
Jumilah membuka pintu kamar agak kasar hingga membuat Via yang baru selesai memandikan Nala terperanjat kaget.
"Jum? Bikin kaget aja! "
Tak menyahut, meletakkan barang bawaannya di lantai kamar begitu saja.
Menatap heran demi melihat tampang Jumilah yang cemberut. "Kenapa? Abis jalan harusnya seneng dong, kok manyun gitu?"
"Boro-boro seneng, yang ada juga bete jalan sama es batu!" menghempaskan diri di atas kasur sampe bikin Nala menoleh karena tubuh mungilnya mantul-mantul, lalu tersenyum pada Jumilah. "Yee, malah senyum liat Njum kesel! Inces gak ngarti perasaan Njum. Sakit Ces, sakit... " Jumilah memegangi dadanya sambil acting sedih, senyum Nala makin lebar dikiranya Jumilah lagi ngajakin dia becanda.
"Emang Gerald ngapain sampe bikin kamu bete gitu, Jum?" memakaikan baju Nala usai membalur tubuh mungil itu dengan minyak telon dan bedak yang wangi.
"Stop! Jangan sebut nananya lagi di depan Njum!"
Mengernyitkan dahi, "sampe segitunya?"
"Gak usah dibahas, Mbak!"
terdengar ketukan pintu, gegas Via beranjak karena mengira Mirza yang datang.
"Gerald?" ternyata tubuh tegap Gerald sudah berdiri begitu Via membuka pintu kamar.
"Permisi, Nona. Tuan besar meminta anak Anda ke taman sekarang."
"Nala?" bertanya bingung.
Mengangguk.
Melihat pada Jumilah, "Jum, bisa minta tolong? Aku belum mandi dan sholat ashar."
"Oke, Mbak," meraih stoller untuk meletakan baby Nala disana.
"Nanti kalo udah selesai, aku langsung nyusul."
Jumilah hanya mengangguk, lekas mendorong stoller keluar. "Minggir, jangan ngalangin jalan!" ketusnya pada Gerald yang masih berdiri di depan pintu.
Menggeser langkahnya ke samping untuk memberi jalan pada Jumilah, Gerald memperhatikan sekilas wajah jutek yang berjalan mendahuluinya lantas segera mengekor.
Via sampe geleng-geleng liat sikap Jumilah yang berubah 180°pada Gerald. Belum sempat melangkah ke kamar mandi, ponselnya berdering. telpon dari Denaya.
"Halo, De... "
"Vi, lu kok gak balik-balik sih? Mo sampe kapan nemenin laki lu disana? Pengacara sengklek nanyain elu mulu tuh, gue ampe pusing!" Om Jaka nyerocos memangkas kalimat Via.
"Eh, Om Jaka. Kirain Dena."
“Emang kenapa kalo gue yang nelpon?” Om Jaka agak sebel.
“Ya nggak papa sih,”
“Terus elu kapan pulang? Pengacara sengklek itu ada ngubungun elu kagak? Dia udah balik ke Jakarta juga, kali aja kalian ketemuan disana.”
“Ng –gak, dia gak ada telpon atau kirim pesan kok, Om.”
“Bagus deh! Gue emang udah larang dia buat ngubungin elu,” Om Jaka terdengar lega. “Etapi elu udah cerita semuanya ke Mirza kan?”
“Udah.”
“Terus, dia bilang apa?”
Mengehela napas sejenak, “sebenrnya Mas Mirza juga pingin secepetnya pulang Om. Tapi dia kan udah tandatangan kontrak sama Tuan Alatas buat kerja sampe selesai disini.”
“Pake ada perjajian kontrak segala, kayak kerja jadi TKI aja?” Om Jaka ngedumel di seberang. “Tapi bapaknya si Ramzi itu memperlakukan kalian semua dengan baik, kan?”
“Baik kok, Om. Baik banget malah.”
“Sukur deh, makanya elu betah ye disana?” sedikit nyindir sambil ketawa di seberang.
“Betah di rumah sendiri lah,” ikut tertawa. “Kayaknya lusa aku mau pulang, soalnya ntar tanaman sayur di rumah pasti pada mati kalo kelamaan ditinggal.”
“Elu pake tanaman sayuran segala dipikirin, Vi! Kan ada bininya si Firman yang ngurusin? Elu disono aja agak lamaan kagak papa kalo bapaknya si Ramzi baek mah! Daripada elu disini stress mikirin mertua elu?”
__ADS_1
Mendengus kasar, “disini juga tetep kepikiran kali Om!”
Terdiam sebentar, agak ragu memulai kalimatnya kemudian. “Vi, sebenernya – mertua elu dirawat di rumah sakit.”
“Ibu sakit, Om?” agak kaget. “Sakit tapa?”
“Jadi abis kejadian dia ngamukin gue hari itu pas gue nyamperin dia ke Rutan sama Hotman, besoknya dia dibawa ke Rumah Sakit sama pihak Rutan karena dia histeris terus dan gangguin tahanan lainnya. Makanya pihak Rutan mutusin mindahin mertua elu itu,” papar Om Jaka. Meski sebenernya mau nutupin dari Via, tapi Om Jaka gak mau bikin Via atau Mirza kecewa kalo mereka sampe tau soal hal itu dari orang lain.
“Kayaknya psikisnya dia terganggu, Vi,” imbuh Om Jaka lirih.
Terdengar lagi helaan napas, agak berat kini. Via membayangkan kondisi sang ibu mertuanya.
“Tapi pihak Rutan bilang mertua elu udah ditangani dengan baik sama psikolog.”
“Makasih infonya ya, Om. Ntar aku ngobrol soal ini sama Mas Mirza, siapa tau Tuan Alatas bisa kasih ijin pulang sebentar buat Mas Mirza biar bisa ketemu ibu.”
-
-
-
Meskipun merasa sang Tuan Besar sangat baik padanya, tapi Mirza perlu mencari celah yang pas untuk mengutarakan nianya meminta iin pulang kampung beberapa hari. Pagi ini sebenarnya Tuan Alatas kelihatan sangat bugar dan bersemangat, apalagi ketika melihat Nala bermain dengan semua mainan yang baru saja dibelikan Tuan Alatas kemarin.
“Mirza, kemarilah” panggil Tuan Alatas yang melihat Mirza hanya berdiri. “Lihat anakmu, dia tampak senang kan dengan semua mainannya?” menunjuk Nala yang memainkan Barbie ditemani Via.
Tersenyum agak canggung, “Tuan seharusnya tidak perlu membeli mainan sebanyak itu. Dia masih terlalu kecil.”
“Tapi dia nanti akan tumbuh besar kan?” tersenyum lebar, tapi kemudian senyumnya surut ketika melihat baki berisi obat yang dibawa Mirza. “Simpan semua itu, aku sudah tak memerlukannya lagi.”
“Hanya beberapa hari lagi, Tuan. Setelah itu Anda tidak akan minum obat lagi.”
“Tapi aku sudah sehat, buang semuanya ke tempat sampah!” berjalan mendekati Nala. “Aku akan menyewa pelatih renang untuk anakmu mulai besok,” berujar pada Via hingga membuat Via terdiam tak percaya dengan ucapan Tuan Alatas barusan.
Segera menaruh baki obat dan turut mendekat, “Anda terlalu berlebihan, Tuan.”
Menatap sejurus pada Mirza, “kau belum berpengalaman menjadi seorang ayah. Anak seusia anakmu pertumbuhannya sangat cepat, saraf motoriknya harus dilatih agar berkembang dengan baik.”
“Kenapa memangnya? Dulu ketika Ramzi masih bayi, aku bahkan sudah mengajarinya berenang sebelum usia 40 hari.”
Hanya terdiam, saling melempar pandangan dengan Via yang sedari tadi tak berani buka suara.
“Apa kamu tidak lihat, dia begitu antusias kan sejak kemarin sore bermain dengan semua mainannya? Dia bahkan merengek ketika baby sitternya mengajaknya masuk. Itu tandanya dia anak yang cerdas, dia tidak mau dibatasi. Jadi sebagai orang tua, kamu harusnya lebih paham dengan anakmu sendri.”
Mirza ingin menyahut namun takut menyinggung sang Tuan Besar. Bagaimana pun juga dia sangat berterima kasih atas semua kebaikan Tuan Alatas pada Nala. Selama merawat Tuan Alatas, belum pernah dia melihat kepekaan sosial yang ditujukan oleh Tuannya itu, tapi pada Nala seolah dia bisa nyambung dan memberikan perhatian yang lebih.
“Tuan, permisi.” Gerald muncul menghampiri. “Tuan muda ada di ruang tamu menunggu Anda.”
Menoleh dengan wajah gusar, “mau apa lagi dia kemari? Suruh dia pulang, katakan aku sibuk!”
“Sesibuk apa sampai papa tak mau menemuiku?” Ramzi tau-tau sudah berada diantara mereka.
Menajamkan kedua matanya pada sang anak yang berjalan mendekat.
“Aku akan terus datang kesini sampai papa mau menerimaku lagi.”
Mirza memberikan isyarat pada Via untuk mengajak Nala masuk. Dia pun bersiap membereskan baki obat dan mengikuti Via kerena merasa ini adalah masalah pribadi antara ayah dan anak.
“Kamu tidak punya hak untuk memaksaku menerimamu.” Sinis Tuan Alatas.
“Dan Papa pun tidak punya hak untuk melarangku datang kesini.”
“Begitu ya?” saling melempar tatapan dingin, Mirza yang sejatinya akan segera pergi malah jadi tegang memaku di tempatnya berdiri, dia khawatir terjadi sesuatu antara ayah dan anak itu.
“Kalau begitu silakan datang sesuka hatimu, tapi aku tidak akan pernah menganggapmu!” gegas berlalu tak mempedulikan Ramzi yang sangat kecewa dengan perlakuan yang diterimanya.
“Ram –“
“Bisa minta waktu sebentar?” menghampiri Mirza, “aku mau ngobrol.”
Mengangguk dan duduk di kursi taman.
__ADS_1
Beberapa saat hanya ada ******* gusar yang terdengar dari mulut Ramzi, Mirza tak ingin bertanya sampai Ramzi merasa siap untuk bercerita.
“Hari ini aku tidak ke kantor, aku ingin setiap pagi datang mengunjungi papa.” Ramzi membuka obrolan.
“Ya, itu ide bagus.”
“Tapi kamu lihat sendiri kan gimana sambutan papaku?”
Mengngguk, memang menyakitkan tak diterima oleh orang tua sendiri. Dan Mirza pernah mengalami itu, tak terhitung baginya berapa kali Bu Een menghardiknya. Sakit, tapi tak mengurangi rasa sayangnya pada sang ibunda. Itu juga yang kini tengah dirasakan Ramzi.
“Kemarin aku minta papa bekerja sama dengan perusahaan kami, tapi dia malah salah paham,” menjeda sebentar. “Papa mertuaku tau, dan dia mengambil berkas kerja sama itu tanpa sepengetahuanku. Ternyata dia juga salah paham, dia tak ingin menjadi pengemis pada besannya sendiri.”
Memperhatikan raut sedih yang membayang pada wajah di sampingnya itu. Mungkin Tuan Alatas ingin memberi pelajaran pada Ramzi karena sudah mengecewakannya demi membela Sofi. Tapi rasanya tak pantas jika Ramzi dihukum seperti ini, bagaimanapun juga Ramzi kan anak kandung Tuan Alatas sendiri.
“Aku lihat papa perhatian banget ya sama anakmu,” ucap Ramzi kemudian. “Udah lama aku gak liat papa bisa senyum dan bersemangat gitu.”
Merasa ada yang mengganjal, “emh, Ram. Kamu jangan salah paham ya –“
“Oh, nggak. Aku justru seneng bisa liat papa seantusias itu. Dia belikan semua ini buat anakmu kan?” melihat pada semua mainan yang berada di taman samping. Satu set rumah barbie, prosotan anak TK lengkap dengan ayunan, tak lupa kolam renang mini dengan bola-bola warna warni di dalamnya.
Mirza menangkap ada kegetiran di akhir kalimat Ramzi. “Aku udah bilang padanya kalo ini semua terlalu berlebihan,” sahut Mirza tak ingin Ramzi merasa kecewa.
“Aku tau kamu dan Via tak pernah meminta papa melakukannya, tapi ini nyata kalo papa menyukai anakmu. Aku pun berharap suatu hari nanti papa bisa menerima dan menyayangi anakku.” Coba mengulas senyum meski agak dipaksakan. Dan lagi-lagi Mirza tau betapa perihnya hati Ramzi, dia pun mengalami itu. Bu Een tak pernah menganggap Nala ada, bahkan untuk sekedar melihatnya pun sepertinya Bu Een tak sudi.
“Ram, aku rasa ada baiknya kamu lebih sering membawa anakmu kesini.”
“Sofi nggak akan mau.”
“Kamu bisa membawanya sendiri kan, apa susahnya?”
Berpikir sebentar.
“Dengan begitu jalinan emosi antara cucu dan kakeknya perlahan akan tercipta.”
Mengangguk ragu, “aku coba.”
“Aku dan Via akan pulang, mungkin besok atau lusa.”
“Kamu udah bilang papa?”
“Belum, masih cari waktu yang pas. Karena sebenernya kontrak kerjaku dengan papamu juga belum selesai.”
“Emangnya kenapa kamu tiba-tiba mau pulang? Papa pasti nggak keberatan Via dan anakmu tinggal disini lebih lama.”
Menggeleng, “Ibu sakit, aku harus menemuinya.”
“Bu Een sakit apa?” Menatap penuh rasa ingin tau.
Berat untuk menceritakan kejadian yang menimpa ibunya, namun Mirza rasa tak apa-apa Ramzi mengetahuinya. Ia pun menceritakan keadaan ibunya seperti yang dituturkan Via.
“Aku turut prihatin,” menepuk pundak Mirza. “Semoga Bu Een cepat sehat ya, dia memang butuh kamu di dekatnya saat ini.”
“Makasih. Omong-omong, kamu bisa gantiin tugasku ngerawat papamu selama aku pergi nanti,” tersenyum simpul.
“Andai papa bersedia, selamanya aku akan merawatnya.” Balas tersenyum.
“Jangan lupa ajak anak istrimu juga, papamu pasti membuka hatinya lagi.”
Keduanya tersenyum, saling support dan mendoakan. Diantara semilir angin yang menggoyangkan dahan dan dedaun di taman, perlahan hati Ramzi diliputi kesejukkan. Rasanya baru kali ini Ramzi akan mendapatkan kesempatan yang baik untuk kembali ke rumahnya. Dan semua itu tentu tak lepas dari bantuan Mirza.
💕💕💕💕💕
Hi, dear....
Makasih udah selalu support ya 🥰🥰
Maaf belum sempet bales komennya 🙏🙏🙏
Kalian terbaik, pokoknya 😍😍
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1