
Hari yang penat untuk Tuan Alatas setelah membaca laporan neraca salah satu perusahaannya, harga sahamnya terus merosot sejak sepekan ini.
"Tuan, Anda memanggil saya?" Gerald masuk tanpa mengetuk pintu.
Netra tajamnya membola, "sedang apa kau? Kenapa anak itu bersamamu?" geram melihat Arfan dalam gendongan Gerald.
"Emh, nyonya... maksud saya, ibunya anak ini sedang keluar, lalu menitipkannya pada saya."
"Sejak kapan kau jadi pengasuh bayi?" Menggerutukkan rahangnya menahan jengkel. "Gerald, apa kau dibayar untuk ini? Jawab!"
Gerald sempat terlonjak kaget mendengar teriakan tuannya, namun tidak dengan Arfan. Dia malah tertawa lebar memandangi lelaki tua di depannya yang wajahnya merah padam itu seolah dia baru saja mendapatkan hiburan yang menyenangkan.
Gerald ikut tersenyum, "lihatlah Tuan, dia sepertinya menyukai Anda."
"Itu bukan jawaban dari pertanyaanku!" menggeram tertahan.
"Oh, iya... tadi dia bersama Nara, tapi terus rewel dan tak mau dengan pelayan lain, dia baru diam setelah melihatku."
Menghirup oksigen sejenak menata emosinya yang hampir meledak. "Kalau begitu letakkan dia dimana saja asalkan enyah dari hadapanku."
"Tapi nyo, ehh .. ibunya anak ini belum kembali, Tuan."
"Itu bukan urusanku. Aku punya tugas yang lebih penting untukmu!"
Mengangguk paham meski sempat ragu sejenak. Gerald segera keluar ruangan. Tuan Alatas menyandarkan punggungnya di kursi empuk singgasananya. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Tak berapa lama Gerald kembali.
“Ada tugas apa untuk saya, Tuan?” berdiri di dekat sang Tuan siap menerima tugas.
“Perintahkan orang-orangmu untuk mencari tahu siapa dalang dibalik turunnya harga saham seminggun ini.”
Mencondongkan sedikit badannya, “Maksud Tuan –“
“Aku sudah mengirim datanya ke email mu.”
Segera mengambil gadgetnya, mencermati dengan seksama yang dimaksud sang Tuan. “Benar, harga saham PT ALS Corporindo Tbk terus merosot, Tuan.”
“Itu tugasmu, siang ini kau harus dapatkan penyebabnya.”
Tak langsung menjawab, Gerald mengamati setiap detail informasi yang terpampang di layar datar yang di pegangnya. Gerald itu smart, meski sebutanya pelayan pribadi tapi kemampuannya cukup bisa diandalkan. Tak sia-sia Tuan Alatas mengangkat derajatnya dari jalanan dan menyekolahkannya hingga lulus menjadi sarjana ekonomi.
“Aku curiga ada permainan dibalik semua itu,” cetus Tuan Alatas.
“Maksud Anda hacker?” sedikit ragu, “kalau aku lebih percaya ini terjadi karena manipulasi pasar, Tuan. Sejumah investor bermodal besar mungkin memanfaatkan kondisi tertentu demi tujuan mereka.”
Menggeleng resah, “Aku tidak mau kau menebak-nebak, lekas perintahkan orang-orangmu untuk mencari tahu penyebabnya!”
“Baik, Tuan,” pamit keluar.
Menyusuri lorong seraya memutar otak. Sebenarnya Gerald bisa saja langsung menghubungi orang-orang itu. Gerald punya akses untuk bekerja sama dari mulai preman jalanan sampai kepada para mafia berdasi. Tapi entahlah dia sepetinya masih ragu untuk segera mengambil tindakan padahal Tuannya sudah sangat gusar. PT ALS Corporindo Tbk memang hanya salah satu perusahan yang dimiliki oleh Tuan Alatas, tapi jika harga sahamnya terus merosot tentu saja itu akan membuat sang Tuan kalang kabut dan memepengaruhi kesehatannya. Perusahaan tersebut bergerak dalam bidang distribusi produk minyak bumi kepada pelanggan industri, distribusi dan perdagangan produk kimia seperti soda api, natrium sulfat, resin PVC dan soda ash yang digunakan oleh berbagai industri di Indonesia sesuai dengan perjanjian distribusi dengan produsen asing dan lokal, penyewaan gudang, kendaraan transportasi, tank dan layanan logistik lainnya.
“Gerald, dimana Arfan?” Sofi tiba-tiba muncul agak membuatnya terkejut.
“Oh, aku –“ melihat sekeliling. “Aku taroh dimana tadi ya?”
Mendelik tak percaya, “kau pikir anakku itu barang? Kau bisa menaruhnya sembarangan?”
“Maaf, bukan begitu. Tadi –aku, aku buru-buru karena Tuan Besar memanggilku jadi aku serahkan pada pelayan, siapa dia ya? aduh, aku mulai pikun, saking banyaknya pelayan di tempat ini.” Coba mengingat sebentar.
“Tapi Nara bilang Arfan bersamamu.”
“Iya, tadinya begitu. Tapi –“
“Sudahlah, cepat cari Arfan sekarang!” meninggalkan Gerald dengan langkah cepat. “Baru aku tinggal sebentar saja sudah begini,” Sofi ngedumel. “Ada begitu banyak orang tapi tidak ada yang tau, payah!”
Sofi dan Gerad hendak menuruni tangga mencari Arfan di lantai bawah ketika seorang pelayan muncul dengan Arfan.
Sofi langsung lega, “ah, Sayang. Darimana saja kamu?” segera mengambil alih sang putra.
“Maaf, tadi saya membawanya bermain di taman belakang,” pelayan perempuan menunduk hormat.
“Siapa namamu?” Tanya Grald.
“Mina, Tuan.”
“Baik, Mina. Kau boleh pergi, terima kasih ya.” Ucap Gerald.
“Maafkan saya, Nyonya –“ Gerald meminta maaf atas keteledorannya.
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu, atau Tuan Besarmu akan memecatmu!” Sofi melotot tajam lantas balik badan menuju kamarnya.
__ADS_1
Gerald berdenyit heran, “dia tau?” gumamnya lantas kembali melanjutkan langkah sembari mengamati layar datarnya kembali.
Baru saja mencapai lantai bawah, Ramzi datang dengan tergesa.
“Tuan Muda, Anda sudah pulang?” sapa Gerald sedikit heran karena mendapati Ramzi sudah kembali pada jam yang tak biasanya.
“Ada hal penting,” sahut Ramzi. “Kau lihat Sofia? Ponselnya tak bisa dihubungi.”
“Dia baru saja kembali, Tuan.”
“Dia habis pergi?”
“Iya,”
Ponsel Ramzi bergetar, gegas ia menerima panggilan. “Sofia –“
“Kak Ram, ada apa nelpon sampai belasan kali?” Tanya Sofi. “ HPku ketinggalan di kamar.”
“Aku ada di bawah, cepat turunlah. Ada hal penting.”
“Kau sudah pulang?”
“Tidak usah banyak tanya, cepat kesini,” sedikit memaksa.
“Iya iya, tunggu sebentar. Aku ganti baju Arfan dulu, dia kotor banget baru aku tinggal sebentar saja.”
Ramzi menghempaskan dirinya di sofa, ia masih pandangi Gerald yang berdiri dengan layar datarnya.
“Kenapa wajahmu serius begitu?” Tanya Ramzi. “Ada hal menarik rupanya disana?” Ramzi sempat mencuri pandang sebelumnya.
“Apa Anda belum tau?” bertanya ragu.
Menyunggingkan senyum tipis, “tau apa? Bukannya kamu yang lebih tau segalanya dari aku?”
Memperlihatkan benda pipih berlayar datar itu di depan tampang Ramzi.
“Tidak usah terlalu dipikirkan, semuanya akan kembali seperti semula,” ujar Ramzi enteng.
Menatap penuh tanda tanya, “Anda tau sesuatu?”
“Sudah aku bilang kan, kamu lebih tau segalanya dari aku –“
“Tuan Besar memintaku untuk mencari tau penyebabnya,” pangkas Gerald serius.
Membelalak tak percaya. “Jadi benar –“
“Aku nggak maksa kamu buat percaya.”
“Tapi kenapa, Tuan?”
Gerald tak habis pikir.
“Karena aku ingin papa meminta bantuanku untuk menyelesaikannya,” Ramzi tersenyum lebih lebar. “Dengan begitu papa akan kembali percaya padaku, sebagai imbalannya aku akan memintanya untuk bekerja sama dengan perusahaan papa mertuaku.”
Menggeleng tak yakin, “aku tak menyangka Anda akan menggunakan cara ini, Tuan Muda. Sangat beresiko dan akan mempengaruhi kesehatan Tuan Besar.”
“Maka itu menjadi tugasmu untuk meyakinkan papa agar mau meminta bantuanku,” melihat Gerald dengan raut puas. “Bukannya kamu janji akan membantuku?”
“Anda teralu berputar-putar untuk mencapai tujuan, kenapa waktu itu tidak langsung menerima tawaran Tuan Besar? Bukankah menjadi pemilik dari beberapa anak perusahaan itu lebih tidak beresiko daripada tindakan Anda ini?”
Bangkit menghampiri Gerald, “disitulah seninya, papa harus tau cara menghargai orang.”
“Aku tidak paham maksud Anda, aku hanya mengkhawatikan kondisi kesehatan Tuan Besar saja kalau...”
“Nggak usah berlebihan, bukankah seharusnya aku sebagai anaknya yang lebih mengkhawatirkan kesehatan papa?”
Baru saja akan membuka mulutnya kembali untuk menjawab Ramzi, Sofi sudah tiba di pertengahan anak tangga sambil mengomel.
“Kak Ram, lihat ini,” katanya sambil menunjuk Arfan dnegan matanya, “dia menumpahkan semua bedak dalam wadahnya,” terlihat pakaian Arfan bekas tumpahan bedak.
Ramzi hanya tersenyum.
“Aku mau suster Inez kembali bekerja, please,” lanjut Sofi begitu sudah berada di samping suaminya.
“Ok, aku akan menghubunginya nanti. Sekarang kau serahkan saja dulu anak kita padanya,” melihat Gerald.
“Apa?” kaget Sofi.
“Dengar, mama menelpon katanya papa masuk rumah sakit.”
__ADS_1
“Papa masuk rumah sakit?” kaget Sofi lagi.
Mengangguk, “tenanglah. Mama bilang dadanya kembali nyeri, semoga saja tak apa-apa, tapi aku pikir kita harus kesana menjenguknya.”
“Iya, baiklah. Ayo!” mendahului dengan wajah panik.
“Sofia!” panggil Ramzi. “Aku bilang berikan Arfan pada Gerald.”
Berbalik dengan wajah heran.
“Kita nggak bisa bawa anak kecil masuk kesana,” lanjut Ramzi menegaskan.
Terlihat enggan menghampiri Gerald, namun Arfan tak menolak ketika Sofi menyerahkannya pada sang pelayan pribadi kepercayaan kakeknya itu. Gerald hanya menerimanya dengan wajah datar.
“Aku akan menghubungimu untuk jadwal memberikan susu dan makannya.” Ujar Sofi.
“Tolong jaga dia,” ucap Ramzi. “dan jangan lupakan tugas utamamu tadi ya,” menepuk pundak Gerald lantas segera berlalu bersama Sofi.
Membuang napas kasar, “aku rasa bulan depan aku harus minta naik gaji.”
Arfan tersenyum seolah setuju dengan perkataan Gerald.
Kembali membawa Arfan hendak menuju ke lantai atas sambil ngedumel, “Nggak kakeknya, nggak anaknya, nggak cucunya semuanya membuatku repot!” meraih pesawat telpon di dekat tangga. “Nara, Mina, Jim atau siapa saja tolong aku, segera kalian kesini!”
Tak sampai semenit, ketiganya datang hampir bersamaan. “Ya Tuan, ada apa?”
“Oh, kau saja Nara.” Menunjuk Nara. “Kamu yang bertugas membereskan kamar Tuan muda kan?”
Nara mengangguk.
“Pergi kesana dan ambilkan mainan atau apa saja yang bisa membuat anak ini diam. atau kamu bisa mengambilkan keranjangnya, agar aku tidak repot menjaganya.”
Nara mengernyit, “Keranjang, Tuan?”
“Hem, apa itu namanya? Utuk dia biasa berjalan yang –“
“Baby walker, Tuan,” sambung Jim.
“Ya itu, kau lebih pandai," Gerald membenarkan. "Aku terlihat lebih bodoh dari kalian sekarang,” menggertu di akhir kalimatnya.
Nara segea pergi.
“Mina, kau pegang dulu dia. Aku harus menemui Tuan Besar untuk menyelesaikan tugasku, nanti aku segera kembali,” titah Gerald.
“Saya –“
“Kau kembali saja, aku tak membutuhkanmu.” Pangkasnya pada Jim. “Oya, ajak dia ke ruangan baca, mungkin dia akan senang melihat deretan buku-buku disana.” Gerald segera pergi tak peduli menyisakan keheranan di wajah Mina. Anak sekecil itu tau apa tentang buku yang berderet dalam rak perpustakaan?
Tuan Alatas mengira Gerald sudah mendapatkan hal yang dia perintahkan karena begitu cepat dia kembali. Tapi setelah Gerald mengatakan maksud dan tujuannya, wajah Tuan Alatas kembali murung. Dia tampak enggan bicara, walau hati kecilnya berkata ada benarnya juga jika dia meminta bantuan Ramzi.
“Baiklah, Tuan.” Ucap Gerald setelah beberapa lama. “Mungkin Anda perlu waktu untuk memikirkannya. Saya permisi dulu.” Gerald memutuskan menuju kamarnya untuk mengganti jasnya. Rasanya penat sekali akan mengurus anak kecil dengan memakai jas. Pakai kemeja mungkin lebih simple.
Tuan Alatas pun beranjak dari tempat duduknya, dia baru saja akan keluar ruangan ketika mendengar bunyi seperti roda-roda yang berjalan cepat. Gegas dia keluar untuk memastikan, benar saja dari arah belakang meluncur dengan gesit Arfan di dalam baby walkernya. Dia tampak mengoceh riang dan melewati Tuan Alatas begitu saja. Beberapa detik Tuan Alatas tertegun, apa yang dilakukan anak itu? namun kemudian Tuan Alatas segera tersadar, Arfan meluncur ke arah tangga.
“Astaga!” hampir memekik, melihat sekeliling tak ada siapa-siapa. “Gerald!!” hanya mampu berteriak memanggil sang pelayan pribadi sambil berusaha meraih baby walker Arfan, namun tentu saja langkah kaki tuanya tak mampu mengejar.
Srot Srot Srot ...
Jglek jglek jglek..
Krrrr…..
Dan tangis Arfan pun pecah. Tuan Alatas mematung di undakan tangga paling atas menyaksikan Arfan yang sudah tergeletak meluncur bebas ke lantai bawah.
💕💕💕💕💕
Hi, dear …
Maaf ya, part ini special keluarga Alatas
😄😄
Kita selesein satu-satu dengan alon-alon ok 😊
Next part Via Mirza, Danar Chelsi
😍😍
Makasih yang selalu setia kasih jempol dan komennya 🙏🙏🙏
__ADS_1
Othor semakin semangat menuju end 🥰
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘