
Dua malam sudah Mirza dan Via menginap di rumah Bu Een, walau sebenarnya Via ingin pulang dari kemarin namun karena melihat luka Bu Een yang memang masih belum sembuh Via juga jadi tak tega ketika sang ibu mertua itu merengek pada suaminya untuk menginap satu malam lagi. Dan hari ini sebelum pulang rencanaya Mirza akan mengajak ibunya untuk berobat ke klinik dokter Burhan. Via sebenarnya sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, dan benar saja, drama pun dimulai.
“Nggak perlu lah kamu bawa ibu berobat, Za. Kan ibu udah diobatin sama kamu.” Menolak, itu yang dilakukan Bu Een.
“Biar luka ibu cepat kering, nanti kan kalo berobat kan dikasih obat yang buat diminum.” Sabar sekali Mirza menghadapi ibunya.
“Iya Bu, biar ibu cepat sembuh.” Timpal Via.
“Alah, bilang aja kalian udah nggak mau nemenin ibu di sini lagi kan? Nggak usah pake alesan nyuruh-nyuruh ibu berobat segala!” Bu Een membuang muka. “Malang benar nasibku ini, punya anak satu nggak sayang dan perhatian. Padahal aku lagi sakit begini. Dia cuma sayang dan perhatian sama istrinya saja, sama sekali nggak peduli denganku, huhuhu…..” mode sedih dengan air mata buaya segera disetel pada wajah wanita tua yang sudah hampir penuh keriput itu.
Via tak ingin melihat ibu mertuaya menangis. “Bukan begitu Bu, maksud Mas Mirza ….”
“Diam kamu!” Dengan kasar Bu Een menepis tangan Via yang hendak menyentuhnya. “Pasti kamu kan yang nyuruh Mirza bawa saya berobat? Dan kamu juga yang ngajakin Mirza pulang, iya? Udah nggak betah kamu disini? Pulang aja sendiri sana kalo nggak mau disini!” Tuduh Bu Een bertubi-tubi lantas beralih pada anaknya. “Za, cepat antar istrimu pulang!”
Mirza menghela napas masih berusaha bersabar.
“Bu, aku kan udah bilang, aku nggak mungkin membiarkan Via sendirian di rumah, dia lagi hamil. Dan kandungan Via itu lemah, aku nggak mau sampai terjadi apa-apa sama Via dan calon bayi kami. Aku nggak mau menyesal kalo sampe kehilangan calon anak aku lagi, Bu.” Mirza berusaha memberikan pengertian.
Namun nyatanya penjelasan Mirza itu tetap di bantah oleh sang ibunda. “Pasti itu cuman akal-akalan istrimu saja, berpura-pura kandungannya lemah biar kamu lebih perhatian sama dia daripada sama ibu! Dasar istri pandai drama!”
“Bu ….”
“Tuduhan ibu tak beralasan!” Via segera memotong kalimat suaminya, tak tahan dia dituduh semena-mena terus oleh ibu mertuanya. “Buat apa aku ngarang cerita soal kandunanku? Mas Mirza tau sendiri dokter mengatakan tentang kondisi kandunganku. Aku pun nggak butuh drama cuman untuk dapat perhatian Mas Mirza, Bu! Karena dia memang suami dan calon ayah yang baik. Dia juga menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya pada ibu, mungkin ibu saja yang tak pernah bersyukur atas semua kebaikan Mas Mirza!”
“Berani kamu berkata seperti itu pada saya? Saya ini ibu dari suami kamu!” Hardik Bu Een yang merasa terpojok.
“Bukan karena ibu itu orang tua jadi ibu pasti selalu benar. Ibu itu selalu nggak terima dengan perhatian aku dan Mas Mirza. Ibu seolah kurang kasih sayang dari anak dan menantu, padahal ibu sendiri yang tak pernah menganggap kami ada, terlebih lagi dengan keberadaanku! Ibu sama sekali tak pernah melihatku, bahkan saat aku sedang hamil begini, justru ibu yang tak perhatian denganku! Padahal sudah jelas-jelas ini darah dagingnya Mas Mirza, calon cucu ibu sendiri!” Tumpah sudah semuanya, air mata Via berderai karena tak bisa mengendalikan tumpukan perasaan yang sudah membuncah di hatinya.
Bu Een tertohok dengan semua perkataan sang menantu, namun Bukan Bu Een namanya kalau dia mau mengakui kesalahannya. Dia meremas jemarinya menahan kesal manakala melihat Mirza menunjukkan kasih sayangnya pada Via yang nampak masih menangis sesenggukan itu.
“Sayang, jangan menangis. Mas tau kamu adalah istri dan menantu yang baik.” Mirza merangkul pundak Via dan mengusap air mata di kedua pipi istrinya. “Kamu sudah sangat sabar selama 8 tahun ini, dan itu bukan hal yang mudah. Mas yakin jika bukan kamu orangnya, mungkin sudah tak sangguh bertahan selama itu. Hatimu begitu tulus, Mas beruntung mempunyai istri sepertimu.”
“Tapi tetap saja semua yang aku lakukan itu nggak ada artinya di mata ibu, Mas. Ibu selalu saja membenciku! Ibu bahkan tak peduli kalo aku lagi hamil, sejak kehamilanku yang pertama dulu ibu nggak pernah perhatian. Padahal siapa yang selalu nyinyirin aku karena nggak bisa hamil setelah sekian lama berumah tangga sama kamu, Mas? Ibu, Mas! Ibu! Ibu kamu itu yang selalu nyinyirin aku!” Via malah semakin meraung, dia tatap Bu Een yang kicep dipojokan sofa tanpa suara.
Mirza memeluk istrinya erat. Kehamilannya membuat Via gampang meledak-ledak, Mirza menyadari mungkin ini pengaruh hormon kehamilan. Namun jika pun tidak, itu semua adalah hal yang wajar. Siapa pula yang sanggup disalah-salahkan terus menerus selama 8 tahun menjadi seorang menantu. Bu Een semakin jengkel melihat adegan romantis itu. Matanya menatap tak suka penuh iri dengki. Dia cemburu dengan perhatian Mirza pada Via. Konyol sekali memang, seorang ibu mertua cemburu dengan menantu perempuannya!
“Ya sudah kalau kalian memang mau pulang, pulang sana! Ibu juga nggak mau ngeliat kalian disini, ibu udah nggak butuh kalian! Ibu bisa sendiri melakukan semuanya!” Jurus andalan Bu Een pun keluar, mencak-mencak nggak karuan untuk menutupi rasa bersalahnya sendiri.
Bu Een bangkit dri duduknya, berjalan agak terpincang-incang menuju kamarnya. Ia sempat melihat sekilas pada anak dan menantunya yang merenggangkan pelukan dan saling bertatap dalam diam.
Bu Een merasa puas, pasti sekarang Mirza dan Via sedang merasa bersalah. Enak saja aku yang di salah-salahkan, harusnya kan aku yang menangis dan dapat perhatian Mirza. Kenapa malah jadi si Via yang nangis-nangis nggak jelas gitu? Dasar menantu sok drama! Bu Een tak hentinya menggerutu dalam hati sambil menuju kamar mandi di kamarnya. Tak lama berselang,
KROSAK
BRUAK!
“Mirza ….!”
Bu Een melolong setelah pantatnya menghempas lantai kamar mandi dengan sangat sempurna. Seketika Mirza dan Via berlarian menuju ke arahnya.
“Astaghfirullah, Bu…!” Panik Mirza yang mendapati ibunya jatuh dengan kondisi terduduk di lantai kamar mandi.
“Ya Allah…! Mas, cepat angkat ibu Mas!” Via tak kalah paniknya.
Mirza segera membopong tubuh ibunya ke atas kasur, Bu Een tak sanggup membuka matanya karena merasakan sakit dibagian ujung tulang ekor alias brutu-nya.
“Mas, kita bawa aja ibu ke klinik sekarang Mas. Aku takut ibu kenapa-napa.” Usul Via.
“Iya, Sayang.”
Bu Een menggeleng, masih keras kepala juga dia.
“Bu, ibu nurut kenapa sih Bu? Jangan keras kepala, kalo ibu nggak mau dibawa berobat, bisa jadi ibu sakitnya nggak sembuh.” Mirza agak kesal.
Bu Een kembali menggeleng sambil meringis memegangi bokongnya.
“Atau kita panggil saja Dokter Burhan ke sini, dia pasti mau kok. Ibu mungkin akan makin kesakitan kalo kita naik mobil ke sana Mas, benturan di tulang belakang ibu cukup keras kayaknya.”
“Kamu benar, Sayang. Mas akan coba telpon dokter Burhan.” Mirza keluar mencari ponselnya.
“Bu, ibu yang sabar ya …., sebentar lagi dokter Burhan kesini.” Via lupa akan amarahnya yang baru saja meledak, berganti deagan rasa simpati yang teramat sangat melihat ibu mertuanya menahan sakit masih dengan mata terpejam di depannya. Ia lantas keluar kamar untuk melihat suaminya yang tengah berbicara serius di telpon.
❤️❤️❤️❤️❤️
Waktu makan malam kali ini akan berlangsung lebih awal karena Tuan Alatas mengundang beberapa kolega bisnisnya untuk ikut makan malam di rumahnya. Berbagai sajian sudah di hidangkan di atas meja makan. Tuan Alatas sampai lebih dulu di ruang tengah, ia tak ingin tamunya menunggu sehingga apabila mereka datang Tuan Alatas akan langsung menyambutnya sendiri.
“Dimana, Ram? Kenapa dia belum juga turun?” Tanya Tuan Alatas pada sang kepala pelayan.
“Sebentar lagi, Tuan. Mungkin Tuan Ram tengah bersiap-siap.”
__ADS_1
Tuan Alatas melengkungkan senyum tipis. “Dia memang harus tampil sempurna, karena akan ada tamu spesial untuknya.”
Gerald tak bisa menahan jiwa keponya. “Apa Tuan juga mengundang Nona Jane?”
Tuan Alatas melayangkan tatapan pada si kepala pelayan yang berdiri di sampingnya itu. cepat-cepat Gerald menundukkan kepalanya, pandangannya lurus ke ubin marmer yang dipijaknya. Segera ia sesali dirinya yang teramat tak tau diri itu, terlalu berani bertanya hal yang bukan menjadi urusannya. Namun perasaan bersalahnya berganti heran ketika mendengar suara renyah Tuan besarnya.
“Aku punya wanita yang lebih baik untuk Ram.” Ujarnya.
Gerald kembali mengangkat wajahnya, ternyata Tuan Besar Alatas memang konsisten ingin tetap membuat anaknya berpisah dengan istrinya. Terbukti tanpa lelah dia mencarikan beberapa wanita pengganti untuk anak tunggalnya itu.
“Omong-omong, bagaimana kabar si ja**ng anak dari Husein itu? Apa dia sudah melahirkan?” Tuan Alatas mengganti topik pembicaraan.
“Seharusnya kalau menurut perhitungan memang belum. Dari laporan orang-orang kepercayaan Tuan, terakhir kali dia mengunjungi rumah sakit sekitar dua minggu yang lalu. Namun itu bukan untuk periksa kehamilan, melainkan untuk konsultasi kesehatannya yang memburuk.” Papar Gerald yang selalu mendapatkan laporan update dari beberapa spionase yang disebar Tuan Besarnya.
Senyum sinis terbit di wajah Tuan Alatas. “Apalagi yang diharapkan Ram darinya? Dia sakit-sakitan seperti itu, dia memang sudah tak berhak menyandang gelar Alatas di belakang namanya.”
Gerald hanya mengangguk mendengarkan.
“Dimana dia sekarang?”
Gerald agak tergagap. “Nyonya Sof-, dia … maksud saya dia…, terkhir kali GPS mobilnya berada di showroom mobil second.”
“Apa maksudmu?” Sekonyong-konyong Tuan Alatas memebelalakkan matanya. “Maksudmu dia menjual mobilnya? Kenapa kau tak mengatakannya padaku?”
“M-maaf Tuan, mereka masih sedang mencari keberadaannya, karena dia pun tak ada di kediaman orang tuanya.”
“Bodoh! Jelas saja dia tak kan ada disana! Orang tuanya bahkan sudah tak peduli!” Geram Tuan Alatas. “Aku tak mau tau, cepat dapatkan informasi tentangnya! Jangan sampai kecolongan jika dia sudah melahirkan, aku harus mengambil anaknya karena dia adalah putra Ramzi, calon penerus kerajaan bisnis Alatas.”
“Jadi Papa berencana mengambil anakku?” Ramzi yang sudah mendengar percakapan papanya dan sang kepala pelayan menatap angker.
“Ram, sudah tiba kau rupanya.”
“Jangan menghindariku, Pa.” Ramzi mendekat. “Katakan, benar Papa mau mengambil anakku dari Sofia? Tega Papa memisahkan seorang bayi mungil tak berdosa dari ibunya?” Ramzi menatap tajam menuntut jawaban.
“Jangan berlebihan Ram, bayi itu juga cucu Papa.” Elak Tuan Alatas.
“Tapi dia butuh ibunya, dia butuh Sofia sebagai ibu kandungnya. Bukan butuh Papa! Memangnya Papa mau menyusui bayi merah yang baru lahir?”
Seketika Gerald hampir saja tertawa mendengar pertanyaan Ramzi, namun dia segera membungkam mulutnya.
“Jangan kaurang ajar kau, Ram!” Hardik Tuan Alatas.
“Aku tidak setuju dengan rencana Papa, baik buruknya Sofia adalah tetap ibu kandung dari anakku, dan aku akan mengajaknya untuk kembali padaku.”
“Kita lihat saja, jika Papa tetap dengan rencana itu berarti Papa akan berahadapan langsung denganku!” Tantang Ramzi bersungguh-sungguh.
“Ram! Ini semua demi kebaikanmu, demi kebaikan keluarga kita. Wanita seperti istrimu tak pantas kau perjuangkan, ada lusinan wanita yang jauh lebih baik daripada si ja**ng itu!”
“Jangan Papa sebut Sofia seperti itu lagi Pa! papa tau kan aku tak menyukainya?” Tegas Ramzi lantas memutar langkahnya meninggalkan ruang tengah.
“Ram, tunggu!” Seru Tuan Alatas. “Kau harus ikut makan malam, ada seseorang yang ingin papa kenalkan denganmu.”
“Lupakan saja, aku sama sekali tak akan membuka hatiku buat siapapun.” Ucap Ramzi tanpa menoleh, langkahnya diayun mantap menaiki anak tangga kembali menuju kamarnya.
“Anak itu, benar-benar sudah tak bisa dikendalikan lagi.” Tuan Alatas meremas lengan sofa di sampingnya. “Gerald, mereka harus menemukan wanita itu lebih cepat. Aku tak mau Ramzi kembali padanya.”
“Baik, Tuan. Segera akan saya perintahkan mereka untuk menemukannya.”
“Bawa dia ke tempat yang Ram tak kan bisa menemukannya, pastikan dia melahirkan bayinya di sana. Aku tak mau dia kabur lagi, bayinya harus menjadi milikku.” Kedua netra Tuan Alatas menyorot tajam ke depan solah dia siap menerkam mangsa yang tak kasat mata di hadapannya.
“Laksanakan, Tuan.” Gerald segera mundur perlahan seraya merogoh gawainya dari dalam sakunya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Berlin,
Mr. Bughman menatap layar gawainya dengan pandangan tak berkedip.
“Verdammt! Ich muss damit aufhören!” (Sial! Aku harus menghentikannya!) Umpat Mr. Bughman. “Para pendemo itu kenapa tidak ditembak mati saja! Selalu bikin rusuh dimana-mana!” Mr. Bughman memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut sakit.
Hanson sudah menyandang ranselnya di pundak, melihat pada sang papa yang tengah murung di ruang kerjanya. “Guten Morgen, Papa.” (Selamat pagi, Papa). Hanson mendaratkan pantatnya di kursi depan meja kerja sang ayah.
Menatap lurus penuh selidik pada sang anak. “Mau pergi kemana kamu?”
“Sesui rencana, hari ini aku akan kembali ke Jakarta.”
“Nein!” (tidak) Mr. Bughman mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kamu harus bantu Papa. Para pendemo itu menuntut penghentian penggunaan batu bara. Perusahaan kita akan merugi jika pemerintah menyetujuinya.”
“Memangnya kita bisa apa?” Hanson mengangkat bahu acuh. “Biarkan saja! Lagipula penggunaan batu bara kan memang sangat merugikan lingkungan.”
__ADS_1
“Dumm!” (Bodoh!). “Apa otakmu sudah pindah ke bokong? Kita bisa jatuh miskin gara-gara itu!”
Hanson malah nyengir mendengar umpatan sang ayah. “Paling tidak kita tidak akan lebih miskin dari gembel di jalanan. Kita kan masih punya bisnis pengalengan ikan di Hamburg dan Bremerhaven, Pa. Santai saja lah.”
PLAK!
Mr. Bughman mengeplak kepala Hanson telak. Tak tahan dia mendengar celotehan sang anak yang waton njeplak itu.
“Taruh kembali tasmu, dan ikut Papa menemui Mrs. Barbara Hendricks.” Titah Mr. Bughman kembali bersandar pada kursi empuknya.
“Mau apa Papa mengajakku bertemu dengan Mentri Lingkungan Hidup?” Dahi Hanson mengernyit heran. “Aku mau menikah di Kantor Urusan Agama Pa, bukan di kantor Kementrian Lingkungan Hidup!”
Hampir saja Mr. Bughman mendaratkan tangannya kembali di kepala Hanson jika Hanson tak lebih gesit menghindarinya.
“Hanson Dietrich Bughman! Taruh kembali tasmu dan ikut Papa sekarang!” Mr. Bughman melototkan matanya tak ingin dibantah.
“Nein, Papa!” Hanson menggeleng tegas. “Aku akan kembali ke Jakarta karena cintaku sudah menungguku!”
“Gottverdammt! Kannst du es wagen, mit deinem vater zu streiten?” (Kurang ajar! Berani kamu membantah perintah ayahmu?" Mr. Bughman menggeram menahan amarahnya yang hampir meluap.
Hanson bangkit mengacak rambutnya frustasi.
“Ayolah, Pa …. Kita lebih baik menyerah saja. Bukankah aku sudah membantu Papa semampuku? Tapi nyatanya apa? Semua pihak memang pada akhirnya akan setuju dengan penghentian penggunaaan batu bara sebagai bahan bakar. Lagipula isu-isu tentang pemanasan global sudah mengemuka sejak puluhan tahun. Tidak ada gunanya Papa bekeras.” Papar Hanson berusaha meluluhkan Mr. Bughman yang masih terdiam dingin di singgasananya.
“Papa tau kan negara kita sudah menyepakati Perjanjian Paris bebarapa tahun silam, bahwa suhu bumi tidak boleh naik di atas 2 derajat, atau lebih baik lagi 1,5 derajat? Itu artinya penggunaan batu bara sebagai penyumbang gas karbon terbesar memang harus dihentikan!” Sambung Hanson yang melihat Papanya masih terdiam. “Jadi biarkan saja demo dimana-mana karena mereka memang menuntut kebaikan untuk kelangsungan alam!”
“Kenapa kamu jadi sok pintar sejak tinggal di Indonesia? Siapa yang sudah mencuci otakmu?” Sinis Mr. Buhgman.
“Ck, aku hanya berpikir logis saja Pa, daripada buang-buang waktu.” Hanson berdecak kesal membenahi slempang tasnya yang sedikit melorot dari bahunya.
“BJ. Habibie saja pindah ke negara kita karena kecerdasannya tidak dianggap di Indonesia, kenapa kamu malah pilih minggat ke sana?” Sarkas Mr. Bughman.
“Kanapa pakai bawa-bawa **. Habibie segala? Papa sudah ngelantur kemana-mana.” Hanson mulai kesal. “Sudah, aku harus pergi sekarang. Pesawatku akan berangkat dua jam lagi, aku tak mau terlambat karena cintaku sudah menungguku di Jakarta.” Hanson memutar lagkah setelah melirik arloji di pergelangan tangan kanannya.
“Hanson Dietrich Boughman!” Sekali lagi Mr. Bougman berseru nyaring memanggil sang putra kesayangan. “Berani kamu melangkah keluar dari ruangan ini, Papa akan membekukan semua kartu…”
“Es ist mir egal, Papa.” (Aku tidak peduli Papa.) Potong Hanson berbalik cepat. “Mau Kau bekukan atau kau sita sekalian kartu debit, kartu kredit, kartu tanda penduduk, silakan Papa. Itu semua tak kan menyurutkan langkahku untuk kembali ke Jakata. Karena pada akhirnya hanya aku yang dapat Papa andalkan untuk mengurus hari tua papa.” Ucap Hanson dengan penuh keyakinan.
“Kamu akan menyesal, Hanson.” Mr. Bughman beranjak mendekati sang putra. “Kau lupa, kenapa kamu bisa bepergian dengan bebas, berfoya-foya sesuka hatimu, melancong ke berbagai pelosok bumi? semua itu berkat papamu! Dan sekarang disaat papamu membutuhkanmu, kamu akan pergi begitu saja?”
Hanson dapat melihat amarah yang berkilat-kilat di kedua netra sang ayah, namun ia tak gentar. Ia sudah bertekad tak kan lagi menunda keberangkatannya kali ini.
“Papa, aku mohon pengertianmu." Hanson melunak. "Saat ini aku harus memperjuangkan cintaku, aku ingin mengakhiri semua kebodohanku di masa lalu karena aku sudah menemukan seseorang untuk berumah tangga.”
“Apa aku tidak salah dengar? Kau berbicara tentang berumah tangga?” Tiba-tiba senyum kecut melengkung di bibir tipis Mr. Boughman.
“Pendengaranmu masih berfungsi dengan baik, Papa. Sekarang tolong ijinkan aku pergi, kau tentu ingin anakmu ini kelak memiliki seorang istri dan keturunan untuk meneruskan keluarga Bughman kan? Aku akan mewujudkannya, Pa. Aku berjanji, setelah ini aku akan kembali ke Berlin untuk mengurus semua bisnis kita.”Ucap Hanson penuh kesungguhan.
“Kann ich dir vertrauen?” (Apa aku bisa mempercayaimu?)
“Tentu.”
“Ok. Bawa calon istrimu kemari, biar Papa yang menilainya.”
Hanson tersenyum tipis. “Aku tak percaya akan semudah ini meluluhkanmu.”
“Kali ini kau meragukan papamu?” Mr. Bougman meninju lengan kanan Hanson.
“He em, sedikit. Selama papa masih berniat menemui Mrs. Hendricks aku belum sepenuhnya percaya. Siapa tau papa juga menyimpan rencana tersembunyi untuk menggagalkan pernikahanku nanti.” Hanson tergelak di akhir kalimatanya.
“Dasar anak kurang ajar.” Mr. Boughman ikut tergelak. “Setidaknya biarkan dulu aku berusaha, paling tida bisnisku akan mendapatkan kompensasi dari pemerintah jika aku benar-benar harus menutupnya.”
“Dasar oportunis kapitalis!”
Perpisahan kedua ayah dan anak itu ternayta tak berlangsung sedramatik yang diperkirakan. Mereka sama-sama saling menyadari keinginannya satu sama lain.
Kita tunggu saja apakah Hanson akan berhasil memboyong Rumi ke Berlin?
❤️❤️❤️❤️❤️
Yang dari kemaren udah kangen sama si Babang bule Hanson, semoga terobati ya? biarpun baru nongol sedikit. 😄
Terima kasih sudah membaca.🙏🙏
Maafkan kalo banyak typo dan kesalahan penerjemahan 🙏🙏
Like kakak….😉😉
Komen selalu ya bikin othor makin semangat dong…🤩🤩
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan semuanya
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘