
Dalam bilik kamar berukuran 2x3 meter, di atas brangkarnya tubuh kurus itu terbaring dengan kedua netra tertutup. Nafasnya teratur, nampak bekas luka mengering di pelipis kiri. Mirza sampai di tepi ranjang dengan tubuh bergetar, wajah tua wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu lebih tirus dengan lingkar hitam di bawah matanya. Tak mampu menahan buliran hangat yang merosot jatuh hingga menitik di atas punggung tangan yang keriput di depannya. Gegas Mirza mengusapnya perlahan.
"Za, emak elu baru dikasih obat penenang. Biar dia istirahat dulu," menyentuh pundak Mirza. "Kita temui dokter dulu yok."
"Om aja," sahutnya tanpa mengalihkan pandangan. "Aku disini nemenin ibu."
Coba maklum pada kondisi sang keponakan. "Ya udah, ntar gue balik lagi."
Om Jaka menuju ruang dokter mengikuti suster yang berjalan di depannya. dr. Wahyu Supriyanto, Sp.KJ tulisan yang terpampang di pintu ruangan.
Setelah suster memperkenalkan, Om Jaka duduk menyimak penjelasan dokter Wahyu.
Dari hasil observasi, “Kakak Anda mengidap depresi, Pak Jaka,”
Om Jaka mengangguk, ia sudah menduga sebelumnya.
“Lebih tepatnya disebut depresi geriatri, yaitu penyakit atau gangguan mental pada orang usia lanjut. Faktor penyebabya banyak sekali, salah satu diantarnya adalah musibah yang dialami Bu Endang.”
“Bener, Dok. Mental Mbakyu saya terguncang banget, dia kehilangan semua hartanya akibat kebakaran itu,” mengusap kasar wajahnya, sesungguhnya Om Jaka pun tak tega jika ingat semua kejadian itu.
“Ya, itu menimbulkan rasa ketidaksiapan untuk kehilangan sesuatu yang dimilikinya dan penolakan terhadap kenyataan.”
“Tapi Mbakyu saya bisa disembuhkan kan, Dok?” Om Jaka penuh rasa ingin tahu.
“Tentu saja, tapi dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.”
“Apa tidak sebaiknya kalo Mbakyu saya dirawat di rumah saja? Emh, maksud saya begini Dok –, saya khawatir nih kalo keadaan rumah sakit malah bikin Mbakyu saya semakin tertekan.”
Membenahi posisi duduknya, “melihat dari kondisi Bu Endang, kami justru khawatir jika beliau tidak ditangani secara optimal oleh tenaga medis dikhawatirkan akan menimbulkan tindakan yang lebih buruk,” dokter Wahyu menjeda kalimatnya sebentar. “Bu Endang beberapa kali berusaha melukai orang lain, bahkan dirinya sendiri.”
“Iya juga sih, Dok.” Termenung sejenak.
“Bahkan pada kasus depresi yang berat, penderitanya bisa saja melakuksn upaya percobaan bunuh diri.” Imbuh dokter Wahtu bikin Om Jaka bergidik ngeri.
“Naudzubillah, ngeri banget!”
“Pak Jaka jangan khawatir, kami akan mengupayakan semaksimal mungkin untuk pemulihan kesehatan mental Bu Endang. Setelah kondisinya stabil, kami akan mulai terapi, diharapkan dukungan penuh dari pihak keluarga untuk selalu mendampingi.”
Manggut-manggut seolah paham yang diucapkan dokter Wahyu, namun kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. “Eh, gimana maksudnya tadi, Dok? Terapi?”
“Benar, Pak Jaka. Selain diberikan obat antidepresan, kami juga merekomendasikan untuk digabungkan dengan terapi interpersonal. Obat antidepresan berguna untuk mengatur neurotransmitter serotonin, norepinefrin dan dopamin, yang terlibat dalam menjalankan fungsi otak, dimana salah satu fungsi otak adalah mengatur suasana hati serta pemikiran seseorang,” papar dokter Wahyu.
Kening Om Jaka mulai berkerut-kerut, istilah-istilah asing itu membuatnya sedikit puyeng.
“Sedangkan interpersonal therapy atau terapi interpersonal merupakan pengobatan kedua yang dapat dilakukan pada penderita depresi lansia. Terapi ini berfokus untuk memperbaiki penderita depresi dari sisi fungsi sosial. Penderita cenderung mengalami kesulitan dalam berinteraksi dan merespon situasi sosial disekelilingnya. Diharapkan dengan mengikuti sesi terapi ini, penderita mampu mengembangkan dan meningkatkan keterampilan interpersonal guna mencegah perkembangan episode depresi. Perawatan dimulai dengan evaluasi komprehensif dari fungsi sosial dan emosional yang berguna untuk mengetahui masalah fungsi sosial penderita. Selanjutnya, terapis akan membantu menentukan strategi pengobatan yang cocok guna mengatasi masalah serta menawarkan terapi tambahan untuk mencegah munculnya episode depresi di masa depan,” lanjut dokter Wahyu panjang lebar.
Fix! Om Jaka puyeng beneran ini mah. Namun tak berapa lama senyumnya melebar, “depresi udah kayak sinteron aja ya, Dok? Ada episode-episodenya?”
Dokter Wahyu ikut tersenyum, “dengan support dari orang-orang terdekat, saya yakin Bu Endang bisa pulih secepatnya.”
“Aamiin,” menghela nafas berat, meski sempat pesimis namun berkat dokter Wahyu, Om Jaka kini punya keyakinan untuk kesembuhan Mbakyunya.
Sementara itu di ruangan Bu Een, Mirza mendaratkan pantat di tepi ranjang membuat bunyi sedikit berderit. Bu Een menggerakkan kepalanya namun matanya masih terpejam, ia masih nyenyak. Mirza mengusap lembut kepala sang bunda yang kini tanpa hijab itu, beberapa rambutnya yang memutih nampak kusut. Penyesalan memenuhi rongga dadanya. Andai saja ia tak pergi bak seorang pengecut, mungkin ini semua tak akan terjadi. Ibunya tak perlu mengalami semua penderitaan ini. kedua netra Mirza menghangat, sesal campur sedih yang mendalam membuatnya sangat merasa bersalah.
Om Jaka muncul dari balik pintu ruangan, gegas Mirza usap kedua matanya dengan punggung tangan.
“Yang sabar ya, Za,” mengusap pundak sang keponakan. “Dokter bilang emak elu pasti bisa sembuh kok.”
Hanya mengangguk.
“Ya udah, kita pulang sekarang?”
“Aku mau nginep disini Om nemenin ibu.”
__ADS_1
“Eh, ini RSJ bukan hotel, Za!” Om Jaka keget. “Pasien kagak boleh ditemenin.”
“Tapi, Om –“
“Kalo kagak percaya lu tanya sendiri sana sama dokter!”
Mirza tampak kecewa, ia hanya ingin menebus semua waktunya yang hilang bersama sang bunda.
“Gue ngarti perasaan elu, tapi kan elu juga baru dateng dari Jakarta. Elu juga butuh istirahat, jangan ampe elu malah ngedrop kerena kecapekan. Kesian Via, lakinya balik malah sakit.”
Dalam hatinya, Mirza membenarkan juga perkataan Om Jaka. Akhirnya dengan berat hati ia harus meninggalkan Bu Een, lirih ia bisikkan kata-kata penuh harapan pada telinga sang bunda lantas mencium keningnya hangat.
“Udeh, ntar emak elu malah bangun. Besok kan elu bisa kesini lagi.”
Merka pun meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan pulang Om Jaka menceritakan detail perbincangannya dengan dokter Wahyu, sekarang Mirza jadi punya gambaran dengan kondisi yang sesungguhnya tentang sang bunda. Ia berjanji akan berada disamping Bu Een sampai sembuh.
Source:
https://www.apa.org/depression-guideline/older-adults
💕💕💕💕💕
Bu Harni baru saja selesai menerima telpon dari Via yang mengabarkan sudah kembali dari Jakarta. Bu Harna nampak lega. Riri masuk membawa keranjangnya yang sudah kosong.
“Eh, Ri!” panggil Bu Harni. “Via udah pulang, besok ibu mau kesan ah. Kangen banget sama Nala.”
“Tapi aku nggak bisa nganterin, Bu.” sahut Riri sambil terus ngeloyor.
“Lho, kenapa?” kejar Bu Harni. “Terus ibu kesananya gimana dong? Naik motor sendiri aja apa ya?”
“Ya nggak bisa dong, Bu.” menaruh keranjangnya di dapur. “Kan aku pake buat nganter-nganterin catering. 250 nasi box lho besok. Mau aku angkut pake apa? Jalan kaki? Bisa gempor nih kaki!” kesal Riri.
“Emang Toni masih belum bisa keisni ya?”
“Hah?” tercengang lantas kembali mengejar si anak bungsunya. “Kalian lagi berantem ya?”
“Nggak.”
“Terus kenapa Toni nggak mau kesini lagi?”
“Ya nggak mau aja. Ngapain juga disini orang dia nggak bakalan nikah sama aku.”
“Jadi dia pergi cari cewek lain?”
“Mungkin,” sahut Riri cuek.
“Kurang ajar si Toni! Dasar gak tau terima kasih, udah dikasih kerjaan malah ngecewain kamu. Ibu bilang juga apa, Toni itu cowok gak bener, gak cocok buat kamu!” Bu Harni jadi emosi.
“Toni gak salah, Bu. Karena dia juga udah bantu banyak kok,” Riri gak terima Toni kekasih hatinya disalah-salahin. “Usaha catering aku bisa maju dan sebesar ini berkat bantuin Toni juga, Bu. dari mulai persiapan bahan sampe pemasaran Toni bantuin. Kalo gak ada dia mungkin aku masih jadi karyawan Bu Elin aja ngurusin usahanya orang gak punya bisnis sendiri.”
“Kok gak salah? Orang dia udah jelas-jelas ninggalin kamu kok?”
“Dia ninggalin aku karena gak dapet restu dari ibu!”
Bu Harni melongo kaget.
Riri mempercepat langkahnya ke kamar dan siap mau nutup pintu.
“Eh, Ri! Tunggu!” Bu Harni menahan.
“Apa lagi sih, Bu? aku males ngomongin Toni.” Pasang tapang bête.
“Kalo gitu kenapa kamu gak cari cowok lain aja?” bersemangat karena merasa ini celah yang baik untuk mendapatkan mantu kaya raya sesuai idamannya.
__ADS_1
Riri mendengus kesal.
“Atau ibu yang cariin ya?”
“Nggak usah repot-repot, aku udah gak napsu sama cowok!” Ketus Riri.
“Hah, kok gitu? Emangnya kamu gak kepeingin nikah? Gak pingin punya anak kayak kakak-kakakmu itu, berumah tangga bahagia dan –“
“Males!” potong Riri. “Aku gak bakalan nikah kalo gak sama Toni, titik!”
“Jadi perawan tua dong kamu?” mulai cemas.
“Biarin aja. Aku mau kerja, kerja, kerja terus, sampe catering aku dikenal dimana-mana dan aku jadi kaya raya. Itu cita-cita ibu kan? Jadi kalo aku udah kaya raya aku gak perlu nikah, aku gak butuh suami!”
“Haduh,” Bu Harni memegangi jidatnya. “Kok jadi gini sih?”
“Udah ah, aku mau mandi. Gerah!” Riri mendorong pintu kamarnya namun sekali lagi Bu harni menahannya.
“Tunggu dulu,”
“Apaan lagi sih, Bu?” kesel banget.
“Ada kabar penting nih,” Bu Harni berubah semangat lagi.
“Penting buat ibu belum tentu buat aku.”
“Dengerin dulu,” menarik tangan sang anak untuk mendekat. “Tau nggak, tadi Via bilang kalo mertuanya alias si Een Endang gulindang itu, alias si nenek lampir galak itu, sekarang lagi di rawat di rumah sakit jiwa,” Bu Harni nampak kegirangan di akhir kalimatnya.
Riri terdiam sebentar, mengulang kata rumah sakit jiwa dengan gerakan bibirnya seolah ragu dengan apa yang barusan didengarnya.
“Dia depresi katanya. Depresi kan sama kayak gila ya? haha … sukurin! Biar tau rasa dia!” Bu Harni malah seneng dengan kondisi sang besan. “Emang itu yang pentes buat dia. Udah dikasih teguran barkali-kali gak mau tobat juga. Dari mulai nyungsep di parit sawah sampe kecelakaan masuk kolong truk masih selamet juga, hebat benget dia udah kayak kucing aja nyawanya ada sembilan. Tapi kali ini Tuhan udah marah banget kayaknya sama dia, dibikin gila. Hahaha … Itu hukuman buat dia, sukurin! Jadi orang kok tamak, rakus, serakah sama harta. Kayak harta mau dibawa mati aja ngotot banget sama dunia!”
Riri memandangi sang ibu yang lagi asyik nyerocos sendiri sambil sesekali tertawa kegirangan itu.
“Bu, ati-ati lho,” ucap Riri kemudian.
“Ati-ati apa?”
“Ati-ati abis ini ibu yang ikut jadi gila.”
“Ha, enak aja! Sembarangan kamu ngatain ibumu sendiri!” Bu Harni sewot.
“Ibu nggak ngaca? Ibu tuh 11 12 aja sama Bu Endang! Beda-beda tipis.”
Bu Harni gak terima disama-samain dengan besannya. “Ya nggak lah.”
“Nggak gimana? Apa sampe sekarang ibu bisa nerima Mas Arya seutuhnya sebagai seorang menantu? Nggak kan? Ibu selalu aja nyindir Mas Arya, gak peduli dia udah usaha kerja keras demi Mbak Tia dan Ica. Cuman karena Mas Arya miskin dan yatim piatu, ibu bencinya sampe sekarang. Terus Mbak Via, udah tau Mbak Via disakitin berkali-kali sama Mas Mirza tapi ibu dukung buat jangan pisah. Ternyata alesannya kerana hartanya Mas Mirza banyak, kaya raya jadi sayang kalo mereka cerai. Dan sekarang aku sama Toni –“
“Udah, Ri. Cukup, cukup!” Pangkas Bu Harni. “Ibu lakuin itu srmua demi kebahagian anak-anak ibu, kamu harus tau itu.”
“Kebahagian itu gak selamanya diukur pake harta Bu. kalo kita bisa saling menerima, kita bisa kok sama-sama berjuang buat jadi sukses dan kaya raya.”
“Tapi, Ibu –“
“Aku gak mau debat lagi sama ibu, intinya ibu harus introspeksi. Lagian dalam kondisi kayak gini harusnya ibu itu prihatin sama keadaan Bu Endang, ini malah ketawa-tawa kegirangan. Kalo sampe Mas Mirza sama Mbak Via tau, mereka bakal kecewa banget, atau bahkan bakal benci banget sama ibu.” Pungkas Riri lantas segera masuk kamar dan mengunci pintu meninggalkan ibunya yang masih berdiri mematung.
“Kok gitu sih? Bukannya dia jaga benci banget sama si nenek lampir itu? tapi kok malah nyalahin ibunya ini sih?” Bu Harni memutar langkah sambil ngedumel sendiri.
Hayoo... ada seneng kayak Bu Hari gak nih dengan kondisi Bu Een yang kayak gitu 😂😂
Makasih ya dear, udah selalu hadir di karya othor awut-awutan ini 🙏🙏😁😁
Tungguin kelanjutannya yaa 🥰🥰
__ADS_1
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘