
Ramzi tiba di rumah sakit setelah kepala pelayan menelponnya sewaktu dalam perjalanan pulang memberitahukan bahwa Sofi sudah dibawa ke rumah sakit.
“Tuan, Anda tidak boleh masuk.” Cegah pelayan wanita yang melihat Ramzi datang dengan wajah panik dan langkah yang tergesa tiba di depan ruang IGD rumah sakit tempat dokter Wirawan bertugas.
“Bagaimana keadaannya?” Tanya Ramzi cemas.
“Nyonya sedang ditangani oleh dokter.” Sahut pelayan itu.
Dari kejauhan nampak seseorang berjalan dengan langkah cepat. Bunyi sepatunya beradu dengan lantai lorong rumah sakit yang sunyi.
“Maafkan saya Tuan, saya sedang tidak bertugas.
Ternyata orang itu dokter Wirawan. Rupanya dalam perjalan tadi Ramzi sempat menelpon dokter Wirawan untuk memberitahukan keadaan Sofi.
“Aku tidak mau tahu, kau bertanggungjawab penuh atas yang terjadi pada istriku.” Ucap Ramzi dengan mengeratkan rahangnya.
Dokter Wirawan mengangguk dan lekas masuk ke dalam. Beberapa menit berlalu namun belum ada kabar dari ruangan tempat Sofi ditangani.
Ramzi duduk dengan wajah kelu, sementara pelayan wanita tadi berdiri agak jauh dari Ramzi dan menyadari ada gurat kekhawatiran pada Tuan mudanya meski ia sendiri tau bahwa Tuan mudanya itu tak menghiraukan istri yang baru saja dinikahinya beberapa hari itu.
“Tuan.” Teguran seorang pelayan yang datang tak disadari Ramzi berhasil mengagetkan lamuan Ramzi.
“Ada apa?” Tanya Ramzi datar.
“Tuan besar meminta Anda untuk pulang, biar kami yang menunggu Nyonya.” Ucap pelayan itu.
Ramzi mengusap wajahnya kasar dan berdiri memandang pada pintu ruang IGD yang membisu.
BIP
Bunyi pesan masuk pada pnsel Ramzi.
Sebaiknya kau pulang sekarang, jangan kau habiskan malammu untuk menunggui wanita itu karena besok pagi kau harus ke kantor untuk menghadiri pertemuan penting. Jangan sekali-kali kau tampakkan kelemahanmu di depan wanita itu. Biar pelayan yang berjaga disana.
Demikian bunyi pesan dari Tuan Alatas yang baru saja dibaca Ramzi.
Ramzi gamang. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Sofi. Bagaimana jika Sofi tak bisa ditangani dengan benar? Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Sofi dan ia tak mengetahuinya?
“Tuan.” Sekali lagi suara pelayan menyadarkan Ramzi. “Mohon maaf, biar saya yang membawa mobil Anda pulang nanti. Anda pulang bersama sopir, ini perintah Tuan besar.”
Tanpa banyak omong, Ramzi meneyerahkan kunci mobilnya karena dia sendiri merasa sangat lelah. Kepalanya agak pening, mungkin efek dari minuman yang ia nikmati dengan Jane beberapa saat lalu, ditambah lagi pikirannya yang tak karuan dan rasa kantuk yang mulai menyerangnya.
Ramzi melangkah gontai menjauh menuju parkiran.
_____________
Hari baru di rumah baru. Pagi ini Mirza bangun lebih awal, ia membiarkan istrinya kembali terlelap setelah shalat subuh. Mirza tak ingin mengganggunya, dia berinisiatif membuatkan sarapan untuk istrinya.
Om Jaka keluar dari kamar dengan ponsel menempel pada telinganya. Agaknya ia sedang berbicara serius dengan teman bisnisnya.
Om Jaka berjalan ke runag tamu dan melanjutkan perbincangannya di sana. Mirza sibuk membuat mie goreng, wangi aromanya tercium sampai ruang tamu.
“Masak apaan lu pagi-pagi gini?” Tau-tau Om Jaka udah nongol di belakang Mirza.
“”Mie goreng.” Sahut Mirza tanpa menoleh.
Selesai mengangkat mie gorengnya, Mirza menyiapka telor dadar mata sapi. Sementara Om jaka nampak sedang mencari sesuatu di dalam kulkas.
“Nyari apaan, Om?”
“Kopi.”
“Nyari kopi kok di kulkas?” Mirza heran.
“Ya kali lu umpetin di sini, soalnya dari subuh tadi gue nyari-nyari kopi kagak ada.”
Mirza meraih toples kopi dari lemari dapur diatas kompor.
“Nih.”
“Lah, gulanya mana?”
“Abis.”
__ADS_1
“Masa gue minum kopi pait? Lu pikir gue jin iprit doyannya sama kopi pait?” Kesal Om Jaka.
“Ya beli dulu lah, Om.”
“Belinya dimana?”
“Di toko matrialnya Haji Barkah.”
PLAK!
Om Jaka mengeplak bahu Mirza kesal.
“Sompret lu! Masa beli gula di toko material?”
Mirza malah terkekeh.
“Ya lagian pake nanya. Beli gula ya di warung lah!”
“Males gue, takut ibu-ibu komplek sini pada terpesona liat kegantengan gue.” Sahut Om Jaka pede.
Om Jaka malah duduk di kursi makan yang hanya berapa langkah dari dapur dan mengambil mie goreng lalu mulai sarapan.
“Enak ya, siapa yang masak siapa yang makan duluan?” Sindir Mirza seraya meletakkan piring berisi telor ceplok.
“Sori, gue laper banget soalnya.” Ucap Om Jaka cuek sabil terus menikmati mie goreng buatan Mirza.
Mirza hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan Omnya yang kadang suka seenak jidat sendiri itu.
“Oya, elu jadi beli motor kagak siang ini?" Tanya Om Jaka disela-sela makannya.
Mirza menarik kursi di samping Omnya.
“Jadi.” Sahutnya pendek.
“Elu bener-bener nggak mau pake motor elu yang lama?”
Mirza menggeleng. “Aku udah minta Udin buat ambil motor sama mobil di rumah buat dikasihin sama ibu.”
“Banyak sih nggak, tapi InsyaAllah masih cukup.”
“Kagak sekalian lu kasih buku rekening tabungan sama deposito elu buat emak elu?” Pancing Om Jaka sambil melirik keponakannya.
“Enak aja! Terus aku sama Via makan apa dong kalo semua uangku aku kasihin ke ibu?” Mirza kesel juga dengan kalimat Om Jaka.
“Makan paku juga boleh, ntar gue maintain sama calon mertua gue, hehe….”
“Hu! Sombong, mentang-mentang mau jadi menantunya juragan toko material!” Kesal Mirza sambil beranjak meninggalkan Omnya menuju kamar.
“Sombong sih kagak, cuman mau pamer aja!” Balas Om Jaka sedikit berteriak.
Mirza ogah ngeladenin lagi ocehan Om Jaka, ia masuk kamar dan masih mendapati istrinya bbergelung dengan selimutnya.
“Sayang.” Mirza menyentuh pundak Via lembut, “Kamu belum mau bangun ya?” Bisik Mirza di telinga Via.
Via membuka matanya malas, dan melihat suaminya sudah duduk di sisinya.
“Kita sarapan dulu yuk, Mas udah bikinin kamu mie goreng lho.”
Via meregangkan tubuhnya sebentar. “Mas... Kayaknya aku belum mau sarapan. Perutku agak nggak enak nih, kepalaku juga pusing.”
“Mual ya, sayang?” Mirza mengelus perut Via.
“Nggak tau nih, kayak agak sakit di bagian sini.” Via mengarahkan tangan Mirza ke bagian kiri perutnya.
“Kamu pasti kecapekan kemarin. Sebaiknya kita ke dokter aja, ya.” Mirza mulai khawatir.
“Nggak usah, palingan juga nanti baikan. Aku juga lemes nih Mas, males mau ngapa-ngapain.” Ucap Via.
Mirza menghela napas, mengusap-usap kepala istrinya dan memandang wajah istrinya penuh sayang.
“Dari waktu itu kita belum sempat periksa ke dokter kandungan lho, sayang." Mirza mengingatkan.
“Lain kali aja ya, Mas. Aku beneran lemes banget nih.”
__ADS_1
“Ya udah deh, iya. Tapi kamu harus sarapan dulu ya, sayang.”
Via menggeleng.
“Aku pingin makan ayam geprek.”
“Ha? Ayam geprek? Mana ada orang jual ayam geprek pagi-pagi gini? Mirza heran demi mendengar permintaan istrinya.
“Ya nggak tau, Mas cari sendiri lah. Masa nanya aku?” Via sebel.
“Iya nanti Mas cariin, tapi paling agak siangan, sekarang makan mie goreng dulu ya, Mas ambilin?”
Via menggeleng lagi.
“Aku cuman mau makan ayam geprek.” Rajuk Via.
“Ya ampun, sayang. Yang jualnya juga paling belum buka kalo jam segini.” Mirza bener-bener nggak habis pikir dengan permintaan istinya.
“Ya udah, agak siangan juga nggak papa.” Ucap Via akhirnya.
“Nah, gitu dong.” Mirza lega.
“Jangan seneng dulu, Mas. Aku juga pingin dibeliin onde-onde yang isi kacang ijo itu lho.” Imbuh Via masih dari dalam selimutnya dengan nada manja namun wajib hukumnya untuk sang suami mematuhinya.
“Ah, onde-onde doang sih gampang. Biasanya banyak kok yang jual, sayang.”
“Tapi yang kecil-kecil ya, Mas. Yang bentuknya mini dan bulat sempurna terus jumlah wijennya ganjil.”
“WHAT?” Sekonyong-konyong mata Mirza melotot saking terkejutnya mendengar permintaan kedua Via itu. “Onde-one mini sih oke, bulat sempurna juga oke lah, tapi kalo jumlah wijennya harus ganjil ya mana Mas tau sayang. Emangnya Mas harus ngitungin dulu jumlahnya? Bisa-bisa suamimu ini kena omel mamang yang jual onde-onde!”
“Terserah! Pokoknya aku maunya gitu!” Sahut Via seraya menarik selimutnya menutupi wajahnya.
“Iya iya, Mas turutin deh. Jangan ngambek dong.” Mirza membuka selimut yang menutupi wajah istrinya. “Sekarang Mas bikinin susu ya, biar kamu sama adek bayi yang disini sehat.” Mirza mengelus peut Via. “Kasihan adek bayinya kalo harus nunggu ayam geprek sama onde-onde kan siang?” Rayu Mirza agar istrinya itu ada asupan makanan walau hanya sekedar segelas susu ibu hamil.
Via mengangguk.
“Oya, Mas juga nanti mau minta diantar Om Jaka ke dealer buat beli motor. Kan motor lama sama mobil kita ditinggal di rumah buat dikasihin ke ibu.”
“Iya, terserah Mas aja.”
“Makasih ya, sayang. Kamu selalu mendukung sumaimu ini dan tak pernah takut meski mungkin hidup kita akan sedikit berubah jadi lebih sederhana.” Mirza meraih jemari Via dan mengecupnya lembut.
“Iya, Mas. Aku percaya aja sama semua keputusan yang Mas ambil.”
Cup! Cup! Cup! Cup!
Mirza kali ini menghujani wajah istrinya dengan ciuman-ciuman singkat dan baru berhenti setelah Via mendorong tubuh suaminya itu menjauh untuk memberikannya permintaan lagi.
“Buruan bikinin susunya Mas." Pinta Via. "Tapi aku maunya pake gelas yang ada kembang-kembangnya ya. Sama ada kupu-kupunya juga, terus warnanya jangan yang bening, jangan peke gelas kaca, pake gelas plastik aja.”
“Ya ampun …..!!!” Mirza menepuk jidatnya sendiri dengan frustasi.
____________
Naah, permintaan ibu hamil suka aneh dan nyeleneh ya Kak …😂😂😂
Akak-akak ada yang pernah ngidam aneh-aneh kayak gitu juga kah?🤭🤭🤭
Semoga aja, Mirza bisa Menuhin semua permintaan Via ya.😍😍
Eh, Sofi kira-kira gimana ya nasibnya itu …🤔🤔🤔🤔🤔
Ikuti terus kelanjutannya ya Kak.❤️
❤️❤️
Terima kasih yang selalu setia suppor karya othor ini.🙏🙏🙏🌹🌹🌹
Jangan lupa like dan komennya ya kak. Rate 5 selalu dan vote jika berkenan..🤩🤩🤩🤩
Salam, Terpaksa Selingkuh ❤️
Luv u all🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘😘
__ADS_1