
Via dan Riri tak menghiraukan bunyi bel karena lagi asyik mencari nama yang bagus untuk toko kue Riri yang sebentar lagi akan resmi dibuka. Sementara Bu Harni ngobrol di halaman belakang dengan Om Jaka. Tia dan Ica sudah dijemput pulang oleh Arya.
TING TONG
Terdengar bunyi bel sekali lagi.
“Mas, coba tolong liat ke depan itu ada tamu.” Pinta Via pada Mirza yang juga sibuk dengan ponselnya.
TING TONG
“Ya ampun! Maksa banget sih itu orang!” Gerutu Mirza sambil meletakkan ponselnya kesal.
Mirza menuju ruang tamu dengan langkah-langkah lebar karena sang tamu sudah tak sabaran.
Ceklek
Mirza membuka pintu dan seketika langsung terbelalak melihat siapa yang berdiri di depannya.
“Ngapain lagi kamu kesini?” Tanya Mirza geram.
Sofi malah tersenyum.
“Nggak usah marah-marah gitu dong. Aku ke sini cuman mau pamitan kok.” Ucap Sofi santai. “Adikku datang kemarin untuk menjemputku pulang.” Lanjut Sofi sambil melirik Azad.
“Nggak nanya!” Ketus Mirza.
“Aku bawain opor ayam kesukaan kamu lho.” Sofi cuek sambil memamerkan wadah opor yang dibawanya.
Mirza bergeming, ia tak peduli.
“Kamu nggak nyuruh aku masuk?” Sofi masih juga tak sadar diri.
Mirza membuang ppandangannya, tak sudi melihat wajah Sofi yang sok manis.
“Aku mau ngambil barang-barangku yang ada di kamar.” Ujar Sofi kemudian mendorong daun pintu yang belum sepenuhnya terbuka lalu melewati Mirza begitu saja.
“Siapa, Mas?” Via menyusul ke depan karena penasaran dengan tamunya.
“Oh, halo Vi.” Sapa Sofi dengan wajah tanpa dosa.
Via melongo nggak nyangka kalo Sofi yang dateng.
“Oya,, ini tolong pegang.” Sofi memberikan wadah tuperber pada Via. "Itu opor ayam kesukaan Mirza, aku sendiri yang masak.” Ucap Sofi penuh percaya diri.
“Nggak usah epot-repot, Mas Mirza udah sarapan.” Via menyurukkan wadah itu kembali pada Sofi dengan wajah kesal.
“Kan bisa untuk nanti?” Sofi kekeh.
“Udah deh, kamu nggak usah lama-lama, cepetan ambil barang-barang kamu terus angkat kaki dari sini!” Mirza geregetan meleihat Sofi yang sok cuek seolah tak pernah terjadi apa-apa.
“Cepetan pergi! Kamu mau dipanggilin Pak RT sama ibu-ibu IWANKOR lagi?” Ancam Mirza.
“Ada apa sih ini kok ribut-ribut?” Timpal Riri yang kepo. “Ya ampun! Si pelakor dan Tuan Takur? Ngapain lagi kalian ke sini? Pergi sana!” Usir Riri galak.
Azad tersenyum melihat kedatangan Rri, hatinya tiba-tiba berflower.
“Ngapain kamu malah senyum-senyum? Bawa tuh kakak kamu pergi jauh-jauh!” Bentak Riri yang langsung bikin senyum Azad mengkeret.
“Heh, siapa kamu barani bentak-bentak, hah?” Balas Sofi nggak kalah galaknya.
“Pingin tau siapa aku? Nih!” Tanpa aba-aba Riri langsung menjambak rambut Sofi.
“Aaaw!” Sofi kesakitan medapat serangan dadakan.
“Eh, aduh udah lepas, Ri. Lepas.” Sergah Via.
Dengan kasar Riri melepaskan jambakannya sambil mendorong Sofi.
“Huh! Dasar perempuan nggak tau malu!” Maki Riri.
“Kak, sebaiknya cepat ambil keperluan Kakak terus kita segera pergi dari sini.” Ucap Azad khawatir.
Sofi melangkah sambil melemparkan tatapan kesal pada Riri.
“Apa liat-liat?” Semprot Riri.
Azad segera menggiring Sofi agar tak terjadi incident tak diinginkan lagi. Mereka masuk kamar, Sofi meletakkan opor ayamnya dengan kesal di atas nakas.
“Harusnya Mbak Via nggak nyuruh aku lepasin tadi. Biar aku uwel-uwel itu rambutnya dia, biar kapok sekalian!” Riri masih emosi.
“Udah, jangan buat keributan lagi, Ri. Lagian mereka mau pulang juga kok.” Sahut Via.
Lalu Via dan Mirza memilih menyingkir karena nggak mau lihat Sofi lagi, takut nambahin dosa karena bawaannya emosi mulu kalo ngeliat tampang Sofi. Mereka duduk di ruang makan mengamati dari jauh, sedangkan Riri menunggu di ruang tengah.
Sofi sudah mulai merapikan beberapa bajunya yang tertinggal di kamar itu. Setelah selesai, ia duduk di bibir ranjang.
“Kak, ayo kita pergi.” Ajak Azad.
Sofi tak menyahut, ia nampaknya sedang berpikir keras. Azad memperhatikan raut serius kakaknya.
“Klao gitu aku tunggu di luar, sebaiknya Kak Sofi jangan lama-lama di sini.” Ucap Azad.
Riri langsung berdiri begitu pintu kamar Sofi terbuka.
“Mana kakak kamu si pelakor itu?” Tanya Riri yang melihat Azad cuman keluar sendirian.
Azad diam, ia mau senyum tapi takut kena semprot lagi sama Riri.
“Hebat juga ya kamu bisa nemuin kakak kamu itu di kandang gorilla?!” Riri memandang Azad tajam.
“Terima kasih atas pujiannya.” Sahut Azad.
“Heh, Takur! Siapa yang lagi muji kamu?” Kesal Riri sambil tak sedikipun mengurangi tatapan tajamnya.
Azad hanya menarik nafas. Cewek di depannya ini benar-benar menggemaskan dengan raut wajahnya yang tampak kesal begitu.
__ADS_1
“Kamu nggak nawarin aku minum? Begini caramu memperlakukan tamu?” Sinis Azad pura-pura kesal juga dengan perlakuan Riri, padahal jantungnya berdegup tak karuan.
“Apa? Tamu? Tamu dari Hongkong?” Mata Riri membulat sempurna dengan bibir mencibir.
“Saya dari Jakarta, bukan dari Hongkong.” Sahut Azad santai. “Nona, kita belum kenalan.”
“Nggak sudi!” Sahut Riri cepat.
Kreeek
Sofi keluar dari kamar dengan beberapa baju ditangan kirinya, sementara tangan kanannya masih membawa opor ayam yang belum tersampaikan pada tujuannya.
“Azad, tolong bawa ini ke mobil” Sofi memberikan baju-bajunya pada Azad kemudian melangkah menuju ruang makan.
“Eits, mau ngapain kamu?” Riri mencegat langkah Sofi.
“Minggir. Aku nggak punya urusan sama kamu.” Ucap Sofi datar. “Aku hanya mau mengucapkan salam perpisahan pada Mirza.” Sofi melewati Riri dengan menyenggol bahu Riri.
Riri cepat-cepat mengikuti langkah Sofi.
“Za, tolong terima ini sebagai tanda perpisahan dariku.” Tanpa malu Sofi duduk di samping Mirza dan menyodorkan opor buatannya.
“Kenapa aku harus menerimanya?” Tanya Mirza dingin.
“Karena … mungkin aku nggak akan kembali lagi ke sini.” Jawab Sofi pelan.
“Bagaimana aku bisa yakin?”
Sofi mengela nafas panjang, seolah ingin melepas beban dalam hati dan benaknya.
Hmmm, nggak papa deh drama-drama sedikit. Batin Sofi.
“Aku akan segera menikah dengan tunanganku.”
Mirza hanya melirik sekilas kemudian acuh lagi.
“Aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi di sini. Memnag tak seharusnya aku kemari.” Sesal Sofi.
“Rasa-rasanya aku tak percaya kamu menyerah secepat ini.” Sinis Mirza.
Sofi tersenyum getir.
“Terserah, aku tak memintamu untuk mempercayaiku. Tapi tolong terimalah ini sebagai permintaan maafku.”
Mirza hanya diam. Riri yang masih berdiri menyaksikan itu gatel banget pingin jambak rambut Sofi lagi, Via pun hanya memperhatikan apa reaksi suaminya kemudian.
Kalo pun bukan Mirza yang makan, sebnernya nggak papa juga sih. Yang penting ada yang makan masakanku ini, dan mereka pasti nyesel udah memperlakukanku semena-mena. Monolg sofi dalam hati.
“Dimakan ya, Za. Aku harap kamu bisa benar-benar memaafkanku.” Sekali lagi Sofi menyurukkan wadah opor itu ke dekat Mirza seolah berharap banget Mirza akan benar-benar memakannya. “ Aku pamit.” Sofi berdiri.
“Tunggu!” Sergah Via yang membuat semuanya terkejut.
“Ada apa?” Sofi heran.
“Mas, aku rasa nggak baik kamu mengabaikan pemberian Sofi. Apalagi ini Sofi sendiri yang membuatnya.” Ucap Via pada suaminya.
“Makanlah ini Mas, dan maafkan dia. Toh dia sudah nggak akan kembali lagi kesini. Bener begitu kan, Sof?” Via melihat pada Sofi untuk meyakinkan.
Sofi langsung mengagguk. “Iya.”
Via mengambil wadah opor itu dan membukanya.
“Tuh kan, aromanya harum banget, Mas.” Via mengirup aroma opor yang masih terasa hangat itu. “Sofi tau makanan kesukannmu dan sudah repot-repot masakin buat kamu.”
“Tapi masakan kesukaanku sayur lodeh buatanmu, sayang. Bukan opor ayam.” Mirza kesal kenapa tiba-tiba Via menjadi lunak dan memintanya menerima pemberian Sofi itu.
“Sudalah, Vi. Kalau Mirza tak mau makan juga nggak papa kok.” Ucap Sofi.
“Nggak, nggak. Mas Mirza pasti mau kok. Sebentar ya, aku ambilin manguknya.” Via mengambil mangkuk di rak dapur langsung diikuti Riri.
Sofi merasa keajaiban berpihak padanya karena tiba-tiba Via mendukungnya.
Dasar kamu polos alias oon, Vi! Tapi berkat kepolosan dan ke oonanmu ini, sebentar lagi bidikanku akan tepat sasaran. Sofi tersenyum bahagia dalam hati.
“Mbak, ngapain sih sok baik gitu?” Tegur Riri.
Via hanya tersenyum samar lalu kembali ke meja makan nyuekin Riri.
“Duduklah, Sof. Aku juga ambilkan mangkuk untukmu.” Ucap Via yang langsung membuat Sofi pias seketika.
“Ah, nggak usah. Aku udah makan tadi di rumah ibu.” Sebisa mungkin Sofi menolaknya.
“Apa kamu mau biarin Mas Mirza makan masaknmu sendirian?”
Sofi gelagapan. Tak mungkin ia memakan maskannya yang sudah dicampur obat pencahar itu.
Via menyendokkan opor ayam ke dalam mangkuk dan memberikannya pada Sofi dan Mirza.
“Silakan.” Ucap Via.
Aduh, kenapa jadi gini sih? Kenapa jadi aku harus ikut makan juga? Si oon ini apa sengaja ngerjain aku ya? Janga-jangan dia udah tau rencanaku? Tapi ah, nggak mungkin!
“Sof? Aku rasa Mas Mirza nggak akan makan kalo kamu nggak memakannya duluan.” Ujar Via.
Wajah Sofi berubah tegang.
“Kok kamu diem aja? Kamu bener-bener nggak mau makan masaknmu sendiri? Ada apa? Kenapa?” berondong Via.
“Oh, nggak … siapa yang nggak mau? Ini aku makan kok.” Sofi menyendok kuah opor dan mengangkatnya ragu.
Via dan Mirza memperhatikan dengan tatapan tajam. Rasanya itu seperti adegan slow motion karena terasa labat sekali.
Merasa tak punya plan B, akhirnya Sofi terpaksa menyeruput kuah opor itu.
“Tuh, aku makan kan?” Sofi nyengir. “Enak kok. Cobain, Za.”
__ADS_1
“Kamu nggak makan dagingnya juga, sepertinya empuk banget.” Ucap Via sambil melihat pada mangkuk Sofi.
“Oh, iya ini empuk dan enak banget. Kamu mau coba?” Sofi mau gentian ngerjain Via.
“Nggak, aku alergi ayam potong.”
Sofi hanya melongo.
“Kalo kamu habiskan makananmu itu, maka aku juga mau memaknnya.” Ujar Mirza.
“Tapi aku nggak bisa makan banyak, perutku mual. Tau sendiri kan kalo lagi hamil nggak bisa makan banyak-banyak?” Sofi beralasan.
“Kalo gitu aku nggak mau memakannya. Karena aku curiga bisa aja kamu mau ngeracuni aku.” Sinis Mirza.
“Ya nggak mungkin lah.” Kilah Sofi cepat.
“Kalo gitu cepat kamu habiskan, setelah itu baru aku.” Perintah Mirza dengan wajah datar.
“Oke, nih aku makan lagi.” Sofi kembali menyuapkan opor ke dalam mulutnya.
Sial sial sial! Ini senjata makan tuan namanya! Sofi menggeutu kesal dalam hati.
“Aku kenyang.” Sofi mendorong mangkuknya yang masih menyisakan sedikit kuah. “Sekarang giliran kamu.”
Mirza tersenyum miring.
“Aku mau nyampein kabar bahagia dulu sebelum makan masakanmu.”
Aduh! Banyak banget alasannya si MIrza ini, keburu perutku moncor ini. Aku harus cepat-cepat cari penangkalnya. Untung obat ini bekerja lambat, aku harus segera ke apotik setelah keluar dari rumah ini.
“Apa kamu siap mendengarnya?” Tanya MIrza.
“Katakan saja.”
Mirza meraih tangan Via.
“Ri, tolong panggilkan Ibu dan Om Jaka.” Pinta Mrza.
Riri segera ke halaman belakang.
“Ada Om Jaka juga?” Sofi setengah menggumam, ia lupa tadi memang seperti melihat ada mobil Om Jaka dihalaman, tapi dia tak begitu ngeh karena terlalu bersemangat mau ngasih opor ayam yang ternyata malah jadi boomerang buat dirinya sendiri.
Tak lama Rir muncul dengan dengan Om Jaka dan Bu Harni.
“Halo, Sof. Gimana kabar lu?” Sapa Om Jaka santai.
Sofi diam saja. Bu harni juga tak bereaksi karena udah dikasih tau Riri tentang kejadan yang baru saja terjadi.
“Oke Om dan Ibu. Aku mau nyampein kabar bahagia sama Sofi, dan aku mau kalian jadi saksinya.”
Sofi merasa muak, drama apalagi ini? Kenapa si Mirza malah ikut-ikutan drama juga?
“Cepet bilang, kabar apa itu?” Sofi nggak sabar.
“Via sekarang sedang hamil.”
“APA?” ekspresi Sofi sungguh melebihi ekspresi kagetnya Mirza kemarin malam. “Hamil? Nggak! Nggak mungkin! Kenapa bisa hamil?” Nggak bisa, cuman aku yang boleh hamil!”
“Hoy, Saodah! Pan dia punya laki! Ya wajar aja kalo hamil. Nah, elu? Laki elu sapa, kok bisa hamil?” Sahut Om Jaka cuek demi melihat Sofi yang sepertinya sangat shock itu.
“Nggak bisa! Cuman aku yang boleh hamil anaknya Mirza! Cuman ini anaknya Mirza, itu pasti bukan anaknya Mirza!” Sofi tiba-tiba meraung histeris sambil memegangi perutnya.
“Dasar aneh, ada orang hamil sama lakinya sendiri kok nggak boleh!” Om Jaka nggak habis pikir.
“Ri, cepet panggil adiknya dia!” Perintah Mirza.
Riri segera berlari ke depan.
“Nggak, aku nggak mau pergi. Aku harus pastiin kalo Via beneran hamil. Kalian pasti cuman mau ngusir aku aja kan? Kalian pasti cuman ingin nyingkirin aku sama bayiku aja kan? Kalian jahat! Jahat!” Sofi menangis nggak terima.
“Berarti niat kamu pulang belum sepenuhnya. Kamu masih belum bisa terima kenyataan kalo Via hamil, kamu ternyata cuman drama aja! Hah, untungnya aku nggak tertipu dengan drama kaleng-kelengmu itu!” MIrza tersenyum puas.
Azad tergopoh-gopoh datang dan membujuk Sofi.
“Cepet bawa dia, Takur! Sebelum kami lempar paksa dia keluar!” Perintah Riri galak.
Dengan susah payah Azad membawa kakaknya yang terus berontak, namun lama-lama gerakkannya makin lemah. Azad sudah sampai di teras.
“Kak, Kak Sofi baik-baik aja kan?” Tanya Azad penuh khawatir.
Sofi menyeka air matanya dengan punggung tangannya dan melihat ke belakang, tak ada satu orang pun yang mengantar mereka keluar.
Lhat saja! Kalian semua pasti akan merasakan pembalasanku. Batin Sofi geram.
Telapak tangannya yang sudah berkeringat dingin mengepal kuat. Azad segera membantu Sofi masuk dan memasangkan sit belt pada akaknya yang tampak kacau.
“Kak, apa kita perlu ke dokter dulu?” Tanya Azad sangat khawatir yang melihat tatapan mata kakaknya kosong.
Sofi menggeleng. “Kita langsung pulang.” Ucap Sofi lemah.
Sepanjang perjalanan, Sofi tak berkata apa-apa, hingga matanya terpejam dan Azad merasa lega karena tak ada yang serius dengan kakaknya.
_________
Haiii Kak….😊😊☺️☺️
Maaf banget ya telat up nih…🙏🙏🙏❤️❤️
Athor lagi sibuk, hihi….🤭🤭🤭
Tungguin part Bu Een dan Sofi yang bentar lagi bakal mules-mules kena jebakan batman di bab selanjutnya ya…😂😂😂
Like, komen, rate 5 dan votenya selalu ditunggu lho.🤩🤩😍😍
Terima kasih 🙏🙏❤️❤️
__ADS_1
Luv u all🤗🤗😘😘