TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
138 #MENDADAK BUCIN


__ADS_3

Via nampak mengantuk menaruh kepalanya di atas lipatan kedua tangannya bertumpu di meja kerjanya. Ya, semenjak ia bekerja, Via mempunyai sebuah meja kerja di kamarnya yang menghadap ke jendela sehingga bisa melihat ke halaman samping rumahnya yang ditumbuhi suplir dan bunga bogenvile beraneka warna yang cukup menyegarkan mata jika penat menyerangnya.


Malam belum juga beranjak terlalu jauh, namun mata Via seperti tak kuat menahan kantuk yang menyerangnya, sementara suara Chris Martin dari laptopnya masih mendayu-dayu seperti sedang menina bobokan dirinya ditambah alunan piano yang seperti musik sempurna pengantar tidur yang menenangkan.


🎶… but the changing of wind,


and the way waters flow


Life as short as the falling of snow


And know I’m gonna miss you I know


When I’m cold, cold ..


In water rolled, salt …


I know that you’re with me


and the way you will show


And you’re with me wherever I go


And you give this feeling, everglow …


Ooh …. Ooh …


What I wouldn’t give for just a moment to hold…


Cause I live for this feeling, this everglow ….


So if you love someone


You should let them know


Oh, the light that you gave me will everglow ….🎶🎵🎶


Drrrrt … Drrrt…


Ponsel Via di samping laptop bergetar tepat setelah alunan merdu piano Chris Martin berhenti. Via sedikit kaget dibuatnya, rasa kantuk yang sempat beberapa saat menyergapnya, terpaksa perlahan buyar. Via ingat Mirza pasti menghubunginya karena dari lepas maghrib tadi Via mengirim pesan pada suaminya untuk menghubungi agak malam saja sebab ia sedang tanggung menyelesaikan bahan prentasi dengan para pihak sponsor yang akan bekerja sama dengan perusahaan Bu Elin besok.


Dengan setengah mengantuk Via langsung menerima panggilan telepon itu.


“Ya, Mas. Halo Assalamuaikum.” Sapa Via dengan agak lemes.


Hening.


“Mas? Halo…?”


Masih hening, belum ada sahutan dari seberang.

__ADS_1


“Mas kok diem aja sih? Halo…! Dengar nggak suara aku?” Via agak kesal. “Nggak usah ngerjain deh! Udah gangguin orang ngantuk, malah diem aja. “ Lanjut Via karena di seberang tak kunjung memberikan jawaban.


“Mas Mirza lagi ngapain sih? Usil banget ih, udah ah aku tutup nih telponnya ya!” Ancam Via makin kesal.


“Ehm, Vi ini aku, Danar.” Sahut suara di seberang dengan nada datar.


WHAAAAATTT????


Sekonyong-konyong mata Via melotot sempurna, kantuknya hilang seketika berlarian tunggang langgang entah kemana, lebih dari itu ia merasa malu dan tak enak hati sekaligus konyol bin oneng banget kenapa tadi main angkat aja teleponnya nggak liat dulu siapa yang nelpon?


Pede banget dikira lakinya yang nelpon! Emang ya, kalo orang lagi ngantuk suka ilang fokus nggak bisa bedain mana tampang suami sendiri mana tampang gebetan, ehhhh…. Maap, maap…. 😁😁😁Duuh, othor kayaknya bakalan kena timpuk pendukungnya Via Mirza nih, hihii….🤭🤭🤭


“Oh, eh.. D-Danar…? Ada apa telpon?” Tanya Via konyol sedikit gelagapan.


“Kamu udah tidur, ya?” Danar malah balik nanya.


“Heum, hampir.”


“Aku cuma mastiin aja kamu nyelesein materi yang aku kasih buat makalah presentasi besok.”


“Oh, udah kok. Tenang aja.” Sahut Via yakin.


“Oke.”


Hening lagi, tak ada yang diucapkan Danar, dan Via masih menunggu karena mungkin masih ada yang ingin Danar sampaikan. Sementara pemutar musik dari laptop sedang mengalun Last Kiss acoustic version by Irwan Feix.


I found the love that I knew I would miss


But now she’s gone,


even though I hold her tight


I lost my love, my life that night🎵🎵


“Vi …, kamu suka lagunya Pearl Jam ya…?” Malah kalimat tanya itu yang meluncur dari Danar.


“Ha, apa?” Via meyakinkan dirinya kalo nggak salah dengar. “Emh, nggak kok. Ini kebetulan aja lagunya pas lagi ini.” Lanjut Via lantas segera mengecilkan volume suara Irwan Felix yang emang kedengaran laki banget.


“Oh …” Hanya itu yang diucapkan Danar selanjutnya.


Dahi Via mengernyit, ini orang kok nggak jelas banget sih?


“Ya udah, maaf udah ganggu. Istirahat ya, biar besok nggak kesiangan.” Ucap Danar.


“Iya, ini juga mau tidur kok.” Sahut Via.


“Jangan lupa besok …”


“Siap! Kita langsung ketemu di lokasi.” Pangkas Via agak jutek.

__ADS_1


“Oke. Selamat istirahat ya.”


KLIK!


Danar mengakhiri sambungannya. Via mendengus kesal, heran deh! Nggak ada kerjaan apa tuh orang malem-malem telpon nggak jelas! Via menggerutu lantas ia ingat pada suaminya, maka buru-buru ia meraih ponselnya kembali untuk menelpon Mirza.


Sementara itu Danar melempar ponselnya ke atas kasur dan mendadak gusar sendiri.


Aduh, Danar! Ngapain juga kamu malem-malem nelponin bini orang? Dasar laki-laki nggak waras! Kalo sampe si Via mikir aneh-aneh terus ngejauhin kamu, kan kamu juga ya repot? Udah bagus kamu bisa kerja bareng dia, keberuntungan berpihak pada kamu! Jangan kamu kacaukan! Dasar bodoh …! Danar juga menggerutu sendiri sambil melihat tampangnya di cermin.


“Apa dia nggak bisa bedain tampang aku sama tampang Mirza?” Danar memiringkan wajahnya ke sisi kanan, sisi kiri beberapa kali dan merasa nggak ada kemiripan sama Mirza. “Via kayaknya ngantuk berat tadi, pantesan aja nggak liat tampang aku di layar ponselnya. Hemm... kasian dia, lagi ngantuk malah terganggu. Tapi aku seneng juga dipanggil Mas sama dia. Ah… seandainya saja dia juga manggil aku Mas.” Danas tersenyum menatap pantulan wajahnya sendiri di depan cermin.


“Mas Danar, manis banget kedengarannya.”


“Astaghfirullah! Apa-apaan sih aku ini!” Danar terperanjat sendiri seraya beristighfar. “Ingat Danar, dia itu istri orang!”


Danar kesal dengan dirinya sendiri. Ia membanting tubuhnya ke atas kasur menatap langit-langit kamar, pikirannya entah kemana, yang jelas ia sekarang sedang berusaha mensugesti dirinya sendiri agar jangan terlalu baper. Di raihnya lagi ponsel yang tergeletak di sisinya untuk menyetel alarm agar tak kesiangan bangun. Selalah itu dia iseng membuka pesan yang sedari sore tadi belum sempat dibacanya. Beberapa pesan masuk dari Ari yang mengabarkan keadaan kedai yang mulai sepi pengunjung. Ari memintanya untuk sesekali mengunjungi kedai kopi disela kesibukan Danar.


Insaya Allah lusa aku kesana, Ri. Tolong dihandle dulu ya.


Send!


Danar mengirimkan pesan balasan untuk Ari.


Jari Danar kini bernggeser pada kotak gallery foto di ponselnya. Satu foto membuat matanya terpaku, disentuhnya layar ponselnya perlahan. Senyuman kecil terbit dibibir Danar memandangi satu foto yang diambilnya beberapa hari yang lalu secara canded itu.



"Selamat tidur, Vi ..."


❤️❤️❤️❤️❤️


Eaaaa…… gitu deh Babang Danar, lagi bucin sendiri… wkwkwkkk🤭🤭🤭


Kalo sampe bener-bener kejadian mereka berdua main hati di belakang Mirza, siapa tuh yang salah?😅😅😅 Yang jelas pasti otornya ya… hahaha…🤣🤣🤣


Udah ah, mau ngumpet dulu takut kena timpuk readers pendukung Via ❤️ Mirza


😁😁😁😁


Santuy ya kakak … Jangan teralalu baper, ini lagi partnya Via Danar dulu😂😂


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏🙏


Mohon maaf akak othor yang belum difeedback ya, slowly but sure meluncur... 😊😊


Selalu duukung othor dengan like, komen, rate 5 dan vote ya.🤩🤩


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2