TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
144 #PERMINTAAN IBU


__ADS_3

Hampir setengah jam sofi berendam di air hangat hingga melewatkan waktu makan malamnya. Ia beralasan tak enak badan pada suaminya, sehingga tak ikut turun ke lantai bawah. Padahal itu semua karena ia diliputi berbagai macam kekhawatiran.


Apakah si Brewok yang memindahkan semua berkas dari dalam lemari itu? kalau benar begitu, dia pasti sudah mengetahui kalau ada yang hilang. Tapi kenapa sikapnya seolah menunjukkan ia tak tau apa-apa?


Sofi sibuk menerka-nerka dalam pikirannya. Seusai kejadian pagi tadi, Sofi bergegas kembali ke kamarnya dengan perasaan kecewa dan khawatir. Ia begitu takut kalau aksinya terbongkar, padahal belumlah tuntas semua rencananya. Beberapa jam setelahnya Ramzi menyusul ke kamar dan tak menunjukkan kecurigaan sama sekali. Hingga beberapa menit yang lalu suaminya itu pun masih bersikap manis dan romantis seperti biasanya.


Berarti kalau bukan dia, pasti itu ulah si tua Bangka! Kemana dia memindahkan semuanya? Apa dia tau kalau ada surat berharga yang aku curi? Tapi sikap si tua bangka itu pun sama sekali tak mencurigakan. Ah, mungkin mereka belum menyadarinya kalau aku mengambilnya. Sebaiknya aku harus cari tau dimana semua surat-surat berharga itu disembunyikan sebelum mereka menyadari aku sudah mengambilnya beberapa.


Sofi mengentaskan tubuhnya setelah menyudahi kegundahannya sendiri. Ia berharap dengan berendam dapat menenangkan pikiran, namun nyatanya justru ia merasa semakin tak menentu. Bukan hanya itu, kepalanya juga mendadak berdenyut, dan perutnya mual.


Dengan masih mengenakan bathrobe Sofi mengambil obat dari laci nakasnya dan segera meminumnya. Ia nggak mau sindromnya kembali kumat karena terlalu memikirkan soal surat-surat berharga yang raib entah kemana ini.


“Sayangku, apa kau ingin makan malam di kamar?” Tanya Ramzi yang baru saja masuk kamar.


Sofi menoleh, “aku belum lapar.”


Ramzi menghampiri dan memeluk istrinya dari belakang. Aroma wangi tubuh istrinya membuat Ramzi ingin menjelajahi tubuh yang masih setengah basah itu.


“Kak, kau mau apa sih?” Sofi mengelak sedikit kesal dan berbalik menatap suaminya.


Ramzi menatap intens wajah istrinya. “Kau tampak pucat.” Ramzi khawatir.


“Mungkin karena terlalu lama berendam.” Sofi acuh melewati suaminya menuju meja rias.


“Bagaimana kalau kita jalan-jalan malam ini?” Ramzi mendekat, sepertinya ia tak ingin sejengkalpun jauh dari istrinya. “Sebagai hadiah atas servicemu yang sangat memuaskan pagi tadi.” Senyum Ramzi terpantul dari cermin di depan Sofi.


“Entahlah Kak, perutku mual. Aku takut masuk angin.”


“Atau kita ke dokter saja?”


Sofi tak menyahut, dia menuju ranjangnya berbaring menarik selimut dengan masih mengenakan bathrobenya.


 


❤️❤️❤️❤️❤️


 


Via duduk bertiga di ruang tengah bersama Riri dan ibunya. Setelah sore tadi di antar Denaya ke rumah Bu Harni, Via meminta waktu sebentar berada di sana sebelum Denaya nanti menjemputnya untuk kembali ke rumah kontrakannya di kota.


“Ibu mau bicara serius pada kalian.” Bu Harni menatap kedua anak perempuanya bergantian.


“Soal apa, Bu?” Tanya Via yang merasa ibunya itu terlihat sangat dingin.


“Via, kenapa kamu ngga bilang kalau kamu kerja di tempat Danar?”


Via kontan melongo mendapat pertanyaan seperti itu.


“Masa sih, Bu? Persaan aku udah cerita sama ibu.” Ucap Via.


“Kamu cuman bilang sama Riri.”


Via melihat adiknya yang duduk sandaran dengan wajah malas.


“Ibu minta kalian berhenti bekerja mulai besok.”


Via dan Riri saling pandang.


“Ibu ini lagi ngigau atau apa sih?” Celetuk Riri.


“Ri! Ibu serius!” Tegas Bu Harni.

__ADS_1


“Jangan bilang ini semua karena ibu tau papanya Mas danar itu dulunya mantan pacar ibu.” Sinis Riri.


Via sedikit kaget, rupanya Bu Harni juga menceritakan hal itu pada Riri. Berarti ini bukanlah rahasia dirinya dan ibunya saja.


“Plese deh, Bu. Ibu itu terlau parno. Keluarganya Mas Danar itu baik banget. Aku sendiri meski belum pernah ketemu sama ayah kandungnya Mas Danar yakin banget kok kalo dia sama baiknya dengan Bu Elin dan Pak Rian. Kalo memang dugaanku itu benar berati Ibu itu berlebihan!”


“Cukup, Ri.” Nada suara Bu Harni sedikit meninggi.


Riri langsung melengos dibentak seperti itu, sedangkan Via masih diam. Di satu sisi dia memang ingin menjauhi Danar, tapi di sisi lain ia merasa sayang kalau harus berhenti kerja secepat ini.


“Kalian harus tau, hubungan ibu dan ayahnya Danar dulu berkhir dengan sangat tidak baik. Dan ibu yakin dia masih menyimpan dendam sampai sekarang. Makanya dia menginginkan anak-anak ibu dekat dengan keluarganya agar bisa diperalat.”


“Diperalat gimana maksud ibu?” Riri tak habis pikir. “Ibu ini kebanyakan nonton drama di TV ikan terbang sih, makanya pikirannya kacau begini.” Ketus Riri.


“Riri dengerin ibu.” Bu Harni menghela nafas berat. “Berhenti secepatnya dari pekerjaan kalian atau kalian akan terlambat untuk menyesalinya.”


Riri berdecak. “Ibu itu jadi aneh tau nggak Mbak, sejak pulang nginep dari rumah Mbak Via. Dan puncaknya sekarang nih, nggak ada angin nggak ada hujan tau-tau nyuruh kita berhenti kerja.” Riri bicara pada Via seraya melirik ibunya.


“Ibu hanya ingin menyelamatkan anak-anak ibu saja. Apalagi Bu Elin terang-terangan ingin menjodohkan Danar sama kamu, Ri.”


“Terus ibu kepikiran jangan-jangan setelah aku nikah sama Mas Danar, aku bakal dianiaya dan hidup menderita di keluarga mereka gitu? Abis itu aku ditinggalin gitu aja, lalu aku nangis-nangis menyesali semuanya? Huh! Ibu itu bukan pembuat skenario kehidupan, Bu. Kita jangan mendahului takdir dan berprasangka buruk pada oaring lain, terlebih lagi pada Tuhan.” Oceh Riri berapi-apai.


Jadi Danar beneran udah dijodohin sama Riri? Baguslah itu. Bararti aku nggak perlu lebay khawatir kayak kemarin. Batin Via.


“Terserah. Jika kalian ingin melihat ibu hidup dengan tenang, sebaiknya turuti permintaan ibu. Tapi jika tidak …” Bu Harni sengaja tak melanjutkan kalimatnya.


Riri mendengus. “Ya nggak semudah itu Bu aku sama Mbak Via berhenti kerja. Apa lagi Mbak Via yang baru mulai, masa ujug-ujug mau resign, alasannya apa? Iya kan, Mbak?” Riri melihat kakaknya.


Via hanya mengangguk, hatinya masih diliputi kebimbangan.


“Kalian bisa kan membuat alasan yang masuk akal?”


“Tunggu, Ri!” Panggil Bu Harni.


Riri memutar langkah malas.


“Kamu bisa pakai alasan mau buka toko kue sendiri di sini.” Usul Bu Harni.


“Nggak mungkin, karena aku baru aja menyetujui pembukaan cabang toko kue yang baru milik Bu Elin di kota kecamatan yang akan dikelola sama Mbak Tia dan Mas Arya.”


“Apa?” Bu Harni kaget. “Kenapa kamu nggak bilang dulu sama ibu?”


“Aku pikir ibu pasti setuju karena ini akan sangat membantu perekonomian keluarga Mbak Tia. Iya kan?”


“Tapi kenyataannya sekarang lain, Ri.”


“Ah, nggak tau deh. Aku pusing, mau istirahat.” Riri kembali ngeloyor menuju kamarnya.


Kini Bu Harni menatap Via yang sedari tadi hanya diam.


“Vi, ibu mohon sama kamu. Kamu harus berhenti kerja. Bila perlu setelah Mirza pulang, kalian pindah kontrakan. Ibu nggak mau Pram dan keluarganya memperdaya kamu dengan sikap manis mereka.” Tutur Bu Harni.


Via masih diam. Dia ragu, apa iya sih Pak Hadi yang dianggapnya sangat tulus dan kharismatik itu punya niat terselubung di balik kebaikannya selama ini? Apalagi Danar. Ia yakin kalau Danar juga baru tau bahwa ayahnya dulu pernah punya hubungan spesial dengan ibinya. Jadi nggak mungkin kan kalau kebaikan Danar selama ini cuman modus aja mau menghancurkan keluarganya? Ya…, walau pun Via merasa diam-diam Danar emang modusin dia juga sih, tapi dia yakin itu bukan karena pengaruh dendam ayahnya yang Bu Harni tuduhkan padanya.


“Vi?” Tegur Bu Harni membuyarkan lamuanan Via. “Kamu mau kan berhenti kerja dari perusahaan Bu Elin?”


Seketika Via dilanda kegundahan. Ia belum tau harus bilang apa.


Tok tok tok


"Assalamualaikum…"

__ADS_1


 


Suara ketukan pintu diiringi salam menyelamatkan Via dari pertanyaan ibunya.


“Wa alaikumussalam.” Sahut Via dan Bu Harni berbarengan.


Via beranjak untuk membuka pintu, ternyata Denaya yang datang.


“Kamu jadi pulang atau nginap, Vi?” Tanya Denaya.


“Pulang. Sebentar ya, aku ambil tas dulu.” Via menuju kamar Riri. “Bu, aku pamit dulu. Nanti aku pikirkan jawabannya.” Ucap Via.


Via pun pulang dengan diantar Denaya. Sepanjang perjalanan Via hanya diam, dia larut dalam pikirannya tentang obrolannya barusan. Ternayata ibunya pagi tadi berusaha menghubunginya untuk membicarakan soal itu. Denaya yang sedari memperhatikan Via tak tahan untuk tak bertanya.


“Kamu kenapa, Vi? Kayaknya ada yang kamu pikirin?” Denaya melirik Via sambil terus fokus ke depan.


Via menegakkan posisi duduknya. “Ibu memintaku berhenti bekerja, Dena.”


Dahi Denaya berkerut. “Kenapa?”


Lalu mengalirlah semua cerita masa lalu ibunya dengan ayahnya Danar dari mulut Via. Denaya mendengarkan dengan seksama.


 


❤️❤️❤️❤️❤️


Jam waker berbunyi nyaring membuat Hanson menutup telinganya dengan bantal. Tangan kanannya mencoba menggapai waker itu, Hanson mematikannya.


Hanson menelungkup dengan mata yang masih terpejam. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Lebih tapatnya pada pisangnya. Hanson mengerjap perlahan. Seuatu dalam boxernya seperti mencoba untuk bangun. Dengan meringis menahan ngilu dan canat-cenut, Hanson membuka boxernya dan matanya langsung terbelalak begitu mendapati si juniornya yang sudah lama mati suri kini seperti bergerak perlahan membuatnya merasakan sensani yang aneh dan menegangkan.


“Oh, ****!” Pekik Hanson.


Ia kemudian bergegas bangun dan lari ke kamar mandi untuk memeriksa lebih detail.


“er kann fast aufrecht stehen! Gott sei Dank!"


(dia hampir bisa berdiri tegak! Puji Tuhan!” Teriak Hanson dari kamar mandi.


"Gott sei Dank! Ohh.. Gott sei Dank! Halleluja!“


Hanson terus berteriak-teriak dari kamar mandi sambil tertawa seperti orang gila. Lalu setelah kesadarannya terkumpul, dia keluar dari kamar mandi mencari ponselnya.


Hanson mengacak-acak kasurnya namun tak menemukan ponselnya. Hanson berlari ke ruang tengah.


“Oh, I got it!” Hanson segera mencari nomor Arumi dengan sangat tak sabaran.


❤️❤️❤️❤️❤️


Apakah gerangan yang terjadi sodara-sodara?😂😂😂


Tungguin kelanjutannya nanti yaa...😊😊😊


Oya Othor mau minta maaf nih pada akak readers tersayang, besok nggak bisa up. Insya Allah baru bisa up lagi malam minggu dikarenakan ada kesibukan yang tak bisa ditinggalkan. 🙏🙏🙏


mohon maaf juga untuk akak othor yang belum sempat di feedback, slowly but sure setelah semuanya beres segera meluncur 🤩🤩🤩


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak selalu ya Kak ☺️❤️❤️


luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘


 

__ADS_1


__ADS_2