
Sofi tak tahan lagi, air matanya luruh. Telapak tangannya berkeringat dingin dan mulai gemetar.
Tik
Tik
Tik
“Aku bisa minta waktu sebentar bicara berdua saja dengan Kak Ramzi?”
Kalimat yang meluncur dari bibir Sofi begitu lirih namun membuat semua yang ada di ruangan menatapnya penuh tanda tanya.
Ramzi mengangguk. “Tentu.”
“Tidak!” Suara Tuan Husein terdengar tegas. “Katakan di sini, agar kami semua bisa mendengarnya.” Mata tajam Tuan Husein menatap Sofi lurus.
Hening lagi untuk beberapa detik. Tentu saja Sofi takut untuk mengatakan apa yang sudah terjadi padanya selama ini. Sebenarnya dia tak tega untuk membuat malu keluarganya di depan Ramzi dan ayahnya, itu lah sebabnya dia ingin bicara berdua dengan Ramzi, tapi justru Tuan Husein ayahnya sendiri yang tidak setuju.
“Katakanlah sekarang, mengapa kau kelihatan begitu gugup?” Sambung Tuan Husein yang sama sekali tak mengerti akan keadaan putrinya.
“Itu biasa, jangan terlalu dibesar-besarkan.” Tuan Alatas menengahi, sementara Ramzi masih setia di dekat Sofi. “Bukankah setiap pasangan yang akan menikah selalu terlihat gugup?” Lanjut Tuan Alatas diiringi tawa berderainya.
“Aku … mengidap sindrom fibromyalgia.” Ungkap Sofi pelan.
Tawa Tuan Alatas langsung terhenti seketika. Semua yang ada di ruangan itu tampak kaget campur bingung. Pasalnya mereka semua belum pernah mendengar akan sindrom itu sebelumnya.
Sofi menunduk sambil meremas jemarinya sendiri , sementara Ramzi bergeser duduk di sampingnya karena Nyonya Husein sendiri beringsut memberi ruang untuk Ramzi.
“Apa maksudmu sindrom fibromyalgia? Apakah itu berbahaya? Mengapa kamu tak pernah menceritakannya? Sejak kapan kau mengidapnya?” Tuan Husein memberondong Sofi dengan pertanyaan bertubi-tubi, wajahnya sangat tegang.
Nyonya Husein mengusap lengan suaminya mencoba menenangkannya. “Dengarkan dulu, Pa. biar Sofi yang menjelaskan.”
“Aku …” Sofi tak mampu meneruskan kalimatnya, dia semakin menunduk dalam.
“Semua penyakit pasti ada obatnya, kau tenang saja. Aku akan membawamu untuk berobat ke dokter yang paling hebat. Bila perlu kita berangkat ke Singapura atau Amerika sore ini juga. Kau pasti sembuh.” Ramzi menggenggam erat tangan Sofi yang sudah basah banjir keringat itu.
Sofi tak mampu menahan tangisnya, jawaban Ramzi sungguh membuatnya semakin hancur.
Kak Ramzi mengapa kau begitu baik? Apa kau tetap akan menikahi ku jika kau tau aku sedang hamil?
Bahu Sofi berguncang seiring isak tangisnya yang semakin menjadi.
“Ayah, aku akan tetap menikah dengan Sofi.” Tegas Ramzi pada Tuan Alatas berusaha meyakinkan bahwa dia siap menerima wanita yang sangat dicintainya seperti apapun keadaannya.
Tuan Alatas memandang Tuan Husein kini, Tuan Husein menunduk seolah merasa bersalah akan keadaan ini karena sama sekali tak mengetahui keadaan anaknya sendiri. Nyonya Husein dan Azad saling pandang dalam diam.
“Kalau itu memang keputusanmu, berarti tidak ada masalah lagi. Sekarang kita putuskan kapan tanggal pernikahannya.” Ungkap Tuan Alatas tanpa beban.
“Tentu ayah.” Sahut Ramzi mantap.
“Ram, sebaiknya kau tanyakan dulu pada calon istrimu kapan dia bersedia akan menjalani pengobatan.” Ujar Tuan Alatas lagi.
“Secepatnya.” Sahut Tuan Husein. “Semakin cepat semakin baik.”
__
Mirza baru saja selesai dengan masakannya.
“Sayang, makan dulu yuk! Udah mau mateng nih!” Seru Mirza pada Via yang sedang menjemur pakaian di halaman belakang.
“Tunggu sebentar!” Balas Via.
Tak
__ADS_1
Tak
Tak
Langkah-langkah kaki seorang tamu yang tak diundang mantap memasuki rumah MIrza .
“Rumah segede gini, orangnya pada kemana sih?” Omel si tamu. “Yuhuu …. Popaye…! Olive… !” Teriakan nyaring rada cempreng khas milik Yana langsung membahana ke seisi rumah.
Yup! Tamu tak diundang itu tiada lain adalah Mariyuana, eh Mariyana alias Yana.
“Eh, Yan?” Mirza agak terkejut mendapati Yana suah ada di dapur.
“Itu pintu depan melongo aja, sengaja ya?”
“Oh, tadi kelupaan.”
“Kamu lagi ngapain sih?” Yana mendekati Mirza yang sedang menuang masakannya ke dalam wadah.
Mirza cuman nyengir.
“Wow! Kebetulan banget!” Yana langsung bahagia melihat masakan Mirza yang baru mateng. “Aku bantuan ya.” Lanjut Yana seraya mengangkat semua masakan ke atas meja makan tanpa menunggu jawaban Mirza.
“Yan? Kok kamu ada disini?” Sapa Via yang baru masuk usai menjemur pakaian.
“Hehe… , iya dong! Kan kecium bau masaknnya dari rumah, makanya aku langsung kesini.” Yana memamerkan senyum lebarnya.
“Hem, dasar!” Via mencebik.
“Nggak kok, tadi pagi aku liat status WA Riri katanya hai ini mau masak-masak buat acara besok, makanya aku kesini nyamperin kamu.”
“Ya itu ujung-ujungnya makanan juga yang kamu samperin!” Gerutu Via pada sahabatnya yang udah asik mencuil ekor ikan bakar yang Nampak krispi.
“Hus! Cuci tangan dulu sana!” Via memukul tangan Yana.
Via cuek aja, dia mengambilkan nasi dan lauk utuk suaminya.
“Maksih sayang.” Balas Mirza.
“Adeeeh, nggak usah sok romantis gitu deh! Disini ada orang lho!” Yana pasang tampang keki sambil menghempaskan pantat di samping Via.
“Dih, yang bilang kamu monyet siapa?” Sahut Via. “Lagian aku sama mas Mirza kan udah sah suami istri, wajar dong? Lah kamu sama Khusni baru jadian berapa lama aja udah sok manis, norak!” lanjut Via sebal karena ingat kejadian Yana dan Khusni yang lebay waktu kemarin malam.
“Apa? Yana sama Khusni?” Mirza Nampak agak kaget. “Kalian pacaran?”
Yana mengangguk sambil sok malu-malu kucing kampung gitu.
“Oh, iya kau belum cerita ya Mas? Jadi kemarin malem itu …”
*^%$$##!!^&+_>”:_(*^^%$$#!~
Via menceritakan semua yang terjadi kemarin malem di kedai Nostalgia, sementara Yana hanya senyam senyum.
“Sukur deh kalo udah jadian. Tapi hati-hati lho, Yan. Khusni itu mantan playboy.” Seloroh Mirza.
“Mendingan mantan playboy lah daripada mantan orang bener.” Sahut Yana santai.
“Dia udah cinta buta Mas.”
“Tenang aja, kalian nggak usah khawatir. Aku kan udah terlatih patah hati.” Yana meyakinkan Via dan Mirza. “Lagian aku juga nggak serius-serius amat kok sama Khusni.” Lanjut Yana pelan.
Via dan MIrza hampir saja melotot nggak percaya.
“Maksu kamu?” Kejar Via penasaran.
__ADS_1
“Ya kalian tau dong, hubungan aku sama Reno 2 tahun itu bukan waktu yang singkat? Apalagi aku sama dia udah tunangan dan hampir nikah. Bohong banget kalo aku udah bisa move on sepenuhnya. Ya, meskipun aku udah nangis tiga hari tiga malam sih, tapi aku tetep butuh sesuatu sebagai penawar luka hati ini. Jadi ya waktu Khusni dateng dan coba masuk ke kehidupan pribadiku, kenapa nggak dicoba. Ya kan?” Ungkap Yana pajjang lebar mencari dukungan sahabatnya.
Via mendengarkan dengan seksama. Mirza manggut-manggut entah itu tanda setuju atau cuman sekedar formalitas.
“Ya udah, yuk makan. Nanti dilanjut setelah makan ceritanya.” Mirza memualai makan, menyendokkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
“Berarti Khusni cuman pelarian kamu aja dong, Yan?” Via masih penasaran.
“Ya nggak dong! Aku serius kok, tapi nggak serius-serius banget.”
“Tau deh, terserah!” Via masa bodo dengan jawaban Yana yang semaunya itu.
“Aku sih kalo Khusni nanti ngajak nikah ya ayok, kalo nanti kami putus ya oke. Udah, gitu aja! Nggak mau ambil pusing. Lagian umur kedekatan aku sama dia kan masih dalam hitungan hari, masih banyak yang bisa terjadi, ya kan?” lagi-lagi Yana minta persetujuan.
“Seamau-mau kamu aja deh!” Via cuek mengunyah makanannya.
“Tapi masuk akal kan? Aku cuman nggak mau diselingkuhin lagi aja, karena diselingkuhi itu sakit, Vi! Sakit banget!” Yana memegang jantungnya seolah sedang me-recall kembali kenangan pahitnya dengan Reno.
“Uhuk … Uhuk … “ Tiba-tba Mirza tersedak.
Via kaget. “Kenapa Mas?” Via mengambilkan minum. “Minum dulu. Makanya kalo makan pelan-pelan. Kamu sih Yan, ngoceh mulu kayak burung beo, jadi kesedak kan Mas MIrza.”
Glek gel glek
Mirza menenggak hampir setengah gelas air yang disodorkan Via.
“Ye, kok aku yang disalahin?” Yana nggak mau terima. “Lagian si Reno yang selingkuh kenapa tiba-tiba suami kamu jadi batuk?” Lanjut Yana enteng sambil mendekatkan mangkuk sayur ke piringnya. “Emangnya kamu selingkuh juga kayak si Reno?” Yana melirik Mirza yang baru saja hendak menyuapkan makanannya lagi.
“Ngaco! Yang ada juga Khusni tuh yang berpotensi selingkuh, udah kelihatan gayanya aja tengil begitu sama semua perempuan!” Via menjawab sebal.
Mirza hanya tersenyum sambil mengunyah makanannya yang tiba-tiba terasa seret banget untuk di telan. Diraihnya kembali gelas di sampingnya yang berisi air tinggal setengah itu. Diteguknya sambil melirik Via yang makan dengan santai.
“Eh, Za. Ini masakan apa sih namanaya? Kok enak rasanya?” Yana nambah sekali lagi sayur yang dimasak Mirza.
Mirza sedikit lega karena tema obrolan sudah beralih tak lagi soal perselingkuhan.
“Masakan alakadarnya.” Sahut Mirza dengan senyum, mencoba bersikap tenang.
“Bagi resepnya dong, ini enak banget lho.”
“Hem, itu sih dasar kamunya aja yang rakus!” Celetuk Via.
“Nggak, ini serius enak, beneran!” Yana mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan. “Siapa tau kalo aku pinter masak nanti kalo jadi nikah sama Khusni aku nggak diseingkuhin, hehe ….”
Ya ampun! Ini orang baru sebentar ganti tema, udah belok ke selingkuh lagi obrolanya. Nggak ada judul lain apa?
Mirza mengunyah makanan dengan muka datar sambil membatin kesal karena celotehan Yana.
“Selingkuh mah selingkuh aja Yan. Jangankan pinter masak, yang pinter dandan aja masih diselingkuhin kok, itu kan tergantung niatan suaminya.” Via berargumen.
“Iya juga sih. Kalo kamu gimana, Za?”
Mirza sontak berhenti dari kegiatan makannya. “Apanya?” Tanyanya dengan muka datar memandang Yana heran.
“Ada niatan nggak buat selingkuh?”
JLEP!
Bersambung ☺️
Terima kasih sudah membaca🙏🌹
Jangan lupa dukung author ya. Like, komen, rate dan vote❤️
__ADS_1
salam karya 🙏