
Sejak kepulangan Mirza, Via selalu diantar jemput ke kantor setiap hari oleh suami tersayangnya itu. Hal itu tentu menjadi bahan gosip bagi Milen cs. Seperti sore ini di jam pulang, dengan ke kepoannya Milen sengaja mengawasi Via. Vony dan Cila yang datang belakangan ikut berdiri mengamati di dekat pintu loby.
“Kita ikutin yok, aku penasaran kayak apa gebetan barunya Via.” Usul Cila.
“Alah, palingan juga nggak jauh beda tampangnya kayak Om Om tempo hari itu.” Cibir Vony.
Milen bergegas keluar loby mendahului kedua teman rumpinya. Ia berjalan cepat kemudian bersembunyi di balik salah satu mobil yang terparkir agak jauh dari mobil Mirza, ehh mobil Om Jaka denk! Hehe….
“Len! Ya elah, tungguin woi!” Cila segera mengejar. Vony pun tak mau ketinggalan.
Aksi mereka bertiga persis detektif nggak ada kerjaan.
“Halo, Sayang.” Mirza menurunkan kaca jendela mobilnya menyapa sang istri yang sudah mendekat.
“Lama nungguin ya, Mas?”
“Nggak kok, belum ada 5 menit.”
“Aku yang nyetir boleh ya? Aku mau ajak Mas ke suatu tempat.” Ucap Via.
“Mau kemana?” Mirza membuka pintu dan keluar. “Mau ngajakin Mas jalan-jalan ya?”
“Ada deh.” Via nggak mau ngasih tau, mereka ngobrol sebentar tanpa mengetahui ada tiga kepala yang sedang mengawasi mereka.
“Len! Itu gebetan barunya si Via?” Cila meremas lengan Milen sambil matanya tak berkedip memandang Mirza.
“ISh! Sakit, Cil!” Milen menghempaskan tangan Cila dari lengannya.
“Sorry sorry, abisnya aku shock liat tampangnya tuh cowok. Cakep banget Len.” Cila gemas sendiri sambil terus memperhatikan Mirza dari balik mobil sedan hitam tempat mereka mengintai.
“Cakep dari Hongkong? Tampang kayak cowok urakan begitu, dibilang cakep! Udah kayak bapak-bapak juga tuh tampangnya!” Cibir Vony. “Cakepan Pak bos kemana-mana dong.” Lanjut Vony yang langsung mendapat tatapan tajam Milen.
“Pak bos punya aku!” Tegas Milen, Vony langsung mingkem.
“Ish, si Via kok manja banget sih tuh! Dasar ganjen!” Cila nggak suka melihat Via yang tengah ngobrol dengna Mirza sambil senyum-senyum. “Mas gondrong, mending sama aku aja ….”
“Ekhem!” Satu deheman membuat kegiatan Milen cs teralihkan. Mereka kompak menoleh.
“Pa- Pak Danar?” Milen terbata karena aksinya kepergok sang bos.
“Kalian itu bener-bener nggak ada kerjaan ya!” Danar menatap mereka tajam kerena mengetahui apa yang sedang Milen cs itu lakukan.
“Eum, kita … kita lagi ngobrol kok Pak.” Cila berdalih.
“Kalian pikir saya nggak tau?” Danar pasang tampang bengis. “Behenti urusin hidup orang kalo kalian masih mau kerja disini!”
Milen cs langsung menunduk tak berani berkata apa-apa lagi, mereka malu setengah mampus karena ketahuan kepoin Via lagi.
“Sekarang minggir dari mobil saya!” Usir Danar.
Milen cs baru sadar kalo mobil yang mereka pake buat tempat berlindung adalah mobil bos mereka. Danar bergegas masuk dan membanting pintu dengan tampang galak. Sementara Mirza dan Via juga baru saja meninggalkan parkiran.
Danar mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan sore yang cukup padat di jam pulang kerja. Sekelebat bayangan Via yang tengah bermanja ria dengan Mirza di parkiran barusan mampir di benaknya. Tampang laki-laki ganteng itu kini berubah masam, hatinya tak menampik bahwa ia cemburu melihat mereka.
Danar menarik nafas panjang menghembuskannya kasar seolah ingin membuang semua gundahnya. Beberapa menit kemudian, ia meraih ponsenya mendial nomor seseorang setelah memasang headsetnya.
“Halo, Ri. Kita bisa ketemu?”
“(………………)”
“Nanti aku jemput kamu sejam lagi ya.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Setelah melewati pemeriksaan yang cukup ketat, Hanson akhirnya berhasil juga masuk ke rumah sang raja minyak yang bak istana sultan itu.
“Silakan, Tuan.” Seorang pelayan membukakan pintu tamu yang tinggi dan lebar persis pintu gerbang kemerdekan bangsa Indonesia (🙄🙄) kemudian memimpin Hanson ke ruang tamu.
Ini adalah kali ke dua ia ke rumah sang mantan alias Sofi. Kunjungan pertamanya bersama Arumi beberapa waktu yan lalu, makanya ia pede aja ketika datang seorang diri.
“Silakan tunggu, Tuan. Nyonya Sofi akan datang sebentar lagi. “Ucap pelayan itu ramah.
Hanson mengangguk sebagai jawaban. Pelayan tadi pergi, tak lama kemudian Sofi muncul. Wajahnya seketika menegang ketika menjumpai siapa tamunya.
“Kamu?” ucap Sofi dengan shock.
Hanson berdiri menyambut sang mantan dengan mengulas senyum. “Halo, apa kabar?”
“Bisa-bisanya kamu datang menginjakkan kaki lagi ke sini?” Geram Sofi.
“Wow, sambutanmu sangat luar biasa Nona Sofia.” Hanson terkekeh seolah Sofi sedang melucu.
__ADS_1
“Langsung saja, cepat bilang mau apa kamu kesini?” Sinis Sofi.
“Apa kita nggak bisa ngobrol sambil duduk dan minum kopi?”
“Cepat bilang atau aku akan perintahkan pelayan menyeretmu keluar dari sini!” Ancam Sofi.
Hanson memandang Sofi dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ich will deinen Sohn." (aku mau anakmu).
Sofi terbelalak. “Apa katamu?”
“Ich will dein Kind in deinem Leib." (Aku mau anak yang ada dalam kandunganmu). Ulang Hanson seraya menatap perut Sofi yang masih rata.
“Sinting!”
“Kau yang sinting! Hanya demi harta kamu rela menggugurkan kandunganmu!” Sarkas Hanson.
“Jaga bicaramu! Kamu nggak tau apa-apa.”
Hanson mendekat, memasang wajah geram. “Der Fötus den du abgebrochen hast, ist mein Kind.“ (janin yang kamu gugrkan itu anakku!“
"Cih! Yakin sekali kamu!“ Balas Sofi sengit. "Dia bukan anakmu! Dia buah cintaku bersama laki-laki yang aku cintai, laki-laki yang baik bukan laki-laki bejad macam kamu!“
Hanson mencengkeram lengan Sofi kasar. "Kalau aku bejad, lantas kamu apa?“
"Lepas!“ Sofi berusaha melepaskan cengkraman Hanson. "Kamu jangan macam-macam. Aku akan teriak dan kamu ...
"Drohe mir nicht!“ (jangan mengancamku.) tatapan Hanson menghunus tajam. "Aku yang akan teriak dan membeberkan kebusukanmu. Seisi istana megahmu ini akan tau siapa sang Nyonya Sofia Alta Husein yang sebenarnya.“ Hanson melepaskan cengkramannya dengan mendorong Sofi.
Sofi mengusap lengannya yang memerah bekas cengkaraman Hanson. "kamu sudah mencampakkanku, lalu kenapa tiba-tiba kamu datang lagi mengungkit masa lalu?“
"Aku sudah katakan, aku mau anakmu!“
"Aku nggak akan memberikannya. Memangnya kau pikir kau ini siapa seenaknya saja minta anakku?“ Sinis Sofi.
"Itu sebagai ganti anakku yang kau gugurkan.“
"Aku sudah bilang, dia bukan anakmu!“ Sofi berkeras.
"Tapi aku yakin dia anakku!“
"Terserah!“ Sofi berbalik jengah hendak meninggalkan Hanson. Namun Hnason dengan cepat mencegatnya.
"Minggir!“ Bentak Sofi kasar, kesabarannya sudah habis.
"Kamu pikir aku takut? Lakukan saja, aku nggak peduli!“ Tantang Sofi.
"Kalau begitu aku akan menghilangkan juga janinmu itu sama seperti yang kau lakukan pada anakku.“ Seringai Hanson.
Mendadak Sofi gemetar. Dia tak bisa membayangkan jika harus kehilangann janinnya untuk yang kedua kalinya. Dan resiko kali ini justru akan lebih parah, ia bisa saja terancam didepak dari istana suaminya padahal dia sudah mengangankan anaknya kelak akan mewarisi semua kerajaan bisnis keluar Alatas.
"hast du Angst?“ (Kamu takut?) Hanson tersenyum mring. "Kalau begitu, berhati-hatilah, Nyonya Sofia.“ Hanson mengelus perut Sofi dengan tatapan mata penuh ancaman.
"Jauhkan tanganmu!“ Sofi menghempaskan tangan Hanson. "Kamu nggak akan bisa merebutnya dariku! Jangan coba-coba menyentuhnya! Pergi kamu dari sini, pergi!“ Teriak Sofi lantang dengan tubuh gemetar.
Gerald, sang kepala pelayan yang sedari tadi memenatau situasi bersembunyi di tempat terlindungi segera menghampiri sang nyonya, ia merasa inilah waktunya yang tepat untuk menunjukkan kepeduliannya.
"Nyonya! Apa Nyonya baik-baik saja?“ Tanya Gerald panik.
"Seret orang ini!“ Sofi menunjuk muka Hanson penuh amarah.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?“ Tanya Gerald pura-pura tak mengerti.
"Sepertinya Nyonya Sofia hanya kurang sitrihat saja. Kalu begitu aku permisi.“ Ucap Hanson dengan entengnya lantas berlalu dengan langkah lebar meninggalkan Sofi yang masih berdiri gemetar dengan pelupuk mata mengembun.
Hanson mengemudikan mobilnya keluar dari istana si raja minyak dengan senyum mengembang. Ia yakin Sofi akan memikirkan ancamannya. Dengan cara apapun Hanson harus mendapatkan bayi yang ada dalam kandungan Sofi itu, karena trauma kecelakaan yang dialaminya selain mengakibatkan pisangnya sempat tak berfungsi, ternyata juga telah menyebabkan gangguan pada hormon kesuburannya meski memang masih ada 20% kemungkinan dia kan mempunyai keturunan, setidaknya begitulah menurut dokter yang menanganinya waktu itu.
❤️❤️❤️❤️❤️
Via dan Mirza sudah berada di sebuah restoran tengah meyantap makanan mereka sambil diselingi obrolan ringan.
"Enak kan Mas makanan disini?“ Tanya Via.
"Iya. Kok kamu tau tempat ini sih, Sayang?“ Mirza balik bertanya sambil terus mengunyah.
"Waktu itu pernah diajak Bu Elin kesini.“
Mirza manggut-manggut. "Mas kirain kamu mau ngajakin ke barber shop.“ Ucap Mirza kemudian sambil cengengesan.
"Mas kan nggak mau potong rambut?“ Bibir Via mengerucut.
"Cukur jenggot sama kumis aja kan udah cukup?“ Goda Mirza .
__ADS_1
"Masih kurang pendek itu, aku geli kalo kamu cium tau!“ Cebik Via yang lantas buru-buru membekap mulutnya sendiri begitu sadar lagi di tempat umum. Via lantas tengok kanan kiri, beruntung pengunjung agak jauh dari meja mereka.
Mirza terkekeh geli melihat tingkah istrinya. Via lantas menyudahi makannya.
"Mas, kapan kita ke rumah Ibu?“ Tanya Via sebelum menyedot minumannya.
"Nanti aja lah, Sayang. Mas masih capek.“ Mirza menyisihkan piringnya yang juga sudah tandas.
"Mas kan udah beberapa hari pulang, masa belum berkunjung ke rumah ibu? Ibu habis sakit lho, Mas.“
"Sakit?“ Mirza penasaran sedikit kaget.
Via lantas menceritakan kejadian ibu mertuanya yang durjana itu yang jatuh nyebur ke parit di sawah dan mengakibatkan luka pada kaki dan wajahnya. Via emang selalu baik ya, masih juga perhatian sama mertuanya segitu udah diperlakukan dengan semena-menanya.
Mirza tampak merenungi perkataan Via. Dia memang sudah tak menyimpan jengkel lagi pada ibunya, tapi jika ia mengunjungi ibunya bersama Via, dirinya tak siap melihat istrinya dijulitin terus sama ibunya.
TELOLET .... TELOLET .... TELOLET ... TET!
Bunyi gawai Mirza memecah kebisuan mereka. Om Jaka yang telpon rupanya.
“Halo, Assalamualaikum.”
“Wa alaikumsalam! Za, elu udah balik kok nggak ngabar-ngabarin gue?” Suara Om Jaka terdengar kesal di seberang.
“Om Jaka kan udah tau dari Via, ngapain masih harus dikasih tau?” Balas Mirza.
“Ye, maksud gue ya elu tanyain kek kabar Om elu ini. Elu kagak kangen apa sama gue?”
“Nggak tuh.” Jawab Mirza lantas tergelak.
“Songong lu!” Kesal Om Jaka. “Ya udah gue main tempat elu ya bentar lagi pulang dari toko ini?”
“Eh, Om Jaka emang dimana sekarang?”
“Gue jaga toko babenya Denaya di kota. Deket kok jaraknya dari rumah elu.”
“Tapi aku sama Via lagi nggak di rumah Om.”
“Lagi dimana emang? Udah sore gini masih kelayaban aja lu! Buruan balik, gue mau kesono bentar lagi nih. Elu harus udah pulang sebelum gue nyampe!”
“Kok maksa banget sih Om?” Mirza kesel Omnya mulai tengil.
“Iya soalnya gue kangen pingin ketemu elu, kita kan udah lama nggak ngobrol sambil ngopi-ngopi, hehe…” Aku Om Jaka jujur. “Bila perlu gue nginep dah di rumah elu biar kita bisa ngobrol semalaman.”
“Nginep? Wah, jangan dong!” Sergah Mirza cepat.
“Kenapa emangnya?”
“Hmm, aku sibuk Om.”
“Elu kan pengangguran, jangan sok sibuk lu!” Omel Om Jaka. “Sibuk apaan emangnya pengangguran macam elu?”
“Sibuk bikin anak.” Sahut Mirza yang langsung mendapat hadiah cubitan di pahanya karena jujur amat jawabannya. Mirza meringis dibuatnya.
“Kenapa lu? Pasti dicubit bini elu ya?” Tebak Om jaka di seberang seolah tau banget. “Bilangin ama Via, gue mau nginep. Malam ini libur dulu lah bikin anaknya.”
“Haduuuh, ganggu aja deh Om ini. Aku sama Via lagi usaha banget nih.”
“gue kagak mau tau, pokoknya gue bentar lagi ke rumah elu, nginep!”
NUT NUT NUT ……
“Hm! Dasar Om Jaka!” Mirza mendengus kesal.
“Om Jaka emang nggak dicariin Dena ya kalo nginep? Kan Dena lagi hamil, mana katanya manja banget lagi sama Om Jaka?” Heran Via.
Mirza hanya mengangkat bahu, pasrah.
Hari semakin sore, senja merambat pelan. Mirza dan Via pun meninggalkan tempat itu meski sebenarnya masih ingin berlama-lama disana karena suasana restoran itu memang nyaman banget. Tapi daripada mendapat omelan Om Jaka, mereka memilih segera pulang. Via hampir melangkahkan kaki menaiki mobil ketika melihat dua orang beriringan masuk restoran dari sisi lain.
Danar dan Riri? Wah, mereka makin deket aja. Bagus deh, semoga aja bisa beneran berjodoh.
“Sayang! Kok malah bengong sih?” Tegur Mirza yang sudah masuk mobil. “Cepetan naik kalo nggak kita bakal diomelin Om Jaka.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Halo, readers tersayang .... terima kasih sudah membaca dan setia menantikan kelanjutannya ya ... 🙏🙏🙏😍😍
Mohon maaf kalo ada typo dan kesalahan dalam penerjemahan, karena othor dapat nanya dari si mbah Google 😂😂🤭🤭🤭
jangan lupa like dan komen ya 🤩🤩🤩
__ADS_1
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘