
Hari ini cerah. Matahari merangkak naik membangkitkan semangat jiwa-jiwa malas yang biasanya masih meringkuk memeluk guling pada jam segini di hari-hari yang biasanya mendung dan terkadang gerimis. Begitu juga dengan Ica, dia sudah bangun sedari lepas subuh dan ikut berjibaku dengan ibunya di dapur rumah kontrakan Via. Anak itu duduk sambil asyik makan tempe goreng dan mengempit boneka beruang di ketiak kirinya.
“Hemm, wangi aroma masakan Mbak Tia kecium sampe depan lho?” Ucap Via yang masuk membawa ember habis menyiram tanaman di halaman depan.
“Ayo sarapan dulu, tante. Ica udah laper nih.” Ajak Ica. “Tempe gorengnya enak lho, ini Ica yang bikin.”
“Oya?” Via berlagak kaget. “Wah, Ica pinter ya udah bisa bikin tempe goreng?” Puji Via pada keponakannya.
“Iya dong! Tapi Ica cuman yang ngaduk tepungnya aja, yang nggoreng sih tetep bunda.” Celoteh anak itu polos lantas tangan mungilnya kembali mengambil sepotong tempe goreng tepung lagi dan mengunyahnya.
Via tersenyum. “Sebentar ya, Tante belum selesai nyiram nih. Nanti kalo udah selesai kita sarapan bareng.”
“Kenapa repot-repot pake ember sih, Vi? Pake selang kan bisa, lebih praktis lagi.” Timpal Tia seraya mengangkat masakannya ke dalam mangkuk besar dan membawanya ke meja makan.
“Keran di depan rusak, Mbak. Nanti dibenerin dulu.” Sahut Via lantas mengisi ember dan membawanya ke halaman lewat pintu belakang rumahnya yang baru dibukanya.
Udara pagi yang segar segera menyeruak menggantikan aroma masakan yang memenuhi seisi ruangan dapur. Tia ikut melongok ke halaman belakang rumah kontrakan Via yang tak terlalu luas itu. hanya ada dua pohon pepaya dan jemuran pakaian di sana.
“Bunda, ayo sarapan! Ica udah laper nih!” Rengek Ica menarik bundanya dari belakang yang sedang mengeksplore halaman belakang rumah kontrakan Via.
“Iya, sayang. Sebentar, bunda siapin piringnya dulu ya? Ica tunggu di meja makan sana.”
Anak itu mengangguk patuh dan menuju meja makan masih dengan boneka beruang diantara ketiak kirinya. Tia tersenyum melihat tingkah polos putrinya, rasa-rasanya sudah hampir habil 5 potong tempe goreng masih saja merengek kelaparan anak itu. hhmm, dasar Ica!
“Wuiih! Sarapannya menu komplit banget nih!” Via masuk dan memandangi masakan yang tersaji.
Sayur santen daun singkong, tempe goreng, ikan nila goreng, telor balado dan tak ketinggalan sambal tomat sudah bertengger dengan manis di atas meja makan.
“Perasaan aku nggak punya ikan deh Mbak di kulkas?” Tanya Via heran.
“Itu Mbak sengaja bawa dari rumah hasil mincing Mas Arya. Mbak masukin kulkas kamu kemarin.” Sahut Tia dari dapur.
“Mantap! Terus ini daun singkong sama tempe?”
“Mbak belanja ke warung di ujung gang blok sebelah sana tadi pagi abis sholat subuh.” Tia meletakkan teko dan beberapa gelas kemudian menghempaskan pantatnya di kursi samping Ica.
“Di ujung gang ada warung sayur? Masa sih, Mbak? Kok aku nggak tau ya?” Via makin heran.
“Makanya gaul! Jangan cuman di rumah aja kayak siput!” Seloroh Tia sambil menyendokkan nasi ke dalam piring.
“Beneran lho Mbak, aku nggak tau."
“Ya nggak diujung gang sini, Vi. Blok sebelah itu lho, Mbak tau karena kemarin sama Mas arya nyasar kesitu waktu nyari rumah kontrakan kamu ini.” Ungkap Tia.
“Oh, pantesan …” Via manggut-manggut.
“Udah ah, ayo makan. Ngomong mulu.” Ajak Tia yang sudah selesai mengisi nasi pada tiga piring yang disiapkannya.
Mereka pun memulai sarapan dengan menu komplit yang sebelumnya dipimpin berdoa dulu oleh Ica. Anak itu selalu merasa sangat senang jika disuruh memimpin doa sebelum makan.
_______
Sementara itu dikamarnya Sofi baru saja bangun dan bersiap untuk mandi. Dia sengaja bangun lebih siang dan meminta sarapan di kamar karena enggan bergabung dengan para kolega suaminya di meja makan. Bagi Sofi terlalu berbasa-basi dengan para tamu hanya membuang waktu saja, lagipula dia malas ketemu dengan ayah mertuanya yang mungkin saja akan membuatnya malu didepan para kolega bisnisnya.
Ceklek.
Pintu kamar dibuka dan wajah Ramzi muncul dengan senyum lebar diikuti seorang pelayan wanita yang membawa nampan sarapan Sofi.
“Bagaimana kabarmu, istriku?” Tanya Ramzi mendekat ke bibir Rajang.
“Baik, Kak.” Sahut Sofi mencoba biasa saja meski hatinya mulai waswas akan sikap manis suaminya. “Kak Ram kenapa belum berangkat kerja?” Tanya Sofi kemudian.
“Untuk mebayar rasa bersalahku, hari ini aku akan menemanimu seharian.”
DEG!
Sofi tiba-tiba disergap ketakutan, wajahnya pias seketika.
“Sayang, wajahmu pucat.” Ramzi mengusap pipi Sofi lembut.
“Emh, aku … aku masih pusing …” Sofi mencari alasan.
“Tenang saja, aku di rumah untuk menemanimu.”
“Makasih, Kak. Tapi aku nggak papa kok.” Sebaiknya kak Ram berangkat aja.” Ujar Sofi ragu.
“Aku hanya akan memeriksa beberapa berkas di ruang kerja. Urusan kantor biar Papa yang handle.”
Sofi memegangi pelipisnya, berakting seolah pusing beneran.
“Istirahatlah, kalau ada apa-apa aku di ruang kerja ya.” Ramzi mengusap kepala Sofi dan,
Cup!
Satu kecupan singkat didaratkan olehnya di kening Sofi lantas segera keluar kamar untuk ke ruang kerjanya.
Apa dia barusan menciumku? Kurang ajar banget si brewok itu, sok rumantis! Cih!
Batin Sofi geram sambil menatap daun pintu kamarnya yang baru saja tertutup.
Lantas ia memikirkan bagaimana caranya agar tak dipedaya oleh suaminya itu. di satu sisi sofi khawatir suaminya mencari celah untuk menyalurkan hasratnya yang tertunda dan di sisi lain Sofi juga memikirkan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan jalan masuk ke ruang rahasia yang kemungkinan besar Ramzi menyimpan semua dokumen dan surat-surat berharga miliknya disana.
__ADS_1
“Sial banget sih! Kenapa si brewok itu harus nggak masuk kerja dan sok perhatian sama aku? Padahal kalo dia berangkat ke kantor, aku pasti bisa masuk lagi ke ruangannya.” Sofi bermonolog kesal.
Lantas dia memutuskan untuk mandi dan menghabiskan berpuluh-puluh menit berendam di bath tub sambil terus memikirkan cara terbaik untuk masuk ke ruangan itu, untung saja kulitnya nggak terkelupas saking lamanya tuh orang berendam.
Selesai mandi sofi mengeringkan rambutnya dengan hair drayer lalu segera menyantap sarapannya yang sangat kesiangan itu. beberapa detik kemudian,
TING!
Sofi teringat sesuatu. Ia segera merapikan bakinya dan membawanya ke lantai bawah. Seorang pelayan yang melihatnya segera tergopoh untuk mengambil baki itu dari tangan sofi.
“Nyonya, maafkan saya. Seharusnya Anda tak membawa baki ini sendiri. Sekali lagi, maafkan saya.” Pelayan itu menunduk seolah beru saja melakukakn kesalah terbesar dalam hidupnya.
“Tidak apa-apa, aku memang sengaja mau membawanya ke dapur karena aku mau meminta sesuatu.” Ujar Sofi enteng.
Pelayan itu mengangkat wajahnya masih dengan raut kekhawatiran yang tergurat jelas.
“Silakan, Nyonya. Saya akan membuatkannya untuk Anda.”
Sofi tersenyum, “Ini waktunya suamiku minum teh kan?”
“Betul, Nyonya. Linda sedang memersiapkannya dan akan saya antar ke ruang kerja Tuan Ram sebentar lagi.”
“Biar saya yang antar.” Tukas Sofi seraya menuju dapur.
“Tapi, Tapi Nyonya …” Pelayan itu mengejar langkah Sofi yang beralan penuh rasa percaya diri. “Nyonya tolong jangan lakukan itu, saya bisa dipecat Tuan Gerald.” Ucap si pelayan memohon ketika Sofi hampir saja mencapai pantry.
“Nyonya Sofia, apa ada yang bisa saya bantu?” Gerald sang kepala pelayan tau-tau muncul dari belakang dan kontan membuat si pelayan wanita itu ketakutan.
“Tidak ada apa-apa, Gerald. Aku hanya sedang menunggu teh untuk suamiku dan akan mengantarkannya ke ruangan kerjanya.”
Gerald menatap tajam pada si pelayan wanita yang semakin tertunduk dalam.
“Bukan salahnya, aku yang memintanya sendiri.” Ucap Sofi yang paham arti tatapan Gerald.
“Baiklah, akan saya bawakan untuk Anda Nyonya.” Gerald masuk dan kembali dengan teko porslen dan cangkir di atas nampan. “Silakan, Nyonya.” Gerald mengangguk hormat lalu mempersilakan Sofi jalan duluan.
Sofi yang sempat ragu karena rencananya tak berjalan sesuai harapan, terpaksa berjalan juga.
Menyebalkan! Si kepala pelayan ini nggak ngijinin aku bawa tehnya sendiri. Hmm, kalo kayak gini gagal deh rencanaku.
Batin sofi kesal yang berencana bakal bikin suaminya moncor dengan sisa bubuk pencahar yang dia punya dan diselipkannya di saku dressnya.
“Ini, silakan Nyonya.” Kepala pelayan memberikan baki pada Sofi setelah mengetuk pintu ruang kerja Ramzi.
Ceklek!
Kepala pelayan pun membukakan pintu untuk Sofi. Ramzi yang melihat istrinya membawakan teh langsung berdiri dengan surprise.
Sofi jadi tegang tiba-tiba.
Sial! Gara-gara si Gerald ini!
“Kemarilah sayang. Kau membawakan teh untukku, kan?” Ramzi tersenyum menyambut Sofi.
Agak ragu Sofi mendekat dan meletakkan nampan itu di atas meja kerja Ramzi.
“Kak Ram, aku …”
Belum sempat Sofi melanjutkan kalimatnya, tangan kekar Ramzi sudah menariknya sehingga membuat Sofi jatuh terduduk di atas pangkuan Ramzi.
“Aku senang kau melakukannya, sayang. Makasih ya.” Ramzi mengendus telinga Sofi yang seketika membuat Sofi meriding sampe ubun-ubun.
“Kak, biar aku tuangkan tehnya ya…” Sofi berusaha melerai perlahan tangan Ramzi dari tubuhnya. Dia bangkit untuk menuangkan teh dengan perasaannya yang tak karuan.
Aroma teh barley yang khas langsung menyeruak memenuhi seisi ruangan.
“Silakan, Kak.” Sofi menyodorkan cangkir pada Ramzi.
“Minumlah sayang. Kau harus minum juga, teh barley ini sangat baik untuk kesehatan.” Ramzi malah mengambil cangkir itu dan memberannya pada Sofi.
Tanpa banyak kata, Sofi menyesap teh hanagat yang terbuat dari ekstrak biji barley yang beraroma khas itu. pikirannya melayang kemana-mana. Ia benar-benar merasa terjebak dalam ruangan Ramzi dan entah bisa keluar dengan selamat atau tidak.
“Bagaimana sayang? Nikmat bukan?” Tanya Ramzi kemudian.
“He emm…” Angguk sofi.
Lantas serta merta Ramzi berdiri dan mengambil cangkir itu dan minum dari bekas bibir Sofi sambil matanya tak lepas menatap pada istrinya.
Mampus aku! Dia pasti akan melahapku kali ini!
Ramzi melatakkannya perlahan dan benar saja, dia segera menarik Sofi ke dalam pelukannya. Tangan kekarnya sudah meraba tengkuk Sofi dan nafasnya mulai terasa gusar.
“Sayang, kau sudah kelihatan lebih baik. Aku tahu, kau mengantarkan teh ini karena ingin bersamaku kan?” Bisik Ramzi.
Idih! Ge er banget sih, si brewok ini! Kalo bukan karena kepala pelayan sialan itu, kamu pasti sudah kubuat mules-mules wahai, bewok!
“Sayang, kenapa kamu tegang begitu?” Ramzi menurunkan pandanagnnya pada melon kesukannya dan jarinya mulai bermain nakal disana.
“K – Kak, apa kita akan melakukannya disini …?” Tanya Sofi sangat cemas
Dengan gerakan gesit, Ramzi langsung membopong tubuh Sofi.
__ADS_1
“Kak, Jangan …”
“Tenang saja, sayang. Aku pun tak mau keasyikan kita terekam CCTV.” Ucap Ramzi dengan senyum misterius.
Hah? Jadi ruangan ini ada CCTV-nya?
Bodoh! bodoh! Berarti ulahku kemarin pasti ketahuan. Haduh, gimana ini? Kenapa aku sampai tak memperhitungkan hal itu!
Semetara Sofi merutukki kebodohannya sendiri, Ramzi sudah membawa tubuh Sofi ke dekat rak buku, dan dengan badannya yang besar, Ramzi mendorong rak itu menggunakan bahunya dan mendekatkan mulutnya pada knop pintu yang terbuat dari perak itu dengan mengucapkan satu kalimat kunci, pintu itu langsung terbuka.
Whola!
Sofi terkejut melihat ruangan itu. Dia hampir tak percaya bisa berada disana setelah kemarin bersusah payah ingin membukanya. Ruangan itu
tak terlau besar, disana hanya ada satu ranjang king size dan dua buah lemari serta satu set meja dan kursi kerja.
Pucuk dicinta ulam pun tiba!
Sofi memekik girang dalam hati karena bisa masuk ke dalam ruangan itu tanpa harus susah payah mengobrak-abrik mencari kuncinya.
“Kita akan melakukannya disini, sayang.” Ucap Ramzi yang sudah membaringkan Sofi di atas ranjang dan membuka satu persatu kancing dress Sofi diikuti dengan mata laparnya yang siap melahap melon segar yang dirindukannya.
Otak Sofi berpikir cepat, dia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Oke, aku akan memberikanmu service yang memuaskan, brewok!
Sofi segera membalas dengan senyuman menggoda membuat Ramzi makin terpancing.
Setelah bolak balik pemanasan sampai gosong, akhirnya mereka sampai pada permainan inti.
GEDEBAK! GEDEBUK!
GUBRAK!
GOSRAK!
NGOK … NGOK…!
NGIIK ...!
GEDUBRAK …!!
Permainan panas itu akhirnya dimenangkan oleh Sofi, sodara-sodara. Tubuh Ramzi langsung terkulai lemas disisi ranjang dalam keadaan polos paripurna. Sofi menepuk-nepuk pelan pipi suaminya untuk meyakinkan bahwa suaminya itu benar-benar tak berkutik lagi.
“Alamak! Apa dia mati?”
Sofi kaget sendiri.
“Ah, bodo amat! Sekarang aku harus segera menemukan yang aku cari.” Lirih Sofi sambil pelan-pelan bangkit dari tempat tidur.
Sofi mengernyit menahan nyeri yang luar biasa pada pangkal pahanya dan kedua melonnya.
“Dasar brewok….! Suka banget dia nyiksa aku…!” Maki Sofi tertahan sambil berusaha berjalan menuju lemari besar di samping meja.
“Dikunci.” Sofi mencari kunci di seketir meja kerja Ramzi namun tak menemukannya. Lalu dia membuaka lacinya dan…
Tadaaaa….!
Ada beberapa kunci yang tersimpan di wadah dalam laci itu. Sofi segera mengambilnya dan mencoba satu persatu dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan bunyi sehingga bisa membangunkan suaminya.
KREK!
Satu anak kunci masuk dan Sofi berhasil membuka lemari itu. mata Sofi langsung menangkap brangkas dia dalam lemari itu. sofi mengabaikannya, dia tak tertarik karena memang bukan uang yang dicarinya. Sofi lantas membuka satu lemari lagi dengan anak kunci yang tersisa.
KREK!
Terbuka lagi, dan mata Sofi menemukan beberapa map disana. Tangannya dengan gesit mengambil dan memeriksa satu persatu isi map-map itu.
AHA!
Dia menemukan sertifikat rumah orang tuanya! Sofi girang bukan main. Dia lantas mencari beberapa dokumen penting lainnya. Setalah menimbang beberapa saat, dia memutuskan untuk mengambil surat-surat kepemilikan perusahan garmen dan hotel milik keluarga Alatas.
Mampus kalian! Sinis Sofi.
“Ngh …” terdengar lenguhan dari mulut Ramzi yang membuat Sofi terkejut. Untungnya Ramzi hanya menggeliat dan mungkin itu hanya igauan karena baru saja merasakan kenikmatan yang membuatnya tumbang.
Karena khawatir, Sofi lekas merapikan kembali map-map itu dan mengunci kedua lemari kemudian meletakkan kembali semua kunci pada wadahnya semula. Masih ada perusahan travel haji dan umroh juga perusahaan penambangan batu bara yang belum ia temukan surat-surat pentingnya. Sofi bertekad harus menemukannya lain kali.
Sofi segera mengenakan pakaian kembali dan menyimpan map itu dibalik dressnya kemudian meninggalkan suaminya begitu saja.
________
Maafkan ya Kak, dari kemarin baru up 🙏🙏
Kesibukan awal bulan pada dunia nyata sedikit bikin keteteran nih.😅😅
Othor usahakan besok kembali up ❤️❤️
Terima kasih akak readers tercinta dan akak othor kece semua atas supportnya.😍😍
Luv u all🤗🤗😘😘
__ADS_1