
Jika bukan karena Mirza dan Om Jaka yang sudah sangat baik pada dirinya dan sang suami, Ice sudah minggat dari kemarin-kemarin karena tak tahan dengan sikap Bu Een yang meski sedang sakit tapi tingkahnya sama sekali tak mencerminkan orang yang butuh perawatan.
Seperti hari ini, Bu Een benar-benar menguras kesabaran Ice. Dari pagi tadi Bu Een tak mau makan, apalagi minum obat. Ice sudah berkali-kali membujuknya namun tak berhasil. Bu Een hanya mau makan beberapa potong apel saja, itupun ia lepeh kulitnya seperti cara makan anak bayi yang baru tumbuh gigi. Ice benar-benar jengkel dibuatnya. Meskipun begitu, siang ini Ice tak putus asa terus membujuk dengan memasak bubur sup spesial untuk Bu Een.
"Bu, buburnya udah mateng nih,” Ice membawa semangkuk bubur hangat duduk di samping Bu Een yang tengah menonton TV di atas kursi rodanya.
“Saya nggak mau makan,” menyahut acuh tanpa menoleh.
“Aku suapin ya, makan sedikit aja Bu.”
“Apa kamu nggak denger? saya nggak mau makan,” mendelik tajam dengan wajah angkernya yang masih pucat.
“Kalo ibu nggak mau makan, nanti ibu nggak sembuh-sembuh,” Ice masih berusaha membujuk.
“Itu bukan urusan kamu.”
“Ayolah Bu, makan sedikit aja. Biar nanti ibu bisa minum obatnya.”
PRANG!
Bu Een mendorong mangkuk yang dibawa Ice hingga jatuh pecah berserak membentur lantai. Seketika Ice kaget dengan perlakuan Bu Een, namun detik berikutnya emosi yang sedari tadi ditahannya meledak juga.
“Heh, Bu! Jangan mentang-mentang ibu lagi sakit terus bisa berbuat seenaknya ya?” Bangkit balas melotot pada Bu Een. “Kalo bukan karena Mas Mirza dan Om Jaka, aku nggak sudi ngerawat ibu. Dasar nenek Lampir nggak punya perasaan! Udah sakit masih aja ngelunjak!”
Keberanian Ice tak ayal membuat Bu Een terperangah kaget, ia mungkin tak menyangka jika istri dari Udin itu berani melawannya.
“Ce, ada apa ini?” Udin yang baru sampai keheranan melihat sang istri berwajah tegang dengan dada turun naik seperti orang baru abis lomba marathon. “Ini kenapa berantakan begini?” melihat pecahan mangkuk berisi bubur berserak di lantai.
“Tanya sama si Lampir itu!” Tunjuk Ice sengit pada wajah Bu Een yang sama tegangnya.
“Ce, jaga bicaramu,” Udin memperingatkan istrinya.
“Dia memang pantas disebut Lampir, kelakuannya sudah kayak Mak Lampir beneran.”
“Suruh istrimu pergi dari sini!” Titah Bu Een dengan kilatan tajam menatap Udin.
“Tanpa kamu suruh pun aku akan pergi dari sini. Memangnya siapa yang sudi ngerawat Mak Lampir macam kamu!” Sarkas Ice. “Ayok Kang, kita pergi dari sini!” menggeret Udin.
“Kita tunggu sampai Mas Mirza pulang, Ce. Kasihan ibu kalau ditinggal sendirian.”
Melotot tak percaya pada suaminya.”Kasihan katamu? Akang, kamu sadar nggak sih? Dia itu sama sekali nggak pantas mendapatkan belas kasihan, Kang.”
Coba menenangkan istrinya, “ingat, Akang pernah bilang apa sama kamu soal –“
“Nggak!” pangkas Ice. “Aku nggak inget apa-apa, aku amnesia! Udah nggak usah disebut-sebut lagi kebaikan dia yang sama sekali nggak ada secuil kuku pun dengan kebaikan Akang ke dia selama ini.”
“Tapi Ce –“
“Sekarang Akang tinggal pilih, mau tetap disini atau ikut aku pulang?” Memaksa dengan intonasi penuh penekanan.
“Ce, nggak bisa gitu dong. Setidaknya kita bersihkan dulu lantainya.”
“Biarin aja, peduli amat! Biar Mas Mirza tau sekalian kelakuan ibunya yang kayak dhemit!”
“Lancang mulutmu!” Umpat Bu Een.
“Masih mending mulut lancang, daripada mulut situ busuk! Kalau ngomong selalu nyakitin orang!” Balas ice dengan kebaranian sudah melebihi level kewajaran.
“Ce!” Sergah Udin dengan intonasi tinggi.
“Apa?!” Sahut Ice tak kalah tingginya. “Mau bilang kalau dia ini sudah Akang anggap seperti ibu akang sendiri, iya?” Menatap telak wajah suaminya dengan amarah membuncah. “Harusnya Akang mikir waktu mau bilang begitu, karena si Lampir ini sama sekali nggak nganggep akang siapa-siapa! Sama anak dan menantunya sendiri aja dia kejam, apalagi sama Akang yang palingan hanya dianggap tak lebih dari secuil upil!”
Udin terdiam. Upil? Serendah itukah dirinya dimata Bu Een?
(Hey, Ce! apa nggak ada kata pengandaian yang rada bagusan sedikit buat suamimu? masa upil sih? 🤭)
“Sekarang apa Akang masih akan diem disini dan belain si Lampir ini?” Desak Ice.
Udin masih mematung, Bu Een juga dalam mode freez.
“Oke, kalo Akang mau terus disini berarti jangan lagi pulang ke rumah. Mulai sekarang Akang bukan siapa-siapa aku lagi!” Putus Ice karena Udin tak juga kunjung menjawab.
Udin tersentak, “Ce, kamu ngomong apa? Jangan mudah bicara yang nggak berfaedah, nanti kalau diaminkan sama para malaikat gimana?”
“Nyatanya Akang akan lebih memilih ngurusin si Lampir ini kan?” Melirik sinis pada Bu Een. “Silakan urusi dia!” Memutar langkah namun Udin segera menahannya.
“Tunggu, Ce. Akang ini suami kamu –“
“Aku tau,” potong Ice. “Tapi Akang juga harus sadar, Akang jangan jadi suami yang lemah, jangan membela yang tak pantas dibela. Ikut aku pulang sekarang atau kita berakhir sampai disini, karena aku nggak sudi punya suami yang didikte sama manusia berwujud dhemit macam dia! Cukup Mas Mirza aja yang tak kuasa melawan tipu dayanya, Akang jangan ikutan!”
“Oke, oke. Akang ikut pulang.“
“Bagus, dan jangan coba-coba menginjakkan kaki ke rumah ini lagi kecuali kalau dia mati!”
“Kurang ajar!” Bu Een menggeram tertahan karena ia rasakan kepalanya mulai berdenyut seirama dengan jantungnya yang berdetak lebih cepat sedari tadi karena amarah yang tak tersampaikan.
“Apa? Mau mukul aku? Mau nampar aku? Ayo coba kalo bisa!” Ice sengaja memasang pipinya karena melihat tangan kiri Bu Een sudah mengepal kuat. “Aku doain semoga Tuhan nggak bakal kasih kesembuhan, biar mati di atas kursi roda sekalian wahai kau Lampir!”
“Ice, sudah!” menggeret paksa Ice yang terus nyerocos.
Ice pergi denga raut puas sementara raut pucat Bu Een berubah merah padam karena emosi. Ini masih siang, belum lewat tengah hari dan Mirza masih lama pulang kerja. Bu Een mulai frustasi menunggu waktu sore tiba.
“Aaarrgh ... “ mengerang sendiri memegangi kepalanya yang kembali berdenyut nyeri.
-
__ADS_1
-
-
Mendung bergelayut di langit sore, tak terlihat sekawanan burung yang biasa melintas pulang. Via menggeser duduknya dari kursi rotan teras belakang, beranjak menengadah menghirup aroma hujan yang mungkin sudah turun di tempat yang lain. Tiba-tiba ia mengkhawatirkan Tia yang belum pulang karena menjemput Ica.
Ting tung!
Bunyi bel rumah terdengar ketika Via baru saja akan meraih gawainya untuk meminta Tia tak usah ke rumah karena khawatir kehujanan.
“Itu pasti Mbak Tia. Syukurlah udah sampai,” berucap lega seraya melangkah ke ruang tamu.
“Mas?” Via surprise ternyata Mirza yang datang, segera ia maraih punggung tangan suaminya untuk menciumnya. Tak bisa dipungkiri, Via bahagia melihat suaminya pulang ke rumah karena sejak Bu Een pulang dari rumah sakit, Mirza bermalam di rumah ibunya. Rasanya hati Via tak pernah sebahagia ini sebelumnya ketika menyambut suaminya pulang, mungkinkah karena ia terlalu merindukanya?
“Hey, kok malah bengong?” Tegur Mirza merangkul pundak istrinya.
“Ah, nggak. Aku kira tadi Mbak Tia yang dateng.” Kilah Via.
“Jadi kamu nggak senang kalo ternyata Mas yang dateng?” pura-pura pasang tampang kesal.
“Bukan gitu Mas, aku cuma khawatir aja kalo Mbak Tia kehujanan soalnya dia mau jemput Ica katanya.”
“Oh, kirain kamu nggak senang liat Mas pulang?” mengajak Via masuk kamar.
“Mas mau aku bikinin teh anget? Atau kopi?”
“Nanti aja, Mas mau mandi dulu,” melepas bajunya.
“Eum, Mas –“ Via agak ragu.
“Ya, Sayang?”
“Mas ng-gak ke rumah ibu?”
Berhenti dari aktifitasnya sejenak.“Malam ini Mas tidur disini,” melihat pada Via yang masih mematung terbelenggu ragu. Mirza tau yang dipikirkan istrinya. “Jangan khawatir Sayang, ada Ice dan Udin yang nemenin ibu. Nanti Mas kabari mereka kalo Mas nggak pulang kesana.”
Hanya mengangguk lantas membiarkan sang suami melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ting tung!
Kali ini Via yakin itu pasti kakaknya yang datang.
Benar saja, wajah Tia muncul setelah dirinya membuka pintu, Arya berdiri di belakang Tia menggendong Ica yang tertidur.
“Ica tidur, Mbak?” Via melihat wajah keponakan semata wayangnya yang nampak terlelap.
“Iya.”
“Ya udah cepet bawa ke kamar Mas.” Ucapnya pada Arya. “Untung nggak kehujanan.” Menutup pintu tamu mengikuti kakaknya menuju kamar untuk membaringkan Ica.
Mirza pulang, Vi?” Tanya Tia.
“Syukurlah dia ingat pulang.” Ucap Tia.
“Bun,” Arya memberi isyarat dengan matanya. “Kenapa Bunda bilang begitu? Bukankah ini rumah Mirza, memang sudah seharusnya dia pulang kesini.”
“Ck, Ayah kenapa sih? Bunda kan cuman bilang syukur kalau Mirza ingat pulang, wajar kan soalnya dia udah kelamaan ninggalin istrinya yang lagi hamil demi ibunya.” Tia mendadak jadi sentimentil.
“Ya memang itu sudah tugasnya sebagai seorang anak, Bun. karena Bu Een sedang butuh Mirza saat ini.” Tukas Arya.
“Terus, maksud Ayah Via nggak butuh Mirza gitu? Dia lagi hamil besar, gimana kalau sewaktu-waktu mulas dan mau melahirkan?”
“Ehm, Mbak, Mas, udah ya jangan dibahas lagi.” Via tak enak hati melihat kakak dan kakak iparnya memperdebatkan dirinya dan suaminya.
“Mbak juga males debat sama ayahnya Ica.” Ngeloyor keluar kamar diikuti Via.
“Mbak mau ngapan?” melihat Tia membuka kantong belanjaan berisi satu sisir pisang kapok yang nampak sudah matang.
“Mau bikin pisang goreng, kayaknya enak buat ngeteh sore-sore nih.”
“Aku bantun ya?”
“Boleh.”
Via segera mengambil terigu dan wadah untuk mengaduk adonan. Kedua kakak adik itu segera sibuk berjibaku membuat pisang goreng sementara di luar udara sudah terasa dingin. Via beranjak menutup pintu dapur usai membuat adonan. Nampak angin sudah membawa titik-titik hujan, tak lama segerombolan gerimis menyerbu permukaan tanah dan apa saja yang ada di atasnya.
“Wah, pisang goreng.” Seru Mirza yang muncul masih dengan rambutnya yang basah seusai mandi.
“Udah selesai mandinya, Za?” sapa Tia menyajikan pisang goereng yang baru saja ia tiriskan.
“Udah. Mbak Tia kok tau sih aku lagi pingiin pisang goreng?” Mencomot satu namu urung karena kepanasan.
“Hati-hati Mas, itu kan baru di angkat masih panas.”
“Iya, Sayang.” Meniup tangannya yang kepanasan.
“Za?” Arya keluar dari kamar.
“Eh, Mas Arya.” Balas Mirza. “Ica mana Mas?”
“Tidur dia, mungkin kecapekan di perjalanan.”
Mirza membulatkan bibirnya, Via duduk di sampingnya mencuil sepotong pisang goreng dengan sendok membuat ukurannya lebih kecil-kecil agar cepat dingin.
“Ini buat kamu Mas.”
__ADS_1
“Makasih Sayang. Suapin dong.”
“Hem, manjanya … “ Via mencebik.
“Ish, biasanya juga gitu. Nggak usah malu lah sama Mbak Tia dan Mas Arya.”
Tia dan Arya tersenyum memperhatikan keduanya.
Via mau juga menyuapi suaminya.
“Habisin ya, aku mau bikin minum dulu.” Via meletakkan sendoknya. “Mas Arya mau teh apa kopi?”
“Teh aja deh, tadi siang udah ngopi soalnya.”
“Mas nggak ditanya, Sayang?”
“Mas pasti mau kopi kan?”
“Kok kamu tau sih, Sayang? Kamu memang istri yang baik dan perhatian, selalu tau apa yang ku mau.” Mirza nyengir.
“Heh, pasangan lebay.” Cibir Tia.
Mirza malah tersenyum makin lebar menaggapi cibiran kakak iparnya.
“Jangan terlalu manis Sayang, cukup dengan melihatmu sudah terasa manis hidupku.” Ucap Mirza tak henti-hentinya membuat Tia dan Arya geleng-geleng kepala dengan gombalan recehnya.
Drrrt Drrrt ….
Ponsel Mirza yang diletakkan di atas meja makan bergetar.
“Udin?” Gumam Mirza seraya meraih gawainya. “Halo, Din.”
“( …….)”
“Astaghfirullah, berarti ibu sekarang sendirian di rumah?” raut kecemasan meliputi Mirza, membuat Via menoleh khawatir.
“(……………………)”
“Iya iya, ya udah nggak papa. Aku ke rumah ibu sekarang.” Mengakhiri panggilan.
“Mas, ada apa?”Meletakkan cangkir teh dan kopi di meja makan.
Mendengus gusar. “Tadi siang katanya Ice pergi dari rumah ibu dan nggak mau lagi jagain ibu.”
“Ice pergi dari rumah ibu? Maksudnya gimana Mas?” Via tak paham.
“Jelasnya Mas juga belum tau, tapi yang pasti dari tadi siang ibu sendirian di rumah.”
Tia dan Arya saling pandang.
“Sayang, Mas harus pergi ke rumah ibu. Kasihan ibu.”
Mengangguk, “iya Mas.”
“Maafin Mas ya, Mas belum bisa tidur disini.” Raut penyesalan kentara sekali di wajah Mirza. “Nak, maafin Ayah, kamu sehat-sehat ya di dalam" membungkuk berbicara pada calon anaknya. "Tolong jagain Bunda ya, karena Ayah harus ke rumah Eyang sekarang.” Mencium perut buncit Via.
Meski berat namun Via tetep harus merelakan suaminya pergi lagi, baru saja dia bahagia karena kedatangan suaminya kini harus menelan kekecewaan. Via ikut mengantar Mirza ke depan, mobil Mirza melaju menerobos hujan yang turun makin lebat. Via kembali masuk berusaha menerima segalanya dengan lapang dada.
“Mirza bahkan belum sempat menikmati kopinya.” Ucap Tia ketika Via tiba di ruang makan mendudukan dirinya di kursinya yang semula.
“Sudahlah Bun, jangan bikin Via sedih.”
“Via pantas sedih Yah, karena Mirza tak punya sikap. Mirza tau watak ibunya, tapi dia kekeh ingin bertahan diantara ibu dan istrinya yang jelas-jelas mustahil.”
“Bun, berapa kali Ayah bilang. Bunda nggak boleh bicara seperti itu.” Arya memperingatkan.
“Wajar Bunda bicara seperti itu karena Bunda merasakan sakitnya hati Via Yah. Dia sudah bertahun-tahun berjuang.” Tia menatap Arya kesal.
“Itu konsekuensi karena ibu mertuanya tak menyetujui pernikahan mereka. Sama halnya dengan Ayah, tapi Ayah terima.” Arya menyamakan dirinya dengan Via.
“Tapi ibuku tak sekejam Bu Een! Lagian Ayah kenapa sih kayaknya mojokin Via?”
“Bukan mojokin Via Bun, tapi –“
“Sudahlah! Ayah sama sekali tak mengerti perasaan perempuan. Aku kakaknya Yah, aku jadi saksi perjuangan Via, dan aku rasa Via sudah sampai dititik akhir. Dia harus menghentikannya, pernikahannya sudah tak sehat.” Perempuan berhijab yang biasanya alim itu kini menggebu-gebu.
“Astaghfirullah. Apa Bunda sadar, perkataan Bunda itu sama saja seperti menyuruh Via untuk berpisah dari Mirza?” Kaget Arya.
“100% sadar! Bauat apa dipertahankan kalau menyakitkan?”
Perdebatan sengit antara suami dan istri itu terhenti karena mendengar isak tangis Via yang tertahan. Segera Tia memburu adiknya dan meraihnya ke dalam pelukannya.
“Vi, maafin Mbak ya. Mbak hanya – “
“Justru aku yang minta maaf Mbak. Gara-gara aku,Mbak Tia dan Mas Arya jadi ribut.” Ucap Via disela isaknya.
“Via, tolong jangan ambil keputusan dengan terburu-buru. Pikirkan bayi yang ada dalam kandunganmu, dia pasti butuh sosok ayahnya kelak.” Ucapan Arya langsung direspon tajam oleh Tia.
“Buat apa punya ayah tapi lembek? Kalo Mirza menginginkan anak dan istrinya, berarti dia harus tegas pada ibunya.”
Arya mendengus kasar, bangkit mengambil cangkir tehnya pergi tanpa berkata apapun lagi membiarkan kakak beradik itu menumpahkan segala perasaannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Tarik napas dulu, Kak ...☺️
__ADS_1
terima kasih atas komennya readers tersayang.🙏🙏🙏 othor jadi semangat nih nulisnya.😊 makanya, ayo dong silent readers, kasih like dan komennya biar othor makin semangat🙏🙏
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘