
Lepas Isya acara pindahan Mirza dan Via selesai dengan dibantu Om Jaka, Firman dan Yanti.
“Silakan diminum kopinya.” Yanti meletakkan tiga gelas kopi di meja tamu yang dibawanya dari dapur.
“Maksih ya, maaf udah ngerepotin kalian.” Ucap Mirza.
“Nggak papa, kami seneng kok bisa bantuin kamu sama Via. Iya kan, Mas?” Sahut Yanti seraya melihat pada suaminya.
“Iya, namanya juga sama temen, apalagi kita udah jadi tetangga sekarang.” Timpal Firman.
“Kayaknya elu sama Via bakal lebih cocok tinggal di sini, Za. Jauh lebih aman.” Om Jaka mengulas senyum sebelum meraih gelas kopinya.
“Yah, moga aja deh, Om.”
“Aku sama istri turut prihatin ya Za, sama masalah yang dihadapi kamu. Sabar aja, rejeki itu udah ada yang ngatur.” Imbuh Firman bijak, karena dia udah tau masalah Mirza dan ibunya.
Mirza mengangguk tersenyum.
“Kalo gitu, aku pamit duluan deh. Nanti Kiky takut nyariin, udah waktunya tidur soalnya nih.” Yanti pamit karena ingat sama anaknya.
Yanti berlalu, sementara Mirza masih ngobrol dengan Om Jaka dan Firman di ruang tamu.
Via merebahkan diri di kamar barunya karena kakinya terasa pegal-pegal.
Meskipun Via hanya mengerjakan pekerjaan yang tak begitu berarti, tapi badannya kerasa capek banget. Matanya mulai mengantuk, namun ia tak bisa langsung tidur karena merasa kegerahan. Maklumlah AC belum bisa langsung dipasang, mungkin besok nunggu tukung AC nya datang.
“Sayang, kamu kepanasan ya?” Kepala Mirza tiba-tiba menyembul dari balik pintu kamar, dia melihat Via sedang mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
“Eh, nggak kok Mas. Cuman sedikit kegerahan aja.” Sahut Via yang agak kaget melihat kemunculan suaminya.
Mirza berjalan dan mengambil gulungan kalender yang belum sempat dipasang, lalu merobeknya selembar dan melipatnya.
“Sini, Mas kipasin. Kamu pasti ngantuk, capek banget ya?” Mirza duduk di samping Via setelah menata beberapa bantal untuknya sandaran.
“Yanti udah pulang, Mas?”
“Udah, barusan aja.”
“Beruntung ya kita punya tetangga baik kayak Yanti dan Firman, Mas?”
“Iya.” Mirza terus berkipas ria sambil mengusap-usap kepala istrinya kayak emak-emak lagi nina bobokan anak bayi.
“Eh, Mas.” Via kemudian mendongak. “Gimana reaksi ibu kalo tau tau kita udah pindah ya? Mas nggak bilang kalo kita pindah hari ini juga kan?”
“Nggak usah kamu pikirin itu, sayang.” Hibur Mirza.
“Tapi keluarga aku juga belum tau lho Mas kalo kita pindah.” Via masih menatap wajah suaminya.
“Bosok kita main ke rumah ibu dan Mbak Tia, ya.”
Via mengangguk.
“Oya, Mas. Tadi sore kayaknya ada Pak RT ya waktu kita mau angkut barang-barang?” Via teringat kejadian sore tadi ketika masih di rumahnya.
“Iya, Pak RT nanyain sopir truknya yang bawa perabotan kita. Salah Mas juga belum sempat pamit ke Pak RT.” Mirza sedikit menyesal.
“Bagus deh kalo Pak RT ternyata udah tau kita pindahan, paling nggak kan kalo ada orang yang nyari kita ke sana ada Pak RT yang ngasih tau.”
“Iya, sayang. Udah kamu cepetan tidur, jangan ngomong terus. Cup!” Mirza mengecup singkat pipi istinya.
“Ya ampun, Mali! Gue kira elu kemana, nggak taunya lagi indehoy dimari?” Seru Om Jaka dari ambang pintu kamar Via yang emang dibiarkan terbuka.
“Apaan sih Om, indehoy-indehoy? Bahasanya tua banget, dasar Om Om!” Mirza sebal.
__ADS_1
“Ntu dicariin Firman, Mali! Dia mau pamit pulang!” Sahut Om Jaka nggak kalah sebelnya.
Mirza bangkit. “Kemarin manggil Bokir, sekarang Mali. Huh, dasar Bolot!” Balas Mirza ketika melewati Omnya.
“Dasar ponakan nggak ada ahlak lu! Nggak ada sopan-sopannya sama orang tua!” Gerutu Om Jaka sambil mengekor langkah Mirza.
Via hanya tersenyum melihat tingkah Om dan keponakan itu. Meski kadang berisik, tapi mereka menghibur juga buat Via.
__________
Kesibukan di rumah keluarga Alatas sudah usai karena semua pelayan sudah masuk ke kamarnya masing-masing.
Waktu menunjukkan hampir tengah malam, ketika Sofi kembali merasakan nyeri di perut bagian bawah.
“Aduuuh….” Sofi sedikit membungkuk setelah keluar dari dalam kamar mandi. “Ssssh, kenapa ini? Ya, Tuhan! Sakit banget….!” Rintih Sofi.
Rasa sakit di perutnya yang tiba-tiba menyerang membuat Sofi limbung, ia terhuyung untuk mencapai ranjangnya.
BRUUKK…!
Belum sempat menggapai ranjang, tubuh Sofi sudah ambruk ke lantai.
“Aaargh …..!” Sofi menjerit karena rasa nyeri yang semakin hebat di perutnya.
Mata Sofi terpejam menahan rasa sakit yang ia rasakan di rahimnya.
“Tolong ….! Aaahrghh…” Sofi melolong meminta pertolongan di tengah malam karena harus menghadapi sakit seorang diri.
Sia-sia, tak ada yang mendengar suaranya. Sofi merayap menyeret tubuhnya ke dekat nakas untuk meraih ponselnya.
PRANG!
Tangan Sofi malah tak sengaja menyambar gelas berisi air putih di atas nakas. Gelas itu pun pecah berkeping di dekat kepalanya.
Sofi menangis, masih mujur bagi dirinya serpihan gelas kaca itu tak mengenai mata atau kepalanya.
“Kak Ram …” Desis Sofi berusaha mencari kontak suaminya.
Cairan hangat itu semakin banyak dirasakan Sofi keluar diantara kedua pahanya. Sementara badannya mulai mengigil dan perutnya semakin kram seperti diremas-remas oleh tangan-tangan ghoib.
Sofi mengatur nafasnya yang mulai lemah. Tangan kiri Sofi yang sedari tadi memegangi perut, mencoba meraba bagian kewanitaannya, dan betapa kagetnya ketika Sofi mengetahui itu adalah cairan berwarna merah.
Di sebuah club malam,
Ramzi duduk berdua dengan Jane yang sedang asyik menikmati dentuman musik yang diolah sang DJ.
Drrrrttt…. Drrrrtt….
Ponsel Ramzi yang sedari tadi tergeletak pasrah dimeja bergetar dan layarnya memperlihatkan foto Sofi.
“Istri kamu telpon.” Ucap Jane masih dengan kepala yang kadang manggut kadang geleng persis kayak ayam jago lagi kena sawan.
Di luar kantor Jane memang tak menggunakan panggilan formal pada Ramzi.
“Ram, istri kamu telpon!” Ulang Jane karena Ramzi masih cuek menikmati rokoknya.
Ramzi hanya melihat ponselnya tanpa berminat menerima panggilan dari Sofi.
“Kamu mabuk ya?” Kesal Jane yang melihat Ramzi tak bergeming.
“Biarkan saja. Buat apa tengah malam begini dia telpon.” Ramzi cuek kemudian kembali asyik mengisap dalam rokoknya.
Ponsel Ramzi pun berhenti bergetar. Ramzi meraih slokinya dan menenggak isinya.
__ADS_1
Drrrtt…. Drrrrtt….
“Angkat, Ram! Siapa tau penting!” Jane sedikit berteriak berlomba dengan suara hingar bingar musik dari DJ yang sibuk berjingrak-jingkrak di stage.
“Ck, ah!” Ramzi berdecak kesal.
Namun Ramzi tak ayal menerima juga panggilan telpon dari Sofi.
“Halo, ada apa?” Sapa Ramzi kasar.
Tak terdengar suara dari seberang.
“Hey, kamu ngerjain aku ya? Ada apa telpon tengah malam begini?” Nada suara Ramzi meninggi.
“Kak Ram ….” Rintih Sofi dari seberang.
DEG!
Jantung Rmazi berdebar, wajahnya berubah khawatir demi mendengar suara Sofi yang lemah dan terisak.
“Sofi? Kau kenapa?” Tanya Ramzi agak khawatir.
“Kak …. Tolong……” Sofi tak meanjutkan kalimatnya.
“Sofi!” Panggil Ramzi benar-benar panik. “Sofi…!”
“Ada apa, Ram? Kenapa istrimu?” Jane ikutan panik.
“Entahlah, sepertinya dia kesakitan.” Ramzi gusar. “Ya, Tuhan!” Pekik Ramzi begitu ingat akan hal yang mungkin sekarang sedang dialami Sofi.
Segera dimatikannya sisa rokoknya ke dalam asbak porselen di dekatnya. “Aku harus pulang sekarang.” Ramzi bangkit.
“Kenapa Sofi, Ram?” Jane masih penasaran.
“Maaf, aku duluan. Nanti aku kabari kamu!”
Ramzi melangkah cepat keluar dari club meninggalkan Jane yang masih terbengong-bengong keheranan.
Dihubunginya nomor kepala pelayan sebelum dia sampai di parkiran untuk melaju dengan mobilnya.
“Bangunkan semua pelayan, lihat keadaan istriku dikamarnya!” Perintah Ramzi pada kepala pelayan.
Ramzi mengendarai mobilnya membelah jalanan metropolitan yang tak pernah lengang meski sudah tengah malam sekali pun.
Sementara itu seorang pelayan wanita masuk kamar Sofi bersama dengan dua orang pelayan laki-laki di belakangnya.
“Nyonya!” Pekik pelayan wanita itu begitu melihat kondisi Sofi yang sudah tak sadarkan diri tergeletak dilantai dengan darah yang menggenang di dekat kaki Sofi.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” Tanya dua pelaya laki-laki yang berdiri agak jauh dari Sofi.
“Tolong segera kabari Tuan Ram, Nyonya Sofi tak sadarkan diri.”
“Baik.” Sahut salah satu dari palayan dan berbalik hendak keluar namun keburu kepala pelayan datang.
“Bagaimana kondisinya?” Kepala pelayan yang baru datang langsung menghampiri dan kaget melihat darah menggenang di lantai kamar majikannya. “Segera panggilkan ambulance.” Perintahnya pada pelayan tadi.
___________
Hai akak, maaf ya up nya sedikit🙏🙏
mohon maklumya, masih berjibaku dengan kesibukan dunia nyata…🙏🙏❤️❤️
Terima kasih akak readers tersayang dan akak othor tercinta yang selalu setia support Via❤️Mirza
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak 😍😍😍
Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘