
Dari pintu outdoor nampak dua orang berjalan beriringan masuk dengan wajah sumringah. Langkah mereka berdua terhenti ketika melihat Via dan Mirza yang sedang bertengkar kecil diselingi tawa canda. Via yang tak sengaja melihat kedatangan mereka langsung diam.
Du orang yang baru masuk itu pun langsung menuju meja Via dan Mirza.
“Mas Mirza sama Mbak Via disini?” Tegur Riri antusias karena merasa nggak yakin dengan yang dilihatnya.
Ya, dua orang yang baru datang itu adalah Riri dan Danar.
“Iya, baru aja nyampe.” Jawab Mirza kemudian melihat pada Danar. “Lho, kamu sama …?” Mirza tak melanjutkan kalimatnya karena merasa pernah melihat Danar sebelumnya.
Danar juga merasa pernah melihat Mirza.
Mirza menjentikkan jarinya. “Oh iya, aku ingat. Kita pernah ketemu waktu itu aku lagi mau ke rumah Firman. Apa kabar?” Mirza mengulurkan tangannya menyapa Danar hangat.
“Baik.” Sambut Danar pendek saja, tapi senyumnya mengembang juga, sekilas ditatapnya Via yang hanya diam di sebelah Mirza.
“Mas Danar ini owner kedai nostalgia ini lho Mas, Mbak.” Terang Riri.
“Oya?” Mirza agak surprise. “Wah, bagus dong. Aku nanti bakal sering-sering ke sini sama istriku.” Sahut Mirza senang. “Oya, kenalin ini Livia istriku.” Mirza memperkenalkan Via pada Danar.
Via terlihat sedikit enggan.
“Kami udah kenal kok.” Ucap Danar yang tau Via hanya diam melipat tangannya di dada.
“Oya?” Mirza terkejut lagi. “Bagus deh. Ayo duduk sini, Nar.” Mirza mempersilakan Danar duduk.
“Kayaknya aku musti ke dalem dulu deh.” Danar tak enak juga melihat Via yang seperti tak senang dengan kehadirannya. “Oya, kamu mau minum apa, Ri?” Tanya Danar pada Riri.
“Nanti aku pesen sendri aja, Mas.” Sahut Riri.
“Oke.” Danar berlalu menuju ruangan setelah melambai pada Mirza.
Seorang pelayang tak lama kemudian datang membawakan pesanan dan menghidangkannya di atas meja.
“Wuiih, kayaknya enak nih.” Mata Riri langsung berbinar melihat tuna bakar rica di depannya. “Mas, aku mau yang kayak gini juga dong, minumannya juga ya.” Ujar Riri pada pelayan.
“Baik, Mbak. Mohon ditunggu, ya.”
“Dasar nggak kreatif. Maunya nyama-nyamain aja!” Via mencibir pada Riri serelah pelayan pergi.
“Abisnya menunya bikin cacing dalam perutku meronta-ronta, Mbak. Harum bener aromanya …” Riri mengendus tuna bakar yang masih mengepul.
“Hush! Nggak sopan!” Via menepuk bahu Riri.
Mirza hanya tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.
“Kamu makan aja duluan, Ri. Biar Mas nanti yang belakangan.” Mirza mendorong piringnya untuk Riri.
“Beneran. Mas? Yess, makasih ya Masku yang paling ganteng dan baik hati.” Riri bersorak girang langsung mengambil alih semua makanan Mirza dan bersiap melahapnya.
PLEK!
Via memukul tangan Riri sambil melotot galak.
“Cuci tangan dulu! Jorok banget jadi orang!” Perintah Via.
“Kan pake sendok makannya?” Riri memperlihatkan sendok dan garpu yang dipegangnya.
“Ayok, cuci tangan!” Via berdiri menarik lengan Riri untuk mengikutinya ke wastafel di pojok ruangan.
Riri mencebik kesal. “Bilang aja mau ditemenin cuci tangan”
Mirza geleng-geleng kepala, Via dan Riri kadang sering bertengkar kecil tapi selalu lucu dimatanya.
“Ini Mas, cobain.” Via yang sudah kembali dari wastafel memotong tuna bakar dan menyupkannya pada Mirza.
Mirza membuka mulutnya. ”Hemm, enak sayang.” Ucap Mirza sambil mengunyah potongan daging tuna itu.
“Emang dasarnya Mas kelaperan kan?”
Mirza tersenyum sambil membelai rambut Via. “Lagi dong sayang.” Mirza minta disuapin lagi. “Aa... sama nasinya.” Ucap Mirza manja kayak anak kecil.
Via menuruti dan menyuapkan sepotong daging tuna beserta nasi untuk Mirza.
Riri senyum-senyum melihat keromantisan mereka berdua.
Syukurlah, sepertinya Mas Mirza dan Mbak Via baik-baik aja. Aku yakin mereka pasti bisa bisa melalui semua cobaan dalam rumah tangga mereka berkat cinta mereka yang begitu besar.
“Heh, kok malah ngelamun ngeliatin kita sih?” Tegur Via pada Riri.
“Hehe…” Riri malah nyengir. “Abisnya kalian so sweet banget bikin aku ngiri.” Lanjut Riri lalu mulai makan.
“Danar itu cowok kamu bukan?" Tanya Mirza kemudian yang langsung saja membuat Riri mencak-mencak.
“Ya bukan dong! Mas Mirza ini sembarangan aja! Aku mana mau sama orang kayak dia, angin-anginan nggak jelas! Kadang baik dan perhatian, kadang cuek nggak ketulungan. Ih, amit-amit!” celoteh Riri lalu minum matcha milkh chocolate punya Mirza hampir setengahnya.
l
“Nah, nah … haus dia, sayang.” Goda Mirza seraya melirik Via. “Baru ngomongin Danar langsung minum kayak onta gitu, nggak mungkin kalo kamu nggak suka sama dia. Kamu salting kan, Ri ….” Ledek Mirza.
__ADS_1
Riri mendengus kesal. Via menyuapkan potongan tuna dan nasi lebih besar untuk Mirza hingga Mirza kewalahan mengunyahnya.
“Kebanyakan ini, sayang.” Ucap Mira disela-sela mengunyahnya.
“Biar Mas nggak ngomong terus!” Via sebel.
“Sukurin!” Timpal Riri pada Mirza.
Via kemudian menyodorkan es teh untuk Mirza karena sepertinya dia susah menelan, kasihan juga Via melihat suaminya begitu.
“Makasih ya, sayang.” Ucap Mirza. “Nih, kamu juga makan dong.” Mirza mengambil sendok dari tangan Via dan gantian menyuapi Via.
Tanpa mereka sadari dari balik meja bar ada sepasang mata yang sedang mengamati kegiatan mereka bertiga, terutama keromantisan Via dan Mirza.
“Mas Danar, hayo ngapain ngeliatin mereka terus?” Tiba-tiba Ari muncul dari belakang.
“Apaan sih?” Danar kaget aksinya diketahui Ari.
Ari jadi ikut ngeliatin keromantisan Mirza dan Via.
“Itu teman Mas Danar kan ya? Sama siapa ya Mas, kok kayaknya mesra gitu dia? Suaminya apa pacarnya ya?” Ari ingat betul sama Via yang udah beberapa kali datang ke kedai.
“Nggak usah kepo deh kamu!” Semprot Danar sambil meninggalkan Ari.
“Kan cuman nanya Mas.” Ari mengikuti Danar.
“Kayaknya Mas Danar ada hati deh sama cewek itu.” Celetuk Ari.
Danar menghentikan langkahnya dan melihat Ari tajam. “Berani ngomong lagi, aku potong gaji kamu bulan ini! Dasar sok tau!” Hardik Danar kejam.
Kontan saja Ari langsung diam, Danar berjalan cepat menuju kamar tempatnya istirahat di kedai itu.
Seorang pelayan yang akan membawakan pesanan untuk Mirza dihadang Ari.
“Biar aku aja yang bawa kesana.” Ari meraih napan pesanan itu tanpa menunggu persetujuan temannya.
Ari mendekati maja Mirza dan meletakkan pesanan disana.
“Silakan.” Ucap Ari sopan.
Pada saat itu Via sedang mengelap ujung bibir Mirza dengan tisu yang blepotan coklat karena karena candaannya.
“Makasih ya.” Sahut Via dengan senyum tapi tak begitu memperhatikan Ari meskipun mereka pernah bertemu.
“Ada lagi yang mau ditambahkan?” Tanya Ari.
“Kamu mau nambah apa, sayang?” Tanya Mirza pada Via.
“Em, aku minta dibungkusin buat ibu deh.” Sahut Riri yang sibuk mengunyah.
“Oh iya, sampe lupa. Kalo gitu sekalian buat Mbak Tia sama Mas Arya juga deh.” Timpal Mirza.
“Ica nggak? Nanti kamu dimusuhin lho Mas sama dia?”
“Ah, iya hahaha…” Mirza tertawa demi mengingat keponakan kesayangannya yang gampang ngambekan itu. “Kalo gitu minta tuna bakar ricanya 3 sama satunya apa ya yang nggak pedes buat lca?”
“Ada kids paket juga kok, Mas.” Ari memberikan masukan. “Isinya ada chicken wings bakar madu sama orak arik telur saus nori. Nggak pedes cocok buat anak kecil.”
“Oke, boleh. Itu satu ya.”
Ari mengangguk sopan lantas berlalu.
Fix! Laki-laki yang sama temannya Mas Danar itu pasti suaminya, bukan pacarnya. Perhatian banget dia sama semua keluarga istrinya. Oh, kasihan Mas Danar. Dia harus patah hati untuk yang kedua kalinya karena mencintai orang yang tak tepat. Ari, pemuda kurus karyawan kepercayaan Danar itu tiba-tiba jadi nelangsa dalam hati.
“Oya, kamu kok bisa sama Danar sih, Ri? Kayaknya udah kenal deket banget kamu sama dia.” Tanya Mirza masih kepo soal Danar sama Riri.
“Nggak usah mulai lagi deh, Mas.” Riri kesal lagi.
“Nggak, Mas cuman mau tau aja.
Meskipun rada males, tapi Riri cerita juga tentang siapa sebenarnya Danar, itu demi menghindari salah paham yang terus-terusan dialamatkan oleh Mirza pada dirinya. Via yang sedang makan mendengarkan juga cerita Riri meski belagak cuek seolah tak mau tau.
“Wah, baik banget ya Ibu Elin itu, cocok kalo jadi ibu mertua kamu, Ri!” Celetuk Mirza.
Riri mengambil kotak tisu mau nimpuk kakak iparnya.
“Eeh, jangan! Apun, ampun … Kan cuman becanda!” Mirza terkekeh.
“Uhuk … uhuk …” Via terbatuk.
“Minum dulu, sayang.” Mirza mengambilkan Via minum. “Kamu sih Ri, ribut mulu. Mbak kamu jadi kesedak kan?” Mirza menyalahkan Riri.
“Mas Mirza yang mulai.” Riri nggak terima.
“Udah, ah Mas. Nggak habis nih makanannya.” Via mendorong piringnya menjauh.
“Ya udah, sini biar Mas yang abisin.” Ucap Mirza.
“Oya, aku pulang sama kalian aja ya.” Pinta Riri.
Mirza dan Via mengangguk hampir bersamaan. Riri segera mngirim pesan pada Danar agat tak usah mengantarnya pulang. Nggak enak juga dia selalu diantar jemput sama Danar untuk mempersiapkan ruko yang sebentar lagi akan dibukanya. Sedari kemarin Riri dan Danar memang disibukkan untuk mengisi semua keperluan toko cake and bakery sesuai permintaan Bu Elin. Karena Bu Elin sendiri sanagt sibuk, maka dia minta Danar untuk membantu Riri.
__ADS_1
_________
Di rumah, Sofi sudah selesai mencuci dan ngepel lantai. Dia duduk sambil memijit betisnya yang pegal. Sedari pagi perutnya belum terisi makanan, hanya sgelas air putih karena dia kehausan.
“Huh, kurang ajar mereka! Liat aja kalo aku udah bisa bikin kamu takluk padaku, Za. Akan aku balas perbuatanmu sama istrimu ini.” Sofi ngedumal kesal sendiri.
Sofi menuju meja makan, disana hanya ada roti tawar dan buah segar. Dibukanya kulkas yang kosong melompong.
“Bener-bener deh, masa nggak ada apa-apa!” Dengus Sofi, akhirnya dia memilih roti tawar untuk mengganjal perutnya. Dioleskannya selai kacang dan ia mulai makan. Rasanya itu makanan terlezat yang pernah ia makan. Dia bertekad nggak boleh lemah dan sakit karena Mirza bisa menyuruhnya pergi kapan pun jika sampai dia sakit lagi. Maka diraihnya lagi roti tawar beserta selai itu, dan kali ini Sofi membuat segalas teh hangat.
“Ahhh….” Sofi menikmati hangatnya teh yang membasahi tenggorokkan dan kerongkongannya. Namun ketika ia melihat pada jam dinding, seketika ia terkesiap kaget.
Hampir jam satu siang. Mirza dan Via mungkin akan pulang sebentar lagi. Cepat-cepat Sofi menghabiskan rotinya dan meneguk semua isi gelasnya. Konyol juga dipikirnya, ia merasa seolah begitu takut dan khawatir seperti seorang pembantu yang takut akan dimarahi majikannya karena belum menyelesiakan tugasnya. Tapi Sofi tak peduli dengan semua pikirannya sendiri, dia sudah bertekad menunjukkan ada Mirza dan Via bahwa dia mampu melakkan semua itu demi untuk mendapatkan Mirza.
Sofi segera menuju halaman depan, di raihnya sapu lidi untuk membersihkan halaman. Untunglah halaman rumah Mirza sejuk karena banyak pepohonan dan tanaman disana, jadi tak terasa terik walau matahari seperti berada di atas kepala pada siang bilong seperti ini.
Sofi melihat pintu pagar rumah Mirza yang terbuka. Gondok juga dia dibuatnya, pasti Om Jaka yang pergi belakangan tak menutupnya kembali. Untung nggak ada orang asing yang masuk, pikir Sofi jengkel.
Sofi menuju gerbang hendak menutup pintunya. Pada saat yang sama dua orang tetangga Mirza lewat di depan rumah dan melihat Sofi.
“Oh, jadi ini peremuan yang dihamali Mirza?” Celetuk Ibu yang satu menghentikan langkahnya begitu melihat Sofi.
“Berani juga ya dia tinggal serumah, dasar nggak tau diri!” Timpal ibu satunya.
Telinga Sofi panas juga dibuatnya. Ingin rasanya ia menerkam dua orang ibu julid itu, namun dia berusaha sabar karena merasa ini justru bisa jadi kesempatan baginya meraih simpati orang lain.
“Maaf, ibu-ibu ini ngomong apa ya?” Ucap Sofi bersikap seolah nggak paham.
“Ya ngomongin kamu! Kamu itu nggak tau diri, udah ngerebut suami orang malah nekad tinggal di rumahnya!” Sahut si ibu kedua dengan geram.
Sofi malah tersenyum walau terkesan dipaksakan. “Asal ibu-ibu tau ya, saya tinggal disini atas kemauan ibunya Mirza. Dia sendiri yang memaksa saya untuk tinggal disini .”
“Emang dasar kalian berdua itu cocok! Sama-sama somplak otaknya!” Umpat ibu pertama emosi.
Sofi mulai tek terkendali, dia maju mau menjambak rambut ibu itu, namun ibu yang satunya yang badannya lebih besar menghalangi.
“Mau apa kamu?” Hardiknya. “Berani kamu lawan kita berdua?” Si Ibu melotot galak. “Saya tendang langsung mental sampe monas kamu!”
Sofi mengurungkan niatnya, walau ia sudah tak bisa lagi menguasia emosinya. Tapi walau bagaiman pun satu lawan dua jelas nggak akan menang, apalagi para emak ini kelihatannya bar-bar banget.
“Perlu kamu ketahiu ya, kami ini dari IWANKOR! Ikatan wanita anti pelakor!”
“Betul! Jadi jangan coba macem-macem sama kami, kalo nggak kepingin kami panggil semua pasukan buat nyeret kamu dari kampung ini!”
Kedua ibu itu membusungkan dada penuh percaya diri dan rasa bangga di depan Sofi. Sofi bergidik ngeri juga dibuatnya, walau dalam hatinya merasa kurang percaya juga, masa ada perkumpulan wanita seperti itu di kampung ini?
TIN!
Klakson mobil mengagetkan Sofi dan kedua ibu yang berdiri di tengah pintu masuk halaman. Mereka langsung minggir begitu tau Mirza yang datang.
Mirza menurunkan kaca jendela mobilnya. “Siang, ibu-ibu. Ada apa nih ngumpul-ngumpul di sini?” Sapa Mirza yang selalu ramah seperti biasanya.
“Nggak ada apa-apa, Za. Cuman mau kenalan sama pelakor ini!” Sahut salah satu ibu.
Mirza turun semntara Via memilih tetap di dalam mobil.
“Berarti emang bener ya kamu hamilin ini peremuan? Dasar nggak tau diuntung kamu, Za. Udah punya istri sebaik Via, masih juga selingkuh!” Umpan si ibu bertubi-tubi, ia rupanya sudah lama menunggu waktu untuk menumpahkan kekesalannya.
“Nikahin aja ini pelakor! Saya jamin hidup kamu nggak bahagia! Kamu pasti bakalan nyesel karena ninggalin Via cuman demi dia!” Timpal ibu satunya lagi.
“Sabar, ibu-ibu sabar …” Mirza berusaha menenangkan tetangganya, gayanya mirip Pak RT kalo lagi melerai warga yang berantem.
“Ingat baik-baik kata-kata saya tadi, Za! Kamu bakal nyesel seumur hidup, karena nggak ada rumah tangga yang bahagia kalo dimulai dengan perselingkuhan!”
“Betul! Campak itu wahai ki sanak!”
Kedua ibu itu pergi memalingkan muka mereka galak seolah tak sudi lagi melihat Sofi dan Mirza.
“Ngapain kamu masih disini? Masuk sana, selesaikan tugasmu!” Perintah Mirza pada Sofi yang masih diam.
____________
Hai, akak semua.... makasih ya udah selalu setia mengikuti cerita ini 🙏🙏🙏☺️☺️☺️
*Oya, aku juga minta maaf kalau belum sempat mampir ke karya kakak-kakak author semua yaa... 🙏🙏
Tapi nanti aku pasti feedback kok, aku cuman masih agak sedikit sibuk aja, sabar ya Kak😍😍😍😍
Sekali lagi makasih ya kakak-kakak semua. jangan lupa selalu like, comment, rate 5 dan votenya ya Kak* ☺️☺️❤️
salam iwankor 😂🤭🤭
Luv u all ❤️❤️😘😘🤗🤗
__ADS_1