TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
248 #GODAAN SYAITON


__ADS_3

Hi, readers …


Sesuai janji othor kemarin ya, bab ini kasih slow dulu 😊


Simpan emosinya buat besok, ok😉


❤️❤️❤️❤️❤️


Siang yang cukup terik, Rumi terjaga dari tidurnya. Perutnya terasa perih, rupanya para cacing di dalam ususnya mulai berkoplo ria. Rumi ingat sekitar jam 11 tadi Romlah pamit pulang usai masak dan bersih-bersih. Rumi menggeliat sebentar lantas menyeret langkah keluar kamar. Seperti biasanya, rumah mewah Mirza sepi sejak Azad dan Jane pulang. Rumi menghentikan langkahnya ketika melewati kamar Hanson, ia ingin mengajak kekasihnya makan siang.


“Owh, my gosh!” Rumi melotot demi melihat Hanson pulas bertelanjang dada dan hanya mengenakan kolor ijo. Jiwa tengilnya bergejolak. Menghampiri ranjang dengan senyum nakalnya. “Baby,” mengusap lembut wajah sang kekasih yang ditumbuhi bulu-bulu halus pirang kecoklatan. Kedua matanya mengabsen satu per satu bagian tubuh atletis sang pemuda berkebangsaan Jerman itu. Jemari lentiknya mulai turun ke dada lebar Hanson yang menjanjikan kenyamanan. Perlahan ia pun merebahkan diri di samping Hanson. “Baby,” ulangnya dengan suara lebih mendayu.


Mengerjap sebentar karena merasakan sensasi geli-geli manja pada tubuhnya.


“Astaghfirullah!” sontak bangkit karena mendapati wajah Rumi persis berada di depan wajahnya. “Schatzi, kamu ngapain?” mundur dengan raut kaget.


“Bangunin kamu,” tersenyum tanpa rasa bersalah, malah memajukan badannya membuat Hanson terpojok di head board. “Baby, kamu –“


“Stop, Shcatzi.” Menangkap tangan Rumi yang mulai merayap kembali pada dadanya.


“Kenapa sih? Orang cuman pegang aja masa nggak boleh?”


“Hem, tapi bukan gini caranya. Kamu masuk kamarku tanpa ketuk pintu dulu.”


“Pintunya nggak dikunci kok, ya udah aku masuk aja" Rumi cuek.


Bangkit berusaha menolak degupan jantung yang tak seirama dengan pikirannya.


“Baby, kita makan siang yok.” Memeluk Hanson dari belakang, membuat dua buah benda kenyal menempel di punggung Hanson telak, jantung Hanson berdegup aneh.


“Aku mau mandi dulu, panas banget cuacanya,” berusaha melepaskan diri dari Rumi.


“Ok, aku tungguin.” malah bergelayut manja di lengan kekar Hanson.


“Tunggu di luar aja ok?”


“Emangnya kenapa?”


Mendengus pelan, coba bersabar. “Karena kalo berduaan, yang ketiganya setan.”


Rumi mencebik, “ish, aku bahkan udah pernah liat pisang tandukmu berulang kali.”


Mata Hanson spontan membulat mendengarnya.


“Kan aku yang rutin ngolesin ramuannya Mak Epot setiap hari sampai pisang tandukmu itu sehat dan bisa jadi keras lagi?”


“Schatzi, please” wajah Hanson sudah memerah. “Aku malu mendengarnya. Itu suatu kesalahan, tolong kita jangan mengulanginya lagi” Hanson benar-benar malu. “Sekarang kamu keluar dulu ya, nanti aku susul kalau udah selesai mandi.” Membawa Rumi sedikit paksa untuk keluar dari kamarnya. Menutup dan tak lupa mengunci pintunya.


“Baby, aku masih ingat berapa ukuran panjang dan diameter pisang tandukmu!” Seru Rumi dari luar kamar lalu cekikikan sendiri, seolah merasa puas menjahili kekasihnya.


“Hah! Aku bahkan tak percaya kenapa bisa jatuh cinta pada wanita macam dia.” Ngedumel sendiri lantas segera masuk kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Hanson muncul dengan wajah segar, Rumi menyambutnya dengan senyum lebar lantas memberikan piring yang sudah berisi nasi pada kekasihnya.


“Wow, Romlah masak banyak hari ini” berbinar melihat lauk yang dimasak Romlah sangat komplit.


“Aku juga ikut masak lho,” Rumi mengambilkan pepes jamur untuk Hanson.


“Oya? Bagus dong, itu baru calon istri Ahmad Faza Al-Hanif.”


Hanya tersneyum sekilas lantas mulai menikmati makan siangnya.


“Shcatzi, bagaimana belajarmu dengan Pak Haji?” Tanya Hanson di tengah-tengah mengunyahnya.


"Lancar kok, cuman hari ini libur. Pak Haji lagi ada urusan katanya.”


“Kalau sudah selesai belajarnya, nanti kita langsung nikah ya?” terenyum penuh harap.


“Itu bisa diatur, asalkan kamu mempersiapkan pernikahan mewah untukku” mencomot udang crispy dan memasukkan ke dalam mulutnya.


“Tinggal aku telpon Papa, dia akan segera datang dan kita langsung menikah.”


Berhenti dari kegiatannya memamah biaknya, “aku bilang pernikahan mewah, bukan minta papamu datang kemari.”


“Bukankah papaku juga harus hadir?”


“Terserah kamu deh! Diajak ngomongin apa, jawabnya apa” ketus Rumi sambil sekali lagi mengambil tumis kangkung buatan Romlah yang rasanya endol banget dan bikin nagih.


“Aku punya buku bagus, baru beli kemarin. Judulnya wanita shalihah calon penghuni surga. Kamu mau baca?”


“Ntar aja deh, pake kerudung aja aku belum bener masih mencong kesana kemari.”


“Emang apa hubungannya?”


Rumi mendengus, “please, jangan terus memaksa. Aku lagi belajar pelan-pelan,” menandaskan sisa makan siangnya lantas segera bangkit menyimpan piring kotornya di wastafel meninggalkan Hanson sendirian yang belum selesai dengan ritual pengisian energinya.


Rumi duduk di gazebo halaman belakang rumah Mirza yang luas. Di sana ada pohon mangga yang mulai berbunga, semilir angin menggoyangkan dahan-dahan pohon. Rumi merogoh ponselnya dari saku dressnya, ia memulai chatnya dengan Jane.


-


-


-

__ADS_1


Siang yang sama di tempat yang berbeda, sepasang suami istri tengah diliputi kebahagiaan. Mereka adalah Ramzi dan Sofi, senyum bahagia tak lepas dari wajah mereka karena hari ini buah hati mereka sudah diperbolehkan pulang.


“Kak, kapan kita akan pulang ke Jakarta?” baby Arfan sudah dalam gendongan sofi, mereka sedang menuju parkiran rumah sakit.


“Kita cari waktu yang tepat. Aku nggak mau kamu dan anak kita sampai kelelahan di perjalann nanti,” membukakan pintu mobil untuk Sofi. “Lagi pula, anak kita masih harus check up dulu setelah ini.”


Mengangguk samar, “terserah Kak Ram saja.”


Ramzi melajukan mobilnya menuju hotel, malam ini akan menjadi malam yang panjang dan mengesankan untuk mereka berdua karena mereka akan merawat baby Arfan tanpa bantuan suster. Meski Ramzi sebelumnya sudah mencari tau dari internet bagaimana cara merawat bayi yang lahir prematur di rumah, namun tetap saja hal itu akan menjadi pengalaman tersendiri baginya dan juga Sofi.


“Kak, kamu tidur di sofa aja, aku khawatir badanmu yang besar akan melukai bayi kita” ucap Sofi ketika mereka sudah sampai di kamar hotel.


“Tega sekali kamu Sofia, apa selama ini aku tidur begitu?” memasang raut kecewa.


“Iya, beberapa kali lenganmu yang besar itu membuatku susah bernapas. Kamu hobi banget menaruh tanganu itu di atas dadaku.”


Ramzi tertawa mendengarnya, “itu aku sengaja Sofia, karena aku suka mer*mas dadamu.”


“Kak Ram!” melotot kesal. “jaga bicaramu, bagaimana kalau baby Arfan mendengarnya?”


“Nggak mungkin lah, dia kan masih bayi dan belum mengerti apa yang kita bicarakan.” Terkekeh melihat wajah kesal istrinya.


“Sudah, pokoknya aku mau Kak Ram malam ini tidur di sana!” menunjuk sofa di sudut kamar hotelnya.


“Oke, tapi jangan minta bantuanku kalau baby Arfan rewel nanti malam.” Ramzi setengah mengancam.


Seketika Sofi ragu pada keputusan yang telah dibuatnya, dia belum bisa memasang popok bayi dan membuat susu formula yang benar, meskipun ia sudah mempelajarinya dari internet tapi ia belum terlalu yakin mampu melakukannya sendirian tanpa bantuan seseorang.


“Hem, baiklah. Kau boleh tidur dengan kami.”


“Kalau aku nggak mau, gimana?” Ramzi sok jual mahal.


Seketika Sofi berubah kesal kembali, “Kak Ram tega membiarkan aku kerepotan mengganti popok dan membuatkan susu untuk baby Arfan sendirian dan tak peduli kalo dia nanti menangis karena aku terlalu lama menyelesaikan semua itu?”


“Baiklah, aku tidur dengan kalian” ucap Ramzi memandang Sofi penuh arti. “Tapi nggak gratis, ada syaratnya.”


Mengernyitkan keningnya, “apa?”


Mendekat dan meraih pinggang ramping Sofi merapatkan pada tubuhnya, “masa nifasmu sudah selesai kan?” menyelipkan rambut Sofi yang tergerai pada telinganya.


Mendadak kegugupan menyergap Sofi, wajahnya bersemu merah. Ia berbalik melepaskan diri tak berani menatap suaminya. Ramzi malah memeluk Sofi dari belakang, menaruh dagunya di pundak kanan Sofi. “Malam ini kita akan melakukannya. Sesuatu yang sudah lama kita lewatkan karena keegosian kita masing-masing.”


“Ta-pi b-bagaimana kalau baby Arfan bangun?” Sofi mendadak gagap saking saltingnya.


“Kita bisa melakukannya di sofa, agar anak kita tidak terbangun” berbisik lembut dekat sekali dengan telinga Sofi sampai bulu kuduk Sofi meremang dibuatnya.”Atau di kamar mandi, atau di lantai atau dimana saja, kita explore ruangan ini sampai kita mencapai puncak kenikmatan bersama-sama.”


“K-ak, aku –“


-


-


-


Hari bergulir senja, Rumi sudah sejak tadi masuk ke kamarnya. Hatinya masih agak kesal gara-gara perbincangannya dengan Hanson siang tadi di meja makan. Hanson sendiri tak ambil pusing, ia menyibukkan diri dengan buku-buku bacaannya. Semangatnya untuk memperdalam islam memang layak diacungi jempol, sedangkan Rumi meski sudah beberapa hari belajar langsung pada Haji Bakah tapi belum menunjukkan perubahan yang berarti, padahal ia muslim sejak lahir.


“Heh … “Hanson menghela napas seraya menutup buku tebalnya, matanya sudah lelah membaca. Ia meraih remot TV bermaksud menonton berita sore, namun satu teriakan terdengar dari dalam kamar Rumi. Hanson yang khawatir terjadi sesuatu dengan kekasihnya segera menuju kamar Rumi yang pintunya ternyata tidak tertutup itu.


“Schatzi, kamu kenapa?” mengedar pandang ke penjuru kamar.


“Baby …., aaa…. !!” Rumi berteriak dari dalam kamar mandi.


“Schatzi …!” Panik membuka pintu kamar mandi yang tak terkunci.


“Baby, ada kecoa. Aku takut … “ bergidik jijik seraya menghambur ke pelukan Hanson.


“Mana? Mana kecoanya?”


“Disana!” menunjuk ke sembarang arah namun wajahnya masih terbenam pada dada bidang sang pujaan hati.


“Mana? Nggak mungkin di kamar mandi sebersih ini ada kecoa, Schatzi?”


Perlahan mengangkat wajahnya, senyum jahil terbit di sana. “Memang nggak ada, Baby. Aku cuman ngerjain kamu.”


Terperangah kaget, terlebih lagi ketika menyadari tubuh Rumi hanya berlapis sehelai handuk yang melilit sebatas dada dengan kedua paha mulus yang tersuguh sempurna di depan amtanya.


Glek!


Mati-matian Hanson berusaha menelan salivanya. “Schat –“


“Jangan bilang apa-apa,” menempelkan telunjuk lentiknya pada bibir Hanson. “Aku cuman mau deketan sama kamu kok, itu aja.”


Tak bisa dipungkiri, sebagai laki-laki normal, apalagi mantan play boy durjana, Hanson langsung disergap perasaan nano nano kala ditawari sajian menggoda seperti itu. naluri lelakinya bangkit, sesuatu diantara kedua pangkal pahanya mulai terasa mengeras ketika kedua tangan Rumi melingakar di lehernya dan bibir keduanya mulai bersentuhan, Rumi mel**at lebih dulu, sempat menikmati sejenak sebelum akhirnya Hanson segera tersadar dan melepaskan pagu**n Rumi yang semakin menuntut itu.


“Ah, Schatzi. Nggak boleh begini,” mengusap bibirnya yang basah. “ini nggak benar” menggeleng tegas.


“Kamu itu kenapa sih, Baby? Kita cuman ciuman?”


“Kamu yang kenapa?” menyahut kesal. “Aku menolakmu karena aku menghargaimu sebagai seorang perempuan, lalu kenapa kamu malah menyerahkan dirimu secara tidak terhormat seperti ini?”


Menatap Hanson tak percaya, “tak terhormat katamu? Bukankah kamu bahkan pernah memaksaku untuk melakukannya di apartemenmu?”


“Itu dulu! Keadaannya sekarang berbeda!” Tukas Hanson dengan kekesalan nyaris mencapai ubun-ubun. “Jangan kau ungkit-ungkit lagi masa laluku yang buruk. Cobalah hargai sedikit saja usahaku untuk menjadi pribadi yang lebih baik, Schatzi. Ini semua demi kita.”

__ADS_1


Menggeleng dengan mata penuh kekecewaan, “jangan munafik!”


“Aku hanya nggak mau khilaf! Aku nggak mau mengulangi kesalahan bodohku. Aku nggak ngerti dengan jalan pikiranmu, dulu kamu ngejar-ngejar aku. Setelah aku luluh, aku mengingikanmu, kamu menolakku. Bahkan kamu kabur dan menghindari ku sampai berminggu-minggu. Lalu sekarang kamu hendak menyerahkan begitu saja kehormatan mu!Berulang kali aku mengajakmu menikah tapi kamu selalu ngeles dengan banyak alasan." Menatap penuh kejengkelan. "Shcatzi, sungguh kamu perempuan aneh!


Rumi terdiam, ia kaget menerima rentetan kalimat Hanson. Baru kali ini Hanson semarah itu padanya.


“Kamu yang aneh!” justru kalimat itu yang keluar dari bibir Rumi untuk menutupi rasa malunya. “Aku nggak mau bicara lagi sama kamu!” Melangkah cepat keluar kamar mandi lurus terus sampai keluar kamarnya masih dengan hanya mengenakan handuk putih sebatas dadanya.


Hanson melongo dengan kelakuan Rumi, baru saja dia berjalan beberapa langkah Rumi masuk lagi dengan wajah juteknya.


“Kok jadi aku yang pergi? Harusnya kan kamu yang keluar dari sini?” bertanya dengan wajah be*o. “Kenapa masih disini? Cepet pergi, ini kamarku!” mendorong tubuh Hanson keluar dari kamar.


BRUK!


Rumi membanting pintu dengan keras hingga membuat Hanson terlonjak kaget.


Hanson menghela napas panjang, terlantun doa dalam hatinya agar Tuhan merubah sikap dan sifat kekasih hatinya.


Sore berganti malam, Rumi dan Hanson tak ada yang keluar kamar untuk makan. Malam kian larut, keduanya masih betah menahan lapar hingga malam terganti matahari pagi keduanya masih asyik berdiam-diaman. Hal itu membuat Romlah yang datang setiap pagi bekerja disana merasa heran. Ada apa dengan pasangan kekasih itu. Romlah merasa yakin ada yang tak beres antara Hanson dan Rumi ketika Rumi memintanya mengantarkan sarapan ke kamar.


“Romlah, mau dibawa kemana roti itu?” Tanya Hanson.


“Mau dibawa ke hatiku, eh- maaf, maksud saya mau dibawa ke kamar Nona Rumi, Tuan.” Romlah emang kadang suka salfok kalo udah liat tampang Hanson yang menurutnya macho banget itu.


“Dia minta sarapan di kamar?”


“Iya, Tuan.”


“Ya udah, habis itu aku juga mau dibuatkan roti bakar kayak gitu ya. bawa ke halaman belakang.”


“Baik Tuan.”


Hanson suka sekali dengan halaman Rumah Mirza yang asri dan tertata apik, selera Mirza memang tinggi. Hampir setiap pagi Hanson akan menghabiskan waktu disana, menikamti sinar matahari pagi sambil memandangi ikan-ikan koi yang berenang di kolam dekat gazebo.


“Tuan, ini rotinya.” Romlah muncul membawakan pesanan Hanson.


“Terima kasih.”


“Minumnya Tuan mau teh, susu, atau kopi?”


“Susu aja.”


“Susu putih apa susu coklat?”


“Hem, susu coklat kayaknya enak.”


“Coklat tua apa coklat muda?”


Hanson mengernyit, “coklat muda yang tidak terlalu manis.”


“Muda banget atau muda setengah tua?”


“Romlah, maksud kamu apa sih?” Hanson kesal juga lama-lama,dia kayak lagi diajak main quiz sama si Romlah.


“Kalo muda banget kayak Non Arumi, kalo muda setengah tua kayak saya, hehe …” Romalah cengengesan.


Hanson menahan kesal, kelakuan Romlah emang kadang absurd.


"Terserah kamu!"


Romlah malah tertawa kegirangan melihat Tuannya kesal, dia segera masuk untuk membuatkan segelas susu coklat muda untuk Hanson.Tak berapa lama dia pun kembali.


"Silakan, Tuan"


Hanson menerimanya dan langsung menyereput susu coklat muda yang masih hangat itu.


"Tunggu sebentar," ucapnya pada Romlah yang hendak pergi.


"Ada apa Tuan? apa susunya kurang besar, eeh- maaf, maksud saya apa susunya kurang manis?" Romlah buru-buru meralatnya karena Hanson mendelik tajam.


"Kalo kurang manis, minumnya sambil lihat saya Tuan," bukannya takut, Romlah malah menjahili Tuannya dengan masih cengengesan nggak karuan. Nggak usah heran ya, sama Bu Een aja dia berani apalagi sama Hanson yang sama sekali nggak ada serem-seremnya.


"Romlah, aku mau minta tolong sama kamu," ujar Hanson kemudian.


"Minta tolong apa Tuan? jangan yang susah-susah ya?"


"Aku yakin kamu pasti bisa melakukannya," mengulas senyum tipis dengan raut penuh teka teki.


❤️❤️❤️❤️❤️


kira-kira Hanson mau minta tolong apa ya sama Romlah?? 🤔🤔


Tungguin kelanjutannya ntar ya gais. 😊


kasih like dulu dong biar othor makin lincah ngetiknya 😀😀


komen plis Kak plis .... 😁 othor selalu baca komen kalian satu-satu, walau belum sempat membalasnya. 😂


yang vote mingguannya masih ada, boleh kasih othor ...??😊😊


Terima kasih ya sudah support sampai sejauh ini.🙏🙏❤️❤️❤️


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2