TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
63 #MENGINAP


__ADS_3

Dokter Rico sedang melakukan pemeriksaan USG pada Sofi, Bu Een berdiri di samping Sofi ikut menyaksikan monitor yang memperlihatkan kondisi dalam rahim Sofi yang hanya berwarna hitam putih. Mesin USG yang terdapat di klinik dokter Burhan masihlan mesin USG 2D, jadi gambarnya tidak seterang dan sejelas USG 3D atau 4D.


Wajah dokter kandungan setengah baya itu nampak sangat serius, sehingga Bu Een juga ikut-ikutan sok serius berbeda dengan Sofi yang berbaring dengan wajah santai.


“Sebelumya apakah sudah pernah melakukan pemeriksaan USG, Bu?” Tanya dokter pada Sofi.


“Beberapa hari yang lalu sih, Dok.” Bu Een malah yang menjawab. “Tapi nggak jadi karena sudah tutup pendaftarannya. Ya, maklumlah waktu itu periksanya di klinik bersalin di kota yang terkenal bagus dan mahal itu lho, Dok. Jadi kami terlambat untuk mendaftar dan nggak bisa USG. Padahal saya kepengen banget liat calon cucu saya kayak apa bentuknya.” Cerocos Bu Een.


Dokter tak menanggapi ocehan Bu Een, mungkin sebel juga mendengarnya. Ditanya apa, jawabnya apa. Kemudian dokter mengambil foto hasil USG yang keluar dari printer. Seorang perawat membersihkan gel dari perut Sofi dengan tisu dan membantu Sofi bangun untuk duduk di kursi depan meja sang dokter.


“Usia kehamilan Anda sudah memasuki usia 14 minggu. Namun berat janin masih belum ideal.”


“Maksud dokter, bayi saya ... ehh cucu saya berat badannya kurang begitu?” Sela Bu Een.


“Benar. Usia kandungan 14 minggu berat janin idealnya kurang lebih 24 gram. Sedangkan ini hanya 18 gram.”


“Kenapa bisa begitu, Dok? Terus apa resikonya kalo berat badan janinnya kurang? Apa ini berbahaya, Dok? Duh, Sof makanya kamu itu makan yang banyak!” Bu Een mulai nyerocos lagi.


Sofi terlihat bête, terlebih lagi dokter yang setiap penjelasannya disela terus.


“Sebaiknya perhatikan pola makan dan asupan gizi selama masa kehamilan.” Dokter menatap tajam bergantian pada Bu Een dan Sofi seolah menandakan ia tak ingin dipotong lagi kalimatnya. “Masih ada waktu untuk menambah berat janin Anda, Bu. Dan sebaiknya hindari stres dan lelah yang berlebihan karena itu bisa berdampak pada perkembangan janin Anda.”


Sofi mengangguk samar.


“Terus kalo beratnya susah nambahnya gimana, Dok?” Tanya Bu Een menggingatkan ada pertanyaannya yang telewat dijawab oleh dokter.


“Diantaranya bisa terjadi kelahiran prematur, gangguan fungsi jantung dan beberapa gangguan organ dalam lainnya pada bayi.”


“Oh, serem banget! Amit-amit …., jangan sampe deh Sof!”


Dokter kemudian menuliskan resep untuk Sofi dan mempersilahkan mereka keluar jika sudah tak ada yang ditanyakan lagi.


Sofi segera bangkit dari duduknya sebelum calon ibu mertuanya itu ngoceh lagi. Mereka kemudian menuju apotik untuk mengambil obat.


“Kamu tunggu di sini aja, biar Ibu yang masuk.” Perintah Bu Een pada Sofi.


Sofi duduk di bangku panjang depan apotik tempat biasa pasien menunggu. Ia tampak termenung seperti memikirkan sesuatu, sedangkan Udin duduk agak jauh darinya memperhatikan wajah Sofi yang masih sedikit pucat. Tak lama kemudian Bu Een muncul.


“Sof, Ibu hawatir banget sama bayi kamu.” Ucap Bu Een begitu keluar dari apotik. “Kamu tinggal di rumah Ibu aja ya? Ibu takut ada apa-apa sama calon cucu Ibu.” Lanjut Bu Een sembari melihat footo hasil USG 2D ditangannya.


Sofi melihat pada Bu Een dengan pandangan meyakinkan.


“Ibu jangan khawatir, aku udah punya rencana yang lebih bagus lagi.” Ungkap Sofi. “Ibu tunggu sebentar.” Sofi lantas masuk ke apotik.


Bu Een hanya memandangi kepergian Sofi.


...


Mau ngapain Sofi ke apotik lagi? Bukannya obatnya udah ditebus? Batin Bu Een heran....


Udin kini memperhatikan wajah majikannya yang tampak keheranan. Ia ingin bertanya tapi takut kena semprot. Udin ngeri sendiri membayangkan ocehan Bu Een.


Sofi keluar dari apotik dan mengajak calon ibu mertuanya pulang lantas berjalan pelan mendahului ke parkiran.


“Ayok, Din!” Ajak Bu Een pada Udin.


“Jadinya pulang ke mana Bu, Mbak Sofi? Ke rumah Ibu atau rumah Mas Mirza?” Tanya Udin hanya ingin memastikan.


“Ke rumah kamu!” Ketus Bu Een lalu berusaha mengejar langkah Sofi.


“Hah? Ke rumah saya? Kenapa jadi ke rumah saya?” Udin bertanya-tanya heran sendiri.


________


“Sayang, Mas kayaknya berangkatnya nanti malem deh.” Mirza memulai obrolan dengan Via.


Via menoleh melihat pada suaminya.


“Jangan ngeliatin Mas kayak gitu dong.” Mirza nggak enak diliatin Via. “Mas janji kalo udah selesai medical check up bakal segera pulang.”


“Mas apa nggak bisa kerja di sini aja?” Ucap Via pelan nyaris seperti ibicara pada dirinya sendiri.


Mirza meraih pundak istrinya dan memeluknya hangat. “Mas janji ini untuk yang terakhir, sayang. Setelah itu kita akan selalu bersama. Mas masih ingin membeli ssebidang tanah lagi untuk anak-anak kita kelak.”


Via hanya bisa pasrah mendengar penuturan suaminya. Ia tau ia tak bisa memaksakan kehendaknya meskipun tengah didera perasaan khawatir karena kehadiran Sofi ditengah-tengah rumah tangganya.


“Oya, Mas nanti mau minta tolong Ibu, Riri sama Mbak Tia buat nemenin kamu disini selama Mas di Jakarta.”


Via menengadah menatap suaminya tak percaya.


“Buat apa,Mas?”

__ADS_1


“Ya buat jagain kamu, sayang. Mas khawatir perempuan nggak tau malu itu bakal nyelakain kamu.”


“Nggak usah lebay deh, Mas. Aku bisa jaga diri kok!” Tolak Via meskipun ia memang khawatir namun langkah Mirza berlebihan menurutnya.


“Jangan bantah. Mas nggak mau kamu kenepa-napa.” Tegas Mirza lantas meraih ponselnya untuk menghubungi keluarga istrinya.


Via memilih ke kamar untuk mempersiapkan pakaian yang akan dibawa suaminya nanti malam.


____________


Di rumah Bu Suharni,


Riri yang tengah sibuk di depan laptop agak surprise mendapati pesan dari Mirza yang memintanya menginap dengan ibunya untuk menemani Via selama Mirza di Jakarta.


“Bu! Ibu …!” Panggil Riri nyaring dari kamarnya.


Bu Harni datang tergopoh-gopoh karena mendengar teriakan Rri.


“Ada apa, Ri? Kenapa?”


“Ini Mas Mirza minta kita nginep malem ini buat nemenin Mbak Via.” Sahut Riri sambil memperlihatkan pesan di ponselnya.


“Emangnya kakak kamu kenapa? Sakit atau gimana? Terus Mirzanya kemana emang?” Berondong Bu Harni karena merasa heran tiba-tiba disuruh nginep di ruamah Via.


“Mas Mirza mau medical chek up besok pagi di Jakarta, berangkatnya malam ini. Makanya ini Ibu baca sendiri pesannya Mas Mirza.” Riri menyodorkan ponselnya.


“Nggak lah, males ibu baca tulisan kecil-kecil begitu kayak arak-arakan semut! Pusing mata Ibu liatnya.” Jawab Bu Een.


Riri menaruh lagi gawainya di samping laptop.


“Ya udah yok, kita kesana sekarang aja, Ri. Ibu juga udah selesai kok kerjaan rumahnya.” Bu Harni jadi tak sabaran.


“Nanti, bentar lagi Bu. Aku lagi bikin laporan pengeluaran belanja perlengkapan ruko nih buat Bu Elin.” Sahut Riri kembali pada layar laptopnya. “Ibu nanti aku drop di rumah Mbak Via aja ya, aku mau ke kota dulu nemuain Bu Elin. Nanti pulangnya aku langsung nyusul ke sana kok.” Papar Riri.


“Terserah kamu deh. Kalo gitu Ibu siap-siap dulu ya.” Bu Harni berjalan menuju kamarnya, lantas berbalik Karena kepo dengan sesuatu.


"Eh, tapi kok tumben ya, Ri kita disuruh nginep disana? Biasanya juga nggak pernah kalo bukan kita sendiri yang mau.”


“Nggak tau, Bu. Nanti Ibu tanya sendiri aja langsung sama Mas Mirzanya.” Jawab Riri acuh tak acuh.


Bu harni berpikir sejenak, dia menduga-duga akan sesuatu dan lain hal yang membuat Mirza memintanya untuk menemani Via.


_______


“Mas! Ini Mirza ngirim pesan minta aku nginep nemani Via selama dia di Jakarta.” Seru Tia setengah girang karena emang dari kemarin dia pingin ke rumah Via tapi Arya melarangnya.


“Terus? Kamu mau ke sana?”


“Iya lah Mas. Pasti Mirza khawatir sama Via karena ada pelakor di rumahnya.” Ucap Tia dengan pelan saat menyebut kata pelakor karena takut didengar lagi oleh Ica.


Arya cuman geleng-geleng kepala.


“Emangnya kamu besok nggak ada jam ngajar atau pesenan kue? Tanya Arya kemudian.


“Nggak ada.” Sahut Tia cepat lantas menuju kamarnya untuk mempersiapkan pakaiannya dan pakaian Ica.


Arya menghampiri dan berdiri di tengah pintu kamarnya yang mungil.


“Aku heran, kamu yang biasanya bijak dan lembut hati kenapa jadi grusah grusuh begitu kalo soal rumah tangga Via?”


Tia mengehntikan aktifitasnya yang sedang memilih baju di lemari.


“Mas Arya keberatan aku nginep di sana?”


“Nggak sih, tapi …”


“Mas Arya mau aku bersikap gimana soal masalah Via?”


Arya tak menyahut, ia tau istrinya bukan tipe wanita yang suka ikut campur masalah rumah tangga orang, bahkan jika dimita sekaliun dia pasti tak mau. Tapi ini menyangukut rumah tanga adik kandungnya sendiri, Arya akhirnnya memilih maklum.


“Ya udah, nanti aku anterin kalian ke sana.” Putus Arya.


________


Di rumah Via,


Menjelang sore Tia, Ica, Bu Harni dan Riri sampai di rumah Via hampir bersamaan. Bu Harni dan Riri kaget melihat ternyata Tia juga diminta untuk ikut menginap di rumah Via. Begitu juga Tia. Via jadi tak enak hati, kenapa jadi semua keluarganya berduyun-duyun berkumpul di rumahnya. Ini semua karena suaminya yang teramat lebay!


“Ya udah, aku ke kota dulu ya, Bu.” Pamit Riri pada Bu Harni.


Via kemudian mengajak ibunya dan Tia juga Ica masuk ke dalam.

__ADS_1


“Mirza udah berangkat, Vi?” Tanya Tia


“Belum, Mba. Keretanya anti jam 7 malam.”


“Oo ..” Tia manggut-manggut sambil melihat ke seisi rumah Via, dia sebenarnya mennacari sosok perempuan yang diceritakan Arya yang tak lain adalah Sofi.


“Terus, dimana dia sekarang?”


“Ada di atas lagi ngobrol di telpon sama temannya, Mbak.”


Tia manggut-manggut lagi.


“Oya, Ibu sama Mbak Tia tidur di kamar atas aja ya? Kan masih ad satu kamar lagi yang kosong.”


“Aku mau tidur sama Tante via!” Seru Ica girang.


“Iya, Ica nanti tidur sama tante ya.” Via tersenyum sambil menjawil pipi keponakannya yang gembil.


“Vi, sebenernya kenpa sih kita kok sampe di suruh Mirza pada ngiep di sini? Tumben amat? Biasanya juga kamu ditinggal Mirza sampe berbulan-bulan nggak pernah kayak gini?” Bu Harni tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


Via mendadak jadi kikuk, ia nggak tau gimana harus menjelaskannya pada ibunya. Semenatra Tia yang sudah mengetahui kemungkinan alasannya, melihat Via dengan pandangan datar.


“Bu, sebaiknya ibu nanti tanya sendiri langsung sama Mirzanya.” Tia menjawab ibunya karena melihat Via masih diam.


“Ah, kmau sama aja kayak si Riri!” ucap Bu Harni sedikit kesal.


Mereka kemudian menuju kamar di lantai atas, Via pamit sebentar dengan alasan mau manggil Mirza.


Mirza nampak masih bicara di telpon, Via jadi tak enak mau menyela sebentar mengatakan perihal pertanyaan ibunya. Via memilih menunggu suaminya selesai telpon. Diamatinya raut wajah suaminya yang berdiri di dekat jendela yang mengarah ke balkon itu


Tanpa mereka ketahui di halaman depan mobil Bu Een sudah memasuki halaman rumah Mirza dan Sofi segera turun dibantu Udin yang membawakan banyak belanjaan Sofi. Rupanya tadi sehabis dari klinik Bu Een sengaja mampir untuk membelikan aneka makanan, susu dan buah untuk Sofi demi menjaga pertumbuhan calon cucunya.


“Biar aku aja yang bawa.” Sofi mengambil kantung belanja dari tangan Udin.


“Sof, itu kan berat? Biar Udin yang bawain.” Bu Een keluar dari mobil.


“Aku bisa sendiri, kok. Ibu juga nggak usah ikut turun, aku bisa menghadapinya snediri. Ibu jangan khawatir.” Tukas Sofi yakin.


Bu Een yang mau nganter Sofi ke dalam jadi ragu dibuatnya.


“Ibu percaya sama aku, kali ini aku nggak bakal gagal lagi. Ibu sekarang pulang aja istirahat di rumah, pasti ibu juga capek udah nemenin aku di klinik.”


Bu Een menguas senyum sambil mengelus pundak Sofi. “Kamu memang calon mantu yang baik.”


Sofi balas tersenyum lantas melangkah percaya diri menuju teras rumah Mirza.


Udin dan Bu een segera kembali ke mbil dan meninggalkan halaman luas rumah Mirza.


Ting tong


Sofi sengaja menekan bel sebab ia tak mau asal masuk dan melihat kejadian seperti kemarin lagi yang membuat darahnya mndidih sampai ke kepala.


Ting tong


Sofi memijit bel sekali lagi karena belum juga ada yang membukakan ppintu.


Bu Harni keluar dari kamar hampir berbarenagn Via.


“Biar Ibu aja yang buakain, Vi.” Sergah Bu Harni.


Via hanya mengangguk, ia juga sebenarnya males turun ke bawah karena masih menunggu suaminya selesai menelpon.


Tap tap tap


Langkah bu harni sampai di ruang tamu dan langsung membukakn pintu untuk orang yang datang.


JRENG!


_____________


lanjut nanti ya kak...😊😊


makasih yang udah setia ikutin Livia🙏🙏❤️❤️❤️❤️


mohon maaf akak author yang belum sempat aku feedback yaa..🙏🙏


lagi ada kesibukan awal tahun nih, dari kemarin baru bisa up😅😅


nanti pasti aku feedback satu satu...🤩🤩


like, komen, rate 5 dan vote selalu ya kak...🙏🙏😍😍😍

__ADS_1


luv u all😘😘🤗🤗


__ADS_2