TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
280 #DEMI MAS MIRZA


__ADS_3

Usai sarapan dan memastikan baby Nala aman untuk ditinggal, Via segera bersiap pergi ke resto hotel tempat Hotman bermalam. Hanya memoles wajah ayunya dengan make up tipis, Via sudah terlihat mempesona. Diraihnya kunci dari atas nakas, gegas keluar kamar menuju garasi.


"Mbak, Incesnya bangun!" seru Jumilah pada Via yang baru saja hendak membuka pintu mobil.


Mengurungkan niatnya, menoleh heran, "bangun?"


"Iya."


"Ya digendong aja, ajak main."


"Mbak Via nggak mau nge-nen-in Inces dulu?"


"Emangnya dia nangis?"


"Heuum, nggak sih. Cuma -" menjeda kalimatnya sejenak, "agak rewel, ngerengek gitu Mbak."


"Stok ASI-nya masih ada kan Jum, di freezer? Pake itu dulu kayak biasanya, aku udah janjian nih takut telat," melihat sekilas pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya yang mulus.


"Janjian sama orang penting ya, Mbak?" Jumilah mulai kepo.


"Iya, orang penting. Penting banget."


"Penting mana sama Inces Nala?"


Berdecak sedikit kesal, "Ck, kamu nih Jum!"


"Nen- in dulu lah Mbak, sebentar. Njum takut Inces nangis, ntar malah repot kan kalo ngamuk? Dia pasti haus bangun tidur."


Mau tak mau akhirnya Via ngalah juga. Diayunkannya kembali kedua kaki menuju kamar.


Tadaaaa..., ternyata baby Nala lagi anteng aja tengkurep sambil memainkan ujung selimutnya dengan Jari-jarinya yang mungil. Ya, bayi lima bulan yang sudah mahir tengkurep bolak balik itu bisa dibilang hampir tak pernah rewel atau menyusahkan siapapun, kecuali diwaktu-waktu tertentu saat dia merasa tak nyaman.


"Halo, cantik... sayangnya bunda udah bangun ya?" sapa Via mendekat pada box tempat tidur Nala.


Yang disapa langsung menoleh dan tersenyum manis. Senyum yang sanggup membuat hati Via meleleh, senyum yang selalu membuat Via merasa tentram dan damai. Bagaimana tidak, senyuman Nala dengan lesung pipit dikedua pipi chubby-nya sangat mirip dengan senyuman sang ayah. Senyuman Mas Mirza, -senyuman yang bikin Via merasa rindu.


"Mana, katanya rewel Jum? orang Nala lagi anteng gini kok?" mengangkat tubuh Nala ke dalam pelukannya. "Sayangnya bunda tadi rewel ya? nangis ya? Mau *****?" bertanya pada sang anak dengan gaya anak kecil.


Senyum Nala semakin lebar, menjangkau pipi sang bunda dengan tangan mungilnya.


"Sayang di rumah dulu ya sama Bi Njum, Bunda mau pergi dulu. Nanti kalo urusan Bunda udah selesai, Bunda cepat pulang kok."


Seolah paham dengan kata-kata sang bunda, Nala mengoceh dengan bahasanya sendiri membuat Via yakin sang anak mengijinkannya untuk pergi.


"Anak pinter," mencium gemas wajah cantik Baby Nala lantas menyerahkannya pada Jumilah. "Nah, sekarang sama Bi Njum ya, mainan."


agak terbengong menerimanya, "nggak jadi nen, Mbak?"


"Nggak, orang dia anteng gitu kok."


"Tapi nanti kalo Inces ... "


"Aku siapin dulu deh ASI-nya dari freezer. Takut banget sih kamu Jum, kayak nggak biasanya aja, " gegas keluar kamar menuju kulkas.


Jumilah manyun dibuatnya. "Yah, gagal deh pingin ikut jalan," menowel pipi gembul Nala, "Inces, nangis dong. Anteng amat jadi bayi, nggak kasian apa sama Bi Njum? Bi Njum juga kan pengen sekali-kali jalan ke mana gitu ikut sama bundanya Inces. Sekalinya keluar palingan belanja bulanan," ngedumel berbicara pada baby Nala yang tampak cuek saja asyik memasukkan kepalan tangan kanannya yang imut ke dalam mulutnya.


Sementara itu di rumah Haji Barkah, Om Jaka yang diberitahu Denaya tentang Via yang menghubunginya beberapa saat yang lalu tampak shock dan khawatir.


"Astaga, Hani! Kok kamu malah kasih nomernya si Hotman sama Via sih?"


"Ya abisnya Via nanyain soal kasus Bu Een, Beb. Waktu aku bilang nggak tau, dia kayak nggak percaya gitu. Ya udah aku kasih aja nomer pengacaranya biar Via tanya sendiri," sahut Denaya tak mau disalahkan.


"Haduh, bisa berabe nih!"


"Lagian kamu pake ngelarang aku segala sih Beb, buat ngasih tau Via."


"Gue tuh cuman kagak mau ntar Via malah ikut campur. Kan kasihan dia, ikut belain mertuanya tapi nanti malah kena semprot sama ibu mertuanya yang sarap itu!" mendengus kasar, kentara sekali penuh kekhawatiran.


"Ya udah sih biarin aja dulu Via ketemu sama Bang Hotman, belum tentu juga Via mau ikut campur nyelesein kasus Bu Een. Siapa tau dia cuman mau nanya-nanya aja sama Bang Hotman."


"Sok manis lu, panggil dia pake sebutan Bang! Bang apaan? Bangkotan?" sewot nggak terima.


"Iya deh, Pak Hotman maksud aku, Beb, " ralat Denaya.


"Ini juga yang bikin gue rada parno nih," menyambar kembali kunci mobilnya, gegas melangkah meninggalkan Denaya.


"Eeh, mau kemana Beb?" lekas mengejar sang suami. "Baru juga nyampe, masa mau pergi lagi?"

__ADS_1


Spontan mengerem langkahnya, "gue khawatir si Hotman godain Via, " menatap Denaya serius. "Di depan gue aja dia berani godain elu, apalagi ntar sama Via yang kagak ada lakinya."


"Tunggu, aku ikut kalo gitu!" bersiap memutar tumit namun Om Jaka keburu melarangnya.


"No! Nehi-nehi terajanah kuch-kuch hota hai, Hani," ucap Om Jaka penuh kesungguhan. "Gue kagak mau liat elu dimodusin lagi sama tu pengacara sengklek."


"Tapi, Beb... "


Om Jaka menggoyangkan telunjuknya dengan tegas di depan wajah sang istri. "Tum paas aaye, yun muskuraaye. Tumne na jaane kya sapne dikhaaye. Tum paas aaye, yun muskuraaye. Ab to mera dil, jaage na sota hai. Kya karoon haye kuch kuch hota hai!" Ucap Om Jaka dengan raut tidak menerima penolakan.


Mengerucutkan bibirnya, "Somplak!" menghetakkan kakinya penuh kekesalan.


"Waaat? Se*pak??" Om Jaka melotot seolah kaget dengan ucapan Denaya. "Hani, kamu nggak boleh ngomong jorok ya! Saru di depan suami! Lagian kalo dibilangin sama suami tuh harus nurut, katanya mau jadi wanita ahli surga?"


"Ish, siapa yang ngomong jorok?" Kesal Denaya. "Aku bilang somplak, bukan ******!"


"Astaghfirullah, malah diulangin!" panik Om Jaka. "Hani, kamu tuh bener-bener ya. Sini aku cium bibir kamu, biar nggak ngomong jorok lagi," tanpa babibu langsung membopong tubuh Denaya ke atas kasur dan berusaha nyosor dengan raut wajahnya yang seketika berubah tengil.


"Aaaaaah, nggak mau! Kamu modus, Beb... " teriak Denaya berusaha memalingkan wajahnya namun sia-sia, karena sang suami nyatanya berhasil juga me**mat bibirnya.


"Makasih ya, Han," Om Jaka tersenyum lebar mengungkung tubuh Denaya. "Itu hukuman buat istri yang nggak nurut sama suami, hehe... "


"Dasar mesum!"


BUGH!


mendaratkan sebuah bantal di atas kepala sang suami dengan tangannya yang diam-diam meraih bantal di dekatnya.


"Hem, mau aku cium lagi?" bersiap menyosor dengan sorot usil.


"Nggaaaak!" menutup wajahnya dengan kedua telapak tangnanya.


"Oke, hukumannya kita lanjut nanti malam," tersenyum penuh arti lantas bangkit dan berjalan keluar kamar. " Bye, Hani! Assalamualaikum!" melemparkan cium jauh seraya mengerlingkan matanya genit.


Denaya mencebik kesal dibuatnya, namun tak urung dijawabnya juga salam itu walau dengan menggumam.


-


-


-


"Di rumah, Om," sahut Via dari seberang.


"Elu ada janji sama Hotman ya?"


"Kok Om Jaka tau?"


"Barusan Dena cerita pas gue nyampe rumah."


"Ohh. Iya nih mau berangkat, baru beres nyiapin keperluan Nala soalnya."


"Oke, gue jemput elu. Kita bareng berangkatnya. "


"Kenapa nggak langsung ketemu di tempat aja, Om? Aku bisa kok berangkat sendiri."


"Jangan ngeyel, gue jemput elu. Ini gue udah lagi jalan," Om Jaka tak mau dibantah.


"Oke," terpaksa setuju walau rada heran juga kok Om Jaka ngotot gitu.


Duduk manis di teras depan agar tak membuat Jumilah curiga, Via mengirim pesan pada Hotman mungkin dia akan datang agak terlambat.


"It's ok, dear," pesan balasan dari Hotman membuat Via mengernyitkan dahi, untunglah Om Jaka tak lama berselang segera datang.


Mereka berdua lantas menuju resto dimana Hotman sudah menunggu.


"Halo, Nona Livia," sambut Hotman langsung berdiri dari duduknya begitu Via dan Om Jaka sampai, senyumnya mengembang sempurna, kedua mata genitnya seketika dihujani lope-lope begitu melihat Via. "Nona Livia terlihat lebih cantik aslinya daripada foto profilnya ya, hahaha... " tertawa lebar tanpa basa basi mengeluarkan jurus rayuan pulau kelapanya yang pertama.


Via hanya tersenyum tipis.


"Rupanya Nona Livia datang bawa bodyguard ya?" melihat Om Jaka masih dengan senyumnya yang merekah. "Oya, perkenalkan, saya Hotman Siangbolong," mengulurkan tangannya yang tentu saja dengan jari jemari ala-ala toko perhiasan berjalan.


"Kagak usah salaman!" menarik siku Via yang hendak membalas uluran tangan Hotman. "Ntar kesetrum. Tegangan tinggi soalnya dia!" melotot pada Hotman lantas segera mendudukkan diri diikuti Via.


Hotman nampak kesal, namun segera disetelnya kembali wajahnya dengan ramah. "Oya, kalau boleh saya tau, Nona Livia kenapa begitu ingin sekali mengetahui perkembangan kasus Bu Endang? Apa Nona... "


"Via, panggil saya Via aja. Nggak pake Nona," pangkas Via yang rupanya sedari tadi risih dengan sebutan embel-embel nona.

__ADS_1


"Ok, baiklah nona... eee maksud saya, Via cantik... "


"Elu bisa kagak sih sehari aja kagak modusin perempuan mulu hidup lu?" Potong Om Jaka kesal. " Inget anak bini lu di rumah!"


"Ah, kau ini Jack! Macam bukan laki-laki saja, biasalah kita kalau di luar rumah begini."


"Biasa pale lu! Gue kagak kayak elu, Poltak!" Om Jaka gedek banget.


"Terserah kau sajalah, aku tak mau banyak cakap dengan kau. Aku mau tau penjelasan dari nona... Via," Hotman tak mau ambil pusing.


Via lantas mengungkapkan keingintahuannya tentang perkembangan kasus yang menimpa sang ibu mertua. Hotman pun memaparkan dengan gamblang dari a sampai z tentang perkembangan kasus itu berikut dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan Bu Een dapatkan di sidang putusan pengadilan kelak karena Om Jaka meminta Hotman berhenti menangani kasus mbakyunya itu.


"Kita harus mengupayakan yang terbaik buat ibu, Om." Ucap Via bersungguh-sungguh setelah Hotman selesai dengan uraian panjangnya.


"Ogah!" tolak Om Jaka mentah-mentah. "Kagak usah repot-repot, Vi. percuma! Karena mertua elu sendiri yang kagak mau didampingi pengacara."


"Nggak bisa gitu dong, Om. Kasihan ibu, dia berhak mendapatkan pembelaan."


Menggeleng tegas, "gue udah lepas tangan. Kagak mau ikut campur. Udah cukup gue disalah-salahin terus selama ini."


"Oke, kalo gitu aku sendiri yang akan nerusin ini, " sahut Via yakin.


"Elu jangan gila ya Vi, si Hotman itu mahal bayarnya! Sia-sia elu keluarin duit kalo nanti cuman malah tambah dibenci sama mertua elu itu!" Om Jaka memperingatkan.


"Aku nggak papa dibenci sama ibu, toh memang ibu udah benci banget kan sama aku dari dulu?" menatap Om Jaka lurus. "Yang penting aku udah berbuat yang terbaik buat ibu. Dan justru kalo aku diam aja, aku malah takut Om," menjeda kalimatnya.


"Takut apa?" kejar Om Jaka.


"Takut Mas Mirza membenciku," lanjut Via lirih. "Aku nggak mau dinilai nggak peduli sama ibu ketika nanti Mas Mirza mengetahui semua ini. Ibu cuma punya satu anak, Om. Dan saat Mas Mirza tak ada seperti sekarang, maka kewajibanku lah yang menggantikannya."


"Mirza tau dari dulu elu baik dan tulus, dia nggak akan nyalahin atau benci kalo elu nggak ngebelain ibunya," ucap Om Jaka.


"Tapi aku harus melakukannya, Om."


"Vi... "


"Demi Mas Mirza."


"Oke, jadi kapan pelunasan pembayarannya, Jack?" Ujar Hotman yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia.


Seketika Om Jaka langsung nyolot. "Sabar napa? Dasar matre lu!"


"Segera, Pak," timpal Via yakin. "Tolong lanjutkan dampingi kasus mertua saya."


"Eh main segera-segera aja lu! Emangnya elu punya duit, Maemunah?" heran dengan jawaban Via.


"Aku akan jual empang dan ladang garam pemberian Mas Mirza, Om."


"Bujug! Yakin lu, Saodah? Pan itu bekal masa depan elu sama anak elu ntar!" Om Jaka berusaha meyakinkan.


"Nggak papa, aku ikhlas Om."


"Elu ikhlas, tapi gue kagak!"


Tersenyum dengan sorot permohonan, "tolong bantu bilang ke Pak Haji ya Om, aku mau jual kembali semua itu ke Pak Haji Barkah."


Menepuk jidatnya sendiri frustasi, "gue lagi deh yang repot kalo gini!"


"Om, please... demi Mas Mirza."


"Ampun dah ah! Elu ada-ada aja, Markonah, Markonah... " mengusap kasar wajahnya.


"Alamak, cantik-cantik dipanggilnya sembarangan. Maemunah, Saodah, Markonah...??" Hotman ngedumel menatapi kedua orang yang masih berdebat kecil di depannya itu.


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Haiiiii, dear....


mohon maaf ya kalo banyak typo. othor usaha banget nih up, maafkan kalo blepotan ya πŸ™πŸ™


Makasih selalu setia nungguin notif tulisan othor awut-awutan ini πŸ₯°πŸ₯°


like, udah belum??


komen dong, ntar bilangin Om Jaka lho biar diomelin yang kagak mau komen πŸ˜‚πŸ˜‚


vote?? terserah aja deh. udah ratusan episode votenya masih mengenaskan πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† yang mau- mau aja, othor kagak ngurus yang kagak mau, bodo amat 😁😁 soale kagak tau juga vote bakal apaan 🀣🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


i lop yu all πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹ (tuuuh othor templokin bibir sexy othor buat kalian semua 🀭🀭🀭)


__ADS_2