
Readers, votenya mana ...?😁😁
❤️❤️❤️❤️❤️
Melangkah gusar berdiri menatap keluar jendela kamar yang masih terbuka. Langit sore meninggalkan jejak jingga keemasan, sebentar lagi terang berganti malam. Mirza tak menyangka kepulangannya senja ini dengan rindu yang sudah membuncah seketika luluh lantak dengan satu kata pisah. Lama mereka saling berdiaman, Via tak berniat memulai kalimatnya duluan, ia masih menunggu jawaban apa yang akan suaminya berikan.
Satu ******* berat lolos dari mulut Mirza, “apa kau tau kenapa dulu aku begitu yakin denganmu?”
Bergeming, membiarkan dirinya ditatapi tajam oleh sang suami yang dalam mode emosi tertahan.
“Karena aku yakin kamu perempuan yang tak mudah menyerah,” kembali mendekati Via dengan sorot mata penuh pengharapan. “Berjuanglah kembali bersamaku, sampai kita benar-benar mendapatkan restu.”
Menggeleng samar, “delapan tahun aku rasa sudah cukup Mas.”
“Nggak, itu belum cukup” kilah Mirza. “Kita masih punya banyak waktu untuk meyakinkan ibu, kita akan terus bersama. Kamu tahu kan diluaran sana juga banyak yang mengalami nasib seperti kita? Bahkan mungin lebih parah. Jadi kenapa hanya baru sebentar kamu sudah menyerah, mereka menghabiskan berpuluh-uluh tahun lamanya berjuang bersama demi mendapatkan restu orang tua.”
“Sebentar katamu, Mas? Delapan tahun bukan waktu yang sebentar.” Via menggeleng tak percaya. “Dan selama delapan tahun itu aku curahkan semua perhatianku untuk ibumu. Aku tak pernah membencinya sampai sekarang, memang kadang aku jengah tapi kau tau sendiri Mas aku selalu berusaha bersikap selayaknya menantu yang baik, meski tetap saja apapun yang aku lakukan dimata ibumu salah.”
Mirza baru akan membuka mulut untuk menyela namun Via kembali mengeluarkan rentetan kalimatnya.
“Apa kau memintaku untuk menunggu sampai berpuluh-puluh tahun lamanya untuk mendapatkan restu ibumu? Kamu bisa bilang begitu karena posisimu bukan sebagai aku Mas, bukan sebagai seorang istri. Lagipula siapa mereka yang kau maksud Mas? Siapa orangnya yang bisa tahan puluhan tahun mendapatkan penolakan terus menerus dari ibu mertua? Nggak ada! Jangan ngigau kamu Mas, mereka yang kau maksud mungkin hanya ada dalam drama televisi atau novel fiksi. Semua manusia punya hati Mas, punya batas kesabaran, dan batas kesabaranku hanya sampai disini.” Via terengah meluapkan hampir semua isi hatinya.
“Aku tak percaya kau mengatakan itu semua,” gumam Mirza dengan tatapan nanar, wajahnya memanas.
Di luar rumah sebuah mobil pick up baru saja berhenti, Riri yang baru berbelanja kebutuhan untuk catering besok sengaja mampir ke rumah Via untuk mengambil pakaiannya yang beberapa hari yang lalu tak sempat dibawanya. Toni mengikuti langkah Riri ke dalam rumah karena pintu depan masih terbuka lebar.
“Kok sepi, pada kemana ya?” terus masuk ke dalam, langkahnya terhenti ketika melintasi kamar Via. Riri dapat mendengar dengan jelas percakapan Via dan Mirza dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
Toni mencolek bahunya, Riri segera menempelkan telunjuk pada bibirnya memberi isyarat agar Toni tak bersuara.
“Aku mohon Mas, jangan memintaku untuk tetap bersamamu” suara Via tercekat.
“Aku nggak akan melepasmu, selamanya kita akan bersama” meraih kembali jemari Via.
“Kalau begitu apa kamu sanggup meninggalkan ibumu?”
Terdiam, satu kalimat tanya yang mampu membuat Mirza bungkam. Perlahan ia lepaskan jemari Via, gurat kebimbangan jelas terbaca.
“Nggak usah dijawab Mas, aku udah tau. Kamu nggak akan bisa meninggalkan ibumu. Aku pun memahami, anak laki-laki adalah milik ibunya, aku nggak akan menghalangi kamu berbakti pada ibumu Mas. Oleh sebab itu pisah adalah jalan terbaik.”
JRENG!
Kalimat terakhir Via sukses membuat Riri terperanjat shock. Tak ada angin tak ada hujan kenapa kakaknya membicarakan soal perpisahan? Bukankah selama ini rumah tangga kakaknya terlihat baik-baik saja? Riri semakin penasaran, ia memasang telinganya lebih seksama.
“Walau seribu kata pisah kau pinta, aku tak akan mengabulkannya.” Ucap Mirza datar dan dingin.
“Dan aku akan tetap mengatakannya sampai kamu mengabulkannya.”
Menyugar rambutnya kasar, “kamu sedang hamil, kita tidak mungkin pisah!”
“Kita akan berpisah setelah aku melahirkan.”
“Nggak!” menggeleng tegas.
“Jangan egois Mas. Kalo kamu tetap pada pendirianmu, kamu akan terus menyakiti aku dan ibumu tidak akan sembuh karena nggak mau menjalani operasi.”
“Ibu pasti bisa sembuh tanpa operasi, kita cari cara lalin.”
“Kamu bicara sepeti itu seolah-olah kamu nggak mengenali sifat ibumu sendiri Mas.” Via tersenyum sinis. “Ibu nggak akan berhenti sebelum kita benar-benar pisah. Syarat yang ia ajukan untuk mau menjalani opersi itu mutlak.”
Di luar kamar Riri dapat menarik kesimpulan bahwa pertikaian antara kakak dan Kaka iparnya tak lain dan tak bukan adalah karena ulah Bu Een.
“Sudahlah Mas, jangan diperpanjang lagi. Kita akhiri semuanya dengan baik-baik.”
Menarik paksa lengan Via yang hendak berlalu. “aku belum selesai.”
“Apa lagi yang harus kita bicarakan Mas?” menatap sang suami dengan raut lelah, perdebatan barusan sungguh menguras emosi. “Lebih baik kau pulang, kita nggak usah ketemu dulu sampai aku melahirkan.”
“Kamu ngusir aku?” hati Mirza mencelos kecewa, tak percaya Via tak menginginkan kehadirannya. “Bukankah ini rumahku juga? Kamu sepertinya nggak suka aku disini? Apa karena ada seseorang yang kerap datang kesini selama aku ngga ada?” menyipitkan kedua matanya menatp penuh selidik.
“Apa maksudmu Mas?”
“Kenapa Danar tadi dateng kesini?”
__ADS_1
Deg!
Via mendengus pelan, apa yang dipikirkan suaminya itu?
“Apa dia sering kesini selama aku nggak ada?” kecurigaan meliputi hati Mirza.
“Dia baru kesini, Danar cuman mampir nganterin kebab lalu belikan obat.”
Tersenyum sarkas. “Ternyata masih segitu perhatiannya dia sama kamu.”
“Mas!”
“Kenapa? Nggak usah sok kaget begitu dong, biasa aja” senyuman tipis seolah sedang mengejek.
“Jangan memojokkan orang lain untuk mengalihkan persoalan yang sebenarnya. Masalah kita berdua nggak ada sangkut pautnya sama Danar.” Kesal Via.
“Kenapa kamu malah membelanya?” Mirza terpancing emosi kembali.
“Karena dia emang nggak salah. Dia hanya mampir, itu aja.”
“Kamu masih percaya dia nggak punya perasaan apa-apa sama kamu? Via, kamu terlalu naïf.”
“Mas, kamu sudah keterlaluan” kecewa juga sedih sudah dituduh semena-mena.
“Harusnya kamu bisa berpikir logis, seorang laki-laki nggak akan berbuat berlebihan pada seorang perempuan yang sudah bersuami jika ia tidak mempunyai maksud tertentu.”
“Cukup Mas!” hilang kesabaran Via. “Kamu nggak mau ibumu disalahkan atas semua masalah rumah tangga kita tapi kamu justru menyalahkan Danar dan mengalihkan persoalan, padahal sudah jelas-jelas Danar sudah banyak berbuat baik pada kita.”
“Bela saja terus dia!”
“Aku nggak membelanya, aku –“
“Ya memang!” Potong Mirza. “Memang ibuku yang bersalah. Semua masalah dalam rumah tangga kita memang akar permasalahnya ada pada ibuku. Tapi bukan berarti tindakanmu berdekatan dengan laki-lain itu dibenarkan.”
“Yang berdekatan dengan laki-lak lain itu siapa?” Sangkal Via berang. “Dari dulu aku bilang aku sama Danar nggak ada apa-apa!”
“Via, aku masih suamimu, aku nggak suka melihat ada laki-laki lain datang ke rumah ini ketika aku tak di rumah.”
“Mas, sudah. Kamu udah melebar kemana-mana. Aku capek, aku lelah.” Via menghela napas jengah. “Sekarang kamu pulang, ibumu pasti mencarimu dan ibumu pasti lebih membutuhkanmu dari pada aku.” Sakit sekali Via mengatakan hal itu karena sebenarnya dia pun ingin Mirza tetap berada disisinya.
“Kita harus terbiasa Mas, toh pada akhirnya kita tetap akan berpisah” gumam Via getir.
“Jikapun sampai aku benar-benar melepasmu, suatu hari nanti aku pasti akan kembali padamu. Karena hanya kamu tempat semua asa dan rasaku bermuara.”
Tes.
Butiran kristal lolos begitu saja dari kedua netra bening Via, hatinya remuk sesak menerima satu kenyataan baru yang akan ia jalani.
“Jangan menangis, Sayang.” Mengusap pipi istrinya yang basah. “Selamanya kamu milikku, berjanjilah kamu akan menunggu hari itu tiba. Hari dimana kita kan kembali bersama dan hidup bahagia bersama anak kita.” Mengelus lembut perut buncit Via dan sukses membuat buliran air mata lebih deras lagi mengalir.
“Mas, jangan katakan itu. karena itu akan semakin menyiksaku. Kita jalani takdir kita masing-masing, Tuhan sudah memilihkan jalan terbaik untuk kita.”
“Apa itu artinya kamu nggak mau berjanji untukku?” menuntut penuh kekecewaan. “Jangan bilang kalau jika kita sudah berpisah, kamu akan memilih laki-laki lain sebagai penggantiku.”
“Pikiranmu terlalu jauh Mas.”
“Wajar kan aku berpikiran seperti itu?” nada bicara Mirza kembali meninggi. “kamu seolah tidak menginginkan aku kembali. Dan memang ada laki-laki lain yang selama ini dekat denganmu.” Meraih pundak Via dengan sorot kembali penuh kecurigaan.
“Jangan mulai lagi Mas” menepis tangan Mirza dari pundaknya.
“Justru kamu yang memulainya, karena kamu tak mau berjanji untuk menungguku!” Kejar Mirza.” Hatimu sepertinya sudah benar-benar tak menginginkanku. Pantas saja kamu berani mengucap kata pisah, padahal selama ini tak pernah terbesit sekali pun dalam pikiranku untuk berpisah denganmu! Aku nggak percaya kamu serapuh ini, aku nggak percaya aku menikah dengan perempuan yang mudah menyerah!” mengguncang-guncang bahu Via. “
“Mas!”
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Mirza. Riri tak tahan lagi melihat kakaknya menangis.
Semuanya dibuat kaget oleh tindakan spontan Riri. Toni sampai ikut meringis memegangi pipinya seolah merasakan panasnya tamparan telapak tangan Riri.
“Semua yang Mas Mirza katakan pada Mbak Via itu sungguh menyakitkan Mas,” menghunus tatapan tajam pada sang kakak ipar.
Via masih shock karena Riri sudah sangat berani bertindak diluar batas. Selama menikah dengan Mirza, semarah apapun dirinya tak pernah melayangkan tangan pada suaminya.
__ADS_1
Mirza nampak berusaha mengusai dirinya.
“Satu tamparan saja harusnya tak cukup, karena mas Mirza sudah bertahun-tahun menyiksa batin Mbak Via.”
“Ri –“
“Diam, Mbak. Aku belum selesia bicara” tak ingin kakaknya menyela, ia menruskan penghakimannya pada sang kakak ipar. “Jika pun Mbak Via terlihat bahagia selama menikah dengan Mas Mirza, aku yakin itu hanyalah kebahagiaan semu Mas. Karena hati Mbak Via tetap merasa mengganjal, Mas Mirza tau kenapa? Karena sikap ibu Mas Mirza yang sudah sangat kelewatan.”
“Riri kamu jangan ikut campur.” Suara Mirza detar namun tegas.
“Oh, jelas aku harus ikut campur. Mbak Via itu kakakku, dan aku nggak akan membiarkan Mas Mirza terus terusan nyakitin hati Mbak Via. Sudah cukup ya Mas! Dulu Mas Mirza selingkuh, padahal Mbak Via sebagai seorang istri sangat sabar dan setia. Apa yang terjadi? Mbak Via maafin Mas Mirza dan mau menerima Mas Mirza lagi. Lalu sekarang? Ibu Mas Mirza dengan entengnya nyuruh Mas Mirza pisah sama Mbak Via.”
Terhenyak, karena kesalahan lama kembali dikorek-korek. Mirza merasa bagaikan sedang dikuliti.
“Ri, kamu nggak tau apa-apa.” gumam Mirza menghalau perasaan bersalahnya di masa lalu.
“Aku tau Mas, aku udah denger semuanya.” Jawab Riri cepat. “Ibu Mas Mirza kasih satu syarat dia mau dioperasi asalkan Mas Mirza meninggalkan Mbak Via kan? Ibu macam apa itu? seorang ibu yang baik nggak akan pernah menyuruh anaknya berpisah dari istrinya. Dan Mas Mirza sebenarnya tau itu kan? hanya saja Mas Mirza nggak tegas. Mas Mirza lembek sebagai seorang laki-laki, sebagai seorang suami! Mas Mirza sudah sekian lama membiarkan Mbak Via tersakiti batinnya oleh semua sikap buruk Bu Een!
“Ri, udah.” Toni menghampiri bermaksud menghentikan aksi Riri. Tapi Riri masih kekeh.
“Kenapa diam, Mas? Semua ucapanku benar kan? Mas Mirza nggak mau mengakui kelemahan Mas Mirza sendiri dan malah menyalahkan orang lain. Terus kenapa kalo Mbak Via nggak mau janji suatu hari nanti akan kembali sama Mas Mirza? Mbak Via layak hidup bahagia kok, dan Mabak Via pantas mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Mas Mirza.”
Semua ucapan Riri bagai menampar-nampar ulu hati Mirza, ia tertegun. Riri memang barbar, tapi kali ini semua ucapannya benar, Mirza mengakui itu.
“Satu lagi, Mbak Via dan Mirza nggak akan bisa bersatu dan hidup bahagia selama Bu Een masih hidup!”
“Astaga, Ri. Kamu nggak boleh bilang begitu.” Toni menarik lengan Riri.
“Memang bener begitu kok.” Riri cuek. “Seharusnya Mas Mirza biarin aja ibu Mas Mirza itu kalo nggak mau diopersi, toh dia sendiri yang nanggung sakitnya. Kenapa jadi malah mengorbankan pernikahan Mas Mirza dan Mbak Via? Nanti juga kalo dia kerasa sakit, dia bakal minta operasi sendiri.”
“Ri,” Via menatap sendu sang adik.
“Jangan bilang apa-apa Mbak, aku mungkin salah karena sudah terlalu lancang. Tapi aku nggak akan minta maaf atas tindakanku barusan dan semua kata-kata yang aku ucapkan, karena itu semua adalah fakta!” melirik sinis pada sang kakak ipar yang masih terdiam.
“Ri, udah, ayok kita keluar” bujuk Toni lagi.
“Aku akan keluar dari sini kalo Mas Mirza udah pergi. Aku takut Mas Mirza menyakiti Mbak Via.”
“Jangan lebay, nggak mungkin Mas Mirza menyakiti Mbak Via.”
“Ish! Kamu ini kenapa sih Ton?” menepis tangan Toni dari pergelangan tangannya.
“Sudah adzan maghrib, nggak baik ribut-ribut.” Toni memelankan suaranya karena memang kumandang adzan maghrib sudah terdengar.
Akhirnya Riri nurut juga, ia keluar kamar Via setelah melempar tatapan sinis pada kakak iparnya.
Saking semangatnya dia marah-marah, Riri sampai lupa tujuan awalnya yang mau ngambil pakaian. Ia langsung masuk mobil dan duduk dengan wajah jutek. Toni melajukan mobil meninggalkan rumah Via, ia tak berani buka suara melihat raut angker sang kekasih, ia hanya memperhatikan Riri diam-diam. Toni membatin, apa Riri akan bertindak bar-bar seperti tadi kalo nanti dia marah saat jadi istriku? Reflek mengelus pipi kanannya sendiri teringat betapa telaknya tamparan tangan Riri pada Mirza.
“Kenapa kamu?” menoleh dan mendapati Toni tengah dalam mode melongo.
“Emh, nggak” agak kaget kepergok Riri. “Kamu makin cantik kalo lagi jutek begitu.” Mengulas senyum untuk menutupi kegugupannya.
“Tenang aja, kamu nggak bakalan aku gampar kok kalo nggak bikin kesalahan fatal.”
Uhuk!
Kok dia tau ya, padahal kan aku cuman ngomong dalam hati?
❤️❤️❤️❤️❤️
-------eaaa… segitu dulu ya readers kesayangan 😊😊😊
Akak othor kece semuanya, maafkan yang belum aku feed back yaa…
🙏🙏
Semuanya, jangan lupa ...
jempolnya mana ……???😍😍😍
vote dong, udah minggu baru nih. jangan disimpen aja dong jatah vote mingguannya 😁😁
Komen, komen, komen, komen yaaa….
__ADS_1
Aku udah baca komen kalian semua. Makasih udah ikut marah-marah, hehe….🤭🤭
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘