TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
57 #GARA-GARA ICE CREAM


__ADS_3

 SREEET!


CIIITT!


NGIIK!!


Mirza menginjak rem sekuat tenaga.


BRUUK!


Bunyi benda jatuh membuat semua orang yang berkumpul di halaman depan rumah Yana menoleh pada sumber suara.


“Motor gue!” Pekik Firman yang melihat motor kesayangannya jatuh ditabrak mobil yang baru saja berhenti di depan rumah Yana.


“Mas!” Via tegang menahan napas melihat pada suaminya yang juga sama kagetnya dengan dirinya.


Firman berjalan cepat dengan wajah marah sementara Mirza bergegas keluar dan turun dari mobil.


“Bisa nyetir nggak … “ Firman tak melanjutkan kalimatnya begitu melihat siapa yang menabrak motornya.


“Aduh! Ini motor kamu ya, Man? Maaf, maaf banget Man! Aku nggak sengaja!” Mirza segera menyambut Firman dengan merentangkan kedua tangannya dan memeluk sahabatnya itu meminta maaf.


Firman yang emosinya sudah nyampe pucuk ubun-ubun, langsung menyabarkan dirinya karena walau bagaimana pun ia dan Mirza sudah bersahabat sejak lama.


“Ya ampun, Za! Elu kalo nyetir jangan meleng dong makanya!” Firman jengkel namun berusaha tetap sabar.


“Ini salah aku, maafin ya Man.” Ucap Via yang sudah berdiri di samping mobil.


Firman hanya memandangi Via dan Mirza sambil mengusap rambutnya, lantas membangunkan motornya yang jatuh dibantu Mirza.


“Ini murni salahku, aku tadi nggak liat ada motor kamu. Sekali lagi maaf ya, abis acara ini kita ke bengkel.” Ujar Mirza yang melihat motor sport kesayang Firman tergores di sisi kiri kanan akibat benturan tadi.


“Nyantai aja, nggak papa.” Firman menepuk bahu Mirza.


Keduanya sudah reda dari shocknya masing-masng membuat beberapa orang yang memandang mereka ikut bernapas lega.


“Oliv!” Teriak satu suara membuat Via menoleh kaget.


Via segera mendekati si pemilik suara yang tak lain adalah Yana yang sedang berdiri di teras rumahnya sambil mengangkat ujung gaunnya yang berwarna dusty pink itu.


“Yan, udah siap ya?” Tanya Via yang melihat Yana sudah cantik. “Maaf ya, ada incident.”


“Untung motor yang suami kamu tabrak itu punya Firman, coba kalo punya orang lain?” Yana memperlihatkan raut jengkel.


Via hanya tersenyum, dalam hatinya sangat merasa  bersalah karena tadi di dalam mobil mencubit suaminya.


“Jangan manyun gitu dong. Masa udah make up cantik malah cemberut?” Goda Via pada Yana.


“Sayang, kamu masuk temani Yana, ya. Aku diluar sama Firman.” Ucap Mirza menghampiri Via.


Via mengangguk lantas menggandeng lengan sahabatnya masuk.


Di ruang tamu rumah Yana yang luas semua persiapan sudah selesai. Beberapa tamu undangan dari keluarga dan teman Yana dan Khusni kembali pada kursinya untuk menyaksikan prosesi tunangan kedua calon pasangan yang tampak sudah tak sabaran itu.


“Yan, kok kamu tiba-tiba udah tunangan aja sih sama Khusni?” Bisik Via pada Yana.


“Diem aja deh, nanti aja wawancaranya.” Sahut Yana berbisik pula.


Mama Yana yang duduk di dekat mereka kontan saja melototkan matanya pada Yana dan Via yang tengah kasak kusuk karena perwakilan dari keluarga Khusni sedang berbicara.


Acara tunangan itu sebenarnya terlalu berlebihan bagi Yana sendiri, karena dia hanya menginginkan acara yang biasa saja tak perlu sampai mengundang banyak orang, toh nanti kalo nikah mereka pasti bakal bikin resepsi yang ngundang banyak orang juga. Tapi Khusni menginginkan kabar bahagia itu diketahui semua keluarga dan teman-temannya.


Acara sakral pertunangan itu diakhiri dengan tukar cincin. Yana tampak sumringah setelah cincin berlian melingkar di jari manis kirinya, senyumnya tak henti merekah sampai-sampai Via harus mencolek lengannya.


“Nyengir terus, ntar gigi kamu garing lho.” Bisik Via.


“Terus, masa aku harus nangis? Ini cincin berlian Vi.” Balas Yana smbil memperlihatkan cincinnya.


“Yakin kalo itu berlian asli?”


“Ih, dasar julit!” Yana melotot kesal.


“Mama perhatikan dari sejak mau mulai acara tadi kalian kok kasak kusuk terus.” Tegur Mama Yana tiba-tiba.


Yana dan Via gelagapan, beruntung acara formal sudah selesai. Kini para tamu dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah tersaji di meja prasmanan halaman rumah Yana.


“Kalian ini bukan anak SMA lagi, belajarlah lebih dewasa sedikit saja.” Lanjut Mama Yana tak habis pikir.


Yana dan Via memang sudah bersahabat sejak SMA, maka tak heran jika mereka selalu saling meledek dan ribut tak tau sikon.


“Maaf, Ma.”


“Maaf, Tante.”


Yana dan Via meminta maaf hampir bersamaan.


“Ya udah, temani  Khusni makan sana.” Ucap mama pada Yana. “Kamu juga, ajak suamimu makan, Vi.” Lanjut mama pada Via lantas berlalu untuk bergabung dengan keluarga Khusni.


“Kamu sih ribut mulu, jadi orang bawel banget!” Semprot Yana.


“Kok aku sih?” Via nggak terima.


“Iya kamu lah, siapa lagi?”


“Beb, makan yuk.” Khusni datang menghampiri.


“Apa? Beb?” Via tak percaya dengan yang baru didengarnya. “Sejak kapan?” Ledeknya.


“Nggak usah julit mulu bisa nggak sih?” Yana mulai sebal lagi.


“Kamu nggak ngucapin selamat nih sama aku, Vi? Aku sama Yana udah resmi tunangan lho.” Khusni mememerkan senyum lebarnya.


“Iya deh, selamat ya.” Ucap Via agak malas.


“Kok kayak nggak ikhlas gitu?” Protes Yana.


“Makasih, ya. Mirza mana?” Khusni tak menghiraukan raut kesal pada wajah Yana.


“Ada tadi sama Firman.” Via melihat ke halaman.


“Ya udah, kita selfi dulu yuk!” Ajak Khusni mulai tengil seperti biasanya.


Cekrek cekrek

__ADS_1


Khusni mengambil beberapa foto dengan ponselnya.


“Beb, fotonya disebelah sana yuk yang ada backgroundnya biar bagus, sayang kan udah pasang dekor mahal-mahal nggak dipake, hehe…” Ucap Khusni seraya menarik Yana lalu memanggl fotographer.


“Vi, sisni!” Yana melambaikan tangannya memanggil Via.


Dengan setengah hati Via nurut juga. Via menghampiri mereka dan ikut berfoto, ditariknya satu senyuman agar tak telalu nampak kalo dia masih belum rela sahabatnya bertunangan dengan Khusni.


“Eh, Nar! Sini, ikut foto dulu!” Panggil Khusni pada Danar yang sedang lewat.


Astaga! Kok ada dia sih? Dari mana datangnya mahluk ini? Kok tau-tau nongol di sini? Batin Via heran campur rada sebal.


Danar yang tak enak menolak langsung menghampiri. Khusni yang tadi berpose di tengah bergeser ke samping dan menarik Danar untuk berdiri di samping Via. Jadilah Via dan Yana foto berempat diapit oleh Danar dan Khusni.


“Agak geser ke kanan, Mas.” Pinta sang fotographer pada Danar.


Danar menggeser sedikit posisinya, Via acuh merangkul pinggang Yana.


“Iya, sedikit lagi.” Ujar fotograper pada Danar lagi.


Danar menurut meski agak sungkan. Via jangan ditanya, dia pasang tampang datar sedari tadi. Danar yang tau Via nggak nyaman di dekatnya berusaha tak memperhatikan wajah Via.


“Oke, seyum semuanya ya. Cheers …”


Cekrek cekrek cekrek


“Oke, bagus!” fotrapher mngacungkan jempolnya setelah selesai. Danar langsung jaga jarak.


“Khusni, sori ya aku pergi dulu sebentar.” Ucap Danar.


“Tapi nanti balik lagi kan?”


Danar mengangguk, kemudian pergi agak terburu-buru setelah menatap Via sekilas. Via langsung berpaling pura-pura nggak melihatnya.


“Beb, aku tunggu disini ya. Kamu ambilin aku makan. Kita sepiring berdua aja biar romantis.” Ucap Khusni.


“Oke, beb.” Sahut Yana. “Yuk, Vi!" Lanjutnya mengajak Via menuju meja prasmanan yang sudah tak terlalu ramai.


Via mengambil hanya sedikit makanan.


“Kamu kenapa sih, kayak nggak suka gitu kalo ketemu Danar?”


Pertanyan Yana kontan aja membuat Via terkejut.


“Sok tau!” Via berusaha menutupi perasaannya. “Kamu ngundang dia?” Tanya Via kemudian.


“Iya kan cateringnya pesan sama Bu Elin, berarti punya dia dong.” Ucap Yana santai.


“Hai, sayang.” Mirza dan Firman datang menghampiri. “Makan kok nggak ngajak-ngajak?” Rujuk Mirza pada Via.


“Yah, kamu dari mana aja Popaye?” Malah Yana yang nyahut. “Kita tadi udah foto-foto.”


“Foto lagi yok!” Ajak Mirza.


“Males! Kamu trouble maker!” Yana melotot kesal.


“Aduh, yang udah resmi tunangan kok ngomel mulu bawaannya?” Timpal Firman.


Mirza dan Firman hanya tertawa mendengarnya.


“Udah ah Mas, jangan bikin Yana kesel. Ini hari terbaiknya tau.” Lerai Via.


“Tumben kamu belain aku?” Yana heran.


Via hanya melihat acuh sambil membawa piring mencari tempat duduk ternyaman, Yana mengekor di belakangnya. Mirza dan Firman gantian mengambil makanan.


Beranjak siang para tamu sudah mulai meninggalkan rumah Yana setelah sebelumnya terlebih dahulu berpamitan dan tak lupa mendoakan kedua calon pengantin yang akan menikah beberapa bulan lagi itu. Mirza ingat kalau dia harus ke bengkel untuk mengecek motor Fiman.


“Sayang, Mas mau ke bengkel dulu sama Firman. Kamu mau ikut atau disini aja?” Tanya Mirza pada Via.


“Aku disni aja deh, males kalo ikut. Nanti pasti lama.”


“Ya udah. Yok, Man! Kita pergi sekarang.”


Firman agak ragu. “Nggak usah deh, Za. Gue bisa benerin sendiri kok.”


“Nggak papa, kan motor kamu lecet gara-gara aku tadi pagi.” Mirza berdiri segera mengajak Firman ikut dengannya dan meninggalkan Via bersama Yana dan Khusni.


“Beb, aku mau ganti baju dulu ah. Gerah, nih. Acaranya udah selesai juga kan?” Ucap Yana pada Khusni.


“Ya udah, yuk! Aku juga mau ganti baju.” Khusni ikutan.


“Vi, tunggu ya.” Yana pamit ke dalam meninggalkan Via sndirian.


Via memilih menekuni sosial medianya sepeninggal Yana dan Khusni karena tak ada orang lain yang di kenalnya. Tak lama setelah itu, satu mobil berhenti dan dua orang keluar langsung memasuki halaman yang sudah mulai sepi.


“Mbak? Kok sendirian, Mas Mirza mana?” Tegur Riri yang baru datang pada Via yang tengah asyik dengan ponselnya.


“Eh, Ri?" Via mendongak dan sedikit kaget dengan kedatangan Riri apalagi bersama Danar. "Kamu kok nggak bilang kalo mau dateng kesini juga?” Lanjut Via malah balik nanya.


“Iya soalnya aku pergi pagi-pagi ngurusin ruko dulu, Mbak.” Sahut Riri. “Oya, Kak Yana mana?” Riri celingukan mencari Yana.


“Ada di dalam.”


“Kalo gitu aku ke dalem dulu deh, mau ngucapin selamat. Nggak enak nih datengnya telat.” Ucap Riri sambil ngeloyor meninggalkan Danar yang datang bersamanya begitu saja.


Tinggallah Danar berdua bersama Via. Sebenarnya bisa saja Danar ikut Riri masuk ke dalam tapi entah dia lebih memilih tetep diam di sana.


“Suami kamu mana?” Tanya Danar datar sambil melihat sekilas pada Via yang masih khusyuk dengan benda pipih ditangannya.


“Lagi ke bengkel.” Sahut Via tanpa meihat Danar.


“Kenapa? Mobilnya rusak?” kali ini nada Danar lebih antusias.


Via melirik Danar yang duduk tak jauh darinya. Kayaknya dia nggak tau incident tadi pagi, pikir Via.


“Bukan, cuman ada sedikit urusan.” Ucap Via kemudian kembali pada ponselnya lagi.


Merasa Via seperti enggan menaggapinya, Danar bangkit untuk mengambil ice cream.


Cenut cenut


Ponsel via mengisyaratkan low batt. Via sedikit kecewa, terpaksa menyudahi selancarnya di dunia maya.

__ADS_1


“Ice cream?” Danar tiba-tiba datang menyodorkan satu ice cream cone pada Via.


Via bengong melihat Danar.


“Kenapa, kamu pikir aku kemana emangnya?”


Via hanya mendengus tapi diambilnya juga ice cream itu dari tangan Danar. Benar juga, pikirnya Danar pergi ninggalin dia nyusulin Riri ke dalem. Ternyata malah balik lagi.


Mereka berdua kemudian menikmati ice cream tanpa ada sepatah kata pun yang diucapkan mereka. Danar sesekali memperhatikan Via yang juga sebenarnya merasa aneh kenapa tiba-tiba bisa berduaan dengan Danar yang selalu dihindarinya.


Mata Danar berserobok dengan mata Via yang tia-tiba meliat padanya.


“Kamu kenapa ngeliatin aku?” Via merasa tak suka dengan tatapan mata Danar padanya.


“Nggak, cuman aneh aja.” Sahut Danar cuek.


“Aneh apanya?”


“Kok ada ya, orang udah diambilin makanan nggak bilang makasih?” Sahut Danar.


Via langsung berhenti makan ice creamnya dan memandang Danar dengan jutek. Tapi Danar cuek aja malah hampir menghabiskan ice cream ditangannya. Melihat Danar sama sekali tak memperhatikan kejengkeannya, Via makin kesal. Tapi dalam hatinya dia baru menyadari, hari ini penampilan Danar sungguh berbeda.


Danar yang biasanya hanya memakai T-Shirt hitam dan jeans, dengan rambut gondrong yang dibiarkan berantakan, kini tampil dengan kemeja navy lengan panjang yang digulung setengah lengan dan rambut yang diikat rapi membuatnya terlihat makin rupawan.


“Kenapa kamu ngeliatin aku?” Danar balas bertanya setalah sadar Via memperhatikannya.


Via yang aksinya ketahuan langsung berdiri dan memberikan ice creamnya pada Danar dengan sedikit kasar.


“Aku nggak mau makan pemberian orang yang minta dipuji.”


“Hey, aku nggak bilang begitu.” Kilah Danar.


“Ambil ini!” Via mendorong ice cremnya namun Danar berusaha menolaknya.


Oops!


Ice cream tumpah mengenai dada Danar sehingga kemejanya kotor.


Keduanya sama-sama kaget tak menyangka akan hal itu.  Via kemudian langsung sadar dan merasa bersalah.


“Oh, maaf …” Ucap Via sambil buruburu membersihkan noda ice cream di kemeja Danar.


“Nggak usah …” Danar mencegah Via dengan memegang tangannya.


Freeze untuk beberapa detik.


Mereka saling tatap dalam jarak yang dekat. Jantung Danar rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, matanya menatap lekat perempuan muda yang mencuri perhatianya itu sejak dari pertama dia melihatnya.


“Aku … minta maaf.” Lirih Via sambil melepaskan tangannya.


“Aku juga minta maaf udah bikin kamu kesal.” Balas Danar pelan.


Via kemudian ingat kalau dia membawa tisu di clutch bagnya.


“Biar aku bersihkan.” Ujar Via yang sudah memegang tisu bersiap akan membersihkan kemeja Danar.


“Biar aku aja.” Danar mengambil tisu dari tangan Via dan membersihkanya sendiri.


Via hanya melihatnya penuh rasa bersalah.


“Danar, aku benar-benar minta maaf.” Ucap Via sekali lagi penuh penyesalan.


Danar melihat wajah Via yang kini tampak begitu sendu.


Kamu tau, Vi. Aku seneng banget denger kamu nyebut namaku? Rasanya itu seperti nyanyian terindah yang pernah aku dengar selama ini. Siapa sangka, kita yang selama ini selalu berusaha saling menghindar, sekarang bisa begitu dekat hanya karena ice cream?


“Danar, kamu marah ya? Kok diem aja?” Tegur Via makin tak enak hati.


Danar langsung sadar dari lamunannya dan mengukir senyum di bibirnya.


“Nggak.”


Via memberikan tisu lagi.


“Ya udah, nih bersihin lagi biar nggak kelihatan kotor banget.” Ucap Via.


Danar menerimanya dan mulai menggosokkan lagi tisu itu pada kemejanya dengan Via yang serius memperhatikannya. Keduanya jika diperhatikan tampak begitu dekat padahal baru saja mereka memulai kedekatan yang terjadi secara tak sengaja itu.


“Sayang, ada apa ini?” Suara Mirza yang datang tiba-tiba mengagetkan Via dan Danar.


“Oh, Mas? Udah selesai?” Via langsung berdiri dan tentu saja tak mengetahui kedatangan Mirza karena terlalu fokus pada kemeja Danar yang kotor akibat ulahnya.


“Udah. Firman aku tinggal di bengkel. Kamu kenapa disini berdua sama Danar?” Tanya Mirza lagi penasaran.


“Aku …, tadi nggak sengaja numpahin ice crem kena kemejanya.” Ucap Via pelan.


Mirza melihat istrinya dan Danar bergantian merasa sedikit ada yang aneh. Kenapa juga Via bisa berbuat seperti itu? Batin Mirza.


“Aku yang salah, tadi nggak hati-hati.”  Sanggah Danar.


“Nggak, aku yang ceroboh.” Balas Via.


“Oke.” Ucap Mirza. “Kalo gitu udah selesai kan? Udah clear masalahnya?” Tanya Mirza berusaha meyakinkan keduanya.


Via mengangguk pelan.


“Kalo gitu kita pulang sekarang, sayang.” Mirza menggandeng tangan Via. "Kita pamit dulu ke dalam.” Lanjutnya sambil melemparkan tatapan yang sulit diartikan pada Danar.


__________


Aww awww.... Mas Mirza, sabar Mas 🤭🤭


Hi, akak-akak tercinta semuanya 😍😍😍


Terus dukung author dengan selalu like, komen, rate 5 dan vote ya🙏🙏☺️☺️☺️


Terima kasih yang selalu setia di karyaku 🙏🙏🙏❤️❤️❤️


Luv u all 🤗😘😘😘


 


 

__ADS_1


__ADS_2