TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
215 #TAMUNYA TERNYATA ADALAH ...


__ADS_3

WARNING!


Part ini bikin emosi, tekanan darah tinggi dan misuh-misuh nggak karuan!😂


Baca alon-alon ya, jangan lupa tarik nafas dalam-dalam dan perbanyak istighfar.😇


Othor siap menerima semua omelan kekesalan readers, karena itu tanda cinta dari kalian semua untuk othor awut-awutan ini 😘


❤️❤️❤️❤️❤️


Tiga puluh menit kemudian Mirza sampai di kampung Suka Tresna, mobilnya berbelok memasuki halaman rumah ibunya. Benaknya yang sedari tadi dipenuhi tanya kini semakin disergap rasa penasaran manakala melihat sebuah mobil juga sudah terparkir di halaman rumah ibunya. Agak ragu Mirza turun dan melangkah menuju pintu rumah yang sudah terbuka. Samar-samar dia mendengar seperti ada suara orang mengobrol di dalam.


Deg deg


Dengan degupan jantung berirama lebih kencang, Mirza terus melangkah menuju ruang tengah.


“Za? Akhirnya kamu datang juga?” Bu Een menyambut dengan senyum sumringah.


Seseorang yang menjadi teman ngobrol ibunya, yang duduk membelakanginya berbalik menatap kedatangan Mirza.


JENGJENG


Andai kedua mata Mirza bukan ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna, mungkin sudah copot dan menggeliding ke lantai saking kagetnya melihat siapa orang yang kini berada di depannya.


“Kamu …”


“Halo, Za. Apa kabar?” Berdiri mengulas senyum pada Mirza yang tak bisa menyembunyikan kekagetannya yang luar biasa.


“Maaf kalo kedatanganku mengejutkanmu.”


“Mau apa kamu datang lagi kesini?” Tanya Mirza dingin.


“Za, Sofi hanya …”


“Ibu, diam!” Sergah Mirza pada ibunya dengan tatapan angker. “Kau! Wanita tak tau malu perusak rumah tangga orang berani-beraninya datang lagi kesini!”


“Mirza!” Terpincang-pincang Bu Een datang mendekati putranya. “Kamu nggak sadar bicara seperti itu? dia juga datang dalam kehidupanmu gara-gara kesalahanmu!”


“Ya aku memang salah, Bu. aku mengaku salah. Tapi bukan berarti dia bisa datang lagi seenaknya merusak lagi rumah tanggaku dengan Via yang sudah membaik!” Mirza selalu saja tak bisa mengendalikan emosinya jika bicara tentang Sofi.


“Mirza kamu nggak lihat Sofi sedang hamil?” Memandang Sofi yang berperut buncit tertunduk dalam menekuri lantai.


Mirza tersenyum sinis. “Terus kalo dia lagi hamil kenapa, Bu? jangan bilang dia hamil anak aku!”


Bu Een menyentuh pundak Sofi. “Sofi …”

__ADS_1


Kedua mata indah bola pingpong nampak berembun membalas tatapan Bu Een. Tak ada sepatah kata pun yang dikeluarkan dari bibirnya.


“Ibu berharap itu anak aku?” Sekali lagi senyum sinis diperlihatkan Mirza. “Apa ibu nggak bisa menghitung kapan dia pergi meninggalkan rumah ibu saat dijemput oleh adiknya? Sudah berapa lama itu terjadi, Bu? Apa ibu melupakannya? Hari dimana dia bersedia pergi dan pura-pura membuatkan opor ayam makanan kesukaanku dengan dalih untuk meminta maaf lalu dia datang ke rumahku memaksaku dan Via makan masakannya. Ibu tau apa yang terjadi setelahnya?” Jeda sebentar untuk memastikan reaksi sang ibunda yang tak bergeming sama sekali. “Biar aku ingatkan kalo ibu lupa, ibu masuk klinik gara-gara makan opor ayam itu.” Beralih pada Sofi yang memudar pias. “Aku yakin dia juga pasti menderita sepanjang perjalanannya. Tapi aku takjub Tuhan masih membiarkannya selamat dari ulahnya sendiri."


“Mirza, tak pantas kamu bilang seperti itu. apa nggak ada rasa kasihan dalam hatimu sedikit saja buat Sofi?”


“Nggak ada! Dan nggak akan pernah ada. Ibu jangan coba-coba memaksaku lagi.” Tegas Mirza.


“Kamu benar-benar nggak punya persaan, Za.”


Mirza tak menanggapi, ia menantang mendekati Sofi. “Katakan, anak siapa yang ada dalam kandunganmu!”


Bu Een ikut menunggu jawaban sofi dengan cemas sementara Sofi masih terdiam dengan kedua tangan mengusap perut buncitnya.


“Kamu nggak mau bilang? Berarti benar kamu datang kesini untuk merusak kembali rumah tanggaku dengan menggunakan bayi yang ada dalam kandunganmu itu. Sayang sekali, aku nggak akan terjebak untuk yang kedua kalinya.” Memutar langkah karena Sofi tak kunjung bicara.


“Za, tunggu!” Palan Sofi menghampiri. “Bayi ini-“ menatap punggung Mirza yang kokoh, lelaki itu sama sekali sudah tak memeliki rasa iba sedikitpun padanya.


“Bayi itu anak siapa, sofi?” Bu Een tak sabaran.


“Bayi ini anak suamiku, Bu.”


Berbalik menghunus tatapan tajam. “Ibu dengar sendiri, bukan?”


“Lalu bayi yang kamu kandung buah cintamu dengan Mirza?” Bu Een menuntut pejelasan.


“Sofi cepat bilang, bayi itu kau kemanakan?” Tak menaggapi perkataan tajam Mirza.


Jika ada pilihan berterus terang atau nyemplung di kolam yang dipenuhi buaya lapar, mungkin saat ini Sofi akan lebih memilih nyemplung saja di kolam yang dipenuhi para buaya kelaparan. Berat hatinya untuk mengakui semua salah dan siasat busuknya dimasa lalu. Kini ibu dan anak di depannya menuntut penjelasan yang tak ingin ia ungkapkan. Air bening luruh di kedua pipi mulusnya, jemarinya terasa dingin dengan tubuh yang mulai bergetar. Kebimbangan masih mendera batinnya. Sekiranya pelariannya tak menyadarkannya dari semua tingkah bodohnya selama ini, Sofi tak akan mampu untuk membuka mulutnya untuk berterus terang.


“Aku mohon kalian mau memaafkanku.” Pelan kalimat itu meluncur dari wajah yang tertunduk dalam. “Bayi itu benih dari mantan pacarku yang dulu.”


Mirza tak begitu kaget mendengar pengakuan Sofi, berbeda dengan Bu Een yang nampak sangat shock. Ia memundurkan dirinya dan terduduk di sofa. Oleng kayaknya dia!


“Sekarang sudah jelas semuanya. Jadi sudah tak ada alasan lagi kamu berada di rumah ini. Pergi kamu dari sini!” Usir Mirza dingin tanpa sudi melihat wajah Sofi.


Sofi melihat pada Bu Een yang masih berusaha menguasai dirinya, belum percaya benar dia dengan apa yang barusan didengarnya dari Sofi. Usahanya mati-matian untuk menyatukan Sofi dengan Mirza dulu karena yakin Sofi mengandung anak Mirza ternayata hal yang sangat konyol. Dia membela bayi yang bukan darah daging dari anaknya.


“Bu …” lirih Sofi mendekat.


“Apa kamu nggak denger aku bicara?” Hardik Mirza sebelum Sofi mempengaruhi ibunya lagi. “Jangan menungguku bertindak kasar padamu. Cepat pergi dari sini, pergi!”


“Ibu aku mohon …” Sofi bersimpuh memegangi kedua kaki Bu Een. “Aku minta maaf atas semua kesalahanku. Tolong ijinkan aku tinggal disini, Bu. Aku butuh tempat tinggal untuk melahirkan bayiku..” Tumpah sudah semua air mata Sofi tak terbendung lagi.


“Kamu pikir disini tempat penangkaran? Enak saja mau numpang ngelahirin disini!” Sarkas Mirza. “Jangan kamu menambah masalah lagi, kami sudah tenang tanpa kehadiranmu. Lebih baik kamu cepat pergi dari sini!”

__ADS_1


Sofi kekeh, ia masih bersimpuh penuh permohonan. “Aku janji Bu, setelah ini aku nggak akan mengganggu kalian lagi. Aku harus melahirkan bayi ini disini, aku nggak mau hal buruk menimpanya karena orang-orang jahat yang akan memisahkan kami kelak.”


“Ck, sandiwara apa lagi yang sedang kamu perankan?” Mirza berdecak jengkel, diraihnya lengan Sofi. “Bangun! Pergi dari sini!”


Bukannya pergi Sofi malah beralih memegangi kedua kaki Mirza. “Za, aku mohon sama kamu. Maafkan aku. Aku tahu aku bersalah padamu, pada istrimu. Tapi tolong beri aku kesempatan kali ini. Ijinkan aku tinggal disini, Za. Aku nggak tau harus pergi kemana lagi. Hanya disini aku dan bayiku bisa aman, karena ayah dari bayi ini sangat jahat. Dia akan mengambil bayiku, aku mohon Za ….”


“Kamu pikir aku percaya dengan cerita bualanmu itu?” Mirza menarik kakinya kasar.


“Aku bersumpah aku nggak ngarang cerita. Aku nggak bohong! Kamu harus percaya aku.” Tangis Sofi semakin memilukan, namun hati Mirza sudah teramat beku untuknya. “Tolong biarkan aku tinggal di sini, aku mohon …”


“Jangan mengiba pada orang yang sudah tak sudi mengasihanimu.” Sinis Mirza. “Sampai kapan pun aku nggak akan memberikanmu kesempatan. Kamu itu duri dalam rumah tanggaku. Dan duri itu harus disingkiran, bukan dipelihara.”


Sofi sudah teramat biasa dengan penolakan dan perlakuan kasar Mirza padanya. Hatinya sudah kebal, tekadnya sekuat baja. Ia tidak akan menyerah begitu saja, Mirza yang menyadari hal itu tak ingin rumah tangganya hancur untuk yang kedua kalinya.


“Aku harap ibu bersikap tegas padanya.” Tajam Mirza pada ibunya. “Jika ibu membiarkannya tetap tinggal disini, maka selamanya aku tak akan menginjakkan kaki ke rumah ini lagi.” Pergi memutar langkah tanpa menunggu jawaban sang ibu.


Dilema kini merajai hati Bu Een. Tak ingin menerima Sofi begitu saja kerena terbayang semua pengorbananya yang sia-sia selama ini membelanya untuk menjadikannya istri Mirza, ditambah lagi rasa jengkelnya kala itu yang harus mendapat serangan diare tak berkesudahan sepajang hari sampai harus dilarikan ke klinik dokter Burhan gegera tak tahan bolak balik kamar mandi terus sehingga terpaksa dia menelan semua obat mencret yang ada di tokonya.(Yang belum baca, monggo naik ke bab MONCOR 😁😁).


Menjengkelkan memang semua itu. usahanya terasa nol besar saat semua pengorbanannya ternyata dibayar Sofi dengan Zonk! Anak yang ada dalam kandungan Sofi kala itu bukan anak Mirza. Tega sekali Sofi membohonginya dengan semua perlakuan manisnya. Namun Bu Een tetaplah Bu Een yang masih setia dengan segala watak keras dan culasnya yang sudah mendarah daging bahkan sampai meresap ke dalam sumsum. Jika dulu usahanya untuk memisahkan Mirza dari Via tak berhasil, mungkin saatnya ini untuk mencobanya lagi meski ia sadar betul dengan keadaan Sofi yang tengah hamil besar tapi tak masalah. Ia akan mengaturnya nanti.


“Apa kamu benar-benar ingin tinggal disini?” Lirih Bu Een menatap Sofi yang masih terduduk di lantai.


Bagaikan mendapat setetes air di tengah gurun pasir, Sofi menyambut pertanyaan itu dengan anggukan kepala yakin. “Iya Bu. tolong berikan aku tempat untuk bernaung.” Bangkit duduk di sebalah Bu Een.


“Aku mangijinkannya tapi tidak cuma-cuma.” Memandang dengan rona tak terbaca.


“Apapun yang ibu minta, katakan saja. Aku akan memenuhinya.” Sofi antusias. “Apa hadiah yang aku bawakan tadi kurang? Ibu ingin apa, emas? Intan? Berlian?”


Senyum samar menghias wajah keriput Bu Een. “Bukan itu. kamu akan mengetahuinya nanti.” Bangkit perlahan. “Sekarang istirahatlah saja dulu di kamar depan.” Titah Bu Een kemudian ia sendiri menuju kamarnya menyimpan semua barang-barang yang dibawakan Sofi ke dalam lemarinya.


Meski masih penasaran dengan maksud Bu Een, namun Sofi teramat gembira mendapatkan ijin dari Bu Een untuk tinggal di rumahnya. Ia pun segera menuju kamar depan, kamar yang dulu ditempati Om Jaka, Sofi ingin mengistirahatkan tubuhnya yang teramat lelah setelah jauh berkendara dari ibu kota.


❤️❤️❤️❤️❤️


Kelanjutannya nanti ya, moga bisa up lagi agak sorean nanti. Othor mau nyuci dulu besih-bersih mumpung hari minggu….😁😁


Salam sayang buat kalian semua yang udah baca sampe part sejauh ini😍😍


Sehat-sehat semuanya ya, have a nice Sunday❤️


I love u all🤗🤗🤗😘😘😘


Eeh satu lagi,


bonus visual simbok Een 😄

__ADS_1


Biar nggak lupa sama wajahnya yang sangat menggemaskan😆😆



__ADS_2