
Ini adalah hari ke tiga Sofi tinggal di rumah Mirza.
Bu Een bersiap mau pergi nyamperin Sofi buat ngajakin dia jalan karena semalem Sofi mengeluh di telpon hidupnya sudah bagai upik abu di rumah Mirza.
“Din, cepet anterin saya ke rumah Mirza.” Titah Bu Een pada Udin yang baru datang hendak membuka toko.
Udin melihat pada majikannya yang sudah rapi.
“Ibu mau pergi kemana sama Mas Mirza?” Tanya Udin.
"Bukan sama Mirza, tapi sama Sofi.” Sahut Bu Een sambil membenahi rambutnya. “Udah, ayok cepetan. Nanti keburu siang.” Bu Een memberikan kunci mobilnya.
Mereka menuju rumah Mirza, Sofi tentu saja sudah menunggu dengan senyum terbaiknya untuk menyambut calon ibu mertuanya.
Ting tong
Bunyi bel terdengar dari pintu depan dan Sofi berjalan cepat untuk membukakan pintu karena ia tahu itu pasti Bu Een.
“Halo, Bu.” Sapa Sofi seraya memeluk dan mencium pipi calon ibu mertuanya.
Bu Een yang kadung mengulurkan tangan, tersenyum rada surprise juga disambut begitu sama Sofi.
“Masuk dulu, Bu.” Ajak Sofi seolah itu rumahnya.
Mirza yang mendengar suara Bu Een di depan memilih diam di ruang makan menikmati sarapannya.
Tap tap tap
Bu Een melangkahkan kaki masuk ke dalam dengan penuh percaya diri dan melihat Mirza duduk sendirian.
“Za, kamu mau anter Ibu sama Sofi nggak?” Bu Een duduk di samping Mirza.
“Nggak bisa, Bu. Aku ada acara sama Via.” Sahut Mirza tanpa melihat pada ibunya.
Bu Een memberi isyarat pada Sofi dengan matanya.
“Umm, aku sama ibu mau pergi ke dokter kandungan, Za.” Ucap Sofi yang berdiri di samping Bu Een.
“Terus, apa hubungannya sama aku?” Jawab Mirza cuek.
Sofi menarik kursi di depan Mirza, “apa kamu nggak pengen liat bayi kita?” Lirih Sofi.
Mirza menatap Sofi sinis tanpa kata, Sofi membalasnya dengan tatapan penuh harapan.
Via keluar dari kamar dengan clutch bag ditangannya. Langkahnya terhenti di tengah anak tangga karena menyaksikan pemandangan yang tak lazim di ruang makan. Sofi yang mengetahui keberadaan Via memanfaatkan momen itu dengan baik.
“Aku mau kamu nemenin aku. Anak kita pasti senang melihat kehadiran ayahnya.” Lanjut Sofi sambil meraih tangan Mirza.
Dengan cepat Mirza menarik tangannya. “Nggak usah mimpi kamu!“
“Mirza! Apa salahnya kamu peduli sama Sofi sedikit saja?” Bu Een menimpali dengan agak emosi.
“Jelas salah, Bu! Karena aku bukan ayahnya, aku bukan ayah dari bayi itu!” Tegas Mirza langsung berdiri membuat kursi yang didudukinya terdorong ke belakang menimbulkan bunyi yang menggema di ruangan mengejutkan Sofi dan Bu Een.
Mirza meninggalkan meja makan dan melihat Via yang berdiri di tangga dengan raut datar.
“Sayang, kamu udah siap?” Sapa Mirza menghampiri Via. “Ayo kita pergi sekarang.”
Via turun yang langsung disambut uluran tangan Mirza kemudian menggandengnya meninggalkan tatapan jengkel di mata Bu Een.
“Aku rasa semua ini sia-sia, Bu.” Suara Sofi terdengar pesimis. “Mirza sama sekali tak peduli denganku.”
Bu Een mengusap bahu Sofi. “Kamu pasti bisa merebut hatinya. Sabar, ya.” Hibur Bu Een.
Sofi tak menjawab, dia sengaja memperlihatkan ketidakberdayaannya untuk membuat Bu Een semakin simpatik padanya.
Tak lama kemudian mereka berdua keluar.
“Din, kasihin kunci mobilnya sama Sofi.” Perintah Bu Een pada Udin yang sedang menunggu di teras.
“Terus, saya pulangnya sama siapa, Bu?” Tanya Udin bingung sambil memberikan kunci pada Sofi.
__ADS_1
“Jalan kaki!” Ucap Bu Een cuek sambil masuk mobil.
Udin cuman bengong melihat mobil yang dikendarai Sofi berlalu meninggalkan halaman rumah Mirza. Batinnya nelangsa, tega bener majikannya nyuruh dia pulang jalan kaki. Rumah Mirza dengan rumah Bu Een kan beda kampung, mana Udin nggak bawa duit lagi. Udin berjalan lesu menyusuri jalanan kampung sambil berharap ada seseorang yang dikenalnya lewat untuk diminta tolong mengantarkannya pulang.
Mirza dan Via sudah jauh meninggalkan perkampungan, hari ini mereka akan menghadiri acara lamaran Yana dan Khusni. Tak ada kata diantara mereka, hanya ada suara Rian DMASIV yang mengalun merdu seolah Rian itu tau banget apa yang sedang dirasakan Via dan Mirza. Padahal kenal juga nggak, tapi begitulah adanya, lagu itu seperti sedang jadi theme song perjalan meraka menuju rumah Yana.
🎵Aku percaya kamu
Hidup ini tak kan berarti tapa kau di sisiku
Aku percaya kamu
Kau tak kan pernah berhenti tuk selalu mencintaiku🎵🎶
🎶Yang ku tahu kau slalu sejukkan hatiku
Yang ku tahu Kau slalu ada disaat ku membuthkan mu
Kau selalu ada disaat ku rapuh🎵
Dipenghujung lagu, Mirza meraih jemar Via dan menciumnya lembut. Via yang sedari tadi hanya menatap lurus ke jalanan, menoleh melihat suaminya.
“Kenapa?” Tanya Via datar.
“Nggak papa.”
Via melepaskan tangannya, melipatnya di depan dada. Mirza kembali mengemudi tanpa kata.
Drrrt .... Drrrrt ....
Ponsel Via di dalam clutg bag bergetar, ternyata Yana yang nelpon.
“Ya, halo Yan.” Sapa Via.
“Nyampe mana kamu, Oliv? Jangan bilang kamu sama Popeye nggak dateng ya? Acaranaya ini udah mau mulai lho setengah jam lagi.” Cerocos Yana dari seberang dengan nada khawatir.
“Di jalan mana?”
“Jalan …”
“Jalan-jalan ke pasar minggu, pulangnya beli pepaya.” Potong Mirza dengan suara yang senagaja agak dikeraskan agar Yana bisa mendengarnya.
“Eh, Popeye, kok malah bikin pantun sih!” Seru Yana kesal. “Cepetan kamu nyupirnya, dasar lelet!”
“Dengerin dulu, pantunnya belum selesai.” Sahut Mirza sambil tertawa, mau tak mau Via juga ikut senyum.
“Ogah!” Ketus Yana.
“Ya udah, aku sama Via nggak jadi dateng nih kalo nggak mau dengerin.” Ancam Mirza.
“Ih, maksa!”
“Jalan-jalan ke pasar minggu, pulangnya beli rambutan.” Ulang Mirza.
“Tadi katanya beli papaya, kok sakarang jadi beli rambutan?” Protes Yana.
“Terserah aku dong, kan aku yang beli?” Mirza ngeyel.
“Ih, ngeselin! Nggak penting banget pantunnya!”
“Mau dengerin sampe selesai apa nggak nih?”
Via mencubit paha suaminya karena masih terus ngerjain Yana. Mirza mengelus pahanya yang sakit sambil berusaha meneruskan pantunnya yang belum selesai.
“Oliv, tolong dong suami kamu diminumin obat dulu kalo mau diajak pergi. Awas aja ya, kalo sampe dia kumat di acara lamaranku, bye!”
Nut .. nut … nut …
“Yah, kok dimatiin?” Via heran karena Yana langsung memutuskan sambungan telponnya. “Kamu sih Mas, becandain dia mulu. Kasihan kan Yana, dia itu pasti lagi nervouse.” Via menyalahkan Mirza.
__ADS_1
“Palingan juga kalo udah dicium sama Khusni udah langsung ilang nevousenya.” Sahut Mirza asal.
“Ngaco!”
“Eh, aku juga punya pantun lho buat kamu, sayang.” Ucap Mirza melirik Via dengan rada genit.
“Makasih, nggak usah repot-repot.” Via manyun.
“Nggak repot kok, pantunnya pendek aja.”
“Udah deh, Mas. Kamu tuh fokus aja nyetir, ntar rumah Yana kelewatan lagi, malah repot kita.” Via ngomel karena Mirza mulai tengil.
“Nggak bakalan, tenang aja sayang. Masih di depan sana kan rumahnya?”
“Hemm…” Sahut Via agak malas.
Mirza melirik sekilas pada Via yang serius memperhatikan jalan.
“Sayang, sini deh. Aku bisikin pantunnya.” Mirza masih tetep ingin berpantun ria.
“Ya ampun, Mas. Kamu tuh ya usaha banget deh kayaknya.” Via gemas tak habis pikir dengan kelakuan suaminya.
“Makanya sini, deketan.” Mirza meraih lengan Via.
Via nurutin juga, ia mendekat memasang telinganya baik-baik.
Cup!
“I love you.” Ucap Mirza sambil tersenyum setelah mendaratkan satu kecupan di pipi kanan Via.
Tak ayal pipi Via merona merah juga sehabis dihadiahi kecupan dadakan begitu.
“Ciye, malu …” Goda Mirza.
Via melotot sebal, dicubitnya sekal lagi paha kiri suaminya sebal.
“Aww … Aww ..”
“Awas, Mas!”
SREEET!
CIIITT!
NGIIK!!
_________ lanjut nanti ya Kak ☺️
Halo, akak-akak semuanya. Mohon maaf banget ya, author baru nongol lagi dan belum sempat balas komen dan mampir ke karya akak-akak author lainnya.🙏🙏🙏🙏🙏
Jam segini baru sempet up, besok maraton mampir ke karya kalian.😍😍😍
Terima kasih udah setia support author. Your are the best, guys👍🏿👍🏿👍🏿🤩🤩🤩❤️❤️❤️🌹🌹🌹
Luv u all😘😘🤗🤗
__ADS_1