
Setelah pertempuran sengit yang dimenangkan oleh Sofi kemarin, Ramzi makin tergila-gila dengan Sofi. Setiap gerak gerik Sofi sepertinya selalu saja mengundang pikiran untuk NGANU buat Ramzi.
“Istriku, kamu jangan lama-lama ya? Kalau sudah selesai cepat pulang.” Pesan Ramzi pada Sofi yang minta ijin akan mengunjungi orang tuanya.
“Aku mau menginap, Kak.”
“Nggak boleh!” Sahut Ramzi. “Aku nggak bisa melewatkan malam tanpa kamu.” Ramzi bangkit dan mendekat sambil berusaha mau nyosor Sofi lagi.
Sofi mengelak. Menepis lembut tangan suaminya. “Kalo gitu aku mau sekalian ke salon, Kak.”
“Boleh. Tapi ganti pakaianmu, aku nggak suka mata para laki-laki lapar diluar sana ikut menikmati tubuhmu yang indah ini.” Ramzi mengelus pundak Sofi yang terbuka.
Ish, apa-apaan sih si brewok ini? Kenapa jadi posesive dan bucin kayak gini? Decak Sofi kesal dalam hati. Dia hanya terdiam tak menyahut merasa kesal suaminya sudah berani mengaturnya dalam hal berpakaian.
“Atau bila perlu kamu pakai hijab syari sekalian, sayang. Kamu pasti makin cantik dengan busana yang menutup aurat.” Lanjut Ramzi.
WAAATT?
Ini si brewok nggak lagi ngimpi kan? Emangnya aku emak-emak jamaah pengajian harus pake baju syari setiap hari? Ogah! Pasti gerah banget, yang ada ntar aku ketombean dan bau ketek kalo kepanasan. Hish, ada-ada aja si brewok ini! Sofi ngedumel jengkel dalam hati.
“Kenapa kamu diam saja? Kamu setuju kan, sayang?” Tanya Ramzi membuyarkan benak Sofi yang lagi jengkel. “Kita cari baju muslim buat kamu ke butik sekarang ya? Mumpung week end, lagi pula aku kan udah janji mau membelikanmu hadiah?” Ramzi tersenyum seolah istri yang di depannya itu adalah benar-benar istri sholehah mawaddah warrahmah, wkwkwkk 😆😆
“Nggak, aku belum siap Kak. Jangan maksa aku.” Tolak sofi tegas. Keliatan banget raut kecewa wajah Sofi, sebenarnya dia menahan jengkel dan pingin maki suaminya itu, nggak ada hujan nggak ada petir tiba-tiba menyuruhya merubah penampilan.
“Tapi tolong dipikirkan ya. Berpakaian sesuai syariat agama itu membuat wanita …”
‘Kak, tolong. Ceramahnya nanti aja ya? Aku buru-buru, udah ada janji sama mama.” Potong Sofi lantas segera keluar kamar dengan langkah lebar meninggalkan suaminya begitu saja.
“Mau ganti profesi jadi penceramah si brewok itu rupanya! Apa-apaan, pake ngomongin soal syareat agama segala! Kayak dia yang paling bener aja. Ish, aku cukur juga lama-lama brewoknya itu sampe ke bulu-bulu idungnya kalo masih berani nyuruh-nyuruh aku!
Sofi terus menggerutu menuruni anak tangga menuju halaman sampai tak menyadari ayah mertuanya sempat melihat tingkahnya yang aneh itu.
Tuan Alatas yang penasaran meminta pelayan memanggil Ramzi untuk menemuinya di lantai tiga.
“Ada apa Papa memanggilku ke sini? Mau ngajak lomba renang?” Ramzi mendaratkan pantatnya di bangku samping Tuan Alatas di depan kolam renang.
“Kanapa istrimu itu tadi sepertinya pergi dengan jengkel?” Tuan Alatas tak mau basa basi.
Ramzi malah tersenyum. “Aku suruh dia merubah penampilannya pake baju syari.”
Tuan Alatas menggeleng. “Pernikahanmu rupanya sudah membuat otakmu mengecil. Kau suruh si ja**ang itu berpakaian seperti itu?” Tuan Alatas mengukir senyum ejekan.
“Jangan sebut Sofi dengan kata itu lagi, Pa. dia istriku sekarang.” Ramzi tak terima.
Tuan Alatas menatap putranya sejurus.
“Hati-hati dengan dia, Ram. Papa perhatikan akhir-ahir ini kamu terlalu baik sama dia. Kamu ingat bagaimana sikapnya selama ini pada kamu?” Tuan Alatas memperingatkan.
Ramzi hanya diam, dia membenarkan perkataan ayahnya. Dia sudah terhanyut terlalu jauh pada wanita yang sudah sangat mengecewakannya dan menghianati kepercayaannya itu. Niatnya menikah yang ingin memberinya pelajaran kini malah justru berbalik malah menjadikannya budak cinta si Sofi.
“Kamu jangan lengah. Bisa jadi dia merencanakan sesuatu dibalik sikap baiknya. Ingat, dia dan keluarganya sekarang sudah tidak punya apa-apa.” Tuan Alatas masih menatap putranya intens, dia ingin meyakinkan bahwa menantu durjananya itu kemungkinan punya niat terselubung.
“Papa tenang saja, dia berada dibawah kendaliku.” Ramzi meyakinkan.
__________
Pekerjaan paling melelahkan itu adalah menjadi pengangguran!
Via merasa jenuh dengan hari-harinya yang hanya dihabiskan seorang diri di rumah kontrakannya. Belum lagi dia merasa pertumbuhan semua tanaman sayur yang ditanamnya sangat lambat. Rasanya masih segitu-gitu aja tumbuhnya. Via jadi tak sabaran sehingga membuatnya bosan di rumah.
“Huh, mana Yanti sama Gio lagi nginep di rumah orangtuanya, lusa baru balik. Aku jadi nggak pnya temen.” Via menenggelamkan dirinya di Sofa ruang tungah.
Tiba-tiba dia teringat perkataan ibu mertuanya yang selalu menyindirnya sebagai pengangguran. Memang tak sepenunya salah tuduhan ibu mertuanya itu, meskipun Via sudah menyepakati permintaan Mirza untuk tak bekerja setelah mereka menikah, tapi rasa-rasanya Bu Een memenag benar jika dirinya hanya pengangguran yang nggak ada kerjaan yang cuman menadahkan tangan dari hasil keringat suami.
Menyakitkan memang omongan pedas ibu mertuanya itu, tapi entah mengapa sekarang Via justru tertantang utuk membuktikan dia tak seperti yang ibu mertuanya itu pikirkan.
HUUP!
Via bangkit dan meraih ponselnya di atas meja untuk menghubungi Yana, barangkali dia bisa membantunya mencarikan pekerjaan. Namun belum juga dia menelpon Yana, layar ponselnya tiba-tiba sudah memunculkan wajah ganteng suaminya.
“Hah? Mas Mirza?” Kaget Via, lantas ia segera menerima video call suaminya itu. “Halo, Mas. Assalamualaikum. Tumben nelpon jam segini? Emang nggak lagi kerja?” Berondong Via.
“Wa alaikumsalam.” Sahut Mirza dengan wajah sumringah karena bahagia bisa melihat wajah istrinya. “Kok gitu sih sayang nanyanya? Nggak seneng ya Mas telpon?” Mirza pura-pura ngambek.
“Ya bukan begitu, Mas. Tumben aja jam segini kok nelpon. Biasanya kan agak sorean kalo udah selesai jam kerja.”
“Mas tadi abis dari toilet, terus keinget kamu sayang.” Mirza nyengir.
“Apa? Di toilet tiba-tiba inget aku?” Via melotot kesal, jujur sekali pengakuan suaminya itu.
Mirza malah semakin lebar senyumnya. “Nggak usah sewot begitu dong, sayang. Mas ini dimana-mana emang selalu inget kamu kok, karena hati suamimu ini penuh dengan nama kamu.”
“Ih, rayuan gompal apek!” Cibir Via sebal.
Mirza terkekeh melihat wajah kesal istrinya. Kalau dekat sudah pasti ia akan mecubit gemas hidung istrinya itu. “Kamu makin cantik kalo ngambek, sayang.”
__ADS_1
“Emang dari sononya aku ini udah cantik!” Ketus Via.
“Hmmm, galak amat istrinya Mirza Mahendra. Jadi ingin cup cup ah, kecup kecup basah.” Goda Mirza masih dengan terkekeh yang semkain bikin Via kesal.
“Ih, Mas nggak jelas banget deh! Nelpon jam segini malah ngomongin begituan. Kalo udah nggak ada yang diomongin lagi, aku tutup ya? Soalnya aku mau nepon Yana nih.” Via makin kesal kerena Mirza terus menggodanya.
Mirza reda dari tawanya, wajahnya berubah lebih serius. “Mau ngapain nelpon Yana?”
“Aku bosen Mas di rumah terus.” Sungut Via.
“Ohh, ya udah pergi alan-jalan deh sana. Mas kan udah bilang, kamu boleh ngapain aja selama Mas nggak ada. Jangan lupa shopping, jalan-jalan biar kamu nggak bête.” Hibur Mirza.
“Aku mau kerja, Mas. Boleh kan?” Via memberanikan diri menanyakan hal yang sebelumnya sudah mereka sepakati.
Mirza terdiam. Dia sungguh tak rela jika membiarkan istri cantiknya berkeliaran, atau lebih tepatnya sibuk dengan dunia kerja sebab begitu khawatir kesibukan akan membuatnya lupa akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Lagipula selama ini dirinya mampu memenuhi semua keinginan Via.
“Mas?” Tegus Via yang melihat suaminya masih membisu.
Mirza menyugar rambutnya lantas menarik nafas gusar.
“Tolong ijinan ya. Aku benar-benar bosan di rumah.” Via memohon dengan tatapan mengiba. “Lagi pula aku merasa kesepian sendirian di rumah, jika saja kita tak kehilangan anak kita mungkin aku nggak akan sesedih ini ditinggal Mas pergi dalam waktu lama.” Lanjut Via dnegan mata yang mulai mengembun.
Mirza jadi tak tega melihatnya. Via segera menyeka matanya.
“Kamu emang mau kerja di mana, sayang?” Tanya Mirza akhirnya.
“Ya belim tau, Mas. Ini baru mau nelpon Yana, barangkali dia ada informasi.” Sahut Via.
Sekali lagi Mirza mengehela nafas, kali ini lebih lembut. “Ya udah, lakukan apapun itu yang bisa membuatmu bahagia, sayang.” Putus Mirza akhirnya.
Via surprise. “Beneran Mas? Aku diijinin kerja?”
Mirza mengangguk.
“Mas bener-bener ridho?” Via meyakinkan.
“Iya, sayang. Mas takut istri Mas yang cantik ini jadi lumutan kalo cuman diem aja di rumah menunggu Mas pulang 5 bulan lagi.” Canda Mirza diiringi tawa.
Via senang bukan main, dia segera menghubungi Yana setelah mengakhiri percakapan dengan suami tercintanya dan tak lupa mengatakan terima kasih dengan kecupan jauh.
“Halo, Yan. Kamu dimana? Ketemuan yuk!” Sapa Via tanpa basa basi begitu Yana menerima teleponnya.
“Nggak bisa. Aku lagi kerja, Olive”
“Ini kan week end, Yan!” Via heran.
“Oh…, ya udah kita ketemuan jam makan siang deh.”
“Ngebet banget sih? Ada apaan ya?”
“Ish, curigation deh kamu! Ntar juga tau. Ya udah, kita ketemuan di café depan kantor kamu nanti ya. Bye!” Via langsung menutup panggilannya sepihak membuat Yana makin heran.
Lepas dzuhur, Via segera bersiap karena tak ingin membuat Yana menunggu terlalu lama. Dengan penampilan santai dan make up tipis tak mengurangi kecantikan Via di siang hari itu. ia segera mengeluarkan motornya dari garasi. Dan saat sedang menutup pintu gerbang, seseorang memanggilnya.
“Jeng! Jeng Isyana Sarasvati!”
Yup! Suara melengking itu tak lain dan tak bukan adalah milik Bujel seorang.
Aduh! Mau ngapain lagi sih itu orang? Heran deh, kenapa selalu aja ketemu dia.
“Mau kemana Jeng, siang bolong begini?” Bujel mendekat dengan gayanya yang sok akrab dan perhatian.
“Mau keluar, Jeng.” Sahut Via pendek.
“Iya, aku juga tau kamu mau keluar Jeng. Kalo mau masuk ya nggak mungkin lah kamu ngunci gerbangnya kan?” Bujel keki.
Via menggaruk kepalnya.
Iya juga sih ya? Bener tuh Bujel kali ini. Via dalam hati.
“Maksudku kamu mau kemana rapi dan wangi begini? Panas lho jeng cuacanya ini, nanti kulit kamu bisa gosong siang bolong begini keluyuran! Mendingan main ke rumah aku yuk! Kita minum-minum es sirop ABCDE dan ngemil-ngemil cantik sambil membicarakan tentang isu-isu politik yag sedang ramai di negri ini.” Tawar Bujel dengan wajah ramah dan sok perhatian.
Haduh, sok iyess banget sih ni Bujel! Pake mau ngebahas isu politik segala, kayak yang ngerti-ngerti aja!
“Ayok, Jeng!” Bujel udah mau menggeret tangan Via aja sampe Via keget.
“Ehh, emh .. maaf, Jeng. Aku udah ada janji.” Tolak Via halus. “Aku udah ditungguin. Maaf ya, lain kali aja.” Via segera naik ke motornya dan segera melaju.
“Ih, sok sibuk bangte sih dia!” Kesal Bujel.
Di café ternyata Yana sudah menunggu Via. Tak sulit menemukan Yana sahabatnya itu karena café tak terlalu ramai.
“Maaf ya, udah lama nunggu?” Sapa Via langsung menghempaskan pantat di kursi depan Yana.
“Belum ada setengah tahun kok.” Sahut Yana cuek sambil meraih potongan kentang gorengnya.
__ADS_1
“Kamu nggak pesen makan?” Tanya Via yang melihat hanya ada jeruk hangat dan kentang goreng di depan Yana.
“Diet!”
Tawa Via hampir meledak mendengarnya. “Yakin?”
“Kenapa emangnya?” Kesal Yana.
“Taruhan yok! Kalo sampe minggu depan kamu masih diet aku kasih kamu hadiah.”
Yana merengut, sahabatnya itu sudah meledeknya secara tak langsung.
“Udah deh, nggak usah ngebahas aku. Sekarang cepetan bilang, ada apa kamu tiba-tiba minta ketemuan?” Yana masih dalam mode kesal.
“Sabar dong, belum juga aku pesen makan.” Jawab Via yang lantas meminta daftar menu pada pelayan.
“Jadi? Ada apa?” Yana beneran penasaran setelah Via selesai memesan.
“Aku mau nanya soal lowongan kerjaan. Aku bosen di rumah, mau cari kerja.”
Gentian Yana sekarang yang hampir meledak tawanya. “Serius? Emang Si Popaye ngijinin kamu?” Yana tak yakin karena dia juga tau sahabatnya itu dari sejak nikah tak diijinkan bekerja di luar oleh suaminya.
Via mengangguk. “Akhir-akhir ini aku sering merasa kesepian banget, Yan. Apalagi setelah aku kehilangan bayiku, rasanya aku sedih banget di rumah kontrakan cuman sendirian.” Via menunduk, wajahnya sendu.
Suasana beruah mellow seketika. Yana meraih tangan Via untuk menguatkan. “Kamu yang sabar ya. Maafin aku belum sempet main ke rumah kamu, ya.” Sesal Yana yang memang ketika mengetahui hal itu dari Firman tak bisa mengunjungi sahabatnya itu untuk menghiburnya.
“Nggak papa, aku udah ikhlas kok. Aku sekarang cuman mau mengisi waktu biar nggak jenuh.”
Yana melepaskan genggaman tangannya, dia berpikir sejenak dimana harus mencarikan Via pekerjaan. Sesaat kemudian makanan pesanan Via datang.
“Ya udah, makan dulu deh. Ntar aku bantuin.”
Ucap Yana. Via pun mulai menikmti akan siangnya.
“Emangnya di kantor kamu nggak ada lowongan ya, Yan?” tanya Via kemudian.
“Ada sih.”
“Beneran? Kalo gitu aku kerja di tempat kamu aja.” Via antusias.
“Jadi OB mau?”
“Haish! Kira-kira dong! Masa cantik-cantik gini suruh jadi OB?” Via kesal.
“Eh, OG ding! Office girl!” Ralat Yana. “Etapi, kamu kan udah bukan girl lagi, Liv? Jadi nggak cocok deh kerja di tempatku!” Sambung Yana sambil tertawa.
“Hu! Lagian sapa juga yang mau kerja di disana? Ntar yang ada kamu malah nyuruh-nyuruh aku terus!” Cibir Via seraya melanjutkan makannya.
Yana cuma nyengir ngeliat Via yang kesal. Tanpa mereka sadari seorang laki-laki yang baru saja masuk menangkap momen 2 sahabat yang lagi asyik becanda itu. laki-laki yang baru saja datang itu sengaja memilih tempat yang agak jauh dari Yana dan Via.
“Coba nanti aku tanyain sama Khusni deh! Sapa tau dia ada info.” Ujar Yana. “Ya biarpun aku lagi sebel sama dia, tapi demi kamu aku rela deh menurunkan harkat dan martabatku di depan dia.” Lanjut Yana seperti menggerutu.
“Eh, ada apa emangnya? Kok pake bawa-bawa harkat dan matabat segala? Kalian lagi berantem?” Via yang sudah selesai makan jadi panasaran campur heran.
Yana mendengus gusar. “Nggak berantem sih, cuman aku lagi sebel aja sama dia.”
“Kenapa? Cerita dong. Kita udah lama nggak curhat-curhatan.” Via menatap wajah sahabatnya meyakinkan kalau dia bersedia menjadi tempat keluh kesahnya.
“Khusni ngomentarin berat badanku.” Lirih Yana sambil menunduk.
Via kaget. Dia pingin ketawa tapi nggak tega. Yana itu emang hobinya dari dulu makan. Dia juga tak pernah peduli dengan berat badannya. Memang nggak terlalu gemuk sih, hanya saja pipi Yana memang bertambah chubby kalo Via perhatikan. Menurut Via penapilan Yana masih cukup ideal kok. Tapi mngkin karena kHsni kerjanya jauh dan sering bertemu dengan para kolega penting dan pastinya juga sering melihat yang bening-bening, jadi mulai complain deh dengan BB Yana.
Heeeh...., beruntungnya Via karena Mirza tak pernah berkomentar tentang berat badannya. Selain itu Via memang termasuk golongan orang yang nggak gampang gemuk.
“Jadi Khusni yang nyuruh kamu diet?” Tanya Via kemudian.
“Nggak nyuruh sih. Tapi kan aku baper dengan komentarnya.” Yana tampak murung.
Via mengelus tangan Yana coba untuk menghibur. Sementara si laki-laki yang duduk agak jauh dari mereka itu masih terus memperhatikan.
“Masa dia bilang pipiku lebar kayak jok motor vespa? Kan nyesek banget Liv, dengernya.” Gumam Yana sedih.
Seketika Via membekap mulutnya sendiri agar tawanya tak benar-benar mekedak.
Ya ampun, si Khusni tega banget sih! Masa tunangan sendiri dikatain begitu? Dasar laki-laki tengil tak berperasaan! Tapi, boleh juga sih sebutan si Khusni itu, bisa jadi itu sebagai panggilan sayang kan? Jok motor vespa kan nggak jelek? Lebar, empuk dan bikin nyaman. Wkwkwk…. 🤭🤭
Via terkekeh dalam hati sambil terus berusaha menahan mati-matian untuk tak tertawa di depan Yana yang lagi mellow.
____________
Hmm.... Siapa yaa itu cowok yang merhatiin Yana dan Via? Jangan-jangan….🤔🤔🤔
Ikuti terus kelanjutannya ya Kak.😍😍
Terima kasih buat akak readers tercinta dan akak othor kece semua yang terus setia dukung karya emak othor awut-awutan ini.🙏🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak selalu ya….🤩🤩
Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘