
cerita pada bab ini menggunakan alur maju mundur cantik 😁🤭
jangan bingung, jangan heran. semuanya tetep pegangan yaa ...😂😂
❤️❤️❤️
Setiap tanya butuh jawaban, setiap jawaban butuh kepastian. Pun dengan satu syarat yang terucap, membutuhkan suatu kesanggupan. Meski setiap insan pada akhirnya akan mati, namun menjadi suatu keharusan untuk mengupayakan kebahagiaan sebelum kematian itu menjemput. Sama halnya dengan sang menantu yang lembut hati seperti seorang Livia Hasan, ia tak kan tega membiarkan ajal menjemput ibu mertua sebelum kebahagiaan dirasakan ibu mertuanya tersebut.
Sepulang dari rumah sakit kemarin perdebatan terjadi antara dirinya dan sang suami. Bagi Mirza keutuhan rumah tangganya tak dapat ditukar dengan apapun, bahkan dengan kesediaan sang ibunda untuk menjalankan operasi. Dua hal tersebut tak boleh dibarterkan, titik! Ia yakin masih bisa mengupayakan cara lain agar ibunya sembuh dan rumah tangganya tetap utuh. Sedangkan bagi Via, perasaan bersalah tentu menyelimuti sanubarinya. Hatinya yang lembut dan penyayang merasa tak kuasa jika harus bahagia ditengah derita ibu mertuanya.
“Kita sudah berada pada jalan yang benar, Sayang. Jika kita mau mundur kenapa nggak dari awal? Dari sejak pertama kita bertemu dan ibu tak merestui kita?” Mirza berusaha menyabarkan diri. “Bukankah dari awal kita sama-sama yakin, kalau kita akan bisa meluluhkan hati ibu suatu saat nanti? Makanya kita tetap menikah kan?”
Tak menjawab, air matanya sudah luruh sedari tadi. Via memalingkan wajah keluar jendela kamar.
“Kalau kita menyerah sekarang, sia-sia perjuangan kita selama ini.” Terduduk lemas di samping Via.
“Kamu nggak ngerti perasaanku sebagai seorang wanita Mas, sebagai seorang istri.” Menoleh dengan tatapan sedih. “Aku merasa gagal dan tak berharga di mata ibu.”
“Kamu sangat berharga di mataku. Tak peduli dengan ibu.” Menangkup kedua pipi Via yang basah.
“Tapi kamu juga menyayagi ibu kan?”
“Aku menyayangi ibu dan juga kamu.” Manatap penuh kesungguhan.
“Pada akhirnya kamu harus memilih Mas. Karena ibu tak menginginkanku untuk tetap menjadi istrimu.” Ucap Via getir kembali memalingan wajahnya.
Mirza meraih kedua bahu Via cepat tak mau istrinya menghindarinya.
“Rasa sayangku pada ibu adalah sebuah bakti seorang anak pada ibuya. Sedangkan rasa sayangku padamu adalah bentuk cinta tulus dan tanggungjawab seorang suami pada istrinya.”
“Tapi kamu tidak bisa memilih keduanya.”
“Kenapa tidak? Kita bisa terus berjuang.”
Bangkit melepaskan diri dari sang suami namun lagi-lagi Mirza tak mau membiarkan begitu saja istrinya, ia cekal pergelangan tangan Via.
“Mas, aku mohon. Jangan memaksaku, ada baiknya kamu pikirkan syarat yang diajukan ibu.” Kalimat Via sukses membuat Mirza melepaskan cekalannya terperangah tak percaya.
“Bukankah justru kamu yang sedang memaksaku?” Sarkas Mirza mulai kehilangan kesabarannya.
Drrrt Drrrt …
Ponsel Mirza bergetar memangkas perpetengkaran yang mungkin saja sebentar lagi akan pecah diantara mereka.
“Halo, Din.” Suara Mirza jutek menyapa Udin.
“Mas, ibu minta pulang terus nih. Gimana?” terdengar Udin kebingungan di seberang.
“Dokter sudah memeriksanya?”
“Belum. Tadi Ice coba tanya ke suster katanya nanti tunggu visit dokter dulu, tapi ibu udah mogok makan dan minum obat nih. Aku sama Ice jadi bingung, Mas Mirza bisa kesini kan buat bujukin ibu?”
Melirik sekilas pada istrinya yang tengah berdiri menghadap ke luar jendela.
“Oke, aku kesana sekarang.” Mengakhiri sambungan lantas mendekati Via. “Sayang,” diraihnya jemari sang istri. “Mas ke rumah sakit dulu ya. tolong jangan pernah meminta Mas untuk mempertimbangkan syarat yang diajukan ibu lagi.”
Kalimat Mirza nyatanya sukses membuat air mata Via luruh kembali, ada perasaan yang sangat nyeri ketika berbicara tentang sebuah syarat yang amat berat dari sang ibu mertuanya itu. Meski Via coba tegar, namun tentulah sebagai seorang istri ia tak akan rela kehilangan suami yang sangat dicintainya.
__ADS_1
“Selamanya kamu akan menjadi istriku. Karena Tuhan telah menciptakan kamu dari tulang rusukku.”
Bulir-bulir kesedihan kian deras mengalir, bahagia tapi juga sakit disaat yang bersamaan. Bahagia karena mempunya suami yang nyaris sempurna seperti seorang Mirza Mahendra, namun juga sedih karena sang ibu mertua teramat menginginkan rumah tangganya berakhir.
Cup! Satu kecupan lembut dan dalam mendarat di kening Via.
“I love you so much” lirih Mirza dengan sorot mata tak menyiratkan dusta sedikitpun.
Via tak mampu membalas ucapan sang suami, ia hanya mengangguk samar dengan mengulas senyum tipis menahan rasa nyeri dihatinya yang kian mendera.
-
-
-
Menjelang sore, Via mendapat pesan dari Mirza kalau suaminya itu akan bermalam di rumah Bu Een kerena dokter mengijinkannya pulang. Via mendesah perlahan, mungkin ada baiknya suaminya itu tak disampingnya dulu agar mereka bisa sama-sama berpikir untuk menyetujui syarat yang diajukan Bu Een atau tidak.
Via mengirim pesan pada Tia untuk memintanya menginap, ia butuh seseorang dan kakaknya adalah sosok yang tepat. Tia selalu menjadi tempat mencurahkan segala gundah dan kesedihannya tiap kala masalah keluarga menderanya.
Ri, nanti kamu bisa langsung pulang aja ke rumah ibu sama Toni. Mbak Tia nginep disini malam ini.
Via gegas mengirim pesan pada Riri yang sedang keluar bersama Toni setelah selesai mengirim pesan untuk Tia. Ia tak ingin Riri mengetahui masalah yang sedang dialaminya, setidaknya jangan sekarang. Sebab jika Riri sampai cerita pada Bu Harni bisa tambah runyam masalahnya.Levih baik Riri pulang saja dulu.
“Vi, Mbak ngerti persaanmu” ucapan lembut Tia membuat Via melerai pelukannya. “Tapi tolong, kamu harus kuat demi calon anakmu ini” menyentuh perut buncin Via.
“Aku nggak tau gimana caranya untuk menjadi kuat Mbak. Aku rapuh, aku lemah, aku nggak bisa –“ tak melanjutkan kalimatnya karena kembali menangis dengan bahu berguncang-guncang.
“Ambil sikap, kamu bisa. Kamu perempuan yang kuat, bukan perepuan lemah. Sedari awal kamu menikah kamu sudah menujukkannya, jika kamu lemah mungkin rumah tanggamu dan Mirza sudah berakhir sejak lama.” Nada kalimat Tia penuh penekanan, dia tak mau melihat adiknya terus dirundung kesedihan.
“Mbak paham. Oleh sebab itu kamu harus menentukan sikap. Pergi atau pun tetap tinggal sama-sama ada resikonya masing-masing. Mbak tidak menyuruhmu berpisah dengan Mirza, namun tolong dengarkan hatimu.”
-
-
-
Via tertidur di atas sajadahnya dengan masih mengenakan mukena. Usapan lembut pada lengannya membuatnya sedikit kaget, memicingkan mata mentap raut sang kakak yang duduk di depannya.
“Kamu ketiduran ya?”
“Heem” bagkit dengan sedikit malas. “Udah subuh belum Mbak?”
“Kamu belum shalat subuh?” Malah balik bertanya heran karena Tia pikir Via ketiduran usai shalat subuh. “Ini udah setengah enam pagi.”
“Astaghfirullah” meraup semua kesadarnnya lantas segera menuju kamar mandi. Terbangun pada jam 2 dini hari karena kembali bermimpi tentang Mirza yang akan meninggalkannya membuat mata Via sulit terpejam kembali. Ia mensucikan diri untuk menghadap sang Maha Pencipta, menunaikan rakaat demi rakaat lalu mengadukan segala kepedihan batinnya. Ia mengakui semua khiaf dan dosanya yang seringkali lalai dan abai pada Sang Pemberi Nikmat. Via memohon jika dirinya masih pantas untuk diberikan kesempatan memperbaiki diri, ia ingin membahagiakan orang lain dengan ikhlas walau ia harus melepaskan kebahagiaannya sendiri.
Dengan sabar Tia menunggu Via meyelesaikan 2 rakaan subuhnya.
“Mbak Tia masih disini?” melepas mukena dengan heran karena baru menyadari sang kakak masih di kamarnya.
“Mbak mau bilang kalo Mbak mau ke pasar dulu, apa kamu mau nitip dibelikan sesuatu?”
“Memangnya stok makanan di kulkas udah habis?”
“Masih, tapi Mbak pingin masak pepes jamur tiram hari ini.”
__ADS_1
Melihat sang kakak dengan ekspresi tak terbaca. “Mbak Tia lagi ngidam?”
“Ngaco! Emang harus ngidam aja kalo pingin pepes jamur?”
Tersenyum, dan itu membuat Tia lega. Pagi ini senyum Via kembali terbit.
“Apa kamu sudah merasa baikan?” mendekati Via yang tengah merapikan mukenanya.
Menghela napas panjang. “Entahlah, tapi ada sedikit kelegaan setelah aku adukan semuanya pada Sang Khaliq.”
“Ceritakn semuanya padaNYA, karena hanya Dialah sebaik-baik pemberi petunjuk.”
Mengangguk, “iya Mbak”
“Ya udah, Mbak pergi sekarang ya.”
“Mbak,” seruan Via membuat Tia memutar langkahnya. “Makasih ya udah selalu ada buat aku,” memeluk Tia dengan senyum mengembang.
“Itulah gunanya seorang kakak” melerai pelukan.
“Mbak, apa nggak papa kalo Ica ditinggal sama Mas Arya? Kasihan dia, mendingan diajak nginap disini.”
“Nggak papa, Ica sekarang udah pinter kok. Dia tahu kalau tantenya lagi butuh budanya temenin. Lagian kalau dia disini nanti dia rewel malah ganguin kamu.”
“Nggak kok, sebenernya aku juga nggak tega Ica nggak diajak.”
“Udah ah, kenapa jadi ngomongin Ica? Nanti kalo perasaan kamu udah membaik, Mbak susul dia. Mbak pergi dulu ya, keburu siang.” Membenahi kerudungnya sebentar lantas keluar kamar Via.
“Mbak, bawa aja kuncinya. Aku dikunci dari luar aja!” Seru Via
Nongol dari balik pintu kamar Via. “Kok gitu? Nanti kalo Mirza dateng gimana?”
“Mas Mirza bawa kunci sendiri kok. Lagian aku mau tiduran aja, masih ngantuk nih,” bersiap rebah di atas kasur busanya.
“Oh, ya udah deh kalo gitu.”
Tia pun pergi meninggalkan Via sendirian di rumah. Via meraih gawainya di atas nakas, tak ada pesan atau panggilan tak terjawab satu pun dari suaminya. Berarti suaminya tak menghubunginya dari semalam. Ingin rasanya ia mengirimi Mirza pesan sekedar untuk menanyakan kabar, namun segera ia urungkan.
Via membuka galeri foto dalam ponselnya. Memori kebahagiaan yang terekam sempurna dan tersimpan rapi disana membuat Via mengukir senyuman penuh makna memandangi gambar wajah tampan rupawan sang suami tercintanya.
“Mas, aku sangat mencintaimu. Karenanya aku tak ingin membuatmu menjadi anak yang mendurhakai ibumu,”
Tik
Butiran Kristal bening kembali menitik membasahi pipi bersama dengan kecupan pada layar gawainya seolah ia benar-benar sedang mencium wajah suaminya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Dear readers, terima kasih untuk semua komentarnya ya. 🙏🙏🙏
othor baca semuanya kok (walau tak membalasnya), dan itu membuat othor sangat bersemangat. ❤️❤️
Percayalah, Via dan MIrza pasti akan bahagia dan Bu Een akan mendapatkan karmanya.
Harap bersabar, ini hanya ujian😂😂
I love u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1