TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
52 #TAMU TAK DIUNDANG


__ADS_3

 


“Bawa semua barang belanjaan kamu ya.” Ujar Bu Een pada Sofi sebelum turun.


Sofi makin heran, tapi nurut juga. Dia cepat mengikuti langkah-langkah lebar Bu Een menuju halaman rumah MIrza.


Bu Een memencet bel, tak lama terdengar langkah kaki dari dalam.


JRENG!


Mirza kaget mendapati Sofi dan ibunya sudah berdiri di depan pintu. Bu Een langsung menyeruak masuk ke dalam diikuti Sofi sebelum Mirza sempat berkata apa-apa.


Mirza yang hanya melongo bagai habis dihipnotis langsung mengejar langkah Bu Een begitu sadar bahwa dua orang tamu tak diundang telah nyelonong masuk ke dalam rumahnya.


“Bu, tunggu! Apa-apaan ini?” Kejar Mirza yang berhasil menghadang langkah Bu Een yang hampir sampai tangga.


“Mulai hari ini Sofi akan tinggal di sini.” Ucap Bu Een tegas.


“Apa?” Mirza kontan saja kaget.


Sofi juga sebenarnya terkejut dengan perkataan Bu Een barusan, ia tak menyangka Bu Een benar-benar akan melakukan apa yang pernah dia ucapkan. Tentu saja Sofi merasa senang, tapi dia berusaha bersikap biasa saja tak menunjukkan ekspresi apapun.


“Kenapa ibu bawa perempuan tidak tau malu ini masuk ke dalam rumahku? Ibu mau bikin rumah tanggaku berantakan?"


“Mirza! Berhenti menyebutnya seperti itu, Sofi akan menjadi istrimu dan anak yang ada dalam kandungannya adalah anakmu!” Ucap Bu Een dengan mata yang berkilat penuh amarah.


“Aku nggak peduli! Keluar kamu dari rumahku!” Mirza menyeret Sofi untuk keluar dari rumahnya!


“Mirza!” bentak Bu Een. “Berani kamu kasar sama dia maka kamu akan menyesal.”


Mirza yang sudah tersulut emosi menghampiri ibunya dengan wajah bringas. “Ibu ngancam aku? Harusnya ibu sadar, siapa perempuan ini!” Tunjuk Mirza pada Sofi yang hanya diam.


Via yang mendengar kegaduhan di lantai bawah langsung turun dan kaget melihat ibu mertuanya dan Sofi berada di sana.


“Kamu pilih ibu atau istrimu?” Tantang Bu Een telak.


“Pilihan macam apa itu, Bu?” Tanya Mirza tak habis pikir. “Ibu menginginkan aku berpisah dengan Via?” Lanjut Mirza dengan geram.


“Ibu nggak bilang seperti itu, ibu hanya minta kamu nikahi Sofi.” Sahut Bu Een lugas. “Soal istrimu terserah kamu, jika kamu mampu mengurus dua istri silakan. Tapi jika kamu pikir lebih baik menceraikan istrimu, ibu tentu sangat setuju.”


JLEDER!


Badan Via sontak menggigil mendengar penyataan ibu mertuanya. Via yang berada di tangga hanya bisa mematung, matanya mulai panas, lama-kelamaan pandangannya buram karena air mata mulai tak terkendali mengalir membasahi pipinya.


“Aku nggak akan pernah menceraikan Via, ibu ingat itu baik-baik.” Tegas Mirza dengan sengit. “Sampai kapan pun aku nggak akan pernah menceraikan Via!”


Via tak bisa menahan isaknya hingga membuat ketiga pasang mata yang berada di ruang tengah itu menoleh padanya.


“Sayang.” Mirza segera berlari menghampiri Via.


“Bagus kamu ada di sini, sebaiknya mulai sekarang kamu biasakan diri berbagi suami dengan Sofi.” Sinis Bu Een pada Via.


“Cukup, Bu!” Hardik Mirza.


Mirza menggenggam erat tangan Sofi dan menggandengnya turun.


“Jika Ibu memaksa untuk Sofi tinggal di sini, aku nggak akan bertanggung jawab sedikit pun kalo terjadi apa-apa dengannya.” Kilatan emosi mata MIrza kini tajam tertuju pada Sofi.


Sofi agak gentar juga mendengarnya, diraihnya lengan Bu Een.


“Kamu tenang saja. Untuk menaklukkan singa, seorang pawang harus masuk ke dalam kandangnya.” Lirih Bu Een pada Sofi.


“Lakukan sesuka kalian, tapi jangan pernah bermimpi aku akan menuruti kemauan kalian.” Sinis Mirza, lalu mengajak Via kembali naik ke lantai atas.


Bu Een segera menarik tangan Sofi untuk ikut ke lantai dua. 


Mirza berbalik.


“Mau apa kalian?” Tanya Mirza yang sadar langkahnya diikuti. “Kamu tidur dilantai bawah! Bila perlu di kamar pembantu!” Tatapan tajam Mirza pada Sofi. 


“Mirza! Keterlaluan kamu!” Sentak Bu Een.

__ADS_1


Mirza memalingkan wajahnya cuek.


“Di lantai atas kan masih ada satu kamar lagi, lebih baik Sofi tidur di sana kalau ada apa-apa dengannya kamu bisa tau.”


 


Mirza tersenyum sinis. “Ibu lupa atau amnesia? Aku bilang aku tidak akan tanggung jawab jika terjadi apa-apa sama dia, ingat itu!”


Mirza berjalan cepat menuju kamar tidur ke dua di lantai atas, mengunci pintunya dan memasukkanya ke dalam saku celananya.


“Ayo sayang, jangan pedulikan mereka.” Mirza kembali menggandeng tangan Via masuk ke dalam kamar mereka. 


BLAM!


Pintu kamar di tutup Mirza dengan kasar.


“Bu, sebaiknya aku tinggal di rumah ibu aja, ya.” Ucap Sofi khawatir.


“Nggak, kamu harus tinggal di sini.” Bu Een kekeh lantas mengajak Sofi ke kamar tamu di dekat ruang tengah.


“Kamu tidur di sini aja nggak papa.” Bu Een membuka pintu kamar dan meraih remot AC. “Disini nyaman juga, pelan-pelan kamu harus bisa menaklukkan hati Mirza. Setelah itu kamu akan lebih gampang untuk menyingkirkan Via.” Bu Een memberi amanat pada Sofi.


“Tapi Mirza sama sekali tak menganggapku.” Sofi pasang tampang sedih.


“Itulah tantangannya, kamu pasti bisa. Belajarlah seolah kamu memang sudah menjadi istrinya.” Bu Een tersenyum untuk memberi kekuatan pada Sofi. “Kamu wanita cerdas, kamu pasti tau caranya.”


Sofi terlihat masih ragu. Dia kira tak sesulit ini untuk memaksa Mirza menikahinya. Ternayata hati Mirza sungguh keras, dan tertutup sepenuhnya untuk dirinya. Dia harus memutar otak mencari celah agar bisa membuat Mirza simpati padanya.


“Jangan terlalu dipikirkan semua pekataan Mirza, ibu nggak ingin calon cucu ibu nantinya kenapa-napa.” Bu Een melihat pada perut Sofi. “Kalo gitu ibu pulang dulu, kalau ada apa-apa hubungi ibu ya.”


Sofi mengangguk pelan. Bu Een menelpon Udin untuk minta dijemput, namun sampai beberapa kali panggilan Udin tak juga kunjung mengangkat teleponnya.


 


______


 


 


Udin sedang berbincang dengan Om Jaka di teras rumah.  Karena tak ada pembeli, Udin meninggalkan toko begitu saja.


“Iya ya, Om. Aku juga jadi sedih.” Udin pasang tampang prihatin setelah mendengar cerita soal Mirza dan Sofi dari Om Jaka.


“Majikan elu kemana, Din?” Tanya Om Jaka kemudian.


“Nggak tau, nggak bilang Om. Pergi sama Mbak Sofi.”


“Jangan-jangan ke rumah Mirza.” Om Jaka mulai khawatir.


“Sususlin, Om. Takut pecah perang dunia lagi.” Udin ikutan khawatir.


“Nggak usah, biarin aja.” Sahu Om Jaka malas. “Kalo tadi gue bangunnya nggak kesiangan, udah gue cegah. Tapi kalo udah terlanjur ke sana, ya biarin aja lah.” Ungkap Om Jaka seolah kehabisan daya untuk menghindarkan perpecahan antara ibu dan anak itu.


Lama mereka termangu, seolah ikut gamang memikirkan bagaimana kelanjutan cerita cinta segi tiga antara Mirza, Via dan Sofi.


“Tapi Mas Mirza hebat banget ya, Om. Dapet dua perempuan, dua-duanya cantik-cantik semua. Lah, aku boro-boro dapet dua, setengah aja nggak!” Ucap Udin setelah lama termenung.


Pletak!


Aww!


Udin meringis memegangi kepalanya yang kena jitak Om Jaka barusan.


“Ngaca dong makanya! Tampang pas-pasan kayak gini aja pingin dapet dua cewek cantik.”


Bukannya marah, si Udin malah nyengir. “Iya sih, Om. Aku nggak pernah ngaca di rumah, abisnya aku suka minder sendiri liat tampangku, hehe….”


“Tampang itu bisa dipermak, Din. Kalo elu banyak duit, semuanya nggak masalah.”


“Iya sih, Om …” Udin pasang tampang sedih kali ini seolah menyesali akan nasibnya sendiri. “Ah, gimana kalo aku ikut kerja aja sama Om Jaka di Jakarta?” Usul Udin kemudian dengan mata berbinar

__ADS_1


Om  Jaka menoleh kaget.


“Ogah! Yang ada elu malah bikin ribet hidup gue. Udah elu makannya banyak, tidurnya ngiler, buta arah lagi. Nanti kalo elu nyasar gue juga yang repot!” Om Jaka menolak mentah-mentah usulan Udin.


“Yaaah, Om …” Udin pasang tampang memelas.


“Din! Beli telor dong …” Panggil seorang pembeli dari toko.


“Tuh, ada yang mau beli. Sana cepetan!” Om Jaka menepuk bahu Udin. “Udah nggak usah sedih. Ntar gue cariin janda tua kaya raya yang nggak punya anak, jadi kalo dia mati warisannya buat elu.” Hibur Om Jaka.


“Asal jangan cerewet kayak Ibu aja!” Sahut Udin manyun sambil ngeloyor pergi.


Om Jaka terkekeh mendengarnya. Tampang Udin sebenernya nggak jelek-jelek amat sih, tapi kelakuannya yang kadang suka out of the box bikin Om Jaka berpikir dua kali kalo harus mengajak Udin kerja dengannya.


“Lama banget sih, Din?” Tegur si pembeli.


“Belum juga setengah hari nunggunya.” Sahut Udin sebel.


“Telor sekilo, cepetan!” Perintah si Pembeli.


“Jangan banyak-banyak dong Bu beli telornya.”


“Kenapa emangnya?” Si ibu pembeli heran.


“Kasian ayamnya. Cuacanya lagi dingin mau musim hujan, nanti sedih dia kalo dipaksa bertelor terus, udah hidupnya menjomblo masih juga dipaksa harus nyenengin orang.”


"Ngomong apaan sih kamu, Din? Nggak jelas!” Si Ibu kesel. “Kalo nggak boleh dibeli ya udah, biar aku aduin kamu sama Bu Een, biar kamu dipecat nanti!”


“Boleh!” Sahut Udin lalu menimbang telor ayam dan meberikannya pada si ibu pembeli.


Drrrrt


Drrrrtt


Seperti ada sesuatu yang bergetar di laci meja kasir tempat Udin duduk. Udin mencarinya namun suara itu keburu berhenti.


“Samber nyamuk!” Udin terlonjak kaget kala mendapati 15x panggilan tak terjawab dari Bu Een. 


Drrrrrt


Drrrrrrt


Ponselnya yang dalam mode getar itu kembali menyala dan nama Bu Een terpampang jelas di layarnya.


“Halo, Bu …” Sahut Udin takut.


“Udiiiiiiin ………!” Teriakkan Bu Een langsung memenuhi rongga telinga Udin.


Serta merta Udin langsung meyambar kunci motor matic Bu Een setelah mendengarkan ocehan Bu Een yang memekakkan telinganya.


“Om, nitip toko benar ya!” Seru Udin yang langsung menggeber motor meninggalkan tanya keheranan di kepala Om Jaka.


__________


Jeda dulu ya, Kak... 😊😊


makasih yang udah setia datang di karyaku🙏🙏🙏❤️❤️❤️🌹🌹🌹


selalu like, komen, rate 5 dan vote ya Kak biar aku makin semangat.😍😍😍🤩🤩🤩


luv u all 😘😘🤗🤗❤️❤️


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2