
Jane membuka jendela kamarnya dengan sedikit dorongan keras membuat Rumi terbangun karena kaget, matanya mengerjap beberapa kali karena sinar matahari pagi yang nyelonong masuk membuatnya silau.
“Bangun lo, matahari udah tinggi tuh!” Jane mencolek bahu Rumi.
“Ish, bikin kaget aja! Nggak ada sopan-sopannya sama tamu!” Gerutu Rumi memonyongkan bibirnya.
“Tamu nggak tau diri!” Cibir Jane. “Pulang sana, takut bener sama si bule. Belum tentu juga dia nyariin elo!”
“Elo ngusir gue?”
“Iya!” Jane ngeloyor ke kamar mandi.
Rumi menyingkapkan selimut dengan malas, ia duduk mengecek ponselnya, tak ada notifikasi apa-apa. Tumben, padahal ia tidur sedari lepas maghrib udah kayak orang mati suri jam segini baru bangun, dan tak ada seorang pun yang menghubunginya.
Rumi bangkit menuju jendela, pandangannya kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam dirinya, tapi ia tak mau mengakuinya. Dia yakin kalau dirinya baik-baik saja, dia tidak sedang kecewa ataupun patah hati karena Hanson.
Eh, kok Hanson lagi? Arumi mendengus, nama Hanson selalu saja melintas di benaknya tiap kali dia sendirian.
Si bule itu lagi ngapain ya? Kok nggak ngubungin gue? Apa dia baik-baik aja? Lah, kan gue block nomernya dia ya? Pantesan aja dia nggak ngubungin gue! Ah, bodo amat! Ngapain juga mikirin dia!
“Hoy! Ngapain lo nemplok di jendela? Mandi sana!” Rumi sampe tak sadar kalo Jane udah selesai mandi.
Rumi hanya melihat dengan malas lalu kembali membuang pandangannya ke luar jendela. Jane pun pada akhirnya memilih buat nyuekin Rumi.
“Elo mau kemana udah rapi gitu?” Rumi memperhatikan Jane yang sudah selesai berpakaian.
“Mau ketemuan sama Azad.” Jane memulas lipstick nude di bibir tipisnya.
“Lagi?” Kaget Rumi.
“Biasa aja lagi, nggak usah kaget gitu.”
Rumi menghampiri dan memandang Jane penuh selidik. “Kalian ada hubungan spesial?”
“Mau tau aja apa mau tau banget?” Jane sengaja menggoda Rumi membuat gadis hitam manis itu makin kesal.
“Hebat juga lo. Semalam diundang makan malam sama mertuanya si Sofi, hari ini mau jalan sama adiknya si Sofi.” Sinis Rumi, namun Jane cuek tak mau menanggapi, ia memilih beberapa jam tangan yang cocok untuk dipakainya. “O iya! Gimana makan malam elo?” Rumi tersentak kaget karena ingat belum mewawancarai Jane sepulang acara makan malam di rumah Tuan Alatas.
“Gimana apanya?” Jane mengancingkan jam tam tangannya.
“Ya makan malamnya.”
“Menunya banyak dan enak-enak kok.”
“Bukan itu maksud gue, Romlah!” Rumi menarik rambut Jane kesal.
“Awww…! Ish, sakit Rumi!” Jane meringis.
“Abisnya elo pura-pura bego segala! Maksud gue adakah hal penting yang disampaikan mertuanya Sofi itu?” Rumi gemas.
“Ada, Tuan Alatas meminta gue jadi asisten pribadinya.”
“Waaaattt?” Mata Rumi membulat. “Serius?”
“Terserah lo mau percaya apa nggak.” Jane menyambar tasnya di atas meja rias.
“Ceritain detailnya ke gue, please!” Wajah Rumi lebih mirip orang ngancem daripada orang memohon.
Mau tak mau Jane cerita juga bahwa Tuan Alatas mengungkapkan keinginannya itu di depan Sofi ketika mereka makan malam bertiga. Dan seterusnya …. , Jane menceritakan dengan jelas.
“Gue saranin elo tolak aja. Jangan mau, elo pasti mau diperalat sama si bapaknya raja minyak itu karena dia nggak suka sama si Sofi. Ya kan?” Rumi mengambil kesimpulan sendiri.
“Mungkin juga sih.”
“Bukan mungkin, Jane. Tapi pasti!” Rumi meyakinkan. “Elo bisa dicekek sama si Sofi! Jauhin deh keluarganya dia, elo nggak kapok apa udah pernah dipermalukan dan dilabrak sama dia?”
“Nanti gue pikirin lagi deh.”
“Ck, Jane!” Rumi menarik lengan Jane paksa. “Percaya sama gue, elo bisa dibikin jadi kue cucur sama si Sofi kalo nekad nerima tawaran itu. kecuali kalo elo …” Rumi menjeda kalimatnya menatap Jane.
“Kecuali apa?”
“Kecuali kalo elo punya hati sama si raja minyak dan emang pingin jadi bini mudanya dia.”
Jane mendesah, “gue nggak mau jadi pelakor.”
“Kalo gitu mendingan sama Azad aja.”
“Ngaco lo! Gue cuman mau ngomongin masalah kerjaan kok ketemu sama dia.”
“Ngomongin masa depan juga bole kok …” Canda Rumi.
“Tempo hari itu Azad juga nawarin gue kerja di kantornya, tapi gue belum kasih jawaban. Gue janji hari ini kasih keputusan, makanya mau nemuin dia sama sekalian mau bilang soal permintaan Tuan Alatas semalam itu. gue mau minta pendapat Azad.” Papar Jane.
“Ya elah, elo nggak nganggep gue? Kan tadi udah gue kasih saran, elo tolak aja permintaan Tuan Alatas itu! Ngapain masih minta pendapatnya si Akhsay Kumar segala? Elo meragukan kredibilitas gue sebagai seorang sodara sekaligus sahabat elo?” Rumi melihat Jane dengan kesal.
“Tau ah!” Jane ngeloyor cuek.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari ini Om Jaka dan Haji Barkah pulang lebih cepat dari toko, Denaya belum selesai masak untuk makan malam. Om Jaka masuk rumah dengan senyum mengembang, kayaknya dia lagi hepi banget. Ia langsung menuju dapur karena mencium aroma masakan yang menggelitik bulu hidungnya.
“Honey, kamu lagi masak apa?” Sapa Om Jaka.
“Pindang ikan patin. Kenapa Beb?” Denaya mengelap tangannya yang basah.
Cup!
Om Jaka langsung mengecup kening Denaya.
“Ih, main nyosor aja. Malu tuh ada Bi Wati.” Denaya melihat pada asisten rumah tangganya yang lagi ngepel lantai dapur.
Bi Wati hanya tersenyum menunduk, malah jadi dia yang malu, sementara Om Jaka tersenyum lebar. Bukannya apa-apa, Bi Wati belum lama kerja di sana menggantikan asisten rumah tangga yang lama, makanya Bi Wati masih agak segan dengan Om Jaka.
“Ya udah yok, kita ke teras belakang. Aku punya kejutan buat kamu, Han.” Om Jaka menggeret lengan Denaya.
“Bi Wati nitip masakan aku ya!”
“Iya, Non.”
Di atas bangku panjang yang terbuat dari kayu, Om Jaka duduk menghadap Denaya masih dengan binar kebahagiaannya.
“Coba tebak kenapa aku hari ini seneng banget, Han?” Om Jaka sok berteka teki.
“Ya mana aku tau, Beb!”
“Tebak aja!”
Denaya berpikir sebentar. “Abis ketemu mantan?”
“Bukan.”
“Abis ketemu Bu Endang?”
Om Jaka menggeleng.
“Ketemu Udin?”
“Ah, nggak kreatif jawabannya!” Decak Om Jaka kesal. “Aku abis dapet proyek dari Bu Elin.” Ucap Om Jaka akhirnya.
Denaya menatap dengan mata penuh tanya.
“Jadi, Bu Elin tadi siang nelpon dan bilang kalo pengadaan bahan baku untuk proyek pembangunan perumahannya yang bakal ditangani sama perusahannya itu semuanya kita yang suply.” Ungkap Om Jaka.
“Bu Elin bilang begitu, Beb?”
“Iya. Dia nawarin kerja sama yang menguntungkan buat kita karena ini proyek jangka panjang. Ayah juga setuju kok, yang penting kita bisa handle semuanya tepat waktu biar nggak ngecewain. Jadi mungkin suamimu ini akan lebih sibuk ke depan.”
“Emangnya nggak papa ya Beb, kan Bebeb juga ikut invest disana?”
“Ya nggak lah. Ini kan dua hal yang berbeda, lagipula kepemilikan semua toko material kan atas nama ayah, aku cuman ngelola aja.”
“Huum, suamiku emang hebat.” Denaya menjewewew kedua pipi suaminya. “Aku juga punya kejutan, Beb.”
“Oya? Apaan?”
“Heum, sebenernya sih mau aku bilangin nanti malem.” Denaya agak ragu. “Tapi nggak papa deh sekarang aja bilangnya. Ayok kita ke kamar!”
“Eh, udah ngajakin ke kamar aja? Masih sore ini Han.” Om Jaka tergelak sambil mengikuti langkah Denaya.
__ADS_1
“Non, gimana ini masakan yang lainnya?” Bi Wati mencegat dengan pertanyaannya ketika Denaya lewat dapur.
“Tolong Bibi aja deh yang lanjutin ya?”
“Iya Bi, soalnya kita mau ke kamar dulu. Mau olah raga sore biar sehat!” Timpal Om Jaka.
Bi Wati kembali tersenyum, Denaya sempat melotot tapi kemudian Om Jaka segera menggandengnya dengan mesra.
“Jadi apa kejutannya?” Tanya Om Jaka nggak sabar ketika nyampe kamar.
Denaya membuka laci nakasnya dan mengeluarkan test pack bergaris dua warna merah jambu memberikannya pada suaminya.
“Kamu hamil, Han?” Tanya Om Jaka melihat benda ditangannya dengan mata tak percaya.
Denaya mengangguk dengan senyuman mengembang.
“Wow! Aku terkejut!” Ucap Om Jaka sama sekali nggak ada manis-manisnya.
“Kok cuman gitu doang sih?” Kesal Denaya.
“Abisnya kamu juga nggak kayak perempuan-perempuan lainnya sih, Han.”
“Maksudnya?”
Om Jaka mendengus. “Ya harusnya kamu tuh lemah, letih, lesu, mual terus hoek hoek gitu... terus aku bakal nanyain kamu kenapa honey? Terus kamunya pingsan, terus kita ke rumah sakit dan dokter bilang selamat pak, istri anda solatip ehh positip hamil. Agak-agak drama gitu, kan keren itu Han.”
Denaya sontak memburu pinggang suaminya dengan cubitan mautnya.
“Aaaarrghhh.....!” Om Jaka melolong kesakitan. “Kenapa gue dicubit .....?” Wajah Om jaka sampe memerah karena tak menyangka-nyangaka dapat hadiah cubitan maut yang pastinya meninggalkan tanda ungu kebiruan di pinggangnya. “Ini KDRT namanya Han!”
“Abisnya kamu aneh-aneh aja! Harusnya kamu bersyukur istri kamu ini strong!” Denaya memperagakan gaya binaragawan dengan mengangkat kedua lengannya seolah ingin menunjukkan otot-ototnya.
“Dena, Jaka, ada apa?” Pak Haji masuk kamar Denaya dengan panik.
“Ayah?” Denaya kaget.
“Tadi kenapa Jaka teriak? Kalian berantem?” Pak Haji khawatir.
“Ah, nggak papa, Yah. Bebeb tadi histeris karena denger aku hamil.” Sahut Denaya santai, padahal Om Jaka masih meringis sambil mengusap-usap pinggang kirinya.
“Alhamdulillah ....” Pak Haji mengucap syukur dengan raut bahagia campur haru. “Ini anugrah yang luar biasa. Jaka, Dena, selamat ya kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua. Allah memberikan amanah yang sangat besar dengan menitipkan janin itu pada rahim kamu, Dena. Jaga calon cucu ayah baik-baik ya.”
“Iya, Yah.” Sahut Denaya, sementara Om Jaka hanya mengangguk sambil berusaha tersenyum menahan perih di pinggangnya.
Pak Haji segera keluar kamar lagi.
“Tuh! Harusnya kamu kayak ayah gitu, Beb. Kasih aku selamat dengan kata-kata manis yang menyejukkan.” Omel Denaya.
“Iya deh, selamat ya istriku sayang, kamu manis dan menyejukkan.”
“Ha? Mau aku cubit empedunya? Kamu tuh bener-bener ya, Beb ....” Denaya siap-siap mau nyubit lagi tapi Om Jaka buru-buru menenangkannya dengan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya dan satu kecupan singkat kembali mendarat di kening Denaya.
Cup!
“Jangan cium-cium, aku masih kesel!” Denaya merengut seraya melengos meski nggak sepenuhnya menolak pelukan suaminya itu.
“Eee, ibu hamil nggak boleh cemberut, ntar dede bayinya mukanya gampang cemberut juga.” Goda Om Jaka membawa Denaya ke tepi ranjang. “Honey, dengerin ya. Kita kan udah bukan pasangan muda belia yang lagi kasmaran, kita udah sama-sama sangat dewasa dan berumur, aku rasa tanpa aku ucapin juga kamu pasti tau bahagianya aku kayak apa mendapatkan hadiah ini.” Om Jaka menyentuh halus perut Denaya.
Kedua netra Denaya menjadi berkaca-kaca. “Kamu bener, Beb. Maafin aku ya, tadi udah nyubit kamu.” Denaya mengusap-usap pinggang Om Jaka.
“Iya, maafin aku juga ya Han, nggak bisa romantis kayak di cerita novel-novel itu.” Om Jaka mengeratkan kembali pelukannya.
Denaya mengangguk membalas pelukan suaminya.
“Eh, emangnya kamu nggak ngidam gitu, Han? Kok tau-tau positip aja?” Om Jaka melerai pelukan.
“Kayaknya nggak pake ngidam-ngidaman deh. Ribet banget!”
“Ye, bukan gitu juga maksudnya! Kan biasanya wanita kalo lagi hamil muda itu suka ngidam kayak si Via waktu itu lho. Mana ngidamnya aneh-aneh lagi.”
“Nggak Bebeb ..., kasihan juga kamu kalo aku ngidam aneh-aneh kayak Via itu.”
“Itu kan bawaan bayi, Han. Bukan direncanakan.”
“Iya tau, tapi kalo aku nggak ngidam mau gimana lagi?”
“Bagus deh. Terus kok kamu bisa langsung tes pake test pack aja? Emangnya udah telat berapa hari?”
“Iya iya, Katemi, iya ....”Om Jaka buru-buru ngalah. “Kamu memang istri yang nggak mau merepotkan suami. Beruntungnya aku memilikimu.”
“Uuunchhh, sweetnya... sini aku minta peluk lagi.” Denaya merangkul tubuh kekar suaminya. “Beb, kamu keringetan, agak-agak gimana gitu aromanya.”
“Iya kan belum mandi. Aku mandi dulu deh biar seger dan wangi.”
“Eh, jangan!” Denaya menarik suaminya yang mau pergi. “Aku suka bau ketekmu.” Ucap Denaya tanpa malu-malu. “Asem-asem menggairahkan....” Lanjutnya sambil menyusupkan tangan kanannya ke ketiak Om Jaka.
“Ish, kamu apa-apan sih Han?” Om Jaka kaget juga dengan tingkah istrinya itu.
Denaya cuek aja membaui telapak tangannya bekas ketiak Om Jaka. “Aahh, seggerrrr...., Beb.”
Om Jaka melongo tak habis pikir. “Kayaknya kamu ngidamnya lebih aneh dari Via deh. Kamu ngidam bau ketek aku ....”
❤️❤️❤️❤️❤️
Hari ini Bu Elin ingin mengadakan syukuran pembukaan cabang toko kuenya yang baru, padahal toko kue yang dipegang Tia dan yang di kota sudah buka sejak lama. Namun karena Bu Elin baru sempat, maka week end inilah menjadi pilihannya. Bu Elin menggelar acara menginap di resort barunya untuk semua karyawan toko kuenya. Ica sudah pasti menyambutnya dengan suka cita mendengar ayah bunanya akan mengajaknya menginap di resort dan liburan di pantai.
“Bunda, resort itu apa sih?” Tanya Ica sambil memasukkan pelampungnya ke dalam ransel kecilnya.
“Resor itu seperti hotel, Ca. Hanya saja ....”
“Horeee! Berarti Ica bakalan tidur di hotel, Bun? Di kasur yang empuk dan ada AC-nya kayak di rumah tante Via itu ya?”
Tia dan Arya tersenyum mendengar celotehan bocah itu. Mereka terenyuh juga dibuatnya, betapa beruntungnya nasib mereka sejak ditawari mengelola toko kue Bu Elin. Ica yang hampir tak pernah piknik, kini merasakan juga akan piknik ke pantai. Perekonomian mereka juga perlahan-lahan membaik, ya meskipun belum punya kasur empuk dan AC, hehe.... tapi setidaknya sekarang Arya tak perlu ngojek sampe larut malam lagi dan Tia tak perlu lembur untuk ngerjain pesanan hingga menelentarkan tugasnya mengajar.
TIN .... TIN ....
Riri membunyikan klakson motornya dari luar rumah.
“Sebentar ....!” Teriak Ica lantas menyeret ranselnya diikuti Tia dan Arya.
“Lho, ibu jadi ikut?” Tanya Tia pada Bu Harni yang berada di boncengan motor Riri. “Katanya ibu nggak mau ikut?”
“Udah deh, nggak usah bahas itu Mbak. Ini juga susah payah aku ngebujukinnya.” Sahut Riri, Bu Harni hanya diam tak berkomentar.
Setelah mengunci pintu, Tia dan Ica segera naik ke boncengan motor bebek kesayangan Arya. Mereka bersama-sama melaju menuju pantai.
Sementara itu Via sedari jam 7 pagi sudah sampai di rumah Bu Elin karena Bu Elin yang memintanya barangkat bareng dari rumahnya. Pak Rian yang biasanya selalu absen dari acara-acara istrinya, kini bisa ikut bergabung. Ia tampak berbincang dengan Via di ruang tamu sambil menunggu Bu Elin bersiap.
Drrrt... Drrrt ...
Ponsel Via bergetar, Via mengintipnya di dalam tas slempangnya. Ternyata suaminya yang telpon.
“Maaf, saya permisi mau angkat telpon dulu ya, Pak?” Ucap Via pada Pak Rian.
“Oh, silakan.”
Via keluar menuju teras samping rumah Bu Elin yang teduh.
“Halo, Mas. Assalamualaikum.” Sapa Via riang.
“Wa alaikumussalam. Sayang, kamu lagi ngapain?”
“Lagi di rumah Bu Elin, kita mau siap-siap pergi ke pantai. Kan kemarin aku udah cerita?”
“Oh, jadi acaranya?”
“Jadi, Mas. Mbak Tia sama Riri dan ibu juga ikut kok. Mereka berangkat langsung dari rumah.”
“Waah, senengnya. Nanti kalo Mas pulang, kita juga piknik keluarga ya?”
“Iya, Mas. Emang mau piknik kemana?”
“Ya ke pantai aja yang deket, sekalian nyobain nginep di resort baru.”
“Ih, Mas nggak kreatif! Masa pikniknya deket banget?”
“Kan biar dapet diskon nginepnya, haha....”
Mereka sama-sama tergelak dan larut dalam obrolan. Bu Elin sudah siap dan segera ke depan membawa beberapa barang bawaan dibantu Bi Narih.
“Ibu mau camping apa liburan sih, kok bawaannya banyak begitu?” Tanya Pak Rian.
“Eh ini buat acara makan di pantainya lho, Yah. Nanti kita pasang tiker dan makan bersama di sana. Ini semua Bi Narih yang masak lho dari sebelum subuh tadi.” Papar Bu Elin semangat. “Oya, kue-kue sama minumannya mana, Bi?”
__ADS_1
“Masih di belakang, Bu. Sebentar saya ambil.” Bi Narih masuk lagi.
“Oya, Via mana Yah?”
“Tadi lagi nerima telpon.”
“Bi..., sama sekalian koper saya juga tolong bawa kesini ya...!” Bu Elin setengah berteriak.
“Ya ampun! Ibu bawa koper juga? Emangnya kita mau berapa minggu nginepnya?”
“Nggak usah banyak komen deh, Yah. Namanya juga peremuan, pasti banyak lah barang bawaannya.”
Pak Rian geleng-geleng kepala. “Udah bawa makanan banyak banget lagi, kayak di sana kita nggak punya resto aja! Kan lebih praktis beli, Bu?”
“Eh, beda dong Yah. Ini buat makan siang, nah makan malamnya baru kita ke resto. Ayah udah konfirmasi sama pengelolanya di sana kan kalo ibu mau ajakin semua karyawan toko kue ibu?” Bu Elin meyakinkan.
“Udah. Danar udah handle semuanya. Nah, itu dia orangya datang!” Tunjuk Pak Rian yang melihat Danar memasuki halaman rumah dengan motornya.
“Ini kue-kuenya, Bu.” Bi Narih membawa 3 box besar berisi aneka kue dan jajanan. “Sebentar, koper ibu belum.” Bi Narih balik lagi.
“Danar, kamu bawa masuk semua ini ya ke mobil ayah kamu.” Titah Bu Elin pada Danar.
“Banyak banget, Bu?” Danar heran.
“Iya, kan mau ada cara potong tumpeng segala. Awas itu jangan ditumpuk ya, nanti rusak. Taroh di jok tengah aja kalo di bagasi nggak muat. Nanti biar kamu bawa mobil satunya aja sama Via dan Bi Narih. Biar Ibu sama ayah kamu.”
“Via berangkat dari sini?” Heran Danar.
“Iya, udah nggak usah begitu banget ekspresinya. Biasa aja! Cepetan masukin semua bawaannya!” Omel Bu Elin.
Pak Rian melihat pada istrinya dengan pandangan tak mengerti seolah meminta penjelasan, tapi Bu Elin nyuekin pura-pura nggak ngeh.
“Bu, ini kopernya!” Bi Narih muncul lagi.
“Oya, bawa ke mobil Bi!”
Di teras samping tampak Via masih asyik menelpon.
“Oya, apa Danar juga ikut, sayang?” Tanya Mirza tiba-tiba teringat soal Danar.
“Ikut, kenapa emangnya? Mas, tenang aja. Aku udah jelasin kok sama dia kejadian tempo hari.”
“He emmm .... aku percaya kok sama kamu.”
“Harus dong, Mas.”
“Ya udah , have fun ya! Salam buat Danar.”
“Lho, kok gitu? Ngapain pake nitip salam segala buat dia?” Kesal Via.
“Eh, istri Mas kok gitu amat responnya?” Mirza malah sengaja menggoda Via.
Via bersungut makin kesal membuat Mirza malah tertawa di seberang.
“Vi, kamu masih nelpon?” Tegur Bu Elin dari belakang.
“Eh, iya. Kenapa Bu?” Via menoleh. “Udah mau berangkat ya?”
“Nggak papa, nanti kalo udah selesai nyusul ya.”
“Iya, Bu.”
Bu Elin pun berlalu, Via kembali berbincang dengan suaminya.
“Mas udah dulu ya, ini udah mau berangkat nih.”
“Oh, oke. Hati-hati ya sayang.”
“Iya, Mas. Mas juga hati-hati di sana. Jangan lupa jaga kesehatan ya?”
“Siap, sayang. I love yuo.”
“Love you more.”
“Asyiik...., ciumnya mana?”
“Ih, geneit banget! Pake minta cium segala?”
“Cium di telpon doang, masa nggak boleh?”
“Iya deh, mmmmmuaccch...!” Via sampe menghayati banget seolah beneran nyium tapang suaminya.
“Haduh, sampe basah nih pipi Mas, haha.....”
“Ah, udah ah. Kapan selesainya.”
“Hehe...., iya deh. Bye sayang. Mmmmuach...” Mirza balas memeberikan ciuman online pada istrinya.
“Bye, Mas.”
Via mengakhiri sambungannya. Lantas merapikan sebentar penampilannya di depan kaca jendela teras. Setelah dirasanya cukup, dia pun masuk.
WAKWAW...!
Ternyata udah sepi, nggak ada siapa-siapa. Tas jinjingnya yang berisi perlengkapan pribadinya pun sudah tak ada. Via segera melangkah ke depan.
JENGJENG!
Via melihat sesosok mahluk Tuhan yang teramat manis untuk dicuekin yang sedang menunggunya.
"Hai, Vi." Sapa Danar.
"Hai... " Via rada canggung. "Kamu nungguin aku?"
"Siapa lagi? Ibu sama ayah udah berangkat duluan."
"Kita cuman berangkat berdua?"
"Bertiga sama saya, Mbak." Bi Narih nongol setelah mengunci semua pintu.
Ohh, syukurlah.... Via merasa lega dalam hati.
"Oya, tasnya Mbak Via udah saya masukin ke bagasi."
"Makasih ya Bi."
"Sama-sama Mbak."
"Ya udah, yok berangkat." Ajak Danar.
Bi Narih langsung membuka pintu tengah dan duduk di kursi penumpang, rasa-rasanya nggak sopan banget kalo Via ikutan duduk di situ sama Bi Narih. Dengan terpaksa Via harus duduk di jok depan samping Danar.
Via hendak membuka pintu, dan pada saat yang bersamaan Danar pun rupanya ingin membukakan pintu mobil untuk Via.
hup!
Tangan Danar memegang tangan Via secara tak sengaja.
Dug! Dug! Dug!
Jantung Danar mendadak bertalu-talu bak beduk lebaran. Reflek mereka saling pandang untuk sepersekian detik.
"Maaf" Danar melepaskan tangannya. "Aku cuman mau bukain pintu untuk kamu."
"Makasih, aku bisa buka sendiri." Via nyelonong masuk dan menyamankan diri di sana.
❤️❤️❤️❤️❤️
Eaaaaa....... ada yang baper nggak Danar nyrempet-nyerempet Via lagi nih? 😂😂😂😂
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya 🙏🙏🙏😊😊😊
Oya, TERPAKSA SELINGKUH ❤️ ada audio booknya juga lho, dibacain sama adik Chen Liong. 🤩🤩
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1