TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
158 #RENCANA PERTUNANGAN


__ADS_3

Akhir pekan adalah waktu yang paling ditunggu oleh Via, setelah lima hari kerja dia bisa bersantai dan menekuni hobi berkebunnya lagi. Sabtu pagi ini memang agak mendung, namun tak mengurangi semangat Via untuk menengok tanaman sayuran di pekarangan depan dan samping rumanya selepas sarapan. Beberapa pohon cabe rawit yang berjajar dalam kantong polybag nampak memerah buahnya pertanda siap dipanen. Via memetik dan memasukkannya ke dalam wadah. Kembang kol juga ada beberapa yang siap dipanen. Baguslah, Via akan memasak capcai untuk makan siang nanti.


“Assalamualikum….! Halo, Olive …. Aku datang!” Terdengar sapaan melengking dari luar pagar.


Via menoleh dan agak surprise melihat kedatangan Yana. “Wa alaikumussalam.” Via segera menyongsong sahabat ajaibnya itu.


“Nggak usah, aku bisa buka sendiri!” Yana membuka engsel pintu gerbang halaman Via. “Ayok, cintaku buruan!” Ajaknya pada Khusni yang sedang bersiap turun dari mobil.


“Sama siapa, Yan? Tumben mampir nggak ngabarin dulu?” Sambut Via cipika cipiki dengan Yana.


“Sama cintaku dong! Sengaja nggak ngabarin biar surprise, hehe...” Cengir Yana.


“Hai, Vi.” Sapa Khusni dengan gaya tengilnya seperti biasa.


“Aku curiga nih, ada angin apa kalian datang kesini?” Via menatap Yana dan Khusni bergantian.


“Suruh masuk dulu kek, nggak sopan banget sama tamu!” Omel Yana.


“Eh, nggak usah. Enakan disini adem.” Khusni langsung duduk di kursi teras tanpa nunggu di suruh.


“Ya udah kalo gitu bikinin minum dulu atau apa gitu yang sekiranya pantes kalo ada tamu kehormatan datang berkunjung.” Titah Yana dengan seenak udelnya.


“Hem! Dasar tamu nggak punya etika! Dengus Via yang lantas masuk diikuti Yana.


Kebiasaan Yana dari dulu tiap datang ke rumah Via pasti ngoprek isi dapur dan meja makan. Dan pagi ini Yana cukup takjub ketika membuka tudung saji sudah terpampang nyata di depan matanya sepiring ayam rica-rica masakan Via pagi buta tadi.


“Ini kamu yang masak, Liv?” Yana mencolek sambal dengan telunjuk kanannya dan mengecapnya. “Hemm, yummy…!”


“Ish! Jorok banget kamu, cuci tangan dulu napa?” Via melotot.


Yana menuju watafel mencuci tangan dan mengambil piring.


Semetara itu di luar Khusni duduk sendirian sambil memainkan ponselnya.


“Pucuk dicinta sembako pun tiba. Yess! Bakalan dapet sembako gratis lagi nih.” Dari balik mobil Khusni yang terparkir di luar pagar tampak seorang ikan buntal, ehh.. salah! Seorang Bujel yang cekikikan sendiri saking hepinya karena mendapatkan mangsa buruan baru untuk bahan laporannya ke nyonya besarnya.


Ya, sejak doi mendapatkan sekarung beras lengkap dengan sembilan bahan pokok di dalam bercinta… duuh, sembako cinta dong kayak judul lagunya Thomas Djorgi ya (Yang tau lagu ini berarti seumuran sama othor nih, wkwkwkkk). Okay, kembali ke…. Kamana kita? Sampe mana tadi…?


Hmmmm, sebentar… othor baca lagi dari atas dulu ya…


-


-


-


-


Ya pokoknya begitu! Sejak mendapatkan bonus sembako yang dikirim Udin kemarin, Bujel semakin bersemangat untuk kepoin apapun yang dilakukan sama Via. Termasuk pagi ini ketika dengan sengaja dia lewat depan rumah Via dan melihat Khusni duduk sendirian, Bujel langsung aja ambil hengpon dari saku dasternya.


Cekrek cekrek cekrek


“Dapet deh! Ini bakal jadi sembako buat bulan depan. Bodo amat itu cowok siapa, tinggal aku ngarang cerita pasti si Nenek Lampir itu percaya.” Bujel bersorak senang dan langsung balik kanan maju jalan.


Balik lagi ke dapur, Via lagi masak air karena nggak punya air panas dan Yana sudah memindahkan beberapa potong ayam rica-rica ke dalam piringnya.


“Oh iya Liv, buat aku es teh aja, tapi jangan manis-manis ya. Kalo Khusni kopi susu nggak usah pake creamer. Eh sama minta sekalian bawain kuenya juga ya, tuh di toples kue apaan tuh!” Yana menujuk dua toples dia atas buffet.


“Itu kue sisa lebaran taun kemarin.” Sahut Via sambil meracik minuman.


“Oh…, nggak papa deh angkut aja keluar sekalian ya.” Yana ngeloyor cuek ke depan membawa sepiring ayam rica-rica tanpa nasi.


“Huh, dasar Yana! Dia pikir aku pelayan warteg apa, seenaknya aja main perintah!” Gerutu Via, namun setelah selesai dibawanya juga ke depan minuman dan kue pesanan sahabat tersayangnya itu.


“Makasih ya, Liv.” Ucap Yana ketika Via datang membawa minuman. “Ini ayamnya enak banget lho, cobain, Cin.” Yana mau nyuapin Khusni.


“Nggak ah, pasti pedes banget itu. aku kan nggak suka pedes.” Tolak Khusni.


“Pedes tapi enak kok.” Yana asyik mengunyah ayam masakan Via.


“Kamu kan tadi udah sarapan, kok masih makan lagi sih?” Khusni nggak habis pikir.


“Ini bukan makan, Cintaku, tapi ngemil.” Yana cuek menggerogoti tulang paha ayam. “Oya itu, kuenya coba dibuka, Liv. Kayaknya masih enak tuh biarpun sisa lebaran taun kemarin.”


“Hah? Sisa lebaran taun kemarin?” Kaget Khusni.


“Iya, makanya jangan dimakan ntar bisa bikin body makin melar!” Kesal Via.


“Seius, Vi?” Khusni masih nggak percaya.


“Ck! Aku cuman ngerjain di aja, biar nggak makan mulu. Kamu nggak liat badan dia makin gendut gitu?”


Khusni refleks memperhatikan Yana lebih seksama, sementara yang diperhatikan cuek aja membka toples dan merogoh beberapa kue kering dari sana.


“Iya lho, Yang. Aku rasa kebaya kamu nanti bakalan nyangkut nggak bisa dikancingin deh kalo kamu nggak berhenti ngemil.” Ucap Khusni prihatin.


“Ya tinggal bikin lagi aja, gitu aja kok repot!” Yana mengambil es tehnya dan menenggak hampir setengah gelas isinya.


“Dasar rakus!” Cibir Via. “Cepet bilang sekarang, kalian mau ngapain tumben dateng ke sini?” Via nggak sabaran.


Oh iya, sampe lupa!” Yana teringat maksud kedatanggnya. “Kamu aja yang bilang, Cintaku.” Ujar Yana pada Khusni sedangkan dia sendiri kembali sibuk meraih toples yang satunya.


“Eh, bentar. Aku minum dulu ya. Dari tadi haus tapi kok nggak ditawar-tawarin sih?” Khusni mencubit cangkir kopi susunya. “Ahhh, nikmat dan pas banget manisnya. Sama kakak kamu, Vi.” Kusni melihat Via dengan wajah tengilnya.


“Ish! Amit-amait! Cibir Via. “Tuh Yan. Liat kelakuan tunangan kamu, di depan kamu aja dia berani ngegodain aku, apalagi di belakang kamu?”


“Ah, nggak papa. Justru biasanya tipe kayak dia ini yang setia, Liv. Daripada yang baik di depan tapi main serong di belakanng?” Yana menaggapi santai sambil terus memamah biak.


Via hanya geleng-geleng kepala, tapi ada benernya juga sih perkataan sahabatnya itu. nggak jauh-jauh, suaminya sendiri selalu manis dan romanitis ketika bersamanya tapi nyatanya malah selingkuh. Duh! Via jadi ingat kenangan pahit itu lagi kan…. Kannnn….


“O ya, gimana kerjaan kamu? Betah kan kamu kerja di perusahaan orang tua Danar?” Kusni menyadarkan lamunan Via.


“Ya dibikin betah aja. Orang kerja kantoran mah dimana-mana juga pasti nggak jauh beda kan, gitu-gitu aja.”


“Gitu-gitu aja gimana? Apa Bu Herlina otoriter orangnya? Dia emang perfeksionis banget sih sama kayak suaminya.” Khusni penasaran.


“Nggak kok, baik banget orangnya. Tapi aku justru jadi stafnya Danar.”


“Widih, udah jadi pimpinan tuh sekarang si tukang kopi!” Khusni nyengir.


“Eh Liv, kamu sadar nggak sih kalo Danar itu kayaknya suka sama kamu.” Celetuk Yana tiba-tiba.


“Kamu bilang apa barusan, Yang?” Khusni kepo.


“Danar kayaknya suka sama Olive. Soalnya aku perhatiin dari pertama kita ketemu bertiga sampe sekarang nih, pandangan matanya tuh keliatan beda kalo ngeliat si Oliv, Cin.”


“Ngaco kamu! Jangan bikin fitnah deh.” Via sebel.


“Terus, terus? “ Khusni malah semangat nggak peduliin Via yang kesal.


“Jadi nih, tiap kali aku liatin Danar natap Via tuh kayaknya ada sesuatu di matanya yang pingin dia ungkapin. Dia juga perhatian banget lho kalo sama Via. Malahan mereka pernah aku pergokin jalan berdua.”


PLETAK!


“Aaww!!” Yana meringis barusan kena lempar kue kering jidatnya. “Kok aku dilempar sih?”


“Makanya jangan asal kalo ngomong!” Via melotot.


“Tapi ini nyata, Liv! Fakta!”

__ADS_1


“Hey, aku punya suami ya kalian jangan lupa! Masa aku tega khianatin suami aku yang lagi jauh-jauh cari nafkah?” Via makin kesal.


“Ya itu kan kamunya, Liv. Tapi Danar kan beda, dia single lho. “


“Ah, udah nggak papa kalo cuman buat selingan sementara Mirza nggak ada sih.” Timpal Khusni dengan entengnya.


“Dasar somplak kalian berdua! Nggak laki-lakinya nggak perempuannya sama aja! Sekarang cepetan kalian bilang mau ngapain kesini? Kalo nggak penting mendingan pada minggat deh sana!” Usir Via galak.


Bukannya takut, Khusni dan Yana malah terkikik ngeliat Via emosi seperti itu.


“Sabar, sabar dong … calon Bu Dirut.” Seloroh Khusni.


“Hiiiy! Ngeselin banget!” Via mengangkat toples mau ngelempar kepala Khusni.


“Eeet ettt, tahan! Jangan emosian Bu, nanti naik darah bisa stroke lho.” Yana mengambil toples dari tangan Via sambil menahan tawa. “Jadi kita itu datang kesini mau ngasih undangan pernikahan.” Ucap Yana kemudian. “Mana Cintaku undangannya, cepet kasihin Olive.”


“Kan sama kamu, Yang.”


“Oh iya lupa, hehe …” Yana membuka tasnya dan menyodorkan undangan pernikahannya pada Via.


“Kok udah mau nikah aja? Kenapa nggak bilang-bilang dulu sih, Yan? Kamu kan biasanya kalo ada apa-apa selalu curhat sama aku?” Via rada nggak terima gitu menerima undangan Yana secara tiba-tiba.


“Ye, baca dulu makanya. Nikahnya masi bulan depan kok.” Yana santuy.


“Terus kenapa ngasihnya sekarang kalo masih sebulan lagi? Ntar aku keburu lupa, gimana?” Omel Via sambil membuka undangan bersampul merah maroon itu.


“Aku mau minta pendapat kamu soal design undangannya, Liv. Kebetulan minggu lalu kan kita abis foto prewed, nah kalo kayak gitu menurut kamu gimana?” Ujar Yana.


“Kalo baru rancangan kenapa udah dicetak? Kamu kan bisa ngirimin contoh-contoh designnya terus aku pilihin? Kan sayang ini udah dicetak?" Via jadi rada nyesel.


“Nggak papa lah, kan yang punya percetakan sepupunya Khusni sendiri di Bandung. Itu cuman contoh kok. Bagus nggak kalo kertas dan designnya kayak gitu? Terus fotonya juga yang itu pas nggak? Kamu nanti tolong bantu pilihin ya, aku kirim file fotonya sekalian sama contoh design undangannya nanti, oke?”


Via menatap sahabatnya itu dengan senyum mengembang.


“Lagian mana mungkin sih, aku nggak ngelibatin sahabatku tersayang ini di momen sacralku nanti.” Yana membalas dengan senyum lebar.


Via yang tadinya kesel banget sama Yana mendadak berubah terharu karena Yana mempercayainya untuk ikut memilih design undangan. Mereka berdua memang begitu, meski selalu ribut tapi selalu saling membutuhkan satu sama lain.


“Oya, Mirza kapan pulang, Vi? Moga-moga nanti bisa hadir ya di acara pernikahan aku sama Yana.” Ucap Khusni.


“Insya Allah awal bulan depan kalo nggak ada halangan udah pulang kok.”


“O, syukur deh.”


“Wah bagus dong! Nanti kalo si Popaye udah pulang kita bisa balapan ya Liv.” Yana berbinar senang.


“Balapan apaan?” Heran Via.


“Balapan bikin anak. Siapa yang cepat hamil berarti dia yang menang.” Sahut Yana dengan senyum lebar.


“Dasar, Yana…..!!!


❤️❤️❤️❤️❤️


SREET ….


Bu Elin memarkir mobilnya di depan rumah Pak Hadi. Ia turun sambil membawa beberapa kotak kue, Bu Elin melewati halaman samping rumah Pak Hadi dan melihat orang yang dicarinya itu tengah bersantai di kebun belakang sambil mambaca koran pagi.


“Halo, Mas.” Sapa Bu Elin.


“Hai Her, dari mana kamu? Tumben ke sini?” Pak Hadi menegakkan posisi duduknya.


“Dari empat senam terus ke sini.” Bu Elin mendaratkan bokongnya di kursi kayu samping Pak Hadi. “Nih kue buat kamu, Mas.”


“Hemm, curiga nih pasti ada sesuatu.”


“Kayaknya masih di kamar, habis subuh biasanya tidur lagi dia kalo week end gini.”


“Kasiahan dia, pasti capek banget tuh anak kerja diforsir tiap hari.”


“Itu kan gara-gara kamu.”


Bu Ein tersenyum. “Aku pnya rencana bagus buat Danar, Mas. Kamu setuju nggak?”


“Rencana apa?”


“Sebentar lagi kan ulang tahun perusahaan, bagaimana kalau kita sekalian saja bikin acara tunangan Danar dan Riri?” Usul Bu Elin dengan semangat.


Pak Hadi melepas kacamatanya. “Kamu tanya sendiri lah sama anaknya, Her. Aku nggak mau terlalu tergesa-gesa. Lagi pula apa kamu sudah meminta persetujuan Dik Harni soal rencana ini?”


Bukannya menjawab, Bu Elin malah menatap Pak Hadi penuh selidik. “Kamu masih berhutang penjelasan lho Mas sama aku.”


“Maksudnya?”


“Ya…, panggilan Dik Harni, Mas Pram, kayaknya intim banget. Pernah ada hubungan apa kamu sama Bu Harni di masa lalu, Mas?”


Pak Hadi malah tersenyum lebar, “Kamu yakin mau tau?”


“Iya. Sebenanya salah satu tujuanku datang kesini ya untuk menanyakan itu juga.” Jawab Bu Elin yang memang tak suka berbelit-belit.


Pak Hadi menghela nafas sebelum mulai penjelasannya. “Dia wanita masa laluku. Dialah orangnya yang membuatku hancur dan melarikan diri sampai ke Jakarta.” Ucap Pak Hadi.


Bu Elin menunggu Pak Hadi melanjutkan ceritanya.


“Kami hampir menikah, tapi apalah daya orag tuanya tak merestui karena aku hanya seorang preman pasar. Mereka menjodohkan Dik Harni dengan pemuda yang lebih mapan.” Pak Hadi menjeda ceritanya sebentar melihat Pada Bu Elin yang masih setia mendengarkan. “Kamu tau kan seperti apa keadaanku ketika di Jakarta waktu itu? Tuhan mempertemukanku dengan orang baik, kamu dan Rian adalah penyelamatku.” Pak Hadi mengulas senyum tulus.


“Apa kamu masih sakit hati, Mas?” Tanya Bu Elin hati-hati mengingat ia tau sendiri berapa kacaunya Hadi muda di masa lalu.


“Aku sudah selesai, Her. Rani mengobati semua luka hatiku.” Pak Hadi kini menerawang.


Keduanya kini diliputi haru mengingat sosok almarhumah Rani yang tak lain ibu kandung Danar yang sangat baik hati itu yang begitu sabar menghadapi semua sikap Hadi Pramana di masa-masa beratnya.


“Rani membuatku sadar dan merasa sangat berharga. Terima kasih ya Her, kamu telah mempertemukan aku dengan sahabat baikmu itu, jika tidak mungkin hidupku tak kan seperti ini.”


Bu Elin mengusap bahu Pak Hadi. “Itu semua sudah jalan yang digariskan Tuhan Mas, aku dan Mas Rian hanya perantara saja.” Bu Elin tersenyum. “Kamu pantas untuk bahagia kerana kamu laki-laki baik.”


Pak Hadi menyeka kedua matanya yang mengembun. “Ah, kenapa tiba-tiba jadi mellow begini?” Kekeh Pak Hadi serya memakai kacamtanya kembali dan membentangkan surat kabarnya lagi.


“Aku selalu saja haru kalau ingat Rani.” Bu Elin pun menarik kesadarannya kembali “Eh, kenapa jadi pura-pura sibik baca koran lagi sih, Mas? Rencana kita buat Danar gimana?” Bu Elin ingat tujuan awalnya.


“Ya kamu atur ajalah semuanya sama Rian.” Sahut Pak Hadi tanpa mengalihkan matanya dari barisan tulisan yang ditekurinya. “Tapi jangan lupa tanya Danar dulu.”


“Mas, simpan dulu dong koranmu!” Bu Elin merebut Koran dari tangan Pak Hadi. “Lagian udah jaman digital begini masih aja baca koran, dasar manusia jadul!” Gerutu Bu Elin.


Pak Hadi cuman nyengir. “Kan aku udah bilang, semuanya terserah kamu aja. Aku pasti mendukung, tapi kamu dan Rian sebaiknya bicarakan rencana ini dengan Danar.”


“Iya, nanti aku ngomong sama anakmu.”


“Jangan lupa kamu juga harus minta persetujuan Dik Harni.”


“Iya iya, Mas Pram …” Bu Elin tertawa, ia sengaja meledek Pak Hadi.


Setelah dirasa cukup, Bu Elin pamit pulang dan memberitahukannya pada suaminya. Berhubung Pak Rian juga sedang tak ada agenda di akhir pekan ini, maka keduanya berencana mengunjungi rumah Bu Harni.


“Jadi ini sekalian lamaran begitu ya Yah?” Bu Ein meyakinkan.


“Ya, bisa dibilang begitu. Tapi nggak resmi.” Jawab Pak Rian.


“Kalo gitu harus ada kue hantaran dan cincin dong, Yah.”

__ADS_1


"Nanti saja, Bu. Kita ngobrol-ngobrol dulu dengan ibunya Riri. Kalo semuanya oke, baru kita kesana lagi bawa kue dan lainnya.”


Bu Elin manggut-manggut.


“Ya udah cepat siap-siap sana, nanti keburu siang. Ayah ada janji main tenis soalnya nanti sore sama wakil wali kota.” Pak Rian melihat arlojinya.


“Hem, katanya hari ini free?” Dengus Bu Elin.


“Tadinya begitu, Bu. Barusan aja dikabarin, masa Ayah tolak, kan nggak enak?”


“Harusnya ayah cepat resign dari semua kesibukan Ayah, biar punya banyak waktu buat ibu. Kan udah ada Danar yang bisa menggantikan semuanya.” Bu Elin sedkit menyesal.


“Tunggu sebentar lagi lah Bu. Lagipula Danar juga belum matang benar kalo disuruh menghendle semuanya. Ayah rasa Mas Hadi terlalu memanjakan Danar, jadinya anak itu kurang siap kalo diminta memimpin perusahaan dalam waktu dekat ini”


“Oya Yah, omong-omong soal Mas Hadi. Aku punya cerita seru nih.” Bu Elin ingat belum menceritakan masa lalu Pak Hadi dengan Bu Harni pada suaminya.


“Cerita seru apa?”


Lalu mengalirlah cerita Bu Elin yang baru saja ia dengar tadi pagi dari Pak Hadi. Pak Rian mendengarkan dengan penuh perhatian sambil sesekali menganggukkan kepala.


“Nggak nyangka kan? Sekarang cinta meraka akan diteruskan oleh anak-anak mereka, semoga semuanya bisa berjalan sesuai yang kita rencanankan ya, Yah?” Bu Elin menutup ceritanya.


“Aamiin, semoga saja.”


“Ya udah, Ibu mandi dulu kalo gitu.” Bu Elin masuk kamar.


Hari menjelang siang, toko Bu Een hari ini tutup karena Udin akan mengantarkan majikannya itu ke tukang pijat khusus patah tulang.


“Kamu yakin Din, orang itu bisa bikin kaki saya ini sembuh?” Bu Een ragu.


“Yakin, Bu! Keampuhannya sudah terbukti kok, banyak pasiennya yang sembuh setelah diurut disana.” Udin meyakinkan. “Ya tapi, kalo lukanya udah expired kayak ibu sih, WaAllahualam.” Lanjut Udin agak pelan.


“Kamu pikir luka saya ini makanan kadaluarsa apa? Kok ngatain expired segala?” Bentak Bu Een.


“Eh, ya … kan ibu jatuhnya udah lama, jadi mungkin agak susah dibenerinya. Kecuali baru jatuh terus langsung di urut.”


“Tadi kamu bilang yakin? Gimana sih!” Bu Een sewot.


“Namanya juga usaha, Bu. Apa salahnya kan dicoba? Emangnya ibu mau selamanya nggak bisa jalan normal lagi kayak biasanya? Kan itu pasti ada tulang yang retak atau geser, Bu. Jadi harus dibenerin, dikembalikan ke letaknya yang semula. Makanya dokter Burhan waktu itu bilang ibu harus digips, tapi ibunya nggak mau.”


“Kok kamu jadi nyeramahin saya sih? Sok tau kamu! Kaki kaki siapa, ya terserah saya dong!” Bu Een makin menjadi, ia nggak terima dibilangin Udin. “Udah, sekarang kamu mau anterin saya apa nggak?”


“Mau, Bu.” Sahut Udin pelan.


Duduh…., sabar banget si Udin ya... udah dibentak, dimarahin, masih juga mau nolongin.


Bu Een naik ke mobil dibantu Udin. Setelah beres, Udin pun melajukan mobilnya perlahan. Mereka menuju tukang pijat ahli tulang yang konon sudah tersohor keahliannya seantero Jati Asri.


“Eh, kok kita lewat sini sih, Din?” Bu Een heran ketika jalan yang dilewatinya mengarah ke jalan rumah besannya.


“Iya memang ini jalannya.” Sahut Udin sambil fous mengemudi.


“Nggak ada jalan lain apa? Puter balik bisa nggak? Males banget saya lewat depan rumahnya si Harni.” Bu Een menggerutu kesal.


“Nggak bisa, Bu. Setelah jalan ini kita lewat persawahan dan kebun jati, baru setelah itu sampai di rumah tukang pijitnya.” Papar Udin.


Bu Elin yang kesal melempar pandangannya keluar jendela. Gondok banget dah hatinya harus lewat rumah besan yang dibencinya. Namun beberapa saat kemudian matanya melebar kala melihat sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah Bu Harni.


“Eeeh, stop! Stop stop disini, Din!” Titah Bu Een tiba-tiba.


Udin pun menginjak pedal rem. “Ada apa, Bu? Kita belum sampai lho.” Udin heran.


“Mundurin sedikit mobilnya, nanti ketahuan lagi.” Perintah Bu Een.


“Ketahuan siapa, Bu?” Udin masih tak mengerti.


“Udah cepetan mundurin mobilnya! Jangan banyak tanya!”


Udin pun nurut, mata Bu Een mengawasi dari jauh dua orang yang keluar dari mobil mewah itu. dari penampilannya jelas sekali terlihat mereka adalah orang kaya. Ya, mereka tak lain adalah Bu Elin dan Pak Rian.


“Siapa mereka? Jangan-jangan penagih hutang. Tapi kok penampilannya mewah dan rapi begitu?” Gumam Bu Een sambil terus memeperhatikan Bu Elin dan Pak Rian yang berdiri di teras rumah Bu Elin setelah mengetuk pintu.


“Oh, ibu kepoin besan ya?” Udin baru ngeh.


“Diam kamu!” Semprot Bu Een.


Tak berapa lama, Bu Harni terlihat keluar membukakan pintu dan nampak terkejut dengan kedatangan calon besannya. Bu Elin yang emang orangnya ramah dan supel langsung cipika cipiki dan memeluk Bu Harni dengan senyum mengembang.


“Eh, kok mereka keliatannya akrab banget sih? Pake pelukan segala lagi.” Bu Een makin kepo, terlebih lagi setelah melihat wajah Pak Rian yang sepertinya familiar.


“Nggak mungkin kalo mereka penaih hutang, Bu.” Timpa Udin.


“Eh Din, coba liat tamu laki-lakinya itu, kayaknya nggak asing ya wajahnya.” Bu Een memperhatikan Pak Rian lebih seksama.


Udin pun menajamkan penglihatannya, karena jarak mereka tak terlalu dekat. “Oh, itu kan Rian Permadi, Bu. Yang nyalon Bupati tapi gagal itu lho, Bu. Pengusaha property paling sukses di kota yang punya ….”


“Ap – apa? Rian Permadi?” Bu Een tergagap. Wajahnya tiba-tiba pias, tubuhnya lemas karena mengingat nama Rian Permadi yang pernah diceritakan Bujel tempo hari itu. Bu Een mencatat nama itu baik-baik di memorinya keika Bujel menceritakan Via bekerja di perusahaan Rian Permadi.


“Iya, Rian Permadi calon bupati periode lalu, Bu. Yang fotonya ada dimana-mana, tapi sayang beliau gagal jadi bupati.” Ungkap Udin tanpa menyadari perubahan raut wajah majikannya.


“Ada apa dia datangin rumah Harni…. “ Gumam Bu Een lemas setalah Bu Elin dan Pak Rian masuk rumah Bu Harni.


“Wah, kurang tau saya, Bu. Apa perlu saya tanyakan langsung ke orangnya, Bu?” Udin mau membuka pintu mobil.


“Jangan!” Bu Een pulih kesadaran, perlahan ia berhasil menguasai syoknya. “Puter balik, Din. Kita pulang!”


“Pulang, Bu? Kan kita mau terapi ke tukang pijat?”


“Kalo saya bilang pulang ya, pulang!” Bu Een kembali galak.


“Terus pijatnya?” Udin ngeyel.


“Nggak ajdi! Nggak ada pijat-pijatan!” Bu Een menghempaskan punggungnya ke sandaran jok dengan perasaan kesal yang menjadi-jadi.


Akhinya Udin menuruti kemauan majikannya itu, meski Udin pingin baget liat majikannya sembuh tapi apa mau dikata, daripada dia dipecat lebih baik manut aja.


Ada keperluan apa mereka sampai mendatangi gubug si Harni itu? Cih! Bisa besar kepa dia dikunjungi orang kaya macam mereka! Apa mungkin bosnya Via itu datang kesana mau ngomongin soal kenaikan jabatan Via yang mau jadi manager seperti yang diblang sama si ikan buntal itu? Ah tapi masa iya, urusan pekerjaan nggak dibahas di kantor, pake bawa-bawa keluarga segala? Ini pasti ada apa-apanya ini, ngak mungkin kalo nggak! Pasti masalahnya lebih pribadi!


Bu Een terus bermonolog dalam hatinya mencoba menerka-nerka apa sebenarnya yang terjadi anatar besannya dengan keluarga sang pengusaha kaya itu.


Ya ampun! Apa mungkin mereka …. Ah, nnggak mungkin! Nggak mungkin kalo si Harni mau nikah lagi sama si Hadi preman pasar itu! Tapi si ikan buntal bilang, anaknya Hadi itu diangkat anak oleh Rian Permadi, dan Via bekerja di perusahaan yang dipimpin si anak angkat itu. Hemm, aku harus cari tau ini, ada berbagai macam kemungkinan dengan hubungan diantara mereka. Mungkin Via, mungkin Harni, mungkin juga si Riri anak tengik itu yang berhubungan dengan keluarga kaya raya itu. Aku nggak bisa tinggal diam kalau memang benar salah satu kemungkinan itu ada yang benar. Aku nggak akan biarin si Harni janda pensiunan pegawai rendahan itu bisa lebih kaya dari aku! Liat aja, aku bakal cari tau semuanya!


“Bu, ibu! Kita udah sampai.” Tegur Udin yang sedari tadi rupanya ngasih tau kalau udah nyape rumah Bu Een tapi dicuekin karena si majikan itu asyik dengan benaknya sendiri.


“Udah nyampe? Kenapa nggak bilang dari tadi sih!” Semprot Bu Een kesal. “Cepetan bukain pintunya!”


Udin hanya bisa mengelus dada pasrah dengan tingkah majikannya yang semakin aneh itu.


Sabar ya Din, orang sabar anunya lebar, hehe….


❤️❤️❤️❤️❤️


Akhirnya bisa up juga. Maaf beribu maaf buat pembaca setia karena othor telat banget up nya. 🙏🙏🙏


Yang kangen babang Mirza, tungguin ya…. Bentar lagi pulang ko.😊😊😊


Terima kasih sudah membaca dan setia menantikan kisah lanjutannya. Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak. 😍😍😍


Luv U all.🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2