
Pintu ruangan diketuk pelan, Ramzi masuk tanpa menunggu perintah yang punya ruangan. Azad nampak berdiri di depan jendela besar, pandangannya jatuh lurus ke jalanan dimana lalu lintas terlihat sibuk di siang hari.
"Azad, kita sudah ditunggu para dewan direksi," suara bariton Ramzi sama sekali tak mengusik kekhusukan Azad. menyadari tak ada respon, Ramzi mulai tak sabar. Melihat rolex di lengan kirinya yang ditumbuhi bulu-bulu, "jangan buat mereka menunggu,"
"Kau saja yang mewakili ku, Kak," gumam Azad tanpa menoleh.
"Mana bisa, kita berdua harus hadir," sedikit menekankan kalimatnya.
mendesah berat lantas menghempaskan diri di kursi kerjanya. "Aku nggak bisa fokus, tolong jangan libatkan aku dulu dalam rapat penting."
Menggeleng tak percaya, "apa ini soal Jane?"
Menerang jauh, "aku sudah berkali-kali meminta maaf padanya, Kak. Aku juga sudah katakan aku bersalah karena tak peka menyadari perhatiannya selama ini. Aku bahkan mengikuti saranmu untuk langsung melamarnya sebagai bukti keseriusanku, tapi apa yang terjadi? Dia sama sekali tak memberikan jawaban sampai hari ini," papar Azad seperti frustasi.
"Biarkan Jane memikirkannya, dia hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri. Itu saja,"
"Nggak, dia sengaja tidak memberiku jawaban karena ingin membalas rasa kecewanya padaku," sarkas Azad.
Menghela napas jengah, "terserah kau saja, semua yang aku katakan rasanya memang terdengar salah di telingamu."
Melirik sang kakak ipar dengan tatapan kesal.
"Kau ini laki-laki atau bukan, masa karena wanita sudah membuatmu kacau begini?" tersenyum miring penuh sindiran.
"Kau mengejekku?" menatap tajam, "apa kau lupa pernah hampir gila gara-gara Kak Sofi?"
Malah terkekeh seolah ada yang lucu, "justru karena itu, jangan sampai kau jadi sepertiku." Menepuk-nepuk bahu Azad, "ketika semua usaha sudah ditempuh, maka yang harus kau lakukan hanyalah tinggal menunggu."
"Huft " membuang napas kasar.
"Sudahlah, lanjutkan kegalauanmu nanti ya. Sekarang cepat ikut aku kalau tidak mau ku seret kamu sampai ke ruang meeting," sedikit mengancam kemudian keluar ruangan Azad lebih dulu.
-
-
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Jane tengah berbaring malas di atas tempat tidurnya sambil memandangi layar gawainya. tampak foto kebersamaannya dengan Azad, senyum keduanya merekah bahagia.
Teringat dua hari lalu, Azad dan Ramzi tiba di rumahnya selepas magrhrib. Tanpa banyak basa-basi Azad mengungkapkan keinginannya melamar Jane sebagai calon istrinya.
"Jane, apa kau menerima lamaran Azad?" tanya Ramzi setelah beberapa lama Jane hanya membisu.
Raut penuh kekhawatiran jelas membayang di wajah Azad, Jane menatapnya sekilas.
"Ini terlalu mendadak, aku harus tanya ayahku dulu," cicit Jane seraya menunduk tak kuasa lagi melihat wajah penuh pengharapan Azad yang duduk tepat di depannya.
"Tentu saja kamu boleh tanya ayahmu, tapi setidaknya berikan Azad jawaban dulu sekarang," desak Ramzi.
Menunduk kian dalam, meremas ujung dressnya dengan jemarinya yang mulai terasa dingin.
"Jane, ini hanya awalan saya. Kalo kamu menerimanya, Azad pasti akan melamarmu secara resmi pada ayahmu," ucap Ramzi kembali.
"Aku," tercekat tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Azad dan Ramzi saling tatap setelah sekian detik Jane tak berkata apapun.
“Jane, apa kau tahu –“ Ramzi sengaja menggantungkan kalimatnya.
“Tau apa?” sedikit melihat pada Ramzi, namun dadanya mulai berdegup kencang ketika tak sengaja mendapati Azad masih mentapnya dengan sayu.
“ –bahwa ada larangan untuk menolak lamaran dari lelaki sholeh?”
Deg!
Kali ini jantung Jane seperti berhenti berdetak, pertanyaan Ramzi membuatnya tersudut.
“Azad ini laki-laki yang baik ahlaknya, dia baik agamanya dan cemerlang karirnya. Dia mendekati kata sempurna,” sambung Ramzi membuat Jane mulai kepayahan hanya untuk sekedar menarik nafas. “Kecuali memang ada sifatnya yang tidak kamu sukai.”
“Ram, aku –belum bisa memberikan jawaban,” lirih Jane membuat ujung dressnya sudah tak berupa-rupa lagi habis diremas-remasnya.
“Sudahlah, Kak –“ ujar Azad mengurungkan Ramzi yang hendak buaka suara lagi, “jangan paksa dia.”
“Azad, maafkan aku,” hampir tak terdengar seperti berkata pada dirinya sendiri.
Mengulas senyum walau ada getir dirasakannya, “nggak papa, aku siap menunggu jawabanmu kapanpun.”
Jane bangkit dari posisinya, lamaran dadakan dua hari yang lalu itu sungguh menggangu pikirannya. Dipandanginya wajahnya di depan cermin, sedari pagi belum berminat mandi, dan kini matahari hampir mencapai puncaknya, Jane masih bergelung dengan kegalauannya.
“Apa aku betul-betul membuatnya jatuh cinta?” menyentuh pipinya sendiri, “atau dia hanya menjadikanku pelarian karena ditolak oleh gadis itu?” memasang wajah masam.
Mendengus gusar setengah frustasi karena pikirannya sendiri. Jene menimbang sebentar, dia membutuhkan pendapat seseorang. Ia mendapat ide menghubungi ayahnya, namun segera ditepisnya. Sang ayah tentu akan mengembalikan lagi keputusan pada dirinya. Jene menggeleng, itu bukan ide yang bagus.
“Apa aku harus minta pendapat Rumi?” gumamnya. Menggeleng lagi, Rumi juga bukan orang yang tepat untuk dimintai saran. Sedari dulu Rumi nggak pernah netral, dia hanya akan membuat semakin runyam dengan ocehan-ocehannya yang unfeadah.
Jane mengacak rambutnya, gemas pada dirinya sendiri mengapa segalau ini mendapatkan lamaran dari lelaki yang dicintainya? Mendadak ia tertegun ketika teringat ucapan Ramzi, larangan untuk menolak lamaran dari lelaki sholeh?
Cepat diraihnya kembali gawainya, membuka laman pencarian mengetik kalimat dengan jarinya yang gesit. Matanya menyusuri sederet kalimat serupa yang merupakan hasil pencariannya di laman tersebut.
Klik, Jane membuka yang paling atas. Dibacanya dengan seksama kalimat demi kalimat endapat seorang ulama disana,
Tidak menyukai orang sholeh, latar belakangnya ada dua. Pertama, tidak suka yang sifatnya manusiawi. Misalnya, tidak suka dengan wajahnya yang kurang indah dipandang, atau karakternya yang pelit atau kasar. Kedua, tidak suka karena agamanya. Dia tidak ada yang bermasalah secara fisik. Misalnya dia benci setiap lelaki berjenggot, atau lelaki yang rajin shalat jamaah di masjid, atau lelaki yang suka puasa sunah, dan seterusnya.
Jane menggeleng samar. Tidak, Azad tampan menawan dan rupawan menurutnya. Dia juga loyal, tidak pelit dan tak pernah kasar. Dirinya juga bahkan kagum dengan sosok Azad, agamanya baik sepanjang pengetahuannya. Tampilan fisik dan agamanya tak ada masalah. –membatin serius, jadi kenapa aku harus menolak lamarannya?
Menggigit-gigit ujung ibu jarinya berpikir masih dalam kebimbangan, lantas kembali melanjutkan membaca paragraph berikutnya.
Menolak menikah dengan seseorang, tidak berdosa. Meskipun dia orang soleh. Karena menikah prinsipnya adalah memilih pasangan yang soleh dan adanya rasa cinta dari hati. Kecuali jika anda tidak suka dengannnya karena agamanya. Maka anda berdosa dalam hal ini, karena anda membenci orang mukmin. Sementara orang mukmin wajib dicintai karena Allah. Akan tetapi, anda tidak harus menikah dengannya, selama anda tidak ada rasa cinta. Allahu a’lam (al-Muntaqa min Fatawa Dr. Sholeh al-Fauzan, 3/226)
Meletakakan gawainya di atas meja rias dengan agak kasar. Aku mencintainya, aku mencintai Azad. Tidak ada alasan untuk menolak lamaranya, dia sudah berusaha meyakinkanku, kenapa aku masih ragu? Huft! Rupanya Ram juga hanya menggertakku. Konyol!
Gegas diraihnya kembali gawai itu, mencari satu nomor yang seharusnya sudah ia hubungi sedari kemarin. Azad Zamzami Husein,
💕💕💕
Suasana makan malam di kediaman Haji Barkah terasa sepi, -tepatnya kaku. Hanya ada denting suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring sesekali. Haji Barkah melirik sekilas pada anak dan menantunya. Selesai dengan ritual santap malamnya, Haji Barkah beranjak dari duduknya.
“Dena, Jaka, selesai makan ayah tunggu di ruang tengah ya,” ucapnya lebih seperti titah daripada permintaan.
Om Jaka gegas menyusul setelah selesai sementara Denaya membantu Bi Siti merapikan meja makan.
__ADS_1
“Ada apa, Yah? Kok kayaknya serius bener?” mengambil duduk di dekat ayah mertua.
“Dena mana?” malah balas bertanya.
“Masih bantuin Bi Siti,” meraih rokoknya.
“Jaka, ayah mau bicara penting. Taroh dulu rokoknya.”
Dari nada bicara sang ayah mertua yang datar dan penuh penekanan, Om Jaka tau ini bukan hal sepele. Diletakannnya kembali rokok kretek favoritnya, tak lama Denaya muncul duduk di sebelah Om Jaka.
“Dena, Jaka, sebelumnya ayah minta maaf. Ayah sebenarnya nggak mau ikt campur urusan kalian, toh kalian sudah sangat dewasa.” Memandang suami istri itu bergantian. “Apalagi kamu, Jaka. Usiamu sudah kepala 4, itu sudah lebih dari dewasa.”
Denaya dan Om Jaka diam menunggu kalimat apa yang akan diucapkan Haji Barkah selanjutnya.
“Mau berapa lama lagi kalian bediaman kayak gini?” melihat dengan pandangan lebih tajam, “jangan kalian pikir ayah nggak tau yang terjadi diantara kalian. Ini sudah hari ketiga, sebaiknya kalian segera baikan.”
Om Jaka dan Denaya bergeming, tak ada yang mau memulai bicara lebih dulu.
“Dena, apa kamu nggak kasihan membiarkan suamimu tidur di sofa? Semarah apapun kamu, perbuatanmu itu tidak dibenarkan. Dan ayah nggak pernah mendidikmu seperti itu.”
Denaya menunduk, namun masih nggan untuk berucap membuat Haji Barkah menghela napas panjang.
“Rumah tangga tanpa komunikasi, apalagi diisi dengan amarah akibat pertengkaran, tentunya tidak akan diliputi keberkahan. Oleh karena itu jika terjadi perselisihan, manfaatkan waktu untuk saling introspeksi lalu kembali dengan optimisme yang baru agar permasalahan segera selesai,” tutur Haji Barkah.
“Sebenarnya ini cuman salah paham aja, Yah. Nggak terlalu serius kok masalahnya,” ucap Om Jaka yang langsung membuat Denaya nyamber tak terima.
“Kata siapa nggak serius? Justru ini masalah yang sangat serius. Kamu udah nggak terbuka sama aku, Beb. Kamu selama ini tahu tentang keberadaan Mirza tapi diem aja, padahal jelas-jelas kamu tau Via dan Nala itu sangat membutuhkan Mirza. aku heran ya Beb, kok kamu tega ngebiarin mereka terlantar begitu?” kalimat-kalimat Denaya jelas menyudutkan Om Jaka.
“Astaghfirullah, Han. Harus sumpah demi apalagi sih gue biar elu yakin kalo gue beneran nggak tau dimana Mirza?” Om Jaka mulai elu elu gue gue.
“Sumpah kamu palsu, aku nggak percaya!” memelingkan wajahnya.
“Jadi ini soal Via dan Mirza?” Pak Haji seperti tak yakin, “dan kalian sampe ribut seperti ini? berdiaman selama tiga hari? Hanya karena membela rumah tangga orang lain?”
“Ayah, Via dan Mirza itu bukan orang lain,” sergah Denaya. “Mirza ponakannya dia,” menunjuk Om Jaka dengan dagunya, “itu berarti kepoakanku juga, sedangkan Via dia lebih dari itu, dia sahabat sekaligus teman baik aku!”
Pak haji malah tersenyum, “sudah lama sekali ayah tak melihatmu ngambek kayak gini, Dena. Kamu kayak kembali jadi anak kecil lagi,” terkekeh diujung kalimatnya.
“ayah ngeledekin aku?”
“Emang dia kayak anak kecil,” gerutu Om Jaka.
“Diem kamu, Beb!” semprot Denaya.
“Dena, jangan sekali-kali kamu kasar pada suamimu, dosa hukumnya,” tegur Pak Haji memperingatkan. Om Jaka tersenyum karena merasa dibela oleh sang ayah mertua. “Baik, ayah paham permasalahannya sekarang. Kalian sebenarnya meributkan hal yang bukan menjadi masalah prinsip dalam rumah tangga kalian. Jika ini dibiarkan berlarut-larut, bukan mustahil justru akan mengikis rasa saling percaya diantara kalian. Jadi sebaiknya, kalian segera berbaikan.”
Om Jaka dan Denaya hanya saling pandang, seolah menunggu siapa yang akan memulai lebih dulu.
“Jadi masih belum mau baikan?” mengerutkan dahi tak habis pikir, tingkah Om Jaka dan Denaya ngelebihi anak kecil kali ini. Menghela napas sejenak sebelum mengeluarkan dalil-dalil yang diketahuinya. "Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari tiga hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari tiga hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka,”. (HR Abu Daud 4914)
“Tapi kan kita nggak sodaraan Yah, kita suami istri,” gumam Om Jaka ngeyel yang membuat Haji Barkah menajamkan kedua matanya.
“Bebeb, kamu kok gitu sih? Ayah lagi serius tau!”
Haji Barkah memijit-mijit dahinya, cukup pening rupanya mengahadapi anak mantunya malam ini. “Baiklah Dena, kamu minta maaf lebih dulu sama suamimu.”
“Kok aku sih, Yah?” protes Denaya. “Kan Bebeb yang –“
Om Jaka kembali tersenyum karena merasa ayah mertuanya selalu membelanya.
“Jangan senyam senyum lu Beb,” ketus Denaya.
“Dena,” memperingtakan dengan tegas membuat Denaya langsung sadar diri.
Menata perasaannya beberapa saat, menghela napas kasar membuang semua gengsi dan egonya, “Bebi,” ucap Denaya kemudian seraya menyerongkan duduknya menghadap Om Jaka. “Aku minta maaf ya, emang nggak seharusnya aku berbuat keterlaluan sama kamu,” menatap sendu. “Aku sadar aku salah, niat baikku yang mau membela Via malah justru jadi mengabaikan suamiku sendiri. Aku salah banget,” menunduk diakhir kalimatnya.
Meraih kedua telapak tangan Denaya, “aku juga minta maaf ya, Han. Aku sama sekali nggak bermaksud menutupi keberadaan Mirza, aku beneran nggak tau dia ada dimana. Kamu harus percaya, tapi aku memang menyimpan nomor kontaknya yang aktif.”
“Beneran?” kedua mata Denaya berbinar.
Mengangguk, “tapi Mirza nggak pernah mau bilang dia ada dimana, nomornya pun hanya sesekali saja aktif, paling kalo dia mau ada perlu sama aku.”
“Akhirnya ada titik terang,” tersenyum lega. “Kita bisa lacak keberadaannya kalo –“
“Hani, please. Jangan mulai lagi ya,” menatap memohon pengertian, “kita jangan ikut campur teralu jauh, biarkan Mirza menyelesaikan sendiri.”
“Jaka benar, Dena,” timpal Haji Barkah. “Mungkin Mirza butuh lebih banyak waktu untuk jauh dari semua hal yang dicintainya selama ini agar dia bisa berpikir jernih.”
“Tapi aku janji, Han. Aku bakal kasih tau Mirza soal keadaan Via dan Nala,” menggenggam erat jemari Denaya karena tak ingin membiarkan sang istri kecewa.
“Beneran?”
“Beneran, janji.”
“Makasih ya, Bebebku,” menghambur ke pelukan sang suami penuh kebehagian.
“Sama-sama mai hani bani switi tinki winki dipsi,” memebalas erat memeluk sang istri seolah di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
“Hem … kalo udah begini, ayah jadi kayak obat nyamuk,” beranjak dari tempatnya.
“Yah, makasih udah bikin kami baikan lagi,” Denaya tersenyum.
Mengangguk turut lega melihat anak dan mantunya akur lagi, “ya udah ayah mau ke kamar dulu, mau istrahat,” berlalu menuju kamarnya.
“Han,” panggil Om Jaka lembut.
“Ya?”
“Kalo udah baikan, malam ini boleh dong aku tidur di kamar lagi?” merangkul pundak Denaya.
“Bolehlah, masa nggak?”
“Boleh minta jatah anu juga kan?” tersenyum menggoda.
“Anu apa?” balas tersenyum, salting.
“Anu itu lho, masa nggak ngerti?” mendekatkan wajahnya seolah mau nyosor duluan.
“Ih, Beb! Ini masih sore,” mendorong pelan Om Jaka. “Baru juga mau jam 9, tunggu agak maleman dikit ya,”
__ADS_1
“Yess!" bersorak kegirangan. "Berarti boleh kan?”
Denaya mengangguk malu-malu, Om Jaka gemas dibuatnya hingga tak tahan untuk tak mengujani wajah cantik sang istri dengan ciuman.
Dok dok dok dok dok dok
Bukan bunyi kodok, melainkan suara pintu yang digedor semakin lama semakin nyaring bunyinya hingga mneghentikan keuwuan antara Om Jaka dan Denaya.
“Siapa itu, Beb?” heran Denaya.
Menggeleng seraya mengangkat bahu acuh dan bersip hendak melanjutkan aksinya lagi.
“Ish, Bebeb!” Denaya menghindar, “Lihat dulu sana, kayaknya ada tamu,” mendorong Om Jaka.
“Ok, tapi ntar kita lanjutin di kamar ya,” mengerling nakal seraya beranjak.
Om Jaka menuju ruang tamu karena pintu depan kembali digedor tanpa ampun membuatnya kesal.
“Sampean, Mbakyu?” membelalak penuh kekagetan begitu membuka pintu.
Tanpa menyahut langsung menyerobot masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Sampean punya sopan santun kagak sih, Yu? Udah gedor-gedor rumah orang malem-malem, masuk kagak pake permisi pake nyelonong aja lagi,” menumpahkan kekesalannya berdiri berkacak pinggang di depan sang mbakyu.
“Jaka, kamu tau dimana Mirza kan?” todong Bu Een tanpa banyak basa basi.
“Sampean nanya kayak orang introgasi, bisa sopan dikit kagak?”
“Kamu nggak usah ngelak ya, nggak mungkin kalo kamu nggak tau diamana Mirza,” Bu Een cuek tak menggubris kekesalan Om Jaka.
“Kalopun gue tau, gue ogah ngasih tau sampean!”
Berdiri dengan wajah penuh penasaran, “jadi bener kan kamu tau dimana Mirza? cepetan bilang, dia ada Diana?” mengguncang lengan Om Jaka tak sabaran.
“Apa-apaan sih sampean Yu,” menepis tangan Bu Een, “kagak usah pegang-pegang, ntar gue ketularan sifat buruk sampean!”
“Jaka saya serius, cepetan bilang dimana Mirza?” meninggikan intonasinya.
“Yu, ini terakhir gue bilang ya, tolong sopan di rumah orang. Kagak usah teriak-teriak, gue kagak budek!” Balas Om Jaka jengkel hingga membuat Denaya muncul dengan tergesa karena mendengar keributan di ruang tamu.
“Bebeb, ada apa?”
“Ada biang keributan noh!” melirik tajam pada Bu Een.
“Bu Een?” melihat Bu Een keheranan, “ada apa Bu, malem-malem kesini?”
“Bukan urusan kamu, nggak usah ikut campur!” Ketus Bu Een membuat Denaya terhenyak.
“Buset! Bener-bener manusia kagak ada ahlak sampean Yu, bini gue tanya baik-baik malah nyolot!” Om Jaka semakin jengkel. “Sebaiknya sampean cepet pergi dari rumah ini sebelum gue seret paksa sampean keluar!” Om Jaka mengultimatum.
“Nggak, sebelum kamu bilang Mirza ada diamana,” kekeh Bu Een.
“Oh, jadi Ibu nyariin Mirza?” sambut Denaya, “Kenapa nggak tanya sama Via? Karena cuma Via yang tau Mirza ada dimana,” cetus Denaya mendapatkan ide.
Menatap Denaya sejurus, “Via tau dimana Mirza?”
“Iya, tapi gue kagak yakin dia mau kasih tau sampean. Karena hidup mereka sudah bahagia tanpa sampean walau harus berjauhan,” Om Jaka mengikuti alur permainan Denaya.
“Jadi Mirza benar-benar sudah pergi jauh?” menggumam seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Kasian deh sampean Yu, emang enak ditinggalin?” cibir Om Jaka.
Menggeleng cepat, “ini nggak boleh terjadi, Mirza harus kembali.” Menarik lagi tangan Om Jaka, “Jaka cepet kasih tau Via suruh Mirza segera pulang.”
“Eh, apa hak sampean nyuruh-nyuruh gue!” menghentakkan tangan Bu Een, “kenapa nggak ngomong sendiri aja sama Via?”
“Jaka cuma kamu yang bisa nolongin saya, tolong bilang sama Via –“
“Kenapa gue harus nolongin sampean?” pangkas Om Jaka. “Bukannya selama ini sampean selalu nggak peduli dengan kebaikan-kebaikan gue?”
“Jaka saya tau saya salah selama ini, tapi tolong minta Mirza segera pulang. Saya nggak bisa hidup tanpa Mirza, dia anak saya satu-satunya,” mengulas wajah penuh kesedihan dengan kedua netra mulai mengembun.
“Kagak usah drama sampean Yu, ntar kalo Mirza udah pulang sampean balik lagi jadi dhemit!” Sindir Om Jaka cuek, Denaya sedikit melototkan matanya sebagai isyarat suaminya sudah keterlaluan. “Lebih baik sampean pulang, gue sama bini gue mau istirahat, udah malem!” menggandeng lengan Denaya hendak memutar langkah meninggalkan ruang tamu.
“Jaka, tunggu!” Kejar Bu Een. “Tolong maafkan saya, cuma kamu yang saya punya selain Mirza,” air mata Bu Een luruh di kedua pipi keriputnya.
Om Jaka tertegun, memandang sang mbakyu yang menatapnya penuh pengharapan. Bu Een yakin dia telah mampu meluluhkan hati Om Jaka.
“Simpan air mata buaya sampean Yu, karena gue kagak percaya sama semua ucapan sampean,” tandas Om Jaka pelan tapi nylekit. “Ayok, Han,” kembali melanjutkan langkahnya masuk meninggalkan Bu Een. “Kalo keluar jangan lupa tutup pintunya!” Ujar Om Jaka setengah berteriak dari dalam lantas segera masuk kamar dengan Denaya yang sudah tak tahan ingin protes sedari atdi.
“Bebeb, kok kamu kejam gitu sih? Kalo kayak gitu, apa bedanya kamu sama Bu Een? Dia udah minta maaf lho, masa kamu nggak mau maafin dia sih? Ingat kata ayah –“
“Sssuuuut!” menempelkan telunjuknya pada bibir Denaya, “aku cuman ngetes mbakyu doang.” Melingkatkan lengannya di pinggang Denaya, “aku kagak pernah ambil hati sama semua sikap dan perkataan mbakyu, kalo pun aku pernah tersinggung, aku udah maafin dia dari dulu.”
“Jadi, tadi itu –“ Denaya lega.
“Iya, nanti kita liat apa mbakyu bakal beneran nemuin Via atau nggak.”
“Semoga aja beneran nemuin ya, Beb. Karena aku berharap Bu Een melihat Nala. Sejak Nala lahir, belum pernah sekali pun dia dijenguk neneknya, kasihan.” Denaya mendadak mellow.
“Ide kamu cemerlang, Haniku,” membelai lembut pipi mulus Denaya.
“Maksaih lho, Beb.” Tersenyum senang.
“Makasih doang nih?” kembali menggoda Denaya dengan kerlingan nakalnya, “aku boeh nagih jajinya sekarang kan?”
Menundukkan wajahnya tersipu malu, Om Jaka yang sudah tak sabaran karena terpaksa puasa tiga malam langsung melepaskan hijab Denaya dan segera mendorong perlahan tubuh Denaya ke atas tempat tidur.
“Bebeb, kita belum shalat isya!” Pekik Denaya tertahan.
💕💕💕
Hem, shoat da bersih-bersih dulu ya Om, abis itu baca doa jangan lupa, biar makin afdol 😂🤭
>>>> Referensi: https://konsultasisyariah.com/25340-menolak-pinangan-lelaki-soleh-apakah-berdosa.html
Terima kasih masih setia ikutin tulisan othor ini ya …🙏🙏
Terima kasih juga buat kalian yang udah nyumbangin votenya sukarela di episod sebelumya. 🥰🥰
__ADS_1
Selalu like dan komen ya, love you all 🤗🤗🤗😘😘😘