TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
277 #TAMU


__ADS_3

Sofi nampak masih sibuk di depan meja rias, Ramzi yang menunggunya mulai tak sabaran. Setelah selesai dengan tatanan rabutnya, kini Sofi tengah mengaduk-aduk laci mencari anting berliannya. Tak berhenti sampai disitu, ia pun nampak sedikit kesusahan ketika hendak memakainya.


“Mau aku bantu?” berinisiatif mendekat pada sang istri.


“Nggak usah,” segera berhasil memasang anting sebelah kanan, “Kak Ram turun aja duluan, nanti aku nyusul.”


“Beneran?”


“Iya, jangan sampai membuat tamu kita menunggu teralalu lama,” selesai dengan anting sebelah kirinya. “Omong-omong siapa sih tamunya? Sepertinya penting banget,” bertanya ketika Ramzi hendak keluar kamar.


Memutar tumitnya kembali mendekat pada Sofia, “aku juga nggak tahu. Tadi pagi Azad hanya bilang akan megundang seorang tamu untuk makan malam di rumah.”


“Apa dia relasi bisnis?”


Mengedikkan bahu, “entahlah.”


“Kak Ram benar-benar nggak tahu?” tampak aneh karena suaminya dan Azad satu kantor kenapa sampai tidak tahu kalau relasi bisnis akan datang ke rumah untuk makan malam.


“Iya, kenapa memangnya?”


“Nggak papa, berarti aku harus tampil cantik dan menarik karena mungkin saja yang datang adalah relasi bisnis Kak Ram dan Azad, iya kan?" menglas senyum.


“Terserah kau saja,” sok acuh namun kemudian memamerkan senyum menggoda. “Kau selalu tampak cantik dan menarik buatku walaupun –“


“Eh, jangan mendekat! Berhenti disitu!” Sofi segera mengultimatum karena melihat gerak gerik suaminya yang mencurigakan. “Aku nggak mau riasan wajahku jadi berantakan karena ulahmu, Kak.”


Ramzi terpaksa nurut, dia harus menahan niatnya yang memang akan mendaratkan sedikit ciuman-ciuman kecil pada wajah perempuan yang sangat digilainya itu.


“Sudahlah, cepet turun sana Kak!” mendorong pelan tubuh suaminya, “aku harus cari kalung dan gelang berlianku biar terlihat makin memukau.


“Tuan, Nyonya,” seorang pelayan sudah berdiri di depan kamar begitu Ramzi membuka pintu. “Tamunya sudah datang, acara makan malam akan segera dimulai.”


“Baiklah,” Ramzi mengangguk.


“5 menit lagi aku akan menyusul,” segera menutup kembali pintu kamarnya lantas mengganti anting-antingnya setelah menemukan satu set perhiasan berliannya yang menurutnya paling pas untuk menyambut sang relasi bisnis.


“Sempurna,” Sofi tersenyum memandangi pantulan wajahnya sendiri di depan cermin. Gaun berwarna wine dengan dada rendah membuat kalung berliannya menjadi pelengkap kecantikannya malam ini.


Menuruni anak tangga dengan senyum menawan yang sudah ia setel sedari keluar kamar, Sofi terlihat anggun dan elegan. Di ruang makan terdengar perbincangan hangat penuh keakraban. Tinggal sedikit lagi sampai di anak tangga paling bawah, Sofi tak kuasa melanjutkan langkahnya. Kakinya terasa berat untuk digerakkan, senyumnya segera memudar berganti dengan tatapan nanar. Seseorang yang berada di tengah-tengah keluarganya yang kini sedang berbincang hangat penuh keakraban itu membuat urat syarafnya menegang.


“Alhamdulillah, Mama senang sekali. Kamu pintar pilih calon istri,” sang Mama memuji Azad yang tampak tersenyum bahagia.


“Berkat doa Mama,” Azad menggenggam lembut tangan sang mama.


“Doa papa juga, kan?” Tuan Husein tak ingin dilupakan.


“Tentu, Pa,” timpal Azad. “Juga support dari Kak Ram,” memandang sang kakak ipar penuh rasa terima kasih. Ramzi hanya mengangguk dengan senyum tipis.


“Jadi kapan kalian akan menikah?” Nyonya Husein tak sabar membuat Azad melirik pada wanita yang duduk disebelahnya yang sedari tadi hanya tersenyum.


“Aku belum melamarnya secara resmi pada orang tuanya,” lirih Azad ragu-ragu.


“Besok papa akan melamarkannya untukmu,” perkataan Tuan Husein membuat penghuni ruang makan berderai kebahagiaan, namun tidak dengan Sofi yang masih mematung menyaksikan kehangatan yang membuat hatinya kepanasan itu.


Tak ingin berlama-lama berada dalam situasi yang baru saja memporak porandakan hatinya, gegas ia kembali menaiki anak tangga sebelum ada yang menyadari keberadaannya.


BLAM!


Dibantingnya keras pintu kamar penuh amarah, wajahnya memanas dengan air mata yang hampir merembes dari sudut bola mata indahnya


“Kurang ajar!”


PRANG!!


Disapunya semua yang berada di atas meja riasnya hingga berserak dilantai berkeping-keping.


BRAK!!


Menggebrak meja rias seraya menatapi wajahnya sendiri yang penuh kebencian, segera ia preteli perhiasan mahalnya untuk dilempar ke sembarang arah, (kasih othonya aja Sof, jangan dibuang. Eman-eman 😆😆).


“Jadi dia tamunya? Wanita ****** itu?” geramnya dengan dada turun naik karena emosi. “Nggak akan aku biarkan dia jadi bagian dari keluarga ini, nggak akan!!” berteriak sendiri, untunglah kamanya kedap suara sehingga histerisnya tak sampai kedengaran kemana-mana. Namun Ramzi nyatanya nyusulin juga karena sang istri tak kunjung turun.


“Sofia,” panggil Ramzi dari luar kamar setelah mengetuk pintu. “Kamu, –Astaga!” terkaget setelah membuka pintu dan mendapati seisi kamar berantakan.


Segera menoleh dengan pandangan nyalang. “Kamu bohong, Kak!”


“Sofia, dengar dulu –“


“Kamu pasti bohong nggak tahu siapa tamunya, kamu dan Azad bersekongkol, oh nggak, kalian semua bersekongkol membohongiku, iya?” membentak Ramzi dengan mendorong Ramzi membentur tembok.


“Sofia, aku nggak bohong!” tepis Ramzi. “Aku benar-benar nggak tau kalau Jane akan datang kesini!”


“Kalau gitu usir dia sekarang! Suruh dia pergi, cepat!”


“Jangan gitu, Sofia –“


“Kenapa? Kak Ram nggak mau melakukannya? Kak Ram masih cinta kan sama dia?” menguhus tatapan tajam siap menguliti sang suami. “Oke, kalo gitu aku yang akan usir dia dari sini! Aku nggak mau dia berada di rumahku, apalagi sampai jadi bagian dari keluargaku, aku nggak sudi!”


“Sofia, jangan gila kamu!” menghadang langkah Sofi.


“Kak Ram yang gila! Kalian semua yang gila!” sengit Sofi. “Sudah tau dia ******, dia orang ketiga yang memisahkan aku dan kamu, Kak. Kenapa kalian malah akan menjadikannya –“

__ADS_1


“Itu dulu!” pangkas Ramzi. “Keadaannya berbeda sekarang, sudah berubah.” Menatap lurus bola mata sang istri, “Sofia kamu harusnya sadar, Jane bahkan ikut mencarimu waktu kamu pergi ke kampung. Kalau aku berniat menikahinya, nggak mungkin aku cari kamu sampai kesana,. Dan kenapa aku rela melawan pada papaku sendiri? Semuanya demi kamu, Jane itu bukan siapa-siapa bagiku!” Ramzi berusaha meyakinkan sekuat daya.


“Tapi aku nggak setuju dia menikah dengan Azad, dan kenapa kamu malah mendukung mereka?” kekeh Sofi, hatinya mulai melunak karena percaya dengan kesungguhan Ramzi. Hanya saja kecemburuannya pada diri Jane belum bisa sepenuhnya hilang.


“Sofia, tolong mengertilah. Jangan korbankan perasaan Azad demi keegoisanmu,” meredupkan pandangannya.


“Egois katamu, Kak?”


“Ya, kamu egois. Azad itu adikmu, dia besedia melakukan apa saja demi kamu. Dia banyak berkorban saat kamu kacau di masa lalu. Azad yang berkali-kali datang untuk menyadarkanku demi kamu, Azad yang rela mencarimu sampai kemana-mana bahkan sampai menemui papaku dengan gagah beraninya. Semuanya demi kamu, demi kakaknya sang sangat dicintainya,” mengguncang bahu Sofi berharap istrinya segera sadar dari keegoisannya. “Dan sekarang saatnya kamu membalas semua pengorbanannya, restuilah cintanya dengan Jane, maka kamu akan membuat Azad bahagia.”


Terdiam, perlahan menepis tangan Ramzi dan melangkah gontai menuju sisi tempat tidurnya.


“Tinggalkan aku sendiri,” ucapnya pelan.


“Sof –“


“Bilang pada mereka aku sedang tak enak badan, aku mau istirahat.”


Menghela napas coba mengerti walau sedikit kecewa, namun saat ini lebih baik menuruti keinginan Sofi daripada semuanya bertambah buruk.


💕💕💕💕💕


Sebuah mobil mewah berplat ibu kota baru saja berhenti di depan rumah haji Barkah. Om Jaka turun dari mobil hitam itu bersama seorang lak-laki tambun bersusia setengah baya lebih.


“Jadi ini rumah kau, Jack?” si pria tambun mengedarkan pandangannya ke rumah dan seisi halaman Haji Barkah yang luas dipenuhi pepohonan dan bunga. “Besar juga ya? tapi masih kalah jauh besar dan mewah dengan rumah aku!” sambung si pria tambun berkulit coklat gelap dengan penampilan super perlente itu.


“Songong lu!” cibir Om Jaka berjalan mendahului.


“Oy, tak kau ajak masuk aku rupanya?” protes si laki-laki tambun agak kesal. “Bah! Tak sopan kali kau!” segera menyusul langkah Om Jaka memasuki rumah dan langsung menghempaskan bokong gembulnya di sofa empuk ruang tamu tanpa menunggu dipersilakan. “Jack, aku minta minuman dingin ya. panas kali rumah kau ini, tak ada AC rupanya,” membuka kancing kemejanya yang paling atas setelah melonggarkan dasinya.


“Gue kagak jualan minum!” kesal Om Jaka.


“Beb, udah pulang?” suara Denaya segera meredakan kekesalan Om Jaka. Berjalan mendekat dan mencium punggung tangan suaminya. “Udah dari tadi ya? Mana tamunya yang dari Jakarta?”


penasaran namun kemudian melihat pada si laki-laki tambun.


Si laki-laki tambun seketika terpana, gegas ia berdiri untuk menyambut Denaya. “Alamak, cantik kali,” matanya berbinar dipenuhi lope-lope melihat Denaya.


“Bini gue,” meraih pinggang Denaya posesive. “Biasa aja liatnya, ntar gue colok mata lu!” omel Om Jaka.


“Hish, galak kali kau ini, macam emak-emak darah tinggi!” balas mengomel, lantas menarik sudut bibirnya tersenyum pada Denaya, “halo cantik, perkenalkan, nama abang Hotman Siangbolong,” mengulurkan tangan pada Denaya dengan penuh percaya diri.


Segera menangkupkan kedua telapak tangan, bersalaman a ala muslimah.


“Bini gue kagak mau salaman sama yang bukan muhrim,” ucap Om Jaka merasa puas.


Tampak kecewa, lantas segera kembali menghempaskan diri di atas sofa.


“Aku buatkan minum dulu ya, Beb,” Denaya pamit ke dalam.


“Gue tampol juga mulut lu lama-lama ya! jangan genit-genit sama bini gue!”


“Ck ah, macam tak kenal aku saja kau ini Jack,” Hotman belagak cuek, “Oya, soal kakak kau itu, besok aku urus sendiri saja kelanjutannya kalau kau sibuk,” mengeluarkan kotak rokok cerutun dari balik saku jas hitamnya.


“Ya memang seharusnya begitu, kan gue udah bayar elu!”


Menggut-manggut kemudian menyalakan sebatang cerutunya, asap putih segera mengepul ke udara. “soal harga sudah deal kita ya? ditunggu pelunasannya oke?”


“Dasar pengacara matre lu!”


Terkekeh sebentar ditengah menikmati cerutu kesukaannya, “ya namanya juga pengacara kelas atas, wajar lah mahal. Siapa yang tak kenal pengacara Hotman Siangbolong di Indonesia ini, ha? Tidak ada, dari anak-anak sampai nenek-nenek pasti kenal sama lawyer baik hati dan kaya raya ini,” memamerkan deretan cincin emas berkilau yang memenuhi jari kanan kirinya.


“Awas aja kalo Mbakyu gue sampe lama di dalem penjara, gue santet juga lu! Percuma gue bayar elu mahal-mahal,” Om jaka setengah mengancam.


“Tenang saja lah kau, percayakan semuanya pada Hotman Siangbolong lawyer handal ibu kota langganannya para artis ini,” menepuk dadanya yang sedikit dibusungkan. “Oy, adek cantik kenapa bawa minumnya cuma dua?” agak surprise melihat kemunculan Denaya dengan dua gelas minuman dingin di atas baki yang dibawanya.


“Lho, Pak Hotman –“


“Aduh jangan panggil Pak lah, panggil Abang, Dek,” protes Hotman.


“Hem, minta gue sambit nih orang!” Om Jaka melotot kesal.


“Ada sopir sama asisten Abang di mobil, Dek. Kau buatkan minum juga lah mereka sekalian,”


“Eh, songong! Kagak usah ngatur-ngatur bini gue lu yak?” Om Jaka makin kesal tak terima. “Ntar aja bikinnya, mereka juga paling lagi pada molor!”


“Payah kau, Jack! Tak ada penghargaan untuk tamu sama sekali,” Hotman berdecak lantas kembali pada cerutunya.


“Biar aku bikin minum dulu, Beb,” ucap Denaya setelah menaruh dua gelas minuman di atas meja.


“Kagak usah, suruh aja Bi Ijah.”


Mengaguk patuh lantas berlalu ke dalam.


Mengambil minuman dinginnya, merem melek sebentar karena segarnya yang membasahi tenggorokan hingga ke kerongkonan. “Kamar hotel untuk aku dan asisiten sudah kau siapkan, Jack?” tanya Hotman kemudian.


“Udah.”


“Bagus,” menghisap cerutunya kemudian menandaskannya di atas asbak porselen, “besok, kau urus ganti rugi untuk warga sesuai kesepakatan kita dengan mereka siang tadi ya? berkasnya nanti asisten aku yang kirim lewat e mail, ok?”


Mengangguk sebagai tanda mengerti.

__ADS_1


“Omong-omong, apa kakak kau itu setuju dengan nominal yang akan diberikan untuk ganti rugi para warga?”


“Mau setuju mau kagak, itu mah kagak penting. Daripada Mbakyu gue dituntut secara perdata sama warga, kan gue juga yang repot?”


“Bener itu, sebagai saudara sudah sepatutnya lah kita tolong menolong, Jack.”


“Ye kalo kagak kepaksa gue juga ogah kali!”


Mendengus heran, “hubungan kalian tak baik rupanya?”


“Udah kagak usah banyak tanya lu, yang peting elu kelarin tuh kasusnya, elu dapet duit. Beres!” Om Jaka nampak sekali enggan untuk menceritakan tentang hubungan persaudaraan dirinya dengan sang mbakyu.


“Ya sudah, tidak terlalu penting juga buat aku,” membenahi jasnya. “Kalau begitu, aku pamit. untuk bertemu kakak kau itu besok jam 9 aku langsung ke Rutan.”


“Sip, gue langsung nyusul kalo udah kelar.”


“Lho, udah mau pulang ya?” Denaya muncul bersama Bi Ijah membawa toples berisi kue dan 2 gelas minuman dingin lagi untuk sopir dan asisiten Hotman.


“Iya, penat kali Abang ini, Dek sudah kepingin istirahat di hotel,” sahut Hotman seraya berdiri.


"Udah gue bilang jangan panggil bini gue, Dek!” geram Om Jaka.


“Alah Jack, itu panggilan biasa buat kami orang sebagai tanda keakraban. Kau kan sudah kenal lama sama aku, sudah macam saudara kita. Jadi istri kau pun sudah aku anggap saudara,” menepuk pundak Om Jaka cuek lantas melangkah keluar.


“Sodara dari planet mana?” gerutu Om Jaka mengikuti langkah Hotman menuju halaman depan.


Dua gelas minuman dingin yang dibawa Bi Ijah kiranya membuat sopir dan asisiten Hotman melek lagi, tak berapa lama mereka pun segera pamit menuju hotel yang sudah Om Jaka persiapkan di kota selama Hotman menangani kasus Bu Een.


“Temen kamu itu rada aneh ya, Beb?” celetuk Denaya setelah Hotman pergi


“Bukan rada, tapi emang aneh banget.”


“Perasaan, tampangnya mirip sama pengacara yang suka wara wiri di TV ya, Beb?”


“Ho oh, kembarannya.”


“Ha, serius?” Denaya mengejar Om Jaka yang sudah masuk rumah.


“Hani, kagak usah dibahas ya? kagak penting!” Om Jaka ogah-ogahan.


“Tapi aku penasaran Beb, kok kenal sama pengacara kayak gitu sih? Pasti bayarannya mahal ya?”


Mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah, “dia pernah bantuin nanganin proyek gue yang bermasalah waktu gue masih di Jakarta dulu.”


Denaya manggut-manggut duduk di samping Om Jaka.


“Soal bayaran emang mahal sudah pasti, tapi kan biarin aja itu semua pake duit Mbakyu sendiri.”


“Bu Endang tau kalo disewain pengacara?”


“Kagak.”


Seketika Denaya terperangah, “Gimana sih kamu, Beb? Harusnya kamu tuh bilang dulu sama Bu Endang, kalo kamu nanti disalahin gimana? Belum tentu mau dia ngeluarin duit banyak buat bayar pengacara?”


“Hani, please” Om Jaka menenangkan, “yang minta gue buat bantuin Mbakyu siapa? Yang nyuruh gue nyelesein semua dampak musibahnya Mbakyu siapa? Dan yang ngomong ke gue kalo Mbakyu nggak punya sodara lagi selain gue, siapa?” menatap tajam.


“Aku, Beb,” cicit Deanya sedikit menunduk.


“Ya udah, ini cara gue buat negebantu si Mbakyu.”


Hanya mengangguk, karena membenarkan semua memang dia yang memohon pada suaminya agar membantu Bu Een. Walau pun semula Om Jaka bersikukuh untuk membiarkan saja Mbakyunya itu menginap sekian lama, bahkan kalo bisa selama-lama lama-lamanya di dalam penjara, namun nyatanya nalurinya tetap tak tega, dan itu berkat Denaya yang terus menerus membujuknya.


“Maksih ya, Beb. Via juga pasti seneng kalo tau Bu Een akan ditangani sama pengacara handal.” Mengangkat wajahnya dengan senyuman.


“Kagak usah terima kasih lah, lagian kalo ayah kagak bersedia membeli semua sawah dan kebon jati si Mbakyu, gue juga bingung mau ngebantuin dia pake apaan. Ogah banget pake duit gue sendiri,” papar Om Jaka.


“Iya, tapi semuanya nggak akan berjalan tanpa campur tangan kamu, Beb,” bergelayut manja pada lengan sang suami. “Oya, Mirza gimana Beb?” udah tau kan soal musibah ibunya?”


“Udah gue kirim pesan hari itu juga, Han. Tapi belum dibaca sampe sekarang. Nomer ponselnya malah kagak ada yang aktif semua.”


“Moga aja dia baca ya, Beb. Biar dia cepet pulang, Via pasti bahagia banget kalo Mirza pulang,” ucap Denaya penuh harap.


“Iya, moga aja Han.”


💕💕💕💕💕


Hai, reders setia tersayang ….


Mohon maaf ya othor baru nongol lagi. Seminggu terakhir ini complicated banget nih emak othor problematikanya, echiye…. sok banget ya si othor, cari alesannya aja emang


😆😆


Othor lagi kena 4L nih (lemah, letih, lesu plus lemot) makanya agak kesusahan dapetin waktu buat nulis. Bawaannya pingin rebahan, males-malesan aja. pulang kerja biasanya cuss ngetik dapet beberapa kalimat lumayan, atau pagi buta sebelum kerempongan melanda, othor sempetin nulis. Tapi seminggu ini baru sempet up 🙏🙏🙏


Moga aja othor nggak terlalu lama di fase ini ya, bisa up rutin lagi. ya paling nggak ,nggak ngilang lagi selama seminggu kayak sekarang ( 🤫🤫🤫diusia yang nggak terlalu muda lagi ini, othor dititipi amanah dari Allah SWT calon anak ke – 4. Perjuangan banget di tri semester pertama untuk bisa tetap semangat melakukan aktifitas harian walau badan terasa males dan ngatukan 😁🤭)


Terima kasih buat kalian semua yang udah selalu support othor lewat doa-doa tulus kalian. Hanya Allah SWT yang mampu membalas kebaikan kalian semua


🥰🥰🥰


Peluk cium online satu-satu buat kalian semua dari othor awut-awutan ini

__ADS_1


🤗🤗🤗😘😘😘


I love you all💕💕💕


__ADS_2