TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
177 #MASUK ANGIN


__ADS_3

Minggu ini sangat melelahkan bagi Via dan Mirza. Setelah dua hari yang lalu ikut sibuk membantu acara syukuran 7 bulanannya Denaya, dilanjut dengan akad nikah Yana di hari Sabtu, dan hari ini mereka baru saja tiba dari Bandung menghadiri resepsi pernikahan sahabat baiknya itu.


Hari hampir gelap, kumandang adzan maghrib terdengar sayup-sayup dari masjid komplek, Via tengah tenggelam dalam selimutnya sejak lepas ashar tadi. 3 hari sibuk mengurusi acara keluarga dan sahabatnya membuat badan Via serasa remuk. Mirza tak tega membangunkan sang istri yang pulas dalam alam mimpinya. Mirza menarik selimut bermotif bunga tulip yang melorot dari tubuh istrinya, lalu mengatur suhu ruangan agar tak terlalu dingin. Mirza mengambil wudhu ketika kumandang azad selesai. Lepas 3 rakaat ia tunaikan dan melantunkan doa-doa terbaiknya, Mirza menuju dapur mengecek isi kulkas. Hanya ada nugget, telor dan wortel.


“Hemm, mau masak apa ya?” Mirza berpikir sejenak.


Beberapa menit tak kunjung mendapat ide, akhirnya Mirza meminta bantuan benda sakti andalan banyak orang. Hengpong!😁


Gegas Mirza menyambar hengpongnya. Tak butuh waktu lama, benda sakti andalan hampir semua penduduk bumi itu berhasil menampilkan berbagai olahan masakan yang Mirza inginkan.


“Aha!” Mirza menjentikkan jarinya. “Ini kayaknya enak!” Senyum Mirza mengembang membayangkan wajah istrinya yang akan menyukai hasil karyanya. Mirza berpikir Via pasti lapar ketika bangun tidur nanti.


Hampir lima belas menit berjibaku di dapur, Mirza kini sedang sibuk dengan spatula ditangannya.


“Masak apa, Mas?” Tanya Via yang tiba-tiba muncul.


Mirza menoleh agak surprise. “Hay, udah bangun Sayang?” Mirza menghampiri dan mengecup sekilas kening istrinya yang masih bertampang lesu khas bangun tidur. “Kamu pasti laper kan? Mas masakin special buat kamu.” Mirza mengaduk-aduk masakannya.


“He em, tapi aku belum mandi.” Sahut Via sambil sedikit menggeliat menarik kedua tangannya ke udara sekedar meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. “Jam berapa ini, Mas? Udah maghrib belum?”


“Udah, Sayang. Jam setengah tujuh.” Mirza melihat layar gawainya yang tergeletak tak jauh darinya.


“Hah? Udah maghrib dari tadi dong? Kok Mas nggak bangunin aku sih?” Kaget Via, agak kesal dia pada suaminya itu yang cuman mesem melihatnya panik kayak anak Es De bangun kesiangan takut telat berangkat ke sekolah.


“Tadi kamu pules banget tidurnya, Sayang. Mas nggak tega bangunin. Mas pikir setelah selesai masak baru mau bangunin kamu.”


“Ck! Udah ah, aku mau mandi dulu!” Via balik badan kembali ke kamarnya.


Mirza mengangkat masakannya dan meletakkannya ke atas piring saji.


“Whola ….” Ia tersenyum puas.


Hampir jam 7 Via baru keluar kamar usai shalat maghrib yang agak terlambat. Mirza duduk manis di ruang makan menunggu sang istri dan langsung tersenyum menyambutnya.


“Silakan, Tuan Putri.” Mirza menarik kursi di sampingnya untuk Via.


“Terima kasih, Sayangku.” Sambut Via mengecup singkat pipi pak suami. “Apa ini Mas?” Via memandang masakan hasil karya suaminya.



“Ini Fu Yung Hai nugget asam manis rasa cinta dan kasih sayang.” Ucap Mirza dengan bangga.


Kening Via mengernyit. “Jadi ini rasa asam manis apa rasa cita dan kasih sayang nih yang bener?” Via sengaja menggoda sang suami dengan tampang usilnya.


“Dua-duanya bener. Ayok, dicobain Sayang.”


Via mengambil sendok dan Via mulai menyuapkan ke dalam mulutnya.


“Gimana rasanya, enak?” Mirza penasaran karena melihat Via tak kunjung memberinya komentar. “Skala 1 sampai 100, berapa yang kamu berikan buat masakan suamimu ini, hm?”


Via masih mengunyah sambil berpikir sebentar. “98.”Katanya kemudian.


Mirza senang mendengarnya. “Berarti nyaris sempurna dong?”


Via mengangguk, namun lantas ia berhenti dari makannya. “Eum, Mas … tapi aku pingin makan mie ayam bakso.” Cicit Via kemudian.


“Apa? Mau makan mie ayam bakso?” Mirza agak terkejut. “Kenapa, Sayang? Apa Fu Yung Hainya nggak enak ya? Kok tiba-tiba kamu pingin makan mie ayam bakso?”


“Enak kok Mas, beneran!” Via meyakinkan. “Tapi aku lagi pingin mie ayam bakso. Maaf ya …” Ditatapnya wajah suaminya yang ganteng itu dengan sesal.


“Oke, nggak papa Sayang. Mas beliin dulu ya, sebentar.”


“Eh, nggak usah Mas.” Sergah Via. “Aku maunya mie ayam bakso yang lewat depan rumah itu lho, kata Yanti mie ayamnya enak. Jadi aku penasaran pingin cobain.”


“O gitu? Tapi udah lewat belum ya, kayaknya dari tadi Mas belum denger deh suaranya.” Mirza mengingat-ingat memang ia belum mendengar suara dentingan mangkok dan sendok beradu yang ciri khas tukang bakso yang biasa lewat depan rumahnya.


“Kayaknya habis Isya gitu deh, Mas.”


“Ya udah, kita tunggu aja yuk di depan.”


“Mas nggak marah?” Via jadi tak enak hati memandang suaminya.


“Kenapa marah?”


“Mas udah capek-capek masak, aku nggak makan?”


“Kan tadi juga kamu udah makan, Sayang? Lagian ini kan bisa Mas abisin semua biar kenyang, hehe….” Mirza nyengir lalu bangkit mengajak istrinya menunggu si tukang bakso di ruang tamu dengan pintu depan yang dibiarkan terbuka.


Via menunggu sambil memainkan ponselnya, sedangkan Mirza asyik menyantap masakannya sendiri. Sesekali diliriknya sang istri dengan ekor matanya, Via nampak lelah sekali bersandar pada sandaran sofa sambil selonjoran.


Ting ting ting ting ting …..


Bunyi dentingan mangkok dan sendok beradu terdengar dari luar. Via langsung bangkit dengan semangat.


“Itu Mamang tukang baksonya Mas!” Ucapnya bahagia banget. “Aku ambil mangkok dulu!” Ia berjalan cepat ke dapur dan langsung kembali bergegas keluar rumah mencari si Mamang tukang bakso yang sudah didambakannya itu.


Mirza hanya menggeleng–gelengkan kepalanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Baru denger suara mangkok tukang bakso aja senengnya Via minta ampun, udah kayak denger suara bedug maghrib di bulan puasa kali ya.


“Tadaaa ….. Mie ayam bakso ala Mamang Juned sudah jadi.” Via muncul di ambang pintu dengan senyum sumringah lantas mengambil duduk di samping suaminya. “Tuh Liat Mas, pasti enak banget ini.” Via memarkan mie ayam baksonya.



“Ya semoga aja rasanya sesuai ekspektasi ya. Kalo liat dari tampilannya sih, Mas ragu .” Mirza mencebik.


“Eh jangan salah, mie ayam bakso Mamang Juned ini idola para ibu-ibu komplek lho Mas.” Via nggak terima.


“Kok kamu tau sih nama penjual Mienya, Sayang? Tadi kamu kenalan dulu ya? Ngobrol-ngobrol dulu gitu sambil tukeran nomer hp, iya?”


“Ish, Mas ni apaan sih! Orang di gerobaknya ada tulisannya Mie ayam bakso Mang Juned, gitu!” Balas Via keki menanggapi suaminya yang terlalu berlebihan itu.


“Oh…, kirain.”


Via mengaduk mie ayam baksonya dengan penuh khidmat agar semua rasanya menyatu.


“Eeh, kok dicampur semua sih saosnya Sayang?”


“Kenapa emangnya?” Via heran.


“Kenapa nggak pake saos yang di rumah aja? Saos itu kan nggak sehat, nggak higienis!”


“Tapi lebih mantap pake saos yang ini Mas! Lagian saos itu kan cuman tinggal seuprit, ntar ada si Bujel dateng nguping dikira kita lagi ngapain lagi kayak waktu itu.”


“Iya tapi Mas takut kamu sakit perut, Sayang.”

__ADS_1


“Nggak bakal. Udah ah, sekali-kali nggak papa lah!” Via cuek mulai menyantap mie ayamnya. Mirza hanya memperhatikan istrinya yang makan dengan lahapnya sementara ia sendiri sudah selesai dengan makanannya


“Eh, Mas bikinin teh ya, mau nggak?” Mirza bangkit membawa piring kotornya.


“Mau banget, Makasih ya suamiku Sayang.” Via nyengir.


Mirza berlalu, Via melanjutkan makannya. Puas banget dia mendapatkan hal yang diinginkannya, seperti impian yang menjadi kenyataan gitu.


TLUWING TLUWING TLUWING WING …


TLUWING TLUWING TLUWING WING WING ….


Ponsel Mirza yang tergeletak pasrah di meja berbunyi membuat Via sedikit terkejut.


“Udin?” Gumam Via setelah melihat siapa yang menelpon. “Ada apa dia nelpon malem-malem begini?” Via meletakkan mangkoknya yang sudah kosong lantas menjawab telepon. “Halo, Assalamualaikum.”


“Wa alaikumussalam, Mbak Via, Mas Mirzanya ada nggak?” Sahut Udin dengan nada tergesa-gesa.


“Ada Din.”


“Boleh saya bicara, Mbak? Saya lagi di klinik ini?”


“Di klinik?”


“Siapa Sayang?” Tanya Mirza yang baru datang dengan dua cangkir teh melati dan meletakkannya di meja.


“Si Udin ini telpon Mas, kataya dia lagi di klinik.” Via memberikan ponsel pada suaminya.


“Halo, Din?”


“Halo, Mas Mirza. Mas, Mas Mirza bisa dateng ke kliniknya dokter Burhan nggak Mas sekarang? Ibu tadi saya bawa kesini karena pingsan, tekanan darahnya naik Mas. Dokter bilang harus opname, aku bingung Mas. Dari tadi ibu belum sadar juga. Aku juga udah hubungin Om Jaka barusan, mungkin bentar lagi juga nyampe sini.” Cerocos Udin panjang lebar dengan sangat panik.


“Iya iya … kamu tenang ya, aku kesana sekarang juga.” Sahut Mirza tenang agar Udin nggak semakin panik. “Jagain ibu ya, hubungi aku kalo ada apa-apa.” Mirza mengakhiri percakapan.


“Siapa yang sakit Mas? Ibu?” Tanya Via penasaran.


“Iya. Udin bilang Ibu pingsan dan tekanan darahnya naik, makanya dia bawa ibu ke kliniknya dokter Burhan.”


“Ya udah, ayok kita pergi sekarang Mas!” Via bangkit dengan raut penuh kekhawatiran.


“Kamu di rumah aja Sayang. Kamu kan pasti capek banget 3 hari ini, Mas nggak mau nanti kamu sakit. Lagian besok kan kamu masuk kerja?” Mirza mencoba memberi pengertian pada istrinya.


“Iya tapi ibu kasihan nggak ada yang jagain, Mas.”


“Kan ada Mas sama si Udin. Om Jaka nanti dateng juga kok.”


“Tapi aku pingin ikut Mas, mau tau keadaan ibu.” Via memohon.


“Sayang, denger suamimu ini ya. Ini udah malem …”


“Nanti aku bisa pulang sendiri kok, atau dianter Udin.” Potong Via ngeyel.


Mirza menghela nafas, ditatapnya wajah ayu sang istri dengan senyuman. Ia kagum akan kasih sayang istrinya terhadap sang ibu mertua yang selama ini selalu saja membuatnya sakit hati. Tak sedikit pun Via menyimpan kebencian, Mirza tau istrinya sangat tulus. Itulah yang membuatnya bangga dan bersyukur, sampai kapan pun ia kan mempertahankan rumah tangganya walau sang bunda terus berusaha menggoyahkan pendiriannya.


“Mas kok malah ngeliatin aku kayak gitu sih?” Via kesal suaminya malah senyum-senyum.


“Nurut kata Mas, ya. Kamu istirahat aja Sayang, besok kamu udah harus masuk kerja lagi. Nanti sepulang kerja Mas jemput kamu nengokin ibu ya? Ucap Via lembut sambil mengusap-usap kepala sang istri penuh kasih.


Sementara itu di kediaman Haji Barkah, Om Jaka masih anteng berkutat dengan buku besar dan layar laptop yang menyala.


“Beb? Kok belum pergi sih?” Tegur Denaya pada sang suami yang khusuk di ruang tengah.


“Bentar lagi.” Sahut Om Jaka, matanya tak beralih dari deretan tulisan dan angka-angka di buku besarnya.


Denaya menghempaskan bokong di samping sang suami dan melongok ke monitor. Rupanya suaminya itu tengah menyelesaikan laporan bulanan dari semua toko material ayahnya. “Itu kan bisa diselesaikan nanti, Beb.” Ucap Denaya sambil mengusap-usap perutnya yang sudah membesar.


Suaminya masih tak bergeming, Denaya kesal dibuatnya.


“Bebeb kamu denger aku ngomong nggak sih?” Nada suara Denaya naik beberapa oktaf sekaligus membuat Om Jaka terperanjat.


“Iya Hani bani switi, aku denger kok!”


“Kalo denger ngapain masih disitu aja? Cepetan pergi!” Ujar Denaya galak.


“Tanggung, Honey! Bentar nyelesein ini dulu, lagian barusan makan malam, belum turun ke perut makanannya masih nyangkut nih!”


“Alesan aja! Dibawa jalan juga langsung melorot ke perut kok!”


Ceklek.


Haji barkah keluar dari kamarnya karena mendengar sura ribut-ribut.


“Jaka, Dena, ada apa? Kok kalian ribut-ribut sih, berantem ya?” Haji Barkah menghampiri.


“Ini nih Yah, si Bebeb ditelpon Udin suruh jenguk Kakaknya di klinik dari tadi nggak pergi-pergi!” Denaya mengadu pada ayahnya.


“Bu Een sakit?” Tanya Haji Barkah.


“Iya, Udin telpon katanya dibawa ke kliniknya dokter Burhan.” Denaya memberitahu.


“Ya sudah, Jaka sebaiknya kamu segera ke sana. Kasihan kakak kamu, Bu Endang kan keluarganya cuma kamu. Laporan itu bisa kamu selesaikan lain waktu.” Ungkap Haji Barkah bijak.


Mau tak mau Om Jaka nurut juga kalo sang ayah mertua sudah berkata. Denaya tersenyum puas melihat wajah masam suaminya.


“Titip salam buat Bu Endang ya. Nanti ayah menjenguk kalau sudah pulang ke rumah saja.”


“Nggak usah repot-repot Yah, mendingan nggak usah dijengukin orang macam Mbakyu itu!” Sungut Om Jaka seraya menutup laptopnya.


“Lho, menengok saudara kita yang sakit atau terkena musibah itu dianjurkan lho Jaka dalam agama kita. Kita harus mendoakannya agar cepat sembuh.”


“Iya tapi liat-liat dulu oarangnya kayak apa, Yah!” Om Jaka ngeyel.


Haji Barkah menghela nafas. “Ayah tau kamu mungkin masih kesal dengan Bu Endang, tapi kan sekarang dia lagi sakit. Dia butuh support dari keluarga. Lupakan dulu masalahmu dengan Mbakyumu itu Jaka. Nggak baik menyimpan dendam sama saudara.” Nasihat haji Barkah.


“Dendam sih nggak Yah, tapi jengkel! Jengkel banget sumpah! Kalo aja nggak dengerin saran Ayah buat nggak memperpanjang urusan rumah dan tanah peninggalan orang tua yang dia tempati itu, udah aku bawa ke pengadlan itu kasus dari kemarin-kemarin juga!” Om Jaka kembali teringat masalah yang sempat membuatnya emosi kala mengambil belimbing wuluh beberapa hari yang lalu itu. “Ck, Ayah sih pake nahan aku segala. Orang kayak gitu itu harus diberi palajaran biar nggak smene-mena dan berhenti ngelunjak!”


“Astagfirullah, istughfar Jaka …” Haji Barkah mengingatkan. “Dia kan kakak kandung kamu, nggak baik bermusuhan. Ikhlaskan saja kalau memang Mbakyumu itu menginginkannya. Harta itu bukan jaminan masuk surge Jaka, ingat itu!” Haji Barkah rada gedek Karena sang menantu emang ngeyelan banget orangnya. “Bahkan justru banyak harta bisa menjerusmuskan kita ke dalam neraka kalau kita tak bisa menggunakannya di jalan kebaikan. Semuanya pasti diperhitunkan, dihisab!”


“Tuh dengerin, kalo dibilangin orang tua! Jangan nyolot mulu!” Denaya menyenggol lengan suaminya dengan siku kanannya.


“Uh, kamu sama Ayah nggak tau sih. Kemarin itu waktu aku nyuruh orang ngaterin makanan sukuran 7 bulanan ke rumah Mbakyu Een itu, bukannya bilang maksih dia malah mencak-mencak. Katanya aku sombong nggak mau nganterin makanannya sendirilah, nggak ngabarin dialah, udah nggak nganggep orang tua lah. Halah, pokoknya ngeselin banget! Diundang salah nggak diundang salah! Dikirimin makanan salah, nggak dikirimin makanan juga salah!” Gerutu Om Jaka memberitahu istri dan mertunya kejadian dua hari lalu itu yang menambah kejengkelannya pada si Mbakyunya itu.


“Sudah, jangan dibahas lagi. Memang watak Mbakyumu itu kan begitu, mau dibagaimanakan lagi? Hanya Allah yang kuasa merubahnya.” Haji barkah menepuk pundak Om Jaka. “Sekarang cepat kamu pergi sebelum terlalu malam. Temani Mirza dan Udin menjaga Mbakyumu ya.”

__ADS_1


Om Jaka tak menyahut, ia hanya mengangguk samar. Keliatan banget dia ogah-ogahan pergi.


“Satu lagi pesan Ayah, Jaka.” Ucap Haji Barkah sebelum Om Jaka berlalu. “Jangan kamu ungkit soal harta warisan apapun dengan Mbakyumu itu. ikhlaskan. Kamu dan Denaya punya segalanya dari Ayah.”


Sekali lagi Om Jaka mengangguk samar. Denaya tersenyum melihat suaminya yang melangkah pergi dengan raut wajah menahan kesal.


“Bokir …..! kamu belum mencium tanganku dan bayi kita!” Seru Denaya membuat Haji Barkah terperanjat.


“Dena kamu apa-apaan? Sudah malam masih saja teriak-teriak?” Haji Barkah menatap tajam putri tunggalnya.


Denaya nyengir sambil mengulurkan tangan pada Om Jaka yang memutar langkah mendekatinya. “Cium tanganku dulu, Bokir!” Denaya mengasongkan tangan kanannya pada tampang Om Jaka.


“Hush! Kebalik kamu, Dena!” Hardik Haji Barkah. “Ada juga kamu yang cium tangan suami kamu. Jangan ngelujak sama suami, durhaka kamu nanti.”


“Dia emang bigitu Yah sejak hamil.” Sahut Om Jaka yang kemudian mencium juga tangan sang istri lembut. Setelah itu barulah Denaya mencium tangan Om Jaka berkali-kali sambil mnegusel-nguselkannya ke seluruh wajahnya.


Haji Barkah geleng-geleng kepala denga kelakuan anaknya itu. “Semoga ini hanya bawaan bayi saja nggak keterusan sampai nanti.” Ucap Haji Barkah kemudian ngeloyor kembali masuk kamar.


“Anak Papa sayang, kamu bobo sama Mama ya malam ini. Jangan nakal, Papa mau ke klinik dulu. Besok pagi Papa pulang langsung tengokin kamu ya…” Om jaka mengusap-usap perut buncit Denaya seraya mendekatkan wajahnya berbicara pada si buah hati yang berada dalam rahim sang istri.


“Ish, tengokin gimana maksudnya Beb?” Denaya curiga.


Om Jaka mendongak, melihat Danaya dengan senyum lebar. “Ya tengokin kayak biasanya itu, Han.” Om Jaka memainkan kedua alisnya turun naik.


“Ih, dasar doyan!” Cebik Denaya.


“Iya lah, habis enak sih, hehe…” Om Jaka mendekatkan wajahnya mau nyosor Denaya.


Reflek Denaya menutup bibir suaminya dengan telapak tangannya. “Udah cepatan pergi, ntar diceramahi ayah lagi lho!”


Om Jaka melepaskan tangan Denaya. “Oke, nggak papa nggak dapet cium. Tapi karena kamu memaksaku buat pergi ke klinik malam ini, maka besok pagi kamu harus merasakan pembalasanku wahai Katemi!” Seringai Om Jaka.


“Dasar Bokiiiirrr …..!!!”” Denaya mendorong wajah suaminya menjauh. Om Jaka lantas pamit setelah melepaskan kiss bye bertubi-tubi dengan memonyong-monyongkan bibirnya dari jauh membuat Denaya tekikik geli.


❤️❤️❤️❤️❤️


Keesokan harinya Via bangun jam lima pagi dan segera membuka jendela setelah mematian AC kamar. Dia menghirup udara segar pagi hari dalam-dalam. Leher dan badannya masih terasa sangat pegal. Kalau saja ini bukan hari kerja, pasti ia akan lebih memilih bermalas-malasan di atas kasur saja. Via pun bergegas ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air hangat karena merasa agak tak enak badan.


Jam 7 lebih sepuluh menit Via sudah berada di atas motornya melaju menuju kantor. Sengaja ia pergi lebih pagi karena mau sarapan soto Lamongan di simpang lima dekat isamic center sebelum mencapai kantor. Namun Via harus kecewa, karena ternyata yang dicarinya tak ada. Menurut tukang gado-gado yang jualan di dekat situ, soto lamongan lagi libur karena pulang kampung. Jadilah Via sarapan gado-gado saja, meski tak sesuai dengan harapan, Via menghabiskan juga sarapannya.


Sampai di kantor Via langsung menuju pantry dan minta dibuatkan teh panas dengan tolak angin.


“Mbak Livia lagi masuk angin ya?” Tanya OB yang menyiapkan permintaan Via.


“Kayaknya gitu deh, soalnya badan pada pegel semua nih.” Via memijit-mijit ringan tengkuknya.


“Mendingan nanti cari tukang pjit Mbak, minta dipijit dan dikerokin sekalian biar cepet enakan badannya.” Saran sang OB. “Ini Mbak LIvia tehnya.” Lanjutnya mengasongkan secangkir teh yang mengeluarkan aroma semriwing karena sudah dicampur degan tolak angin.


“Maksih ya.” Via menerima dnegan senyuman.


“Sama-sama. Harusnya Mbak Via nggak usah repot-repot kesini, kan bisa telpon saya Mbak?”


“Iya nggak papa, masih pagi juga.” Balas Via menghirup aroma teh yang masih mengepul. “Ya udah aku kesana dulu ya.” Pamit Via yang langsung menuju ruang kerjanya. Di lorong dia ketemu Milen cs yang baru keluar dari lift.


“Pagi, Vi.” Sapa Milen ramah. Sejak kejadian melam itu yang membuat Milen cs malu, mereka berubah jadi baik banget sama Via.


Via hanya membalas dengan senyuman.


“Kamu lagi nggak enak badan ya? Kok minum teh tolak angin?” Cila perhatian karena mencium aroma tehnya cangkir Via.


“Cuman kecapekan aja.”


Milen cs terus mengekori langkah Via masuk ke ruang kerja.


“Mendingan kamu ijin aja Vi, kalo lagi sakit. Pak Bos pasti ngijinin kok kalo kamu yang sakit.” Timpal Vony.


Seketika Via mengerem langakhnya dan berbalik membuat Milen cs kaget dan saling tubruk. Milen yang berada paling depan sekuat tenaga menahan agar tubuhnya tak condong ke depan menabrak Via yang berdiri dengan raut datar.


“Lho, aku bener kan? Kalo Via yang sakit pasti Pak Bos Danar kasih ijin?” Vony menatap dua sohib ghibahnya dengan wajah tak berdosa. “Waktu hari jumat aja Via cuma setengah hari …”


Belum sempat Vony melanjutkan kalimat terakhirnya Milen sudah menginjak kaki Vony sambil melototkan matanya sehingga Vony meringis dibuatnya.


“Aaw…! Elo apa-apaan sih Len, kok nginjek kaki gue?”


“Vi, sorry ya. Dia emang kalo pagi mulutnya nyablak, maklum kebanyakan sarapan.” Milen nyengir memohon maklum.


“Aku belum sarapan kok!” Vony mengelak.


“Diem lo!” Ketus Milen masih dengan mata melototnya ke arah Vony.


“Hemm, ya udah mumpung masih pagi kita ke kantin aja yuk.” Cila yang melihat dua sohibnya bersitegang berusaha menengahi.


“Iya, itu ide bagus.” Milen setuju.


“Boleh juga, perut aku masih muat kok.” Vony tersenyum lebar.


Tiga sohib durjana itu senyum-senyum, Via menatap mereka jengah.


“Terus, kenapa kalian masih pada di sini?” Tanya Via sebel.


“Nggak papa, cuman mau mastiin aja kamu sampai di meja kerja kamu dengan selamat, hehe …” Milen cengengesan.


“Atau apa perlu aku bawain tas sama cangkir kamu, Vi? Sini ...” Cila hendak mengambil cangkir dari tangan Via.


“Nggak perlu!” sergah Via. “Ya udah buruan sana pergi. Perut aku mules nih pengen kentut. Kalian mau aku kentutin?”


“Ehh, jangan!”


“Nggak!”


“Ogah!”


Tiga serangkai sohib durjana itu spontan menutup hidung dan lari ke luar ruangan tunggang langgang. Via nahan tawa manatap mereka yang menghilang di balik pintu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Terima kasih sudah membaca🙏🙏🙏


Jangan lupa like juga komen ya Kak ….😍😍😍


Maafkan jika ada typo.😊


Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2