TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
69 #OM GANTENG DAN LITTLE DRAMA QUEEN


__ADS_3

Mobil Danar baru saja meninggalkan stasiun hampir bersamaan dengan kereta yang ditumpangi Mirza yang mulai melaju perlahan ketika ponselnya berbunyi dan terpampang foto Riri pada panggilan whatsapp.


“Ya, Halo Ri.” Sapa Danar.


“Mas Danar, bisa balik lagi ke rumah Mbak Via kan abis nganter Mas Mirza? Tolongin Mbak Via Mas. Cepetan kesini, Mbak Via pingsan.” Ungkap Riri dengan nada panik di seberang.


“Pingsan?” Danar kaget. “Kenapa Via, Ri?” Tanya Danar penuh khawatir.


“Nggak tau. Udah cepetan, Mas Danar kesini ya.” Pinta Riri penuh harap.


“Iya, iya. Oke!”


Danar segera mempercepat laju mobilnya begitu Riri mengakhiri panggilan telponnya.


Tak sampai 15 menit ia sudah tiba kembali di rumah Via. Riri yang sedari tadi menunggu di teras depan langsung menyongsong Danar dan mengajaknya segera masuk menuju kamar Via.


“Nak Danar, tolongin Via cepet, Nak.” Bu Harni meyambut Danar dengan raut khawatir. “Kita bawa dia ke klinik sekarang. Ayo cepat angkat, Nak.” Perintah Bu Harni.


Danar mendekati ranjang Via agak ragu dan melihat pada wajah Via yang pias, matanya terpejam, napasnya lemah.


“Ayok, cepetan bawa Via peke mobilmu, Nak.” Perintah Bu Harni. “Tia, kamu siapkan keperluan Via cepet.” Perintahnya lagi pada Tia.


Tia dengan sigap membawa beberapa barang yang mungkin diperlukan jika Via harus dirawat di klinik.


Danar mengangkat tubuh Via yang lemas membawanya keluar menuruni tangga diikuti anggota keluarga yang lain. Riri segera membukakan pintu mobil dan duduk di jok tengah diikuti Tia untuk menyangga kepala dan kaki Via.


“Mas, tolong jaga rumah dulu ya sama Ica.” Pinta Tia pada Arya yang menggendong Ica.


Arya mengangguk.


Bu Harni duduk di jok depan bersama Danar. Mobil Danar pun meninggalkan rumah menuju klinik dokter Burhan.


Dua orang perawat segera menyambut mereka di ruang IGD. Setelah Bu Harni memberikan keterangan singkat tentang keadaan Via, salah satu perawat meminta mereka untuk menunggu di luar.


Bu Harni meremas tangannya sendiri penuh kegelisahan. Tia dan Riri duduk bersebelahan di kursi tunggu. Semenatra Danar berdiri agak jauh dari mereka tampak sibuk mengetik pesan di poselnya.


“Keluarga Nyonya Livia.” Panggil seorang perawat yang keluar dari IGD.


Bu Harni segera bangkit.


“Biar Ibu saja.” Ucap Bu Harni yang melihat Riri dan Tia ikutan bangun.


Bu Harni kemudian ikut masuk ke dalam ruangan untuk beberapa saat. Riri melihat ke arah Danar lalu menghampirinya.


“Mas Danar, maaf ya kami sudah merepotkan.” Ucap Riri membuat perhatian Danar dari layar ponselnya teralihkan. “Kalo Mas Danar mau pulang nggak papa kok, Mbak Via udah dapet penanganan juga dari dokter.”


“Aku akan tetep disini.” Ucap Danar.


“Makasih ya, Mas.”


Danar mengangguk.


Bu Harni keluar dan semuanya langsung bertanya dengan nada khawatir.


“Gimana, Bu?” Tanya Tia dan Riri.


“Via udah dipindahkan ke ruang rawat.” Ucap Bu Harni.


“Ayo kita ke sana.” Ajak Tia karena tak sabar ingin segera melihat adiknya.


Mereka berempat menuju kamar tempat Via di rawat. Suster baru akan keluar dari ruangan begitu Bu Harni akan masuk dengan anak-anaknya.


“Sus, gimana keadaan adik saya?” Tanya Tia mencegat suster.


“Sudah mulai stabil kok, Mbak. Sebaiknya jangan banyak-banyak yang nunggu, karena pasien butuh istirahat.”


“Tapi nggak ada yang serius kan dengan kakak saya, Sus?" Riri gantian nanya.


“Semoga saja tidak. Besok pagi akan ada pemeriksaan lanjutan. Pasien Nyonya Livia hanya dehidrasi dan tekanan darahnya rendah.”


Riri dan Via manggut-manggut.


“Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Suster.


Bu Harni segera menghampiri Danar yang berdiri di dekat pintu.


“Nak Danar, terima kasih banyak ya atas bantuannya.”


“Sama-sama Bu.”


“Sebaiknya kalian pulang aja sama Nak Danar, biar ibu yang jagain Via di sini.” Ucap Bu Harni pada Tia dan Riri.


“Biar aku disini nemenin ibu, nanti takut kalo ada apa-apa.” Usul Tia.


“Ya udah, kalo gitu kamu yang pulang aja, Ri.”


“Sebaiknya ibu juga pulang, nanti besok pagi kita kesini gantian jaga. Biar Mas Arya yang temani Mbak Tia disini.” Usul Riri.


“Iya, kayaknya begitu lebih baik, Bu.” Tia setuju.


Bu Harni akhirnya mengalah, ia dan Riri pulang diantar Danar.


______


Mata bu Harni rasanya sulit sekali terpejam. Pikirannya tak tenang meski sudah ada Arya dan Tia yang menjaga Via di klinik. Ia melirik Riri dan Ica yang sudah pulas di sampingnya. Bu Harni tiba-tiba merasa sangat bersalah sebab Via jadi begitu pastilah karena tertekan dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Bu Harni bersumpah ia nggak akan membiarkan besannya dan si pelakor itu merusak rumah tangga anaknya.


Menjelang tengah malam mata bu Harni baru mengantuk dan terbangun pagi harinya karena teriakan Ica yang mencari bundanya.


Anak itu baru tenang setelah dijelaskan tentang keadaan tantenya oleh sang nenek. namun begitu Ica tetap tidak memperbolehkan neneknya keluar kamar karena ingin ditemani nonton kartun di kamar oleh sang nenek.

__ADS_1


Bu Harni sholat subuh kesiangan dan harus kembali menemani Ica bermalas-malasan hingga matahari naik lebih tinggi, padahal Bu Harni ingin sekali membantu Riri yang mungkin sudah sibuk di dapur sedari pagi buta.


Samar terdengar bunyi ponsel dari kamar Via yang pintunya terbuka. Bu Harni menuju ke sana setelah ijin sama Ica. Ternyata ponsel Via ketinggalan dan itu telpon dari Mirza. Bu Harni ragu untuk menerimanya hingga panggilan itu berhenti sendiri. Lantas tak berapa lama ponsel itu berdering lagi.


Ica mengintip neneknya di kamar Via kemudian turun karena mencium aroma masakan yang lezat dari dapur.


“Tante Riri masak apa?” Tayan Ica mengejutkan Riri.


“Eh, Ica udah bangun?” Riri menoleh agak kaget. “Tante lagi bikin sarapan nih buat ayah sama bunda Ica.”


“Berarti tante Riri mau ke rumah sakit ya? Ica boleh ikut kan?”


“Hmm, gimana ya? Anak kecil kan nggak boleh masuk, soalnya di sana banyak kuman.” Ucap Riri agak tak tega.


Wajah Ica langsung cemberut. Bu Harni menuruni tangga sambil bicara di telpon dengan Mirza.


“Iya, Za. Via baik-baik aja kok. Dia cuman lagi keluar, hpnya ditinggal. Agak siangan aja kamu telpon lagi ya."


Riri mengerutkan dahinya, heran kenapa ibunya berkata seperti itu pada Mirza.


“Iya, nanti ibu sampaikan. Wa alaikumsalam.”


“Bu, Ibu kok nggak bilang kalo Mbak Via lagi sakit?” Protes Riri.


“Ibu nggak mau Mirza kepikiran, nanti dia malah balik lagi nggak jadi medical chek up. Terus nggak jadi juga deh berlayarnya, nggak dapet duit. Kan Via juga yang rugi kalo suaminya nggak kerja-kerja?” Terang Bu Harni memberi alasan.


Riri menggeleng nggak habis pikir.


Ternyata masih saja duit yang jadi prioritas ibu! Batin Riri.


“Kenapa sih orang gede suka bohong? Padahal anak kecil selalu disuruh jangan bohong?” Celetuk Ica yang rupanya menyimak apa yang dibicarakan antara nenek dan tantenya.


JLEB!


Bu Harni terdiam ditanya Ica begitu. Riri memilih kembali ke dapur pura-pura nggak denger apa yang ditanyakan Ica.


“Ah, Ica sayang. Mandi yuk sama nenek.” Ajak Bu Harni coba mengalihkan perhatian Ica.


"Nenek jawab dulu pertanyaan Ica."


Bu Harni diam sebentar mencari kata yang pas untuk menjelaskannya pada Ica.


“Itu, karena ….”


TING TONG


Suara b dari pintu depan menyelamatkan Bu Harni dari pertanyaan Ica yang masih belum bisa dijawabnya.


“Eh, ada yang datang.” Ujar Bu Harni. “ Ica, kita liat ke depan yuk! Siapa tau itu ayah Ica.”


“Iya, Nek.” Ica langsung bersemangat lupa pada pertanyaannya sendiri. “Ayah …!” Teriak Ica riang sambil berlari ke ruang tengah untuk membuka pintu mendahului neneknya.


“Yah, bukan ayah.” Ica memperlihatkan wajah kecewanya.


“Nak Danar?” Bu Harni tak menyangka Danar yang datang.


“Assalamalaikum, Bu.” Danar menyalami Bu Harni.


“Wa alaikum slaam.”


“Maaf, kalo mengganggu. Saya cuman mau nganterin motornya Riri kesini, mungkin Riri perlu untuk bolak balik klinik.


“Oh, iya. Maksih ya, Nak. Mari masuk dulu.” Ucap Bu Harni mempersilahkan Danar masuk.


Danar masuk dan duduk di ruang tamu.


“Biar Ibu panggilkan Riri sekalian bikinkan minum ya. Ibu mau mandiin Ica dulu.”


“Nggak usah repor-repot, Bu.”


“Ah, nggak kok.”


Bu Harni masuk bersama Ica dan mengatakan pada Riri kalau Danar ada di depan.


“Lho? Mas Danar kesini naik mobil sambil bawa motorku?” Ujar Riri yang nongol sambil melihat ke halaman kalau ada motornya tapi juga ada mobil Danar terparkir di sana.


“Nggak, itu motor kamu dianterin teman yang punya bengkel tadi ke sini bareng aku.”


“Oh, terus sekarang mana orangnya?”


“Udah pulang.”


“Oh …” Riri manggut-manggut. “Oya, Mas Danar mau minum apa?”


“Nggak usah.” Tolak Danar. “Emh, gimana keadaan kakak kamu?” Tanya Danar agak ragu.


“Ini kami baru mau ke sana bentar lagi.”


“Aku boleh ikut jenguk?”


“Boleh lah, masa nggak.”


Danar senyum.


“Kalo gitu tunggu sebentar ya, Mas. Aku mau siap-siap dulu.” Riri masuk ke dalam untuk mempersiapkan barang bawaannya.


Danar mengangguk.


Nggak sia-sia dia pagi-pagi gini udah nyampe kampung Riri, sebentar lagi dia bisa melihat keadaan Via. Semalaman sebenarnya Danar juga nggak nyenyak tidur. Jantungnya berdebar tak karuan, pikirannya acak-acakan. Terbayang olehnya wajah cantik Via yang pucat dalam rengkuhan gendongannya, sungguh ia tak menyangka bisa sedekat itu dengan Via. Meski Via tak merasakan kehadirannya malam itu, tapi Danar sangat senang. Ada perasaan bersalah dalam dirinya yang menaruh hati pada wanita yang sudah bersuami, tapi rasa bahagianya lebih dominan hingga membuatnya tak bisa tidur semalaman dan gelisah tak karuan sampai-sampai Pak Hadi menegurnya semalam.

__ADS_1


“Kamu belum tidur?” Pak Hadi melongok ke kamar Danar yang pintunya sedikit terbuka.


“Papa?” Danar sedikit kaget melihat papanya juga ternyata belum tidur.


Pak Hadi yang habis ngambil minum di ruang makan masuk mendekati Danar dan duduk di ranjang putra semata wayangnya.


“Papa perhatikan dari sejak kamu pulang tadi kok gelisah teus? Kayak ada yang dipikirkan?”


Danar coba mengulas senyum, ia tak mungkin mengatakan pada papanya kalo lagi gelisah gara-gara mikirin istri orang.


“Nggak papa kok, cuman masalah kerjaan aja.” Danar terpaksa berbohong.


Pak Hadi menepuk pundak anaknya. “Elin memberimu tanggung jawab yang terlalu berat ya? Dia memang begitu, selalu ingin perfect dan cepat dalam segala hal. Seharusnya dia dan Rian punya anak agar tak merepotkanmu terus.”


“Papa ada-ada aja, emangnya bikin anak semudah bikin kue donat?” Jawab Danar cuek. “Lagipula aku justru senang kalo direpotkan ibu dan ayah Rian.” Lanjut Danar.


“Terserah kamu saja kalau begitu.” Pak Hadi bangkit. “Tidurlah, ini sudah larut. Besok pagi kamu bisa dipecat ibu angkatmu kalau bangun kesiangan terus.” Canda Pak Hadi.


“Aku juga kan bosnya, Pa? Masa bos bisa dipecat?” Elak Danar.


“Bos jomblo!” Sahut Pak Hadi. “Usia sudah kepala 3 kamu masih jomblo terus. Coba kalo sudah punya istri, pasti ada yang membangunkanmu tiap pagi jadi nggak bakal kesiangan!” Sambungnya sambil keluar kamar.


“Kalo cuman buat bangunin tidur suruh aja jam waker.” Gerutu Danar.


“Kalo gitu nikah aja sama jam waker!” Balas Pak Hadi dari luar kamar, Danar tak menyangka papanya mendengar gerutuannya.


Danar senyum-senyum sendiri teringat candaan papanya semalam.


“Dih, kok Mas Danar senyum-senyum sendiri gitu kenapa?” Tegur Riri yang muncul dari dalam menyadarkan lamunan Danar.


“Eh, udah siap?” Danar balik nanya setengah kaget karena Riri mergokin dia yang lagi senyum-senyum sendiri. “Sini aku bawain.” Danar mengambil barang bawaan Riri.


“Nak Danar, Ibu sama Ica ikut naik mobil Nak Danar ya? Biar Riri yang bawa motor.” Ucap Bu Harni yang baru muncul sama Ica.


“Lho Ica juga ikut, Bu?” Tanya Riri.


“Ya masa dia ditinggal di rumah sendirian? Biarin aja, nanti kan nyampe sana balik lagi sama Tia dan Arya.”


“Oh …” Bibir Riri membulat.


Jadilah mereka berangkat ke klinik untuk menjenguk Via. Ica tampak bahagia di dalam mobil. Anak kecil itu selalu riang gembira kalo naik mobil, bahkan ketika sampai di halaman parkir klinik pun ia nggak mau turun. Bu Harni sampai harus ekstra mebujuknya agar Ica mau turun dari mobil tapi tak berhasil.


“Nanti Om Danar ajak Ica jalan-jalan naik mobil lagi deh. Sekarang kita turun dulu ya, kita jengukin Tante Via dulu.” Akhirnya Danar turun tangan untuk membujuk Ica.


“Beneran Om?” Tanya Ica, matanya membulat tak percaya.


“Beneran, Om janji.” Danar mengangkat dua jari kanannya.


“Iya deh kalo gitu.” Ica mengangguk. “Tapi janjinya harus ditepati lho, Om. Kalo nggak nanti bisa dosa.” Ica memperingatkan dengan wajah sok serius.


“Pasti akan Om tepati. Nanti Om ajak Ica jalan-jalan terus makan ice cream.”


“Yeeii, asyiik! Terima kasih, Om ganteng.” Sorak Ica girang.


“Apa? Om apa Ica bilang tadi?” Riri yang sedari tadi berdiri di dekat pintu mobil bertanya meyakinkan.


“Om ganteng.” Ucap Ica mantap.


Riri dan Bu Harni tertawa mendengarnya. Danar hanya tersenyum.


“Duh, maafin Ica yan Nak.” Bu Harni jadi nggak enak sampe bikin Danar turun tangan segala.


“Huh, dasar kecil-kecil udah pandai drama!” Cibir Riri usil pada ponakannya.


“Yee, biarin aja.” Ica nggak mau kalah.


“Ya uah ayok turun, little drama queen!” perintah Riri sambil mengulurkan tangannya mau mengendong keponakannya.


“Nggak mau, Ica maunya digendong sama Om ganteng.” Tolak Ica sambil melihat pada Danar yang masih berda di jok depan.


“Ya ampun, dasar little drama queen!” Riri menopok jidatnya sendiri.


Jadilah Ica turun digendong Om ganteng alias Danar. Tangan mungil Ica melingkar manja di leher Danar. Bu Harni dan Riri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ica. Mereka tiba di depan ruang rawat Via.


Ceklek


Bu Harni memuka pintu.


Tampak Tia yang sedang duduk menyuapi Via sarapan nengok untuk melihat siapa yang datang.


“Assalamualaikum.” Ica memberi salam dengan suara imutnya.


“Wa alaikumsalam.” Sahut Tia langsung berdiri mengetahui siapa yang datang.


Bu Harni yang masuk paling depan langsung menghampiri Via yang duduk di bibir ranjang.


SLAP!


Mata Via dan Danar bertemu pandang.


___________


Eaaa.... 😂😂


Sebelum lanjut ke bab berikutnya jangan lupa like, komen, rate 5 dan votenya ya kak😉😉🤩🤩🤩


Yuuk lanjut lagi kakak….☺️☺️❤️❤️


Hari ini mumpung lagi hujan jadi authornya nggak nyuci 🤣🤣🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2