TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
23 #MAKAN BAKSO


__ADS_3

Dan Via buru-buru menarik tangannya dengan gugup.


"Maaf." Hanya itu yang dikatakan Danar, dia sungguh tak sengaja. Perasaannya jadi tak enak takut dikira modus.


Via hanya diam, lalu menjauh beberapa langkah untuk menelpon balik Bu Een. Namun sampai panggilan berakhir tak kunjung ada jawaban. Via memutuskan untuk tak menelpon lagi, toh sebentar lagi akan segera pulang.


Danar dan Via berdiri mematung saling berjauhan dan masih saling diam. Tingkah mereka ngalah-ngalahin ABG yang grogi kalo ketemu gebetan.


Sebenarnya Via hanya ingin menjaga diri saja, dia tau betul bahwa statusnya sebagai istri orang dan adalah hal yang tabu berduaan dengan laki-laki lain yang bukan muhrimnya. Biar kata dia bukan lulusan pondok, tapi untuk urusan menjaga kehormatan sebagai seorang istri, Via paham betul. Dan sayangnya Danar belum tau kalau Via sudah bersuami.


"Adik kamu sudah lama kursus disini?" Danar akhirnya memulai percakapan.


"Iya." Sahut Via pendek.


Diam lagi. Danar kembali mencari bahan obrolan lain.


"Apa motornya masih mogok?"


"Iya."


"Udah dibawa ke bengkel?"


"Belum."


Danar menggaruk alis kanannya dengan telunjuk.


Pertanyaannya yang salah apa emang orangnya yang pelit ngomong ya? Dari tadi ditanya jawabannya singkat-singkat aja. Batin Danar.


Sebenarnya dia juga bukan tipe laki-laki comel. Tapi mendengar jawaban Via yang hanya pendek-pendek itu dia gemas juga.


Danar, laki-laki lajang 30 tahun adalah tipe orang yang cuek, tak banyak bicara, dan guratan wajahnya yang tegas menyiratkan bahwa dia orang yang karismatik. Gayanya simpel dan laki banget, cukup dengan celana jeans dan Tshirt hitam plus sepatu casual.


Aku rasa sih ni orang di rumahnya satu lemari isinya kaos hitam semua. Dari pertama liat dia sampe beberapa kali ketemu bajunya itu terus. Via diam-diam menilai penampilan Danar.


"Kamu nggak capek berdiri aja?" Tanya Danar mulai lagi.


"Nggak."


"Aku sih capek."


Via berpaling cuek. Nggak nanya! Sahut Via dalam hati, tentu saja tak sopan kalo dia mengatakannya langsung.


"Kita duduk di sana yuk sambil minum." Ajak Danar menunjuk warung bakso di seberang jalan yang ada tulisan "SOSBRO" gede banget pada spanduk yang dipasang warung itu yang tentunya juga ada nama warungnya, yaitu "BAKSO MAS KRIBO".

__ADS_1


"Makasih, aku nggak haus." Via menolak halus.


"Tapi aku haus."


"Ya kalo gitu minum aja sendiri."


Uhuk!


Penolakan yang telak. Sebelumnya Danar sama sekali belum pernah ngajakin perempuan, karena memang dia nggak punya pacar dan nggak punya teman perempuan juga. Tapi sama Via lain, dari pertama kali ketemu dalam insiden jeruk mengglundung itu perasaannya mulai berkelok-kelok dari yang semula datar dan lurus-lurus aja.


"Huft! Untung ketemu, Mas." Riri muncul dengan agak ngos-ngosan. "Ini kuncinya. Ternyata jatuh." Riri memberikan kunci rumah Bu Elin.


"Pantesan." Ujar Danar lalu memasukkannya ke dalam saku jeansnya. "Makasih ya."


"Sama-sama, Mas."


"Sebagai balasannya, gimana kalo aku traktir makan bakso?"


Mata Riri langsung berbinar. "Wah .... tau aja kalo aku lagi laper, Mas. Ayok!"


Serta merta Via mencubit lengan Riri. "Ini udah sore, Ri." Ucap Via agak berbisik.


Riri langsung ngiyem. Bayangan bakso mas Kribo dengan kuah yang pedas hilang seketika.


"Ng, gimana ya ..." Riri jadi keder. "Tapi apa nanti nggak kelamaan, Mas? Maksud aku ..., nanti Bu Elin gimana?" Riri beralasan.


"Makan bakso nggak mungkin sampe subuh kan? Bu Elin sudah ku antar ke gym tadi."


"Oh, lagi nge-gym?" Riri manggut-manggut sendiri. "Ya udah deh, ayok!" Lanjut Riri berjalan mendahului Danar dan Via.


Via kesel banget Riri nggak bisa dibilangin.


*M*ain ayo-ayo aja tuh anak, dasar perut karung! Barusan makan cilok eh sekarang udah mau makan bakso! Via menggerutu sebel banget. tapi dia ikut juga ke warung seberang meskipun dengan wajah jengkelnya.


Tanpa bertanya dulu Riri langsung memesan 3 porsi bakso komplit dan 3 es teh botol Sosbro. Sesuai jargon iklan di TV; apapun makanannya, minumnya teh botol Sosbro!


"Bakso di sini enak banget lho, Mas. Tulang iganya tuh empuk banget, udah gitu nggak ada lemaknya dan juga harganya itu hemat cermat dan bersahaja sesuai dengan isi dasa darma pramuka." Oceh Riri udah kaya di-endorse sama Mas Kribo aja.


"Oya?" Tanya Mirza.


"Iya. Aku juga sering kok makan di sini sama teman-teman kursus." Sahut Riri makin bersemangat. "Mbak Via juga pernah nyobain kan waktu itu aku bungkusin buat Mbak? Enak kan Mbak baksonya?" Tanya Riri seolah tak peduli dengan raut wajah Via yang bete.


Via cuma mengangguk pelan. Tak berapa lama pesanan mereka pun datang. Riri langsung menyambutnya dengan sukacita.

__ADS_1


"Tambahin sambal, saos, sama kecap juga, sedikit cuka, aduk-aduk .... jadi deh!" Riri lantas mencicip kuah bakso yang barusan diraciknya. "Hemmm, rasanya endol takendol kendol!"


Danar tersenyum melihat tingkah Riri. Lalu di sela-sela makan bakso itu tercipta obrolan kecil antara Riri dan Danar. Mereka lupa kalau belum berkenalan. Lantas obrolan mereka berlanjut. Riri menanyakan tentang Bu Elin, Danar bercerita Bu Elin itu sudah seperti orangtuanya sendiri. Lebih tepatnya mungkin bisa dibilang sebagai orang tua angkat, karena Ibu Elin dan ayahnya sudah bersahabat baik sejak mereka masih muda dulu. Bu Elin wanita yang baik hati dan dinamis. Dia rajin olahraga dan hidupnya sangat terjaga meskipun banyak sekali aktivitas yang dilakukan setiap harinya.


"Pantesan Bu Elin masih kelihatan awet muda dan cantik ya Mas di usianya yang kayaknya udah separuh baya lebih?" Riri mengomentari cerita Danar.


"Ya begitulah."


Obrolan terus bergulir sampai bakso habis dan Via tak sedikitpun berminat ikut serta. Baksonya hanya dimakan separo, namun es teh botol sosbronya ludes tak bersisa.


"Ehm, nambah ah esnya. Nggak haus sih, cuma agak pedes aja." Danar berdiri hendak mengambil satu lagi teh botol Sosbro sambil melirik sekilas pada Via.


"Ayo Ri, kita pulang. Nanti kesorean di jalan!" Ajak Via balas melirik Danar.


"Oh, eh ... iya, ayok." Riri pun bangkit. "Mas Danar makasih ya traktirannya."


"Oke, sama-sama. Hati-hati ya."


Riri tersenyum sambil mengacungkan jempol kanannya, sedangkan Via sudah berjalan ke seberang mendahului Riri menuju motornya. Danar tersenyum, senyum yang tulus dari dasar hati mengikuti Via dan Riri yang beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


Motor matic Via melaju ke arah barat menantang matahari yang berangsur pulang.


"Mbak? Kenapa kok tadi kayaknya jutek banget sih sama Mas Danar?" Tanya Riri dalam perjalanan.


Ternyata sebenarnya tadi Riri memperhatikan roman muka kakaknya itu, hanya saja pura-pura tak memperdulikannya.


"Apa?" Tanya Via setengah berteriak karena tak mendengar dengan jelas pertanyaan Riri.


"Kenapa Mbak tadi kayaknya jutek banget sama Mas Danar?" Ulang Riri lebih keras berlomba dengan terpaan angin sore itu.


"Sakit perut!" Sahut Via asal.


"Mules? Pengen BAB?"


"Bukan! Pingin tidur!"


Riri mengerutkan dahinya heran Aneh banget kakaknya itu. Tapi dia enggan untuk bertanya lagi karena angin sore semakin kencang. Bisa-bisa bibirnya berkibar-kibar kalo kebanyakan ngomong.


Riri ingat pertemuan kakaknya dengan Danar waktu Danar lagi bantuin motornya mogok. Tanda tanya usil kemudian muncul di benak Riri.


____bersambung,


Terima kasih sudah membaca🙏 Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😘

__ADS_1


__ADS_2