
Musibah yang menimpa ibu mertuanya yang terjadi tiba-tiba dan sangat cepat membuat Via lupa akan janjinya pada Danar. Pikirannya dipenuhi dengan bagaimana caranya agar ibu mertuanya itu jangan sampai dipidanakan. Via yang penyayang dan lembut hati tak tega melihat keadaan sang ibu mertua.
“Vi, elu mampir dulu ke rumah apa mau langsung gue anter pulang?” tegur Om Jaka ketika mereka sudah dalam perjalan lepas dari klinik dokter Burhan.
“Eum, kalo langsung pulang nggak papa kan Om?” menyahut agak ragu.
“Ya nggak papa.”
“Nggak ngerepotin nih?”
“Kalo nggak gue anter, emang elu mau pulang naik apaan?” melihat pada Via yang kini tengah membuka tas slempangnya karena ponsenya bergetar.
“Astaghfirullah!” sedikit kaget setelah membaca pesan dari Danar yang menanyakan apa dirinya jadi ke kedai.
“Kenapa lu?” menoleh kepo.
“Aku lupa ada janji Om. Anterin aku ke kedainya Danar aja ya,” mengetik pesan balasan untuk Danar.
“Kamu janjian sama Danar?”
Menatap Om Jaka memastikan tak ada roman kecurigaan pada wajah si Om.
“Kok elu malah ngeliatin gue? kenapa?” melirik sekilas. “Gue cakep, ya? baru sadar lu?” senyum pede over dosis, fokusnya kembali pada kemudinya.
“Om Jaka nggak mikir macem-macem kan?”
“Kok jadi elu yang punya pertanyaan kayak gitu? Harusnya gue dong yang nanya, elu ada semacem dua macem ya sama Danar? Kok janjian segala?”
Menghela napas sejenak, “nggak, ada yang harus aku omongin aja sama Danar.”
Tak memberikan respon, pandangannya lurus ke jalanan membuat Via khawatir kalau Om Jaka punya pikiran aneh-aneh.
“Om Jaka harus percaya sama aku.” Tegas Via menghalau prasangka buruk dari benaknya sendiri.
“Gue cuman percaya sama Tuhan.”
Terdiam, pasrah saja kalau Om Jaka punya dugaan-dugaan tertentu tentang dirinya. Yang jelas dia tak punya hubungan apa-apa dengan Danar, titik.
“Ok, udah sampe,” menarik tuas rem tangan.
“Makasih ya Om,” melepas seat betnya. “Om nggak masuk dulu? Ngopi?”
“Nggak deh, ntar ngganggu lagi.”
Menajamkan tatapannya, “Om, please …”
Tersenyum lebar, “iye, gue percaya sama elu!”
Gegas turun dari mobil setelah titip salam untuk Denaya. Langkah diayun memasuki kedai, menjelang sore ini pengunjung kedai cukup ramai. Suasana baru kedai kopi milik Danar kentara terasa, dengan penataan ruang yang lebih fresh dan penambahan beberapa interior bernuansa etnik di dalam ruangan serta beberapa tanaman hias di luar ruangan membuat suasana lebih nyaman terasa. Via lantas Menuju mini bar menghampiri Ari yang sedang sibuk meracik minuman.
“Ri, Danar ada?” tanya Via sedikit mengagetkan Ari.
“Eh, Mbak Via?” menatap seolah tak percaya. “Hem, Mas Danar ya?”
Mengangguk, “apa dia ada disini?”
“Lagi keluar, Mbak. Sebentar ya, aku telpon. Mbak Via mau minum apa? Duduk aja dulu, ntar aku anterin minumannya kesana,” tawar Ari ramah.
Mengangguk lagi, lantas mencari tempat duduk di area out door. Gimana sih, tadi nanyain jadi kesini apa nggak? Ternyata dia sendiri malah nggak ada, ngedumel dalam hati setengah kesal pada Danar.
“Mbak Via!” satu suara menghentikan langkah Via yang hampir mencapai tempat duduknya.
Menoleh ke asal sumber suara, seorang gadis muda cantik energic menghampiri dengan senyum cerahnya.
“Chelsi?” agak surprise, makin surprise lagi setelah Chelsi mendekat ternyata memakai pakaian sama seperti yang Ari kenakan, Nostalgia Kedai Kopi, tulisan di bagian depan T-shir berwarna tosca itu. “Kamu kerja disini?” tanya Via tak bisa menahan rasa penasarannya.
“Iya,” mengangguk masih dengan senyum manisnya.
“Outlet kebab kamu?”
__ADS_1
Seketika senyum Chelsi memudar, “beberapa minggu yang lalu ditabrak orang tak dikenal, hancur.”
“Masya Allah, terus ampe sekarang nggak ketahuan orangnya?” langsung bersimpatik.
Menggeleng lesu, “namanya juga musibah, Mbak. Aku coba iklasin aja. Mau dibenerin uang tabungan belum cukup, ya udah kerja dulu aja disini.”
Mengusap bahu Chelsi, “sabar ya, kamu pasti bisa jualan lagi. Semangat!” mengepalkan tangan kanannya seraya tersenyum hingga Chlesi kembali melengkungkan senyum manisnya.
“Maksih, Mbak. Oya, Mbak Via sendrian aja?” celingukan sebentar. “Eh, udah pesen belum Mbak? Kalo mau kebab ada lho, khusus aku yang bikin. Soal rasa dijamin sama enaknya sama kebab di outletku,” cerocos Chelsi antusias.
“Astaga, Chelsi!” satu suara membuat keakraban keduanya terjeda. “Tadi aku nyuruh kamu apa?” si empunya suara mendekat dengan wajah kesal.
Chelsi menepuk jidatnya, “Maaf, Mas! Aku lupa,” tersenyum canggung karena melihat tampang jutek sang bos.
“Via? Udah dari tadi?” si bos –Danar, siapa lagi, beralih pada Via. “Maaf ya, ada beberapa kebutuhan kedai yang habis, jadi tinggal belanja dulu.”
“Nggak papa, aku juga baru aja nyampe kok,” ucap Via.
“Jadi Mbak Via udah janjian sama Mas Danar?” Chelsi menatap keduanya penuh rasa igin tau.
Menyorot tajam pada si penanya yang menurutnya terlalu kepo, “Nggak usah kepo ya, cepetan sana panggil Ari sama Dimas suruh nurunin barang-barang!” titah Danar tak mau menerima penolakan.
“Hem, iya deh,” ngeloyor dengan wajah pasrah. Huh, jutek banget jadi orang! Sama Mbak Via aja sok baik, sok manis. Gliran sama aku, nyebelin! Omel batin Chelsi kesal.
Via tersenyum melihat tampang Chlesi yang cemberut, “kamu galak banget sih jadi bos?” melihat pada Danar yang tampak cuek, malah menuju meja di dekat kolam kecil tempat beberapa ikan koi berenang dengan elegan.
“Kamu nggak kasihan sama dia?” masih melanjutkan begitu mendudukkan diri di kursi kayu berhadapan dengan Danar.
“Apanya?”
“Kamu nggak kasihan sama Chelsi?” ulang Via.
“Kenapa emangnya? semua karyawan harus diperlakukan sama, dan mereka harus disiplin dalam bekerja.”
Menaruh tasnya di atas meja, “iya sih, kamu kan otoriter kalo jadi bos.”
“Kamu, o to ri ter!” sekali lagi mengulang, “juga sok galak, sok disiplin, sok jaim.”
“Kamu ngatain aku?”
“Aku juga kan pernah jadi karyawan kamu.”
Hanya mendengus membuang pandangannya.
“Chelsi itu baru kena musibah lho, dia kerja disini buat cari uang biar bisa benerin outletnya. Seharusnya kamu perlakuin dia dengan baik.”
“Kok jadi ngomongin Chelsi sih?” heran Danar.
“Ya karena aku ngeliat kamu jutekin dia, sama kayak kamu jutekin aku dan karyawan lain waktu kerja di kantor.” Papar Via. “Danar ini tuh usaha kamu yang bukan cuman jualan makanan dan minuman tapi juga menjual pelayanan, kalo sampe pengunjung kedai kamu tau cara kamu memperlakukan karyawan nggak baik, kamu juga lho yang rugi.”
“Udah selesei ngomongnya?” menatap dengan wajah datar. “Aku cuman nggak suka kalau ada orang terlalu ikut campur urusan aku.”
“Dia tadi cuman nanya –“
“Kamu kesini cuman mau bahas soal Chelsi?” tanya Danar memangkas kalimat Via.
Deg!
Via teringat tujuan utamanya bertemu dengan Danar.
“Permisi, Pak bos dan Mbak Via,” Ari datang dengan baki di tangannya. “Dua matcha latte ice dan roti bakar selai coklat kacang,” menaruh minuman dan makanan di atas meja kayu Mahoni persegi empat di depan Via dan Danar. “Selamat menikmati ya, ini minuman favorit Mbak Via kan? “ tersenyum pada Via. “Aku maish inget lho, waktu pertama kali Mbak Via dateng kesini, Mas Danar sendiri yang buatin matcha latte ice sama roti bakarnya.”
Sontak mendelik tajam pada Ari, meski mulutnya tak berkata-kata namun tatapan horornya mampu membuat Ari bergidik dan angsung ngibrit.
“Jadi, kamu mau ngomng apa?” todong Danar langsung setelah Ari pergi.
Menghela napas sejenak, kurang mengenakkan memang memulai obrolan saat lawan bicara sedang dalam mode bad mood.
“Aku boleh minum dulu nggak?” bertanya untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
“Tentu,” mempersilakan semenatra dia sendiri juga meraih gelas di depannya.
Via megaduk-aduk matcha latte ice-nya sambil mencari kalimat yang tepat untuk memulai maksud dan tujuannya.
Di sudut dalam ruangan, nampak sepasang mata memperhatikan Via dan Danar yang sedang menikmati minumannya.
“Hoy, kok ngelamun sih?” Ari menepuk bahu Chelsi dari belakang. “ngeliatin apaan sih?” mengikuti arah pandangan Chelsi. “Oh, aku tau. Kamu jealous ya ngeliat mereka?”
“Ck, sotoy!” ketus Chelsi seraya berlalu.
Beberapa pengunjung nampak meninggalkan kedia karena hari merambat sore. Setelah yakin untuk memulai, Via mengutarakan maksud dan tujuannya.
“Danar, aku mau bilang makasih banget sama kamu selama ini udah sangat baik sama aku dan Nala,” menggenggam gelasnya yang terasa dingin.
“It’s ok. Aku kan pernah bilang, jangan sungkan untuk minta tolong.”
“Tapi aku mohon sama kamu, mulai sekarang jangan lagi perhatian sama kami.”
Terdiam, mengurungkan niatnya hendak meraih roti bakar yang bertabur parutan keju yang begitu harum menggoda. “Maksud kamu apa ya?” mengernyit seolah tak paham.
“Kamu tau posisiku sekarang, aku sendirian,” ucap Via lirih.
“Iya, makanya aku tak keberatan kalau kamu butuh bantuan.”
“Danar, please. Tolong pahami keadaanku. Meski aku sendirian, tapi aku masih punya suami. Dan aku sangat mencintai suamiku. Kamu ngerti kan maksud aku?” bertanya penuh penekanan.
"Makanya kamu cepet urus saja proses perceraianmu, biar aku bisa cepet nikahin kamu," sahut Danar, tapi cuman berani dalam hati. Wkwkwk…. 🤭🤭
Hening, keduanya saling menunggu siapa yang akan bicara lebih dulu.
“Aku minta maaf,” Via berucap duluan. “Aku menyeretmu masuk dalam ranah yang tak semestinya. Ini salahku, tak seharusnya aku melibatkanmu terlalu jauh dalam urusan rumah tanggaku,” sesal Via menundukkan wajahnya.
Hanya terdengar ******* ringan dari mulut Danar, ia tatap wajah ayu yang tertunduk di hadapannya. Wanita yang terlihat tegar namun sebenarnya rapuh. Rapuh namun masih mempunyai jiwa kepedulian yang berimpah-limpah. Keras kepala namun penyayang. Sosok wanita yang unik, yang sudah membuatnya jatuh hati sejak pertama kali melihatnya.
“Maafkan aku untuk semua akibat yang tak semestinya terjadi andai saja aku tak melibatkanmu –“
“Tak ada yang perlu dimaafkan, aku melakukannya dengan penuh kesadaran. Kamu nggak pernah maksa aku, kamu sama sekali nggak bersalah.”
“Tapi kamu turut menanggung akibatnya,” mengankat wajahnya perlahan. Via teringat ketika isu perselingkuhannya dengan Danar menggelinding santer ke seantero kompeks perumahannya. “Kamu ikutin skenario permainanku hanya untuk membantuku pisah sama Mas Mirza, kamu pasti mengabaikan akibatnya untuk diri kamu sendiri.”
“Sudah, jangan dibahas lagi,” potong Danar yang melihat ada genangan air bening di kedua mata indah Via.
“Aku belum selesai,” mengambil tisu dan cepat menyeka kedua netranya perlahan. “Dan gara-gara skenario konyolku itu, sekarang semua orang dalam keluargaku seolah menyudutkan aku.”
Masih menunggu kalimat lanjutan Via.
“Mereka mengira kita benar-benar ada hubungan spesial, jadi please mulai sekarang jangan pernah lagi datang ke rumahku. Jangan lagi temui aku dan Nala,” ungkap Via penuh bersungguh-sungguh.
Sakit? Tentu saja. Danar sudah ditolak bahkan sebelum dia mengungkapkan perasaannya. Namun dia segera menepis rasa sakit hatinya, tak pantas dia merasa sakit seperti itu. dia sangat mengerti keadaan Via dari dulu, sangat mengerti. Via seorang istri yang sangat mencintai suaminya, kini pun sudah dikaruniai seorang putri kecil yang cantik. Justru dia yang bersalah, terus saja coba memancing di air keruh, walau tak pernah mendapatkan ikan disana.
“Sekali lagi aku ucapin terima kasih banyak atas semua kebaikanmu selama ini,” Via mendorong gelas yang sedari tadi digenggamnya. “Aku permisi.”
Hanya keluasan hati yang sedikit dipaksaan menghantar kepergian langkah Via yang beranjak menjauh. Senja turun membawa jingga kemerahan yang menawan, sang raja cahaya perlahan pulang ke peraduan. Langit berganti abu kemudian gelap, sama gelapnya kah dengan hati sang pria lajang Danar Hadi Pramana?
Masih setia di tempat duduknya dalam kesendirian ketika lampu-lampu sudah dinyalakan.
“Mas Danar, apa makanan dan minumannya boleh aku beresin?” sebuah teguran halus mengembalikan benak Danar yang mengembara.
💕💕💕💕💕
Hai, selamat pagi ☺
Mana suaranya yang udah kangen sama Mas Danar?? 😍😍
Makasih ya selalu setia nungguin up othor 🙏🙏 tapi ngemeng-ngemeng komen makin sepi aja nih 😅😅 yang udah baca dan like tapi belum pernah nongol di kolom komentar, sekali-kali komen dong, nulis apa kek, biar othor tambah semangat gitu 😄😄 jangan diem-diem bae 🤭🤭
Have a nice Sunday ya buat semuanya 🥰🥰
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1