TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
272 #FINDING MIRZA (PART 3)


__ADS_3

Tidak ada yang lebih menyakitkan selain menderita dalam kesendirian. Penantian-penantian Bu Een selama ini terasa sia-sia kerena Mirza tak kunjung datang menemuinya, jangankan mengiriminya pesan untuk sekedar menanyakan kabar, singgah di mimpinya pun Mirza tak pernah. Tadinya Bu Een mengira hal itu tak akan lama, namun nyatanya sampai sekian purnama sang anak menghilang tak tau rimbanya.


Berjalan gontai keluar dari kamarnya, setiap ruangan di rumah besarnya pun seperti kehilangan ruhnya. Tak ia dapati lagi langkah tegap disertai senyuman yang selalu ia nantikan kehadirannya, terngiang-ngiang di telinganya semua yang pernah dikatakan sang anak tercinta. Mirza yang selalu mengingatkannya untuk tak lupa makan dan minum obat, juga yang selalu menanyakan ingin dibawakan makanan apa atau ingin dibuatkan minuman apa. Betapa selama ini Mirza telah menunjukkan baktinya sebagai seorang anak dengan sangat baik, hanya saja hati Bu Een terlalu serakah karena ingin memiliki Mirza seutuhnya tak mau menerima keberadaan wanita lain meski itu adalah istri dari anaknya sendiri.


Menuju dapur rumahnya, kembali teringat Mirza yang setiap pagi membuatkannya segelas teh melati. Satu teko sudah nangkring di atas kompor, biarlah ia membuat teh sendiri, begitu setiap hari kini.


Za, Ibu kangen. Kamu dimana? Ratap batin Bu Een nelangsa.


Satu ketukan pintu membuyarkan benak Bu Een, gegas ia menuju ruang tamu. Berharap yang datang adalah seseorang yang sudah dinantikannya sekian lama.


“Bu, saya mau beli beras. Kok tokonya belum buka, udah siang begini?” tanya Saodah salah seorang tetangga yang tinggal di ujung jalan sana.


Wajah Bu Een langsung kecewa, ternyata bukan Mirza yang datang. “Tokonya tutup,” sahutnya pendek.


“Kenapa tutup terus sih? Perasaan udah lama nggak pernah buka. Sekalinya buka nyari apa juga nggak ada, Ibu niat jualan nggak sih?” si Saodah rada nyolot.


“Terserah saya dong, mau tutup mau buka suka-suka saya!” balas Bu Een tak kalah nyolotnya.


“Ye, dasar toko nggak jelas!” Kesal Saodah seraya balik badan namun bukan Bu Een namanya kalo terima begitu saja diomelin orang lain, maka segera ia tarik lengan Saodah kasar.


“Bilang apa kamu barusan?” tantangnya seraya berkacak pinggang.


“Emang iya kan, tokonya sampean itu nggak jelas?” ulang Saodah.


“Muka kamu itu yang nggak jelas! Udah dibilangin toko saya tutup malah ngomel-ngomel!”


“Suka-suka saya juga dong, mau ngomel mau nggak!”


“Cari toko lain kan bisa, nggak usah pake ngomel?!” semprot Bu Een.


“Orang saya maunya ngomel disini?”


“Dasar kamu –“


“Eeeh .... ada apa ini? Kok ribut-ribut?” Romlah yang rumahnya bersebelahan dengan Bu Een muncul menengahi.


“Tanya sama dia!” tunjuk Bu Een sengit, “bikin ribut aja di rumah orang!”


“Lagian punya toko tutup terus, sekalinya buka yang saya mau beli nggak ada. Ngeselin banget kan, Romlah?” Saodah masih dengan kejengkelannya.


“Udah, nggak usah beli di tokonya lagi. Emang dia itu udah lama nggak belanja, lagian barang-barangnya juga yang ada palingan udah pada expired,” Romlah bisik-bisik pada Saodah bikin Bu Een emosi lagi.


“Kamu bilang apa, Romlah?” Bu Een melotot galak.


“Saya bilang barang dagangannya Bu Een udah pada expired, alias kadaluarsa!” sahut Romlah nggak ada takut-takutnya.


“Enak aja, jangan bikin berita bohong ya kamu!” Bu Een nggak terima.


“Ya kalo nggak percaya, cek aja sendiri.”


“Saya nggak punya waktu buat ngecek begituan, saya sibuk!” Bu Een ngeloyor hendak masuk rumah namun kalimat Romlah menghentikan langkahnya.


“Sok sibuk! Bilang aja nggak ada lagi orang yang mau disuruh-suruh. Makanya jadi orang jangan galak-galak, jadi pada kabur kan nggak ada yang mau kerja lagi sama Bu Een?” cerocos Romlah cuek.


Segera berbalik menatap Romlah sinis, “Hey, Romlah! Jangan asal kalo ngomong ya, saya –“


“Saya apa?” pangkas Romlah. “Saya bener kan? Bu Een itu emang galaknya nggak ada obat, jadi wajar aja kalo nggak ada lagi yang mau kerja disini?”


Saodah menyaksikan duel Romlah dan Bu Een, ia kini malah jadi penonton setia.


“Bu Een lupa ya, saya juga kan pernah kerja disini waktu ada Mbak Sofi?” Romlah semakin berani. “Selain saya juga ada Udin, Saprol, Ice Juice, Jumilah dan sapa lagi lah entah saya nggak tau, mungkin udah ada kali selusin Bu Een gonta ganti orang, dan semuanya kabur karena nggak tahan dengan sifat Bu Een yang galak, cerewet, sombong, pelit, kikir bin bakhil, matre dan –“


“Cukup, Romah!” Sergah Bu Een dengan wajah memerah.


“Tunggu, saya belum selesai,” Romlah cuek. “Satu lagi, dan sekarang Bu Een ditinggal pergi sama Mas Mirza. Semua itu karena sifat Bu Een.”


“Jangan sok tau kamu, Romlah!”


“Apa yang saya nggak tau dari Bu Een dan Mas Mirza? semuanya saya tau, justru Bu Een itu yang pura-pura nggak tau sama kesalahan Bu Een sendiri. Makanaya Mas Mirza kabur. Kalo anak sendiri aja ogah punya ibu kayak sampean, apalagi orang lain. Sampe kapan pun Mas Mirza nggak bakal balik kalo sifat Bu Een yang terhormat ini nggak berubah.” Selesai dengan cerocosannya yang sampe bikin ngos-ngosan, Romlah segera pergi diikuti Saodah.


Dada Bu Een turun naik, sesak rasanya dia mendengarkan rentetan kalimat Romlah. Berani benar si Romlah berkata-kata seperti itu, dasar lancang! Batin Bu Een geram.


Mirza nggak akan pulang? Nggak, nggak mungkin. Nggak boleh terjadi. Mirza harus pulang kembali padanya. Mirza tidak boleh lama-lama pergi darinya, dan juga tak boleh pulang ke tempat lain selain rumahnya! Dengan perasaan jengkel tak terima yang membuncah Bu Een segera masuk untuk mengambil kunci motor dan meyambar tasnya.


-


-

__ADS_1


-


Riri sibuk membantu Tia berkemas, semua barangnya kini telah siap. Via masuk menggendong baby Nala.


“Ya ampun Mbak, kayak nggak mau kesini lagi aja pake dibawa semua baju-bajunya,” Via memandangi koper dan tas gendut yang sudah teronggok di pojok kamar.


“Kan mumpung bawa mobil kamu, jadi nggak repot bolak balik,” sahut Tia meraih boneka beruang Ica yang hampir terlupakan di atas kasur.


“Aku jadi sedih ditinggal Mbak Tia, Mas Arya, dan Ica,” Via jadi mellow. “Rumah ini pasti sepi banget nggak ada Ica.


“Hem, kemarin siapa ya yang bilang katanya nggak papa ditinggal berdua aja sama Nala?” Celetuk Riri melirik Via dengan ekor matanya.


“Iya, tapi kan nggak harus samaan gini perginya?” Via berat melepas Tia, “lagian kamu sama ibu kenapa juga ikutan pulang sih, Ri?”


“Sorry Mbak, jadwal orderan catering sudah padat merayap,” tersenyum lebar.


“Udah ah, nggak usah sedih gitu,” Tia mengusap bahu Via. “Kan kalo weekend kita bisa nginep lagi disini?”


“Iya, lagian udah ada si Mbak Jum juga yang nemenin,” timpal Riri. “Untung Om Jaka punya solusi yang cerdas, hehe …”


“Udah siap, Bun?” Arya muncul diantara merka.


“Udah, Yah.”


“Ya udah, ayok! Ibu sama Ica udah nungguin tuh.” Menggeret koper keluar kamar diikuti yang lainnya.


“Emh, aku pulangnya pake motor Mbak Via aja ya, soalnya mau mampir dulu,” ucap Riri ketika mereka sampai di teras.


“Mampir kemana?” Bu Harni langsung nyamber.


“Mau ada perlu, Bu.”


“Kalo motor dibawa kamu, Via pake apa dong nanti kalo mau pergi-pergi?” Arya ikut heran dengan si adik ipar.


“Besok aku balikin kok, tenang aja.”


“Modus aja kamu! Bilang aja kamu besok pengen kesini lagi berduaan sama si Toni!” kesal Bu Harni langsung masuk mobil bersama Ica nggak mau berdebat lebih lama dengan Riri.


Riri cuman nyengir.


“Lho, udah pada mau pulang ya?” Jumilah muncul.


“Siap, Ibu komandan!”


“Jum, nitip Via sama Nala ya. Kalo ada apa-apa kabarin saya atau Ibu, atau Riri atau siapa aja.” Timpal Tia.


“Kabarin Om Jaka boleh nggak?” nyengir lebar seperti biasanya setiap kali menyebut nama Om Jaka.


“Haish! Dasar Mbak Jum!” Riri gemas dengan tingkah Jumilah.


Tak lama kemudian mereka pamit dan segera berlalu, Jumilah dadah dadah sampai mobil yang dikemudiakan Arya menghilang dari pandangan.


“Sini Mbak, Inces Nala biar Njum yang gendong,” pinta Jumilah.


“Nggak papa Jum, Nala mau aku kelonin, kayaknya dia ngantuk nih,” melihat wajah putri mungilnya yang memang nampak mengantuk,“ waktunya dia tidur siang.”


“Oh ya udah, nanti kalo perlu sama Njum tinggal panggil aja ya.”


Mereka pun masuk. Baru sampai kamar, Via mendapati ponselnya bergetar di atas nakas. Tak langsung ia raih karena melihat baby Nala yang mulai merengek minta ASI. Tak berapa lama kemudian, ponsel yang dalam mode silent itu kembali bergetar, masih Via abaikan karena tak ingin momen keintimannya dengan sang buah hati terpangkas oleh pesan masuk.


Setelah sang buah hati kenyang dan tertidur pulas dengan sendirinya, perlahan Via melepaskan diri untuk meraih ponselnya.


Danar


Gimana kabar Nala, Vi?


Kalo butuh bantuan jangan sungkan ya.


Menghela napas, itu yang dilakuakn Via setelah membaca dua pesan dari Danar. Cukup lama ia merenung. Sesuatu mungkin telah menggerakkan Danar untuk mengriminya pesan, dan Via tidak ingin semua itu berkelanjutan. Apa yang sudah terjadi memang salahnya, dan kini hanya dia sendirilah yang bisa menghentikannya.


Setelah menimbang sebentar, diketiknya juga pesan balasan untuk Danar.


Via


Bisa kita ketemu siang ini?


Sebuah kalimat tanya yang langsung diterima dengan cepat oleh Danar.

__ADS_1


Danar


Bisa, nanti aku mampir ke rumah.


Deg!


Terdiam sebentar, apakah pertanyaannya Danar anggap seperti sebuah undangan untuk datang ke rumah? Nggak, Danar nggak boleh lagi datang ke rumahnya. Semua persepsi keluarganya tentang dirinya dan Danar harus segera diakhiri, dan inilah saatnya.


Via


Aku ke kedai aja, sebentar lagi.


Danar


Ok


Menghela napas lega, Via keluar kamar untuk mencari Jumilah yang ternayta sedang santuy di teras belakang.


“Jum?”


Sedikit terkaget, “Eh, Mbak?” menaruh gelas teh yang dipegangnya. “Mbak Via perlu sesuatu?”


“Nggak, aku mau keluar . Nitip Nala ya, dia lagi tidur.”


“Oke, siap!” mengacungkan jempol kanannya. “Etapi, Mbak Via mau pergi naik apaan? Kan motor sama mobil nggak ada?”


“Oh iya ya,” berpikir sebetar, “pesan taxi online deh,” membuka salah satu aplikasi online di smart phonenya.


“Kalo Mbak Via mau belanja atau beli sesuatu, mending suruh Njum aja," usul Jumilah menawarkan diri.


“Nggak papa Jum, aku mau ketemu temen kok udah janjian.”


Jumilah maggut-manggut.


“Ya udah, aku siap-siap dulu ya. Nala kalo tidur siang lama kok, 2 jam baru bangun. Kamu lanjutin aja santainya, nggak papa.”


“Njum pindah aja ke ruang tengah, takut kalo Inces Nala bangun Njum nggak denger. Boleh kan Njum santai-santai sambil nonton TV, Mbak?” tanya Jumilah rada khawatir.


“Ya boleh lah. Mau nonton TV sambil guling-guling juga beleh, selagi kerjaan kamu udah beres mau ngapain aja bebas.”


Jumilah tersenyum senang, “maksih ya Mbak. Seneng deh Njum kalo majikannya baik kayak Mbak Via gini, nggak kayak mertuanya Mbak Via si Lampir itu.”


“Jum,” Via memperingatkan.


Jumilah hanya nyengir, Via segera kembali ke kamar untuk bersiap diikuti Jumilah yang menuju ruang tengah dengan segelas tehnya yang masih mengepul hangat.


Remote TV diraihnya, satu chanel favorit Jumilah tengah menayangkan acara drama kesayangan. Jumilah segera ngegelosor di atas karpet, sejenak ia turut larut dalam konflik drama yang tercipta. Padahal ceritanya ya begitu-begitu aja, endingnya hampir selalu sama, si antagonis biasanya mati ketabrak motor atau mobil, lalu si protagonist kembali bahagia. Tapi Jumilah kagak pernah bosen mantengin drama kesayangannya itu. keseriusan Jumilah terjeda ketika bel pintu tedengar nyaring.


Ting tung!


Berpikir sejenak, siapa yang datang?


Ting tung!


Bel pintu terdengar lagi membuat Jumilah segera bangkit.


“Wait! Njum coming …” sahut Jumilah ketika hampir mencapai pintu.


Ceklek,


Pintu ruang tamu dibuka. Kedua mata Jumilah terbelalak sempurna mendapati sosok yang berdiri di teras rumah Via. Bibirnya hampir tak bisa bekata-kata demi melihat mahluk yang nyata-nyata kini beraada tepat di hadapannya.


💕💕💕💕💕


Siapa ya yang dateng?


🤔🤔


selalu berikan like dan komentarnya ya, dear …


🥰🥰🥰


Mohon maaf up lamaaaaaa banget.


🙏🙏🙏


Peluk cium online buat kalian satu-satu yang masih setia di novel ini

__ADS_1


🤗🤗🤗😘😘😘


I love you all❤❤❤


__ADS_2