TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
250 #SHOPPING


__ADS_3

Malam yang panjang penuh perjuangan telah dilewati Ramzi dan Sofi, namun begitu mereka tetep bersemangat menyambut pagi karena senyum sang malaikat kecil baby Arfan. Sirna segala lelah berganti wajah cerah, kala baby Arfan mengerjapkan mata beningnya dengan senyum manisnya seolah menyapa papa mamanya.


“Sofia, kita ngak bisa begini terus,” Ramzi menimang baby Arfan dalam gendongan.


“Maksud Kak Ram?” mengernyit bingung.


“Aku udah telpon Om Jaka semalam, kita pindah ke rumah Mirza –“


“Kita akan tinggal serumah dengan Hans dan Rumi?” melotot tak percaya, “nggak, aku nggak mau!” menggeleng tegas.


“Sofia, kita belum bisa merawat baby Arfan sendirian –“


“Terus maksud Kak Ram kita akan minta tolong Hans dan Rumi?” lagi-lagi Sofi memotong kalimat Ramzi sebagai bentuk penolakan.


“Sofia, dengarkan aku dulu,” berusaha menjelaskan, “kita butuh bantuan suster untuk merawat baby Arfan. Nggak mungkin kan kita tinggal di hotel sama suster?”


“Kak Ram tinggal sewa satu kamar lagi aja untuk suster.”


Menggeleng menatap Sofi, “kamu itu kenapa sih? Bukankah kita sudah sepakat melupakan masa lalu? Hans itu masa lalu kamu, ada aku dan baby Arfan sekarang.”


“Iya tapi nggak harus tinggal di rumah Mirza juga kan? Kita bisa cari rumah lainnya,” Sofi ngotot.


“Rumah Mirza sudah paling baik, lingkungan pedesaan dengan udara yang segar bagus untuk pemulihan paru-paru baby Arfan. Lagi pula kita tinggal disana nggak akan lama, hanya sampai jadwal check up nya baby Arfan selesai lalu kita akan pulang ke Jakarta.”


Menghempaskan diri di tepi ranjang, “seharusnya kita cari dokter lain saja di Jakarta,” gerutu Sofi.


“Sudahlah, Sofia. Jangan diperpanjang lagi” menyerahkan baby Arfan pada Sofi. “Nanti siang susuter Ines akan datang dan kita langsung check out dari sini.”


“Kak Ram menyewa suster Ines?” sedikit kaget.


“Iya, kenapa memangnya? Dia suster yang merawat anak kita di Rumah Sakit, aku pikir kita lebih baik menggunakan suster yang sudah dekat dengan anak kita. Gajinya aku naikkan tiga kali lipat.”


“Apa?” lebih kaget lagi, “Kak Ram berlebihan, seharusnya nggak perlu melakukan itu.”


“Itu agar dia mau kerja merawat baby Arfan.”


Mendengus sebal, “lagipula kenapa Kak Ram bisa menghubungi suster Ines tanpa meminta pendapatku dulu?”


“Aku memang punya nomor kontaknya kok,” melihat Sofi dengan tatapan tak habis pikir namun sejurus kemudian ia tersenyum lebar, “oh aku tau, kamu cemburu ya?”


“Nggak!” menyerongkan badannya lantas mengajak baby Arfan ngobrol, Ramzi tau istrinya sedang kesal.


“Masalah kecil jangan dibesar-besarkan, “mengambil posisi di depan Sofi. “Kamu satu-satunya wanita di hatiku, dari dulu, sekarang dan sampai nanti,” menatap lembut manik mata Sofi. “Aku nggak akan mengulang kesalahan yang sama, percayalah.”


Tertunduk tak berani melihat suaminya.


“Kamu percaya sama aku kan?”


Sofi masih diam, ia sedikit trauma jika suaminya dekat dengan wanita lain, pada suster sekali pun.


“Kalua kamu nggak percaya, aku akan menghabisimu lagi seperti tadi malam,” ucap Ramzi lembut namun penuh ancaman.


Seketika mengangkat wajahnya, “Ada juga Kak Ram yang akan aku habisi!” merengut kesal.


Ramzi terbahak mendengarnya, ia ingat permainan Sofi yang sangat agresif tadi malam. Soal urusan perranjangan Sofi memang sudah khatam bolak balik, wkwkwk …🤭🤭


❤️❤️❤️❤️❤️


Kicau burung terdengar riang, sekawanan burung pipit hinggap di dahan pohon mangga milik tetangga. Ica yang sedang bermain di halaman belakang nampak senang melihatnya.


“Tante lihat, ada banyak burung disana!” berseru pada Via yang baru muncul dengan menunjuk dahan pohon mangga.


“Oh iya, banyak ya burungnya?” menghampiri sang keponakan, “Ica lagi main apa?”

__ADS_1


Melihat tantenya yang sudah rapi, “Tante mau kemana?” malah balik bertanya.


Pertanyaan Ica kontan membuat Tia yang sedang menjemur pakaian juga melihat pada Via. “Kamu mau pergi, Vi?”


“He em, mau ke rumah sakit Mbak kontrol kandungan.”


“Mbak temani ya?”


“Nggak usah, aku bisa sendiri kok,” menolak halus. “Lagian bak Tia kan harus ke toko.”


“Mas Arya bisa pergi duluan sama Ica, ntar Mbak nyusul,” menuntaskan jemuran pakaiannya.


“Nggak usah, beneran kok Mbak.” Tetap menolak, “soalnya aku nanti mau mapir-mampir dulu habis dari rumah sakit.”


Menatap sang adik, “tapi hati-hati ya, hubungi Mbak kalo ada apa-apa.” Berpesan selayaknya kakak yang sangat mengkhawatirkan adiknya.


“Iya, Mbak.”


“Ya udah, kamu sarapan dulu sana. Mbak sama Mas Arya udah sarapan duluan, tadi pagi mau bangunin kamu nggak enak takutnya masih tidur.”


Tersenyum simpul, “aku udah minum susu kok.”


Menatap lebih tajam, “Mbak bilang sarapan, bukan minum susu. Jangan membantah.”


“Hem, aku rasa Mbak Tia kahir-akhi ini lebih galak dan cerewet dari ibu.”


“Itu semua demi kebaikan kamu dan calon bayi kamu.”


Mengagguk lantas segera menuju meja makan.


Lepas sarapan, Via bersiap ke rumah sakit karena hampir jam 9 pagi, jam praktek dokter kandungannya sudah akan mulai. Ia keluar rumah bersamaan dengan Tia dan Arya yang akan berangkat ke toko kue. Ica sempat merengek ingin ikut dengan tantenya, namun dengan segala bujuk rayu, Tia bisa meluluhkan putri kecilnya yang kerap merajuk itu.


Mobil Via keluar halaman hampir bertepatan dengan Danar yang akan melintas di depan rumah Via. Danar melihat Via menyetir mobil sendirian, namun Via tak melihat Danar. Arya yang keluar belakangan membunyikan klakson motornya untuk menyapa.


Sampai di rumah sakit, Via sudah berderet dengan beberapa pasien lainnya yang tiba lebih dulu. Via nomor 6, menunggu sekitar 4 orang lagi dia baru akan masuk ke dalam. Untuk mengusir bosan, ia merogoh gadgetnya dari dalam tas. Seorang wanita hamil besar, mungkin hampir sama usia kandungannya dengan dirinya duduk di samping Via didampingi seorang laki-laki. Laki-laki itu tak henti mengusap perut buncit parempuan yang bersamanya, pasti mereka suami istri, pikir Via.


Sedikit surprise karena iba-tiba perempan hamil itu menoleh ke arahnya, “sendirian aja Mbak?” tanya perempuan itu.


Ada rasa nylekit hinggap di hati Via, ia mengangguk dengan mengurai senyum. “Iya.”


Tentu saja peremuan itu tak ada maksud lain bertanya pada Via. Dia mana tau kondisi rumah tangga Via sedang tak harmonis. Namun melihat perempuan lain datang bersama sang suami, jelas membuat cubitan kecil yang sakit dan menggigit di ulu hatinya. Tak ingin terbuai perasaan mellow, Via menyibukkan diri dengan membaca berbagai artiker tentang kesiapan melahirkan di smart phonenya sampai tiba gilirannya masuk ke dalam.


Tak lebih dari 20 menit bersama dokter kandungan akhirnya Via keluar. Senyum penuh kelegaan terbit di bibir indahnya, ia usap perut buncitnya sebelum masuk ke dalam mobil. Dokter yang memeriksanya sudah paham Via tak ingin mengetahui jenis kelamin bayi yang ada dalam kandungannya. Via dan Miza sudah mengatakan pada dokter senior itu sejak kunjungan pertama mereka ke sana. Sekali lagi, Via mendapatkan pertanyaan mengapa ia datang sendirian? Tentu ia harus pura-pura baik-baik saja meski pertanyaan dokter mungkin hanya basa-basi. Namun begitu melihat perkembangan sang buah hati yang sehat Via sangat senang, seolah sirna semua peasaan letih dan sedihnya.


Via lajukan mobilnya menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota, ia ingin memilih beberapa perlengkapan bayi. Menyenangkan ketika berbelanja segala hal pernak pernik untuk menyambut kelahiran sang buah hati, dihempasnya jauh-jauh rasa kecewa yang sempat singgah, ia harus tegar, ia akan bisa menghadapinya sendirian. Tak terlalu banyak belanjaan Via, ia pun memilih warna pastel yang netral yang bisa digunakan untuk bayi laki-laki maupun perempuan.


Selesai berbelanja perlengkapan bayi, ia turun ke lantai bawah untuk membeli kebutuhan makanan, setidaknya ia harus memenuhi isi kulkasnya untuk seminggu ke depan. Via berada di deretan snack, ia ingin meraih kaleng biscuit yang paling atas ketika tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tangan seseorang. Keduanya spontan menarik tangan masing-masing dan saling melihat.(note; adegan alay ala ala drakor 😁)


"Vi -"


"Danar?"


Tersenyum dan mengambilkan untuk Via. "Buat kamu."


"Nggak, buat kamu aja," tolak Via halus.


"Kamu tadi mau ambil ini kan?" menyodorkannya pada Via.


"Nggak jadi," tersenyum. "Aku ambil yang lain aja," mengambil kaleng biskuit yang lain.


"Bukannya kamu suka yang rasa coklat?Ini tinggal satu."


"Aku suka semua rasa."

__ADS_1


Mengangguk, "Oke," memasukkan ke dalam troli belanjaannya yang baru berisi beberapa barang saja.


"Aku duluan ya," Via mendorong trolinya namun baru beberapa langkah kaleng biskuit yang diletakkannya paling atas terjatuh.


Danar segera mendekat untuk mengambilnya, "biar aku yang bawa," mengambil alih troli Via yang sudah terisi penuh belanjaan.


"T-tapi Danar -"


Cuek saja malah memindahkan belanjaannya yang cuman beberapa karton sereal, susu dan biscuit.


"Ay jalan" mendahului melangkah.


Menghela napas sejenak, lantas segera mengikuti langkah Danar karena merasa tak punya pilihan.


"Kamu mau beli apa lagi?" menoleh pada Via.


"Aku mau beli sayuran dan buah, tapi kamu nggak usah - "


"Oke, kita simpan belanjaannya disini dulu" menaruh troli di dekat stand minuman kemudian mengambil troli lainnya. "Ayok!"


menyusul langkah Danar yang berjalan agak cepat.


"Kamu harus banyak makan makanan yang mengandung protein," Danar tak menghiraukan wajah Via yang masam, ia mengambil daging dan ikan segar.


"Danar please, aku bisa sendiri. Kamu nggak perlu melakukannya." Ucapan Via akhirnya menghentikan Danar.


Terdiam sebentar, menatap wajah cantik di depannya. Sejenak Via merasa kikuk.


"Apa menurutmu aku tega membiarkan kamu mendorong troli dengan belanjaan segunung sendirian?Sedangkan kamu lagi hamil besar begitu?"


"Kamu terlalu berlebihan, aku sudah terbiasa melakukannya."


"Nggak boleh selagi ada aku." Pungkas Danar tak mau dibantah.


deg!


Entah mengapa Via merasakan sikap Danar yang keras dan dingin seperti sewaktu menjadi bosnya kini terulang lagi.


Kenapa dia harus ngatur-ngatur aku? Emangnya apa pedulinya? Kalo yang hamil bukan aku, apa dia akan melakukan itu juga?


"Hey, kenapa bengong? Ayok,cepat. Kamu mau buah apa?" sedikit berseru mengagetkan Via yang masih berdiri di tempatnya, Danar sudah memilih alpukat yang masih segar dan nampak mulus kulitnya.


❤️❤️❤️❤️❤️


readers, maaf yaaa..... othor lagi sedikit rempong nih.Maaf kalo banyak typo dusana-sini. 🙏🙏 maaf juga belum mampir di karya akak othor lainnya 🙏🙏


tapi vote dulu, boleh ...😍


like dan komen jangan ketinggalan ya 😊


-


-


-


bonus gambar othor awut-awutan yang lagi sok rempong menjelang akhir bulan 😁🤭 (jam segini masih kuli, pukul 16.45 di tempat othor 😅)


lumayan buat nakut-nakutin buaya darat 🤣🤣


I ❤️ u all 🤗🤗😘😘


__ADS_1


__ADS_2