TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
267 #KEPUTUSAN TERBERAT


__ADS_3

Laju kereta membelah malam sepi, derap suaranya seolah memaksa untuk meninggalkan berjuta kenangan yang pernah terukir indah dalam memori. Mirza duduk besandar melayang pandang keluar jendela yang sepenuhnya gelap tak memperlihatkan apapun di luar sana. Sesekali mendesah dan coba mengistirahatkan matanya yang terasa berat namun tak mampu terpejam. Pikirannya melayang pada peristiwa kemarin sore setelah acara aqiqah baby Nala selesai.


“Mirza, ibu mau bicara sama kamu,” tegur Bu Harni padanya yang saat itu tengah menggendong baby Nala.


Sedikit mendongak kaget karena beberapa saat sebelumnya ibu mertuanya itu tampak masih mengobrol dengan Pak Hadi.


“Ya, Bu?”


“Ikut ibu ke dalam sebentar,” pintanya kemudian memanggil Tia untuk mengambil alih baby Nala yang tampak mulai mengantuk, sementara Via sendiri masih menemui para tamu yang tak langsung pulang meski acara telah usai.


Menuju kamarnya lantas mengambil sesuatu dari dalam laci meja. Meski agak heran kenapa ibu mertuanya terlihat sangat serius namun Mirza masih bersikap santai mendudukan dirinya di kursi .


“Apa ini Bu?” memandang penuh tanya sebuah map berwarna merah yang disodorkan ibu mertuanya.


“Baca,” titah Bu Harni dingin kemudian duduk di tepi ranjang.


Membuka kemudian menyimak kata demi kata yang terangkum dalam kalimat di atas kertas putih yang sudah lengkap bermaterai di sudut kanan bawahnya itu. Jatung Mirza berdegup kencang setelah paham akan maksud yang tersirat di dalamnya.


“Tanpa ibu minta pun aku akan menyerahkan semuanya untuk Via dan Nala,” meletakkan map dengan suara bergetar, tak menyangka dengan tuntutan ibu mertuanya.


“Baguslah kalau begitu, sekarang cepat tanda tangani, setelah itu ibu akan mengurus surat-surat pengalihan namanya untuk Via.”


“Nggak perlu Bu, karena semuanya sudah atas nama Via. Mobil, motor, empang, bahkan rumah ini pun sudah atas nama Via.”


“Rumah ini?” agak kaget, “bukannya kalian masih ngontrak?”


“Aku sudah membelinya tanpa sepengetahuan Via,”


Memandang sang menantu yang kini menundukkan wajahnya.


“Kamu sudah mempersiapkannya karena tau kemungkinan terburuk yang akan terjadi dalam rumah tangga kalian.”


Mirza mengangguk samar, pandangannya masih tertuju pada lantai kamar.


“Berarti kamu sudah siap berpisah dengan Via?”


Seketika mengangkat wajahnya, membalas tatap ibu mertuanya yang seolah menuduhnya.


“Nggak, sampai kapan pun aku nggak akan pernah siap Bu” menggeleng tegas.


“Tapi ibumu akan terus memaksamu, rumah tanggamu selamanya tidak akan tenang.”


Mendengus kasar, mengingat kembali perdebatannya dengan sang ibu beberapa jam yang lalu ketika ia mengatakan jika ibunya tetap memaksanya untuk meninggalkan Via, berarti dirinya juga akan meninggalkan ibunya.


“Mirza,” memanggil sang menantu yang nampak gamang, “kamu tidak punya pilihan lain.”


“Ibu jangan memojokkanku, sudah cukup hanya ibuku saja yang selalu menuntutku selama ini,” berujar dengan tatapan memohon. “Tolong biarkan aku bahagia hidup bersama Via Bu.”


“Kebahagiaan apa yang kamu maksudkan?” menilik raut sang menantu yang sendu. “Kamu bahkan tidak bisa mengajak ibumu kesini untuk sekedar melihat wajah cucunya. Apa yang kamu harapkan? Dari situ saja sudah jelas, ibumu tidak akan luluh walau dengan alasan apapun.”


Hening cukup lama. Mirza sibuk dengan berbagai pikiran yang bekecamuk dalam benaknya, ibunya memang lebih keras dari sebongkah batu. Jika dirinya memilih tetap pada pendiriannya, tentu ibunya tidak akan diam saja menerima kebahagiaan keluarga kecil Mirza, akan selalu ada cara untuk mengusiknya. Dia tidak akan membiarkan Mirza tenang, pasti ada hal-hal sekecil apapun untuk merebut perhatian Mirza dari Via. Hah! Membagi cinta dan kasih sayang dengan istri dan ibu macam Bu Een memang lebih berat daripada membagi cinta dan kasih sayang dengan dua orang istri.


“Mirza,” panggil Bu Harni menyadarkan Mirza.


“Aku nggak bisa menalak Via, Bu” segera bangkit dari duduknya dan keluar kamar tanpa menunggu Bu Harni menyelesaikan kalimatnya. Pikirannya sudah penat, tak mau berdebat lebih pajang lagi. Ia berjalan cepat menuju kamarnya tak menyadari ada sepsang mata yang mengawasinya penuh kecurigaan.


Malam merambat kian larut, slide demi slide kajadian sore hingga malam itu terus muncul bergantian di kepala Mirza. Ia masih belum dapat terpejam padahal semua penghuni gerbong sudah pulas dalam alam mimpinya masing-masing.


Bagaimana bisa ia melupakan semua hal yang sudah sekian lama ia lewati bersama istrinya? Terlebih lagi sore menjelang malam itu terasa sangat berat baginya, keputusan yang ia ambil mungkin terlalu pengecut sebagai seorang laki-laki. Mirza akhirnya memilih meninggalkan semuanya yang ia miliki, karena ia menganggap akar dari semua permasalahan adalah dirinya.


Sesak memenui rongga dadanya, lantun kereta malam yang semakin menyayat hati membuat kepedihan batinnya tak terperi. Haruskah ia ucapkan selamat tinggal pada sumua kenangan manisnya bersama keluarga kecilnya yang belum lama terukir indah? Mirza meraup oksigen dalam, aroma wangi minyak telon baby Nala sore itu menelusup masuk ke alam bawah sadarnya. Begitu harum dan menenangkan. Kerinduan menusuk relung hatinya.


“Mas, udah masuk waktu maghrib,” Via menyentuh pelan pundak suaminya, “Sholat dulu yuk.”


“Duluan aja Sayang, Mas masih mau melukin princess Mas yang cantik ini,” menyahut tanpa merubah posisinya yang sedang berbaring dengan posisi miring memeluk tubuh mungil Nala yang berbalut selimut begambar Doraemon.

__ADS_1


Sedikit merasa aneh, tak biasanya suaminya melewatkan waktu shalat berjamaah dengan dirinya. Namun mencoba memaklumi mungkin karena Mirza capek, Via akhirnya mengambil wudlu tak ingin memaksa sang suami. Tanpa Via ketahui, perang batin tengah dirasakan Mirza. dia harus segera mengambil keputusan untuk pergi atau tetap tinggal dengan segala resiko yang harus siap ia tanggung.


Seolah tak ingin melepaskan pelengkap kebahagiaan hidupnya, Mirza mengeratkan pelukannya pada baby Nala yang sedang nyenyak dalam tidurnya hingga membuat bayi mungil itu sedikit menggeliat -mungkin karena terlalu kencang sang ayah memeluknya.


“Nak –“ mengusap pipi merah sang malaikat kecilnya, “kamu harus tumbuh jadi anak yang kuat. Maafkan ayah ya, ayah memang bukan ayah yang baik. Tapi kamu harus tahu, ayah sangat sayang padamu.” Bisik Mirza pada telinga kecil Nala, kemudian diciuminya rambut hitam baby Nala yang baru dipotong sedikit sebagai kias di acara aqiqah sore tadi itu.


Seperti mengerti dengan uapan sang ayah, bayi mungil itu menggeliat kembali sambil tersenyum.


“Senyummu manis sekali Sayang, sama seperti senyum bundamu. Dan selamanya ayah idak akan mampu melupakan senyum kalian yang selalu menyejukkan hati ini. Ayah janji, suatu saat nanti ayah pasti akan kembali untuk kalian,” mencium dalam kening mungil baby Nala, air matanya hampir saja menitik ketika Via kembali menegurnya.


"Mas, waktu maghribnya hampir habis lho.”


Segara Mirza seka kedua sudut matanya yang basah, kemudian menoleh setelah yakin dirinya baik-baik saja. “Kamu udah selesai sholatnya, Sayang?”


“Udah,” duduk di bibir ranjang. “Mas kenapa, kurang enak badan ya? keliatannya capek banget.”


Bangkit perlahan agar tak mengusik baby Nala. Duduk berhadapan dengan Via. “Heem, mungkin karena sering begadang Sayang,” menyahut seadaanya mencari alasan.


Menangkup pipi kanan Mirza dengan sebelah tangannya, “Mas nggak dengerin kata Bang Haji Roma Irama ya? Nggak boleh sering begadang kalo nggak ada perlunya.”


Tersenyum lebar menggenggam erat jemari sang istri, hatinya menghangat seketika. Bisa-bisanya istrinya itu becanda ditengah suasana hatinya sedang sedih.


“Sejak kapan Roma Irama itu jadi abang kamu, Sayang?” membalas candaan Via karena tak ingin Via mencurigainya.


“Ish, aku kan cuman ikutan orang-orang aja Mas manggilnya Bang Haji gitu,” sedikit mengerucutkan bibirnya.


Ya Allah, sanggupkah aku kehilangan semua tingkah manja istriku ini? Senyum dan lakunya akan selalu aku rindukan. Batin Mirza mencelos mellow.


“Mas?” menyadari perubahan raut suaminya, namun buru-buru Mirza meraih Via ke dalam dekapan dada bidangnya.


“Hmm, jangan protes ya. Mas pingin melukin kamu kayak gini terus.” Mendekap Via erat, erat sekali seolah takut seseorang akan mengambilnya paksa.


“Mas, tapi aku hampir sesak kehabisan napas,” cicit Via mendongak menatap rahang kokoh Mirza.


Perlahan melerai pelukan, ditatapnya lekat kedua mata indah yang selalu memancarkan cinta berbaut ketulusan itu. riak-riak kesedihan kembali muncul, namun segera Mirza tepis, Via nggak boleh curiga.


“Akh, Mas –“ mendorong perlahan dada suaminya.


“Sebentar lagi aja Sayang,” seolah tak ingin ditolak, meraih tengkuk Via dan kembali melanjutkan ciuman yang sempat terjeda itu, menumpahkan segala perasaan, saling berpagut lembut dalam kenikmatan.“Terima kasih, Sayang.” Ucap Mirza setelah puas menyesap bibir manis sang istri.


Termenung sebentar, kembali merasakan ada keanehan pada sikap sang suami.


“Mas?”


“Hm,”


“Aku merasa sikap Mas agak aneh ya?” akhirnya keluar juga kalimat itu.


“Masa sih?” tersenyum mengusap bibir Via yang basah dengan ibu jari kanannya.


“Mas baik-baik aja kan?” sorot matanya menyiratkan kehkawatiran, sebenarnya dia ingin menyakan lebih jauh, apakah semua ini berkaitan dengan janji yang sudah terlanjur Mirza lontarkan pada ibunya. Namun karena tak mau merusak momen manis itu, Via urung mencari tau meski dirinya juga sebenarnya merasakan hal yang sama.


“Sayang," lirih Mirza tak ingin menanggapi kegundahan istrinya. "Apa boleh malam ini kita –“ tak melanjutkan kalimatanya, disingkirkannya anak rambut dari dahi Via kemudian mendorong pelan kedua bahu istrinya merebahkan tubuh ke atas kasur.


“Mas mau ngapain?” bertanya dengan sedikit tegang.


“Bukankah masa nifasmu sudah selesai Sayang? Mas mau buka segel,” tersenyum penuh arti.


Mendadak tersipu karena suaminya terlalu cepat meminta jatah, “Mas belum sholat maghrib kan?” kembali mengingatkan. “Lagipula ini masih terlalu sore.”


“Mas bilang nanti malam, Sayang” mendekatkan bibirnya ke telinga Via, nafas Mirza terasa begitu hangat mampu membuat bulu tengkuknya meremang. 40 hari lamanya mereka berpuasa, sepasang insan yang masih sangat saling mencinta itu hampir larut dalam kerinduan seandainya rengekan babay Nala tak menyadarkan mereka.


“Ah, Nala Mas –“ mendorong pelan tubuh suaminya yang sudah mengungkungnya.


Mirza tersenyum melihat mata bening malaikat kecilnya yang tiba-tiba terjaga, hasratnya hampir sampai ke ubun-ubun terpaksa harus terjeda.

__ADS_1


“Kita lanjutin nanti malam ya Sayang,” mengusap lembut pipi istrinya kemudian gegas ke kamar mandi.


_


_


_


Sepasang mata yang menatap Mirza penuh kecurigaan tengah berada di kamar Bu Harni. Riri masuk tanpa permisi, Bu Harni agak terkejut dibuatnya.


“Ibu dan Mas Mirza habis ngobrolin apa?” Riri masuk kamar bertanya to the point.


Tak menjawab, bangkit meraih map yang masih tergeletak pasrah di atas meja.


Sreek.


“Apa ini Bu?” menyerobot map dari tangan ibunya, seketika membelalakkan kedua bola matanya setelah membaca isinya dnegan cepat. “Jadi ini rencana yang ibu maksudkan itu? yang ibu bilang akan membuat Bu Een dan Mas Mirza menyesal?” menatap ibunya tak percaya. “Apa-apaan ini Bu? nggak seharusnya ibu memaksa Mas Mirza seperti itu. ini sama saja dengan ibu menyuruh Mas Mirza untuk segera menceraikan Mbak Via.” Meletakkan dengan kasar map merah itu di atas meja.


“Ibu lakukan semua ini demi Via kakak kamu. Ibu nggak mau dia diceraikan Mirza tanpa mendapatkan apa-apa. Ibu harus memastikan kehidupan Via dan Nala akan baik-baik saja meskipun tanpa Mirza.” Terang Bu Harni membela diri.


Tersenyum kecut, “Aku kira ibu akan punya rencana apa untuk membuat Mas Mirza menyesal jika tetap menceraikan Mbak Via. Ternyata rencana ibu tak sehebat yang aku pikirkan,” berdecak tak habis pikir memadang ibunya, “masih saja soal harta yang ibu khawatirkan, kalo gitu apa bedanya ibu sama Bu Een?”


“Riri! Jaga mulut kamu ya!” menaikkan nada suranya karena tak terima disamakan dengan besannya. “Semua orang pasti butuh uang untuk biaya hidup. Ibu nggak mau Via dan Nala masa depannya susah kelak. Kamu jangan naif, kamu juga pasti senang kalau mempunyai banyak uang dan harta. Tapi sayangnya kamu dibutakan oleh cinta, kamu seolah melihat dunia padahal kedua mata kamu tertutup!”


“Pribahasa macam apa itu?” tersenyum miring pada ibunya yang mendadak kesal. “Ibu bermaksud menyindirku? Lakukan aja sesuka ibu, tapi aku nggak akan menikah kalo nggak sama Toni, titik!”


“Ri!” menarik lengan sang anak bungsunya yang hendak pergi. “Pikiranmu harus jauh ke depan. Jika suatu saat setelah kamu menikah dengan Toni kemudian berpisah, kamu akan dapat apa kalau suamimu itu tidak punya apa-apa?”


“Bu, cukup ya” melepaskan paksa tangannya dari cekalan sang ibu. “Aku menikah bukan untuk bercerai. Jadi buat apa mikirin ke arah sana? Justru ibu yang pikirannya kejauhan, seolah mendahului kehendak Tuhan. Lagian kita kan sedang bahas Mas Mirza dan Mbak Via, kenapa malah jadi ngomongin aku sama Toni?” mengomel kesal karena sikap ibunya sudah kelewatan.


“Ibu hanya mengingatkan kamu," tegas Bu Harni.


“Tapi aku nggak suka sama cara ibu,” terang Riri yang menag sifatnya blak-blakan. “Toni sudah the best buat aku, ibu boleh nggak memberikan restu pada kami kalau ingin melihatku menjadi perawan tua selamanya.” Lanjut Riri dingin.


Menghela napas berat, ia tau sang anak bungsunya itu sangat keras kepala. Tak ingin menanggapi lebih lanjut, Bu Harni akhirnya memilih diam.


“Cepat buang surat pernyataan konyol itu Bu, sebelum Mbak Via mengetahuinya,” ucap Riri kemudian. “Mbak Via pasti sedih kalau tau ibu sudah memaksa Mas Mirza buat menandatangani surat itu.”


Bergeming memandangi tulisan yang berisi poin-poin pernyataan penting yang harus disetujui oleh Mirza.


“Lagipula coba ibu pikir lagi poin terakhir itu,” sambung Riri. “ Apa-apaan ibu maksa Mas Mirza buat ngasih jatah bulanan Nala sebesar 10 juta per bulan? Emangnya Mas Mirza kerja apaan penghasilannya bisa sebesar itu? Kalau Mas Mirza punya peternakan tuyul atau babi ngepet sih mungkin, tapi kalo cuman kerja di apotik dokter Burhan kan mustahil.” Geleng-gleng kepala dengan kelakuan ibunya.


“Siapa tau dia mau berangkat berayar lagi setelah pisah sama Via,” elak Bu Harni.


“Tapi nggak seharusnya ibu melakukan itu. Emangnya kebutuhan bayi sekecil Nala sebanyak itu? ibu bener-bener udah kelewatan.”


“Ibu kan udah bilang, ibu cuma –“


“Sudahlah Bu, cepat buang saja suratnya. Atau kalo nggak biar aku yang membakarnya.”


Sreek.


“Biar ibu saja,” mendahului tangan Riri menggapai map berwarna merah itu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai, readers ....


terima kasih masih setia ngikutin TERPAKSA SELINGKUH yang nggak kelar-kelar ini 😘


Mohon maaf up nya lama ya, othor lagi sibuk sesuatu di rumah 🤭


jangan lupa tinggalkan like dan komen 🤩


Terima kasih banyak yang udah vote. othor masih nunggu vote dari yang lain nih 😁

__ADS_1


happy week end ... I love you all 🤗🤗🤗😘😘


__ADS_2