
“A - apa? Calon istrinya Mirza?” Bu Een ternganga kaget campur bingung.
“Iya, dan sekarang saya sedang mengandung anak Mirza.” Lanjut Sofi sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Bu Een merasa baru saja disengat segerombolan lebah mendengar kalimat terakhir Sofi. Wajahnya pias lantas melihat pada Om Jaka meminta penjelasan. Om Jaka tampak frustasi karena tak berhasil mencegah Sofi. Sementara Udin tak kalah kagetnya.
“Sebaiknya kita bicarakan di dalam.” Ucap Om Jaka akhirnya mengajak Bu Een dan Sofi masuk meninggalkan Udin dengan keheranannya.
“Kamu nggak lagi berguraukan.” Bu Een tak bisa menahan rasa penasarannya.
“Sama sekali tidak, Bu.” Jawab Sofi mantap.
“Jaka, apa maksudnya ini? Apa benar yang dia katakan? Kamu pasti tau sesuatu kan?” Bu Een kali ini mencecar Om Jaka.
Om Jaka diam seribu bahasa, mulutnya yang biasanya pandai berseloroh kini tak mampu berkata-kata.
“Jangan bertanya pada Om Jaka, Bu. Karena saya sendiri yang mengalaminya." Tukas Sofi karena melihat Om Jaka masih diam.
Sofi lalu menceritakan kejadian yang dialaminya dari mulai awal pertemuannya dengan Mirza hingga kejadian kemarin yang membuatnya harus dibawa ke rumah sakit, tak lupa pula ia tambahkan isak tangis menyayat hati yang langsung membuat Bu Een bersimpati.
Bu Een menggeser duduknya mendekati Sofi. “Maafkan anak saya. Jika benar yang kamu ceritakan seperti itu maka Mirza harus mempertanggungjawabkannya.” Ucap Bu Een mengusap lengan Sofi.
“Tapi Mirza sangat membenci saya, Bu. Dia tetap tidak mau bertanggung jawab.” Lirih Sofi ditengah tangisnya.
Bu Een melihat pada Om Jaka yang diam tanpa ekspresi.
“Kamu sebaiknya tinggal di sini dulu.” Putus Bu Een.
Sofi langsung mengangkat wajahnya menatap Bu Een haru. “Ibu mau menerima saya?” Tanyanya ragu.
Bu Een mengangguk. “Saya akan cari jalan keluarnya. Sekarang kamu istirahat dulu ya. Kamu pasti lelah. Perempuan yang hamil muda harus banyak istirahat.” Bu Een mengajak Sofi ke kamar Mirza.
“Ini kamar Mirza waktu masih bujangan, tapi dia juga sering tidur di kamar ini kalo ad nginep di sini.” Papar Bu Een membuka pintu kamar Mirza.
Sofi menatap kamar bercat kuning gading yang tak terlalu luas itu.
“Istirahatlah, kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan panggil saya, Ya.” Ucap Bu Een penuh perhatian.
“Maaf sudah merepotkan Ibu.”
Bu Een menggeleng saraya tersenyum. “Sama sekali nggak merepotkan.
KREB!
Pintu kamar Mirza di tutup Bu Een untuk membiarkan Sofi istirahat.
Yess!
Sofi bersorak kegirangan dalam hati.
Ternyata mudah banget menaklukkan hati ibunya Mirza. Wanita tua cerewet dan galak itu ternyata gampang melo juga hatinya.
Sofi cekikikan sendiri namun langsung menutup mulutnya begitu ia sadar sedang berada dimana karena takut Bu Een dan Om Jaka mendengarnya. Sofi lantas membanting tubuhnya di atas kasur busa kamar Mirza. Sofi mencium aroma yang ia kenal pada bantal guling di sampingnya.
Sofi memeluk guling itu erat dan menghirup lebih dalam lagi aroma wangi yang tak asing baginya itu seraya memejamkan matanya.
“Mirza, sebentar lagi kamu akan jadi milikku.” Desah Sofi.
________________
“Jadi dia berada di luar kota?” Tanya Ramzi pada dua orang suruhannya yang baru saja memberikan informasi tentang keberadaan Sofi.
“Benar Tuan, dia pergi kemarin diantar adiknya.”
Gigi Ramzi gemelutuk mendengarnya.
“Jangan sebut namaku Ramzi Alatas kalau tak mampu membawamu kembali.” Desis Ramzi lantas segera pergi meninggakan dua orang kepercayaannya dengan langkah-langkah lebar.
Ramzi melajukan mobilnya menuju kantor keluarga Husein. Tuan Husein dan Azad cukup terkejut mendapat kunjungan mendadak dari Ramzi.
“Nak, Ram. Kenapa datang tidak memberi kabar dulu?” Sambut Tuan Husein.
“Maaf, Paman. Saya ada perlu dengan Azad.” Sahut Ramzi langsung pada tujuannya.
Azad merasa heran, namun dia langsung khawatir mengingat kemarin dia baru saja pergi mengantar Kakaknya.
__ADS_1
“Duduklah dulu, Nak Ram. Saya akan mintakan kopi untukmu.” Tawar Tuan Husein.
“Tidak perlu Paman, saya ingin mengajak Azad keluar. Ada yang ingin saya bicarakan dengannya.”
Ramzi berjalan keluar diikuti Azad yang mengekor dibelakangnya. Sesampainya di parkiran dan mereka duduk berdua di dalam mobil Ramzi yang nyaman, Azad langsung memasang sabuk pengaman.
“Kita mau kemana, Kak Ram?” Tanya Azad.
“Kita nggak mau kemana-mana.” Sahut Ramzi tajam. “Kemana kamu antar Sofi kemarin?” Todong Ramzi langsung.
Serta merta Azad menelan salivanya, ia tak mengira Ramzi akan bertanya langsung seperti ini. Azad tak tau Ramzi sudah banyak kehabisan kata sabar dalam kamus hidupnya untuk memaklumi Sofi.
“Kak Ram, aku …”
“Ke kota mana kamu membawanya? Apa yang dia lakukan di sana? Apa dia menemui laki-laki yang telah menghamilinya?”
BLAR!
Azad sangat kaget mendengar kalimat terakhir Ramzi.
“Apa maksud Kak Ram?” Tanya azad dengan raut tak percaya.
“Jadi kau belum tau?” Sinis Ramzi. “Kakak kesayanganmu itu sudah terang-terangan menginjak-injak harga diriku. Dia aku beri kesempatan selama bertahun-tahun untuk mengejar hidup yang dia inginkan, tapi pada saat tiba waktunya aku akan menikahinya, dia malah telah menyerahkan dirinya dengan hina pada laki-laki lain.” Ungkap Ramzi geram menahan amarahnya.
Azad masih coba mencerna setiap kalimat yang Ramzi ucapkan. Ternyata ini jawaban dari sikap kakaknya yang belakangan selalu sedih dan banyak melamun.
“Aku menginginkan Sofi kembali dan tetap menikah denganku, karena aku tak mungkin mencoreng nama baik keluarga besarku. Kau tentu paham apa maksudku, kan?” Nada kalimat Ramzi penuh penekanan.
Azad mengangguk samar. Dia memang pernah menyarankan pada kakaknya agar jangan memaksakan diri untuk menikah dengan Ramzi jika memang tak mencintainya, namun sungguh tak mengira jika Kakaknya tengah hamil. Azad membayangkan bagaimana jika orang tuanya sampai tau hal itu.
“Dengarkan aku baik-baik, kamu dan keluargamu aku beri dua pilihan. Bawa Sofi kembali kemari atau …” Ramzi sengaja tak melanjutkan kalimatnya, dia tersenyum sinis pada Azad.
“Atau apa Kak Ram?” kejar Azad.
“Kalian bayar semua uang yang telah aku keluarkan untuk menyokong bisnis kalian yang sekarat itu!”
__________________
“Telpon Mirza suruh ke sini.” Perintah Bu Een pada Om Jaka.
“Untuk apa, Yu? Mirza dan Via baru saja baikan setelah kedatangan Sofi kemarin.”
“Ck ah, sampean itu jangan terlalu cepat mengambil keputusan. Sampean hanya mendengarkan penjelasan dari Sofi dan sampean nggak tau kejadian sebenarnya.”
“Masudmu apa? Sudah jelas-jelas Sofi hamil anak Mirza. Itu berarti bayi yang dikandung Sofi adalah calon cucuku.” Bu Een mulai kekeh dan terus memaksa Jaka. “Kamu yang telpon atau aku sendiri?”
Om Jaka gemas bukan main.
“Yakin banget sampean Yu kalo Sofi hamil anaknya Mirza?”
“Loh, kamu sendiri tadi nggak menyangkalnya kan waktu Sofi bilang begitu?” Bu Een ngeyel.
Om Jaka ingin menjelaskan seperti apa kehidupan Sofi sebenarnya, namun dia rasa Mirza lebih pantas untuk menyampaikannya sendiri.
“Oke, silakan sampean saja yang telpon Mirza. Tapi jangan bilang ada Sofi disini, dia pasti nggak mau dateng.”
Bu Een merogoh ponsel dari dalam tas yang sedari tadi masih nemplok di pundaknya. Beberapa saat menunggu, namun tak juga ada jawaban.
“Nggak diangkat, kemana sih ni anak?” Bu Een jengkel.
“Kan tadi udah gue bilang, Mirza baru aja baikan sama Via. Pastinya mereka lagi uwiw-uwiw lah, sampean ini ganggu aja!” Cibir Om Jaka kesal.
Tak kurang akal, Bu Een dengan lincah mengetik pesan untuk Mirza memintanya segera ke rumahnya dengan alasan butuh bantuan Mirza.
Namun pesan itu jangankan dibalas, dibaca pun nggak.
“Aku harus ke sana sendiri.” Bu Een bangkit.
“Eh, nggak usah, Yu!” Sergah Om Jaka menarik ujung kerudung Bu Een.
“Duh, kamu ini apa-apaan sih, Jak? Main tarik aja!”
“Gue bilang sampean nggak usah ke sana, bisa tambah runyam yang ada urusannya. Percaya ama gue, Yu.” Om Jaka berusaha meyakinkan.
Bu Een mendengus gusar. Om Jaka memperhatikan kakaknya nggak habis pikir.
__ADS_1
“Heran gue Yu, si Mirza buntingin anak orang kok sampean langsung semangat gitu mau nikahin Mirza sama perempuan yang bahkan sampean sendiri nggak mengenalnya dengan baik .” Sinis Om Jaka.
Bu Een diem aja nggak menyahut.
“Harusnya sempean itu kasihan sama Via.”
“Kasihan katamu? Dia itu sudah hampir lima tahun jadi istrinya Mirza, sampe sekarang belum hamil juga, bagusnya Mirza bisa mengahmili perempuan lain, setidaknya itu membuktikan kalo dia bukan laki-laki mandul.”
“Astaghfirullah, Yu!” Om Jaka setengah berteriak kaget mendengar penuturan kakaknya itu.
“Dan kalau sudah begini, sudah pasti si Via itu yang mandul.”
“Cukup, Yu. Nyebut samepan itu, jangan keterlaluan.” Om Jaka memperingatkan tapi Bu Een cuek aja.
Perdebatan di ruang tamu itu samar-samar didengar Sofi yang tengah menikmati suasana kamar Mirza. Pelan-pelan dia membuka pintu kamar dan coba menguping dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
“Sudahlah, Jak. Ngapain juga kamu belain si Via.”
“Aku bukan belain siapa-siapa, cuman kan dia masih sah jadi menantumu, Yu. Nggak baik kalo sampean bicara yag buruk tentang dia.”
“Mungkin sebentar lagi dia akan jadi bekas mantuku.” Sahut Bu Een santai.
“Sudah gila, sampean Yu!” Om Jaka kesal beneran lama-lama. “Mirza nggak akan pernah menceraikan Via."
“Ya kita liat aja nanti Jak, Mirza bakal milih istrinya apa ibunya.”
“Maksud sampean apa, Yu?”
Bu Een tak menjawab, dia mengeluarkan kipas lipat kesayangannya yang berotif bunga sakura dari dalam tasnya lantas mengipas-ngipaskan di depan wajahnya, lagaknya asli bikin Om Jaka pingin ngarungin kakaknya itu kalo aja nggak takut dibilang adik durhaka.
Dari balik pintu kamar Mirza Sofi tersenyum puas, dia merasa telah mendapatkan dukungan penuh dari Bu Een.
“Wow! Ini baru namanya dream comes true.” Lirihnya sambil menutup pintu kamar kembali.
"Sebaiknya hati-hati sampean kalo bicara, Yu."
Om Jaka kali ini udah rada nggak jengkel lagi. dia sadar nggak ada gunanya ngadepin kakaknya pake urat, yang ada malah bikin darah tinggi.
"Mirza dan Via itu saling mencintai, jangan sampean bikin kisruh rumah tangga mereka hanya karena udah ngebet banget pingin punya cucu." Lanjut Om Jaka.
"Nggak ngebet-ngebet banget kok, biasa aja." Kilah Bu cuek.
"Lha itu apa namanya kalo bukan ngebet, main mau kawinin aja si Mirza ama Sofi begitu tau Sofi hamil?"
Bu Een melengos.
"Lagian perkara Mirza ini adalah sebuah aib, Yu. Jadi jangan buru-buru ngambil keputusan."
"Justru karena aib itu makanya mereka harus cepet-cepet dinikahin sebelum perut Sofi makin besar." Bu Een ngotot.
Bu Een dan Om Jaka lantas saling diam untuk beberapa lama. Mereka hanyut dalam pikiran mading-masing.
"Sebenernya selama ini aku nyimpen suatu ketakutan pada Mirza, Jak." Ucap Bu Een kemudian.
"Maksudnya?"
"Iya, aku takut Mirza itu kayak kamu. Kamu itu kan sudah belasan tahun nikah sama almarhumah istri kamu tapi nggak punya anak."
"Astaga, Yu. Jadi sampean mengira aku ini laki-laki mandul?" Om Jaka tak mengira dengan anggapan kakaknya selama ini.
"Ya aku nggak bilang gitu, Jak. Tapi kan nyatanya?"
"Ya ampun, Yu ... Yu ... " Om Jaka tersenyum kecut. "Apa perlu gue juga harus buntingin anak orang dulu biar terbukti gue ini laki-laki perkasa?"
"Anak kambing juga belum tentu mau Jak, kamu buntingin!"
"Samber gledek! Kira-kira Yu, kalo ngomong!" Om Jaka terperanjat kaget.
___________
bersambung ☺️
Hmm, kira-kira Mirza lagi ngapain yaa sampe nggak angkat telpon. dan bales pesan ibunya?
Tungguin ya kelanjutannya, Kak.... 😉😉
__ADS_1
Makasih yang udah setia author sampe sejauh ini 🙏🙏🙏❤️❤️❤️
Like, komen, rate 5 dan votenya jangan lupa ya, Kak ☺️☺️❤️❤️😘😘🌹❤️❤️😘🤗🤗😍😍🤩🤩🤩🤩🤩