
Angin musim kemarau bertiup dingin pagi ini, namun itu tak meyurutkan keinginan Sofi untuk menemui buah hatinya. Sejak semalaman perasaan rindu mendera batinnya, sudah dua minggu lebih ia berada di rumah sakit dan dia sama sekali belum melihat rupa malaikat kecilnya.
“Hati-hati, Sayang.” Ramzi membantu Sofi duduk di kursi roda. “Apa kamu nggak mau ke kamar mandi dulu?
Menggeleng dengan tatatap sayu. “Aku ingin cepat bertemu anakku.”
“Baiklah, tapi kita bilang dulu sama suster ya?”
“Aku sudah sehat, Kak.” Sedikit menekan nada kalimatnya membuat Ramzi tak tega, lantas segera mendorong kursi roda keluar kamar.
Sinar terang matahari pagi langsung menyambut begitu pintu kamar Sofi terbuka. Ini kali pertama Sofi bertemu matahari sejak terbaring lemah pasca melahirkan. Kedua netranya menyesuaikan dengan cahaya, lantas pandangannya bertumpu pada taman kecil tak jauh dari kamar perawatannya.
“Kak, aku ingin menggendong bayiku ke sana.”
“Mengusap lembut bahu istrinya. “Nanti kamu pasti bisa melakukannya.”
“Matahari pagi bagus untuk bayi yang baru lahir kan?”
Ramzi hanya mengangguk, ia tak ingin memberitahukan keadaan yang sebenarnya soal bayi mereka. Biarlah dokter sendiri yang mengatakannya, Ramzi tak ingin membuat Sofi yang baru saja pulih menjadi sedih. Mereka berdua kini sedang menuju ruang NICU.
“Kak, bukannya ruang bayi ke arah sana?” Menoleh pada sang suami yang tengah mendorong kusris rodanya.
“Bayi kita berada di ruangan lain.” Ramzi mengabaikan tanda penunjuk arah yang baru saja dilewatinya. Ia melanjutkan langkah menyusuri lorong berpapasan dengan beberapa perawat yang mulai dengan kesibukannya.
Langkah-langkah lebar dan tegesa datang dari arah berlawanan, Ramzi berhenti ketika melihat Mirza dari kejauhan. Mereka bertemu namun tak saling menyapa, Mirza gegas menuju ruang dokter Leonard karena mendapat kabar soal rencana operasi kedua ibunya.
“Nyonya Sofia?” Suara seorang perawat menyadarkan mereka berdua yang masih menatap punggung Mirza menjauh.
“Suster, istri saya ingin melihat bayinya.” Balas Ramzi.
Suster itu tersenyum, “mari saya bantu.” Berniat menggantikan Ramzi mendorong kursi roda Sofi.
“Biar saya saja, Sus.” Tolak Ramzi halus.
Mereka tiba di depan ruang NICU, suster memberitahukan bahwa mereka belum diijinkan untuk melihat secara langsung buah hati mereka. Suster yang bernama Ines itu lantas mensterilkan diri kemudian masuk ruangan. Ia nampak mendorong incubator yang terhubung dengan beberapa alat medis yang melekat pada incubator itu lebih mendekat pada kaca ruangan yang lebar. Sofi dan Ramzi memperhatikan dari luar ruangan lewat kaca itu.
Seseosok bayi mungil, lebih mungil dari ukuran bayi biasanya terbaring pulas dengan beberapa selang medis pada tubuhnya. Dokter belum mengijinkan bayi itu untuk dipertemukan secara langsung pada orang tuanya, oleh sebab itu suster hanya membawanya ke dekat kaca agar Ramzi dan sofi dapat melihatnya. Nampak sepasang kaki mungil telanjang yang kemerahan dengan kulit keriput membalut tulang-tulang kecilnya. Sebagai seorang ibu, hati Sofi bagai teriris menyaksikan pemandangan di depannya. Naluri keibuannya terkoyak melihat sang buah hati terbaring lemah dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Buliran bening segera meluncur turun membasahi kedua pipinya.
“Kak, aku ingin menyentuhnya.” Isaknya pilu.
Berjongkok di sisi kursi roda sang istri. “Segera Sayang. Kamu akan bisa langsung menggendongnya nanti setelah dia pulih.” Meremas lembut jemari Sofi.
Lama kedua insan yang baru menyandang status sebagai orang tua itu berada di luar ruangan NICU memandangi sang malaikat kecil yang tertidur pulas, bahu Sofi berguncang menahan tangis yang semakin pilu.
“Kita kembali ke kamar sekarang.” Bangkit mendorong kursi roda.
“Kak, aku mau bertemu dengan dokter.”
Meski agak ragu Ramzi menurutinya juga. Beruntung pagi hari dokter yang menangani bayi mereka baru saja sampai di ruangannya. Mereka berdua kini tengah duduk mendengarkan pemaparan sang dokter.
“Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan bayi saya?” Suara Sofi bergetar antara rasa ingin tahu dan tak sampai hati untuk menerima semua kenyataan yang dialami bayi mungilnya.
Dokter muda itu menatap Ramzi sekilas sebelum mulai menjelaskan. Ia segera paham bahwa suami pasiennya itu belum mengatakan apapun tentang kondisi bayi mereka.
“Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu atau bayi prematur memang lebih beresiko mengalami berbagai masalah gangguan kesehatan. Salah satunya adalah ateliktasis.” Tatapan dokter lembut membidik kedua netra indah Sofi. “Ini adalah gangguan yang terjadi pada paru-paru di mana sebagian atau satu segmen paru-paru tidak berfungsi dengan baik. Hal ini karena bayi prematur tidak memiliki surfaktan yang cukup. Surfaktan adalah bahan kimia yang membantu menjaga kantung udara tetap terbuka. Kondisi ini kemudian dapat menyebabkan kolapsnya jalan napas kecil dan sindrom gangguan pernapasan.”
Ramzi tak melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sofia sepanjang dokter menjelaskan detail tentang kondisi bayi mereka. Bulir-bulir kepedihan kembali merembes perlahan meski Sofi sudah berusaha menahannya.
“Berapa lama lagi bayi saya harus dirawat, Dok?” Menyeka pipi dengan punggung tangannya.
Sang dokter mengeha nafas sejenak. “Saya lihat perkembangan bayi Anda cukup bagus. Berat badannya juga sudah menunjukkan peningkaan. Mungkin butuh beberapa minggu lagi, kita menunggu hasil observasi lanjutan sampai fungsi paru-parunya berkembang sempurna.”
Sepanjang langkah menuju kamar perawatan, tak ada yang diucapkan Sofi maupun Ramzi. Kalimat yang diucapkan dokter terus terngiang-ngiang di telinga Sofi. Perasaan bersalah memenuhi lubuk hatinya, jika saja Tuhan mengijinkan ia rela untuk menggantikan segala penderitaan bayi mungilnya yang baru saja ia ketahui jenis kelaminnya teryata laki-laki itu.
“Aku suapin kamu sarapan ya.” Ucap Ramzi setelah membantu Sofi kembali ke atas bednya.
Menggeleng lemah. “Aku belum lapar.”
“Sedikit saja.” Meraih mangkuk sup yang mungkin telah disajikan perawat ketika mereka tengah keluar beberapa saat yang lalu. “Demi malaikat kecil kita.”
Akhirnya Sofi mau membuka mulutnya setelah mendengar bujukan suaminya. Dengan telaten Ramzi menyuapkan sarapan untuk istrinya, ini momen pertama dia melakukannya untuk Sofi. Ia pandangi wajah perempuan yang sangat digilainya sejak remaja itu, meski pucat dan tirus namun masih sangatlah cantik baginya.
SREET
Ramzi menarik secarik tisu di atas nakas untuk menyeka sudut bibir Sofi, pandangan mereka berserobok. Tak kuasa, Sofi tertunduk meremas jemarinya. Perasaan aneh macam apa yang berkecamuk dalam dadanya.
“Sofia.” Diangkatnya lembut dagu sang istri.
“Aku sudah kenyang.” Menghindar, bergeser perlahan rebah kembali di atas bednya.
Ramzi menghempas rasa kecewanya, momen itu harusnya sweet namun ia rasakan Sofi berusaha menghindarinya. Masih setia duduk di samping bed sang istri setelah meletakkan kembali mangkuk sup. Ada genangan air mata di kedua netra indah sang Sofi.
“Sofia …”
“Aku mau sendiran, Kak.” Lekas mengusap kedua matanya
“Nggak, aku nggak mau membiarkan kamu sendirian lagi. Aku akan selalu ada disisimu.”
“Tapi aku butuh waktu untuk sedirian.” Membuang pandangannya ke sembarang arah.
Sepi, tanpa berniat sedikit pun beranjak meninggalkan Sofi, Ramzi setia dalam keheningan di antara mereka.
“Aku malu padamu, Kak.” Cicit Sofi mencairkan kebekuan mereka. “Apa aku masih pantas untukmu?”
Sungguh bukan kalimat itu yang ingin di dengar Ramzi, namun nyatanya ucapan Sofi mampu mencubit hatiya. “Sampai saat ini, kamu masih bertahta di hatiku.” Meraih jemari Sofi dan menciumnya lembut. “Dan akan selalu begitu sampai kapan pun.”
Tes
Antara malu, haru dan bahagia lebur jadi satu bersama luruhnya air mata dari kedua netranya. Meski sempat merasa tak pantas namun Sofi lega mengetahui perasaan suaminya, kini tubuh lemahnya berada dalam rengkuhan hangat tangan kokoh sang suami yang sudah lama yang tak dirasakannya.
“Kak, maafkan aku. Aku banyak mengecewakan sebagai seorang istri.”
Melerai pelukan. “Aku yang harus minta maaf. Aku nggak bisa menjadi suami yang baik. Aku banyak menyakitimu selama ini.” Menempelkan punggung tangan Sofi pada dadanya. “Aku janji setelah ini kita akan selalu bersama.”
__ADS_1
“Kamu sudah mengatakannya kemarin, Kak.” Tersenyum menangkup pipi sang suami yang ditumbuhi brewok dengan sebelah tangannya.
“Oya? Aku akan terus mengatakannya lagi, agar aku nggak lupa.” Balas tersenyum. “Satu lagi, soal Jane kamu … “
“Jangan dilanjutkan, Kak.” Pangkas Sofi. “Aku sudah tau dari Azad. Aku menyesal terlalu cepat menyimpulkan semuanya.” Tertunduk menahan rasa bersalah.
“Aku juga menyesal sempat mencoba bermain api.”
“Jadi kamu beneran berniat menjalin hubungan dengannya?” Menarik tangannya dengan lototan tajam.
Ramzi malah tersenyum lebar. “Aku suka melihatmu marah, sudah lama kamu tak bersikap galak begitu padaku.”
“Kak, jangan megalihkan pemicaraan! Jawab aku, kamu beneran mau … “
“Kalau iya gimana?” Potong Ramzi terkekeh.
“Kamu keterlaluan!” Berpaling, rasa nyeri kembali nyelekit di hatinya.
“Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang suami kalo tau istrinya masih berhubungan dengan mantannya?”
“Jadi kamu ingin membalasku?” Melirik tajam.
“Nggak usah sewot begitu dong, kita kan sudah sepakat memulai lembaran baru?”
“Tapi Kak Ram menyebalkan!”
“Memangnya kamu nggak?”
Mendengus kasar, kesal pada sang suami yang terang-terangan mengorek kembali luka lama padahal baru saja mereka bermaaf-maafan.
“Sudah ya, kita lupakan Jane dan mantan bejadmu itu. sekarang babak baru hanya ada kita berdua dan malaikat kecil kita yang akan mengisi hari-hari kita selanjutnya.” Mengusap lembut pucuk kepala Sofi dengan senyum lebar. “Jangan diungkit lagi, Jane sudah menolakku karena dia nggak mau menjadi perusak rumah tangga orang.”
“Jadi kalau Jane nggak menolakmu, kamu akan menikah dengannya?” Menghunus pandangan lebih tajam.
“Aduh, salah ngomong!” Menepuk jidatnya sendiri. “Bukan begitu maksudku, kamu tau kan bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja oleh orang yang sangat kamu cintai?”
Terdiam, mencari kebohongan dalam sorot mata sang suami. Namun seperti biasanya, Ramzi selalu tulus tak peduli seberapa banyak dirinya tersakiti.
“Kak, ajari aku untuk menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan malaikat kecil kita.” Lirih Sofi kemudian.
“Pasti. Karena hanya kamu wanita terbaik untuk kami.” Mencium kening Sofi dengan segenap perasaan cinta yang kembali bersemai indah memenuhi lubuk hatinya. “Jadi dengan ini aku memintamu untuk kembali padaku sebagai istriku.”
Mengangguk mantap. “Iya, Kak. Aku akan berusaha memperbaiki diri, aku ingin menjadi istrimu selamanya.”
Seolah belum puas hanya dengan mencium kening dan berpeluk, Ramzi berniat akan mendaratkan kecupan pada bibir sang istri, namun derit suara pintu mengurungkan niatnya.
“Selamat pagi Nyonya Sofia.” Sapa dokter dengan senyum lebar. “Wah, sepertinya pagi ini Anda terlihat lebih bugar.” Berjalan mendekat bersama seoorang suster. “Maaf Tuan, boleh saya periksa dulu istri Anda?” meminta ijin karena Ramzi masih memegang tangan Sofi posesive.
“Oh, iya. Silakan, Dok.” Memberi ruang pada dokter untuk menjalankan tugasnya, Ramzi duduk di sofa single memperhatikan kegiatan dokter dan suster pada istrinya.
“Semuanya sudah membaik, nanti sore sudah bisa pulang.” Ucap dokter kemudian.
“Benarkah?” Ramzi berajak dengan perasaan bahagia.
“Nyonya, perawatan di rumah akan mempercepat pemulihan kesehatan Anda.” Ucap dokter.
“Tapi aku mau disini selama bayiku belum keluar dari rumah sakit, aku nggak mau meninggalkannya sendirian.”
“Nyonya percayalah, tim dokter akan menangani bayi Anda dengan sangat baik.”
Ramzi mengusap pundak Sofi, mengangguk sebagai tanda persetujuan.
“Tapi, Kak …”
“Kita akan cari hotel yang dekat dengan rumah sakit agar kita bisa sering mengunjungi anak kita.”
Ramzi segera meggapai gawainya untuk menghubungi Om Jaka setelah dokter keluar dari ruangan. Ia akan minta Om Jaka mencarikan hotel terbaik yang paling dekat dengan rumah sakit.
Semenatra itu di ruangan yang berbeda, Mirza baru saja selesai berbicara dengan dokter Leonard.
“Santai saja, Za. Ibu kamu pasti akan membaik setelah menjalani operasi penyatuan tempurung kepala besok pagi.” Dokter Leonard tersenyum.
“Aamiin, Dok.”
“Setelah keadaannya pulih baru kita lanjutkan dengan operasi lainnya.”
“Saya percaya tim dokter akan melakukan yang terbaik.” Balas Mirza yang lantas pamit keluar ruangan.
_
_
_
Hari merambat siang, di halaman belakang rumah Mirza yang dulu tampak Rumi duduk di gazebo,ia sedang uring-uringan berbalas chat dengan Hanson. Jane yang melihatnya jengah sendiri.
“Orang tinggal satu atap malah chat-chatan, nggak ada kerjaan lo!” Kesal Jane.
“Si bule ngilang dari pagi buta tau nggak lo?” Balas Rumi tak kalah kesalnya.
“Ngilang kemana? Janan-jangan dia nyasar?” Panik Jane.
“Kalo gue tau udah gue susulin. Masalahnya dia nggak mau bilang ada dimana sekarang!”
“Berarti dia baik-baik aja dong?”
Rumi mengangguk. “Dia cuman biang lagi di suatu tempat.” Memperlihatkan isi chat Hanson pada Jane.
“Ish, sok misterius cowok lo! Biarain aja, ntar juga dia balik sendiri.”
“Tapi gue khawatir Jane. Kalo dia diculik gimana?” Raut kekahawatiran kentara pada wajah Rumi.
“Nggak ada yang doyan sama manusia model pacar lo! Dijual ginjalnya juga nggak laku!”
__ADS_1
“Ih, tega kamu!”
“Udah yuk, mendingan kita jalan kemana gitu. Udah berapa hari kita di kampung ini nggak pernah kemana-mana.”
“Mau kemana emang? Gue takut nyasar.”
“Kan ada map?”
“Ogah ah, males. Mau nungguin si bule pulang aja.”
“Nggak asik lo!” Decak Jane sebal beranjak meninggalkan gazebo masuk rumah tepat bersamaan dengan Azad yang baru keluar kamar.
“Jane? Kenapa kamu?” Sapa Azad yang melihat tampang manyun Jane.
“Nggak papa. Kamu kok tumben baru bangun? Nggak ke rumah sakit jenguk Sofi?”
Mendaratkan pantatnya pada sofa ruang tengah. “Aku baru saja dapat kabar Kak Sofi sudah pulih. Aku mau pulang ke Jakarta.” Ucap Azad yang sukses membuat Jane sedikit kaget.
“Sofi dan Ram juga mau pulang?” Mendekat duduk di samping Azad.
“Mereka akan tinggal di hotel untuk sementara karena bayi Kak Sofi masih butuh perawatan intensif.”
Jane mengangguk, ia lega mendengar keadaan sofi sudah membaik. Ternyata tak sia-sia Ramzi menyusulnya jauh-jauh sampai ke kampung ini, akhirnya mereka kembali bersama lagi. Jane sudah menghempaskan semua perasaannya pada Ramzi, dia ikut bahagia untuk bersatunya kembali mantan bosnya itu dengan istrinya.
“Jane, pulanglah bersamaku.” Ucap Azad mengejutkan lamunan Jane.
“Apa?”
“Pulanglah bersamaku.” Ulang Azad. “Kita sudah tak ada kepentingan lagi berada disini.”
Termenung sebentar, ia pandangi wajah Azad yang siang ini tampak lain dari biasanya.
“Hey, kok malah bengong?” Azad menggoyangkan telapak tangan kanannya tepat di depan muka Jane. “Kamu ngeliatin aku ya? kenapa?”
“Emh, eh ng-nggak.” Jane sedikit tergagap kepergok nyata-nyata meandangi wajah Azad. “Kamu udah mandi?”
Azad malah tertawa. “Kamu itu lucu, nggak nyambung!”
“Apanya yang lucu?”
“Aku tanya kenapa kamu ngeliatin aku? Kamu malah balik nanya aku udah mandi apa belum? Kamu nggak liat rambut aku masih basah gini? iyalah aku udah mandi. Kamu pikir aku habis kecemplung di air kobokan?”
Menonjok lengan Azad pelan. “Kayaknya kamu ketularan sama Om-Om yang ngeselin itu deh, asal banget kalo ngomong!”
“Om Jaka? Dia baik banget lagi orangnya.”
“Masa sih?”
“Kalo nggak, mana mungkin dia ngijinin kamu sama dua teman ajaibmu itu tinggal disini sementara aku sama Kak Ram manjaga Kak Sofi di rumah sakit?”
“Iya juga ya?” Tersenyum seraya mengangguk.
“Jadi gimana? Kamu mau pulang sama aku ke Jakarta kan?”
Mendesah pelan. “Rumi sama Hanson gimana?”
“Ya suruh mereka pulang juga lah. Emangnya mau ngapain mereka disini? Tapi biarin mereka pulang naik mobil, kita naik kereta aja.”
“Kok gitu?”
“Heem, biar nggak capek aja. Biar kita bisa tidur nyenyak kalo naik kereta.”
“Emangnya kalo naik mobil nggak bisa tidur?”
“Ya bisa aja.”
“Terus kenapa kita harus pulang naik kereta? Kenapa nggak bareng sama mereka aja naik mobil?”
“Karena aku pingin … “
Ting tung ting tung!
Suara nyaring bel pintu memutus kalimat Azad. Jane dan Azad bangkit bersamaan menuju ruang tamu karena penasaran siapa yang datang.
Ceklek
Wajah Hanson munsul bersama seseorang yang sukses membuat Azad terkaget-kaget.
“Riana?” Azad tak mampu menutupi kekagetannya ketika menadapati Riri muncul di depannya.
“Tuan Takur?” Riri tak kalah kagetnya, hanya saja kalau Azad kaget seneng tapi kalo Riri kaget kesal mengingat pertemuan terdahulunya dengan Azad tak menyenangkan.
“Hai, apa kabar? Senang bisa ketemu kamu lagi.” Mengulurkan tangan seraya tersenyum lebar.
“Sayangnya aku sama sekali nggak seneng ketemu sama kamu!” Melotot galak tanpa berniat sedikitpun menyambut uluran tangan Azad.
Azad malah tersenyum walau tak mendapat sambutan baik dari Riri. “Kalian kok bisa datang berdua sih?” Tanyanya melihat Hanson yang masih setia berdiri di depan pintu.
“Hem, aku ketemu cute girl ini di rumah Pak Haji Barkah.” Jawab Hanson dengan senyuman.
“Siapa yang elo panggil cute girl?” Suara melengking Rumi yang datang belakangan kontan membuat semuanya menoleh kaget.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hi, readers …
Maafkan othor yang sudah menghilang sekian lama dari peredaran ya.🙏🙏
Setelah si anak bontot othor baikan, gantian anak nomor 2 othor yang sakit. Puyeng kan emak-emak kalo anak pada sakit? Othor pun sampe ikut oleng, beruntung nggak sampai tumbang walau flu melanda hanya need more rest time aja. Bersyukur semuanya berangsur membaik, makanya othor baru bisa kembali ke duania halu ini. Sekali lagi mohon dimaafkan yaa … 🙏🙏
Bismillah, mohon doanya agar othor bisa menyelesaikan novel ini dengan clear.
Luv u all, dear 🤗🤗😘😘
__ADS_1