
“Saya terima nikah dan kawinnya Denaya Chaerani Subarkah binti Haji Subarkah dengan maskawin seperangkat alat sholat dan cincin emas seberat 5 gram dibayar tunai.” Om Jaka mengucapkan kalimat ijab qobul dengan lantang dalam sekali tarikan nafas.
“Bagaimana para saksi?” Tanya Penghulu.
“SAH …!” Sahut para saksi dari kedua belah pihak mempelai berbarengan dengan para tamu undangan seisi masjid kompak mirip paduan suara.
“Alhambulilah….” Semuanya mengucap syukur.
Lantas setelah selesai berdoa dan membacakan Sighat Taklik, Om Jaka dan Denaya pun berpose dengan memegang buku nikah mereka seraya tersenyum lebar penuh kebahagiaan di depan kamera.
Cekrek cekrek cekrek
Beberapa kamera mengabadikan momen bahagia mereka.
Para undangan dari kerabat dan saudara bergantian memberikan selamat, tak terkecuali Via dan Mirza. Sedangkan sebagian yang lain sudah terlebih dahulu menuju rumah Haji Barkah, termasuk Bu Een.
“Om, selamat ya. Akhirnya nikah juga, hehe….” Mirza merangkul Om kesayangannya yang kadang menjengkelkan itu seraya menepun-nepuk punggungnya.
“Ish, Mas Mirza nih. Doakan yang baik dong.” Via mendelik mengingatkan. “Selamat ya Dena, semoga sakinah mawaddah warrahmah.” Ucap Via tulus memeluk Denaya.
“Aamin. Makasih ya, Vi.” Balas Denaya dengan senyuman.
“Ya udah, ayok kita lanjutin nanti di kamar.” Ucap Om Jaka.
“Eh, apa? Wah, Om Jaka udah nggak sabar mau ke kamar aja!” Via kaget demi mendengar kalimat Om Jaka barusan.
“Apaan? Emangnya aku tadi bilang di kamar?” Om Jaka bingung sendiri tak menyadari ucapannya. “Maksudku kita lanjutin di rumah, pasti semuanya juga udah lapar kan?” Ralat Om Jaka sambil garuk-garuk pelipisnya salah tingkah membuat yang melihatnya tergelak.
Denaya jadi tersipu malu. Haji Barkah hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Om Jaka yang kini sudah remsi menjadi menantunya.
Lantas rombongan pengantin pun meninggalkan masjid menuju rumah Haji Barkah. Sebagian dari mereka nampak sudah duduk menikmati hidangan sambil menyaksikan pertunjukkan musik di mini stage dan sebagian yang lain masih mengantri di meja prasmanan yang berada di sisi kanan dan kiri halaman rumah Haji Barkah.
Ya, halaman rumah Haji Barkah yang sangat luas dan rindang disulap sedemikian rupa sehingga terlihat sangat rapih dan bagus. Dengan hiasan bunga dimana-mana membuat suasanyanya mirip garden party. Meski ini katanya hanya acara sederhana, namun tetap saja sangat mewah, keran Haji Barkah orang paling kaya sekecamatan.
“Dena, kamu laper nggak? Aku ambilin makan ya.” Tanya Via pada Denaya yang baru bisa duduk selesai menyalami para tamu yang masih saja terus memberinya ucapan selamat.
“Belum lapar kok, Vi. Tadi pagi soalnya udah sarapan.”
“Oh. Kalo Om Jaka?” Tanya Via pada Om Jaka.
“Apanya?” Om Jaka malah balik nanya bingung.
“Om Jaka laper nggak? Aku ambilin makan kalo laper.” Ulang Via.
“Oh, nggak Vi, makasih. Nanti aja di kamar.”
“Ih, Om udah bener-bener nggak sabar ya? Dari tadi nggak jauh-jauh di kamar aja jawabannya.” Via tersenyum jahil.
Denaya spontan mencubit lengan suaminya.
“Aww! Sakit, Han.” Om Jaka meringis.
“Awas kalo ngomong di kamar lagi, aku malu Beb!” Denaya melotot sebel.
Via malah cekikikan melihat pengantin baru itu, Om Jaka kembali salting. Dia juga heran sendiri entah mengapa pikirannya tak jauh-jauh dari kata kamar. Ya ampun!
“Za! Oy, Mirza!” Panggil Om Jaka pada Mirza yang nampak sibuk membantu anak buah Haji Barkah.
“Ya, ada apa Om?” Mirza mendekat.
“Ini, urusin bini elu nih! Dari tadi gangguin pikiran gue mulu!”
“Eh, kok aku sih yang disalain?” Via heran dituduh begitu.
“Kamu kenapa, sayang? Emangnya Om Jaka kamu apain?” Tanya Mirza heran juga.
“Nggak tau nih Om Jaka, dih sensi deh. Mentang-mentang pengantin baru.” Via mencibir kesal.
“Makan-makan gih sono, apa nyanyi-nyanyi terserah elu berdua deh. Gue mau ke kamar.”
“Nah kan! Kamar lagi!” Pekik Via tertahan.
Om Jaka spontan membekap mulutnya sendiri, Mirza teryawa. Sementara Denaya kembali mencubit lengan suaminya, kali ini lebih kecil dan menggigit.
“Bebeb!” Denaya melotot gemas.
“Bukan begitu, Honey. Maksudku .., aku mau ke kamar mandi. Pingin pipis.” Om Jaka langsung ngacir demi menyelamatkan diri.
Mirza mengajak Via menikmati hidangan.
“Mas aja deh yang ambil makanannya ya. Aku males ngantri.” Ucap Via.
“Oke. Kamu tunggu di sini ya.”
Mirza pun meninggalkan Via duduk sendiri.
“Mbak?” Tegur Riri menghampiri Via.
“Eh, Ri. Kamu dateng sama siapa? Ibu mana?” Via celingukan mencari ibunya.
“Itu.” Tunjuk Riri pada Bu Harni yang berjalan mendekat.
Via segera menyambut ibunya dengan mencium punggung tangannya.
“Gimana kabarnya, Bu? Sehat?” Via berbasa-basi.
“Sehat.” Bu Harni duduk di samping Via. “Kamu sendiri gimana? Maaf ya, ibu belum sempet nengokin kamu.” Terlihat penyesalan di raut wajah Bu Harni, walau bagaimana pun Via anak kandungnya. Meski sempat bersitegang, tapi hati Bu Harni ikut sedih kala Riri menceritakan kondisi kehamilan Via yang harus diangkat.
“Nggak papa, Bu. Via ngerti kok.” Via mencoba maklum.
“Oya, Mbak. Aku kesana dulu ya. Mau liat hidangannya takut ada yang kurang.” Ucap Riri karena memang dia yang bertanggungjawab untuk semua hidangan yang tersaji.
Via dan Bu Harni mengangguk bersamaan.
__ADS_1
“Ibu nanti pulang sama siapa?” Tanya Via mencari topik obrolan baru.
“Naik motor sendiri. Riri kan nanti sekalian sama mobil catering ke kota dulu.”
“Oh …” Via manggut-manggut. “Oya, Ibu udah makan belum?”
“Udah, barusan aja.”
Tak lama kemudian Mirza datang membawa sepring hidangan dan agak surprise melihat ibu mertuanya, maka langsung saja dia menyalami ibu mertuanya.
“Gimana Za, medical check up mu sudah beres?” Tanya Bu Harni.
“Udah, Bu. Hari rabu aku berangkat.”
“Oh, syukurlah. Semoga kamu nggak mengecewakan ya. Ingat, kamu harus bisa lebih membahagiakan Via lagi. Karena Via udah banyak berkorban demi kamu dan ibumu.” Kalimat terakhir Bu Harni sengaja ditekankan.
“Iya, Bu. Aku janji.”
Bu Harni tersenyum puas. “Ya udah, ibu pulang duluan ya. Capek banget ini, dari pagi ibu bantuin Riri nata meja prasmanan.”
“Oh, pantesan tadi kita nggak ketemu ya di masjid, Bu?” ucap Via.
“Iya, soalnya ibu langsung kesini nggak ikut acara akadnya. Habisnya semua anak buah Pak Haji pada pingin ke masjid. Ya udah, ibu yang ngalah.”
Via dan Mirza tersenyum.
“Ya udah, kalian makan ya. Ibu pamit pulang duluan.”
Bu Harni pulang setelah terlebih dahulu pamit pada kedua mempelai dan haji Barkah.
“Sayang, kita makan sepiring berdua aja ya? Biar keliatan makin romantis.” Ujar Mirza.
“Hu, bilang aja Mas males ngantrinya lama-lama.”
“Nggak kok.”
“Kalo gitu kenapa ambil sendoknya cuman satu?”
“Ya kan namanya juga judulnya biar romantis. Biar Mas suapin kamu gitu.” Mirza nyengir.
“Ah, nggak ah Mas. Malu tau.” Via melihat sekeliling. Memang fokus orang-orang ke panggung sih liat biduan lagi goyong, tapi tetet aja Via nggak enak disuapin ditempat umum begini.
“Aaa…, sayang. Buka mulutnya.” Mirza tau-tau udah menyodorkan sendok.
“Ish, Mas. Aku makan sendiri aja deh.” Via mengambil sendok dari tangan Via.
“Ya udah, kalo gitu kamu yang suapin Mas.” Rajuk Mirza. “Nggak ada yang liatin kok.”
Akhirnya setelah tengok kanan kiri Via mau juga nyuapin suaminya. Sesekali mereka makan diselingi candaan-candaan kecil. Tanpa mereka sadari sepasang mata tajam sedang memperhatikan meraka dari tempat tersembunyi kehalangan oleh kerumunan tamu undangan.
“Nah, satu lagi, ini buat kamu, sayang.” Mirza mengambil alih sendok menyuapi Via. Via pun menerimanya dengan senang hati. Mirza melihat istrinya yang sedang mengunyah makanan dengan pandangan penuh cinta berlope-lope.
“Waah, Mas Mirza sama Mbak Via bener-bener sweet banget ya?” Celetuk seorang perempuan muda yang tak sengaja melihat momen kemesraan Via dan Mirza.
“Jangan romantisan di depan kita dong, Mas. Bikin jiwa-jiwa kami para jomblo meronta.” Kelakar yang lainnya lantas ditimpali tawa teman-temannya.
“Eh, Maaf Mbak-Mbak jomblowati. Saya nggak bermaksud seperti itu.” Mirza nyengir jadi nggak enak sendiri.
“Tuh kan, apa aku bilang? Mas Mirza sih.” Via menggerutu.
“Udah, nggak papa. Mereka jealous aja ngeliat kita, sayang.” Bisik Mirza. “Eh, kamu mau Mas ambilin makanan apa lagi, sayang?” Tanyanya kemudian.
“Yang seger-seger ada nggak Mas?”
“Ada rujak buah tuh disana!” Mirza melihat ke sisi pojok tenda.
“Iya deh, aku mau.” Via bersemangat.
“Oke, sebentar ya. Mas ambilin buat kamu, sayang.” Mirza pun berlalu.
“Tuh kan, baik banget Ms Mirza sama Mbak Via. Perhatian dan sweet.” Celetuk perempuan muda yang tadi agak berbisik pada temannya.
“Iya, udah baik, ganteng lagi.”
“Eh, satu lagi. Tajir!”
“Wah, iya. Laki-laki idaman aku bangeeeettt.”
Rasa-rasanya telinga Via mendadak jadi tak nyaman mendengar rumpian itu para kaum hawa tentang suaminya. Maka ia lebih memilih menyingkir mencari tempat yang agak menyendiri di sudut halaman.
Via duduk sendiri menunggu suaminya sambil menikmati sajian panggung hiburan yang kini tengah menyenandungkan lagu-lagu pop romantis. Tampak para undangan bersemangat sekali mengompori sang biduan untuk mengajak pengantin baru ikut naik ke panggung. Denaya terlihat malu-malu, sementra Om Jaka dengan pedenya langsung menggendong Denaya menuju panggung membuat semuanya bersorak riuh dan bertepuk tangan. Via pun sampai ikutan bersorak menyemangati Om Jaka.
“Bagus juga kamu datang ke sini. Udah sembuh rupanya perutmu dari kehamilan palsumu itu?” satu kalimat tajam tiba-tiba mengusik keceriaan Via.
Via menoleh, dan satu sosok Mak Lampir eeh…, Emak mertunya tengah berdiri di belakangnya dengan wajah sinis seolah siap mencekiknya.
Via yang kaget hanya bisa melongo tak menyangka ibu mertuanya akan datang menegurnya dengan kalimat seperti itu.
“Dari awal juga saya sudah tak percaya kalo kamu itu bisa benar-benar hamil. Nyatanya terbukti kan? Kehamilanmu itu palsu, cuman bohongan.” Ucap Bu Een sambil tersenyum sinis penuh cemoohan.
“Kenapa ibu bilang begitu? Aku benar-benar hamil, hanya saja kehamilanku …”
“Sama saja!” Potong Bu Een. “Intinya kamu nggak sedang hamil sekarang, kan?”
Via terdiam. Ingin rasanya ia mendebat ibu mertuanya yang bermulut tajam itu. Namun dalam hatinya masih menaruh rasa hormat.
Mas Mirza kemana sih? Cuman ambil rujak buah aja lama banget dari tadi? Via memohon kedatangan suaminya dalam hati.
“Kenapa diam?” Sindir Bu Een. “Saya mau tahu alasan apa lagi yang akan membuatmu menahan Mirza setelah ini.”
Apa tadi? Menahan? Siapa yang menahan? Mas mirza sendiri yang memilih untuk bertahan dalam rumahtangganya.
“Kamu itu benar-benar sudah membuat seorang anak durhaka pada ibu kandungnya sendiri. Gara-gara kamu, hubungan saya dan Mirza sekarang jadi renggang.”
__ADS_1
JLEB!
Tajam benar kalimat yang dilontarkan sang ibu mertua.
“Kalo saya jadi kamu, saya lebih memilih meninggalkan Mirza daripada menanggung dosa karena telah menghancurkan hubungan ibu dan anak”
Ya Tuhan! Seburuk itukah aku di mata ibu mertuaku? Apa benar aku berdosa?
Air mata Via mulai menggenang, ia tak kuat menahan emosi yang campur aduk dalam dadanya.
“Lihat saja, selamanya kamu nggak akan bisa hamil sama Mirza karena dosa besarmu itu.”
“Astaghfirullah! Ibu, hati-hati bicara ibu.” Via akhirnya tak bisa membendung perasannya.
“Kamu sangsi dengan perkataan saya?” Bu Een semakin mencemooh. “Perkataan dari seorang ibu adalah sebuah doa. Maka kamu harus hati-hati sama saya.” Ancam Bu Een.
“Sebenci Itukah ibu dengan saya? Sampai-sampai mendoakan hal buruk pada saya, Bu?” Air mata Via mengalir tak tertahan.
“Oh, jelas! Kamu itu sudah mengambil Mirza satu-satunya anak saya.”
“Saya nggak pernah mengambil Mas Mirza. Apa selama ini saya pernah melarang Mas Mirza perhatian sama ibu? Apa selama ini saya juga tak menghormati ibu?” Tanya Via dengan rasa sakit yang ia rasakan di hatinya yang semakin menjadi. “Saya tetap menaruh hormat pada ibu meskipun ibu sudah sedemikian rupa menyakiti saya dan tak pernah menganggap saya sebagai menantu.” Lanjut Via getir dengan air mata yang semakin deras mengalir.
“Oh bagus kalo kamu sadar diri. Terus kenapa kamu nggak tinggalin saja anak saya Mirza?” Bu Een menatap geram pada Via.
Sementara musik dipanggung sudah berganti dengan lagu dangdut karena request salah seorang tamu undangan. Om Jaka dan Denaya menuruni panggung. Tak sengaja Om Jaka melihat Via dengan Bu Een dari kejauhan.
“Kamu duluan, Han. Aku mau kesana dulu.” Ucap Om Jaka menyuruh Denaya kembai ke kursinya.
“Ada apa emangnya, Beb?” Denaya penasaran.
“Ada sedikit perlu. Sebentar ya.”
Om Jaka berjalan perlahan menuju sisi halaman.
“Kamu itu bodoh atau apa sudah tau nggak aku anggap sebagai menantu masih saja nekad melanjutkan rumah tagga sama Mirza?” Sinis Bu Een melanjutkan serangannya pada Via. “Kalo kamu merasa tersakiti sebaiknya segera menyingkir dari kehidupan Mirza.”
“Mas Mirza suami saya, selama Mas Mirza belum menjatuhkan talak pada saya maka saya pun tak akan pernah meninggalkannya. Ibu harusnya tau itu.” Balas Via kali ini tak gentar menatap balik mata nyalang ibu mertuanya.
“Dasar perempuan bodoh! Kalo gitu siap-siap aja saya bakal bikin kamu kehilangan Mirza!”
“Ya ampun, Yu … yu … justru sampean itu yang bodoh. Udah tau anak sampean cinta mati sama Via, masih aja nekad mau misahin mereka.” Kalimat Om Jaka sekonyong-konyong membuat Bu Een terkejut.
“Apa-apaan kamu, Jaka? Jangan kurang ajar ngatain Mbakyumu ini bodoh!” Gertak Bu Een.
“Gue nggak ngatain sapean kok, gue cuman bilang kenyataannya.” Sahut Om Jaka santai.
“Nggak usah ikut campur kamu.”
“Maaf ya, Yu. Berhubung ini acara gue, jadi segala kenyamanan tamu undangan disini jadi tanggung jawab gue sebagai yang punya hajat. Sampean itu sudah bikin Via nggak nyaman, Yu. Mendingan sampean itu ikut nyawer dangdutan sana, bulannya malah ngurusin rumah tangga Via sama Mirza.” Cerocos Om Jaka setengah jengkel.
“Sombong banget kamu Jaka! Baru jadi mantunya Haji Barkah sehari aja udah semena-mena sama saya.” Cibir Bu Een.
“Lho, bukannya semena-mena Yu….”
“Halah, kamu itu kan nikahin Denaya pasti punya tujuan tertentu kan? Orang buat maskawin aja kamu nggak modal kok. Masa maskawin cuman seperangkat alat sholat sama cincin 5 gram. Heh, apaan itu?” Cibir Bu Een sengit.
“Lah, kok malah bahas maskawin gue sih? Ya terserah gue lah mau ngasih maskawin apa yang penting Denayanya mau.” Om Jaka makin kesal.
“Terang aja Denaya mau, paling juga udah kamu guna-guna.”
“Aish! Itu mulut sampean bener-bener minta di bulldozer ya, Yu!” Om Jaka jengekel beneran.
Lagi tegang-tegangnya, Mirza datang bersama Haji Barkah. Rupanya tadi dia lama karena dimintain tolong Haji Barkah.
“Ada apa, Jaka?”
“Ada apa, Bu? Sayang, kamu kenapa kok nangis?” Tanya Mirza bergantian pada ibunya dan Via.
“Ulah Emak elu tuh! Heran! Diamana-mana sukanya bikin ribut aja. Lama-lama juga gue panggilin satpol PP biar digaruk sekalian dibawa ke dinas sosial!”
“Jaka, yang sopan kalau bicara sma orang tua.” Haji Barkah mengingatkan.
“Saya kesal, ayah. Sudah ngata-ngatain Via terus nuduh saya yang nggak-nggak pula. Dia nuduh saya nikahin Dena karena punya niat tertentu. Udah gitu nuduh saya juga guna-gunain Dena biar mau nikah sama saya, sebelum ini malah nuduh Dena hamil duluan sama saya.” Ucap Om jaka membeberkan semua kelakuan Bu Een.
“Astaghfirullah.” Haji Barkah kaget. “Perbanyak istighfar, Bu Endang. Hati-hati, perkataan Anda itu bisa menimbulkan fitnah.”
Kontan saja Bu Een tak bisa berkata apa-apa karena malu sudah ketahuan menuduh sembarangan anak dan menantunya Pak Haji.
“Kita ini sudah menjadi orang tua, Bu. Maka sebaiknya kita harus lebih bijak dalam bertutur kata, karena kita ini menjadi teladan dan panutan anak-anak kita.”
Bu Een tertunduk semakin malu mendengarkan penuturan Haji Barkah. Apalagi dia sempet ngarep pingin nikah sama Haji Barkah biar ketularan semakin kaya raya. Namun sekarang hancur sudah harapannya itu.
“Bu Endang ini kan anaknya hanya punya satu sama seperti saya. Maka sebaiknya kita kesampingkan ego kita sebaik orang tua, biarkan anak kita bahagia dengan pasangannya, jangan mencampuri urusan mereka kecuali mereka yang meminta pertolongan kita. Tanggungjawab kita sebagai orang tua sudah berhenti sampai menikahkan anak-anak kita saja. Selajutnya kita serahkan pada anak kita masing amsing untuk bertanggung jawab dalam kehidupan mereka.”
“Tuh, dengerin ayah saya!” Ujar Om Jaka agak pamer karena baru punya ayah mertua.
____
JLEB ya Bu Een, hehehe 😆😆😆
Emang enak diceramahin Bu?😁😁
Hayo siapa yang berani taruhan setelah dinasehatin pak Haji Barkah Bu een bakalan insyaf? 😂😂
Tetep bakalan othornya yang menang ya, haha….🤣🤣🤣
Udah dulu ya, makasih akak semua udah setia ngikuti sampe sini 🤩🤩🤩
Tungguin kelanjutannya nati ya…❤️❤️😉😉😉
Tinggaklan jejek selalu, ok?😍😍😍
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1