TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
291 #MASA PERJUANGAN


__ADS_3

Malam yang berat untuk Mirza, waktu menunjukkan hampir jam satu dini hari namun kedua matanya tak mampu terpejam. Helaan napas tak teratur dengan pikiran kusut menerawang solah memunuhi langit-langit kamar menjadikannya semakin sesak. Kegelisahan itu mengusik Via di sampingnya yang semula pulas dalam mimpi. Beberapa lama Via perhatikan raut sendu yang bersandar pada headboard ranjang mereka itu.


“Mas,” beringsut mendekat pada sang suami. “Mikirin ibu ya?”


Menoleh sedikit terkejut karena Via terjaga, “Hmm.”


Mirza memang telah memaparkan kondisi Bu Een pada Via sebagaimana yang ia ketahui dari Om Jaka. Beban pikiran itu tentunya tak hanya jadi milik Mirza, namun juga Via. Hanya saja beban Mirza bertambah-tambah karena rasa penyesalan yang mendalam.


Via coba membesarkan hati suaminya, “sabar ya, Mas. Kita doakan yang terbaik, kan dokter bilang ibu pasti bisa pulih lagi.”


Meraih Via ke dalam dadanya, “Iya, Sayang.” Mencium pujuk kepala sang istri, “makasih ya, kamu sumber kekuatan Mas.”


“Ya udah, sekarang Mas tidur ya. besok kita sama-sama jenguk ibu.” Ucap Via setelah beberapa saat.


“Iya, Sayang. Tapi Mas maunya tidur sambil melukin kamu,”


Tanpa menjawab, hanya mengeratkan pelukan dengan senyuman.


Tak berapa lama Mirza membenahi posisinya “Tapi pegel juga ya lama-lama kalo tidur sambil duduk kayak gini, bisa-bisa pinggang Mas encok,”.


“Katanya pingin sambil peluk?” mendongak menatap wajah sang suami.


“Ya tapi nggak kayak gini juga kali tidurnya,” merosotkan tubuhnya membawa Via masih ke dalam rengkuhannya.


Dalam nafas hangat dan detak jantung yang selaras, keduanya mulai dibuai alam mimpi hingga beberapa jam kemudian adzan subuh yang membangunkan mereka.


-


-


-


-


Kesibukan sudah nampak di dapur rumah Bu Harni. Riri dibantu tiga orang tetangga yang kini menjadi karyawan cateringnya hampir menyelesaikan semua menu masakan.


“Ri, ibu mau ke rumah Tia dulu ya,” pamit Bu Harni yang udah dandan rapi.


“Mau ngapain Bu pagi-pagi gini?”


“Justru karena masih pagi mereka belum ke toko, ibu mau minta Arya anterin ibu ke rumah Via.”


“Ya ampun, ibu kenapa nggak pake ojek aja sih? Mas Arya juga repot kali!”


“Sok tau kamu ah, orang nanya juga belum.”


“Ya kalo mau nanya tinggal telpon aja, ngapain pake datengin ke rumahnya?” Riri kesel juga lama-lama.


“Kalo ibu dateng kesana si Arya pasti gak enak mau bilang gak bisa.”


“Ck, ibu ini senengnya kok ngerepotin orang sih!” berdecak sabal. “Nih, telpon aja!” menyodorkan ponselnya dari dalam saku.


“Ibu telpon sendiri!” masuk lagi ke kamarnya untuk mengambil ponselnya sendiri.


Riri memandangnya acuh kemudian kembali pada aktivitasnya menimbang tepung untuk membuat beberapa kue pelengkap. Selang tak berapa lama Bu Harni keluar kamar.


“Arya udah berangkat katanya disuruh Bu Elin belanja keperluan kue buat orderan seminar di hotel,” berujar kesal seraya menghempaskan diri di kursi dapur.


“Nah kan, untung ibu belum ke sana.”


“Si Arya juga sih, harusnya kan bilang dulu sama ibu kalo mau ke kota, kan bisa berangkat barengan,” menggerutu nggak jelas.


“Ya udah, ibu tinggal jalan aja ke pos ojek di depan. Pasti udah ada yang mangkal jam segini.”


“Hem,”


“Makanya Bu si Riri cepet nikahin sama Toni, biar ibu kalo kemana-mana enak,” celetuk si tetangga yang sedari tadi cuman nyimak aja.


“Benur tuh, Bu. ada yang nganterin kalo mau pergi-pergi. Iya kan?” Timpal yang lainnya.


“Iya, kayak mantu saya. Nurut banget orangnya, disuruh apa-apa juga mau.”


“Enak ya punya menantu yang serumah, jadi ada yang diandelin?”


“Iya, betul.”


“Eh, ibu-ibu ini pada ngomong apaan sih? Orang si Toni udah minggat, gimana ceritanya mau dinikahin sama Riri?” Bu Harni nyolot.


“Ya itu gara-gara Bu Harni juga sih, terlalu pilih-pilih jadi orang!” sahut si tetangga yang langsung disetujui yang lainnya.


“Udah gitu tiap hari dicerewetin terus sama Bu Harni, ya kabur lah lama-lama.”


“Iya, nyesel kan tuh sekarang?”


“Tau gitu si Toni mending saya jadiin calon mantu saya aja!”


“Pada lemes banget ya mulutnya kalian? Masih pada mau kerja disini kan?” menatap ketus satu-satu si tetangga yang langsung pada diem itu. “Ri, ibu pergi sekarang!” Pamitnya pada Riri dengan nada kesal.


-


-


-


Wangi aroma nasi goreng yang dihidangkan Jumilah membuat Via gegas menuju ruang makan disusul Mirza. Mereka sudah rapi, selepas sarapan nanti langsung menjenguk Bu Een.


“Udah mateng aja, Jum?” sapa Via pada Jumilah yang sedang menuang teh.


“Udah dong, Mbak. Kan Njum tau Mas Mirza sama Mbak Via pasti mau pada pergi kan hari ini?”


Saling pandang dengan suaminya, “kok tau sih dia, Mas?”


“Punya indera ke enam kali si Jumilah,” duduk mengambil piring yang sudah disiapkan Jumilah.


Jumilah cuman nyengir, “Ya udah, met sarapan ya Mas, Mbak. Njum mau mandi dulu.”


“Makasih ya, Jum,” ucap Via.


“Siip,” mengacungkan jempol kanannya. “Oya, Inces aman kan, Mbak?”


“Aman, dia tidur lagi abis minum susu. Udah mandi juga kok.”


Jumilah segera menuju kamarnya. Via dan Mirza menikmati sarapannya hingga kemudian ponsel Via bergetar, satu pesan masuk.


“Bang Hotman,” lirih Via membuka pesan dan lekas membacanya.


“Pengacaranya ibu?”


Mengangguk, “dia minta ketemuan siang ini. Mas Mirza bisa kan?”


“Atur aja waktunya, Sayang.”


Via segera mengetik pesan balasan, “jam satu siang, gimana?”


“Boleh, sekalian sambil makan siang aja.”


“Ok.”


Mereka pun melanjutkan sarapan, masakan Jumilah cukup endol. Emang sih jobdes si Jumilah sebenernya cuman bantuin momong Nala, tapi dia juga gak sungkan nyambi masak dan beberes rumah. Itu semua Jumilah lakuin atas inisiatif diri sendiri bukan kerena disuruh Via. Dia sadar diri aja kalo jadi tukang momong anak masih umur 5 bulanan gitu kan banyak waktu nganggurnya, selain itu Nala juga anaknya anteng. Jadi Jumilah gak pilih-pilih kerjaan, semuanya dia sikat. Via juga gak pelit bikin Jumilah betah. Ya meski kadang Jumilah suka merajuk nggak jelas, tapi masih bisa terkendali. Maklumlah namanya juga jomblo akut udah kebelet pingin nikah tapi belom punya calon, hehee…


Ting tung!


Satu kali bunyi bel dari depan. Belum sempat Via bangun, Jumilah sudah keluar kamar.


“Biar Njum aja yang buka,” ucapnya masih mengenakan handuk membungkus kepalanya.


Ting tung!


“Iya, sebentar… !” berjalan cepat ke ruang tamu.


“Cepet banget dia mandinya? “ heran Via.


“Mandi kepalanya aja kali,” Mirza nyengir.


Via merapikan piring bekas sarapan.


“Wah, ternyata madam?” seru Jumilah dari ruang tamu bikin Via dan Mirza saling pandang, siapa yang dipanggil Jumilah dengan sebutan madam?


“Mbak Via, Mas Mirza, ada Madam nih!” seruan jumilah kali kedua bikin Via gegas menghampiri diikuti Mirza.

__ADS_1


“Ibu?” Via surprise kedatangan Bu Harni.


“Mari masuk madam, jangan berdiri aja.” Ajak Jumilah.


“Kamu ini dari tadi madam madam terus. Emangnya saya pemadam kebakaran?” Bu Harni risih juga sama si Jumilah.


“Madam itu panggilan kehormatan, artinya nyonya, Bu.” Sahut Jumilah menjelaskan.


“Cukup ibu aja, gak usah madam madam. Gatel kuping saya dengernya!”


“Oke. Siap, ibu madam.”


sahut Jumilah lantas segera masuk untuk merapikan meja makan.


Bu Harni udah mau ngomel, untung keburu diajak Via duduk. Si Jumilah beneran bikin Bu Harni gemes.


“Kalian kok udah pada rapi, mau pergi ya?”


Tanya Bu Harni usai lepas kangen dengan anak dan menantunya.


“Iya, kami mau jenguk ibu, sahut Mirza.


“Kamu juga ikut, Vi?” menatap Via di sampingnya.


“Iya, aku juga mau tau keadaan ibunya Mas Mirza, Bu.”


Memasang tampang masam, “ada ibu dateng kok malah ditinggal pergi sih? kan ibu kangen sama kamu, sama Nala.”


“Nala nggak diajak kok, Bu.”


“Kamu perginya pasti lama, terus kalo Nala nangis gimana?” mulai mencari-cari alasan agar Via tak jadi pergi.


“Kan ada Jumilah, Bu.”


“Ya tetep aja kalo bukan sama ibunya pasti nggak akan kerasan lama-lama ditinggal.”


"Nala udah biasa kok ditinggal sama Jumilah. Lepas makan siang aku juga udah pulang kok."


“Tuh kan, lama? Jangan kebiasaan sering ninggalin anak sama pengasuh, Vi. ntar anak kamu gedenya gak nurut sama kamu, malah nurutnya sama pengasuh. Kayak di film-film itu lho.”


Mirza paham kemana arah tujuan mertuanya, ia pun tak ingin berlama-lama mendengarkan ibu dan anak itu bantah-bantahan. “Ya udah, kamu di rumah aja, Sayang. Nggak enak juga kan, masa ada ibu udah dateng jauh-jauh, pagi-pagi gini kamu tinggalin.” Mirza menengahi.


“Tapi, Mas –“


“Bener tuh kata suami kamu!” potong Bu Harni semangat.


“Terus ketemuan sama Bang Hotman gimana?”


“Mas ketemu sendiri gak papa kok, kamu kasih nomernya aja ya. biar Mas hubungi dia nanti.”


Mengangguk pasrah, “Ya udah deh iya.”


Bu Harni lega, usahanya menghalangi kepergian Via berhasil. Ia duduk menyimpan senyumnya dalam hati sementara Via mengantar Mirza sampai ke depan dengan wajah muram.


“Lagian kemarin ibu gak bilang kalo hari ini mau kesini,” gerutu Via sedikit kesal.


“Ya namanya orang kangen?” menatap lurus sang istri, lantas menjawil dagu Via dengan senyum jahil. “Udah ah, jangan cemberut gitu, besok kan masih bisa jengukin ibu.”


Dengan berat hati terpaksa Via melepas kepergian sang suami, Bu Harni melongok ke depan. Mobil sang menantu sudah keluar dari halaman.


“Vi, sini,” panggil Bu Harni.


“Ibu mau aku buatin minum apa? Panas atau dingin?” tanya Via mendekat.


“Minumnya nanti aja” menarik lengan Via segera duduk di sampingnya. “Ibu mau bicara penting.”


Mengernyit heran demi melihat raut sang ibu yang memang sangat serius. “Soal apa, Bu?”


“Kamu nggak perlu jengukin mertuamu itu. ngapain? Biarin aja kan ada Mirza. tugas kamu urus Nala di rumah.”


“Kok Ibu ngomongnya gitu sih? Aku kan mau tau perkembangan ibunya Mas Mirza, dan udah kewajiban aku sebagai menantu buat nunjukin perhatianku. Lagian juga mas Mirza butuh support dari aku.”


“Kamu lupa ya, gimama ibu mertuamu itu memperlakukan kamu selama ini?” menatap tajam.


Terdiam, Via paham maksud Bu Harni.


“Udah bagus dia tinggal di rumah sakit jiwa. Nggak usah kamu ikut repot ngurusin mertuamu itu. Biarin aja dia tinggal di sana selamanya. Karena itu memang yang paling pantas buat dia!”


“Dengan begitu rumah tangga kamu sama Mirza aman, nggak ada yang rusuh lagi, nggak ada penganggu lagi.”


“Ibu harus tau, segala hal yag membuat Mas Mirza sedih, itu pun akan membuatku sedih Bu.”


“Halah, kamu terlalu baik makanya disakitin terus!” kesal Bu Harni. “Itu tadi ya, kalo suamimu nggak buru-buru mau pergi jengukin ibunya yang gila itu, ibu mau ceramahin dia sampe maghrib!”


“Bu, tolong jangan sebut ibunya mas Mirza dengan sebutan itu,” Via mengingatkan.


“Biarin aja, emang kenyataannya si Endang itu gila kok! Ge - i - el - a, gila!” Bu Harni ngeyel.


“Bu, aku mohon –“ meraih tangan sang Bunda. “Jangan bikin hati Mas Mirza tambah sedih mendengarnya.”


Melengos acuh, “lama-lama dia juga akan terbiasa dan bisa nerima takdir ibunya yang gila itu!”


Via lebih memilih untuk mengalah, ia tau ibunya seperti itu karena teramat sakit dengan semua perlakun besannya selama ini. Tapi bukan berarti perkataan kasarnya itu dibenarkan, sebab akan sangat membuat Mirza terluka.


“Eh, mau kemana? Ibu belum selesai.” Cegah Bu Harni yang melihat Via bangkit.


“Ibu mau ngomong apa lagi?” coba bersabar.


“Ya pokoknya itu tadi, ingat baik-baik! Jangan sampe kamu ikut repot ngurusin mertuamu yang gila itu!” Ulang Bu Harni penuh penekanan.


“Rumah tanggaku baru aja berangsur membaik, Bu." kembali duduk, "tolong ibu jangan bersikap kayak ibunya Mas Mirza, terlalu ikut campur urusan rumah tangga kami,” sorot mata Via penuh permohonan.


“Ini semua juga demi kamu, Via!” Suara Bu Harni sedikit meninggi, membuat Jumilah yang berada di ruang sebelah sampe mengendap-endap kepo, ada apakah gerangan kok kayaknya ada yang seru di ruang tamu?


“Bila perlu, kita doain ibu mertua kamu itu mati sekalian!”


“Bu –“


“Itu jauh lebih baik, sebab kalo sampe dia sembuh pasti bakal bikin rusuh lagi.” Sambung Bu Harni tak peduli dengan air mata yang sudah menggenang di kedua pelupuk netra bening Via.


“Widih, ibu madam serem juga ya, doain mak lampir mati?” Jumilah menggerutu sendiri demi mendengar perkataan Bu Harni. “Tapi kayaknya bener juga yang dibilang ibu madam, nenek lampir emang biyang rusuh. Jadi Njum aminin nggak nih doanya ibu madam ya?” menarik diri dari pengintaiannya untuk berpikir sejenak.


“Apa perlu ibu sebutin satu per satu kejahatan ibu mertuamu itu biar kamu sadar betapa durjananya dia selama ini sama kamu padahal kamu selalu baik sama dia?” sindir Bu Harni.


“Nggak perlu Bu –“


“Barangkali kamu lupa,” memotong ucapan Via. “Dari semua penghinaan yang dia lakukan, yang paling bikin ibu sakit adalah ketika dia bawa perempuan lain masuk ke dalam rumah tangga kamu sebagai pihak ke tiga sengaja untuk membuat kamu dan Mirza bercerai! Masa sih kamu gak sakit hati dengan semua itu? padahal suami kamu juga terang-terangan ngaku kalau dia udah tidur sama wanita itu!”


"Bu, cukup,” tak mampu lagi menahan laju lelehan butiran hangat yang membasahi pipinya.


Spontan Jumilah menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri, terkaget dengan penuturan Bu Harni. ternyata Mas Mirza pernah selingkuh? Batin Jumilah tak percaya


“Parahnya lagi, perempuan laknat itu hamil ngaku anak suami kamu dan mertuamu itu malah menyambutnya suka cita. Bahkan ketika dia sudah tau anak dalam kandungan si perrempuan bejad itu bukan anak Mirza, dia gak peduli. Dia tetap berusah membuatmu bercerai dari Mirza!”


“Aku bilang cukup, Bu. tolong jangan diteruskan,” semakin deras lelehan air mata Via. “Ibu gak perlu mengorek luka lama, semuanya udah aku kubur dalam-dalam. Aku dan Mas Mirza sudah sepakat melupakan itu dan menjadikannya pelajaran berharga dalam rumah tangga kami.”


“hatimu memang terlalu baik, Mbak,” Jumilah jadi mellow, ia melihat wajah Via yang basah dari balik persembunyiannyan di balik dindng pemisah ruang tamu dan ruang tengah. “Kalo gitu si nenek lampir mending disuntik mati aja kali ya?”


-


-


-


Istana semegah itu terasa sepi bagi Tuan Alatas. Ia merasa ada yang hilang dari setiap sudutnya disana. Perlahan ia hirup udara untuk memenuhi rongga paru-parunya. Dari balkon kamarnya terhampar view taman elok penuh tanaman dan aneka warna bunga.


“Permisi, Tuan,” suara Gerald sedikit mengejutkannya. “Saya hanya mengingatkan, siang nanti ada rapat dengan dewan direksi,” sambung Gerald.


“Tolong jadwalkan ulang, aku sedang tak ingin diganggu.” Sahut Tuan Alatas tanpa menoleh.


“Maaf, Tuan. Tapi ini sudah yang kedua kalinya Anda membatalkannya.”


“Apa ada yang keberatan?” menoleh dengan wajah dingin, “Katakan pada mereka untuk membuat surat pengunduran diri.” Melangkah melewati Gerald keluar dari kamar.


Gerald segera mengekor, dirogohnya ponsel dari saku jasnya. Gegas is menghubungi sekertaris pribadi sang Tuan Besar untuk mengabarkan berita tekini.


“Tuan Gerald, permisi sebentar,” Nara datang dengan tergesa.


Gerarld mengangkat tmtangan kanannya meminta Nara menunggu ia menyelesaikan percakapan telponnya. “Oke, terima kasih. Nanti saya kabari lagi.” Gerald mengakhiri sambungan telponnya. “Ada apa, Nara?”

__ADS_1


“Di bawah ada Tuan muda dan nyonya –“


“Kenapa kamu tidak katakan tadi pada Tuan besar? Kamu lihat dia jalan berpapasan denganmu kan?” kesal Gerald.


“Itu –aku, ng –gak berani,” Nara menunduk. “Tuan Besar kelihatan sedang marah.”


Gerald berdecak kesal lantas melangkah lebar menyusul sang Tuan Besar yang sepertinya menju ruang kerjanya.


Setelah mengetuk pintu, Gerald masuk. “Tuan –“


“Ada apa lagi?” meninggikan suaranya, “bukankah aku sudah bilang, aku sedang tak ingin diganggu.”


Sontak mengurungkan niatnya, tak berani mengatakan maksud dan tujuannya. Gegas dia pamit keluar dan menemui Ramzi.


“Gerald, papa ada kan?” segera bertanya tak sabaran.


Mengangguk canggung, “tapi Tuan Besar sedang tak ingin diganggu.”


“Dimana papa sekarang?”


“Tuan muda tidak akan menemuinya kan?” malah balik bertanya dengan nada khawatir.


“Apa papa ada di ruangannya atau di kamarnya?”


“Tuan, tolong –“


“Kamu jangan ikut campur ya, aku sedang berusaha memperbaiki hubunganku dengan papa.” Sedikit memberikan ancaman. “Sofia, ayok!” mengajak sofi seraya meraih stoller Arfan.


“Ada tamu tak diundang rupanya,” wajah datar nan dingin sudah berdiri di undakan tangga paling atas sebelum Ramzi dan Sofi jauh melangkah.


“Papa, mulai hari ini aku dan sofi akan tinggal lagi disini,” ucap Ramzi penuh keseriusan.


“Gerald, panggil security untuk menyeret mereka keluar,” titah Tuan Alatas membuat Sofi seketika ciut nyali, namun tidak dengan Ramzi.


Melangkah tenang menaiki tangga menuju sang ayah yang berdiri dengan memasang tampang kejam dan bengis. “Seberapa keras usaha papa untuk mengusirku, sekeras itu pula aku akan bertahan di rumah ini. Bahkan aku tidak akan peduli jika papa tak menganggapku ada sekalipun, aku akan tetap tinggal disini dengan istri dan anakku.”


Perang dingin lewat sorot mata antara kedua ayah dan anak itu tak dapat dielakkan. Tuan Alatas tau, sebagian sisi pribadi Ramzi yang lembut adalah memiliki sifat keras hati yang diwaris darinya.


“Gerald, suruh pelayan untuk membawa barang-barangku ke kamar,” titah Ramzi pada Gerald yang hanya mampu mematung.


Sempat ragu dengan meminta persetujuan sang Taun besar dengan isyarat matanya, namun karena tak mendapat respon dia pun tak melakukan perintah yang diminta Ramzi.


“Baiklah, aku akan membawanya sendiri,” kembali menuruni tangga.


Sofi terdiam di samping stoller Arfan. Ia tak tau harus berbuat apa sementara tatapan tajam dari sang ayah mertua seolah mengulitinya hngga ke tulang- tulang.


-


-


-


Tak ada pergerakan yang berarti dari Bu Een yang sudah berjam-jam duduk termangu di bangku taman rumah sakit yang sejuk dan rindang. Pandangan matanya kosong, mulutnya terkunci rapat. Sejak Mirza datang pagi tadi, ibunya sudah berada di sana bersama seorang suster yang sedang mengajaknya komunikasi. Suster itu baru pergi setelah Mirza datang. Beberapa cerita masa kecilnya telah Mirza kisahkan, barangkali itu mampu membuat sang bunda tertarik atau hanya srkedar melirik sedikit saja. Namun nyatanya tidak.


“Mas Mirza,” sapa dokter Wahyu menghampiri.


“Dokter,” berdiri menyambut dengan senyuman.


“Sudah tengah hari, waktunya Bu Endang makan dan minum obat.”


Mengangguk kemudian membantu Bu Een berdiri, tak ada penolakan. Bu Een memang menurut, hanya saja reaksi mata dan mulutnya masih sama, kosong dan diam.


Rumah sakit itu memang sepi tak seperti rumah sakit umum tempat banyak orang sakit mencari kesembuhan. hanya ada beberapa pasien yang sedang menjalani terapi, kesemuanya tentu mengidap gangguan mental.


Mirza telah sampai di ruangan Bu Een, seorang suster telah menunggunya di sana. Suster yang tadi pagi, ia segera menyambut membawa Bu Een duduk.


“Biar saya yang menyuapi ibu, Sus.” Pinta Mirza.


Suster Ani, nama susuter itu. ia menyerahkan baki berisi menu makan siang. Baru saja Mirza hendak mendudukkan diri di samping sang bunda, Bu Een tiba-tiba mumukul baki makan siangnya.


BRAK! PRANG!


Baki jatuh berserak di atas lantai, piring dan wadah sayur pecah berkeping.


“Astaghfirullah, ibu!” Mirza kaget.


Suster Ani keluar untung memanggil OB.


“Siapa yang nyuruh kamu, hah? Siapa??” Bu Een melolong berdiri berkacak pinggang menatap tajam ke depan.


Dokter Wahyu segera mendekat, “Bu Endang, tenang ya.” meraih kedua bahu Bu Een lembut.


“Semuanya sdah bersekongkol membuat saya miskin! Kamu, kamu, kamu juga!” terus menunjuk-nunjuk ke depan seolah sedang berbiacar dengan beberapa orang, padahal tak ada siapapun. Mirza masih terpaku di tempatnya berdiri, ia sedang berusaha mengtasi shocknya.


“Ibu, lihat saya,” dokter Wahyu menghadapkan badan Bu Een untuk mengarah padanya.


“Suruh dia pergi! Suruh dia pergi! Suruh mereka semua pergi dari sini!” Bu Een meronta, namun dokter Wahyu tetepa tenang.


“Bu Endang, lihat sini. Ini ada Mirza anak ibu,”


Mirza sekita pulih dari keterkejutannya, mengusap wajahnya perlahan. “Bu –“ berusaha meraih tangan sang bunda, namun Bu Een menepisnya kasar.


“Nggak usah pura-pura baik sama saya ya! kamu juga pasti komplotan mereka!” kembali menunjuk ruang kosong, “mereka itu jahat! Mereka yang sudah membuatku miskin! Mereka yang sudah membuatku kehilangan segalanya!”


“Bu, ini aku Mirza,” lirih Mirza pilu.


Dokter Wahyu membawa Bu Een menuju ranjangnya perlahan. “Suster, tolong ambilkan makan siang lagi.” pinta dokter Wahyu pada suster Ani yang masuk bersama OB yang segera membersihksn lantai bekas tumpahan makanan.


“Baik, Dok.” Jawab suster Ani.


“Kamu jangan coba-coba membohongi saya, ya.” menatap tajam penuh kecurigaan pada dokter Wahyu.


“Tidak ada yang mau membohongi ibu,” sabar sekali dokter Wahyu menghadapi Bu Een. “Saya disini hanya mau menemani Bu Endang makan. Bu Endang pasti lapar kan?”


“Saya tidak lapar! Saya tidak sudi makan makanan dari kamu!” ketus Bu Een galak.


“Baik, tidak apa-apa kalo Bu Endang tidak mau makan. Bagaimana kalau minum jus?” dokter Wahyu tersenyum memberikan penawaran.


“Memangnya siapa yang bilang saya mau minum jus?” sarkas Bu Een.


“Tadi pagi Bu Endang bilang paling suka sama buah melon.”


Menelengkan kepalanya, seperti mengingat sesuatu.


“Saya akan minta teman saya membawakan jus melon, pasti segar kan minum jus melon siang panas begini?” berdiri menghampiri Mirza yang hanya terdiam kemudian mengajaknya keluar dengan isyrarat matanya.


“Dokter, apa nggak papa ibu saya ditinggal sendirian?” bertanya khawatir setelah keluar dari ruangan.


“Nggak papa, kita perlu membuatnya untuk merasa nyaman dulu.”


Mencoba paham dengan ucapan dokter Wahyu.


“Suster Ani, maaf.” Menghentikan langkah suster Ani. “menunya diganti dengan jus melon saja ya.”


“Baik, Dok.” Memutar langkahnya untuk mengambilkan sesuai permintaan dokter Wahyu.


Dokter Wahyu mengajak Mirza duduk di salah satu bangku taman. “Pada masa sekarang, kita jangan terlalu memaksakan kehendak pada Bu Endang. Tak apa jika Bu Endang belum bisa mengingat Mas Mirza. namun kita juga jangan menyetujui apa yang berkembang dalam pikirannya. Katakan kalau semua yang dia pikirkan itu tidak benar, tapi dengan cara perlahan, sehalus mungkin. Kita tak perlu terlalu keras membantahnya.”


Mirza mengangguk, barangkali ia terlalu cepat berharap agar ibunya pulih. Namun nyatanya semua itu jauh dari perhitungan. Dalam keadaan seperti sekarang pun Bu Een bahkan masih tak menanggalkan sifat-sifat aslinya. Penuh kecurigaan pada orang lain.


“Kuncinya adalah sabar dan percaya, Mas.” Menepuk pundak Mirza memberin keyakinan. “Bu Endang Insya Allah sembuh. Mas Mirza jangan lelah untuk memberikan sugesti positif perlahan-lahan. Ajak juga keluarga yang lain, tapi juga tak perlu tegang jika Bu Endang menunjukkan sikap berontak seperti tadi. Raih bahunya perlahan dan tenangkan dia, jangan memaksa karena itu akan membuatnya semakin berontak.”


“Terima kasih, Dok. Saya akan luangkan waktu setiap hari untuk menemani ibu saya.”


Mengangguk tersenyum.


Drrrt Drttt


Ponsel dalam saku Mirza bergetar, pesan masuk dari Hotman Siangbolong yang mengabarkan dirinya sudah berada di restoran tempat mereka sepakat untuk bertemu. Dengan berat hati akhirnya Mirza harus pergi dan pamit pada dokter Wahyu.


💕💕💕💕💕


partnya kepanjangan ya? hehee... maafin othor ya ini harusnya 2 bab tapi dijadikan satu 😁


bedewey ada yang mau ikut aminin doanya Bu Harni nggak nih 🤭🤭


Makasih selalu support othor


ya, kalian emang the best 🙏🙏🙏🙏🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2