TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
37 #COMPLICATED


__ADS_3

Via benar-benar mengunci diri di kamar semalaman, Mirza pun tak bisa memejamkan matanya. Perasaan bersalah yang teramat besar membuatnya gelisah, dia memikirkan langkah apa yang akan diambilnya jika Via masih menolak permintaan maafnya. Dan ketika pikirannya lelah, dia tertidur dengan sendirinya di atas sofa ruang tengah.


Waktu subuh telah lewat sejam yang lalu, Via bangun karena mendengar cicit sekawanan burung gereja yang biasa berkumpul di genteng balkon kamarnya setiap pagi.


Pukul 05.05, pagi ini memang terasa sangat berbeda, hanya ada dia seorang diri di atas kasur lebar dan empuk itu. Via menatap kosong ke sisi kanan di mana biasa suaminya tidur. Untuk sejenak ingatannya kembali pada kejadian kemarin sore.


"Ternyata aku nggak lagi mimpi." Gumamnya lantas segera menuju kamar mandi.


Via tak sadar berapa lama dia menghabiskan waktu di kamar mandi, yang jelas ketika dia keluar, langit di sebelah timur sudah mulai menyemburkan warna jingga keemasan. Dihamparkan nya sajadah beludru untuk memulai ritual shalat subuh yang agak kesiangan itu. Cukup lama juga dia di atas sajadah itu setelah menunaikan 2 rakaat shalatnya. Via tepekur berdialog dalam hati dengan Tuhannya, namun dia tak menangis sama sekali. Air matanya seperti sudah habis terkuras semalaman hingga dia pun terpejam dengan sendirinya.


Via lantas duduk menghadap cermin untuk memeriksa tampangnya. Matanya sembab dengan gurat kelelahan nampak di bawahnya. Via memoles wajah ayunya dengan bedak alakadarnya dan lipstik tipis secukupnya. Dia sudah punya rencana hari ini ingin keluar, dia butuh teman bicara.


Mirza masih terlelap di sofa ruang tengah, mata Via langsung tertuju padanya ketika turun ke lantai satu.


"Ternyata kamu tidur di sini, Mas." Via berujar pelan sambil menatap wajah Mirza yang pulas.


Ah, Mas aku tak pernah semarah ini padamu selama kita menikah. Aku ingin tak percaya kalo kamu menghianatiku, tapi nyatanya kamu mengakuinya. Kamu tau sebesar apa aku mencintaimu, begitu juga sebaliknya. Tapi kenapa kamu tega berselingkuh dengan alasan ketidaksengajaan.


Mata Via mulai berkaca-kaca, namun segera disekanya air itu jangan sampai benar-benar keluar dan jatuh.


"Aku nggak boleh nangis." Ucap Via pada dirinya sendiri.


Mirza menggeliat mengubah posisi tidurnya membuat Via sedikit terkejut. Via bergegas menuju dapur takut Mirza terbangun dan mendapati dirinya tengah berada di sana dengan tatapan sendu.


_____________


Udara pagi ini cukup segar, Om Jaka menikmati satu mug besar teh tubruk gula aren di teras samping rumah sambil memandangi anggrek bulannya yang bermekaran.


Sroot ....


"Aahh .... " Om Jaka menyeruput teh tubruknya, hangat dan wangi aromanya membuat suasana hatinya bahagia. "Normal banget hidup gue walau kagak punya bini."


Om Jaka tersenyum sendiri setelah mengucapkan kalimat itu. Kemudian dia meraih hpnya bermaksud menghubungi rekan bisnisnya untuk mengabarkan kalau dia akan pulang kampung selama beberapa hari karena ada urusan penting.


Ting tong


Ting tong


Bunyi bel membuat Om Jaka menghentikan aktifitasnya. Dia beranjak menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


"Sofi?" Om Jaka kaget mendapati siapa tamunya pagi ini.


"Boleh aku masuk, Om?" Tanya Sofi.


Om Jaka hanya mengangguk, dia masih sedikit terkejut dengan kunjungan Sofi pagi ini ke rumahnya.


"Om, saya minta maaf kalau sudah mengganggu waktu Om Jaka sepagi ini." Ujar Sofi seperti mengerti isi hati Om Jaka.

__ADS_1


"Ada apa memangnya? Apa ada yang penting?" Om Jaka tak bisa menyembunyikan keingintahuannya.


Sofi mengangguk samar. "Aku akan menikah bulan depan." Ucap Sofi datar.


"Dengan laki-laki yang sudah dijodohkan dengan mu itu? " Tanya Om Jaka masih dengan rasa keingintahuannya.


Sofi mengangguk lagi.


"Apa dia sudah tahu tentang keadaanmu?"


"Iya. aku sudah menceritakan semuanya."


"Terus, gimana responnya?"


"Dia marah dan kecewa, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin menikah dengan Mirza."


Om Jaka menyandarkan punggungnya di kursi tamu dan menghela napas berat. Belum lama dia merasa paginya indah dan ceria namun kini Sofi merusaknya.


"Om, aku harus ketemu Mirza." Ucap Sofi sedikit memaksa.


Om Jaka terdiam sebentar. Apa jadinya jika mereka bertemu lagi, padahal Mirza sekarang sedang dalam masalah karena Via sudah mengetahui perselingkuhannya.


"Om bisa kan minta Mirza untuk datang ke sini?" Desak Sofi.


"Nggak Sofi, kalian kan sudah sepakat menunggu 6 bulan kemudian setelah bayimu lahir." Sahut Om Jaka tegas.


"Kenapa nggak kamu sendiri aja yang bilang? Mirza kan belum yakin kalo itu anaknya. Om rasa kamu harus berterus terang pada keluargamu tentang semua kehidupan yang selama ini kamu jalani karena bukan hanya Mirza laki-laki yang ada di hidupmu kan?"


Perkataan Om Jaka sontak membuat Sofi pias. Dia tak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Beberapa waktu yang lalu dia berhasil meraih simpati Om Jaka dengan keadaannya, tapi sepertinya sekarang Om Jaka susah untuk digoyahkan.


"Sudahlah Sofi, kalau memang kamu ditakdirkan berjodoh dengan Mirza nanti kamu pasti menikah dengannya walau harus menunggu 6 bulan terlebih dulu." Om Jaka tak mau berlama-lama membuang waktunya untuk Sofi. "Kamu harus komitmen dengan kesepakatan yang sudah kamu setujui dengan Mirza."


Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut Sofi, dia keluar meninggalkan rumah Om Jaka dengan langkah gontai penuh kekecewaan.


Om Jaka sedikit lebih lega, dia tak bisa menunggu lebih lama lagi, dia harus menemui Mirza seperti janjinya pada Via.


_____________


Ica sedang merengek minta dibikinkan susu sementara tangan Tia belepotan karena sedang membuat adonan kue.


"Sebentar ya sayang, Bunda masih repot nih." Tia berusaha menyabarkan Ica.


"Tapi Ica maunya sekarang, bunda. Ica mau minum susu." Ica menjejak-jejakkan kakinya ke lantai sebagai tanda protesnya.


"Iya, tunggu sebentar lagi. Atau Ica bikin sendiri ya? Ica kan pinter, kemarin juga udah bisa bikin sendiri kan?"


"Nggak mau, Ica maunya bunda yang bikinin!" Ica semakin merajuk dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Assalamualaikum!"


Terdengar suara salam dari pintu depan membuat drama Ica terjeda sebentar.


"Ica cucu Eyang .... lagi ngapain ya ...?" Suara melengking khas Bu Suharni membuat Ica dan Tia melongok ke ruang depan hampir berbarengan.


"Ibu? Tumben pagi-pagi udah nyampe sini?" Tia agak kaget juga mendapati ibunya yang nggak biasanya mampir ke rumahnya.


"Ibu barusan dari pasar kecamatan, mampir sekalian bawain buah anggur nih kesukaannya Ica." Bu Suharni duduk memamerkan buah anggur yang dibawanya dengan senyum lebar.


Ica sama sekali tak berekspresi.


"Lho, Ica kok cemberut aja? Cucu eyang kenapa ini mukanya?" Bu Suharni meraih Ica ke dalam pangkuannya.


"Ica mau minum susu tapi bunda nggak mau bikinin." Ica mengadu pada eyangnya sambil melihat Tia dengan kesal.


"Bukan nggak mau, bunda kan masih repot sayang." Tia membela diri sambil memperlihatkan kedua tangannya yang penuh tepung.


Bu Harni memperhatikan dapur mini Tia yang agak berantakan. "Kamu lagi banyak pesanan?" Tanya Bu Harni.


"Iya, Bu. Pesanan kue untuk nanti siang."


"Apa ya keburu, jam segini belum apa-apa? Arya mana? Kok nggak bantuin sih kamu repot begini?"


"Ada, Bu. Di kamar."


"Masih tidur?" Intonasi Bu Harni naik beberapa oktaf. "Bener-bener nggak becus tuh orang! Nggak bisa dibiarin!" Bu Harni bangkit.


"Eh, Ibu mau ngapain?" Sergah Tia.


"Bangunin suami kamu!"


"Jangan, Bu. Mas Arya baru pulang subuh tadi habis ngantar penumpang."


"Alah, itu pasti alasan suami kamu aja. Palingan dia nongkrong main kartu sama teman-temannya." Bu Harni mencibir kesal.


Bu Harni menuju kamar tidur satu-satunya di rumah kontrakan Tia yang kecil itu tak mempedulikan ucapan Tia.


BRAK!


Bu Harni membuka kasar pintu kamar dan benar saja masih mendapati Arya tidur di sana.


"Heh, Arya! Bangun kamu!" Teriak Bu Harni sambil berkacak pinggang di tengah pintu kamar Arya.


__________ bersambung


like, komen rate dan vote ya akak, terima kasih ☺️☺️🙏🙏🤗🤗❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2