TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
67 #BERPISAH


__ADS_3

DOENG!


Mirza menghela napas berat.


Panggil sekarang saja Pak, kalo ibu saya dan ibu mertua saya belum pergi dari sini dalam waktu lima menit.” Ucap Mirza penuh tekanan sambil melihat Bu Een dan Bu Harni kemudian balik badan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Bu Een  mau protes tapi nggak jadi karena ditahan Sofi.


“Udah, Bu. Sebaiknya kita pergi aja dari sini.” Bisik Sofi. “Ibu nggak mau kan beneran dipenjara?” Lanjut Sofi.


Bu Een akhirnya pergi meninggalkan rumah Mirza dengan membawa sisa kedongkolan dalam hatinya.


Pak RT meminta warga membubarkan diri, beberapa dari mereka terdengar menggerutu. Mereka menyayangkan  kalau adegan seru barusan itu benar-benar berakhir dengan anti klimaks. Menurut beberapa emak IWANKOR harusnya Bu Harni yang memenangkan pertengkaran sengit itu.


Via yang penat membanting tubuhnya di sofa ruang tengah, sedangkan Mirza sendiri sudah masuk kamar. Dia juga pasti merasakan hal yang sama dengan Via.


“Vi, ibu rasa dalam hal ini kamu harus lebih tegas agar ibu mertua kamu itu nggak semena-mena sama kamu.” Ucap Bu Harni menghampiri Via.


Via melihat ibunya setengah hati.


“Udahlah, Bu. Jangan bahas soal itu lagi, aku pusing.” Via memijit-mijit pelipisnya merasakan pening di kepalanya.


“Kalau kamu diem aja, mertua kamu sama pelakor itu akan semakin merajalela, Vi.”


“Bu, aku mohon …” Via kali ini memberanikan diri untuk sedikit menekankan nada suaranya.


Bu Harni pun mengalah, ia membiarkan Via sendiri di ruang tengah dan menuju lantai dua.


Tak terasa waktu bergulir senja, Via tertidur di sofa. Tia yang turun untuk memasak tak tega melihat adiknya terlelap seperti itu, makanya ia melarang Ica untuk dekat-dekat dengan Via.


“Ica main di halaman belakang aja ya, tante Via jangan digangguin. Biarin istirahat. Bunda mau masak dulu buat makan malam kita.”


Ica mengangguk patuh.


Bu Harni pun ikut membantu Tia di dapur dan hanya melihat sekilas pada wajah Via yang nampak sangat lelah. Hatinya sungguh tak tega melihat putri keduanya itu kini sedang dalam masalah besar.


Ba'da maghrib Mirza turun dan duduk disamping Via yang masih terlelap.


Via terbangun ketika Mirza mengusap pipinya lembut.


“Mas?” Via melihat wajah Mirza di sampingnya.


“Kamu capek banget ya, sayang? Maafkan suamimu ini ya.” Ucap Mirza sedu.


Via hanya menggenggam tangan Mirza yang terasa sejuk kerena baru selesai mandi.


“Semua kekacauan ini berawal dari perbuatan bodohku.” Lanjut Mirza penuh sesal.


Bu Harni dan Tia yang melihat mereka dari dapur diam-diam menguping penuh rasa ingin tahu.


“Aku nggak mau bahas soal itu, Mas.”


Mirza mengangguk dan tersenyum penuh arti.


Cup.


Diciumnya kening Via lembut.


Bu harni dan Tia bernafas lega melihatnya. Bu Harni kemudian nyamperin mereka.


“Za, makan dulu yuk. Kamu kan bentar lagi mau pergi.” Ucap Bu Harni seolah tak pernah terjadi apa-apa dengannya.


Mirza mengangguk kemudian membangunkan Via.


“Kita makan dulu yuk, sayang.”


“Aku belum laper, Mas. Kayaknya aku mau mandi dulu.”


“Kamu kan belum makan dari siang, Vi.” Ucap Tia penuh perhatian. “Sebaiknya makan dulu, aku sama ibu udah masak lho.”


Via jadi tak enak hati menolak, akhirnya ikut juga ke meja makan.


Masakan Tia tak usah diragukan lagi kelezatannya, tapi Via hanya makan sedikit. Selebihnya ia hanya memainkan sendok dan garpunya kesana kemari mengaduk-aduk nasi dan lauknya tanpa berselara untuk makan. Mirza yang memperhatikan itu hanya diam tak berani menegur, begitu pula Bu Harni dan Tia.


Mereka makan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun hingga hampir selesai.


“Tante Via kenapa makannya cuma sedikit? Masakan Bunda nggak enak, ya?” Akhirnya perkataan polos dari Ica yang berani menegur Via setelah semuanya selesai makan sedangkan Via masih saja memainkan sendok dan garpunya.


Via seperti agak kaget ditanya Ica, ketahuan kalo pikirannya kemana-mana.

__ADS_1


“Ah, nggak kok. Masakan Bunda Ica enak, kok.” Via mencoba tersenyum.


“Terus kenapa dari tadi cuman diaduk-aduk aja makanannya? Diabisin dong, Tante. Nanti kalo nggak abis, nasinya nangis lho.” Ocehan polos Ica membuat semua yang ada di meja makan tersenyum.


Via akhirnya menyuapkan kembali makanan ke dalam mulutnya. Satu suap, dua suap ia masih bisa mengunyah dan menelannya meski agak dipaksakan. Tapi lama-lama lambungnya seperti menolak. Tiba-tiba Via mual.


“Oekk …” Via hampir muntah dan cepat menutup mulutnya kemudian berlari ke wastafel.


Mirza segera menyusulnya dengan penuh khawatir.


“Oeekk …” Via mual lagi.


“Sayang, kamu kanapa?” Mirza mengusap-usap punggung Via.


Via nggak menjawab, dia telah menghidupkan keran untuk mengguyur wastavel.


Mirza memijit ringan tengkuk Mirza.


“Masih mau muntah lagi?” Tanya Mirza masih sangat khawatir.


Via membersihkan mulutnya kemudian menggeleng samar.


“Kamu sakit, sayang?”


“Nggak, cuman tiba-tiba mual aja, Mas”


“Ya udah, aku antar kamu ke kamar ya.”


Via mengangguk. Bu Harni dan Tia segera membereskan meja makan lantas bergegas menyusul Via.


“Za, kamu jadi berangkat nggak?” Tanya Bu Harni.


Mirza melihat jam tangannya. Pukul 18.35.


“Aku kayaknnya nggak jadi aja deh. Aku nggak tega liat Via sakit.”


“Jangan dong, Mas. Kamu berangkat aja. Aku nggak papa kok.” Ucap Via.


“Iya, kan ada ibu sama Tia disini.”


Mirza melihat wajah istrinya yang sayu. Via mengangguk untuk memberikan keyakinan pada suaminya.


Tia menuju kamar untuk mencari ponselnya, Ica duduk di samping Via sambil mengusap-usap rambut tantenya lembut.


“Kabari Mas kalo ada apa-apa ya.” Mirza mencium tangan Via. “Mas janji segera pulang kalo udah selesai semuanya.”


“Iya, Mas.”


“Ica jagain tante Via, ya.” Pinta Mirza pada Ica seolah anak itu benar-benar bisa diandalkan untuk menjaga istrinya.


“Beres, Om. ” Ica mengacungkan jempol kanannya yang mungil. “Tapi jangan lupa oleh-olehnya ya.” Imbuh Ica dengan senyum lebarnya. 


“Siap, Bos!” Jawab Mirza sambil mengacak sayang rambut Ica.


 “Gimana Arya? Bisa dia antar Mirza?” Tanya Bu Harni yang melihat Tia masuk kamar.


“Bisa sih, tapi Mas Arya masih lagi nganter penumpang juga.” Sahut Tia agak ragu.


“Ya udah, aku tunggu bentar lagi deh kalo gitu.” Ucap Mirza. “Kalo Mas Arya nggak bisa juga nggak papa kok, Mbak. Aku naik motor sendiri aja ke stasiun.”


“Lah, terus motor kamu mau dikemanain?” Tanya Bu Harni heran.


“Kan ada penitipan motor Bu di stasiaun.”


“Aman nggak? Ibu khawatir, soalnya kan sekarang lagi marak curanmor.”


“Insya Allah aman, Bu.”


TING TONG


Terdengar bunyi bel.


“Nah, itu pasti si Arya.” Tebak Bu Harni. “Ayok cepetan, Za. Nanti kamu ketinggalan kereta.”


“Sayang, Mas pergi dulu ya.” Pamit Mirza seraya mengecup kening Via. Via membalasnya dengan mencium punggung tangan suaminya.


“Hati-hati ya, Mas.” Pesan Via.


Mirza mengangguk, walau berat hati ia melangkah pergi. Mirza segera turun membawa tas ranselnya diikuti Bu Harni.

__ADS_1


“Sayang, kamu jagain tante Via dulu ya. Bunda mau anter Om Mirza ke depan.” Pinta Tia pada Ica.


Ica hanya mengangguk. Tia bergegas ikut turun, dalam hatinya heran juga kok Arya nyampenya cepet banget? Padahal dia bilang lagi di luar Jati Asri.


TING TONG


Bunyi bel terdengar sekali lagi.


Mirza dan Bu Harni yang sudah hampir sampai di ruang tamu segera mempercepat langkah mereka. Mirza segera membukakan pintu.


 


JENGJENG!


 


 


CUT TO :😁😁😁


 


Jiaaaaah, nungguin yaaaa ….😂😂😂


Hehehe….. hampura ka sadayana 🙏🙏🙏☺️☺️☺️☺️☺️


Authornya lagi pingin jail nih, sengaja cut dulu


😅😅😅😅


Hopely penasaran sih 😄


Tapi kalo nggak juga nggak papa kok🤭🤭🤭Hari ini up 2 bab, mumpung authornya lagi nggak nyuci 😁😁😁


Tapi ngeselin juga yaa…🤣🤣🤣


Boleh kok kalo mau ngomel disini, hihiii….😂


Besok pagi tungguin kelanjutannya yaa Kak😊😊😊❤️❤️❤️


Kira-kira siapa itu yang datang yaa…?🤔🤔


A.      Bu Een


B.      Sofi


C.      Pak RT


D.      Arya


E.       Jawaban A, B, C dan D benar semua karena Bu Een, Sofi dan Pak RT ngojek sama Arya.🤣🤣🤣


 


Terima kasih selalu hadir singgah di karyaku ya Kak🙏🙏❤️❤️❤️


Selalu like, komen, rate 5 dan vote ya biar aku makin semangat.💪💪🤩🤩


Luv u all🤗🤗😘😘


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2