum mencoba ikhlas dengan kenyataan.


“Amin. Mas akan lebih giat lagi bekerja demi kebahagian kita, dan calon bayi kita ini.” Mirza mengelus lembut perut Via yang masih rata.


“Ekhem, ya ampun… hareudang euy… panas-panas gini nempel aja berdua anda-anda ini. Kasihanilah daku yang masih jomblo dong.” Suara Riri sontak mengagetkan Via dan Mirza.


Danar juga yang melihat adegan itu angsung keki dan salting.


“Nih, jusnya.” Riri menyodorkan jus sirsak pesanan Via.


“Maksih ya.” Ucap Via. “Mas, mau? Cobain deh, seger lho ini.” Via menyurukkan jusnya pada Mirza.


“Kamu aja, sayang. Kamu kan yang pingin. Nanti kalo Mas minta, anak kita ngambek lagi.”


“Ya nggak lah, masa diminta ayahnya sendiri ngambek? Cepet cobain, Mas. Ini permintaan ibu hamil lho.” Via setengah memaksa.


“Iya deh, iya.” Mirza nurut juga.


SROOT ….


“Iya, enak. Seger.” Mirza mengerjap-ngerjapkan matanya karena rasa sirsak yang agak sedikit masam.


“Kecut nggak, Mas?” Tanya Via.


“Nggak, enak kok.”


“Ya udah deh, nih, buat


Mas aja jusnya.” Via memberikan jus itu pada Mirza.


“Lho, kok buat Mas sih?”


“Iya, aku maunya yang agak kecut soalnya.”


EEH?


Dasar! Apa memang semua orang yang lagi hamil muda harus aneh begitu ya kelakuannya? Haha…😂😂😂


Duuh, Mas Danar kasihan tuh. Udah capek-capek beliin jus buat Via, malah Mirza yang minum. Wkwkwk…😂😂😂


Sabar ya Mas Danar.🌹🌹🌹


Hai, kak …


Maaf ya, episode kali ini kagak ada tegang-tegangnya.🤭🤭🤭


Capek kan, emosi terus. Ntar tekanan darah naik, author deh yang kena… heheheee...🤣🤣🤣🤣


Di depan bakalan tagang lagi kok, sabar ya akak semuanya.☺️


☺️


Sekian dulu ya, tinggalkan jejak jangan lupa ya kak.🤩🤩


Terima kasih.🙏🙏


Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2