
Ramzi berdiri di balkon kamarnya dengan wajah sendu. Cahaya senja berpendar menghias langit sore yang sebentar lagi ditinggal sang bagaskara menuju peraduan. Sesekali Ram mendesah berat seolah ingin menghempaskan beban dalam benaknya. Matanya lurus menatap pucuk-pucuk pohon cemara Norfolk yang tumbuh di taman istana megahnya. Jane masuk kamar tanpa Ram sadari. Wanita muda itu meletakkan nampan yang dibawanya. Ia memandangi laki-laki yang sudah sebulan lebih ini dalam perawatannya. Agak ragu Jane mendekat, ini bukan kali pertama ia melihat Ramzi melamun sperti itu.
“Ram?” Panggil Jane lirih.
Ramzi bergeming, masih setia berdiri memunggungi Jane yang kembali berjalan mendekati.
“Jane, apa aku salah mencintai orang?” Tanya Ramzi begitu Jane berdiri tepat di sampingnya.
Jane tau kemana arah pembicaraan laki-laki yang sempat ingin ia miliki itu. “Kita tak pernah bisa melarang kapan cinta itu datang dan pada siapa cinta itu kita tujukan, Ram.” Sahut Jane.
“Kau salah, Jane.” Ujar Ramzi memutar tubuhnya menghadap Jane lurus. “Harusnya aku tak pernah jatuh cinta pada wanita seperti Sofi.”
Glek!
Kalo tau jawabannya kenapa tadi kamu nanya? Batin Jane.
Wajah Ramzi kembali muram, diraihnya jemari tangan Jane. Sepasang netra yang telah lama kehilangan binarnya itu menghujam hati Jane.
Deg deg deg!
Jane seperti mengalami de javu. Ah bukan! ia ingat pernah begitu dekat dengan sorot mata ini di waktu yang telah lalu. Waktu yang menjerumuskan dia pada cinta dan orang yang salah. Jane telah mengubur dalam-dalam perasaan itu karena merasa tak pantas meski setitik asa itu kadang kembali terbit di hatinya.
“Ram, kenapa kamu nggak coba hubungi istrimu?” Jane melepaskan genggaman tangan Ramzi perhalan tak mau larut dalam suasana yang jelas akan semakin menambah runyam keadaan.
“Untuk apa?” Ramzi melengos.
Pucuk-pucuk cemara Norfolk bergoyang dihembus semilir angin sore. Jane mengikuti arah pandangan laki-laki di sampingnya yang sekarang tampak lebih tirus itu.
“Ram, pakailah.” Jane menyodorkan ponselnya. “Kamu pasti merindukannya, kan?”
Ramzi menggeleng samar, pandangannya masih tak berubah.
“Apa kau tak merindukan anak yang ada dalam kandungan istrimu? Telponlah istrimu, tanyakan kabarnya.” Jane masih setia menyodorkan ponselnya. “Bagaimana pun juga, Sofi sekarang sedang mengandung anakmu.”
“Kau benar.” Ramzi hendak meraih ponsel Jane namun seketika mengurungkannya. “Tapi aku tak bisa menerima semua perbuatannya, Jane.”
“Apa kamu membencinya?” Jane menaroh gawainya disaku blousenya.
“Mungkin. Karena setiap kali aku mengingat semua yang sudah ia lakukan, hati ini teramat sakit. Aku pikir dia bisa benar-benar menerimaku sebagai suaminya meski kami menikah karena perjodohan. Namun nyatanya tidak. Padahal aku sudah berusaha untuk membuatnya bahagia.” Ramzi tersenyum getir.
“Ram, cinta memang tak bisa dipaksakan. Tapi aku mohon, selesaikan masalahmu. Kamu jangan hanya berdiam diri seperti ini, temui Sofi ajak dia bicara dari hati ke hati siapa tau ada titik terang untuk kalian.” Saran Jane tulus. “Demi anak yang ada dalam kandungan istrimu, Ram.” Imbuh Jane bersungguh-sungguh.
Kalimat terakhir Jane berhasil menyentuh relung hati Ramzi, senyumnya mengembang membuat Jane bahagaia, pasalnya senyum itu sudah lama hilang dari wajah laki-laki brewok yang biasanya sangat garang dan tegas namun berhati lembut itu.
“Terima kasih ya Jane. Kau memang sangat baik, harusnya aku mendengarkan Papa sejak dulu bahwa aku lebih baik menikahimu daripada wanita itu."
Mata Jane seketika membola. “Ap-apa maksudmu Ram?” Agak tergagap Jane menatap Ramzi dengan wajah yang tiba-tiba merona tak karuan.
Ramzi menerawang, “Kau ingat? Kita sering menghabiskan waktu bersama. Hampir setiap kali aku suntuk kita pergi ke pub, kamu menemaniku sampai pagi.” Ramzi memutar pandangannya, menatap sayu pada Jane. “Kamu setia mendengarkan ocehanku, sabar dengan keluh kesahku, dan kamu tak pernah sekali pun menyerahkan dirimu padaku.”
Perlahan Jane mundur karena Ramzi mencoba mengikis jarak diantara mereka. “Jane, kemarilah. Aku mau berterima kasih padamu.”
“Kamu nggak usah berterima kasih, bukankah waktu itu aku bekerja sebagai asisten prbadimu?” Entah mengapa Jane diliputi kegugupan tiba-tiba.
“Jane, aku minta maaf karena telah begitu bodoh menyia-nyiakan wanita baik sepertimu.” Ramzi terus mendekat membuat posisi Jane tersudut. Diusapnya pipi Jane yang terasa dingin dengan lembut.
“Ram, tolong jangan seperti ini ....” Lirih Jane tercekat. Ia sesungguhnya ingin, namun tak mau terlalau terbuai perasaan. Ramzi masih resmi suami Sofi! Itu yang ada dalam benaknya. “Ram, kamu jangan lupa. Aku pun pernah menggodamu bukan? Aku tak sebaik yang kamu pikir.” Jane berusaha mengatur nafasnya dan mengimbangi tatapan Ramzi yang semakin tak ingin memberinya celah untuk meloloskan diri.
Ramzi tersenyum, diraihnya pinggang ramping wanita yang sudah sangat terpojok itu ke dalam pelukannya. “Dan aku menyesal kenapa membiarkan wanita itu menyakitimu. Jane, maafkan aku. Maafkan aku ....” Pelukan Ramzi begitu erat dan menenangkan.
Oh, untung cuma peluk! Aku kira dia mau .... Nyaman sekali berada dalam dadamu, Ram. Jane meracau dalam hati tak karuan.
Sekian lama dia pernah bekerja menjadi asisten pribadi sang Tuan muda Alatas, namun baru kali ini dia dipeluk olehnya. Ram tak pernah sekali pun memperlakukannya buruk, atau pun berniat kurang ajar. Mereka sama-sama bersikap profesional dalam pekerjaan, dan dapat bersahabat baik jika di luar kantor.
“Jane, bantu aku untuk bisa melewati semua ini. Aku butuh kamu...” Ram melerai pelukannya.
“Eum, tentu Ram. Aku akan membantumu sampai kamu benar-benar pulih.” Jawab Jane agak ragu karena kalimat Ramzi terdengar ambigu di telinganya.
“Bukan itu, bantu aku untuk melupakan Sofi.”
“Kenapa? Bukankah kamu sangat mencintainya?” Jane sedikit kaget. Ia tak pernah menduga Ramzi bisa berkata seperti itu. “Kamu sudah menunggunya sejak ia masih belia, bukan? Kamu sendiri yang cerita, kalau kamu selalu memimpikan dia sejak pertama kali bertemu dengannya. Aku nggak percaya semudah itu kamu ingin menghapus persaanmu dan menyerah pada keadaan. Katakan, kamu masih mencintai Sofi kan, Ram?”Cecar Jane. Ia tak ingin merasa kepedean karena yakin masih ada sisa cinta di hati Ramzi untuk Sofi.
“Tidak lagi, sejak penghianatan yang ia lakukan padaku.”
Jane menatap tajam, ia ingin menemukan apa ada kebohongan dari sorot mata laki-laki di depannya itu. “Kamu bahkan memafkannya Ram ketika dia menikah denganmu dalam keadaan hamil oleh laki-lain lain.”
“Itu karena aku bodoh.”
“Lalu apa sekarang kau percaya kalau dia berhianat lagi? Bisa jadi ayahmu hanya memfitnah dia karena menginginkan kamu berpisah dengannya kan? Sofi tak mungkin kembali pada mantannya, Ram. Kamu jangan mudah percaya hanya karena baru melihat foto-foto meraka saja. Kamu harus tau sendiri kebenarannya.”
“Aku nggak peduli lagi dengan semua itu.” Tegas Ramzi.
“Perjuangkan cintamu, Ram. Selamatkan rumah tanggamu. Demi anak yang ...”
“Cukup!” Potong Ramzi. “Cintaku sekarang sudah tidak ada.”
“Aku tak yakin.” Jane menggeleng dengan senyum miring.
“Maka berikan kesempatan padaku untuk menumbuhkan rasa cinta itu padamu, karena aku mulai merasa nyaman denganmu.”
“Lalu gimana sama anak yang ada dalam kandungan Sofi?”
“Dia akan baik-baik saja, aku tentu tidak akan membiarkannya terlantar. Dia darah dagingku.”
Jane terdiam cukup lama. Dia masih tak mengerti dengan situasi yang tiba-tiba berubah seperti ini. Mungkin saja Tuan Alatas memang membayarnya untuk menjadi perawat Ramzi karena sengaja ingin membuatnya dekat dengan Ramzi, namun sedikit pun Jane tak ingin berharap karena dia sadar diri. Tapi jika situasinya jadi seperti ini, harsukah ia menolaknya?
“Jane, jawab aku.” Ramzi meraih kedua pundak Jane. “Kamu juga mencintaiku kan?”
JLEB!
Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan yang telak seperti itu? Jemari Jene mendadak seperti merasakan gemetar lembut yang diam-diam terus merambat ke seluruh sel sel syarafnya. Cahaya jingga sudah hampir sepenuhnya berganti warna malam sementara Jane masih membisu.
“Jane, kita akan memulainya bersama-sama. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, bukan dalam waktu semalam aku berubah seperti ini.” Ramzi menggenggam jemari Jane yang sudah sedingin salju. “Aku mohon, bantu aku untuk menemukan cinta kembali.”
“Ram, tolong beri aku waktu ...” Akhirnya hanya kalimat itu yang meluncur dari mulut Jane karena dia masih belum terlalu yakin bahwa kebahagiaan akan berpihak padanya.
(Yang penasaran atau belum tau masa-masa Ramzi dan Jane hampir nganu, yok intip di bab 103 TERCYDUK PART 1) 😊😊😊
❤️❤️❤️❤️❤️
Lepas isya, kedua insan yang tengah merasakan kebahagiaan karena kembali dititipi amanah berupa calon bayi itu sedang bersantai di depan TV. Via seperti biasa tiduran di paha suaminya dengan posisi yang sangat nyaman sambil mantengin layar lebar di depannya, sedangkan Mirza mengusap-usap lembut kepala Via sambil sesekali mengusli istrinya dengan menggelitiki pinggangnya sehingga membuat Via menjerit dan tertawa kegelian.
TIN TIN!
Terdengar suara klakson mobil dari depan rumah mengusik keuwuan mereka.
TIN TIN TIN!
Klakson mobil terdengar lagi. Kali ini lebih kenceng dan lebih maksa.
“Siapa sih? Ngeselin banget tuh orang!” Gerutu Mirza.
__ADS_1
“Coba liat sana, Mas!” Ucap Via bangun dari posisinya.
TIN TIN TIN TIIIIN....!!
Itu klakson menjerit lagi bikin emosi jiwa yang mendengarnya. Mirza berjalan cepat membuka pintu.
WAKWAW!
Ternyata Om Jaka, laki-laki paling nyeleneh sejagat raya yang membunyikan klakson mobil bertubi-tubi itu.
“Apaan sih Om? Berisik tau! Belum pernah kena kemplang pentungan satpam komplek ya?” Omel Mirza kesal melihat tampang Om Jaka malah nyengir kuda begitu keponakannya nongol dari dalam rumah.
“Lagi ngapain lu? Kok sewot gitu gue dateng?”
“Kaget tau! Pencet bel kan bisa?” Mirza masih kesal.
“Kalo bel kagak kenceng!” Om Jaka nyengir lagi. “Ya udah sini, bantuin! Ngapain lu malah diem disitu?” Om Jaka memberi isyarat pad Mirza untuk mendekat.
“Bantuin apaan?”
“Turunin barang-barang dari bagasi belakang!” Titah Om Jaka seenak udelnya. “Via ada kan? Bini gue mau nginep nih!” Om Jaka turun kemudian membukakan pintu untuk Denaya.
“Halo, Za. Via mana?” Sapa Denaya.
“Ngapin nginep disini? Kok Denaya suruh nginep disini sendirian sih?” Mirza bingung dengan berondongan pertanyaan.
“Ya nginep sama gue lah! Masa sendirian?” Sahut Om Jaka. “Cepetan bantun turunin barang-barangnya!”
Meski masih heran campur bingung Mirza ngikutin kata Omnya juga. “Udah dateng-dateng bunyiin klakson kenceng banget, ehh pake nyuruh-nyuruh seenaknya pula!” Gerutu Mirza sebel.
“Eh, elu musti nurut sama gue ya kalo kagak mau kualat!” Om Jaka melotot sok galak.
“Busyet! Si Denaya mau nginep apa mau pindahan sih? Kok bawa barang banyak banget?” Mirza keget begitu Om Jaka membuka bagasi belakang mobilnya.
“Nggak usah cerewet, angkutin cepetan!” Perintah Om Jaka.
Dengan menahan kesal Mirza membawa semua barang-barang Denaya dengan sekali angkut. Dia nampak kerepotan membawa boneka beruang, bantal, selimut, perlengkapan mandi, kipas angin, dan satu lagi, ember, sodara-sodara! Dan semuanya itu berukuran besar. Oh, satu lagi, baskom! Kesemua benda itu berwarna pink tanpa terkecuali!
“Ya ampun, Mas! Siapa yang habis kena korban gusuran?” Tanya Via ketika Mirza mencapai ruang tengah dengan sangat kesusuhan dan menumpahkan begitu saja semua barang-barang yang dibawanya, sedangkan Om Jaka hanya menggeret koper kecil yang juga berwarna pink.
“Itu, si Om somplak!” Mirza menunjuk dengan dagunya.
PLAK!
Om Jaka mengeplak kepala Mirza.
“Dasar bocah tengik! Enak aja ngatain gue somplak!” Omel Om Jaka galak.
“Vi, aku sama Bebeb malam ini mau nginep disini, boleh kan?” Ucap Denaya seraya mendekati Via dan mengusap perutnya yang sudah sangat besar.
“Nginep? Oh …, boleh, boleh ….” Meski sempat ragu Via mengijinkan juga.
“Dena, kamu yakin perlu sama semua barang-barang ini? Kenapa sih kamu repo-repot pake bawain semua ini? Kamu kan nginepnya di rumah aku, bukan di hutan! Kurang kerjaan banget sih kamu!” Kali ini Mirza ngomelin Denaya.
“Eh, yang sopan ya kalo ngomong sama mai hani bani switi!” Om Jaka melotot lagi. “Biarpun seumuran, tapi dia kan tante kamu!”
Mirza mengerucutkan bibirnya, gedek banget dia sama kelakuan Om dan tantenya itu.
“Ya udah, kita bantuin bawa barang-barangnya ke kamar yuk Mas.” Ajak Via pada suaminya.
“Ogah! Capek!” Mirza malah menghempaskan tubuhnya di sofa dengan cuek.
“Karena ACnya pasti nggak pink kan warnanya?” Ceplos Denaya jujur. “Ntah kenapa ya Vi, belakangan ini aku suka dan harus banget pake sesuatu yang berwarna pink.”
“Wah, jangan-jangan bayi kamu nanti cewek!” Seru Via girang.
“Nggak tau juga sih, soalnya aku nggak mau dokter ngasih tau jenis kelamin bayiku setiap kali aku USG.”
“Iya, biar buat kejutan gitu.” Timpal Om Jaka.
“Dasar aneh! Orang mah dimana-mana kalo USG pasti mau tau jenis kelaminya!” Cebik Mirza keki.
“Ye, suka-suka gue lah!” Sahut Om Jaka. “Udah buru, mendingan elu bantuin gue sekarang!” Om Jaka menyeret tangan Mirza.
“Huh! Pake baskom apa ember segala dibawa, buat apaan coba?” Dengus Mirza.
“Eh, jangan salah! Bini gue tiap malem sebelum tidur dan tiap pagi bagun tidur kakinya musti direndem pake air anget. Nah itu ember buat ngerendem kaki kalo malem, baskom buat ngerendem kalo pagi. Abis itu gue pijitin kakinya. Pokoknya gue manja-manjain bini gue tiap hari. Sweet banget kan gue? Kagak kayak elu! ” Papar Om Jaka bangga pada dirinya sendiri.
“Ish, norak! sok romantis!” Cibir Mirza lantas mengangkat semua barang-barang Denaya yang sengaja ditabrakkan ke wajah Om Jaka.
“Woy! Liat-iat dong! Muka orang main tabrak aja!” Kesal Om Jaka.
“Maap, sengaja!” Sahut Mirza cuek menuju kamar tamu tempat dimana Om Jaka sama Denaya akan bermalam.
Via dan Denaya hanya geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan suami mereka yang selalu kayak Tom dan Jerry kalo ketemu.
Selesai berbenah, Via dan Denaya bersantai di ruang tengah sambil ngobrol ringan seputar kehamilan mereka.
“Vi, bikinin gue kopi dong!” Pinta Om Jaka pada Via yang sedang mendengarkan cerita Denaya dengan penuh perhatian.
“Enak aja nyuruh Via, suruh aja tuh Denaya!” Mirza nggak terima istrinya disuruh-suruh Om Jaka.
“Bini gue lagi hamil, kesian!” Ucap Om Jaka.
“Sama, bini gue juga lagi hamil!” Balas Mirza.
“Tapi bini gue hamilnya udah gede, nggak boleh capek-capek!” Om Jaka ngeyel.
“Bini gue hamil muda, harus bayak istrahat!” Mirza tak mau kalah.
“Justru yang hamil muda itu harus banyak gerak biar sehat!”
“Yang hamil tua itu yang musti aktif, biar persalinannya gampang!”
“Sok tau lu!”
“Emang!”
“Dasar songong lu!”
“Dasar ngeyelan lu!”
“Kok elu ngomongnya ikutan pake elu gue sih? Elu kan ponakan gue, kagak sopan!”
“Abisnya Om Jaka yang mulai!”
“Gue emang kayak gini ngomongnya!”
“Ya gue kan jadi ikutan?”
“Bebeb….!”
__ADS_1
“Maaaas …..!”
Denaya dan Via berteriak kesal karena perdebatan unfaedah suami mereka yang tak kunjung usai itu.
“Bisa nggak sih kalo ketemu nggak usah pake ribut?” Denaya jutekin Om Jaka.
“Dia yang mulai Han. Emang keponakan kagak ada akhlak dia! Kita kan tamu, masa diomeli-omelin mulu?” Rajuk Om Jaka.
“Ya udah kalo gitu Om Jaka sama Mas Mirza pada bikin kopi sendiri-sendiri aja deh, bisa kan?” Via melihat suaminya dan Om Jaka bergantian.
“Bisa banget dong Sayang. Mas kan emang nggak mau ngerepotin orangnya. Nggak kayak …” Mirza melirik Om Jaka yang di sampingnya.
“Apa lu?”
“Beb, udah!” Sambar Denaya. “Kalo ribut terus, ntar malem nggak aku kasih jatah nih!” Denaya mengancam.
“Ampun, Han. Iya deh, aku diem.” Om Jaka membuat gerakan mengunci mulut dengan tangannya.
“Kalo udah hamil besar, kudu rajin-rajin ditengokin Vi, biar cepet lancar pembukaannya.” Bisik Denaya pada telinga Via.
Via kontan melotot sambil membekap mulutnya sendiri.
“Sayang, ayok kita ke kamar aja.” Mirza tiba-tiba menghampiri istrinya ngajakin Via masuk kamar.
“Eh, apa-apan lu? Udah mau ngamer aja!” Om Jaka keki. “Besok pagi gimana urusannya? Kita musti berangkat pagi banget biar nggak kesiangan nyampe sana”
“Berangkat kemana?” Tanya Mirza heran.
“Ya berangkat liat lokasi empang sama ladang garam.”
“Tunggu, tunggu. Om Jaka ngomong apaan sih? Empang, lading garam gimana maksudnya?” Mirza semakin heran, benar-benar tak mengerti dengan arah pembicaraan Omnya.
“Jangan-jangan elu kagak baca pesan gue?”
“Pesan apaan?”
“Itu yang gue WA siang tadi soal empang Ayah yang mau dijual.”
Mirza melongo semelongo-melongonya. “Beneran, aku nggak tau Om.” Gumam Mirza yang kemudian langsung mencari keberadaan ponselnya, kerana hampir seharian ini dia nggak bersentuhan dengan benda pipih itu.
“Astoge! Iya lho, Om Jaka beneran ngirim pesan ampe panjang banget udah kayak pembukaan UUD 45 isinya.” Mirza melototin isi pesan Om Jaka dan mencerna baik-baik isinya. “Om kenapa nggak telpon aja sih? Kalo kayak gini kan aku jadi nggak siap.” Rutuk Mirza.
“Gue kira elu udah baca, abisnya gue juga nggak ngecek lagi pesan gue.”
“Lain kali aja deh Om, lagian mana punya aku uang cash sebanyak itu buat bayarin empangnya Pak Haji?”
“Karena elu ndiem aja dan nggak bales pesen gue, berarti gue anggep jawaban elu setuju.”
“Kok maksa sih?”
“Ya kapan lagi elu bisa beli emang sama ladang garam dengan harga murah coba? Invest Za, elu nggak perlu repot-repot ngerjain sendiri, tinggal disewain ke orang. Elu duduk manis di rumah dan terima hasilnya. Beres kan?” Om Jaka emang agak maksa karena ia pikir ini semua demi kebaikan Mirza keponakan semata wayangnya.
“Ck, kan aku udah bilang Om. Aku nggak punya uang cash sebanyak itu, mana kita perginya pagi-pagi lagi kan? Bank juga belum buka kali!”
“Kamu liat aja dulu tempatnya. Soal bayar mah belakangan, gampang itu. bisa diatur!” Kilah Om Jaka.
“Eum, ini sebenrrnya pada bahas apa ya? Kok aku nggak ngerti?” Tatapan Via meminta pejelasan.
Kemudian mengalirlah cerita dari mulut Om Jaka. Haji Barkah yang tak lain adalah ayah mertuanya mempunyai niatan yang sangat mulia ingin membangun sebuah pondok pesantren dan panti asuhan, maka dijualah salah satu, eeh salah dua aset berharganya yang berupa empang dan ladang garam yang kesemuanya luasnya mencapai 300 hectare. Rencananya uang hasil pelelangan asetnya itu akan diberikan kepada pihak Yayasan yang sudah terlebih dahulu dibentuknya.
“Subhanallah, luar biaa sekali ya Pak Haji.” Puji Via kagum akan kedermawanan ayah Denaya itu.
“Makanya Vi, laki lu harus beli, mumpung dijual murah. Kapan lagi kan bisa jadi juragan empang?”
Via melihat pada sumaminya yang masih nampak berpikr untuk menimbang-nimbang sebuah keputusan.
“Aku rasa bagus juga kalo kamu beli beberapa hectare sesuai dengan kondisi keuangan kita Mas, karena dengan begitu berarti kita ikut memudahkan rencana mulia Haji Barkah, Mas.” Ungkap Via kemudian.
“Nah! Setuju tuh gue! Bini elu ternyata lebih pinter daripada elu!” Puji OM Jaka pada Via.
Mirza menatap sang istri. “Baiklah, Sayang. Kalo begitu menurut kamu, Mas juga setuju.”
“Sip! Kita berangkat abis subuh biar pulangnya nggak kesorean. Soalnya empangnya agak jauh dari pesisir pantai, kita musti ngelewatin desa agak terpencil juga untuk sampai ke sana.”
“Terserah Om Jaka aja deh.” Mirza pasrah. “Ayok Sayang, kita ke kamar aja. Mas mau istrahat karena besok mau menempuh perjalanan panjang.” Ajak Mirza lagi pada istrinya.
“Mas nggak jadi ngopi sama Om Jaka?”
“Nggak Sayang. Daripada ngopi sama Om Jaka mendingan Mas nganu sama kamu.” Mirza menggosok-gosokkan hidungnya pada bahu istrinya.
“Ish, Mas! Malu tau, ada Om Jaka sama Denaya!”
“Idih, mesum amat otak elu, Za!” Cibir Om Jaka. “Han, kamu mau rendam kaki sekarang apa nanti? Aku ambilin air hangatnya ya? Abis itu aku pijitin kaki kamu.” Om Jaka merangkul bahu Denaya.
“Huh, dasar bucin! Tua-tua bucin!” Balas Mirza.
“Mas, udah ah!”
“Iya nih heran, kamu juga Beb, demen banget bertikai sama keponakan sendiri?” Denaya melirik suaminya gemas lantas bangkit menuju kamar dan Om Jaka segera mengekor.
“Sayang, besok Mas mau pergi pagi-pagi. Kita sekali aja ya nganunya malam ini? Takut bangunnya kesiangan lagi.” Bisik Mirza yang kontan membuat cuping Via meremang.
“Nggak usah nganu juga nggak papa kali, Mas. Katanya Mas msu istirahat?” Via berjalan mendahului.
“Tapi Mas pengen nganu.” Mirza mencegat langkah Via di depan pintu kamar. “Sejak kamu positif hamil, kita belum nganu-nganu lho.” Puppy eyes diperlihatkan Mirza. Ia tau banget istrinya itu nggak tegaan. Krsempatan kan? hehe …
“Tapi, Mas ….” Via menunduk tak melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba diliputi perasaan khawatir.
“Mas janji akan hati-hati.” Mirza masih merayu, ditangkupnya kedua pipi mulus istri cantiknya itu dengan telapak tangannya.
“Eum ….” Via tak kujung berucap membuat Mirza makin gemas. Perlahan ia dekatkan bibirnya pada wajah istrinya.
GEDEBLUK ...!!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh mengagetkan Mirza dan Via yang hampir saja …
“Bisa kan kalian ciumannya nggak disini? Masuk kamar sana!” Om Jaka nongol mengambil baskomnya yang barusan sengaja dia lembar ke atas karpet lantai ruang tengah.
“Om…! Dasar resek….!!” Pekik Mirza kesal bukan main lantas segera menarik lengan Via masuk kamar dan emngunci pintunya rapat-rapat.
Hmmmm, jadi deh nganu kayaknya ya Za ....? 😁😁🤭🤭🤭
❤️❤️❤️❤️❤️
**Terima kasih sudah membaca dan mohon maaf jika banyak typo 🙏🙏🙏
Like, komen jangan lupa ya Kak 😉😉
Dengerin juga TERPAKSA SELINGKUH ❤️ versi audio booknya by adik Chen Liong 🤩🤩🤩
Luv U all 🤗🤗🤗😘😘😘**
__ADS_1