
Matahari sudah lebih condong ke sebelah barat, Via baru saja keluar dari toko kue Riri bersama Tia dan Ica setelah sebelumnya mereka sempat mampir juga ke swalayan untuk membeli keperluan bulanan Via.
“Vi, kamu yakin mau mampir ke rumah ibu mertua kamu?” Tanya Tia ketika mereka sudah melaju meninggalkan kota.
“Kenapa emangnya Mbak?” Via malah balik nanya dengan suara yang agak dinyaringkan karena berlomba dengan angin.
“Nggak papa.” Jawab Tia singkat.
Via sebenarnya mengerti maksud pertanyaan kakaknya. Tia pasti khawatir Via akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari ibu mertuanya itu. Namun jauh dari perkiraan Tia, Via sudah sangat mempersiapkan diri tentang berbagai macam kemungkinan yang akan diterimanya nanti.
Motor matic Via memasuki kampung Jati Asri, dan tak lama mereka sampai di rumah Tia. Ica sudah terlelap sejak tadi, anak itu kelelahan setelah main di arena bermain anak-anak ketika menunggu tantenya berbelanja.
Arya segera menyambut kedatangan mereka dan menggendong tubuh mungil Ica untuk membawanya ke kamar.
“Mbak, aku langsung aja ya.” Pamit Via tanpa turun dari motor.
“Iya deh, hati-hati ya.”
Via mengangguk lantas segera melajukan kembali motornya menuju rumah ibunya terlebih dahulu sebelum mampir ke rumah ibu mertuanya.
“Vi? Kok nggak ngasih kabar dulu mau main kesini?” Sambut Bu Harni agak surprise mendapat kujungan yang tiba-tiba dari anaknya.
Via segera mencium punggung tangan sang ibu dnegan takdzim.
“Gimana kabar ibu? Sehat?” Via menjawab dengan pertanyaan.
“Alhamdulillah.” Bu Harni merangkul bahu Via mengajaknya ke ruang tamu.
Via meletakkan kue yang dibawanya di atas meja.
“Apa itu?” Tanya Bu Harni.
“Kue, tadi aku sama Mbak Tia mampir ke toko Riri dulu.”
“Tia habis dari tempat kamu?” Bu Harni sedikit terkejut.
“Iya, nginep sama Ica. Kemarin main sama Mas Arya juga, tapi Ica nggak mau pulang. Jadilah mereka berdua nginep.” Ungkap Via sambil membuka kue yang dibawanya.
“Ah, Kakakmu itu kok mau ke rumah kamu nggak ngajak-ngajak ibu? Padahal kalo ibu tahu, ibu juga mau ikut ke sana.”
“Ya udah, ibu ikut aja sama aku sekarang.”
“Ah, nanti saja. Soalnya sore ini mau ada pengajian di rumahnya Pak Lurah.”
“Hmmm, tadi ngomelin Mbak Tia, giliran aku ajak ibu malah beralasan.” Via tersenyum melirik ibunya.
“Soalnya kalo sampe nggak berangkat pengajian nggak enak, Vi.”
Via cuman mengangkat bahu lantas bangkit hendak mengambil piring dan pisau untuk memotong bolu pisang yang dibawanya.
“Eh, mau ngapain kamu?” Sergah Bu Harni.
“Mau ambil pisau buat motong kuenya, Bu.”
“Halah, kamu ini kok ya pake repot-repot bawa kue segala, Vi? Orang Riri yang bikin juga, kalo ibu mau kan tinggal ibu bilang sama Riri aja nggak usah kamu yang beliin.” Bu Harni menyusul Via ke belakang.
“Ya beda dong, Bu. Ini kan aku khusus bawain buat ibu.”
Bu Harni teresnyum. “Ya udah, ibu bikin teh anget dulu ya, biar kita makan kuenya sambil ngeteh sama-sama.”
“Ide bagus, Bu!” Via mengacungkan jempol kanannya lantas kembali menuju ruang tamu dan momotong bolu pisang yang dibawanya. Perutnya memang sudah lapar karena tadi waktu mau mampir untuk makan, Ica merengek minta segera pulang. Rupanya anak itu rewel karena ngantuk.
“Coba kalo kamu ngabarin dulu. Ibu masakin buat kamu, Vi.” Bu Harni muncul dengan dua gelas teh yang masih mengepul.
“Ya udah, nanti kalo ibu nginep ditempatku masakin yang enak-enak ya Bu? Tadi pagi juga Mbak Tia masak benyak banget.”
"Iya, tenang aja."
Mereka kemudian hanyut dalam obrolan tentang banyak hal dan kelihatan sangat hangat. Begitulah anak dan orag tua, meski kadang bersitegang karena mempertahankan opini masing-masing, namun yang namanya anak tetaplah anak. Bu Harni menyayangi Via terlepas dari kekecewaannya yang begitu besar berapa waktu yang lalu atas sikap Mirza yang sudah menyerahkan semua hartanya pada Bu Endang. Begitu juga Via, meski dia juga sempat sangat kecewa dan sedih dengan kata-kata menyakitkan ibunya, namun sayangnya pada ibunya tak pernah berkurang.
“Ya udah, kamu istirahat aja dulu disini, pulangnya nanti sore aja.” Ucap Bu Harni setelah mereka lelah ngobrol ngalor ngidul.
Via meregangkan otot-ototnya yang terasa tegang, lantas menerima usulan ibunya dan langsung masuk ke dalam kamar Riri untuk merebaahkan diri disana.
______
Danar baru saja keluar dari garasi ketika pembantu Bu Elin menghampirinya.
“Mas Danar, dipanggil ibu.” Ucap pembantu Bu Elin.
“Ada apa ya, Bi?” Kening Danar berkerut.
“Kurang tau saya, Mas. Sebaiknya Mas Danar kesana aja, Ibu ada di teras halaman belakang.” Ucap si Bibi.
Danar kemudian menemui ibu angkatnya itu yang nampak sedang serius di depan laptopnya.
“Ibu manggil aku?” Danar duduk di seberang Bu Elin.
“Iya.” Sahut Bu Elin pendek lantas melepas kacamatanya dan menatap sejurus pada Danar.
“Ada apa sih, Bu? Kok tatapannya horor begitu?” Seloroh Danar yang merasa tak nyaman dengan sorot tajam ibu angkatnya itu.
Bu Elin menghela nafas lalu menyandarkan punggungnya di kursi rotan yang berbantal empuk itu.
“Ibu sudah musyawarah dengan ayahmu.” Ucap Bu Elin sengaja menjeda kalimatnya hingga membuat Danar penasaran.
“Soal apa?”
“Kamu tahu Pak Narto, kan? Bulan ini ia akan pensiun dari hotel.” Lagi-lagi Bu Elin tak melanjutkan kalimatnya.
“Terus?” Danar makin penasaran.
“Ibu dan ayahmu sepakat kalau kamu akan menggantikan posisi Pak Narto.”
Danar terperanjat. “Maksud Ibu, aku suruh jadi manager hotel?”
Bu Elin hanya mengangguk.
“Nggak mau.” Tolak Danar langsung.
“Harus!”
__ADS_1
“Ibu nggak bisa maksa aku.”
“Kenapa memangnya? Apa jabatanmu kurang tinggi? Ini hanya sebagai permulaan, Danar.”
“Bukan itu maksudku. Aku hanya nggak suka kerja yang terikat. Aku nggak bisa.” Danar menolak tegas.
Bu Elin mendengus kasar. “Kamu itu dari dulu memang susah diatur, sama kayak Papamu!”
Danar membuang pandangannya. Dia tak mengerti dari mana ibu dan ayah angkatnya itu mendapatkan ilham untuk menjadikannya seorang manager di hotel mereka.
“Danar, kamu harus mulai belajar dari sekarang. Kamu nggak boleh hidup seperti itu terus.”
“Maksud Ibu?” Danar memalingkan wajahnya melihat pada ibu angkatnya yang masih terlihat cantik dan anggun di usianya yang sudah setengah abad lebih itu.
“Kamu tidak akan maju jika hanya terus mengurusi kedai kopimu yang tak seberapa itu. Berpikirlah untuk masa depanmu nanti, kamu harus mulai menata hidupmu lebih serius.”
“Ibu pikir aku nggak pernah serius?” Potong Danar. “Aku menikmati pekerjaanku dan hidupku.”
Bu Elin tersenyum kecut. “Kalau begitu kamu nggak akan bisa meneruskan bisnis ibu dan ayahmu.”
“Aku nggak tertarik. Aku sudah cukup senang dengan hanya mengurusi kedai kopi kecil saja.”
“Ibu kecewa sama kamu. Pikranmu sama sekali tak visioner!”
“Ibu nuduh aku kolot?”
“Apa bedanya? Kamu itu masih muda, tapi pikiranmu pendek.” Ejek Bu Elin.
“Terserah ibu saja. Aku tetep nggak mau.” Danar tetep ngeyel.
“Kalau begitu Ibu akan mengambil alih kedai kopimu dan menutupnya hari ini juga.”
Seketika Danar terbelalak. “Apa ibu baru aja ngancem aku?”
“Nggak juga. Itu hanya penawaran.” Bu Elin cuek, lantas kembali memakai kacamatanya dan meraih ponselnya.
“Ibu mau apa?” Tanya Danar curiga.
“Terserah ibu, dong!” Bu Elin menjawab seenaknya sambil jarinya mengetik satu nama di phone book ponselnya.
Mata Danar memicing ketika melongok ke layar ponsel Bu Elin dan nama Ari terpampang disana.
“Ibu mau nelpon Ari?” Danar makin curiga.
“Apa pedulimu? Ibu mau mecat Ari dan semua karyawan disana saat ini juga.”
“Tapi apa salah mereka. Bu?” Danar tak habis pikir dengan ibu angkatnya.
“Bukan mereka yang salah, tapi kamu! Karena kamu nggak mau menerima penawaran yang sangat bagus ini, maka ibu kan membuat semua karyawan kedaimu itu kehilangan pekerjaan.”
Danar melongo seolah tak percaya dengan ucapan Bu Elin. Ia sungguh tak mengira kenapa jadi begini.
“Oke! Aku mau!” Putus Danar gusar. Ia tak ingin menjadi penyebab hilangnya pekerjaan semua orang yang menggantungkan nafkahnya di kedai kopi karena keegoisannya.
Senyum Bu Elin segera mengembang.
“Tapi aku harus tanya pendapat papa dulu.”
Keduanya lantas saling diam untuk beberapa saat. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing.
“Makasih ya, kamu sudah mau memenuhi permintaan ibu angkatmu ini.” Ucap Bu Elin kemudian.
Danar tergetar ketika Bu Elin menyebut kata ibu angkat. Biasanya jika Bu Elin berkata seperti itu dia sedang sangat serius dan tak main-main.
“Terima kasih juga buat ibu dan ayah yang sudah menerimaku dan Papa menjadi bagian dari hidup kalian.” Balas Danar.
Bu Elin tersenyum simpul.
“Hidup ini semakin hari semakin berat, anak muda. Kamu bukan lagi bayi kemarin sore yang akan cukup hanya dengan diberi dot dan mainan. Bukalah dirimu, tantangan ke depan semakin sulit dan kamu harus mulai belajar dari sekarang, karena semua yang kami punya pasti akan jatuh padamu, jika kamu tak mempersiapkan diri dari sekarang, kamu akan kehilangan segala yang sudah kami perjuangkan selama seumur hidup kami ini.” Tutur Bu Elin dengan lembut namun terdengar tegas.
Danar termenung, ia tak mampu menatap wajah wanita kuat di hadapannya.
“Sikapmu memang tak jauh beda dengan Hadi. Dia keras kepala dan sialnya sahabat ibu, almarhumah mama kamu sangat mencintai Papamu yang tak bisa diatur itu.” Bu Elin tersenyum kecil mengingat Rani sahabat baiknya yang tak lain ibu kandung Danar.
Hati Danar menghangat jika mendengar cerita tentang almarhumah mamanya. Dia memang tak bisa merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya lebih lama, karena Rani meninggal saat Danar berusia 2 tahun dan Danar belum bisa mengingat memori tentang mamanya.
“Jangan kecewakan istrimu kelak dengan sikap egoismu yang kau sebut dengan idealisme.”
Danar mengangkat wajahnya. “Apa Mama menderita selama hidup dengan Papa?”
“Tidak juga, Rani tak pernah mengeluh karena dia sangat mencintai Papamu.”
Pikiran Danar mendadak mengira-ngira seperti apa kehidupan mama dan papanya dahulu. Mamanya yang sangat pengertian seperti yang diceritakakan Bu Elin pastilah punya stok sabar yang tak terbatas ketika mengarungi rumah tangga bersama seorang mantan preman yang berwatak keras dan tak mau diatur itu. Ahh...l, tiba-tiba saja Danar merasa merindukan sosok almarhumah mamanya.
“Maafin ibu ya udah bikin kamu sedih.” Bu Elin maju meraih tangan Danar karena melihat perubahan air muka Danar.
Danar tersenyum. “Mungkin aku harus mencari calon istri yang punya stok sabar banyak seperti Mama.”
Bu Elin langsung bersemangat mendengarnya. “Sepertinya Riri cocok.”
Danar melotot seketika mendengar nama Riri masih aja jadi idola ibu angkatnya untuk dijodohkan dengan dirinya.
_____
Hari beranjak sore, Via pamit bersamaan dengan Bu Harni yang juga mau berangkat ke pengajian. Via sengaja tak memberitahukan pada Bu Harni tentang rencananya yang akan mengunjungi ibu mertuanya. Kalo Bu Harni tau, bisa pecah perang nuklir!
Motor Via memasuki halaman rumah Bu Een. Udin nampak sedang membersihkan lantai toko yang berdebu dan langsung tersenyum lebar menyapa Via.
“Weh, Mbak Via?” Udin segera menghampiri. “Lama ya Mbak kita nggak ketemu?”
“Iya, kamu apa kabar, Din?” Via turun dari motor dan berbasa-basi dulu dengan Udin.
“Baik Mbak, Alhamdulillah.”
“Kapan nikah? Cepetan, nanti keburu expired lho kamu.” Canda Via yang kontan saja membuat Udin cengar cengir nggak karuan.
“Ah, Mbak Via ini lho, apa nggak ada pertanyaan lain selain soal nikah?”
“Kenapa memangnya?”
“Aku nggak berani naksir cewek, Mbak.” Ucap Udin sedikit sedih.
__ADS_1
“Jangan pesimis gitu dong.”
“Beneran, Mbak. Cewek terakhir yang saya taksir, dia mati kecemplung empang. Terus cewek yang saya taksir sebelumnya, dia mati kesetrum tiang listrik.”
“Hah? Masa sih?” Via kaget tak percaya. “Kalo mati mah itu udah takdir, Din! Bukan gara-gara kamu taksir kali!”
“Heeh…, entahlah Mbak… sepertinya Tuhan juga belum ridho kalo aku dapet jodoh.” Udin kembali pesimis.
Via ada kasihan ada juga lucu dengan sikap yang ditunjukkan Udin, baginya Udin itu selalu lucu dimatanya hingga saat sedih begitu pun masih bisa membuat Via tersenyum melihatnya.
“Oya, ibu ada nggak?” Tanya Via kemudain.
“Ada, Mbak. Barusan sholat ashar tadi, masuk aja Mbak.”
Via kemudian mengambil kue dari bagasi motornya dan melangkah masuk ke rumah ibu mertuanya meski dengan rasa kekhawatiran mengingat pertemuan terakhir mereka saat acara nikahan Om Jaka yang tak mengenakkan itu. tapi Via sudah bertekad, apapun kenyataannya, dia akan tetap tegar dan sabar dengan takdirnya sebagai seorang istri dari Mirza Mahendra.
“Assalamualaikum…” Via mengucap salam sambil mencari sosok ibu mertuanya di dalam rumah.
Merasa mendengar suara salam, Bu Endang yang sudah selesai sholat segera keluar dari kamarnya.
JENGJRENG!!
Bu Een begitu terkejut sodara-sodara, manakala ia mengetahui siapa yang datang. Ternyata sang mantu yang tak pernah diinginkannya berani menginjakkan kaki di rumahnya sore itu.
Via bersikap sewajar mungkin, ia langsung meraih tangan ibu mertuanya dan menciumnya takzim. Beruntung Bu Een yang masih belum sadar dari kemelongoannya hanya diam mematung.
“Gimana kabar ibu? Sehat?” Tanya Via.
Bu Een seketika pasang tampang jutek. “Ngapain kamu kesini?”
Nah! Bener kan? Pasti responnya begini. Sabar Via, kamu kuat! Via menyemangati dirinya sendiri.
“Cuma mampir aja kok, Bu. Kebetulan tafi dati rumah ibu. Aku bawa bolu tape dan lapis legit kesukaan ibu.” Via melangkah ke meja ruang tengah dan menaruh plastik yang dibawanya dia tas meja.
“Aku nggak mau makan makanan yang kamu bawa!”
DEG!
Sebuah penolakan telak! Dan Via mencoba untuk tak terbawa perasaan.
“Kalo gitu kasih aja buat Udin, Bu.” Sahut Via santai.
“Ya bawa sana! Jangan ditaroh situ!” Ketus Bu Een.
Via kembali mengambil kuenya.
Oke, setidaknya kamu sudah mencobanya Via. Dan kamu sama sekali tak berniat memutus silaturahmi dengan ibu mertuamu. Via membatin seraya melangkah meninggalkan ruang tengah.
“Tunggu!” Panggil Bu Een.
“Ada apa, Bu?” Via memutar langkahnya.
“Kamu pasti yang ngelarang Mirza kan biar dia nggak kesini pamit sama saya sebelum pergi berlayar?” Bu Een menatap sinis pada menantunya.
Via tersenyum. “Kenapa aku harus melarang Mas Mirza?”
“Nggak usah pura-pura bodoh ya? Kamu memang sengaja menjauhkan Mirza dari saya.”
“Terserah Ibu beranggapan seperti apa. Toh saya apa pun tetap akan selalu salah kan dimata ibu?” Sahut Via mencoba tenang.
“Dasar perempuan licik!” Maki Bu Een kesal. “Lihat saja, Mirza sudah berani pergi tanpa meminta restu dari saya. Jika terkadi apa-apa dengan dia, jangan salahkan saya!”
“Istighfar, Bu. Jika ibu mendoakan yang buruk pada Mas Mirza, apa ibu nggak akan sedih jika hal buruk itu beneran menimpa Mas Mirza?” Sahut Via masih dengan tenang.
“Siapa suruh dia nggak pamitan sama saya?”
“Mas Mirza udah bilang kan sama ibu waktu ketemu di acara Om Jaka? Dan Mas Mirza juga udah nelpon ibu malamnya sebelum pergi sampai berkali-kali tapi nggak ibu angkat, kan?” Ungkap Via.
Bu Een melengos, membuang muka kesal.
“Mas Mirza memang salah karena tak datang pada ibu, tolong dimaafin ya Bu? Tapi itu sama sekali tak mengurangi rasa hormat Mas Mirza pada ibu.” Via mencoba menjelaskan pada ibu mertuanya.
Waktu itu Via memang sudah mengingatkan Mirza untuk pamitan langsung pada Bu Een, tapi Mirza menolak dengan alasan tak ingin mendengarkan kata-kata yang akan menyakiti hatinya dari ibunya yang selalu saja mencoba menggoyahnkan rumah tangganya.
“Kalo gitu saya pamit pulang, Bu.” Ucap Via.
“Pulang aja sana ke ruma kontrakan kamu yang kecil dan jelek itu! lama-lama juga pasti kalian nggak akan betah, pake sok-sokan ninggalin rumah segala!” Cibir Bu Een.
Lagi-lagi Via hanya tersenyum.
“Daripada kamu nganggur di rumah kontrakan kamu yang kecil dan jelek, mendingan kamu bersihin tuh rumah Mirza! Halamannya penuh rumput liar dan sampah daun kering, dan di dalam rumahnya juga pasti debunya udah tebal. Minta kuncinya sama Udin sana, kamu bersihkan besok!” Petintah Bu Een semena-mena pada Via.
“Maaf, Bu. Rumah itu bukan lagi milik Mas Mirza. Semua surat-suratnya kan sudah atas nama ibu? Jadi saya nggak punya kewajiban lagi mengurus rumah itu.” Jawab Via telak yang langsung membuat Bu Een meradang.
“Kamu berani membantah perintah saya?” Bu Een berkacak pingang dengan wajah galaknya.
“Aku nggak membantah, Bu. Aku cuma nggak mau nanti dituduh masih menginginkan harta Mas Mirza kalau masih keluar masuk rumah itu.”
“Kurang ajar! Berani betul kamu ya?” Geram Bu Een.
“Aku dan Mas Mirza sudah cukup bahagia walau hanya tinggal di rumah kontrakan. Ibu boleh kok datang berkunjung ke sana.”
“Nggak sudi!”
“Ya udah, kalo udah nggak ada yang mau ibu bicarakan lagi, saya pamit. Asalamualaikum.” Via mengucap salam dan melangkah keluar.
Bu Een menatap kepergian Via dengan rasa jengkel yang tak karu-karuan, sementara Via sama sekali tak ada beban. Dia bahagia karena bisa menguasai dirinya. Dia segara pulang setelah menyerahkan dua kotak kue yang dibawanya tadi pada Udin yang tentu saja dismabut dengan Sangat bahagia oleh Udin.
________
Hai, Akak .... Terima kasih masih setia ngikutin kisah Via ya…. 🙏😍😍
Mohn maaf bagi akak othor yang belum sempat di feedback ya. 🙏🙏❤️
Pelan-pelan pasti meluncur kok…😉
Masih padat merayap nih kesibukan awal bulan😁😁
Jangan lupa tinggalkan jejak ya Kak…🤩🤩
Luv u all 🤗🤗😘😘
__ADS_1